“Fandra, duduklah,” ujar seorang wanita yang kisaran usianya pertengahan enam puluh tahun. Tangannya yang sudah keriput menunjuk sofa di depannya.
Altafandra Alatas, pria yang baru saja turun dari lantai dua rumahnya itu hanya menoleh sekilas lalu menurut, duduk di sofa.
“Katakanlah jika ada yang ingin Nenek katakan, aku ada urusan,” kata Fandra. Dia sepertinya tahu apa yang akan dibicarakan.
Menarik napasnya, sang nenek sudah menduga Fandra akan mengatakan itu. Maka tanpa kata sang nenek, wanita keturunan China itu menyodorkan beberapa lembar foto ke hadapan Fandra. Pria itu melihatnya, memperhatikan beberapa potret gadis.
“Pergilah kencan buta,” titah sang nenek sembari mengambil gelas tehnya.
Tidak hanya sang nenek di sana, tapi juga ada ayah serta ibu, dan sang adik satu-satunya.
“Sudah berapa kali aku bilang tidak akan pernah melakukan itu. Tidakkah Nenek mendengarnya dengan jelas?” kata Fandra dengan nada suara yang meninggi. “Aku sudah muak dengan ini!” tegasnya sambil mengatupkan mulutnya rapat.
“Fandra!” Sang ibu menegur putranya.
Neneknya hanya menatap Fandra dingin, sedikit tidak peduli.
“Lantas, kapan kekasihmu itu kembali? Tidakkah kau sadar bahwa dia telah berbohong padamu?” Nenek mengingatkan.
Fandra mengarahkan tatapan tajamnya pada wanita yang menjadi ratu di mansion itu kemudian dia mendesis.
“Bukankah aku sudah mengatakannya ribuan kali kalau aku tidak akan memaksanya untuk menikah dalam waktu dekat denganku. Dia masih butuh waktu ….”
“Waktu!” Nenek menyela dengan suara yang meninggi. Menaruh cangkirnya dengan kasar.
Tatapannya nyalang tertuju pada Fandra yang terbungkam. Semua orang yang melihat itu sempat terperanjat, khawatir penyakit sang ratu kambuh.
“Tidakkah kau tahu berapa lama waktu yang telah dia habiskan untuk persiapan? Kau buta Fandra!”
Tangan Fandra mengepal mendengar perkataan sang nenek.
“Benar. Aku buta karena terlalu menginginkannya. Lantas, Nenek akan terus mendesakku untuk menikah dengan gadis yang sama sekali tidak aku cintai? Sungguh ironis sekali. Tidakkah kalian ingin aku bahagia? Maka bahagiaku adalah –”
“Gadis itu!” sela sang nenek.
Dada Fandra naik turun, wajahnya memerah menahan amarah.
“Sekalipun gadis itu kembali. Aku tidak akan sudi kalian menikah!” tegas sang nenek tanpa perasaan sekalipun.
“Apa maksud Nenek?” Fandra tak percaya mendengarnya.
“Dia sudah tidak memenuhi syarat untuk menjadi bagian keluarga ini lagi! Jadi, kau harus menikah sebelum usiamu genap tiga puluh lima tahun!”
Tatapan tak percaya itu mengarah pada wanita tua yang masih tampak anggun dengan rambut tersanggul rapi. Meskipun usianya sudah mulai senja, tapi masih tampak segar bugar.
“Kau, harus menikah dengan pilihan kami!” tegas nenek tanpa bisa diganggu gugat membuat Fandra kehilangan kata-kata.
“Nenek keterlaluan!” balasnya.
“Apa yang lebih keterlaluan daripada gadis itu yang mengkhianatimu tapi kau terlalu buta untuk sadar,” balas neneknya tak mau kalah. “Pokoknya kau harus menikah tidak peduli dengan siapapun itu untuk keberlangsungan keluarga ini,” lanjutnya tidak mempedulikan tatapan Fandra yang marah.
“Nenek terlalu memikirkan kerajaan sialan ini dibanding perasaanku.”
“Apa yang perlu dipertahankan dari perasaan picik itu, hah? Tidakkah kau tahu Fandra apa yang di lakukan gadis itu?”
“Aku tidak akan percaya selama aku tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri!”
“Cukup!” Sang nenek membentak. Matanya nyalang menatap Fandra yang mulai terbawa emosi. “Aku tidak mau mendengar apa pun lagi. Kau harus menikah!”
