Bab 1

"Mommm...," seru Camilio panik saat melihat tubuh ibunya terkulai di dekat almari hias di ruang keluarga.

Ia baru saja keluar dari kamarnya, bersiap berangkat ke sekolah, ketika pemandangan itu menghentikan langkahnya. Camilio segera berlari, menyangga tubuh ibunya agar kepalanya tidak membentur lantai. Dengan hati-hati, ia memapah ibunya ke sofa.

Setelah melepas ransel sekolahnya, ia meraih gagang telepon yang menjuntai lepas dari genggaman sang ibu. Namun, panggilan di seberang telah terputus. Tanpa membuang waktu, Camilio meletakkan kembali telepon itu, mengambil botol minyak angin di meja, dan bergegas ke dapur untuk mengisi segelas air.

"Mom, bangun... Mom," bisik Camilio cemas sambil menggoyang lengan ibunya dengan lembut. Ia mengoleskan minyak angin ke pelipis dan hidung ibunya, berharap aroma tajam itu memulihkan kesadarannya.

Sepuluh menit terasa seperti seabad. Perlahan, mata Catharina terbuka. Wanita itu menatap anaknya dengan pandangan kosong sebelum air matanya mengalir deras. Dengan tangan gemetar, ia menangkup wajah Camilio, suaranya bergetar saat berkata, "Tadi... telepon dari atasan ayahmu. Mereka bilang... ayahmu... t-tertembak... dan... tewas."

Seperti tersambar petir, tubuh Camilio membeku. Napasnya tercekat, tak sanggup memproses kabar itu. "Daddy..." gumamnya pelan sebelum akhirnya memeluk ibunya erat.

Catharina menangis tersedu-sedu dalam pelukan anaknya. Suaminya, Benhardi Osvaldo, telah pergi untuk selamanya. Benhardi adalah seorang Letnan Kolonel di Angkatan Darat yang ditugaskan ke Detroit, Michigan, kota yang kerap dirundung konflik rasial sejak abad ke-20. Di sana, subuh tadi, hidupnya berakhir tragis. Sebuah peluru menembus lehernya, bagian yang tidak terlindungi rompi anti peluru. Ia gugur bersama dua rekan lainnya dalam serangan mendadak oleh kelompok perusuh.

Hari berikutnya, jenazah Benhardi diterbangkan ke New York dan dimakamkan secara militer di Woodlawn Cemetery of Elmira. Upacara pemakaman itu penuh dengan penghormatan. Salvo tembakan mengiringi kepergiannya, sementara Camilio berdiri tegak di samping ibunya, berusaha kuat meskipun matanya berkaca-kaca.

Setelah selesai, mereka pulang ke rumah dalam keheningan. Camilio mengantar ibunya ke kamar untuk beristirahat sebelum ia sendiri duduk termenung di sofa ruang tengah. Matanya tertuju pada foto keluarga yang tergantung di dinding, diambil dua tahun lalu saat Benhardi dipromosikan menjadi Letnan Kolonel. Dalam foto itu, mereka bertiga tersenyum bahagia: Benhardi berdiri gagah di seragam militernya, Catharina duduk di depan mereka, dan Camilio berdiri di samping ayahnya.

Di sebelah foto itu, ada potret Benhardi seorang diri. Sosoknya tampak sangat berwibawa. "Dad, aku ingin menunjukkan pialaku padamu saat kau pulang. Aku juara satu lomba matematika internasional dan juara dua lomba sains internasional. Aku ingin membuatmu bangga. Tapi kenapa kau pergi begitu cepat?" gumamnya lirih.

Air matanya kembali mengalir. Camilio mengusap wajahnya dengan kasar, mengingat pesan ayahnya: seorang lelaki sejati tidak boleh mudah menangis. Tapi rasa kehilangan itu terlalu besar untuk dibendung.

