Di pintu kios bahan makanan berdiri sosok laki-laki yang tengah menatapku dengan sorot mata ungunya yang gelap, menghujam pandanganku dan sarat keangkuhan.
Seketika itu, aku merasakan ketakutan yang amat sangat hingga kurasakan bulu-bulu halus di tengkukku meremang. Tatapannya yang awalnya dalam, membuatku membeku. Namun, dengan cepat berganti ketenangan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
”Calista ...,” bisiknya pelan tanpa menggerakkan bibirnya. Sepasang mata ungu gelapnya tak berkedip seolah membiusku.
Ini pasti bukanlah mimpi karena tangan kanannya yang kokoh terulur perlahan padaku. Ada dorongan yang begitu kuat dari alam bawah sadarku untuk menyambutnya. Seolah-olah kami telah saling mengenal begitu lama.
Dengan penuh keyakinan kujulurkan tangan kananku ke arahnya. Belum sempat kedua tangan kami bersatu ....
”JAUHI PUTRIKUU!!” teriak Arman marah dengan mengacungkan tangan kanannya ke arah laki-laki misterius tadi.
BRAKK !!
Dia terpelanting keras menghantam rak penyimpan buah hingga rak itu patah dan buahnya berhamburan ke lantai.
Kantong belanjaanku terjatuh dan aku tersadar seketika.
Sementara pelanggan lain berteriak dan berhamburan keluar kios.
Kupandangi Arman dengan bingung. Kekuatan apa yang dimiliki ayahku itu hingga dia bisa mengempaskan laki-laki misterius tadi hingga terjatuh.
”Kita harus pergi!” seru Arman panik seraya menarik tanganku.
Kami bergegas lari ke arah pintu keluar, sayangnya laki-laki misterius tadi telah bangun dari tumpukan apel yang berserakan. Lalu ia mengarahkan tangan kanannya ke arah kami.
”FOLLONES!” lengkingnya kesal hingga menjungkalkan aku dan Arman.
Aku mengerang kesakitan. Kakiku terasa kesemutan.
Arman menatapku cemas lalu berdiri pelan. Dengan geram Arman mengayunkan kedua tangannya ke arah penyerang kami yang langsung menghindar dengan cepat. Serangan Arman hanya menghantam jejeran kubis yang hancur berantakan.
Laki-laki misterius itu kini melakukan serangan balik pada Arman yang langsung terdorong jatuh dan menggerung kesakitan. Arman berusaha bangkit lalu menatap liar ke arah laki-laki bermata ungu itu.
”MATI KAUU!” teriak Arman marah seraya mengayunkan kedua tangannya dan mengeluarkan pukulan jarak jauh yang sangat keras hingga tubuh penyerang kami terdorong keras ke belakang dan menghantam dinding kayu, lalu jatuh dan tak bergerak.
Tubuhku bergetar hebat, mulutku terkatup rapat karena terlalu shock untuk berteriak. Apakah ini mimpi. Karena aku bersumpah telah melihat Arman menjatuhkan laki-laki penyerang kami itu hanya dengan mengayunkan kedua tangannya dari jarak jauh. Aku tak pernah mengira jika ayahku memiliki kekuatan terpendam sehebat itu.
”TETAP DI SITU CALISTAA!!” perintah Arman dan bergegas hendak menghampiriku yang masih gemetar ketakutan.
BLARR !!
Suara ledakan keras diiringi angin kencang yang menderu melambungkan tubuh besar Arman hingga berputar-putar dan menembus langit-langit kayu. Mengempaskannya dengan keras kembali ke lantai kayu yang kotor dan penuh serpihan kayu bercampur dengan bahan makanan yang berserakan.
Tubuh Arman seketika tak bergerak. Darah mengalir dari mulut dan hidungnya.
“AYAAAH!!” Jeritan panjang terlontar dari mulutku.
Dengan segenap kekuatan, aku menghambur ke arah tubuh kaku ayahku yang sangat kusayang itu dan memeluknya erat-erat.
“Bangun, Ayah,” isakku hingga airmata membasahi seluruh wajahku.
Mimpi burukku semalam ternyata adalah pertanda. Dan sekarang menjadi kenyataan.
Seorang laki-laki seumuran Arman berdiri dengan kepala tegak menatap bengis ke arah tubuh Arman yang tak bergerak dalam pelukanku.