“Aku tidak akan menikah selain dengan Sheila, titik! Itu keputusanku!” tegas Fandra tak terbantahkan lagi. Dia bangun dari duduknya lantas pergi meninggalkan ruang keluarga yang cukup luas itu.
“Fandra. Altafandra!” Sang ibu memanggil tapi tidak digubris oleh Fandra yang mempercepat langkahnya untuk pergi dari rumah yang bagai neraka baginya.
Di tempat duduknya, Sang nenek berusaha untuk tenang, tapi tetap saja, dadanya sesak tak tertahankan, rasa nyeri itu menghantamnya membuat wanita yang sesungguhnya renta itu tak bisa menahannya lagi, dan pada akhirnya tumbang.
“Ibu!” Panggilan panik dari putra dan menantunya terdengar samar.
“Cucuku ….” Sebelum akhirnya kesadaran wanita tua itu menghilang.
***
“Kau harus menemukan pasangannya tidak peduli apapun itu, Sayang,” katanya penuh permintaan.
Pria itu terbaring tak berdaya di atas ranjangnya dengan sang istri duduk di sampingnya.
“Di mana aku harus menemukannya, dan alasan apa kau memintaku untuk menemukannya?” tanya sang istri tidak mengerti dengan permintaan sang suami yang di ambang kematian.
Dokter menjelaskan kalau waktunya tidak akan lama karena beliau sudah tidak bisa bertahan menghadapi sakit yang di deritanya.
“Kau harus, menemukannya. Dan, Fandra … menikah, sebelum tiga puluh lima tahun. Kumohon, temukan kalung itu, kau, akan mengerti permintaanku, sayang,” ucap sang suami. “Hanya itu permintaanku padamu untuk cucu kita,” lanjutnya terbata.
Dengan tangan yang menggenggam erat seolah tidak ingin kehilangan belahan jiwanya. Air mata menggenang di pelupuk, sekuat tenaga dia bertahan agar tidak tumpah di hadapan sang suami.
“Jangan menangis,” ucap pria itu tampak tersenyum kecil. Tangannya terangkat menyentuhkannya ke pipi wanita yang di nikahinya beberapa puluh tahun lalu. “Maaf, meninggalkanmu dengan banyak beban, dan permintaanku yang banyak. Sayang, kau, adalah satu-satunya wanita yang akan kucintai hingga akhir,” lanjutnya mengusap lembut wajah ayu itu.
Mendengar penuturan itu, sang istri tak mampu untuk menahan air matanya, tumpah ruah membasahi tangan suami tercintanya yang mulai dingin. Tidak ada kata, cukuplah apa yang metreka lakukan menjadi perpisahan yang menyedihkan.
Ketika sang istri mencium punggung tangan sang suami tercintanya dengan penuh penghargaan, penghormatan, dan rasa cinta yang begitu dalam, saat itulah malaikat datang untuk menjemput sang tuan yang telah menjadi raja untuk keluarganya.
“Sampai jumpa lagi, sayang. Tunggu aku di pintu akhirat. Aku janji akan melakukannya, melihat Fandra bahagia dengan pilihanmu, maka aku akan menyusul dengan tenang,” ucapnya menatap wajah itu yang tak lagi bernyawa.
***
Mata tua yang keruput itu mengerjap pelan, air mata membasahi sudutnya. Wanita tua yang merupakan nenek Fandra itu menangis dalam tidurnya.
“Ibu?” Sang menantu menyambut dengan cemas.
Tatapan wanita itu mengarah padanya, memandang lembut sang menantu yang selalu ada untuknya. Senyuman perlahan hadir dengan lemah.
“Ibu baik-baik saja, sayang,” jawabnya.
Menantunya mengembuskan napas pelan tapi tak mampu mengenyahkan kecemasannya.
Nenek teringat akan mimpinya, dan meminta menantunya untuk mengambil sebuah kotak di dalam laci tak jauh dari ranjangnya. Dia kemudian membuka kotak biru tua itu dan tampaklah sebuah kalung dengan bandul berbentuk bulan sabit berhiaskan batu safir biru di tengahnya. Tanda cinta miliknya dengan mendiang suaminya.
Pasangannya dari kalung ini dengan pola-pola serupa pancaran sinar matahari, yang di sekelilingnya bertahtakan permata. Tepat di bagian tengahnya, tertanam batu safir biru. Dia menggambarkan bentuk kalung dari yang dipegangnya. Tentu saja dia masih ingat dengan benda itu.