Malamnya, setelah makan, Camilio mencoba menghibur ibunya. Mereka duduk bersama di sofa, berbicara pelan-pelan. Catharina mulai bercerita, "Hampir setahun terakhir, ayahmu membuka toko bahan makanan dan meminta Mom mengelolanya. Katanya, untuk mengisi waktu luang sambil menunggumu tumbuh dewasa. Ayahmu bilang, toko itu juga tabungan untuk masa tua kami nanti."

Camilio mengangguk sambil mendengarkan. "Aku tahu Dad selalu berpikir jauh ke depan. Itu salah satu hal yang paling aku kagumi darinya."

Catharina tersenyum tipis. "Ayahmu memang seperti itu. Dia selalu memikirkan segala kemungkinan. Tapi Mom tidak pernah menduga, ternyata itu semua firasat... seolah dia tahu waktu bersama kami tidak akan lama lagi."

"Mom," kata Camilio, menatap ibunya dengan mata yang penuh kesungguhan. "Kita tahu Dad adalah seorang prajurit negara. Kita harus siap mental menghadapi segala risikonya. Aku ini anak laki-lakinya, Mom. Aku bisa menggantikan Dad untuk menjagamu."

Catharina menatap anaknya dengan penuh kasih. "Kau baru 17 tahun, Cam. Tapi cara bicara dan pemikiranmu sudah seperti orang dewasa saja."

Camilio tersenyum kecil. "Aku ini anak Benhardi Osvaldo, Mom. Jadi harus berbeda."

Keduanya tertawa kecil, meski rasa duka masih begitu pekat di udara. Catharina melanjutkan, "Kita bukan keluarga kaya, tapi peninggalan ayahmu cukup untuk hidup layak. Ada tabungan, rumah sendiri, mobil, dan usaha toko yang sedang berkembang. Kau tidak perlu khawatir soal biaya hidup atau pendidikanmu. Fokus saja pada sekolahmu, ya?"

Camilio mengangguk patuh. "Ya, Mom. Aku paham."

Meskipun begitu, Camilio tahu tugasnya kini jauh lebih berat. Ibunya adalah sosok yang kuat dan mandiri, tapi ia sadar bahwa kehilangan suami tentu meninggalkan luka yang dalam. Sebagai anak tunggal, ia merasa bertanggung jawab untuk menjadi pelindung dan penopang ibunya.

Catharina menghela napas panjang sebelum berkata lagi, "Mom masih kuat, Cam. Kau fokus saja pada pendidikanmu. Nanti uang jasa negara dari ayahmu akan Mom simpan untuk biaya kuliahmu. Kau sudah harus memikirkan jurusan apa yang akan kau ambil."

"Aku sudah punya beberapa pilihan, Mom. Tapi aku ingin mempertimbangkannya dengan matang sebelum berdiskusi denganmu," jawab Camilio dengan senyuman tipis.

Catharina tersenyum bangga. Dalam hati, ia bersyukur memiliki anak seperti Camilio. Meski masih remaja, anak itu telah menunjukkan kedewasaan yang luar biasa. Kini, mereka hanya bisa saling menguatkan untuk melanjutkan hidup tanpa Benhardi Osvaldo, pria yang selalu menjadi pilar keluarga mereka.

Setelah percakapan itu, malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Camilio kembali ke kamarnya, tetapi tidur enggan datang. Ia terus memikirkan kata-kata terakhir ayahnya sebelum berangkat sepuluh hari lalu. "Jaga ibumu baik-baik, Cam. Kau laki-laki satu-satunya di keluarga ini."

Pagi harinya, Camilio bangun lebih awal. Ia memutuskan untuk membantu ibunya di toko sebelum pergi ke sekolah. Sesampainya di toko, ia menyadari betapa sibuknya ibunya selama ini. Lima pegawai yang bekerja di sana memang cekatan, tetapi tetap saja Catharina terlihat sibuk mengawasi segala sesuatunya.

"Mom, biar aku bantu hari ini," kata Camilio sambil mengenakan celemek.

"Tidak usah, Cam. Kau harus fokus pada sekolahmu," jawab Catharina sambil tersenyum lembut.

"Tapi aku ingin membantu. Setidaknya sampai semuanya berjalan lebih stabil."