Laki-laki itu mengenakan pakaian serba hitam dengan jubah panjang berwarna hitam. Di lehernya tergantung kalung perak berinisial huruf capital R. Rambutnya yang berwarna hitam keperakan terlihat mengkilap dengan bentuk wajahnya yang terlihat aneh karena terlalu tirus dengan hidung panjangnya yang agak bengkok.
Kedua matanya menyipit menatapku yang tengah menangisi jasad ayahku.
”BANGUNN!” bentaknya kasar. Nada suaranya sedikit bernada berat.
Aku tak mempedulikannya karena tubuhku terasa lemas dan tak berdaya.
”Kubilang bangun!!” gelegarnya marah seraya menyeret tanganku dengan kasar.
Kupandangi si hidung bengkok tersebut dengan penuh amarah dan kebencian lalu meludahinya.
Dia menamparku dengan keras.
”Biar aku saja yang mengurusnya Rufus,” tawar laki-laki misterius bermata ungu tua tadi mencoba menenangkan suasana dengan menarik tanganku lalu menggenggam tanganku erat. Seolah ingin melindungiku dari kekesalan laki-laki yang dipanggil Rufus tadi.
Kulirik si mata ungu dengan rambut hitam lurusnya yang sebahu itu dengan bingung karena berusaha melindungiku. Garis wajahnya terlihat tegas dan tampan, sayangnya sorot mata ungu tuanya terlihat sedih dan muram.
Rufus menatap si mata ungu lalu mengalihkan pandangannya ke arahku dengan raut muka merendahkan. “Jangan biarkan wajah cantiknya menipumu, Readick!”
Si mata ungu terlihat canggung.
“Aku tidak butuh pertolonganmu!!” ucapku marah pada si mata ungu yang dipanggil Readick.
”Sebaiknya kau tutup mulutmu jika kau masih ingin hidup. Kau akan menyesal jika membuatnya benar-benar murka,” bisiknya kaku setengah membujukku.
Kudorong tubuh Readick dengan sekuat tenaga bagai kucing liar yang terluka.
”PEMBUNUH!” teriakku marah pada Rufus dan menatapnya dengan garang.
Kedua tangan Readick dengan cepat kembali menarik tubuh rapuhku dan mencengkram dengan kasar. ”Gadis bodoh! Aku berusaha menyelamatkan nasibmu, ok!” ujarnya kesal seraya menatapku jengkel.
Rufus menoleh sinis padaku. ”Kekuatan ayahmu sudah berkarat karena sibuk mengurus anak tak berguna sepertimu. Kaulah yang membunuh ayahmu sendiri!” kekehnya senang seraya menggoyangkan kaki kanannya yang tengah menginjak tubuh Arman yang terbaring kaku di lantai.
”Jangan sentuh dia!” raungku marah.
Tawa Rufus semakin kencang dan tak mempedulikan ucapanku.
Tiba-tiba saja hawa dingin datang bersamaan dengan kabut tipis yang perlahan mulai memenuhi ruangan ini. Tubuhku menggigil kedinginan.
Rufus menyipitkan pandangannya. Hidungnya yang bengkok tertarik ke atas mengikuti keningnya yang berkerut. Kali ini wajahnya terlihat sangat terganggu.
“Sepertinya, kita kedatangan teman dari Lembah Crystal, Tristan.”
Si mata ungu yang memegangiku ternyata bernama Tristan Readick. Dan raut wajah Tristan kini terlihat waspada.
“LEPASKAN DIA RUFUS!!” suara merdu seorang wanita terdengar lantang dalam kabut yang mulai memenuhi ruangan. Kedua mataku berusaha mencari sumber suara. Namun, sia-sia karena kabut tebal telah menutupi pandanganku.
“Menyedihkan sekali! Ternyata kalian masih saja menggunakan cara-cara pengecut seperti ini dalam pertarungan!” teriak Rufus meremehkan.
Seorang wanita berambut ikal panjang yang berwarna pirang berdiri tegak di depan kami dan menatap lurus ke arah Rufus. Sorot matanya terlihat galak tanpa kompromi.
“Brisa ...,” desis Tristan pada Rufus.
Rufus menoleh ke arah Brisa lalu menyeringai bengis.
”FLASHFLARE!” teriak Rufus seraya melontarkan lidah api yang berkobar keluar tiba-tiba dari kedua tangannya, menerjang Brisa.
