Bab 1

Lorant menyerbu ke dalam kastil seperti kesetanan, dia mendobrak setiap pintu di ruang bawah tanah, di sana terdapat banyak korban dengan kondisi yang sangat mengenaskan.

Seorang gadis tubuhnya berkedut bersiap meregang nyawa dengan luka sayatan di nadi pergelangan tangan dan lehernya. Bau anyir menyeruak tajam membuat dirinya sesak. Tetapi yang membuatnya lebih sulit bernafas adalah keberadaan Lovisa dan Benca yang belum diketahui, mereka diduga berada diantara para korban.

"Zulu, cepat ambil air, beri wanita ini minum! Fredo cepat bawa tandunya ke mari, angkat wanita ini, dan berikan pertolongan, mungkin dia masih bisa diselamatkan. Hugo suruh yang lainnya memeriksa ruangan di sebelah, gadis ini bilang ada lebih banyak korban di sana!" Gyorgy sebagai orang yang diberi mandat oleh Raja Matyas untuk melakukan penyerbuan, memberikan perintah dengan kalap.

Sementara Lorant sudah tidak lagi bisa mendengar perintah Gyorgy. Dia memang sering dipilih sebagai pendamping bagi Gyorgy dalam banyak peperangan, namun dalam kasus ini, tanpa diminta sekalipun dia akan dengan senang hati melakukannya. Karena baginya, ini adalah perangnya.

"Arpad, apakah kamu menemukannya?" Lorant langsung berteriak saat dia melihat adik sepupu yang mirip dengan dirinya. Arpad berlari melintas dengan tidak kalah kalap dan khawatir seperti Lorant.

Yang ditegur hanya menatap sebentar, lalu menjawab sambil berlari, "Aku akan mencarinya ke arah sana, sebaiknya kamu ke arah berlawanan. Kita berpencar."

Lorant langsung berlari ke arah yang ditunjuk oleh Arpad, "Segera beritahu aku jika kamu menemukannya!" Lorant memberi perintah kepada Arpad.

"Lakukan hal yang sama jika kamu yang menemukannya lebih dulu, Kak!" suara Arpad semakin menghilang ditelan lorong-lorong gelap minim cahaya di ruang bawah tanah yang bagaikan labirin.

Lorant mendobrak paksa semua pintu, dan memerintahkan pengawal untuk mengeksekusi semua korban, memisahkan yang sudah meninggal dan yang masih bisa ditolong, untuk mendapatkan pengobatan segera dari tabib di ruang utama kastil. Tetapi dirinya terus saja mencari dan mencari, hingga akhirnya, sebuah ruangan dengan cahaya temaram membuatnya terpaku. Sesaat dirinya seperti kehilangan kesadaran, ketika melihat di sana terikat pada tiang pancang, orang yang sangat dikasihinya.

Bola mata hazel itu tidak tampak karena terpejam, rambut hitam yang menutupi warna pirang untuk menyembunyikan jati dirinya itu telah luntur. Kaki dan tangannya terikat erat, meneteskan darah segar, kepalanya tergolek tertutup rambut yang kusut masai. Bau anyir menyengat keras, karena ruangan yang tertutup tanpa sirkulasi udara memadai ini sangat lembab, bahkan dipenuhi ceceran darah di sana-sini. Di suatu sudut, terdapat meja panjang bersisian dengan bak mandi yang masih dipenuhi oleh darah, dan sebagian mulai mengering. Ada aroma nista yang belum sempat dibersihkan ikut menguar diantara bau anyir yang menusuk, bercampur dengan ramuan obat serta dupa.

Lorant hampir muntah, rasa mual di perutnya membuat kesadaran Lorant kembali, segera diserbunya tubuh lemah itu, lalu memeriksa detak jantung dan nafasnya. Setelah diyakini masih ada harapan hidup, dia segera melepaskan semua ikatan di tubuh kekasihnya dengan hati-hati dan penuh kelembutan, namun cekatan.

Lorant berbisik lembut di telinga wanita cantik yang tubuhnya dipenuhi luka sayatan di sana-sini, "Benca, sayang, ini aku Lorant. Aku datang untukmu, bertahanlah sayang. Di mana Lovisa? sayang, sadarlah... kita masih harus menemukan Lovisa."

