Selesai sudah drama menaiki bus yang minta ampun bercampur aduk baunya jadi satu. Sekarang aku sedang menunggu kedatangan speed boat. Iya, satu-satunya alat transportasi menuju kampung Bang Angga. Tiga puluh menit kemudian para penumpang diminta turun satu demi satu sesuai nomor kursi penumpang.
Aku duduk di sebelah ibu-ibu menggunakan jilbab dan membawa anak kecil. Speed mulai berjalan. Kupikir akan mabok laut ternyata tidak. Nakhkoda berhasil membawa speed sesuai debur air yang terkena angin. Aroma yang tercium di hidungku antara lautan dan sungai.
“Mau ke mana, Dek?” tanya ibu di sebelahku sembari menawarkan sebungkus roti. Teringat dengan pesan Om Andi agar tidak menerima sembarang makanan. Namun, aku takut ibu ini tersinggung. Aku ambil dan pegang saja entah kapan dimakan.
“Mau ke Pulau Sagu, Bu.”
“Ngapain?” tanyanya lagi dengan alis hampir menyatu. Sepertinya dia tahu desa itu.
“Ya, itu mengunjungi calon mertua saya, Bu.” Terpaksa aku berbohong. Aku malas menceritakan semuanya detail pada orang yang baru dikenal.
“Ya, gimana, ya, Dek. Saran Ibu, lebih baik kamu balik hari aja. Speed ini, kan berhenti terakhir di Pulau Sagu. Sambil loading penumpang, ada sekitar mungkin satu jam. Nah, selesai kamu berkunjung pulang aja, Dek, pulang. Itu saran Ibu, sepertinya kamu orang kota. Kelihatan dari gayanya.” Ibu ini menatap outfitku yang pakai baju kaus panjang agak press body dan celana jeans. Sedangkan rata-rata perempuan di dalam speed pakai jilbab.
“Kenapa, Bu?” Aku semakin penasaran.
“Ada hantu polong di sana. Serem banget, dusun-dusun di Pulau Sagu juga belum semua kena bantuan pemerintah. Soalnya orang-orang di sana masih suka hidup apa adanya.”
“Hah, hantu polong. Apaan itu, Bu?” Aduh, kok, aku makin serem sama kampung Bang Angga.
“Hantu kepala yang terbang dengan isi perutnya. Makan darah segar.”
Halah, zaman sudah tik tok begini merajalela, masih juga percaya sama yang beginian. Namun, demi menjaga perasaan ibu di depanku, ya, aku iyakan saja apa katanya.
Dua jam speed boat berjalan. Satu demi satu desa di perairan mulai disinggahi. Ibu di sebelahku akhirnya sampai juga. Dari dalam speed aku melihat ada pelabuhan dari kayu-kayu keras dan tinggi. Sebelum pergi ibu yang aku tidak ketahui siapa namanya kembali mengingatkanku.
“Kalau ada orang meninggal baru 40 hari kamu jangan keluar rumah malam-malam, ya, Nak. Bahaya, tapi baiknya kamu pulang hari aja. Soalnya speed boat ke Pulau Sagu, kan, lama.” Demi menghargai nasehat ibu ini aku mengucapkan terima kasih.
Jujur, aku nggak percaya di zaman modern seperti ini ada hantu-hantu yang begini, begitu, dan masih aja membuat masyarakat ketakutan. Please, hantu itu datang kalau kita ketakutan. Buktinya selama ngekos sendiri aku tidak pernah ketemu sama salah satu dari mereka.
Ya sudah aku lanjut melihat pemandangan sekitar yang isinya perairan saja. Satu demi satu penumpang kembali ke desa mereka. Lalu hanya tinggal aku sendirian, dengan dua kru dan satu nakhkoda. Salah satu awak speed boat mendekatiku.
“Awak mau ke Pulau Sagu?” tanya Abang berkulit hitam dan berwajah keras padaku.
“Iya, Bang.”
“Balik hari apa nginap?”
“Balik, eh, nginap, Bang.”
“Yakin?” Alisnya bertaut seperti ibu tadi.
“Iya, Bang.”
“Soalnya kami ni empat hari lagi baru ke Pulau Sagu, dah tak ade penumpang lagi. Baik-baik kat Pulau Sagu, ye. Jangan asal cakap dengan orang, jangan asal nak terime makanan. Lagi elok kalau adik ni duduk je kat dalam rumah. Paham cakap Abang, Kan?” Duh bahasanya agak sulit aku mengerti.
