Kulihat Ibu melirik dari pembaringan nya. Walau sekejap langsung memejamkan mata lagi berpura-pura tidur. Ku Hela nafas kasar. Seiring doa yang terucap dalam hati untuk keselamatan Istri dan Anak ku .
????
"Vina sudah pembukaan enam Bu, sebentar lagi cucu Ibu akan lahir. Bagaimana kalau Gilang pesankan taxi online kita menemani Vina ya Bu?"
"Tidak! Biarkan dia menikmati rasanya sendiri dan kesepian."
"Dia itu Vina Bu, menantu Ibu. Apa Ibu Ndak kasihan melihat Vina sendirian menghadapi persalinan?"
"Bapak mu meninggal karena kecelakaan di saat Kamu masih dalam kandungan. Ibu berjalan sendiri menemui dukun beranak saat waktu kelahiran mu tiba. Ibu pula yang merawatmu seorang diri sampai sebesar ini. Kamu yang Ibu perjuangkan tapi masa tua kau biarkan Ibu sendirian dan kesepian."
"Ampuni Gilang Bu, yang telah salah dalam menjalani kehidupan. Banyak orang berkata Bu lebih baik hidup mandiri walau hanya mengontrak dari pada tinggal bersama dengan mertua. Gilang beranggapan akan lebih baik memisahkan mertua dengan menantu perempuan nya untuk mengurangi terjadinya perselisihan Bu, berharap dengan cara itu kenyamanan IBu dan Vina tetap terjaga."
"Begitu burukkah pribadi Ibu di matamu dan Vina?" tanya Ibu dengan menghela napas kasar.
"Ini murni keputusan Gilang Bu, Vina sempat ingin tinggal bersama Ibu. Tapi dia takut akan sering merepotkan Ibu karena tubuhnya yang ringkih dan gampang sakit-sakitan."
"Tadinya ketika kamu bilang ingin menikah, betapa bahagianya Ibu membayangkan akan memiliki anak perempuan, tapi ternyata perempuan itu yang mencuri anak Ibu."
"Maaf kan kami Bu.Pemikiran Gilang tidak sampai ke sana. Selama pernikahan Vina sering sakit Bu sampai hamil pun semakin payah karena daya tahan tubuhnya semakin menurun."
"Di sana kau merawat Istrimu yang sakit, di sini Ibu mu sakit tanpa perawatan bahkan untuk biaya berobat pun tak ada. Andai Ibu tak menua dan masih mampu mencari nafkah tak akan Ibu bergantung pada mu." Ketus ucapan Ibu dengan mata yang berkaca-kaca.
Drrrrttt
Drrrrttt
Drrrttt
Segera ku angkat telepon dari Bidan Riyani dan ku loadspeaker.
[Assalamualaikum Bu bidan, bagaimana keadaan Vina?] tanya ku tak sabar setelah mengangkat telepon.
[oek.oek. oek. oek]
[Waalaikumsalam Pak Gilang, Ibu Vina sudah melahirkan dan bayi nya perempuan pak cantik sekali.]
[Alhamdulillah Bu, terima kasih sekali atas bantuannya.]
[Tapi pak ini ada kabar buruk. Setelah bayi lahir ari-arinya tak kunjung keluar pak. Sepertinya merekat pada dinding rahim. Selang beberapa lama akhirnya keluar pak setelah dengan susah payah Ibu Vina mengejan. Yang jadi permasalahan nya sekarang terjadi pendarahan pak. Ini Asisten saya sudah menemui ketua RT wilayah sini untuk meminjam mobil . segera akan di bawa ke Rumah Sakit terdekat. Karena ini berburu dengan waktu pak.]
[Astaghfirullah, tolong selamatkan Istri saya Bu. Saya mohon, hiks hiks.]
[Saya akan berusaha semaksimal mungkin pak. Apa Bapak mau bicara dengan Ibu Vina?]
[Saya ganti video call ya Bu bidan.]