Catharina menatap anaknya dengan bangga. "Baiklah, tapi jangan sampai terlambat ke sekolah."

Hari itu berlalu dengan cepat. Meski lelah, Camilio merasa puas bisa membantu ibunya. Ia tahu, ini baru awal dari perjalanan panjang mereka tanpa Benhardi. Namun, ia bertekad untuk menjalani setiap langkah dengan penuh tanggung jawab, seperti yang selalu diajarkan ayahnya.

To Be Continued...

Bab 2

2 hari kemudian, Camilio dan ibunya sudah mulai beraktifitas seperti biasa.

Setelah sarapan 2 potong roti dan secangkir teh manis hangat, Camilio berpamitan untuk berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki dengan jarak kurang dari 10 menit di tempat bis sekolah menunggu para muridnya. Sedangkan Catharina berangkat ke toko mengendarai mobil setelah membereskan meja makan dan dapur.

Di sekolah Camilio menerima ucapan bela sungkawa dari guru-guru dan teman-temannya.

Sejak di tingkat dasar atau elementary, Camilio termasuk anak yang cerdas dan berprestasi. Ia selalu mendapat peringkat 1, baik di kelasnya atau secara pararel.

Ia mengharumkan nama sekolah dengan menjadi juara pada lomba akademis dan bergabung bersama tim bakset sekolah untuk mengikuti kejuaraan nasional, hingga yang terakhir adalah Camilio menjadi juara 1 olimpiade matematika international dan juara 2 olimpiade sains internasional.

Tidaklah heran jika sosok Camilio mencuri perhatian dan hati para guru serta komite yang menaungi sekolahnya.

Camilio banyak disukai teman-teman sekolahnya karena meskipun tergolong anak yang penuh prestasi akademis dan non akademis namun ia selalu ramah dan tidak pelit berbagi ilmu pada teman yang datang meminta bantuannya.

Memasuki kelas 10, Camilio semakin dipuja banyak teman, terutama gadis-gadis remaja. Selain prestasinya yang sangat mencorong, ia memiliki wajah tampan, tubuh yang tinggi dan atletis.

Gaya rambut textured fringe berwarna pirang gelap, mata coklat yang simpatik dan pembawaan Camilio yang tenang, murah senyum tapi cenderung pendiam, membuat para gadis remaja menjadi sangat penasaran dibuatnya.

Kebiasaan jogging minimal 1 jam dan berenang saat hari libur bersama ayahnya sejak kecil, serta push up dan rope skipping tiap pagi selama 30 menit membentuk tubuhnya menjadi atletis sehingga membuat gadis-gadis remaja di sekolahnya sering malu-malu dan salah tingkah saat menatap Camilio atau berdekatan dengannya.

Beberapa gadis berpura-pura bertanya tentang pelajaran namun malah jadi bengong saat Camilio menjelaskannya. Camilio tidak pernah menanggapi godaan dari teman-teman gadisnya karena ia mempunyai prinsip harus memiliki pekerjaan yang mapan dahulu sebelum memiliki hati seorang wanita.

Camilio berbeda dengan teman-teman pria seangkatannya yang selalu menghabiskan waktu senggang untuk nongkrong, baik bergerombol atau bersama gadis-gadis di cafe maupun di tempat lainnya untuk bermain game. Camilio selalu menghabiskan waktu luangnya untuk berolah raga dan membaca buku yang ia pinjam di perpustakaan sekolah atau pergi ke New York Public Library. Camilio hanya tersenyum mendengar olokan dari teman-temannya tersebut.

Darren adalah nama salah satu teman dekatnya. Ia berada dalam 1 team basket dan futsal bersama Camilio. Namun Darren agak lemah dalam pelajaran, terutama matematika dan sering meminta Camilio mengajarinya.

"Cam, kau jadi ambil jurusan apa setelah lulus nanti?" tanya Darren.

"Aku akan mendaftar di akademi militer saja," sahut Camilio yang sukses membuat Darren tersedak salivanya sendiri.

"Uhuk.. uhukk.."

Darren segera mengambil minuman di dalam tas ransel coklatnya dan meminumnya.

"Tidak jadi ambil jurusan aktuaria atau penambangan?" Tanya Darren.

"Sejak lama aku ingin seperti ayahku, jadi tentara. Tapi aku berpikir ayahku dulu tidak akan setuju karena ia tidak mau dianggap aku mengambil keuntungan dengan diberi kemudahan. Tapi sekarang ayahku sudah meninggal jadi aku bisa kembali mengejar cita-cita awalku." Jelas Camilio

"Rambutmu akan dicukur dan tidak boleh lebih dari 5 sentimeter. Kulit badan dan wajahmu akan merah terbakar selama ikut pelatihan fisik militer di cuaca panas, apa kau rela tidak keliatan tampan lagi? Kau lupa bagaimana ayahmu kemarin tewas, hah? Apa kau tidak kasihan pada ibumu? Kau tidak sayang otak encermu diadu dengan peluru?" cecar Darren.

"Ckckck.. pertanyaanmu seperti gerbong kereta saja," ledek Camilio sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, yang membuat Darren mendelik dan mendengus.

"Kalau memang aslinya tampan, rambut dicukur gundul pun akan tetap tampan hehe.. Lagipula kau bukannya senang menjadi pemain basket paling tampan kalau tidak ada aku," sahut Camilio sambil terkekeh geli.

"Ck! Aku serius, Cam! Jangan becanda terus," seru Darren sambil menepuk lengan Camilio.

"Yeahh..., Mungkin sudah biasa dengan didikan ayahku untuk latihan fisik setiap hari, jadi aku sudah siap dan tidak takut menghadapi latihan fisik militer yang katanya sangat berat. Aku juga tidak trauma dengan bagaimana ayahku meninggal. Aku sangat kagum padanya, berjuang untuk keamanan negara tapi penuh perhatian dan sayang pada keluarganya. He is my role mode," jawab Camilio sambil menerawang jauh mengenang sosok ayahnya.

"Ahh kau ini.. bayangkan coba, kau bertugas di pinggiran, perbatasan atau daerah berbahaya, masuk hutan. Selain ancaman musuh juga ada binatang buas, harus selalu waspada, tegang.. apa tidak bosan, hah?" tanya Darren berapi-api.

"Itu seni dan ada kepuasan tersendiri saat bisa keluar dari hutan atau lolos dari ancaman binatang buas. Menurutku, lebih baik mati muda karena melakukan hal yang berguna untuk negara dan membanggakan orang tua daripada mati tua dan penuh penyesalan," jawab Camilio secara diplomatis.

"Ck!! Susah bicara dengan orang jenius yang sudah di doktrin jiwa nasionalisnya," sebal Darren, dan Camilio kembali terkekeh geli.

"Jurusan aktuaria dan penambangan itu sangat keren, Cam. Lapangan kerjanya pun banyak tantangan dan rewardnya menjanjikan. Sorry brother, bukan bermaksud memandang negatif pada profesi ayahmu di militer, tapi coba kau pikir saja, seandainya gaji di sana itu puluhan ribu dollar tapi taruhannya adalah nyawa, apa itu setimpal? Uang banyak kalau tidak ada nyawa, apa bisa kau nikmati, hah?!" seru Darren dengan antusias tinggi.

Camilio hanya tersenyum saja mendengarnya

"Jika kemampuan otakku setingkat saja di bawahmu, aku pasti ambil jurusan aktuaria atau penambangan!" gerutu Darren.

"Ambil saja! Nanti kubantu kau mengerjakan tugas-tugas kuliahmu," sahut Camilio dengan enteng.

"Ck! Ambil kepalamu itu!! Bagaimana kau membantuku jika posisimu nanti dikurung saat di militer, hah!? Gila kau ya!" seru Darren sambil memukul bahu Camilio dengan buku yang ada di tangannya.

"Easy dude! Jangan emosi. Nanti otakmu malah semakin parah tersumbatnya," kekeh Camilio dengan riang.

Darren mendelik dan melempar buku yang ada di tangannya ke dada Camilio, membuat Camilio tertawa terbahak-bahak.

Setelah puas tertawa, Camilio bergumam "Satu-satunya yang membuatku ragu masuk militer hanya 1, yaitu ibuku."

Darren menganggukkan kepalanya.

"Ibuku memang selalu tegar setiap kali ayahku berpamitan untuk pergi bertugas tapi aku yakin, pikirannya pasti cemas menunggu ayahku pulang beberapa minggu kemudian. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana ibuku pingsan saat menerima telepon yang mengabarkan ayahku tewas," kenang Camilio.

"See..!? Pikirkan perasaan ibumu, jangan egois. Orang tua pasti berharap mereka yang mati lebih dulu daripada anaknya. Ingat, peluru tidak punya mata. Jadi kau pikirkan lagi baik-baik, bagaimana hancurnya ibumu jika seandainya ia harus memakamkanmu. Lagian sayang kan kalo otak super encermu itu ditembak oleh musuh," kata Darren dengan serius.

Camilio menghela napas panjang dan menatap langit-langit ruangan perpustakaan.

"Pengabdian tidak bisa diukur dengan uang dan kematian adalah takdir. Jika sudah tiba waktunya, kita tidur atau duduk pun juga bisa mati. Tuhan menciptakanku dengan banyak talenta, jadi aku yakin Sang Penciptaku tidak akan membuatku mati muda sebelum sempat berkarya. Akan ku lihat dulu bagaimana respon ibu kalau aku mengatakan keinginanku masuk militer," jawab Camilio.

Darren hanya angkat bahunya, menyerah melihat tekad teman baiknya itu.

"Bagaimana dengan Debbie? Kalau kau jadi masuk militer, siapa yang akan melindunginya lagi?" tanya Darren.

Camilio menghela napasnya dan terdiam sesaat.

"Ku titipkan dia padamu. Tolong lindungi dia," jawab Camilio.

"Ck! Debbie itu takut pada semua orang di sekolah, kecuali padamu," seru Darren.

"Aku sudah berkali-kali bicara padanya. Sikap dia yang selalu apatis itu akan banyak membuat orang sebal dan terpancing untuk membullynya. Tapi dia bilang selalu takut kalau melihat orang yang bercanda kelewatan," kata Camilio.

"Sepertinya dia harus dibawa ke psikiater. Minum obat atau terapi," sahut Darren.

"Entahlah.. tapi kalau di rumah dan sekitarnya, sikap Debbie normal meski tetap pendiam. Bagaimana cara aku bercerita pada orang tuanya dan mengusulkan untuk membawanya ke psikiater. Aku bukan saudara atau keluarganya," seru Camilio, dan Darren tampak ikut berpikir.

"Lagipula aku tidak mau terlalu mengurusi masalah orang lain. Urus diri sendiri supaya tahan punya teman menyebalkan sepertimu saja sudah membuatku pusing, " lanjut Camilio sambil menahan tawanya.

Darren mendecak dan kembali melempar 2 buah buku yang ada di depannya ke dada Camilio dengan keras dan membuat Camilio tertawa terbahak-bahak.

"Aku ada ide. Teman-teman dan adik kelas kan semua segan padamu. Kau jadikan saja Debbie kekasihmu. Aman.. siapa yang tidak kenal kharisma si jenius Camilio, hah?! Biarpun kita sudah lulus duluan, Debbie aman dengan status sebagai kekasihmu," celetuk Darren sambil mengangkat 1 alisnya.

"Tidak. Aku tidak mau memikirkan masalah cinta sebelum aku mendapat pekerjaan. Lagi pula, aku tidak pernah ada perasaan khusus pada Debbie selain rasa kasihan saja melihatnya selalu ketakutan dan sering dibully. Aku juga tidak mau memperumit diri dengan berpura-pura pacaran dengannya. Dengar Darren, jangan pernah mempermainkan perasaan anak orang," sahut Camilio dengan tegas.

"Ck! Aku tahu Debbie itu anak orang bukan anak kelinci biarpun kelakuannya seperti kelinci yang selalu ketakutan! Lagian siapa yang memintamu mempermainkan perasaan orang, hah!" sengit Darren.

"Kalau begitu, kau saja yang jadikan Debbie kekasihmu," celetuk Camilio.

"Kau kan tahu aku sedang mengejar Maurren. Ahh..., sudahlah! Apa kau tidak menyesal kalau mendengar kabar dia nanti dibully habis-habisan atau disakiti orang?" tanya Darren dengan serius

"Pfff..,. aku tidak mau terlibat terlalu dalam. Jika aku bisa membantu, pasti akan ku bantu. Setiap orang punya takdir masing-masing. Aku tetap fokus pada cita-citaku," seru Camilio seraya menghembuskan napasnya dengan kasar.

"Jadi ini benar, tekadmu bulat akan masuk militer?" tanya Darren tak percaya, dan Camilio hanya menganggukkan kepalanya.

"Nanti malam atau besok, aku akan bicara. Semoga ibuku merestui. Setelah itu, aku akan melengkapi persyaratan untuk masuk ke sana," gumam Camilio.

-To Be Continue-

Bab 3

Sekitar 4 bulan lagi adalah ujian akhir siswa kelas 12 dan semua teman-teman Camilio sudah serius menentukan pilihan untuk melanjutkan di perguruan tinggi mana dan di jurusan apa, bahkan beberapa dari mereka sudah mulai memasukkan semua persyaratann pendaftaran.

Camilio merasa gamang untuk membicarakan keinginannya pada Catharina. Tapi ia tidak boleh menunda lagi. Camilio sudah siap dengan segala kemungkinan setelah berbicara dengan ibunya, termasuk alternatif jurusan yang akan diambil jika Catharina tidak merestuinya.

"Mom, aku ingin bicara tentang kuliahku," kata Camilio setelah mereka menyelesaikan makan malamnya dan duduk santai di sofa. Catharina menganggukkan kepala dan mempersilakan Camilio bicara.

"Jika aku ingin melanjutkan ke sekolah militer, apakah kau keberatan Mom?" tanya Camilio dengan hati-hati.

Catharina tampak terkejut mendengar anak semata wayangnya mengutarakan keinginannya.

Rasa sakit kehilangan suami tercinta saat bertugas, masih sangat terasa dan kini.....

"Sebelum Mom menjawab, katakan, apa yang membuatmu ingin masuk ke dunia militer?" tanya Catharina

"Sebenarnya aku sudah lama ingin seperti Dad, tapi aku yakin Dad tidak akan mengijinkanku mengikuti jejaknya karena ia tidak mau dianggap mempermudah langkahku dengan kekuasannya. Sekarang Dad sudah tidak ada jadi aku ingin kembali mengejar cita-citaku. Aku ingin melakukan hal-hal yang hebat, membanggakan orang tua, berjuang membela negara dan melindungi yang lemah," jawab Camilio penuh semangat.

Catharina terdiam mendengar jawaban anaknya. Ia mengerutkan dahinya dan tidak bisa berkata apa-apa hingga beberapa menit.

"Mom, apakah keinginanku menyakiti hatimu?" tanya Camilio hati-hati.

Karena ibunya masih juga terdiam, Camilio mengira ibunya bersedih "Jika kau tidak merestuiku, aku akan berhenti. Aku punya pilihan lainnya, jurusan penambangan," kata Camilio.

"Seorang tentara harus tegas. Jika kau lemah atau mudah terbawa perasaan, kau tidak boleh masuk militer!" seru Catharina yang membuat Camilio terkejut dan mengerutkan dahinya.

"Kau bilang ingin membela negara, bukan?"

"Jawab pertanyaanku, seandainya Mom disandera oleh musuh dan musuh memintamu membocorkan rahasia negara, apa yang akan kau lakukan?" tanya Catharina dengan tajam.