Memperhatikan kalung itu, dan mengusap permukaan batu safirnya dengan tersenyum kecil. Wanita tua itu kemudian menatap sang menantu.
“Ayahmu, memintaku untuk mencari pemilik pasangannya. Kalung ini memiliki dua jiwa yang tak terpisahkan. Sebelum meninggal, dia mengatakan kalau telah memilih seorang gadis untuk Fandra,” ungkapnya.
Mata ibu dari Fandra itu melebar begitu melihat kalung sambil mendengar ungkapan sang ibu mertua.
“Maksud Ibu ….”
Nenek tersenyum penuh arti, matanya berkaca menatap sang menantu, membenarkan apa yang dipikirkan menantunya itu yang tak percaya mendengarnya.
“Benar. Fandra sudah punya calon pilihan kakeknya.”
Kalung itu berkilau indah. Apakah sudah saatnya mempertemukan dua jiwa asing itu?
Apakah, Fandra akan menerimanya? Ibunya bertanya ragu dalam hatinya sembari menatap kalung itu. Mengenal sifat Fandra, itu akan sulit baginya.
“Ibu tahu ini tidak akan mudah. Tapi, kita harus mencarinya, dan membawanya ke sini lebih dulu.”
“Tanpa persetujuan Fandra?”
“Kamu mengenalnya, sayang. Tidak mungkin Fandra akan menerimanya. Ibu akan mencobanya, mencari pemilik kalung itu lebih dulu.” Nenek sudah memutuskan, dan itu tidak bisa diubah.
Maka wanita yang telah melahirkan Fandra itu hanya terdiam, berpikir keputusan apa yang diambilnya.
“Aku ikut denganmu, Bu. Mencari pemilik kalung itu,” putusnya kemudian.
Jelas. Senyum nenek semakin mengembang mendapat dukungan dari menantu kesayangannya. Namun, siapakah pemiliknya itu?
Brak! Prang! Duk! Bruk!
Suara benda-benda yang berjatuhan terdengar begitu nyaring. Rumah yang tadinya rapi kini telah berserakan barang-barangnya bagai kapal pecah, tak lagi seindah di awal.
Seorang wanita hanya bisa terduduk lemas di tempatnya dengan napas yang tak berarturan, air matanya jatuh dari pelupuk, menatap tajam pria yang memporak-porandakan seisi rumah makannya. Dia tak punya tenaga lagi untuk sekadar menyuarakan satu kata. Wajahnya bahkan merah di ujung sudut mata dan bibirnya terkena hantaman.
“Apa kau lihat-lihat, hah? Kau seharusnya bayar tepat waktu maka aku tidak akan melakukan hal ini, sialan!” kata si ketua dari kelompok rentenir.
“Bukankah aku sudah bilang itu bukan lagi urusanku, tapi urusannya!” balas wanita yang tak berdaya itu sebisa mungkin membalas.
Ini bukan memang bukan salahnya, tapi kenapa dia yang harus menderita?
Si ketua tertawa remeh, tak percaya mendengar apa yang di katakan wanita itu. Dia kembali berbalik, berjongkok di hadapan sang wanita dan menjambak rambutnya yang digelung membuat wajah cantik dengan jejak kemerahan itu mendongak.
“Kau bilang apa, hah? Bukan urusanmu? Lantas, siapa yang akan membayarku, hah? Adikmu yang gila itu telah menjadikan rumah ini sebagai jaminannya bodoh!” Pria itu mendorong kepala si wanita membuatnya menunduk, beruntung dahinya tidak sampai mencium lantai saking kuatnya dorongan si ketua itu.
Dia membuang napas kesal, mengedarkan pandangan untuk mencari sesuatu yang bisa membayar hutangnya hari ini.
“Cari apa pun sampai dapat!” titahnya kepada anak buah yang membuat kekacauan. Para pria dengan tubuh kekar dan tambun itu bergerak mengikuti perintah sang ketua.
Wanita pemilik rumah makan sederhana itu hanya diam saja, menangisi nasibnya yang malang. Memiliki adik adalah sesuatu yang di bencinya. Sejak sang ayah meninggal dan mewariskan rumah itu yang merangkap dengan rumah makan, sebisa mungkin dia bertahan bersama kedua putrinya. Namun, rupanya takdir justru ingin dia menderita. Adik satu-satunya yang dimiliki dia justru membuat ulah.