[Baik pak silahkan.]
Terlihat di layar handphone wajah pucat Vina. Semakin Membuat hati ku pilu.Rasa sesal memenuhi relung dada menyesakkan.
[Maafkan Mas, Dek. Hiks hiks hiks. Disaat Adek membutuhkan Mas malah nggak ada di samping Adek untuk menguatkan Adek. Maafin Mas.]
[Ba gai ma na ke a da an I bu Mas ? ] Patah-patah Vina berusaha berucap.
[Masya Alloh Vina, dalam keadaan yang tidak baik pun kau masih memikirkan orang lain. Lihat lah Bu menantumu kondisi buruk tak menghalanginya untuk memperhatikan mu.] Ku arahkan layar handphone pada Ibu. Beliau cuek dan hanya memutar mata terkesan jengah.
[Vi na mo hon ma af a tas ke sa la Han Vi na se la ma i ni Bu, Mas Gi Lang, Ma a fin ke sa la han Vi na ya.] Terlihat wajah Vina yang semakin pucat dengan nafas tersengal, tapisenyum tak pernah lepas dari bibir nya.
[Allohu akbar] berkali Vina ucapkan terbata dan pelan.
[Tidak Vin, Mas mohon bertahan lah sayang. Mas pasti mendapatkan ijin dari Ibu untuk menemui mu.Bertahanlah Sayang, jangan tinggalin Mas sendiri. Segera Mas berangkat ke kontrakan , tunggu mas ya sayang.]
[Ibu, Bu Vina. Buka mata Ibu, bertahanlah Bu. Ingatlah bayi cantik ini masih membutuhkan mu.] Terdengar suara Bidan Riyani, sedikit panik. Terlihat dari layar handphone Bayi pun masih dalam gendongannya.
Segera di letakkan Bayi di sebelah Vina yang terbaring lemah.Di pegangnya nadi Bu Vina yang belum lama telah berhenti berdenyut.
[Innalilahi wa innailaihi roojiuun. Mohon maaf pak Gilang kita terlambat pak. Ibu Vina sudah berpulang ke Rahmatullah.]
[Tidak Bu, Itu tidak mungkin. Tolong selamatkan Istri saya Buuu. Aaaagh Saya mohon Bu, selamatkan Vina Buuu.] Luruh terjatuh seakan pesendian melemas tak mampu menopang berat tubuh ini.
[Pak Gilang , Pak, Anda masih di sana. Bagaimana ini dengan pengurusan jenazah Ibu Vina?]
[Saya akan segera pulang ke kontrakan Bu. Wassalamu'alaikum.] Segera ku tutup telepon dan bergegas untuk pergi.
"Mau kemana kamu Gilang?"
"Tentu saja pulang Bu. Vina sudah meninggal, tak adakah sedikit sesal di hati mu Bu? hiks hiks hiks. Dia telah pergi meninggalkan Gilang Bu."
????
Bersambung
"Mau kemana kamu Gilang?"
"Tentu saja pulang Bu. Vina sudah meninggal, tak adakah sedikit sesal di hati mu Bu? hiks hiks hiks. Dia telah pergi meninggalkan Gilang Bu."
????
Ibu berdecih kesal.
"Jangan harap Ibu akan memberi ijin untuk mu menemui mayat Vina!"
"IBU!" jerit ku menahan Amarah yang memuncak.
"Biarkan dalam kematiannya tetap sendirian dan kesepian. Ini balasan yang tepat untuk nya. Ini karma karena sudah menyakiti hati Ibu." Tersungging senyum sinis dari bibir Ibu.
"Ya Alloh, Buuu. Kenapa Ibu jadi jahat seperti ini. Luka seperti apa yang telah Vina torehkan sehingga hati Ibu laksana batu?"