Mata Camilio membelalak mendengar pertanyaan tajam dari ibunya. Ia mengerutkan dahinya. Sungguh itu pertanyaan yang sangat sulit dijawab.

"Kau tidak bisa menjawab?" tanya Catharina seraya memicingkan matanya karena 30 detik berlalu dan Camilio tidak juga mampu menjawab.

Camilio menatap ibunya dengan tatapan tak terbaca dan masih tidak mampu berkata-kata.

"Kau harus berkata tegas pada musuhmu, aku tidak akan pernah membocorkan rahasia negara dan tidak akan pernah menjadi seorang pengkhianat bangsa!" jawab Catharina dengan tegas.

"Mom... " lirih Camilio dengan tatapan mata sedihnya.

"Dengar! Menjadi istri seorang tentara harus siap menghadapi apapun. Mom harus mendukung ayahmu dengan siap mati jika sewaktu-waktu menjadi incaran musuh meski Mom yakin, ayahmu dan negara tidak akan tinggal diam. Ayahmu pasti berusaha melindungi dan menyelamatkank," kata Catharina, membuat Camilio termenung.

"Musuh tidak boleh merasa di atas angin karena berhasil menggertakmu dengan sandera, sekalipun yang menjadi sandera adalah keluargamu. Kau harus bisa menggertak balik sekalipun taruhannya adalah nyawa keluargamu. Kau cari cara untuk mengulur waktu agar bisa menyelamatkan sandera. Kau harus bisa mengontrol emosimu dengan menjatuhkan balik mentalnya, bukan dengan cara mengemis! Seorang tentara pantang mengemis nyawa," jelas Catharina lebih lanjut.

Camilio tertegun mendapat penjelasan dari ibunya. Ia tidak menyangka, ibunya yang tampak lemah lembut ini ternyata memiliki jiwa militer.

"Aku berpikir hanya ingin mengabdi pada negara dan membanggakan orang tuaku satu-satunya. Jadi aku ingin berbakti padamu, Mom. Aku tidak pernah berpikir musuh akan menyandera keluargaku. Maafkan aku. Pengetahuanku tentang hal itu masih sangat minim. Aku akan berusaha memperbaikinya," sahut Camilio seraya menundukkan kepalanya.

"Mom tahu, kau mempunyai hati yang lembut dan sangat menyayangi orang tuamu. Mom bersyukur kau tumbuh menjadi anak yang baik, cerdas dan berbakti padaku. Tapi kelembutan hati itu tidak cocok untuk menjadi prajurit negara," kata Catharina menasehati. Ia mengambil napas panjang untuk menjeda perkataannya.

"Jika jiwa dan mentalmu lemah saat keluargamu jadi sandera, maka kau jangan pernah masuk militer. Aku tidak mau anakku menjadi pengkhianat bangsa, apalagi kalau alasannya adalah untuk melindungi nyawaku. Pikirkan lagi hal itu!" seru Catharina dengan tegas sambil menatap dalam pada Camilio.

"Apakah..., artinya Mom tidak akan pernah menyalahkan Daddy, jika seandainya Mom menjadi sandera musuh? Dan kemungkinan terburuk adalah.. kau di..disiksa atau di.dibu..nuh?" tanya Camilio agak terbata.

"Sejujurnya, Mom tidak menyukai pekerjaan berbahaya. Aku ingin punya kehidupan yang tenang. Tapi Mom mencintai ayahmu dan bersedia dinikahinya. Jadi Mom harus mendukung ayahmu dengan segala kemampuanku. Mom tidak boleh membatasi atau menghalangi cita-cita dan karir suamiku dengan cinta yang egois," jawab Catharina dengan lembut.

"Jadi Mom tidak akan menyalahkan ayahmu jika ada orang menyanderaku dan ayahmu tidak bisa menyelamatkanku. Demikian juga seandainya kau menjadi tentara. Mom tahu konsekuensinya. Mom mencintai kalian berdua. Kejarlah mimpimu, Cam. Tapi siapkan dulu mentalmu. Gunakan kecerdasanmu untuk menyelematkan orang-orang lemah. Jangan pernah mengkhianati sumpah militer dan bangsamu," kata Catharine dengan bijak.

Camilio benar-benar terharu dan kagum mendengar penjelasan dan restu dari ibunya. Seketika ia beranjak dari tempat duduknya dan berlutut di depan ibunya.

"Kau seorang wanita yang luar biasa, Mom. Dad sangat beruntung memilikimu. Aku kagum dan benar-benar hormat padamu," kata Camilio dengan tatapan yang mendalam.

Catharina memeluk Camilio dan mengecup dahinya.

"Semua orang ingin kehidupan yang nyaman dan tenang. Demikian juga denganku. Jika semua orang melarang anak dan suaminya untuk masuk militer dengan dalih perasaan cinta atau sayang, lalu siapa yang akan membela negara dari serangan musuh atau pemberontak, hmm?" kata Catharina dengan lembut.

Camilio menganggukkan kepalanya dengan tegas. Catharina melerai pelukannya dan menatap putra tunggalnya dengan penuh kasih.

"Menjadi prajurit negara adalah panggilan hati. Kejarlah cita-citamu. Mom tidak ingin membatasi suami dan anakku dengan kecengenganku. Jadilah yang terbaik! Mom hanya bisa mendukungmu dalam doa. Berjanjilah untuk selalu berhati-hati saat bertugas karena Mom selalu menunggumu pulang. Ingat baik-baik, jangan pernah menjadi pengkhianat bangsa!" kata Catharina. Dan Camilio menganggukkan kepala dengan tegas.

"Aku tidak akan mengecewakanmu, Mom."

***

Setelah berbincang dan mendapat nasehat dari ibunya, Camilio mulai mencari tahu tentang sekolah militer.

Pilihan Camilio jatuh pada The United State Military Academy (USMA) atau Army West Point.

Camilio mendapat informasi bahwa Army West Point sangat selektif untuk menerima calon mahasiswa/i baru. Army West Point berpartisipasi dalam program scorechoice, yang berarti bahwa kantor penerimaan akan mempertimbangkan nilai tertinggi pelamar dari setiap bagian individu setiap test yang diberikan.

Akademi mengharuskan semua calon untuk menyelesaikan wawancara dan lulus penilaian kebugaran fisik. Memenangkan kandidat biasanya menunjukkan potensi kepemimpinan, keterlibatan ekstra kurikuler bermakna, dan kemampuan atletik.

Persyaratan mutlak lainnya adalah pelamar harus menerima atau mendapat nominasi dari seorang senator, anggota Kongres, atau anggota layanan komponen lain. Hal ini terjadi karena Army West Point berusaha melibatkan pihak Kongres dalam proses menciptakan para personil militer AS.

Camilio mencoba menghubungi teman dan atasan ayahnya untuk mendapat referensi atau membantunya mendapatkan nominasi yang menjadi salah satu persyaratan untuk mendaftar di sana.

Tentu semua persyaratan ketat tersebut tidak terlalu sulit bagi Camilio karena ia memiliki prestasi akademis yang cemerlang serta memiliki pembawaan dirinya yang tenang dan simpatik. Ditambah lagi nama baik dan prestasi ayahnya yang gugur sekitar 1 bulan yang lalu.

Berita seorang siswa yang ingin masuk sekolah militer pun akhirnya sampai ke telinga para guru karena pihak yang akan dimintai nominasi untuk Camilio, mengkonfirmasi data yang mereka terima pada pihak sekolah.

Sebagian guru menyayangkan pilihan Camilio untuk masuk sekolah militer mengingat wajib militer sudah tidak diberlakukan dengan ketat di Amerika. Mereka berpikir, dengan kecerdasan yang dimiliki oleh Camilio, ia bisa masuk ke jurusan lain yang sangat kompetitif tanpa menjadikan nyawa sebagai taruhannya.

Sebagian guru lainnya memaklumi bahwa jiwa patriot sang ayah mengalir kuat pada tubuh anaknya.

-To Be Continue-

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED