Jrengg!!
Mengapa kau tak membalas cintaku
Mengapa kau abaikan rasaku
Ataukah mungkin hatimu membeku
Hingga kau tak pernah pedulikan aku
"Berisik woi!" Seru seseorang yang tengah tidur diatas tiga bangku yang di susun memanjang.
Seruannya membuat gadis yang baru saja bernyanyi di ambang pintu itu berdecak kesal. Dengan menghentakkan kakinya keras ke lantai, gadis itu berjalan mendekati orang yang tengah tiduran di bangku.
Gadis itu menggeret satu bangku sehingga menimbulkan suara decitan. Gitar yang ia bawa di pangku di atas paha.
Matanya mengedar menatap sekeliling ruangan kelas XI IPS I itu. Sepi memang karena ini adalah waktunya istirahat. Kemudian gadis itu menurunkan pandangannya menatap lelaki yang tengah tiduran dengan lengan yang di tumpu menutupi matanya.
Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna. Matanya tak teralihkan barang sedetik pun dari lelaki itu. Lelaki itu tak bergeming. Ia masih setia dengan posisinya tak mempedulikan adanya orang lain selain dirinya.
Jari-jemari gadis itu kembali memetikkan gitar yang berada di pangkuannya. Menghasilkan alunan petikan yang lembut.
Sumpah ku mencintaimu
Sungguh ku gila karena mu
Sumpah mati hatiku untukmu
Tak ada yang lain
"Berisik sumpah!" Seru lelaki itu lagi sambil menegakkan tubuhnya.
Menatap gadis yang baru saja menyanyikan lagu itu dengan garang. Padahal tak bisa di pungkiri, suara gadis itu lembut. Wajar saja, dia adalah vokalis band sekolah dan juga memiliki band sendiri di luar sekolah.
Sementara gadis itu hanya tersenyum bodoh.
"Sengaja. Biar lo bangun terus gue bisa liatin muka lo," ucap gadis itu sambil tersenyum.
Lelaki itu berdecih pelan, lalu bangkit dari duduknya dengan kasar. Meninggalkan gadis itu sendiri.
"Liat aja. Gue bakal buktiin kalo gue bisa bikin lo jatuh cinta sama gue! Denger baik-baik, gue, Rallin Natasha bakal ngedapetin hati lo, Nadiv Dirgantara!" Teriak gadis itu dengan suara lantang.
Seorang gadis menguap lebar saat pelajaran sejarah sedang berlangsung. Sontak sebuah tangan seseorang di sampingnya menutup mulutnya. Gadis itu menoleh kemudian menampilkan cengiran lebarnya.
"Kebiasaan," decak seseorang di sampingnya.
"Gue lupa, hehe," kekehnya pelan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Lupa terus. Apa sih yang lo inget?" cibir seseorang di sampingnya.
"Nadiv," jawab gadis itu sambil tersenyum.
Seseorang di sampingnya itu hanya menghela nafas. Matanya menatap fokus pada papan tulis yang berisi tulisan. Makin lama dipandang makin pusing karena tulisannya yang terlalu kecil.
Seseorang yang bername tag Maudiryn Hermawan itu menggelengkan kepalanya tak habis fikir dengan gadis yang notabene adalah sahabatnya itu. Entah punya muka berapa sampai ia setebal itu menyukai pacar orang tanpa rasa malu. Iya, Nadiv Dirgantara, lelaki yang di sukai sahabatnya itu telah memiliki kekasih. Bahkan sahabatnya itu terang-terangan menunjukkan rasa sukanya di depan banyak orang. Seluruh siswa Grand Nusa pun tahu tentang hal itu. Bahkan sahabatnya itu suka melakukan hal gila hanya untuk menarik perhatian Nadiv.
Baiklah, gadis yang kerap disapa Maudi itu tidak masalah jika sahabatnya menyukai lelaki yang baik-baik. Dalam artian tidak urakan, tidak nakal, tidak kasar. Tapi ini Nadiv, seantero Grand Nusa pun tahu bagaimana reputasi buruk yang di sandang lelaki itu. Jika di sandingkan dengan sahabatnya, Nadiv tidak ada apa-apanya.
"Kapan istirahat sih," keluh gadis itu.