"Jahat kau bilang? Jahat mana dengan perempuan yang telah memisah kan seorang Ibu yang sudah renta dengan anak nya? Jahat mana selama setahun ini sakit sendirian kesepian bahkan kelaparan? Jawab Ibu, Gilang siapa yang lebih jahat?!" teriak Ibu dengan sorot mata penuh amarah.
Aku terduduk lemas di lantai kamar Ibu.Tak habis fikir akan keras nya hati Ibu.
Drrrttt
Drrrttt
Drrrttt
Suara Telepon Ku berdering. Segera ku angkat karena pasti tentang pemakaman jenazah Vina Istri ku.
[Halo Assalamualaikum.]
[JANGAN LAGI HUBUNGI ANAKKU, MAYAT ITU BUKAN ISTRINYA BUKAN PULA MENANTU KU. BAYI ITU TARUH SAJA DI PANTI ASUHAN SEBAGAI MANA IBUNYA BERASAL. MAKAM KAN SAJA!!!] Teriak Ibu setelah merebut handphone dari genggaman ku, dan segera mematikannya usai berteriak marah.
"Astaghfirullah, Istighfar Bu. Jangan biarkan setan menguasai hati Ibu. Sadarlah Bu, Ibu sudah salah memahami Vina."
Yang Ibu lakukan sudah benar, menyingkirkan perempuan benalu itu dari hidup mu . Sudah lah kembali ke kamar mu jangan pernah berfikiran untuk pergi dari rumah ini . Sekali kaki mu melangkah Kau bukan lagi anak ku dan ku haramkan air susu ku yang mengalir di tubuh mu. Ingat itu!"
Gontai ku langkahkan kaki meninggalkan kamar Ibu , menuju kamar ku saat masih bujang.
Perlahan ku rebahkan tubuh lelah dan penat ini. Bingung menyelimuti hati antara pergi atau tetap tinggal di sini.
[Mengapa bisa jadi seperti ini ? dua wanita yang kucintai saling melukai sedangkan aku hanya bisa terpuruk di kamar ini.] Gumam ku dalam batin.
"AAARRRGGGHHHH." Teriak ku berharap sesak di dada agak sedikit berkurang.
"Maafin Mas, Dek. Maafkan ketidak mampuan ku bertanggung jawab atas dirimu." Rintih ku menahan kesakitan yang sedemikian hebat.
[Bagaimana aku menghubungi Bidan Riyani, kalau handphone sudah di sita Ibu.?
Bagaimana nasib anak ku?] Semua pertanyaan berkecamuk dalam hati. Lelah rasa nya otak tak mampu di ajak berfikir, hanya sekedar mencari solusi.
Satu jam berlalu ku lalui dengan hanya mondar-mandir di dalam kamar. Ku putuskan untuk kembali merayu Ibu berharap keikhlasannya agar mengijinkan ku menghadiri pemakaman Vina, dan membawa putri kami pulang ke rumah ini.
"Bu, boleh Gilang masuk?" panggil ku di depan kamar Ibu.
"Masuklah." Pelan suara Ibu, tapi masih terdengar oleh ku.
"Sudah istirahat Bu? Gilang harap badan Ibu sudah enakan."
"Ada Apa? kalau masalah Vina lagi Ibu malas."
Tidak Bu, Gilang hanya ingin bercerita."
"Cerita lah, Ibu dengarkan."
"Ibu ingat setelah Gilang lulus SMA, masih Luntang lantung mencari pekerjaan. Ketika melewati pasar Gilang lihat ada penjambretan Bu. Dan jambret nya berlari ke arah Gilang. Dengan sigap ku jegal kaki penjambret itu dan dia terjatuh Bu, begitu pula dengan Tas yang di jambret nya.Tak beberapa lama datang lah security pasar menangkap si jambret.ku kembalikan tas itu pada wanita yang tak lain adalah Vina. Itulah pertama kali Gilang bertemu dengan Vina."
flashback on
"Terima kasih ya mas sudah membantu mengembalikan tas ku."