Lorant terus berbicara sambil melepaskan ikatan di tubuh Benca yang lemah bagaikan jelly. Dia mencoba membuat Benca sadar, setelah semua ikatan terlepas, dia membawa Benca ke ruang utama untuk mendapatkan pertolongan dari tabib. Sepanjang lorong Lorant berteriak memanggil Arpad, yang entah berada di mana.

Arpad tergopoh-gopoh menghampiri Lorant setelah mendengar teriakan Lorant, "Apakah kamu menemukannya, Kak?"

"Segera bantu aku, dia masih hidup, tapi sekarat. Kita harus cepat!"

Arpad bergegas lari mendahului Lorant, "Aku akan siapkan tempat, dan memanggil tabib untuk segera memberi pertolongan padanya."

"Iya, cepatlah. Aku tidak mau semuanya terlambat." Arpad segera menghilang, sementara Lorant berlari agak tersendat karena menggendong Benca melewati lorong yang sempit. Tidak lama kemudian Arpad kembali dan membantu Lorant memandu jalan menuju tempat yang sudah disiapkan.

"Ke arah sini, Kak." Lorant mengikuti petunjuk Arpad, dan segera meletakkan Benca hati-hati dihadapan tabib. Tubuhnya dipenuhi keringat dan bau anyir darah. Namun dia tidak perduli, baginya, Benca adalah yang utama. Lorant tidak ingin meninggalkan Benca sampai dia merasa yakin bahwa Benca masih bisa diselamatkan.

"Arpad, tunggulah di sini, aku akan mencari Lovisa."

"Aku ikut denganmu, Kak."

"Tidak Arpad, mungkin tabib membutuhkan sesuatu, jadi kamu harus tinggal di sini. Biarkan aku yang mencari Lovisa."

Saat itu Gyorgy muncul, "Kalian tinggallah di sini, aku yang akan mencari Lovisa, semua ruangan sudah di eksekusi dan Lovisa belum ditemukan. Kemungkinan Lovisa berada bersama mereka."

"Tetapi..." Lorant berusaha menyanggah. Lovisa adalah putrinya, dia harus menjadi orang yang paling keras mencari Lovisa, karena dia adalah ayah kandung Lovisa.

"Lorant, berjagalah di sini sambil tetap waspada. Sebab cuma kamu dan Arpad yang paling mengenali wajah para tersangka. Aku tidak mau mereka kabur dengan menyamar." Lorant merasa apa yang Gyorgy katakan ada benarnya, maka dia mengangguk tanda setuju.

"Gyorgy, kumohon, temukan Lovisaku."

Gyorgy menepuk punggung Lorant, "Pasti!" kemudian Gyorgy langsung memerintahkan para prajurit untuk menyisir semua tempat, dan membagi tugas berjaga di setiap pintu dan jendela.

Tabib dengan cekatan memeriksa keadaan Benca, "Tolong ambilkan ramuan di dalam botol berwarna hijau" ujar tabib, sambil menunjuk ke arah kumpulan botol-botol obat, Arpad yang berada paling dekat dengan jangkauan obat-obatan tersebut langsung memberikannya.

"Bagaimana kondisinya, Inka?" Lorant bertanya hati-hati pada tabib penuh kekhawatiran.

"Kondisinya cukup parah, dia dehidrasi dan kehilangan banyak darah. Tetapi masih ada harapan, denyut nadinya masih berdetak meskipun sangat lemah." Lorant dan Arpad menghembuskan nafas lega bersamaan.

"Lakukan yang terbaik Inka. Aku akan memberimu banyak uang jika berhasil menyembuhkannya," ucap Arpad.

"Aku juga akan memberimu hadiah, hidupmu beserta anak-anakmu akan menjadi tanggung jawabku. Kamu tidak perlu bersusah payah mencari uang lagi, jika kamu berhasil memberinya kesembuhan." Lorant tidak mau kalah.

"Aku hanya bisa berusaha tuan-tuan, tetapi hidup dan mati bukan aku yang menentukan, sekarang tolong biarkan aku untuk mengobatinya. Beri aku air." Lorant dan Arpad berebut segera memberi Inka air, setelah itu mereka hanya berani menatap Inka yang sibuk mengobati Benca tanpa punya nyali untuk bertanya.