Dengan lincah Brisa menghindar sambil meneriakkan mantra balasan.
“ICESSENDRIOS!!” teriak Brisa mengarahkan gundukan es yang tinggi dari kedua tangannya sebagai benteng pertahanan diri.
”TRISTANN!” teriak Rufus geram ke arah si mata ungu yang tengah memegangiku.
”Bawa anak itu!” perintahnya seraya mengibaskan jubah panjangnya hingga membuat pusaran angin yang besar lalu menghilang dalam pusaran angin kencang tersebut dan membuat barang-barang di sekelilingnya ikut beterbangan.
“Jangan takut,” bisik Tristan seraya menarik tanganku untuk memasuki pusaran lubang hitam yang dibuat Rufus.
”TIDAK SECEPAT ITU, TEMAN!” teriak sosok tinggi langsing yang melompat dengan lincah di hadapanku dan Tristan seraya mengepalkan lengan kanannya tepat ke arah wajah Tristan.
Tristan terhuyung. Pegangan tangannya terlepas dariku lalu kami berdua kehilangan keseimbangan dan jatuh bersamaan.
Samar-samar kulihat kilau anting perak di kuping kiri wajah si penolongku di kencangnya arus pusaran angin yang membuat semua barang-barang di sekeliling kami melayang-layang.
Wajah yang sempurna itu tersenyum puas begitu melihat Tristan yang terjatuh di sampingku. Lalu pusaran angin buatan Rufus itu perlahan-lahan menutup dan menghilang.
Laki-laki beranting perak mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Namun, dengan cepat Tristan bangkit dan menatap marah padanya.
”DIZZANTE!!” erang Tristan marah seraya menyerang balik.
Dari kedua telapak tangannya keluar asap hitam yang menggulung tubuh pangeran penolongku itu hingga tubuhnya melayang dan berputar-putar.
Wajah tampan laki-laki beranting perak menjadi pucat. Kedua matanya menatap kosong seolah terbius.
”NESS!” teriak Brisa cemas.
Lalu Brisa berlari mendekati laki-laki beranting perak yang dipanggil Ness itu.
”DARREN! Tangkap Ness!” perintah Brisa pada teman satunya yang berambut hitam dengan tubuhnya yang berotot.
”ICESSENDRIOS!” seru Brisa marah pada Tristan sambil melontarkan hujaman batu es yang keluar dari telapak tangannya.
Tubuh Tristan terpelanting menghantam jendela kaca hingga pecah berantakan terkena serangan balasan dari Brisa.
Lalu Darren menadahkan kedua tangan kekarnya untuk menangkap Ness yang nyaris terempas ke lantai.
Dengan cepat meski sedikit payah Tristan berbisik merapalkan mantra.
Dalam sekelebat mata tubuh kokoh Tristan berputar dan menghilang bersamaan dengan kepulan asap hitam yang keluar dari sekujur tubuhnya.
Brisa segera melompat mencari perlindungan di balik rak-rak yang letaknya sudah tak karuan.
Tiba-tiba kepalaku menjadi pusing. Ruangan terasa berputar. Dan aku pun jatuh tak sadarkan diri.
Samar-samar kulihat sepasang mata biru pupus yang menyejukkan menatapku dengan iba.
”Kau baik-baik saja?” tanyanya lembut.
Aku mencoba bangun dari kursi panjang. Wanita berambut pirang itu bergegas membantuku untuk duduk. Lalu dia duduk di kursi lain dan menatapku.
”Namaku Brisa Ackron. Dan ini temanku Darren Dash,” tunjuknya pada laki-laki berambut hitam.
Darren tersenyum padaku.
”Dan yang bersandar dekat jendela di sebelah sana itu adalah Ness Ferin,” liriknya pada laki-laki tampan dengan rambut pirangnya yang di ikat.
Anting perak di kuping kiri Ness terlihat bersinar terkena pantulan cahaya dari kisi-kisi jendela kayu. Ness mengangguk sopan padaku sebagai tanda perkenalannya.
”Apa yang kalian inginkan dariku?”
”Kami datang dari Lembah Crystal. Dan berniat untuk membawamu ke sana,” ucap Brisa berhati-hati.
Kupandangi Brisa dengan pikiran melayang.
Membawaku ke Lembah Crystal untuk apa? Seumur hidup aku tak pernah mendengar nama tempat seperti itu.
”Dimana jasad ayahku?” getarku menahan tangis.
Dengan gundah Brisa menunjuk tubuh seseorang yang terbaring kaku di meja kayu dengan tertutup selimut.
Darren menatap iba padaku sementara Ness membuang pandangannya jauh-jauh keluar jendela.
Aku bangkit dari kursi panjang dan menghampiri jasad ayahku. Kubuka selimut yang menutupi wajah ayahku itu.
”Laki-laki berjubah hitam. Siapa dia?”
”Namanya Rufus Black. Dia adalah kaki tangan penyihir kegelapan yang bernama Zorca Anthea,” sahut Brisa.
Kuatur napas perlahan untuk menahan marah. ”Mengapa ia membunuh ayahku?”
”Karena ayahmu adalah salah satu ksatria Lembah Crystal yang dicari mereka untuk dimusnahkan.”
Akhirnya airmataku menetes karena tak sanggup menahan rasa sakit di hati yang penuh amarah akan rasa kehilangan.
Kubelai wajah Arman dan memandanginya untuk yang terakhir kali.
”Seharusnya kami datang lebih cepat,” ujar Ness.
Aku hanya diam dan mengatur napas. Lalu berbalik menatap Ness, Brisa dan Darren.
”Bukan kesalahan kalian. Aku melihat semuanya dalam mimpiku.”
Wajah Brisa seketika terkejut diikuti raut wajah Ness dan Darren.
”Apa maksudmu melihat semuanya?” tanya Brisa penasaran.
”Terkadang aku melihat pertanda dan hal-hal yang belum terjadi. Dan pagi ini, aku telah berusaha mencegah ayahku untuk pergi tapi dia tak mau mendengarkan penjelasan aku.”
”Calista sebenarnya ada hal yang ingin kami sampaikan padamu mengenai kedatangan kami yang sesungguhnya dan mengapa kau harus ikut kami ke Lembah Crystal.”
Brisa mulai bercerita mengenai perihal kedatangan mereka. Sepertinya wanita ini tahu benar asal usulku selama ini yang selalu disembunyikan oleh Arman.
Brisa, Ness dan Darren berasal dari lembah penyihir bernama Lembah Crystal. Pemimpin mereka yang bernama Orion Xander meminta mereka untuk menjemput dan membawaku ke Lembah Crystal demi keselamatanku.
Brisa mengatakan jika aku terlahir dari seorang wanita penyihir bernama Regina. Sementara ayahku, Arman memiliki kekuatan psikokinesis yang hebat. Dan mereka pernah menjadi Ksatria Orion di Lembah Crystal.
Garis keturunan dari sisi ibuku, Regina. Mengalir darah penyihir murni generasi pertama di Lembah Crystal yang disebut ’The Elder’. Kemudian ’The Elder’ mendirikan Ordo Crystal. Ordo penyihir pertama yang menemukan dan menguasai Lembah Crystal.
Menurut Brisa, darah yang mengalir di nadiku memiliki hak yang sah untuk bergabung dengan Ordo Crystal.
Kupandangi Brisa dengan bimbang. ”Kau yakin Orion tidak salah orang?”
Seketika itu juga Ness tertawa. Terdengar renyah dan menyenangkan di telingaku.
Brisa melirik kesal ke arah Ness.
Ness menghentikan tawanya seraya mengalihkan pandangannya dari Brisa.
”Orion tidak mungkin salah. Dia pemimpin kami yang paling bijak dan cerdas,” sela Darren mencoba meyakinkan aku.
”Jika ayahku meninggalkan Lembah Crystal lalu kenapa aku harus pergi ke sana?”
”Untuk menghindari kejaran Rufus yang telah membunuh ayahmu,” sahut Brisa tegas.
Aku terdiam dengan perasaan tak nyaman.
”Dan Rufus hanyalah satu dari sekian banyak orang kepercayaan sekaligus pengikut setia dari seorang penyihir kegelapan bernama Zorca Anthea, musuh Lembah Crystal dan pemimpin kami, Orion Xander,” sepasang mata biru pupus Brisa menatapku emosional.
Kutatap Brisa skeptis. Lalu menggelengkan kepala untuk menyangkal penjelasannya yang masih belum bisa kuterima.
Brisa membicarakan tentang para penyihir hitam kaki tangan Zorca yang ingin membunuhku. Aku bahkan tidak mengenal Zorca Anthea.
”Kau tetap tidak aman berada di sini. Mereka akan terus berusaha menangkapmu. Itulah sebabnya kau tidak punya pilihan selain ikut dengan kami,” ucap Ness seraya menatapku.
Hatiku bimbang. Mengapa kehidupanku tiba-tiba menjadi begitu rumit.
”Aku yakin Ayahmu pasti menginginkan kau ikut dengan kami,” desak Brisa.
Kutegakkan kepala dan berusaha terlihat tegar.
”Jadi itu pilihannya. Ikut dengan kalian atau mati di tangan penyihir kegelapan.”
”Kami akan melindungimu di Lembah Crystal,” janji Brisa padaku.
Kutatap wajah mereka satu per satu dengan ragu. Akhirnya aku hanya bisa mengangguk pasrah dan mengikuti kemauan mereka.
Siang itu kuberikan penguburan yang layak untuk ayahku. Dibantu ketiga teman baruku dari Lembah Crystal.
Kutatap gundukan tanah merah di depanku untuk yang terakhir kali. Karena perasaanku mengatakan, aku akan berada jauh dari rumah untuk jangka waktu yang sangat lama.
Kali ini aku benar-benar akan semakin merindukan sosok ayahku yang terbaring dengan tenang di rumah kami ini, di tanah Essendra.
”Kau sudah siap?” pertanyaan Brisa membuyarkan lamunanku.
Aku mengangguk. Lalu kupandangi wajah Brisa.
”Apakah kalian semua penyihir?”
Brisa tersenyum tipis.
”Aku memang terlahir sebagai seorang penyihir. Darah penyihir aku dapatkan dari ayah dan ibuku.”
”Kau sangat beruntung.”
”Itu hal yang biasa terjadi di Lembah Crystal.”
Kemudian kulirik Ness dan Darren.
”Lalu bagaimana dengan mereka?”
Brisa menoleh ke arah Darren yang tengah duduk bersama Ness di kursi kayu di teras rumahku.
”Kekuatan Darren hanya sebatas telekinesis. Tapi Ness, tidak hanya memiliki kekuatan psikokinesis seperti ayahmu. Ness juga seorang psychic healer.”
Dahiku berkerut mendengar penjelasannya.
Brisa menoleh padaku.
”Ayah Ness adalah seorang Panglima perang yang memimpin para ksatria di Lembah Crystal. Kekuatan psikokinesisnya jauh di atas kekuatan ayahmu. Sedangkan ibu Ness adalah seorang wanita bangsawan keturunan dari bangsa Elf.”
”Elf? Maksudmu, ibu Ness seorang peri?”
Brisa mengangguk.
”Kupikir bangsa peri hanya mitos.”
”Percayalah mereka nyata.”
Kupandangi Ness yang tengah duduk termenung dengan sorot penuh kekaguman.
”Hampir semua keturunan bangsa peri memiliki kesempurnaan. Tapi sebaiknya, menjauhlah dari mereka!”
Kulirik Brisa dengan canggung.
”Jika jatuh dalam pesona mereka, terkadang bisa membuat pikiranmu gila dan terobsesi dengan cinta mereka.”
Nada suara Brisa seolah ingin mengingatkanku akan bahaya yang akan ditimbulkan dari pesona yang dimiliki Ness.
Wajahku terasa hangat. Kata-kata Brisa terkesan menyudutkanku.
Mungkin Brisa berpikir kalau aku menyukai Ness.
”Ness sangat cerdas. Orion seringkali memintanya melakukan misi berbahaya dan dia selalu berhasil menyelesaikannya.”
Terbayang kembali wajah tampan Ness yang berusaha menyelamatkanku dari cengkraman Tristan.
Brisa melirik ke arahku.
”Tapi Ness tidak pernah memanfaatkan ketampanannya untuk memikat wanita.”
Aku hanya tersenyum kaku.
”Bagaimana dengan Tristan. Apakah kau juga mengenalnya?” tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan tentang Ness.
Brisa menghela napas lalu menatapku.
”Dulu Tristan adalah salah satu ksatria di Lembah Crystal sebelum akhirnya menghilang dan kini bergabung dengan Rufus dan menjadi pengikut Zorca.”
”Tapi, dia berusaha melindungiku dari kemarahan Rufus.”
”Tetap saja, Tristan itu kabar buruk. Dia berada di pihak musuh. Menjauhlah darinya Calista!”
”Kenapa kau memintaku untuk menjauhi semua orang?” gumamku setengah tertawa.
”Aku hanya tak ingin kau terlibat lebih jauh dengan Tristan. Dia tak bisa dipercaya.”
”Mungkin dia hanya tersesat dan butuh kalian untuk menyadarkannya kembali.”
”Tristan tersesat??”
Aku mengangguk.
Brisa tersenyum sinis padaku.
”Tristan memilih untuk ikut mereka. Bahkan ibunya pun sangat kecewa padanya. Aku mengenal ibu Tristan sebagai Ksatria Lembah Crystal yang sangat setia pada Orion. Dia mendidik Tristan dengan baik. Sayangnya, Tristan memilih jalan yang berbeda dengan ibunya.”
Aku menghela napas.
Kini kami terdiam.
”Aku benci mengganggu. Tapi kita harus segera pergi dari sini,” potong Ness yang seketika muncul bersama Darren.
Brisa menoleh padaku.
Aku hanya mengangguk.
Kutinggalkan rumahku di Essendra untuk pergi bersama ketiga ksatria dari Lembah Crystal dengan perasaan tak karuan.
Aku memang tak punya pilihan selain menuruti keinginan mereka yang akan membawaku ke Lembah Crystal. Lembah tempat para penyihir hebat bermukim. Dan juga tempat leluhurku.
Hari ini menjadi suatu awal yang baru dari kisah hidupku. Meski terdengar aneh dan masih sulit kuterima tapi kenyataannya aku adalah seorang penyihir.
Pikiranku menerawang resah seraya mengikuti dari belakang langkah-langkah para ksatria dari Lembah Crystal dengan sejuta keraguan.
Tiga hari telah berlalu sejak meninggalkan Essendra tapi aku tidak melihat tanda-tanda mendekati lembah. Kami hanya terus berjalan ke timur dan melewati bukit-bukit batu dengan pemandangan rumput liar dan tanaman kaktus sepanjang perjalanan.
Tenggorokanku terasa kering oleh cuaca panas dan udara yang berdebu.
Dengan jengkel kulirik wajah Brisa lewat ekor mataku. Wajah cantiknya sama sekali tidak terlihat kelelahan ataupun berkeringat.
Sementara Darren nampak asik menikmati perjalanan sambil bersiul menyanyikan nada yang sama selama tiga hari perjalanan menyakitkan ini.
Dan yang lebih mengesankan lagi, langkah-langkah santai Ness terlihat ringan dan cepat. Gerakannya terlihat indah bagai kijang yang tengah melompat hingga sulit terkejar.
Benar-benar membuatku iri.
Kupaksakan kedua kaki lelahku mengejar mereka. Namun rasa lelah yang luar biasa menyakitkan ini hanya membuatku terjerembab dan mencium debu jalan.
Seketika itu juga wajahku memerah. Brisa merangkul tubuhku dan membantuku berdiri.
Dengan setengah bercanda Darren menawarkan bantuan untuk menggendongku. Sekilas meski tak yakin kulihat Ness tersenyum tipis mendengar perkataan spontan Darren.
Gurauan Darren benar-benar mempermalukan aku di depan Ness.
Akhirnya Brisa memutuskan untuk beristirahat sambil menunggu rasa lelahku pergi.
Aku memang tak pernah pergi sejauh ini dengan berjalan kaki. Bahkan aku tak pernah pergi dari Essendra selama hidupku.
Duniaku hanya rumah dan hutan Voswood di Essendra yang selalu kudatangi kala ingin melepas keresahan.
”Sepertinya kita sudah dekat,” gumam Ness
”Di Lembah Crystal?” tanyaku lega.
“Lembah Crystal?” kening Ness berkerut menatapku bingung namun dengan cepat ia mengalihkan pandangan ke arah Brisa.
Wajah Brisa berubah kecut.
“Kau tidak mengatakan padanya kalau kita mau ke kota Hordos, Bris?” hela Ness dengan pandangan menyudutkan pada Brisa.
Raut wajah Brisa terlihat canggung.
”Bukankah kalian akan membawaku ke Lembah Crystal??” tukasku kebingungan.