“Iya, Bang, terima kasih.” Daripada dia lama-lama di depanku.
Tak lama setelah itu speed boat mendekat di sebuah pelabuhan. Dengan jelas aku lihat di sebuah papan kayu sederhana, bertuliskan ‘Selamat Datang di Desa Pulau Sagu’. Hanya aku yang turun, itu juga speed boat bersiap untuk kembali.
“Bang, nggak tunggu penumpang?” Entah kenapa aku nekat bertanya.
“Tak ade yang nak pegi, hati-hati, ye, Dik. Kalau Adik nak balik hari, Abang tunggu satu jam lagilah, paling lambat.”
“Tak payah, budak ni calon mantu aku. Die tinggal kat sini, agak-agak empat hari.” Suara seorang laki-laki membuatku menoleh. Setelah mendengar kata-kata dalam bahasa yang agak sulit aku mengerti, speed boat pun pergi.
“Om Andi?” Aku mencoba menerka-nerka, katanya tadi yang mengatakan aku calon mantu, tapi aku heran mengapa ada kata budak. Ini, kan, udah zaman modern.
“Indah Nora Diana,” ucapnya padaku.
Aku mengangguk, itu memang nama lengkapku. Namun, ada keanehan yang aku tangkap. Kalau ini Om Andi yang berusia 60 tahun seperti kata Bang Angga. Lalu kenapa perawakannya masih gagah sekali?
“Budak artinya anak kecil, jangan salah paham, ya. Om bawa motor, karena di sini tidak akan ada mobil kamu jumpa seperti di kota tempat kamu tinggal. Barang-barang biar Om bawa di depan, kamu duduk di belakang. Pernah naik motor?” Dia melirik dan mengambil tas baju yang aku bawa.
Sekilas aku menatap matanya. Persis sama seperti sorot mata Bang Angga. Kemudian aku tersadar memandangnya sedikit lama.
Aku mengikuti langkah kaki Om Andi. Dia menuju sepeda motor Yamaha keluaran tahun lama. Setelah menempatkan tasku di depan, calon mertuaku mengengkol motor sampai hidup. Lalu aku dimintanya untuk duduk.
“Nggak ada helm, Om?” Aku sudah biasa memakainya.
“Di sini tidak ada polisi. Hanya babinsa, itu pun jauh, Nora.” Eh, kenapa Om Andi memanggilku dengan nama tengah.
“Nama saya Indah, Om, biasa dipanggil Indah.” Aku berbicara agak keras karena suara motor ini menggangu pendengaranku.
“Saya tahu. Itu panggilan Angga sama kamu. Saya lebih suka memanggil dengan kata Nora. Terlihat lebih cantik dan anggun seperti bangsawan kerajaan Melayu zaman dahulu.” Oh, romantis sekali Om Andi.
Bang Angga saja tidak pernah memujiku seperti ini. Eh, astaga, kenapa denganku? Aku nggak boleh salah tujuan. Aku ingin ke makam beliau yang hampir menikahiku.
Agak terjal jalan yang hanya pengerasan dan belum diaspal di Desa Sagu. Aku melihat rumah-rumah kayu di atas, apa, sih, namanya, aku tidak terlalu paham. Mungkin sungai atau laut. Juga pohon-pohon yang batangnya sangat kokoh tumbuh di dekat perairan bertanah lunak.
Agak lama perjalanan kami, karena Om Andi membawa motor tidak bisa cepat. Ya, aku maklum karena jalannya sendiri tidak terlalu bagus. Setiap kali berpapasan dengan warga desa yang sangat sunyi ini. Mereka seperti agak lain menatapku. Apa mungkin karena pengaruh gayaku yang terlalu kota.
“Nora, hari sudah sore, sebentar lagi maghrib. Om sarankan besok saja ke kuburan Angga. Karena di sini kalau malam sangat gelap, beda dengan di kota.” Om Andi membelokkan motor ke arah yang kiri dan kanannya pepohonan.
“Eh, iya, Om, gimana bagusnya aja.” Aku agak tidak familiar dengan panggilan Nora.
“Ini semua kebun saya, Nora. Pohon karet sekian hektar. Dulunya harga getah sangat primadona, tapi sekarang sudah anjlok. Saya juga punya kebun sagu dan beberapa kebun lainnya. Rencana akan saya wariskan pada Angga dan Anton. Tapi apa daya Angga meninggal lebih duluan daripada saya.” Sepertinya Om Andi tahu kebingunganku.
Yang membuatku sedikit bingung. Penampilan Om Andi ini sangat apa, ya, tidak menunjukkan kalau dia orang tua. Gaya lebih matang dan dewasa. Ada sosok yang bisa mengayomi seperti bosku di kantor. Tata bahasanya juga aku tidak yakin kalau Om Andi ini orang desa banget. Dia tahu Kerajaan Melayu. Apa jangan-jangan dia keturunan raja?
“Ini gubug kami. Tempat saya membangun usaha kecil-kecilan yang tidak seberapa.” Om Andi memberhentikan motor di sebuah rumah kayu tingkat dua sangat besar, dan dibagian bawah seperti ada kolong yang sangat besar. “Ini namanya rumah panggung.”Om Andi mengangkat barang-barangku.
Gila, ini, sih, bukan gubug. Besar sekali. Kayunya juga masih kokoh serta tercium aroma cat yang masih segar. Warna cokelat terang mendominasi sekeliling rumah. Aku hanya bisa ber wow saja. Kalau di kota membangun rumah sebesar ini bisa habis milyaran. Om Andi suka merendah. Katanya tadi usaha kecil-kecilan. Tapi kenapa Bang Angga tidak pernah cerita kalau rumahnya besar, ya?
“Ini kamar kamu, Nora. Dulunya ini kamar Angga. Silakan tempati dan anggap saja rumah sendiri. Kamar mandi di dekat dapur. Dapur ada di belakang. Kamar saya sendiri sebelum dapur.” Om Andi lelaki berusia 60 tahun tapi terlihat tegap menatapku sejenak. Kemudian aku mengerjap dan mengucapkan terima kasih.
Aku berbaring di kasur kapuk dengan sprei bunga-bunga hijau khas zaman dulu. Kamar ini asri. Di dekat lemari aku melihat ada foto mereka berempat. Om Andi dengan istrinya, lalu Bang Angga dan Anton. Foto yang sudah sangat lama, terlihat kusamnya. Istri Om Andi juga sudah tiada puluhan tahun silam.
Berarti Om Andi menduda sekian lama? Hebat, juga, ya? Katanya laki-laki itu kalau istrinya meninggal sebelah matanya menangis, sebelahnya lagi mencari calon istri baru. Tanah kuburan masih basah juga sudah menikah lagi. Lama-lama mataku terasa berat dan aku tidak sadar apa-apa lagi.
Aku terbangun ketika suara hujan begitu deras dan petir menyambar memekakkan telinga. Jendela kayu di kamar Bang Angga terbanting dan membuatku semakin kaget. Kamar sangat gelap dan aku tidak tahu di mana letaknya sakelar lampu.
Aku hidupkan flash pada ponsel dan mulai melangkah menutup jendela. Pada saat gelap gulita seperti ini aku teringat dengan hantu polong. Ah, tidak mungkin. Om Andi kelihatannya baik, pasti dia tidak diganggu hantu.
Aku berusaha menarik jendela kayu yang sangat berat karena terkena air. Kemudian aku seperti melihat sebuah benda terbang melesat tiba-tiba begitu saja di depan mataku. Duh, kakiku mulai terasa dingin. Tolong, aku ke sini hanya ingin silaturahmi dan ziarah saja.
Suara ketukan pintu membuatku kaget. Untung saja itu suara Om Andi. Aku lekas membuka pintu kamar.
“Listrik di rumah ini memang ala kadarnya, Nora.” Om Andi menghidupkan lampu yang sinarnya remang-remang.
“Makasih, Om.”
“Ayo kita makan. Om sudah masak makan malam saat kamu tidur tadi.” Duh sepertinya kedatanganku merepotkan lelaki berusia 60 tahun ini. Aku pun keluar. Om Andi izin memasuki kamar putranya dan dia begitu mudah menutup jendela.
“Lain kali jangan biarkan jendela terbuka kalau sudah senja, Nora.” Dia melewatiku dan berjalan di depan.
“Om, apa karena hantu polong ya? Indah dikasih tahu gitu.” Aku mencoba akrab dengannya.
“Bukan hantu polong yang harus kamu takutkan. Tapi, manusia yang lebih mengerikan daripada hantu. Manusia kalau sudah terjerat nafsu bisa berbuat apa saja.” Om Andi menjawab dengan senyuman khas setelah menoleh ke belakang.
Sesaat jantungku berdetak sedikit keras. Astaga perasaan seperti apa ini. Aku harus membersihkan isi kepalaku.
Bersambung …
Ada sebuah meja makan yang kira-kira muat menampung empat orang untuk duduk. Om Andi duduk di kursi utama, persis seperti di sinetron atau film. Aku sendiri masih bingung ingin duduk di mana. Lelaki berusia 60 tahun itu berdiri dan ia menyeret kursi di sisinya untukku. Terpaksa aku ambil tawaran ini agar sopan.
“Semua Om masak sendiri. Maaf, hanya ada makanan kampung, beras juga tidak selembut dan wangi seperti di kota.” Dia bermaksud ingin menuangkan sesendok nasi padaku. Namun, aku berusaha mencegah dan sempat tangan kami bersentuhan. Om Andi minta maaf padaku.
Aku mengisi nasi di piring seng khas seperti waktu aku kecil dahulu. Perlengkapan di atas piring juga barang-barang lama yang tergolong antik. Lalu aku menawarkan mengisi nasi untuk calon mertuaku, dan dia mengiyakan saja.
“Sayur bening kangkung, ikan tongkol disambal dan telor dadar. Juga ini namanya rama-rama, binatang laut yang tinggal di tanah busut. Mungkin bagi Nora sangat asing, tapi masih bisa dimakan,” ucap Om Andi.
Aku melihat hidangan yang antara dikatakan udang bukan, kepiting juga bukan, benar-benar asing sekali.
Aku mengambil hidangan yang katanya rama-rama. Ada cangkang tipis dan ada daging seperti kepiting di dalamnya. Aku tarik dan coba, wah rasanya enak sekali, seperti memakan olahan sea food buatan professional.
Om Andi menggeser satu mangkuk besar rama-rama untukku. Aku selingi dengan makan nasi supaya cepat kenyang. Dari speed boat tadi sebenarnya aku sudah lapar, tapi ingat pesan Om katanya jangan makan sembarangan.
Selesai sudah kami makan dan aku baru sadar di rumah sebesar ini kami hanya berdua saja. Ya, rumah seperti istana zaman dahulu luasnya. Tidak ada pembantu, atau cucu? Oh iya, Bang Angga saja sudah meninggal. Anton masih dinas. Bagaimana caranya Om Andi dapat cucu.
“Tidak usah, istirahat saja Nora, biar Om yang kemas semua sendiri.” Dia melihatku mulai membersihkan piring di meja makan.
“Nggak usah, Om, biar Indah aja. Om bisa duduk atau merokok dulu.” Aku bilang begitu karena Bang Angga habis makan pasti merokok.
“Om tidak pernah merokok.” Ucapannya membuatku terdiam sesaat. Lalu aku membawa semua peralatan makan yang kotor ke dapur sesuai petunjuk pemilik rumah.
Di sini tidak ada tempat cuci piring. Hanya tempat basahan saja dengan baskom dan mangkok plastik biasa. Air juga ditampung dalam wadah ember bekas cat. Tekstur air yang ada di dalam ember warnanya agak kekuningan. Aku harus menggunakan air cukup banyak agar sabun cuci piring berbusa. Tapi ajaibnya, bekas minyak cepat kesat terkena air kuning ini.
Selesai cuci piring, aku ingin pamitan pada Om Andi yang masih duduk di meja makan. Beliau membaca buku tebal dengan tulisan Arab tanpa harokat, hebatnya lagi tanpa menggunakan kaca mata. Padahal aku yang baru 27 tahun saja sudah menggunakan kaca mata di kantor.
“Nora, duduk di sini, Om ingin bicara,” katanya tanpa berpaling dari kitab sedikit pun.
Lekas aku duduk di tempat tadi. Dia berdehem sejenak lalu melipat kertas di dalam buku kemudian menutupnya. Padahal lampu di ruang makan agak remang-remang. Mata Om Andi yang sama dengan sorot penglihatan Bang Angga, tidak berair sama sekali.
“Iya, Om mau tanya apa?” tanyaku basa-basi.
Jujur saja situasi yang hanya berdua ini membuatku sedikit kikuk. Kalau di kota besar hal demikian sudah biasa sekali. Bahkan aku sudah sering satu ruangan dengan manager, bos. Dengan Bang Angga juga pernah, termasuk dalam hal …
“Maafkan, Om, tapi hal ini perlu dipertanyakan. Walau Angga sudah tutup mata. Om ingin memastikan.” Ucapan calon mertuaku membuat diri ini waswas dan menelan air liur. Jantungku jadi bertalu-talu.
“Apa ada yang salah dengan kami berdua, Om?”
“Pasti ada yang salah kalau sudah lima tahun pacaran dan lama sekali menuju pernikahan. Bilang sama Om, hubungan kalian sudah sejauh mana?” Tatapan mata Om Andi melucuti keberanianku untuk jujur. Ya, jelas sekali sangat jauh aku dengan Bang Angga.
“Kenapa diam?” tanyanya lagi. Apa aku harus terbuka soal semuanya?
“Ehm, ap-apa harus Indah cerita semuanya, Om?” Aku serius gugup sampai terbata-bata. Apa Bang Angga sudah cerita kalau kami melakukan apa saja selama berduaan. Baik di puncak, kontrakan, atau kos-kosanku.
“Harus, siapa tahu Om punya pewaris.” Dia membuka kitab lagi. “Walau sebenarnya dalam agama kita, anak di luar nikah tidak akan mendapatkan warisan … tapi, ha ha.” Om Andi tertawa sekilas. Apanya yang lucu, ya?
“Tapi apa, Om?”
“Om saja tidak pernah menjalankan ajaran agama dengan baik. Maka warisan sebanyak ini asalkan anak itu darah keluarga kami, dia punya hak penuh atas semua kebun-kebun Om.”
Sejenak kami berdua diam, hingga gerimis turun lagi dan aku masih belum mau buka mulut. Ah, tapi apa penting untuk jujur. Bukannya pertanyaan jebakan tadi sudah berhasil membuat Om mengetahui semau aib kami.
“Apa susahnya jujur, Nora.” Telapak tangan Om Andi tiba-tiba memegang tanganku. Jujur aku kaget dan mencoba melepaskan diri, tetapi pegangannya cukup kuat hingga aku bingung harus apa.
“Kalau kamu tidak jujur tidak akan Om lepaskan.” Dia menatap mataku. Jantungku semakin berdetak tidak keruan.
“I-iya, Om. Indah sama Bang Angga sudah sampai pada ya, Om, paham gimana anak muda tanpa pengawasan orang tua di kota besar.” Akhirnya genggaman tangan Om Angga lepas. Beliau menarik napas sejenak. Mungkin kecewa.
“Om tidak menyangka, padahal Angga rajin sholat di rumah. Ternyata, tergoda perempuan juga. Apa mungkin itu penyebabnya dia buru-buru menikah, persiapan sangat singkat. Seharusnya Om bisa adakan pesta adat tujuh hari tujuh malam.”
“Nggak buru-buru, Om. Kami persiapan sudah sejak tiga bulan, kok.”
“Dalam tiga bulan itu, kalian bermaksiat terus, bukan?” Lagi-lagi pertanyaan yang sudah tidak perlu aku jawab lagi.
“Iya, Om, tapi Indah minum pil KB, jadi sampai sekarang nggak ada jejak dari Bang Angga.”
“Sayang sekali,” kata Om Andi.
“Maaf, Om, tapi kami masih terikat kontrak kerja.” Dia tertawa mendengar jawabanku.
“Lucu kalian berdua ini. Terikat kontrak dengan manusia takut, dengan Allah tidak takut. Sholat terus maksiat jalan. Luar biasa!” Lelaki dengan rambut pendek seperti tentara ini bertepuk tangan. Aduh, aku jadi malu. Ingin rasanya aku pulang ke kota, tapi mau pakai apa?
“Maaf, Om.” Aku menundukkan kepala.
“Tidak perlu minta maaf dengan Om. Semua sudah terjadi. Setidaknya kalian lebih baik daripada Om. Om sendiri tidak pernah sholat, mungkin tiang agama sudah lama roboh.”
“Hah, yang bener, Om, sejak kapan?” Refleks mulutku nanyain. Kalau aku sendiri, sholat kapan ingat saja.