Saat itu, Gustav memasuki ruangan sambil berteriak, "Ellie, kamu di mana?" sesaat matanya beradu dengan Lorant dan Arpad, kemudian melihat tubuh Benca yang sedang tergeletak lemah dihadapan mereka, "Fia?" matanya menatap tajam ke arah Lorant dan Arpad, Gustav menghampiri mereka meminta penjelasan, "ada apa ini? kenapa anakku ada di sini dalam kondisi seperti ini? sebenarnya ada apa di sini? di mana Lovisa dan Ellie?"

Lorant menatap wajah Gustav yang khawatir dengan sendu, "Lovisa belum ditemukan... dan bibi Ellie..."

Lorant menggantung kata-katanya sambil memandang Arpad meminta pertimbangan, tidak tahu harus menjelaskan apa pada Gustav. Mereka tidak tega untuk memberitahu Gustav kondisi yang sesungguhnya, mereka tidak siap, dan tidak tahu harus mulai dari mana.

Disaat mereka saling tatap dengan pikiran masing-masing, Gyorgy masuk sambil menggendong seorang gadis. Di belakangnya, beberapa pengawal tampak sedang menggiring tawanan dengan lengan terikat di belakang punggung mereka, hanya dua orang wanita yang tidak diikat, namun masing-masing dipegang erat oleh dua orang pengawal.

Lorant dan Arpad langsung menghampiri Gyorgy, dugaan mereka tepat, gadis dalam gendongan Gyorgy adalah Lovisa. Dengan sigap mereka menyiapkan tempat di samping Benca, agar Lovisa segera mendapat pertolongan dari tabib. Hati mereka hancur melihat kondisi Lovisa yang bersimbah darah dan hanya ditutupi sehelai kain putih secara sembarangan.

Sementara Gustav yang masih belum sadar dari rasa kagetnya karena melihat putri juga cucunya dalam kondisi mengenaskan, masih harus menerima kejutan lain. Matanya menatap nanar ke arah tawanan wanita yang dikawal ketat. Bibirnya hanya mampu mengucap pelan menyebut nama wanita tersebut saat pandangan mereka saling bertemu, "Ellie...."

Ellie mentap Gustav sekilas dengan sedih, dia berusaha tersenyum, namun tidak mampu melihat luka menganga dalam bola mata orang yang paling dikasihi dan dicintainya.

Suasana menjadi seperti sebuah film slow motion saat Gustav mengantarkan kepergian Ellie dengan tatapannya yang dipenuhi tanda tanya besar.

Gustav sungguh tidak mengerti dengan semua yang dia lihat saat ini. Beribu tanda tanya besar berkelebat di kepalanya. Dia tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti ini, tadinya dia mengira terjadi perampokan di kastil milik Ellie, kekasihnya.

Pengawal memberikan informasi padanya, bahwa tentara utusan Raja Matyas --yang sebenarnya masih ada hubungan darah dengan Ellie-- berdatangan ke kastil Ellie. Tetapi mengapa justru dia harus menyaksikan Ellie ditangkap? dan mengapa Fia dan Lovisa juga terluka? bahkan ada banyak gadis-gadis muda yang juga bergeletakan sedang dalam perawatan.

Ada apa sebenarnya?

Bab 2

(FLASHBACK Tahun 1573)

"Aku suka bintang-bintang yang menggantung di langit." Pemuda kecil berusia empat tahun itu menunjuk langit yang gelap.

"Mengapa kamu suka bintang, Kak? bukankah bulan lebih cantik? cahayanya tidak menyilaukan seperti matahari." Pemuda kecil yang berusia tidak terpaut jauh darinya bertanya heran.

Keduanya memiliki paras yang mirip satu sama lain, orang sering mengira mereka adalah anak kembar, padahal mereka berdua terlahir dari rahim Ibu yang berbeda, bahkan Ayah mereka juga berbeda. Jarak kelahiran mereka hanya terpaut lima bulan saja, sehingga keduanya benar-benar mirip anak kembar saat tumbuh menjadi bocah muda yang tampan. Perbedaan mereka hanyalah pada garis rahang yang lebih tegas, serta bola mata berwarna coklat kelam pada bocah yang lebih tua, sementara bocah yang lebih muda memiliki garis rahang lebih halus, serta warna bola mata biru cerah seperti samudra yang diterangi sinar matahari.

"Sebab, bintang sering berkelip seperti kunang-kunang, bercahaya dan hidupnya menerangi dalam gelap dengan ceria, tidak seperti bulan yang selalu melotot." Jawab Lorant lugas. Dia sendiri sesungguhnya tidak memahami dengan pasti perbedaan apa yang membuatnya lebih menyukai bintang dibandingkan bulan.

"Dia tidak sedang melotot, Kak. Bulan sedang menatap." Bocah yang lebih muda berusaha memberikan argumentasinya. Ditatapnya sang Kakak sepupu dengan bingung. Baginya melotot itu menyeramkan, menakutkan, mengerikan dan segala sesuatu yang membuat siapapun ingin menghindar, berlari menjauh karena ketakutan. Sementara bulan saat purnama, meskipun membulat sempurna, tetapi sama sekali tidak menakutkan, justru membuat orang yang menatapnya merasa tentram dan damai.

"Apa bedanya menatap dengan melotot? bukankah itu sama-sama melihat?" Lorant tahu Adik sepupunya ini selalu lebih detil dalam segala hal. jadi dia akan terus bertanya jika belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Atau jika dia merasa argumentasinya valid, Adik sepupunya ini akan terus mendebat hingga titik darah penghabisan, sampai benar-benar ada argumentasi yang cukup bisa diterima oleh logikanya.

"Tidak, melihat itu seperti saat Ibu Ester atau Ibu Kaitlin memberi kita permen atau coklat. Melotot itu seperti saat Erza tahu kita diberi permen atau coklat dari Ibu, tapi dia tidak diberi karena giginya yang ompong." Dugaan Lorant terbukti benar. Adik sepupunya masih terus saja mencari analogi yang cukup cerdas dan masuk akal untuk mematahkan argumentasi Lorant.

Keduanya tertawa terbahak-bahak. Lorant tidak bisa menahan tawa atas apa yang di analogikan oleh Arpad. Saat keduanya masih terbahak sambil menahan sakit perut, tiba-tiba ada yang memukul punggung mereka dari belakang, serentak keduanya berhenti tertawa lalu menoleh. Di sana berdiri gadis imut yang melihat ke arah mereka dengan tajam sambil bertolak pinggang. Rambutnya yang pirang bergelombang dibiarkan tergerai menutupi sebagian wajahnya. Di belakang gadis itu tersenyum dua orang pelayan yang mengikutinya.

"Kalian jahat, kalian sembunyi-sembunyi membicarakan gigiku ompong. Awas kalau gigiku sudah tumbuh, aku akan menjadi gadis paling cantik, bahkan lebih cantik dari Ivett."

Kedua bocah tampan itu diam sambil menahan senyum, lalu bocah yang lebih muda berbisik, "Kamu sudah mengerti sekarang kan, Kak? itu yang disebut melotot, sedangkan pelayan itu sedang menatap kita." Keduanya lalu cekikikan, membuat si gadis imut itu hampir menangis.

Si gadis mulai terisak, bahunya bergoyang menahan tangis, dia kesal karena kedua Kakaknya mentertawai dirinya di belakang. Dia merasa sangat tertekan dan ingin memukul mereka sampai babak belur. Tetapi tentu saja dia tidak bisa melakukannya. Kedua Kakaknya adalah pria-pria kuat dan lebih besar dari dirinya. Jadi dia harus memikirkan cara lain untuk membalas dendam.

Pelayan memecah keheningan dan ketegangan diantara Kakak Beradik bersaudara tersebut, "Tuan Muda Lorant, Tuan Muda Arpad, sudah malam, kalian harus masuk dan beristirahat. Nyonya Ester mencari kalian." Kemudian pelayan tersebut berbicara pada gadis yang hampir menangis itu, "Nona Erza, Tuan Lorant dan Tuan Arpad tidak sedang meledekmu, dan kamu harus tahu bahwa kamu memang gadis tercantik di Arva. Mereka hanya menggodamu" pelayan tersebut menatap keduanya, lalu berkedip, "benar kan Tuan Muda Lorant, dan Tuan Muda Arpad?" pelayan tersebut mengedipkan sebelah matanya kepada Lorant dan Arpad, mengharapkan dukungan.