”Kami pasti akan membawamu ke Lembah Crystal. Namun, masih ada sebuah misi lagi yang harus kita selesaikan. Maapkan aku tapi tak ada pilihan selain membawamu ikut serta dalam misi ini,” ucap Brisa hati-hati.
Aku terduduk lemas.
Turut serta dalam misi dan membahayakan diri. Apa sih yang dipikirkan Brisa. Kenapa aku harus terlibat hal yang jelas-jelas tidak aku inginkan.
”Aku menunggu waktu yang tepat untuk memberitahumu. Aku hanya tak ingin kau menjadi ketakutan karena aku membawamu dalam misi ini.”
”Aku tak mau melakukan perjalanan ini lagi,” ujarku kesal seraya membalikkan badan dan berjalan menyusuri kembali jalan setapak yang baru saja kita lewati.
”Kau mau kemana?!” seru Brisa panik.
”Apa dia sudah gila berpikir untuk kembali ke rumahnya?” seringai Darren lalu tertawa.
”Bisakah kau hentikan suara tawamu yang menjengkelkan itu?!” bentak Brisa seraya mendelik ke arah Darren.
Ness mengejarku dan menarik lenganku, ”Kami tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja.”
”Lepaskan aku!” ujarku marah.
”Brisa mungkin telah berbohong, tapi aku akan mengatakan kebenaran jika kau bertanya padaku,” sepasang mata emas kecoklatan Ness menatapku dalam.
Aku terbius sesaat akan keindahan sepasang mata emasnya itu. Lalu tersadar dan melirik Brisa dengan jengkel.
”Kalian punya kekuatan yang aku tidak punya. Aku hanya akan menjadi beban. Kalian lihat apa yang terjadi pada ayahku di Essendra. Kematianku akan jauh lebih mudah dari kematian ayahku!” kutepiskan tangan Ness yang memegangi lenganku.
”Aku akan melindungimu!” bentak Ness dengan nada tinggi.
Kupandangi Ness dingin.
”Kau akan melindungiku?? Dari Zorca?!” tanyaku skeptis.
”Aku akan melindungimu meski harus kehilangan nyawaku!” tegas Ness seraya menatapku dengan sorot mata dingin.
Kualihkan pandanganku dari sorot mata Ness yang meresahkan itu. Kurasakan pipiku menghangat. Aku tak ingin Ness salah paham dan berpikir jika aku menyukainya.
”Bisakah kita lanjutkan perjalanan kita, Calista?”
Kutatap senyum hangat di sudut bibir tipisnya yang indah. Sepertinya Ness tengah membujukku dengan pesonanya.
Brisa menghampiriku dengan wajah canggung.
”Kami masih memiliki sebuah misi penjemputan seorang gadis di kota Hordos. Percayalah, aku akan memastikan tidak ada hal buruk yang akan terjadi padamu,” janjinya meyakinkanku.
Kupandangi Brisa dengan masam. Meski Brisa salah, tapi aku tak mau memperpanjang persoalan.
”Dan jika kau lelah, aku bersedia menggendongmu,” tawar Darren seraya mengerlingkan sebelah matanya padaku.
Aku hanya menatap dingin ke arah Darren dan pergi meninggalkannya.
”Kata-kata konyolmu itu hanya memperburuk suasana,” desah Brisa pada Darren lalu mengikuti langkahku dari belakang.
”Ayolah, aku hanya bercanda!”ujar Darren hanya bisa mengernyitkan alis dan dahinya seraya memandangi punggung Brisa.
Ness hanya menepuk bahu Darren dengan senyum tipis di bibirnya.
Lalu kami melanjutkan perjalanan panjang kami tanpa henti di teriknya matahari.
Kuhembuskan napas perlahan berulang kali. Kesal dan marah. Kurasakan kedua kakiku mulai kesakitan. Lalu aku terduduk lemas seraya memegangi kedua lututku.
Brisa menghampiriku,”Kita harus terus berjalan.”
”Aku tahu,” bisikku pelan sambil mengatur napas.
Brisa menoleh ke arah Ness dan Darren. ”Sebaiknya kita beristirahat di sini.”
Ness kini telah berdiri di hadapanku. Wajahnya terlihat bercahaya di teriknya matahari sore. ”Aku akan menggendongmu,” ujarnya santai.