Maudi menoleh, kemudian memutar bola matanya jengah.
"Kenapa sih? Lo lesu gitu kayak gak dikasih makan setahun," ucap Maudi.
Gadis disampingnya itu menoleh, kemudian memasang wajah sesedih mungkin.
"Gue kangen sama Nadiv, tadi pagi gak ketemu soalnya," ucapnya pelan, wajahnya pias.
Maudi melotot mendengar ucapan sahabatnya itu. Rahangnya menganga, andai saja tidak kuat, bisa dipastikan rahangnya jatuh ke lantai. Namun ia urungkan untuk membalas ucapan sahabatnya. Karena ia sadar kalau sedari tadi tatapan bu Meta sudah mengarah padanya. Maudi yang merasa terintimidasi pun segera membungkam mulut dan kembali memfokuskan matanya ke depan.
Sementara sahabatnya itu, kini tengah menelungkupkan wajahnya di antara lipatan kedua tangannya di meja. Di depan kepalanya ia tegakkan benteng pertahanan dari buku paket agar bu Meta tidak mengetahuinya.
"Rallin Natasha, gue rasa lo udah gila," ucap Maudi pelan sambil terus menatap ke depan.
Rallin, gadis yang tengah menelungkupkan wajahnya itu hanya tersenyum tipis. Iya, dia akui dia memang sudah gila. Gila akan pesona Nadiv Dirgantara.
Tak lama kemudian, bel istirahat berbunyi. Bagi seorang pelajar, suara bel pulang dan bel istirahat adalah suara yang paling merdu dari suara apapun.
Rallin segera menegakkan kepalanya dengan semangat. Senyumnya tercetak lebar. Dengan gerakan cepat, ia memasukkan seluruh barangnya ke dalam tas. Lalu berdiri dan melangkah keluar. Ia lupa kalau ia meninggalkan sahabatnya, Maudi.
"Cuma karena mau ketemu Nadiv, lo sampe ninggalin gue?" tanya Maudi datar.
Rallin yang sampai di ambang pintu pun berbalik kemudian berjalan menghampiri Maudi. Memasang wajah tanpa dosa kemudian menggandeng tangan Maudi.
"Iya maaf, soalnya gue semangat banget mau ketemu Nadiv," ucap Rallin dengan ceria.
"Berhenti jadi pelakor Lin," ucap Maudi.
"Gue gak ngerasa jadi pelakor Di," bantah Rallin.
"Tapi lo deketin cowok yang udah punya pacar Lin,"
"Selagi janur kuning belum melengkung, Nadiv masih bisa dimiliki siapapun, termasuk gue," ucap Rallin
Maudi memilih diam. Jika sudah seperti ini ia memilih untuk mengalah. Karena ia tahu, berdebat dengan Rallin tidak akan ada ujungnya. Dan tetap saja Rallin yang menang. Ia kadang berfikir kalau ia dan Rallin itu seperti kakak adik. Dimana hukumnya adik selalu menang dan kakak selalu kalah. Bukankah kebanyakan seperti itu?
***
Suasana kantin di jam istirahat pertama memang ramai. Apalagi kantin kelas sepuluh dan sebelas itu jadi satu tempat. Sedangkan kantin kelas tiga berada di lantai tiga.
Disana, di meja paling pojok sudah terisi empat orang. Salah satu di antaranya adalah perempuan.
"Mau pesen apa?" tanya lelaki bername tag Nadiv Dirgantara H. pada gadis disampingnya.
Gadis itu terlalu sibuk dengan ponselnya sampai ia tak mendengar ucapan Nadiv.
"Adel?" panggil Nadiv.
Gadis itu menoleh menatap Nadiv.
"Apa?" Jawab Adelia.
"Mau pesen apa?" tanya Nadiv lagi.
"Samain aja," jawab Adelia kemudian sibuk lagi dengan ponselnya.
Nadiv mengangguk. Ia hendak beranjak pergi namun temannya berucap.
"Gue gak di pesenin sekalian?" tanya Rangga.
"Ya kali cuma Adel doang njir," tambah Didan.
"Ogah amat. Pesen aja sendiri," ucap Nadiv kemudian berjalan menuju stand.
Rangga dan Didan mendecak sebal. Kemudian Rangga menyusul Nadiv untuk memesan makanan untuknya dan Didan.
Satu hal yang Rangga dan Didan fikirkan tentang Nadiv. Nadiv mencintai orang yang salah. Kenapa seperti itu? Karena mereka tahu kalau Adelia tidak pernah mencintai Nadiv. Dua bulan yang lalu, tepat hari pertama Adelia dan Nadiv berpacaran, Didan tidak sengaja mendengar percakapan antara Adelia dan temannya di perpustakaan. Awalnya Didan tidak peduli, toh bukan urusannya juga. Namun langkahnya terhenti saat nama Nadiv disebut.
Dan yang membuat Didan marah adalah saat Adelia mengatakan kalau ia menerima Nadiv hanya karena kasian dan tidak ingin lelaki itu malu.
Jujur, Didan ingin menghajar gadis itu. Tapi ia masih waras untuk tidak menyerang seorang gadis. Hal itu pun hanya Didan dan Rangga yang tahu. Mereka tak ingin Nadiv tahu tentang hal ini. Jika tahu, Nadiv pasti akan hancur. Jadilah mereka memilih diam dan memantau perkembangan hubungan sahabatnya. Namun sejauh ini, Nadiv masih saja bertahan dengan sikap Adelia yang acuh kepadanya.
Nadiv dan Rangga sudah kembali membawa pesanan mereka. Belum sempat Rangga duduk, Didan sudah lebih dulu berdiri mengambil makanannya.
"Santai aja kali. Gak sabaran amat lo!" decak Rangga sambil menaruk mangkuk berisi bakso tanpa mie nya itu.
"Lo lemot soalnya," ucap Didan sambil melahan satu pentol siomay nya.
Didan menatap penuh binar melihat dua sosok yang baru datang dan berdiri di ambang pintu. Terlihat mata dua gadis itu menelisik mencari bangku yang kosong. Tanpa pikir panjang, Didan langsung memanggil dua gadis itu.
"Rallin! Maudi!" teriak Didan sambil melambaikan tangannya.
Nadiv yang mendengar nama Rallin, tiba-tiba terdiam. Selera makannya hilang. Ia mendadak kenyang.
Berbeda dengan Nadiv, Rallin tampak berbinar menatap Didan, ah ralat, lebih tepatnya ke arah Nadiv yang duduk memunggunginya. Meskipun dari belakang, Rallin bisa tahu kalau itu punggung Nadiv, jangankan punggungnya, jejak Nadiv pun Rallin bisa tahu.
Dengan cepat Rallin menarik tangan Maudi berjalan ke arah Didan. Beruntung disana masih tersisa dua kursi. Dewi fortuna sedang berpihak pada Rallin hari ini.
"Disini aja Lin," ucap Didan.
" iya Dan, aman. Ada moodbooster soalnya " ucap Rallin sambil tersenyum ke arah Nadiv tanpa peduli adanya Adelia disana.
Nadiv hanya diam sambil meminum jus mangganya. Sementara Adelia, dia bahkan terlihat biasa saja. Cemburu? Adelia bahkan tidak memiliki rasa cemburu sedikit pun ketika Nadiv di dekati banyak wanita. Karena pada dasarnya cemburu itu ada karena kita memiliki rasa cinta pada pasangan kita. Dan disini, Adelia tidak memiliki perasaan apapun untuk Nadiv. Jadi bagaimana bisa dia cemburu?
"Hari ini lo yang pesen ya Di," ucap Rallin sambil menyengir lebar.
"Tiap hari juga gue yang pesen Lin," dengus Maudi sambil berjalan menuju stand
"Besok gue Di, tenang aja!" teriak Rallin kemudian duduk di depan Nadiv.
Tangannya ia tekuk untuk menyangga dagunya. Matanya terfokus pada lelaki yang ada didepannya. Entahlah, dari sekian banyak orang yang men-cap Nadiv seseorang yang buruk, Rallin malah mengatakan kalau Nadiv yang terbaik. Cinta memang sebuta itu.
Lalu matanya beralih pada gadis yang duduk di sebelah Nadiv. Gadis itu sedang sibuk dengan ponselnya. Rallin berdecih pelan. Pacarnya ada disamping sedangkan dia malah sibuk bermain ponsel? Kalau Rallin jadi Nadiv, pasti ia tidak akan segan-segan melempar ponsel itu. Tapi Rallin tak habis fikir, bagaimana bisa Nadiv lebih memilih gadis yang tidak mencintainya dan mengabaikan gadis seperti Rallin yang jelas-jelas sudah mengejarnya selama satu tahun terakhir ini?
Hei! Satu tahun mengejar cinta Nadiv itu bukanlah waktu singkat. Lalu dengan seenaknya Adelia datang di kehidupan Nadiv dan mengambil hati Nadiv bahkan saat Rallin belum bisa menggapainya. Ironis sekali.
Mata Rallin sontak membulat saat tangan Nadiv mendarat dipucuk kepala Adelia. Mengusapnya lembut syarat penuh kasih sayang.
"Udah? Aku anter ke kelas yuk," ucap Nadiv lembut.
Ya Tuhan! Kapan Nadiv bisa berkata selembut itu pada Rallin? Sungguh, Rallin sangat menunggu momen itu.
Rallin semakin panas saat Adelia hanya menganggukkan kepalanya saja dan berjalan duluan didepan Nadiv. Ingin rasanya Rallin menjambak rambut sebahu milik Adelia. Dengan sesuka hati dia mengabaikan orang yang sangat di cintainya? Tunggu saja saatnya, Rallin akan bertindak.
"Gue duluan," ucap Nadiv dingin kepada kedua sahabatnya.
Didan dan Rangga mengangguk saja. Toh, semenjak Nadiv berpacaran dengan Adelia, lelaki itu jarang sekali memiliki waktu untuk mereka. Dia lebih memilih menghabiskan waktu istirahatnya bersama Adelia. Ketika di kantin, yang biasanya hanya ada mereka bertiga, yang suka ngebacot sana-sini, kini harus ada Adelia. Hal itu tentu saja tidak memberikan pergerakan bebas untuk Didan dan Rangga.
"Gue gak suka sama Adelia," ucap Rallin tiba-tiba sambil menusuk bakso yang baru dibawa oleh Maudi dengan penuh tekanan, syarat menyalurkan emosinya yang terpendam sejak tadi.
"Seluruh Grand Nusa juga tau kalo lo gak suka sama Adelia," sahut Rangga.
"Semenjak Nadiv pacaran sama Adelia, dia lebih sering ngebucin. Mana ngebucinin orang yang salah lagi," tambah Didan.
"Dia terlalu buta sama cintanya, sama kayak lo Lin, terlalu buta sama cinta lo ke Nadiv." Tukas Maudi membuat Rallin menoleh cepat ke arahnya.
Rallin tidak bernafsu makan lagi. Ia jatuhkan kepalanya ke atas meja. Menghembuskan nafasnya berat. Seolah menyampaikan betapa banyak keresahan yang ada di dalam dirinya.
Namun tiba-tiba ia menegakkan kepalanya dan berdiri.
"GUE HERAN SAMA NADIV, TULANG RUSUK SECANTIK DAN SETULUS INI KENAPA SIH GAK MAU DILIRIK?!" teriaknya frustasi.
Membuat seluruh siswa yang berada di kantin menatapnya heran. Sementara Maudi, Didan, dan Rangga hanya bisa menundukkan kepalanya menahan malu dengan aksi heroik dari Rallin.
"Kalo gue bisa menghilang, gue udah menghilang dari tempat haram ini Lin, gila lo sumpah!" desis Maudi tajam.
Rallin hanya diam. Ia tak peduli. Yang ia fikirkan sekarang hanya Nadiv, Nadiv, dan Nadiv. Benar bukan kalau Rallin bisa melakukan hal gila hanya karena Nadiv?
Kata-kata legend ketika didalam kelas diantaranya; bosen nih, jam berapa?, gue ngantuk, gue laper, mudah-mudahan guru gak masuk, emang ada ulangan sekarang?, mampus gue belum ngerjain PR, nyontek dong, punya pulpen dua gak?, lo ngerti gak?, gak paham gue, ke toilet yuk. Poin keenam yang saat ini ditanyakan oleh Nadiv ketika lelaki itu baru saja masuk ke kelas. Matanya menatap heran kepada teman-temannya yang sibuk membolak-balik buku. Mereka tampak seperti sedang belajar.
Kemudian ia melihat Rangga dan Didan sedang duduk di bangkunya. Bangku yang sangat strategis. Letaknya di pojok belakang barisan kursi guru. Sangat menguntungkan bagi siswa-siswa yang suka mencontek. Itulah mengapa Nadiv, Didan, dan Rangga memilih bangku itu. Mereka duduk dikursi tiga baris berturut dari belakang.
Nadiv menghampiri Didan dan Rangga. Kemudian ia duduk di bangkunya yang paling belakang.
"Emang ada ulangan sekarang?" tanya Nadiv.
"Makanya jangan kebanyakan ngebucin. Ada ulangan aja lo gak tau. Padahal bu Meta udah ngasih tau kemarin," ucap Didan sedikit sinis.
"Gue cuma butuh jawaban 'iya' atau 'ngga' bukannya ceramah elah," dengus Nadiv.
Didan dan Rangga hanya diam tak menanggapi. Mereka sibuk membaca buku yang ada ditangannya. Bukan membaca, hanya sekedar melihat sekilas. Karena kecil kemungkinan kalau mereka benar-benar belajar.
Tak lama berselang, bel sekolah pun berbunyi. Hal itu membuat seluruh penghuni XI IPS 1 kelabakan. Tidak sampai lima menit, bu Meta sudah masuk ke kelas itu. Tampak ia membawa tumpukan kertas HVS yang di yakini kalau itu kertas ulangan.
"Kumpulkan buku catatan kalian. Ibu mau periksa," pinta bu Meta.
Sontak Nadiv membuka matanya lebar. Ia kaget dengan ucapan bu Meta. Pasalnya baru kali ini guru itu meminta muridnya mengumpulkan buku catatan. Biasanya ketika ulangan, bu Meta akan langsung membagikan kertas. Tidak ada acara mengumpulkan catatan. Tapi kali ini? Nadiv tidak masalah jika ia memiliki catatan. Paling tidaknya dibuku sejarah itu ada tulisan sedikit.
Tapi buku sejarah Nadiv dari pertama masuk kelas sebelas sampai sekarang itu masih bersih. Masih putih tidak ada tulisan apapun selayaknya buku baru. Apalagi lelaki itu tidak pernah membawa pulang bukunya. Iya, Nadiv selalu menyimpan bukunya itu di laci mejanya. Dengan alasan lebih mudah mencarinya ketimbang dirumah.
"Mati gue. Gue gak ada catatan anjing," ucapnya pada Didan, lelaki itu duduk tepat didepan bangku Nadiv.
Didan menoleh, tampak raut wajah Nadiv yang kusut. Tidak masalah jika guru yang ia hadapi ini bu Tini atau pak Bowo. Dua guru itu selalu kalah dengan Nadiv. Tapi ini bu Meta, seluruh Grand Nusa pun tahu reputasi galak yang disandang guru itu.
"Ya mana gue tau lah. Lagian lo kalo disuruh nyatet malah molor," ucap Didan.
Memang benar, Nadiv selalu tidur atau keluar kelas ketika diberi catatan oleh guru. Katanya, ia malas mencatat karena membuat tangan pegal. Kalau tidak mau mencatat kenapa sekolah? Aneh Nadiv.
"Terus gue gimana? Mati gue kalo ketauan gak punya catatan, eh tapi lo berdua juga belum kan? Aman lah, gue ada temen," ucap Nadiv lagi sedikit tenang. Ia yakin kedua temannya juga belum mencatat. Ia ingat kalau kemarin mereka bertiga membolos pelajaran disaat bu Meta tidak masuk.
"Kalo lo nyatet sekarang, gak bakal keburu. Ini banyak soalnya. Sorry, Gue sama Rangga aja sampe jam 2 pagi nyatet ini, karena feeling gue, bu Meta bakal minta catatan. Ternyata bener kan?" ucap Didan lagi.
Ia ingat betul kemarin malam ia dan Rangga sibuk mencatat pelajaran sejarah. Mereka meminjam buku Sindi, siswi unggulan dikelas ini.
"Lo kenapa gak ajak gue bangsat!" desis Nadiv kesal karena dua sahabatnya ini tidak mengajaknya.
"Ya lo sibuk ngebucin, njing!" balas Didan tak kalah kesal.
"Tunggu apalagi? Ayo kumpulkan catatan kalian. Awas aja ya kalau kalian tidak mencatat pelajaran saya," ucap bu Meta menyipitkan matanya.
Semua siswa bergegas ke depan untuk mengumpulkan catatan. Termasuk Rangga dan Didan. Sedangkan Nadiv, lelaki itu masih diam di bangkunya. Bingung harus melakukan apa.
Bu Meta menghitung jumlah buku yang ada di mejanya. Matanya menyipit.
"Ada yang gak masuk?" tanya bu Meta.
"Masuk semua bu," jawab Ina, sekretaris IPS 1.
"Kenapa kurang satu bukunya? Siapa yang belum mengumpulkan?" tanya bu Meta lengkap dengan tatapan tajamnya.
"Saya bu!" ucap Nadiv lalu mengambil bukunya di laci.
Ia sudah pasrah kalau memang harus dihukum. Toh, mau bagaimana lagi? Lagian ia juga sudah biasa di hukum. Jadi ini bukan lagi hal yang sulit untuknya.
Nadiv melangkahkan ke depan lalu menaruh bukunya ditumpukan paling atas. Kemudian ia kembali lagi ke bangkunya. Didan dan Rangga sempat menatap Nadiv, namun lelaki itu hanya menaikkan kedua alisnya.
Bu Meta pun langsung membagikan kertas ujiannya.
"Jangan ada yang mencontek. Kerjakan sendiri-sendiri," ucap bu Meta.
Perintah yang sangat sering didengar oleh seorang pelajar. Percuma guru mengatakan hal tersebut karena pada akhirnya siswa akan tetap mencontek. Toh, yang guru mau itu nilai tinggi bukan?
Bu Meta kembali duduk dan mulai memeriksa buku catatan milik muridnya. Nadiv dapat melihat bukunya yang mulai di ambil oleh bu Meta. Bu Meta membuka lembaran buku bersampul biru itu. Nadiv menunduk, ia sedang bersiap diri untuk mendengar ceramahan panjang dan berakhir dengan hukuman.
"Nadiv!" panggil bu Meta.
Oke, siap-siap
Nadiv menegakkan kepalanya. Menatap bu Meta.
"Iya bu?" sahutnya.
"Catatan kamu lengkap, tulisannya juga rapi. Nilai A buat kamu, pertahankan Div. Sepertinya kamu sudah mulai berubah," ucap bu Meta sambil tersenyum.
Hah? Lengkap? Gue gak salah denger?
Berbeda dengan penghuni kelas lainnya. Mereka kompak menatap Nadiv tak percaya. Didan dan Rangga bahkan langsung memutar kepalanya ke belakang. Mereka tidak salah dengar? Nadiv memiliki catatan lengkap? Itu seperti terdengar aneh.
Sedangkan Nadiv, lelaki itu sedang dilanda kebingungan. Keningnya mengernyit. Catatannya lengkap? Seingatnya, ia tak pernah menulis apapun di buku itu. Jangankan menulis, membukanya saja Nadiv tidak pernah. Lalu bagaimana bisa ada catatannya disana? Lengkap pula.
Rangga mengangkat tangannya lalu menepukkan kedua tangannya. Di sambung oleh yang lainnya. Mereka turut bertepuk tangan sambil menatap Nadiv tak percaya.
"Ini namanya rekor bu, Nadiv gak pernah punya catatan selengkap itu," ucap Trisna, ketua kelas yang sengklek.
Kadang membuat guru yang masuk ke kelas ini heran. Trisna, murid sengklek tidak beda jauh dari Nadiv itu bisa jadi ketua kelas. Kan masih ada Toni, murid teladan di kelas ini yang bisa dijadikan ketua kelas.
"Maka dari itu dipertahankan. Kalau perlu tingkatkan lagi Div," ucap bu Meta.
Nadiv hanya mengangguk sambil tersenyum kikuk. Namun otaknya masih berfikir, siapa orang yang sudah menuliskan catatan untuknya.
Setelah berselang lama, bel istirahat kedua berbunyi. Semua murid bergegas mengumpulkan kertas ujiannya kepada bu Meta.
"Gak paham gue, sumpah," keluh Didan sambil menyenderkan punggungnya di tembok, duduknya menyamping.
"Gue malah silangnya urutan, A B C D gitu sampe selesai," sahut Rangga.
"Eh gila lo," ucap Didan terkejut.
"Kali aja hoki," ucap Rangga.
"Gue malah A semua," ucap Nadiv sambil tersenyum miring.
"Kerad anjing!" umpat Rangga sambil tertawa mendengar ucapan Nadiv.
"Nih buku kalian," ucap Ina sambil memberikan tiga buku kepada Rangga.
Nadiv langsung mengambil bukunya dari tangan Rangga.
"Gue kepo siapa orang yang udah nulisin gue," ucapnya sambil membuka bukunya.
Di tatapnya intens tulisan yang ada dibukunya. Tulisannya kecil, rapi, dan tidak banyak coretan. Mulus. Tapi ini bukan tulisan Adelia, gadis yang tadi diduganya telah menuliskan catatan untuknya. Tulisan Adelia tidak serapi ini. Nadiv tahu itu.
"Ini bukan tulisan Adelia, " ucap Nadiv membuat kedua sahabatnya kompak menatapnya.
"Coba gue liat," ucap Didan merebut buku Nadiv.
Ia menatap lama tulisan itu. Kemudian matanya membulat. Ia tahu siapa pemilik tulisan dengan model seperti itu.
"Gue tau," ucap Didan.
"Siapa?," tanya Nadiv dan Rangga bersamaan.
"Rallin Natasha!"
***
Rallin dan Maudi berjalan menuju ruang studio bandnya. Rallin memang memegang kuasa atas studio itu. Apalagi dia anak band sekolah. Ia adalah vokalisnya. Sedangkan Maudi, gadis itu lebih tertarik untuk ikut marching band. Dan beruntungnya gadis itu yang ditunjuk sebagai mayoretnya.
Rallin masuk, disana sudah ada Bagas, Reza, dan juga Gandi. Mereka adalah anggota band sekolah juga. Rallin memangku gitar yang dibawanya. Memang sudah kebiasaan rutin setiap istirahat kedua, mereka kumpul disini.
Tampak Gandi sedang memainkan gitarnya. Tidak tahu lagu apa, tapi yang jelas nadanya lembut dan enak didengar.
"Jangan genjreng-genjreng doang dong. Suaranya mana nih," ucap Bagas.
"Vokalisnya dong nyumbang suara," ucap Reza.
"Lo semua udah sering denger suara gue," ucap Rallin sambil tersenyum.
"Senyum lo manis Lin, sumpah. Kenapa sih gak ngejar gue aja daripada Nadiv," ucap Gandi.
Bukan rahasia lagi kalau Gandi juga menyukai Rallin, hanya saja Rallin tidak pernah meresponnya. Ia hanya menganggap Gandi sebagai teman. Tidak lebih.
"Gue udah kepincut sama Nadiv, gimana dong?" ucap Rallin sambil terkekeh pelan. Kemudian ia merebahkan tubuhnya di sandaran sofa. Memejamkan mata. Jujur, saat ini ia mengantuk sekali karena harus begadang tadi malam.
"Anda belum beruntung. Silahkan coba lagi," ucap Reza sambil menepuk bahu Gandi.
"Lo kira Ale-Ale," sahut Bagas yang membuat semuanya tertawa.
"Gue mah sama Maudi aja, iya gak Di?" ucap Bagas sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Masa mayoret cantik kayak gue dapetnya pengeran kodok?" seloroh Maudi.
"Pangeran kodok kalo di cium jadi pangeran ganteng Di. Coba deh lo cium gue, kali aja gue jadi ganteng," ucap Bagas lagi.
Sebenarnya Bagas ini tampan. Lengkap dengan kulit hitam manisnya khas orang jawa. Di tambah dengan dua lesung pipi yang membuatnya terlihat mirip dengan artis Ryan Delon.
"Modus lo basi njing!" umpat Reza sambil menonyor kepala Bagas.
Semua tertawa, sampai akhirnya sebuah suara menginterupsi Rallin.
"Rallin?"