"Sama-sama, hanya kebetulan saja si jambret lari ke arah ku tadi. Jadi langsung bisa ku jegal kakinya. "
"Perkenalkan Aku Vina Mas, dengan mas siapa?"
"Nama ku Gilang."Kusambut jabat tangan Vina.
"Mas Gilang tujuannya mau kemana? mau nyari kerja ya soalnya pakaian Mas Gilang rapi sekali."
"Iya betul dek Vina. Tapi saya hanya lulusan SMA jadi agak sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Sementara saya sering ke pasar ini untuk bantu-bantu apa saja yang penting ada uang untuk membeli makanan. Serabutan lah namanya."
"Kalau kerja jadi OB mau mas? menggantikan saya."
"Yang betul Dek ? Terus kenapa kamu keluar dari pekerjaan?"
"Tubuh ku ringkih, gampang sakit sedari kecil sudah sering seperti ini.Jadi aku Ndak bisa kerja jadi OB tubuh ku Ndak kuat mas. Kalau Mas Gilang mau ayo sekarang q antar ke perusahaan tempat aku kerja, mumpung Mas Gilang masih berpakaian lengkap dan rapi."
"Kalau pekerjaan ini kamu berikan pada Mas nanti Dek Vina kerja Apa?"
"Vina mau kembali kerja di mini market milik panti Mas. Biasanya Vina jadi kasir Mas. Di sana gaji nya tak sebarapa karena hanya mini market kecil. Tapi kerja nya santai dan tidak melelahkan."
Akhirnya sejak itu aku punya pekerjaan dan penghasilan tetap .Dengan gaji lebih dari cukup untuk membiayai hidup aku dan Ibu. tak lupa setiap bulan ku sisihkan sedikit untuk Vina.
Beberapa kali Vina menolak uang pemberian ku, tapi terus saja ku paksa . Dan akhirnya dia mau menerimanya.
Selang tak beberapa lama aku dan Vina semakin dekat. Kuberanikan diri meminta ijin pada Ibu untuk menikahiVina. Ibu pun setuju . Segera ku perkenalkan Vina pada Ibu. Dan akhirnya aku dan Vina menikah.
Setelah menikah ku putuskan untuk mengontrak rumah kecil di kota sebelah. Ku bicarakan usulan ku ini pada Ibu. Di luar dugaan ku tatapan mata Ibu menyiratkan luka mendengar keputusan ku. Ibu berusah a mencegah tapi keputusan ku untuk mengontrak rumah sudah bulat.
Kepergian ku bersama Vina di iringi tangis dan tatapan penuh kecewa dari sorot mata Ibu.
Satu bulan setelah aku pindah dari rumah Ibu, ada musibah yang menimpa di tempat ku bekerja. Ada salah seorang OB lain yang memfitnah ku sehingga aku di pecat dari pekerjaan ku.
Di masa terpuruk ku Vina tetap mendampingi ku tak pernah sedikit pun terbersit di pikiran nya untuk meninggalkan ku. Bahkan dia menerima pekerjaan menyetrika dari rumah-rumah tetangga untuk membantu keuangan .
Sedangkan Aku, setelah berhari-hari mencari pekerjaan tanpa hasil ku putuskan menjadi ojek online.
flashback off
"Itulah mengapa Vina tidak bisa mengunjungi Ibu karena dia bekeja jadi buruh cuci dan setrika di rumah tetangga Bu. Berharap bisa menghasilkan uang sendiri untuk biaya rutin Vina berobat dan sedikit menyisihka n untuk di kirim ke Ibu."
"Begitu juga Gilang jadi ojek online setiap waktu harus siap di panggil kalau ada orderan Bu. Makanya Gilang tidak pernah bisa lama menemani Ibu di rumah."
"Setelah Gilang bercerita seperti ini, Gilang harap persepsi Ibu terhadap Vina bisa sedikit berubah. Ijinkan Gilang menghadiri pemakaman Vina Bu, Gilang Mohon."
?????
Bersambung.