“Lupa, tepatnya dimulai puluhan tahun lalu sejak istri Om meninggal.” Oh, aku paham, semacam perasaan kecewa.
“Om, kalau gitu Indah permisi dulu, mau sholat Isya.” Perkataanku membuat Om Andi tersenyum.
“Satu lagi, Nora, berapa hari sekali kalian berduaan di dalam kamar?” Mulai terlalu dalam Om Andi menggali semuanya.
“Ehm, paling nggak seminggu dua kali, Om.” Dengan malu aku menjawab sambil menggaruk kepala.
“Ya sudah. Om yakin kamu akan kesulitan setelah ini. Om sarankan kamu cepat menikah dengan orang lain dan jangan berbuat dosa besar lagi. Kita tidak pernah tahu akan mati kapan.” Om Andi beranjak membawa kitab dan memasuki kamarnya.
Aku sendiri memberanikan diri ke kamar mandi yang sinar lampunya lebih terang sinar flash ponselku.
Aku masuk ke kamar Bang Angga. Aku pakai mukena dan bentang sajadah. Eh, aku lupa kiblatnya di mana. Terpaksa aku mengetuk pintu kamar Om Andi. Beliau keluar kamar. Astaga, tidak pakai baju atasan, padahal hari dingin karena hujan.
“Kenapa?” tanya Om Andi. Aku jadi melihat isi kamarnya sekilas. Seperti gaya orang zaman dahulu.
“Itu namanya kelambu, anti nyamuk. Di kamar kamu tinggal hidupkan obat nyamuk saja, Nora.” Jawaban atas pertanyaan yang belum aku ajukan membuatku menatap pada mata Om Andi.
“Oh, iya, Om, kiblat sebelah mana, ya?”
“Om sendiri lupa karena sudah lama tidak sholat. Tapi sepertinya Andi membelakangi lemari baju. Ada lagi yang mau ditanyakan?” Aku hanya menggeleng saja.
Kemudian aku beranjak meninggalkan depan kamar Om Andi. Ish, aku lancang sekali tadi memandang isi kamarnya. Jujur saja aku suka dengan desain masa lalu yang di saat sekarang sangat estetik.
Aku menunaikan sholat Isya, tak khusuk, alias memang tidak pernah khusuk sama sekali. Isi kepalaku bergantian antara Bang Angga dan Om Andi. Terutama ketika beliau shirtless. Jujur saja perempuan mana yang tidak terpana, di usia 60 tahun masih menjaga bentuk tubuh.
Aku berdiri setelah sujud. Parahnya aku lupa ini raka’at ke berapa. Dua atau tiga, ya? Aku jadi diam sambil pikiranku ke sana kemari. Ah, aku ulang saja sholatnya. Terserah mau diterima atau tidak. Toh, selama ini aku juga sudah berbuat dosa besar.
Ketika aku sujud raka’at terakhir. Aku mendengar derit pintu kamarku bergeser dan membuat gigiku ngilu. Aku duduk paling akhir. Dalam remang-remang lampu aku melihat bayangan laki-laki berjalan perlahan ke arahku. Aku fokus menyelesaikan bacaan tahiyat.
Lalu aku salam ke arah kanan agak ke belakang sedikit. Tidak ada siapa-siapa di belakang. Lanjut aku salam ke arah kiri. Dan aku terkejut hingga terjengkang dari tempat sholat. Bang Angga ada di belakangku. Dia memandangku dengan wajah pucat dan berlinang air mata.
“Pergi, Bang, pergi, Abang sudah mati.” Aku mundur sampai menabrak dinding kayu rumah ini.
“Indah, pergi, pergi, pergiiiiiiii!” Jerit Bang Angga hingga memekakkan telingaku. Aku pun ikut-ikutan menjerit.
“Pergi!” Lagi Bang Angga berteriak sambil memukul-mukul lemari sampai pintunya terbuka. “Lariiii!”
Kemudian suara itu menghilang. Jantungku berdetak sangat kencang dengan napas naik turun dan mulai berkeringat dingin.
“Nora, Nora, kamu kenapa?” Om Andi datang menghampiriku yang menutup telinga dengan dua tangan. Mungkin calon mertuaku mendengar suara jeritanku yang sangat kuat.
“Ta-ta-tadi, ada Bang Angga.” Setelah itu aku tidak tahu apa-apa lagi. Sekujur tubuhku terasa lemas.
Bersambung