Kedua bocah itu mengangguk sambil tersenyum, lalu berebut memeluk si gadis yang sedang cemberut merajuk.

"Erza, kamu memang yang tercantik," Lorant memeluk Adik sepupunya penuh kasih. Lorant sangat menyayangi Erza, meskipun Erza adalah Adik sepupu, namun bagi Lorant, Erza sudah seperti Adik kandungnya sendiri. Meskipun dia sering usil menggoda Erza, tetapi dia tidak pernah sungguh-sungguh meledeknya.

"Kak Lorant benar, Erza. Kamu adalah gadis paling cantik di Arva, aku bangga menjadi Kakakmu." Arpad juga tidak mau kalah. Bagaimanapun Erza memang cantik, dan Arpad menyayangi Erza seperti Lorant. Mereka berdua bahkan bersedia mempertaruhkan nyawa untuk Erza. Namun mereka memang sering usil menggoda Erza hingga membuat bocah itu menangis.

Erza yang mendapatkan pelukan dari kedua Kakaknya langsung tersenyum. Dia menyambut pelukan kedua Kakaknya, lalu dengan gemas mencubit pinggang keduanya, membuat Lorant dan Arpad kesakitan.

Erza tertawa senang, "Rasakan pembalasanku, kalau kalian berani meledek aku lagi, aku akan mencubit kalian lebih keras." Setelah menjulurkan lidahnya, Erza berlari dan bersembunyi di balik punggung pelayan sambil terus menjulurkan lidahnya ke arah Lorant dan Arpad.

Ketiganya segera berputar-putar saling mengejar mengelilingi pelayan yang kewalahan menghadapi kelincahan tiga bocah tersebut. Ketiganya sangat cekatan membuat para pelayan kewalahan menghentikan mereka.

"Sudah-sudah, ayo masuk, sudah malam, nanti kalian sakit, dan aku akan diberi hukuman oleh Nyonya Ester jika kalian sakit." Sang pelayan terduduk, berakting seolah-olah sedang sedih. Ketiga bocah tersebut mendadak berhenti, lalu memeluk sang pelayan dengan penuh rasa bersalah.

"Kamu tidak akan dihukum, aku akan menjelaskan pada Ibu." Erza menenangkan sang pelayan sambil mengelus rambut pelayan tersebut dengan tangannya yang mungil. Erza memang sangat penyayang, dia tidak akan tahan jika ada yang sedang sedih, apalagi bermasalah karena dirinya.

"Kalau begitu, maukah kalian berhenti saling meledek, dan ikut aku ke dalam kastil? aku takut Nyonya Ester akan memarahiku jika kalian masih di luar saat malam seperti ini." Dengan nada dibuat sesendu mungkin si pelayan memohon kepada ketiga bocah tersebut.

"Tentu saja, kami akan mengikutimu. Dan Kami akan membelamu di hadapan Ibu Ester. Kamu jangan takut ya. Jangan bersedih. Kak Lorant dan Kak Arpad juga akan melindungimu." Erza menatap kedua Kakaknya, lalu mengedip-ngedipkan matanya dengan jenaka, "Iya kan, Kak?" Erza melotot ke arah kedua Kakaknya, menuntut jawaban.

Kedua bocah laki-laki itu menahan senyum, namun tidak mau terus berdebat. Lorant segera nerinisiatif untuk menenangkan Erza, "Tentu Adikku sayang. Adikku yang paling cantik di Arva. Apapun perintahmu, pasti akan kami laksanakan." Dengan lembut Lorant merangkul Erza dan Arpad.

Mereka semua menurut, lalu berjalan beriringan memasuki kediaman keluarga de Sarvar Felsovidek yang megah, meninggalkan langit kelam yang masih dihiasi kelip bintang, serta cahaya rembulan yang redup menenangkan, yang menjadi bahan perdebatan dua pria muda barusan.

Bab 3

Countess Klara Bathory de Ecsed berupaya sekuat tenaga untuk menekan rasa kasihan terhadap keponakannya, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, yang sedang menahan sakit tidak terkira. Dia terus membekap mulut keponakannya dengan kain, agar teriakkan karena rasa sakit tidak memecah malam yang senyap. Meskipun setiap ruangan di kastil mereka memiliki tembok yang tebal, namun tetap saja tidak akan mampu meredam suara yang sangat keras.