Darren seketika tertawa keras-keras.
”Apa kau sudah mulai menyebalkan seperti Darren?” sahutku kesal pada Ness.
”Heyy!” protes Darren padaku.
Aku hanya memalingkan muka, menghindari tatapan protes Daren.
”Jadi siapa yang akan kau pilih untuk menggendongmu?” tanya Ness penasaran.
Seketika itu juga Darren kembali tertawa dengan puas karena ejekkan Ness mewakili perasaannya padaku.
”Bisakah kalian berhenti bercanda. Kita bermalam di sini karena Calista kelelahan!” seru Brisa dengan muka masam.
”Lihat ke sekelilingmu Bris! Menurutmu kita aman bermalam di tempat terbuka seperti ini?” raut wajah Ness terlihat berubah menjadi waspada.
Sepasang mata Brisa mengamati suasana di sekeliling kami. Airmukanya langsung berubah begitu melihat hamparan rumput yang tak bertepi. Lalu Brisa menatapku bimbang.
Perlahan aku memaksakan diri untuk berdiri.
”Kita teruskan saja.”
Brisa memandangiku dengan sedikit khawatir, ”Kau yakin?”
Aku mengangguk lesu.
Ness menghampiriku lalu melingkarkan tangannya di belakang pinggangku untuk membantuku berjalan.
Kutepiskan tangannya dengan geram.
Namun, cengkramannya terasa lebih kuat. Tangan kanan Ness yang kokoh melingkar dengan erat di pinggangku. Memaksaku untuk terus melangkah bersamanya.
”Kau hanya akan menghambat perjalanan jika aku tidak membantumu berjalan,” ujarnya dingin.
”Aku tidak membutuhkan bantuan!” ucapku marah karena sikapnya yang tidak sopan.
”Kau benar-benar keras kepala dan merepotkan!” ejek Ness dingin tak menghiraukan penolakanku.
Kulirik Brisa yang seolah menghindari tatapan permintaan tolongku atas sikap Ness yang kasar dan memaksa.
Brisa mendorong punggung Darren untuk melanjutkan perjalanan. Sementara Darren hanya mengerlingkan sebelah matanya untuk menggodaku.
Aku hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Ness karena kedua kakiku memang masih terasa sakit karena kelelahan.
Kurasakan wajahku menghangat. Meski terasa aneh namun aku menikmati rangkulan tangan kokoh Ness yang melingkar di pinggangku.
Kulirik sekilas wajah Ness dari samping. Garis wajahnya yang sempurna terlihat menenangkan. Ness memiliki wangi yang khas di tubuhnya. Aromanya mengingatkanku pada wangi bunga dan pepohonan di hutan Voswood di musim semi.
Wajah Ness yang hanya sejengkal dari wajahku terlihat begitu menawan. Tampan dan menyenangkan untuk dipandangi. Sepasang mata coklat keemasannya nampak melebar dan berkilau.
”Sudah puas dengan apa yang kau pandang?” tanya Ness padaku, setengah berbisik dengan tatapannya yang lurus ke depan.
Pipiku memanas. Aku langsung membuang muka. Namun, sekilas aku bersumpah telah melihatnya tersenyum.
Ness terlihat acuh dan tidak terlalu mempedulikan sikap salah tingkah yang kupertunjukkan padanya. Ness bahkan sama sekali tidak berusaha untuk menggodaku.
Kutundukkan kepalaku dan merasa sangat bodoh.
Ness tidak mungkin tertarik dengan gadis seperti aku. Tapi, aku telah membuat Ness melihat perasaanku bagaikan buku yang terbuka. Tidak ada rahasia dan sama sekali tidak menarik.
Aku berusaha menahan diri untuk tidak menatap sepasang mata coklat emasnya yang indah itu. Tapi kedua matanya bagai menyihirku. Kuputuskan untuk mematahkan pesona Ness dengan melepaskan diri sekuat tenaga dari tangannya yang merangkulku.
Ness hanya terdiam.
Kemudian kulangkahkan kaki mengikuti langkah Brisa dan Darren untuk menjauhi Ness.
Tidak ada suara protes dari Ness.
Sepertinya dia membiarkan aku meninggalkannya begitu saja.
Sepanjang perjalanan aku memutuskan untuk menjaga jarak dengan Ness karena tak ingin terperangkap pesonanya.