“Astaga. Sayang sekali putrimu tidak ada di sini. Padahal dia bisa menjadi jaminan untuk uang muka,” kata si ketua sinis menatap potret dalam pigura yang tergantung di dekat tangga.
Ada tiga wanita di sana tersenyum bahagia satu sama lainnya, dan itu adalah dia bersama dua putrinya, Vivana Rosiana, sang sulung. Mereka adalah harta tak ternilai yang menjadi alasan dia bertahan.
Mengangkat wajahnya dengan mata yang memerah, wanita itu menatap si ketua yang menarik sudut bibirnya membentuk senyuman yang hina. “Hentikan! Aku tidak akan pernah sudi menyerahkan putriku pada kalian, brengsek!”
Tawa pria itu memantul-mantul di ruangan kecil yang merupakan rumah makan itu. Seolah apa yang dia katakan itu adalah sesuatu yang lucu.
“Sialan!” serunya tak asyik.
Sementara itu, para tetangga berkumpul di luar dengan jarak yang cukup lumayan jauh. Mereka tidak ada yang mendekat karena mengenal para rentenir itu yang konon katanya amat bengis. Tidak ada para pria yang bisa membantu mereka, itu sebabnya hanya berkumpul di satu teras dengan perasaan cemas dan takut.
“Bagaimana ini? Kasihan sekali Bu Rana. Dia pasti akan berdarah lagi,” ujar seorang ibu dengan rambut pendek dan tubuh berisinya.
Ibu lain menimpali. Saling bersahutan menyuarakan kecemasan. Salah satu dari mereka menyarankan agar mencoba telepon putrinya, dia pasti akan segera datang. Gadis itu sedang berbelanja, lapor salah satu ibu di sana dengan kecemasan yang kentara sekali.
Seorang ibu bergegas masuk ke rumah untuk menghubungi putri dari pemilik rumah makan itu. Mereka adalah ibu-ibu yang tidak berdaya bila berhadapan dengan si ketua rentenir, terlebih lagi dengan anak buahnya adalah sesuatu yang menyeramkan sekali, itu sebabnya para ibu tidak berani mendekat.
“Vana, Vana, ibumu … cepat kembali. Ibumu terluka!” seru sang ibu panik tanpa ba-bi-bu langsung memberitahu begitu sambungan terhubung dan kemudian terputus begitu saja.
Semoga dia segera datang. Tuhan, tolonglah kirim malaikatmu untuk menyelamatkan wanita malang itu dari kekejaman para rentenir, ucap si ibu berdoa dalam hatinya kemudian berbalik untuk ikut berkumpul dengan yang lainnya.
***
Di lain tempat, tidak jauh dari sana, sebuah mobil Bentley Fluing Spur hitam berhenti di ujung jalan itu diikuti satu mobil serupa.
“Ini tempatnya?” tanya nenek pada sang pengawal yang duduk di kursi kemudi.
“Benar, Nyonya. Kami hanya bisa sampai di sini membawa mobil,” jawab pria dengan setelan jas hitam itu menjawab pertanyaan tuannya.
Wanita tua itu mengangguk, mengedarkan pandangannya ke luar mobil.
“Ibu yakin padahal seharusnya Ibu beristirahat saja biar aku yang melakukannya,” ujar sang menantu khawatir.
Sejak mendengar keputusan sang mertua yang ingin segera menemukan pemilik kalung pasangannya itu, ibu Fandra sudah menentangnya tapi sang ibu tetap kukuh ingin pergi dan menemukannya sendiri.
“Ibu baik-baik saja, sayang. Ayo turun, di sana sepertinya tengah terjadi sesuatu,” kata nenek melihat perkumpulan ibu-ibu dari jarak yang cukup lumayan.
Perhatian wanita anggun itu teralihkan. Pintu terbuka kemudian dan sang nenek keluar diikuti menantunya yang keluar dari pintu satunya.
Penasaran dengan apa yang terjadi karena samar mereka mendengar suara dari arah depannya. Nenek mencoba menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya yang mulai buram.
“Coba kalian lihat apa yang terjadi di sana,” perintahnya.
“Baik Bu.” Satu pengawal wanita menyahut, mengangguk kecil lalu bergegas.
Tapi sebelum dia jauh, seorang gadis telah lebih dulu berlari melewatinya, sempat menghentikan langkah sang bodyguard wanita itu.
Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda itu tampak bergerak-gerak, gadis itu berlari secepat mungkin tidak peduli dengan kanan dan kirinya, yang ada dalam pikirannya hanyalah segera menyelamatkan sang ibu.
melihat kedatangan si gadis para ibu itu menyambut dengan panik, dan membuat Vana segera masuk ke rumahnya.
“Ma!” Vana memanggil begitu sampai di ambang pintu. Napasnya memburu karena berlari cukup jauh untuk sampai dengan cepat.
“Vana,” wanita itu menyebut nama sang putri sulung dengan lirih.
Namun, kedatangannya itu mengalihkan perhatian si ketua yang bersorak atas kedatangan putrinya. Tentu saja dia senang karena dengan begitu bisa membawa Vana sesuai perkataannya sebagai ganti uang muka yang harus di bayar saat itu juga.
“Woah. Lihat siapa yang datang?” sambutnya sambil tertawa renyah tapi terdengar menjijikan di telinga Vana.
Gadis itu mendekat pada sang ibu, membantunya duduk dengan tegak. Air matanya menggenang di pelupuk ketika menatap wajah cantik yang kini tampak mengerikan karena ada jejak pukulan.
“Maafkan aku, Ma. Maaf aku terlambat,” ucap Vana merasa bersalah.
Sang ibu menggeleng, dia tidak apa-apa, tapi yang dia cemaskan adalah Vana sekarang, maka dari itu dia memeluk sang putri sulungnya erat, takut bila si ketua menyeretnya keluar.
“Hei kau! Kau harus ikut denganku gadis manis sebagai jaminan baayarannya,” ujar pria itu sambil mendekatinya.
“Jangan mendekat. Jangan pernah ambil Vana dariku!” seru sang ibu tidak terima.
Tapi si ketua tetap saja mendekat, tidak peduli dengan rengekan wanita itu.
Sang ibu panik ketika Vana melepas pelukan eratnya.
“Tidak apa-apa, Ma. Aku akan memberinya pelajaran,” kata Vana. “Tunggu di sini sebentar,” lanjutnya mengamankan sang ibu terlebih dulu dia kemudian bangun dari duduknya berhadapan dengan para rentenir itu.
“Woah. Gadis ini tidak kenal takut rupanya. Lihat, tatapan tajamnya sungguh menggemaskan, hahah!” Si ketua tertawa meremehkan yang disambut anak buahnya.
Vana tetap maju tidak peduli dengan tawa itu.
Buk!
Satu pukulan berhasil mengenai lengan si ketua membuat pria itu terhuyung ke belakang, tentu saja itu menjadi kejutan baginya.
“Sialann!” serunya marah lalu maju untuk membalas.
Vana dengan gesit menghindar.
Tapi sayangnya, satu lawan lima, meskipun Vana belajar bela diri, tetap saja lawannya tidak seimbang sehingga beberapa kali dia terkena pukulan di badan dan juga wajahnya.
Bruk! Bruk! Bruk!
Seseorang membanting beberapa anak buah si ketua dari belakang membuat mereka yang menyerang Vana terkejut dan serempak saja melihat ke arah wanita dengan setelan jas hitam itu. Tiga pria tumbang di lantai.
Kesempatan. Vana dengan cepat menarik si ketua dan membantingnya ke lantai membuat pria itu mengaduh tertahan. Satu orang lagi berhasil Vana taklukan pada akhirnya lima pria itu bergelimang di lantai mengaduh kesakitan.
Vana menatap wanita itu, bertanya-tanya siapakah gerangan.
“Ada insiden di sini,” kata wanita itu sambil menolehkan wajahnya ke samping.
Vana memperhatikan, ada kabel di belakang telinganya, dan hal itu membuatnya semakin bertanya-tanya siapa gerangan.
Gadis itu membantu sang ibu untuk bangun agar pindah tempat duduk di kursi. Dia membiarkan wanita itu membuat laporan karena perhatiannya kini tertuju pada wanita yang amat dia sayangi.
“Maafkan aku terlambat, Ma,” ucap Vana dengan nada yang menyesal. Suaranya terdengar parau, kedua tangannya menggenggam sang ibu yang mencoba untuk tersenyum.
“Tidak apa-apa, Vana. Seandainya bisa, kamu tidak perlu datang,” kata ibunya.
“Bagaimana mungkin?” Nada suara Vana naik, tidak setuju dengan sang ibu.
Dia tidak lagi bisa mengatakan apa-apa selain mengasihi wanita cantik yang kini wajahnya di penuhi lebam. Tangan sang ibu mengusap kepalanya lembut.
Beberapa orang datang sedikit terburu membuat perhatian Vana dan ibunya teralihkan ke pintu masuk. Sekitar tiga orang pria dengan setelan jas hitam serupa dengan wanita tadi itu segera meringkus para anak buah rentenir tersebut yang masih tergeletak di lantai.
Masih dalam kebingungannya, datang lagi dua orang wanita dengan tergopoh, ekspresi wajahnya menggambarkan kekhawatiran. Vana bangun dari jongkoknya tapi tak mengizinkan sang ibu untuk ikut bangun.
“Kalian siapa?” tanya Vana.
Nenek mendekat dengan di tuntun menantunys. Tersenyum hangat pada Vana yang menatapnya heran. Wajah asing baginya, tidak mungkin dia mengenali wanita ini sekalipun wajahnya terpampang dimana-mana atau sekelas public pigure, dia sama sekali tidak peduli dengan itu.
“Maaf, Anda siapa?” tanya Vana was-was. Dia berpikir, mungkinkan Tuan Tanah atau nyonya kaya yang akan mengambil alih rumah itu segera? Dibanding dengan para rentenir, dia lebih takut dengan orang kaya yang bisa melakukan apapun dalam sekali perintah, terlebih lagi datang bersama para pengawalnya.
“Halo, perkenalkan saya Xu Mei, dan ini menantu saya, Diana,” ujar wanita tua itu tanpa basa-basi memperkenalkan dirinya.
Pandangan Vana mengedar mencari sesuatu, dan dia bergegas membawa kursi yang terlempar sedikit jauh karena ulah para rentenir tadi. Hal itu membuat mertua dan menantu saling tatap. Para pengawal yang melihat gerakan Vana siap siaga untuk melindungi tuannya.
Vana kembali dengan kursi, “Silakan duduk,” katanya menaruh benda itu di belakang nenek.
Wanita tua itu tersenyum, “Terima kasih.”
Salah satu pengawal memberikan satu kursi untuk wanita satunya. Kedua wanita itu duduk berhadapan dengan Vana yang masih berdiri. Perhatiannya tertuju pada si ketua rentenir yang menatapnya dingin. Dia tahu, tanpa kata, tatapan itu adalah sebuah ancaman. Tapi Vana hanya diam saja, balas menatap pria itu yang sesungguhnya masuk dalam kategori tampan dari segi wajah.
Salah satu pengawal bertanya mengenai para rentenir itu. Seorang pria yang berdiri tepat di belakang nenek membalik setengah badan. Nenek memerintahkan untuk melaporkan saja ke pihak berwajib. Setelah itu laporkan padanya.
Bawahannya itu menatap, dan ketua pengawal mengangguk mengiyakan apa yang diperintahkan sang nyonya.
Tidak terima, si ketua menggeram marah, dia kembali menatap Vana yang masih diri di tempatnya. “Lihat saja. Aku tidak akan tinggal diam, brengsek!” katanya sebelum diseret keluar oleh para pengawal itu.
Masih dengan tatapan yang sama, Vana mengantar kepergian si ketua. Ada rasa sakit dalam hatinya atas apa yang terjadi sampai dia ragu untuk menatap sang ibu lagi, membuat rasa bersalah mendominasi hatinya karena terlambat untuk melindungi sang ibu, seperti janjinya pada mendiang ayahnya.
Sementara Vana masih menatap kepergian para rentenir, perhatian sang menantu tertuju pada gadis itu. Dahinya mengerut ketika mendapati sebuah benda yang tak asing menyembul keluar kemeja putih yang dikenakan Vana. Ibu Fandra menyipitkan matanya untuk memperjelas kalau dia mengenali benda itu.
“Terima kasih sudah membantu kami,” ucap wanita pemilik rumah makan itu sambil membungkukan kepalanya di hadapan nenek
“Ah, itu bukan apa-apa. Kami kebetulan saja berada di dekat sini dan mendengar kegaduhan, jadi kami memutuskan untuk membantu bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dan benar saja,” jelas nenek.
Wanita sederhana yang wajahnya dipenuhi lebam itu berusaha tersenyum meskipun ujung bibirnya terasa pedih.
“Vana, ambilkan air,” ujar sang ibu menarik perhatian gadis itu.
“Ah, ya.”
“Tidak usah,” sela nenek itu. Tapi Vana hanya tersenyum dan tetap pergi ke dapur meninggalkan para tamu itu.
Dada ibu dari Fandra berdesir kala mengenali benda itu. Mendadak matanya berair, dan sekuat tenaga dia menahannya. Hatinya bergejolak, penuh oleh tanya soal bagaimana dia akan menerima. Gadis itu biasa, dan terlibat dengan kerusuhan seperti ini, pastilah sebagai seorang ibu, dia mesti memikirkan kemungkinan lainnya. Bisakah dia menerima gadis biasa?
Namun, dia ingat apa yang ibu mertuanya katakan sebelum mereka berangkat, “Dari manapun asal gadis itu, jika memang dia memiliki kalungnya, Ibu akan tetap membawanya sesuai permintaan mendiang Ayahmu. Bukankah sesuatu yang buruk bisa berubah menjadi lebih baik dengan sebuah upaya.”
Tapi sebelum memberitahukannya pada nenek Fandra, sang ibu ingin memastikannya lebih dulu bahwa apa yang dia lihat itu benar-benar nyata.
Vana kembali dengan nampan berisi minuman. Dia menaruhnya satu per satu di atas meja, dan dengan ramah mempersilakan para tamu untuk minum. Dia juga melakukan hal yang sama kepada para pengawal setelah meminta mereka untuk duduk.
Ibu Fandra memperhatikannya, entah mengapa ada sesuatu yang meleleh dalam hatinya begitu melihat sikap Vana. Meskipun tanpa senyuman, dia tahu gadis itu tulus. Meskipun terlihat cuek, ibu Fandra tahu Vana perhatian. “Dia cocok untuk Fandra yang cuek abis,” batinnya berkata lalu menarik kedua sudut bibirnya.
Kembali duduk bersama sang ibu, ibu Fandra tak luput memandangi leher Vana yang tampak rantai kalung yang keemasan. Dia mengenali rantai kalung itu.
“Ini putri sulungku,” kata ibunya memperkenalkan Vana begitu gadis itu duduk di tempatnya.
“Begitu. Cantik,” puji sang nenek.
Vana tersenyum malu. Dia tidak pandai melakukan apapun tapi sang ibu selalu membanggakannya, dan hal itu bisa dilihat dengan jelas oleh menantu dan mertua yang secara otomatis memegang tangan.
“Apakah kamu kuliah atau kerja?” tanya ibu Fandra tiba-tiba membuat ibu dan anak itu saling tatapan, pun nenek menatapnya. Tapi menantunya itu diam, tetap fokus pada Vana, berharap melihat lagi bandul kalung itu untuk memastikannya.
“Itu ….”
“Dia tidak ingin bekerja jauh, jadi hanya menghabiskan harinya membantuku di sini,” jawab sang ibu menyela Vana.
“Oh begitu. Apakah ini tempat makan?” tanya sang nenek, pandangannya mengedar mengabsen setiap jengkal ruangan itu. Tampak sudah lama sekali tapi bersih dan terawat meskipun hari ini tampak berantakan.
“Vana, namamu kan?” Ibu Fandra kembali bertanya membuat sang nenek menatapnya lagi, heran dengan menantunya yang bertanya tidak seperti biasanya, terkesan menginterogasi atau seseorang yang akan menyeleksi.
“Ya.” Vana menjawab singkat walaupun dia tetap bingung.
“Vana, bisa kamu memperlihatkan bandul kalung itu?” tanya wanita itu yang tidak lagi bisa menunggu dan menahan rasa penasarannya.
Nenek menatap menantunya, tapi wanita itu hanya tersenyum kecil. Vana juga kebingungan menatap sang ibu sekilas lalu beralih pada wanita yang sejak tadi memperhatikannya, yang menunggu bandul kalung itu.
Meskipun bingung pada akhirnya Vana tetap memperlihatkan bandul kalung yang dia pakai. Dan betapa terkejutnya Ibu Fandra serta neneknya melihat benda itu, sesuatu yang mereka cari ada di tangan gadis itu. Bagimana mungkin.
Kedua pasang mata itu tampak berair, terharu begitu memastikan kalung itu adalah yang mereka cari. Mertua dan menantu itu saling tatap penuh rasa syukur.
“Cucuku ….”
Dahi Vana mengerut, tidak paham dengan apa yang Xu Mei gumamkan.