"Bertahanlah Ellie, kamu pasti bisa melewati ini." Klara berusaha memberi semangat kepada keponakannya. Ellie dengan wajah dipenuhi keringat hanya mampu menatap nanar bibinya, yang terus saja membekap mulutnya dengan kain, agar dia tidak berteriak kesakitan. Satu-satunya yang membuat Ellie kuat adalah, harapan agar anak yang berada di dalam rahimnya bisa terlahir dengan selamat dan sehat. Dia ingin buah cintanya bersama Gustav terlahir sempurna, sesempurna cintanya pada Gustav.

"Gerda, apakah segalanya baik-baik saja?" kali ini Klara menatap Gerda --tabib istana yang sudah mengabdikan diri di kastil Cachtice selama sebelas tahun-- dengan peluh yang membasahi keningnya, masih dengan telaten membimbing Ellie, --panggilan akrab bagi Countess Elizabeth Bathory de Ecsed-- yang sedang berjuang bertaruh nyawa.

"Seharusnya baik-baik saja Nona Klara, tetapi Nona Ellie sepertinya terlalu tegang, sehingga kontraksinya terhambat." Gerda berusaha memberi penjelasan, sambil tetap berkonsentrasi memberi rangsangan di sekitar perut Ellie.

Ellie yang telah menahan sakit sejak awal malam, semakin tampak lemah. Klara telah memberinya ramuan yang dibuat oleh Gerda agar stamina Ellie menjadi kuat untuk melewati situasi ini. Dan Ellie yang mendengar kata-kata Klara berusaha menguatkan dirinya agar bisa terus berjuang melahirkan bayinya. Dia memang takut terjadi apa-apa pada bayinya, dan dia tidak mau karena fisiknya yang lemah, akan membuat proses kelahiran bayinya terhambat. Jadi Ellie mengumpulkan kekuatan semampu yang dia bisa untuk mengejan.

Sesungguhnya yang paling dikhawatirkan oleh Klara adalah kondisi Ellie yang seringkali sesak nafas serta mimisan, setelah itu Ellie akan terkulai lemah tak berdaya. Kalau saja tidak ada Gerda sebagai tabib istana yang handal, mungkin Ellie tidak akan bisa melewati usianya yang saat itu masih balita.

Setelah hampir separuh malam dilalui dengan penuh ketegangan, akhirnya Ellie berhasil dengan selamat melahirkan seorang bayi mungil yang cantik. Meskipun kulit bayi tersebut masih berkerut, namun aura kecantikan sudah terlihat. Gerda yang pertama kali melihatnya sedikit terpesona, namun segera mengingatkan diri untuk membrsihkan tubuh bayi tersebut.

"Bayinya perempuan, sehat dan cantik." Mata Gerda berbinar, Klara dan Ellie juga tidak kalah lega mendengarnya.

"Segera masuk ruangan kedap suara!" perintah Klara tegas. Klara tidak ingin tangis bayi mengagetkan seisi kastil.

Mereka mengetahui kebiasaan seorang bayi yang baru lahir akan menangis, maka mereka telah mempersiapkan ruang kedap suara yang dirancang oleh Gergely suami Gerda, untuk mengantisipasi. Gerda segera membawa bayi tersebut ke sana, di dalamnya, tangisan bayi yang menggema tidak terdengar sampai ke luar.

Sementara itu, Klara membantu Ellie untuk menenangkan diri, "Ellie, sepertinya semua berjalan lancar. Ini, minumlah. Ramuan dari Gerda akan membuatmu mengantuk setelah sekitar satu jam, dan kamu bisa istirahat dengan tenang."

Ellie menatap Klara penuh airmata di wajahnya, "apakah aku tidak boleh melihatnya?" mata Ellie mengerjap penuh pengharapan, "biarkan aku memeluknya sekali saja, bila air susuku bisa menuntaskan hausnya, setidaknya biarkan dia minum sejenak." Ellie memohon dengan suara lirih penuh kesedihan.

Klara menatap keponakannya dengan sendu, "Aku akan tanyakan kepada Gerda. Sementara ini, rebahkan dirimu dengan nyaman. Gerda masih menenangkan bayimu di ruang kedap suara, juga membersihkan tubuhnya."

Ellie mengangguk patuh, "Apakah aku bisa bertemu lagi dengan putriku?" tanya Ellie lagi. Tubuhnya sungguh sangat lemah, namun dia ingin melihat bayinya, ingin memeluknya, juga ingin selalu bersamanya, namun dia sadar, itu adalah sesuatu yang sangat sulit.

"Kita sudah membahas ini berkali-kali, Ellie. Semua sudah dipersiapkan. Kamu tidak memiliki pilihan." Klara mencoba menenangkan Ellie dengan sabar. Dia sangat mencintai keponakannya lebih dari apapun. Baginya Ellie adalah putri cantik bagai porselen ringkih yang harus selalu dijaga, agar tidak retak dan pecah.

Sejak kecil Ellie sering menderita sakit kejang, tubuhnyapun sangat rapuh, bahkan sampai mimisan, sehingga Klara yang usianya tidak terpaut jauh dari Ellie telah menjadi bibi sekaligus temannya. Klara menjadi sangat protektif terhadap Ellie.

Ellie menangis tersedu, "Apakah aku akan kehilangan putriku selamanya?" Ellie masih merasa belum ikhlas melepas bayinya, "Aku tahu aku salah, tetapi apakah tidak ada jalan lain, selain memisahkan aku darinya?"

Ellie menggeleng sedih, Klara hanya mampu mengelus rambut Ellie dengan penuh kasih, "Kenapa tidak membiarkan kami bersama-sama saja, aku bisa pergi dengan bayiku menjauh dari semua ini." Tangis Ellie semakin menjadi dalam pelukan Klara.

"Pada usia dewasanya nanti, ketika diperkirakan dia sudah punya sebuah keluarga kecil, dan mungkin juga anak-anak yang lucu, kita bisa buat skenario untuk merancang pertemuan. Disaat itu, kamu dan aku mungkin sudah menjadi cukup kuat untuk membuat keputusan yang tidak bisa ditentang. Tetapi saat ini, kita tidak bisa melakukannya. Kita semua akan dihukum berat. Apakah kamu ingin Gustav dihukum mati?" Klara berusaha menenangkan Ellie.

Ellie menggeleng lemah, isaknya makin menjadi, dadanya terasa sangat sesak. Semua pilihan tersebut sama-sama sulit, mereka akan memisahkan dirinya dari orang-orang yang dicintainya. Tetapi keputusan yang telah disepakati setelah banyak diskusi dengan Klara --Bibinya-- adalah yang terbaik. Mereka semua akan tetap hidup, meski harus saling terpisah. Namun masih ada harapan untuk bertemu kembali kelak. Dan mereka sepakat untuk menyembunyikan semuanya selama dua puluh tahun.

Gerda datang menghampiri Klara dan Ellie yang masih terbaring lemah karena mulai mendapatkan reaksi ramuannya untuk segera tertidur.

Setelah membersihkan kotoran di tubuh bayi merah --yang kulitnya masih kisut--, lalu membaluri tubuh bayi tersebut dengan ramuan yang membuat bayi merasa nyaman, Gerda membungkusnya dengan selimut tebal dan hangat. Gerda membawa bayi tersebut kepada ibu muda yang baru saja melahirkannya.

"Nona Ellie, dia sudah tenang, kamu bisa menyusuinya sekarang." Awalnya, rencana mereka adalah sesegera mungkin membawa bayi tersebut menjauh dari kastil. Namun tadi Gerda mendengar percakapan antara Ellie dan Klara yang membuatnya terenyuh. Maka dia memutuskan untuk memberikan sedikit kebahagiaan yang masih tersisa, didetik-detik terakhir perpisahan panjang antara ibu dan anaknya yang baru dilahirkan.

Ellie menatap tubuh mungil yang ringkih tersebut dengan takjub. Didekapnya erat, dan dinikmati sensasi saat bayinya meminum air susunya. Mungkin ini adalah satu-satunya hal yang kelak akan bisa membuat ikatan bathin mereka cukup kuat. Ellie berusaha menerimanya dengan tabah.

Akhirnya Ellie tertidur, dan bayi mungil tersebut juga tertidur karena merasa kenyang dan nyaman dalam pelukan hangat ibunya.

Klara dan Gerda segera membereskan segala sesuatunya, lalu menuju istal. Disana Gergely suami Gerda sudah menunggu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED