Entah kenapa ia memutuskan membawa gadis itu pulang. Alexander masih tidak mengerti jalan pikirannya kemarin. Sepertinya, waktu itu ia terhanyut suasana. Berawal dari memenuhi undangan salah satu teman lama, ia mendatangi kelab malam di mana bertaburan gadis-gadis muda yang meliuk-liuk seperti cacing kepanasan.
Sebenarnya, Alexander merasa terlalu tua untuk itu. Ia lebih senang menghabiskan waktu di pub, sambil menikmati live musik. Namun demi menjaga hubungan baik dengan teman lama yang juga merupakan pemilik grup perusahaan investor, ia menyempatkan datang. Hitung-hitung sekadar menikmati suasana, meski dentuman musik jedag jedug sudah bukan lagi seleranya.
Siapa sangka, sesaat setelah mengucapkan selamat atas pembukaan kelab malam, kedua matanya tanpa sengaja menangkap seorang gadis yang tampak sudah setengah mabuk.
Dari sekian banyak gadis-gadis muda lainnya, hanya yang menarik perhatiannya. Mungkin hanya kebetulan, karena tempat mereka bahkan juga tidak berdekatan.
Malam itu ia duduk sendirian di dalam private room berdinding kaca, yang berada satu tingkat di lantai atas. Ruangan itu telah disiapkan khusus untuknya. Sejenak setelah menemaninya mengobrol -sambil membahas sedikit bisnis- pemilik kelab meninggalkannya sendirian dengan jamuan paling mahal di atas meja. Pemilik kelab, bahkan sudah menyediakan wanita penghibur khusus, yang bisa ia panggil sewaktu-waktu melalui intercom.
Namun kedua matanya tidak pernah bisa berhenti mengikuti gerak-gerik gadis setengah mabuk yang tadi sempat ia lihat saat memasuki kelab. Penampilan provokatif malam itu menyeret perhatiannya lebih jauh. Ia melihat ditinggalkan begitu saja di sofa, setelah kelelahan melantai dengan teman-temannya.
Alexander tertarik mengamati bagaimana sikap teman-teman yang seperti tampak merencanakan sesuatu. Mereka bergerombol di belakang sofa di mana duduk sendiri. Kemudian para gadis lainnya seperti sengaja menjauh. Lalu seorang pemuda yang sedari tadi bersama menyerahkan bungkusan pada pemuda berseragam waiter, sambil memberi isyarat ke arah meja di mana duduk sendirian.
Hati Alexander bagai mati separuh, saat mengingat bagaimana saat itu memanggil teman-temannya dengan lambaian tangan. Gadis itu tidak menyadari senyuman palsu dari gerombolan yang bersamanya malam itu.
Satu pil saja, bisa membuat gadis itu tidak sadarkan diri. Alexander tidak tahu jenis pil apa yang dimasukkan ke dalam minuman . Namun dari balik dinding kaca di hadapannya yang menjelma bak monitor raksasa, kedua mata Alexander dapat menangkap situasi yang berada di lantai bawah. Ia melihat bagaimana pil itu dimasukkan ke dalam minuman hingga dalam perjalanan diantar menuju meja gadis itu.
Entah bagaimana, Alexander memilih turut campur dalam hal yang seharusnya bukan urusannya. Padahal, tidak juga kenal. malam itu hanyalah satu dari sekian banyak gadis random di dalam kelab. Alexander ingat, ia bergegas turun setelah mengambil sebotol air kemasan dari dalam kulkas mini di tempatnya.
Mungkin karena gadis itu cantik dan terlanjur menarik perhatiannya? Tetapi Alexander bukanlah lelaki yang sulit menemukan gadis cantik untuk dibawa pulang. Mungkin hanya iba? Entahlah. Alexander bahkan tidak yakin pada perasaannya sendiri di malam itu. Yang jelas, ia tertarik.
Kesan pertama yang ia dapatkan, hanyalah gadis muda yang berani dan nakal. Kebetulan ia sedang bosan bermain-main dengan pelacur, atau sekedar menghubungi friends with benefits-nya. , menawarkan suasana baru yang begitu menyegarkan.
"Dari orang di meja seberang," ucap pelayan berseragam sembari membungkuk, agar suaranya yang beradu dengan dentum musik house dapat terdengar lebih jelas oleh gadis muda yang tampak bahagia meski tengah duduk sendirian di sofa.
Gadis itu sontak mendongak dan menemukan pemuda yang duduk sendirian di seberang, mengangkat gelas tinggi-tinggi.
Soraya, tersenyum geli. Batal menyalakan api demi sebatang rokok yang sudah terselip di antara bibir.
"Sebaiknya kamu jangan minum itu.." Tiba-tiba seorang lelaki duduk di hadapannya dan dengan tampang acuh menyingkirkan minuman yang baru saja tiba. Soraya menatap protes, tetapi senyuman menawan dari wajah yang luar biasa tampan membuat batang rokok di antara bibirnya nyaris terjatuh.
Kemeja hitam, kancing teratas dibuka dua dipadu dengan setelan jas yang membalut postur tubuh tegap. Lelaki di hadapannya tersenyum, menampakkan deretan gigi yang berbaris rapi.
"Kenapa?" Soraya bertanya tanpa mampu mengalihkan pandangan sedikit pun dari lelaki karismatik di hadapannya.
Lelaki tampan itu mendekat dan menyodorkan sebotol air mineral dingin. Masih tersegel dan berembun seperti baru keluar dari kulkas.
"Ada yang masukin pil ke dalam minuman kamu. Saya khawatir ada yang berniat buruk. Lagian kamu keliatan mabuk. Minum ini..." Lelaki itu, sekali lagi menampakkan senyumannya yang berkarisma.
"Wow thanks..." Soraya menatap takjub. Ia memang merasa sedikit mabuk. Lelaki tampan di hadapannya membukakan tutup botol dan Soraya minum air mineral dingin dari tangan lelaki itu tanpa ragu. "Om sendirian?" tanyanya pada lelaki yang sepertinya lebih tua. Soraya menyimpulkan dengan cepat, mungkin lelaki tampan di hadapannya berusia sekitar tiga puluhan.
"Iya. Kamu?" Lelaki itu balas bertanya selagi Soraya diam-diam sibuk memuji gaya rambut dengan poni membelah dahi yang membuat penampilan lelaki berahang tegas di hadapannya semakin menawan.
"Mmm... " Soraya melempar tatapannya mengelilingi seluruh penjuru tempat yang tampak hingar bingar. "Temen-temen aku masih joget... aku disuruh jaga sofa," jawabnya kemudian dengan tatapan sayu yang diiringi senyuman lebar, membuat siapa saja mudah menyimpulkan bahwa ia sedang berada di bawah pengaruh alkohol.
Lelaki di hadapannya tersenyum tipis. "Harusnya ada satu orang yang jagain kamu di sini."
"Kenapa harus dijaga? Aku bukan anak kecil." Soraya santai menyalakan api dan membakar ujung batang rokoknya.
"Nama kamu?" tanya lelaki di hadapannya dengan tatapan penuh minat.
"Soraya. Om?" Soraya balik bertanya.
"Alexander ."
Alexander . Soraya tersenyum. Sungguh nama yang mudah diingat.
"Apa asyiknya dugem sendirian?" tanya Soraya kemudian, dengan sedikit berteriak karena dentuman suara musik semakin mengencang.
Bibir Alexander membentuk segaris senyum, dengan tatapan lekat yang sulit dimentahkan oleh perempuan mana pun. "Mau pindah tempat nggak? Biar lebih enak ngobrolnya. Kalau kamu mau... "
Soraya merasakan debaran di jantungnya kian menguat. Lelaki tampan itu sepertinya benar-benar tertarik kepadanya. "Temen-temen aku.... " Kemudian mengedarkan pandangan dengan mimik ragu. "......masih joget."
Lelaki di hadapannya sudah berdiri. Mengangkat kedua alis, sembari mengulurkan tangan. "Mau pindah ke lounge di lantai bawah? Saya yang traktir..." Tawaran menarik itu ditutup isyarat gerakan kepala dengan senyuman berkarisma yang sangat sulit diabaikan.
Senyuman Soraya lepas begitu saja. Ia menenggelamkan sebatang rokok yang masih utuh ke dalam asbak, lalu menyambut uluran tangan Alexander sembari menyambar tas-nya.
Jemarinya tenggelam dalam genggaman hangat Alexander . Lelaki itu mengawal langkahnya yang menjadi sedikit kesulitan berjalan karena pengaruh alkohol. Mereka berdua bergandengan tangan membelah kerumunan manusia yang sedang asyik melantai terbius hentakan musik.
Alexander sesekali menoleh, seperti memastikan keadaannya baik-baik saja. Lelaki itu tidak melepaskan genggaman tangannya, bahkan hingga mereka memasuki lift demi sampai di lounge yang tampak sepi pengunjung.
Mengobrol di sini jauh lebih baik dan Soraya dapat melihat dengan lebih jelas, rupa paripurna om om keren yang kini kembali duduk di hadapannya.
"Om, asli sini?" tanya Soraya tepat setelah bir dingin pesanan mereka tiba. Meski kepalanya sudah terasa pusing, ia tetap saja memesan bir.
Alexander hanya mengangguk sembari menarik bibirnya membentuk garis lurus. "Kamu? "
"Saya pendatang," jawab Soraya sambil menyalakan sebatang rokok.
"Kerja juga?"
Senyuman tipis mengembang dari bibir yang lipstiknya sudah memudar. "Emang kelihatan tua ya? Saya baru 19 tahun, baru masuk kuliah semester satu malah..." Asap rokok dihembuskan santai. "Om mau rokok?"
Alexander menggeleng pelan.
"Nggak ngerokok?" Soraya menarik kembali kotak rokoknya.
"Saya kurang suka sama merek itu..." Kedua mata Alexander melirik bungkusan rokok mild yang memang kebanyakan pangsa pasarnya mahasiswa.
Soraya tersenyum sebelum kembali menghembuskan asap rokoknya. Baru tiga bulan menjadi perokok aktif, ia merasa sudah lihai dalam urusan hembus menghembuskan asap. "Om umur berapa?" Soraya memiringkan kepala. Mendadak penasaran karena penampilan lelaki di hadapannya tidak seperti cowok seumurannya, namun luar biasa enak dilihat.
"Tebak."
"Mmm... 30?"
"Apa saya kelihatan semuda itu?"
"Ohh! Jangan bilang Om udah 40 lebih! Sumpah nggak keliatan!" puji Soraya terus terang.
"Saya belum sampai 40..."
"Jadi umur Om berapa? "
"Hampir empat puluh.... "
"Tiga sembilan?" Soraya melebarkan kedua mata.
"Tiga puluh tujuh...." Lagi-lagi senyuman Alexander mengembang.
"Jangan bilang Om udah punya istri!" Soraya menatap waspada.
"Saya masih single.... "
"Single???" Kedua mata Soraya melebar. "Ada pacar?"
Alexander memperhatikan sejenak wajah ingin tahu gadis yang duduk di hadapannya. "Nggak ada.."
"BULLSHIT!!"
Reaksi Soraya, membuat beberapa orang menoleh.
"Beneran nggak ada pacar???" Soraya menatap skeptis.
"Nggak ada."
"Kenapa?"
"Nggak laku."
" HAHAHAHAHA!!!! " Tawa Soraya lepas begitu saja. Lagi-lagi mengundang perhatian orang-orang yang berada di lounge. "Om lucu deh!!"
Alexander hanya menaikkan kedua alis sembari menenggak minumannya sendiri lantas memperhatikan Soraya yang kian bertambah mabuk.
"Om, kenapa nggak nikah-nikah? Maho ya?" tanya Soraya dengan cengiran usil di wajah.
Senyuman dari bibir Alexander membentuk garis lurus. "Mau buktiin saya maho atau nggak?"
"Maksud Om?"
__________
Mereka berakhir di mobilnya.
"Mmh..." Desahan pelan lolos dari bibir Alexander , saat gadis mabuk itu menjadi semakin liar tak terkendali. Gadis itu rakus menciuminya, seolah esok kiamat. Tatapan gadis itu berkali-kali melucutinya, seiring gerak tangan yang agresif menjamah bagian sensitifnya.
Serampangan, tetapi juga membangkitkan nafsu dengan cepat. Alexander , menuntun sebelah tangan Soraya menyelami pengait celana yang telah terbuka.
Gadis itu menampakkan wajah bingung sekaligus penasaran.
"Ke... keras Om?" tanya Soraya sembari memberi tekanan lebih. Gemas, melihat om berwajah tampan yang ia sudah lupa siapa namanya itu menatap pasrah memohon dipuaskan.
Jadi seperti ini rasanya barang, eh batang laki-laki? Soraya menatap takjub sebelah tangannya yang sudah tenggelam di balik celana om om ganteng yang baru saja ia temui di dalam kelab.
Eh, siapa nama si Om Maha Ganteng ini? Ravi? Davi? Vir? Ah persetan siapa namanya! Otak Soraya rasanya tumpul. Tidak bisa berpikir apalagi mengingat nama untuk saat ini. Otaknya sedang sibuk memerintahkan sebelah tangannya untuk masuk lebih dalam, merogoh seluruh isi celana si Om Ganteng.
"Mmm...." Alexander hanya menggumam sembari mengangguk, saat tangan Soraya mengelus dan meremas kejantanannya. Berikutnya tangan gadis itu menggenggam dan mulai bergerak naik turun.
Kening Soraya menempel erat pada keningnya. Aroma pekat alkohol sedari tadi menyeruak dari bibir gadis itu. Namun Alexander tidak peduli saat berat hembusan napasnya menuntun tangan Soraya bergerak lebih cepat di bawah sana.
Rasanya baru saja sekejap kenikmatan itu kian merambat naik, sebelum tiba-tiba Soraya hilang kesadaran dan wajah lugu gadis itu terjatuh di atas dadanya.
"Shit!" Sebelah tangan Alexander reflek menangkap wajah mungil Soraya dan mendapati gadis itu mendengkur. Alexander hanya bisa menyandarkan kepala sembari menatap frustasi langit-langit mobilnya.
Mau bagaimana lagi?
Alexander memutuskan keluar dari mobil, berniat merokok sembari mencari udara segar. Kaca mobil diturunkan sedikit, tidak lebih dari 5 cm. Ia membiarkan Soraya tidur pulas di seat belakang, berselimutkan jas yang tadi ia kenakan.
Bersandar pada Range Rover hitamnya, Alexander mengamati kondisi parkiran yang sepi.
Sekarang bagaimana?
Alexander menggaruk pelan pipinya. Apa ia harus membawa pulang gadis itu? Atau meninggalkannya di hotel sendirian?
"Soraya! Soraya.... " Suara gaduh memecah hening. Alexander melihat dua orang pemuda sibuk meneriakkan nama gadis yang kini sedang teler di dalam mobilnya.
"Shit! Gue telp nggak diangkat! Padahal hapenya aktif!" ucap pemuda berjaket denim.
Alexander yang masih dalam posisi santai, mau tak mau menajamkan pendengarannya. Tidak terdengar ringtone dari dalam mobilnya.
"Kan gue udah bilang sama lo! Jaga Soraya jangan biarin sendirian di sofa!" ucap pemuda satunya yang berkaos hitam sambil mendorong kesal pemuda berjaket denim.
"Ya kan gue pura-pura pergi, supaya aksi kita nggak ketahuan! Tadi dia minum minuman itu gak?" Pemuda berjaket denim menatap gusar temannya.
"Mana gue tahu! Harusnya kalo dia minum, kita udah party sekarang! Brandon udah booking kamar hotel, kita bisa gila-gilaan sama Soraya!"
"Jangan-jangan tadi dia pingsan terus diangkut stranger lagi? Batal deh kita jual Soraya ke Brandon! Batal ngicip juga! Shit!" Pemuda berjaket denim berjongkok sembari mengusap wajahnya.
Alexander melirik melalui sudut mata, meski ia tahu tidak dapat menembus kaca mobil riben hitam pekat miliknya. Dalam hati mengutuk aksi dua pemuda bajingan, yang sepertinya merupakan teman-teman Soraya. Di saat yang sama, terbesit rasa iba.
Jika saja tadi ia bersikap masa bodoh pada gadis berparas lugu yang ditinggalkan sendirian di sofa, entah bagaimana nasib Soraya kini.
Mungkin saja sudah di-gangbang.
Dasar bajingan! Alexander menggaruk pelan keningnya sebelum membuang puntung rokok ke pelataran dan membuatnya remuk di bawah sol pantofel.
Sekarang bagaimana? Sebaiknya bagaimana? Alexander kembali ke dalam mobilnya, duduk di balik kemudi dan menyalakan musik.
"Wise men say...
Only fools rush in...
But I can't help falling in love with you..." Suara bariton Elvis Presley mengantar mobilnya meninggalkan parkiran dan membelah jalanan yang berangsur sepi.
Alexander menatap gadis muda yang kini terbaring di atas ranjangnya. Ngorok, dengan bibir terbuka lebar. Meski begitu, tidak mengurangi pesona yang dimiliki gadis berambut hitam hingga sebatas pinggang itu.
Alexander duduk pelan di tepi ranjang, kemudian meletakkan kaki Soraya di atas pangkuannya, melepas sepatu yang dikenakan gadis itu sambil meneliti ukurannya.
40?
Kakimu besar juga. Alexander tersenyum kecil.
Detik berikutnya kedua mata Alexander tak kuasa menentang naluri, untuk menyusuri keindahan sepasang tungkai Soraya. Dimulai dari pergelangan kaki yang kecil, betis yang ramping, hingga sepasang paha yang sintal.
Alexander menjilati bibirnya sejenak. Nuraninya sedang berjuang menentang nafsu bergejolak yang siap menuntun kedua tangannya mengoyak pakaian kekurangan bahan gadis yang terbaring pasrah di ranjangnya.
Pakaian yang luar biasa provokatif, membuat lelaki alim manapun sanggup merasa bajingan seketika dengan sekali lihat, karena diam-diam menikmati kulit kuning yang indah sambil memendam imajinasi. Atasan blink-blink, yang hanya menutup dada bagian depan namun menampakkan seluruh sisi samping payudara, ah apa nama model pakaian itu? Alexander tidak paham.
Pakaian yang dikenakan Soraya seperti baru saja digunting dari toko kain. Rok mini yang menampilkan seluruh paha dengan belahan samping yang mempertontonkan garis pantat. Alexander menggeleng prihatin. Selera berpakaian gadis ini buruk. Namun memang merangsang. Ditambah, gadis ini cantik. Berwajah lugu seperti baru pertama kali keluar dari rumah, tetapi menjelma liar saat berdua saja dengannya di dalam mobil. Sungguh pesona yang sulit Alexander abaikan. Kabar baiknya, ia bukan lelaki alim. Sama sekali bukan.
Alexander menarik selimut demi menutupi tubuh Soraya dari tatapan mesumnya sendiri. Mencoba bersikap gentleman, meski tahu dirinya lebih pantas dilabeli bajingan.
Tidak, ia hanya laki-laki nakal. Sebut saja begitu. Yang bajingan dua pemuda di parkiran tadi, dan seorang lagi yang bernama Brandon. Alexander rasa, gerombolan itu pantas disebut keparat juga.
Alexander tersenyum geli saat dengkuran Soraya semakin keras. Sepertinya malam ini ia harus tidur di sofa. Alexander juga heran, kenapa ia mau repot-repot begini? Ia bisa saja meninggalkan gadis ini di kamar hotel dan pulang tanpa beban mengurusi anak orang.
Mungkin karena gadis ini cantik?
........ dan montok?
Sungguh tipenya.
Atau mungkin ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada gadis ini saat sendirian di kamar hotel?
Ah entahlah.
Jemari Alexander tak tahan untuk menyusuri permukaan bibir Soraya dan mengelus dagu runcing itu sejenak, kemudian pelan-pelan mengatupkan bibir ranum kemerahan itu. Bibir yang tadi menciuminya dengan serampangan dan terburu-buru. Air liur gadis itu membasahi pipinya. Alexander jadi ingat, ia harus segera mencuci muka.
Alexander mengambil satu bantal kemudian berbalik dan mematikan lampu. Sudah cukup. Ia tidak ingin hilang akal
________________________
Soraya membuka kedua mata, saat merasakan lapar di perutnya yang berbunyi nyaring.
Sejenak ia mengejan, demi buang angin.
"Bruuuut!"
Ah, lega.
Apa? Aku dimana?
Soraya yang masih nyaman memeluk guling mengangkat pipinya dari atas bantal.
Kamar yang luas, dengan dinding abu-abu polos. Kedua matanya menangkap tirai tipis yang menutupi jendela besar. Soraya dapat melihat gedung-gedung pencakar langit yang berlomba tampil menyentuh langit.
Soraya memutar kedua matanya menjelajahi ruangan yang benar-benar asing. TV flat berukuran besar di atas bufet hitam, lampu dinding keemasan, dan ranjang dengan sprei putih. Soraya menelan ludah sembari mengurai otaknya yang masih kusut.
Semalam, ke club.
Bersama teman-teman.
Disuruh jaga sofa.
Lalu....
Muncul sekelumit wajah tampan berahang tegas, rambut hitam dengan poni membelah dahi, tatap tajam yang melunak dan bibir yang loyal menyungging senyuman karismatik.
Om itu!
Soraya terduduk dan menatap panik dirinya sendiri. Ia luar biasa lega saat mendapati dirinya masih berpakaian lengkap, dengan selimut tebal yang membuat tubuhnya hangat di ruangan ber-AC ini.
Tunggu! Aku ngapain sama om itu? Soraya berusaha merunut kejadian semalam, yang membuatnya berakhir sendirian di kamar asing ini. Namun yang ia ingat hanyalah wajah tampan yang tersenyum hangat, juga harum aroma musk yang entah bagaimana masih tertinggal di ujung hidungnya.
Soraya mengelus pelan kedua lengan demi mendekap dirinya sendiri. Berusaha membuat dirinya nyaman dalam situasi yang serba janggal. Ia menatap bantal dan membawanya ke dalam pelukan.
Tercium aroma yang sama. Aroma harum si Om Ganteng.
Soraya memejamkan mata, berusaha kembali mengingat apa yang terjadi setelah perkenalan singkat semalam. Namun, ia tidak berhasil mengingat apa pun.
Soraya memutuskan menuruni ranjang dan mengelilingi kamar bernuansa monokrom. Tidak banyak perabotan di kamar ini. Kaki telanjangnya bersentuhan langsung dengan karpet abu-abu gelap. Soraya membuka pintu dan melihat ruangan luas yang sepi.
Sofa hitam besar berlapis kulit segera mencuri perhatian. Kemudian menyusul perabotan minimalis yang juga serba hitam. Mantel hitam tersampir begitu saja di sandaran sofa. Terasa janggal, karena segala sesuatu di tempat ini terlihat begitu tertata rapi. Alih-alih seperti tempat tinggal, tempat ini begitu mirip seperti hotel. AC sentral, lantai marmer hitam, TV flat besar di depan sofa, dan aneka remote yang diletakkan rapi di dalam suatu wadah yang menempel di dinding.
Soraya memungut mantel hitam di sofa. Terlihat mahal dan elegan. Kedua matanya menangkap merek Dolce&Gabbana pada bagian dalam mantel. Namun bukan merek branded itu yang membuatnya terkesima, melainkan jejak aroma harum yang menempel pada mantel yang kini ia hirup dalam-dalam.
Wangi maskulin.
Soraya kembali meletakkan mantel itu pada tempatnya.
Kedua matanya menatap takjub jendela kaca menjelma dinding setengah ruangan. Soraya berjalan mendekati rak buku dan berdecak kagum, ketika ujung jemarinya iseng mendarat di salah satu buku dan ia tidak mendapati debu.
Tatapannya terhenti pada sebuah foto berukuran besar di dinding putih tanpa noda. Bibirnya membentuk segaris senyuman kecil saat melihat seorang pria tampan dengan setelan jas di dalam bingkai.
Itu dia. Om itu.
Soraya menatap lebih lama foto besar di dinding dengan sepenuh perasaan takjub.
Emang ganteng banget. Om ini apa sih? Tuan muda?
Senyuman Soraya tanpa sadar kian melebar, saat kedua matanya sibuk mengamati foto-foto lain dalam bingkai yang diletakkan berderet di atas bufet. Hanya ada foto om itu seorang diri. Tidak ada foto keluarga. Bahkan foto masa kecil juga tidak ada. Sangat berbeda dengan keadaan di rumahnya, di mana banyak ditemukan foto keluarga dan foto masa kecil tiap anggota keluarga. Tapi Soraya tidak ingin ambil pusing. Mungkin si Om memang hanya ingin memajang foto dirinya sendiri.
Sepertinya, si om memang belum menikah. Sungguh Soraya menyukai fakta yang sesuai dengan pengakuan lelaki itu semalam.
Ini rumah si om Ganteng itu. Soraya bernapas lega. Entah mengapa dalam sekejap merasa aman dan juga nyaman. Kedua matanya kini beralih menatap dapur yang menjadi satu dengan meja bar minimalis. Bahkan di sini tidak ada meja makan. Soraya menarik kesimpulan, sepertinya si om memang hidup sendiri dan mungkin jarang makan di rumah. Tunggu. Sepertinya ini lebih tepat disebut apartemen daripada rumah. Soraya kembali berjalan sambil mengamati ruang yang cukup luas tanpa sekat. Ia berjalan mendekati kulkas empat pintu dan menemukan catatan kecil menempel di sana.
Ada sandwich di atas meja bar. Kartu nama juga. Telpon saya kapan-kapan...
Kamu: maaf semalam saya mabuk. Terima kasih tumpangannya.
Sama-sama. Oh ya, jangan pulang pake pakaian kayak gitu. Ada mantel di sofa. Pake aja. Jangan lupa cuci tangan sebelum makan :)
How cute! Soraya tersenyum lebar dan segera duduk di balik meja bar bermotif marble hitam yang terasa dingin. Ia melihat nampan dengan sandwich yang masih terbungkus plastik, dan minuman instan yang masih tersegel.
Om ini apa? Pengusaha katering? Kenapa dari kemarin minuman dan makanannya masih segelan? Soraya membuka cepat bungkusan sandwich di tangannya dan melupakan pesan cuci tangan pada notes yang baru saja ia baca.
Oh ya!! Pil! Terus lanjut kenalan.....
Sambil mengunyah Soraya berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi setelahnya. Namun lagi-lagi, ia tidak berhasil mengingat apapun setelah perkenalan itu. Kedua matanya kini beralih menatap kartu nama di atas nampan.
Alexander Ricard
Executive Vice President - PT Bank Amec (Persero) Tbk
Dagu Soraya terjatuh begitu saja saat membaca kartu nama yang sengaja ditinggalkan untuknya.
O... jadi si om eksmud?
My God!!
Sandwich-nya terjatuh ke atas nampan. Soraya, setengah panik berlari kembali ke dalam kamar dan berusaha menemukan tas-nya. Ternyata diletakkan di atas meja nakas samping tempat tidur. Kemudian dengan tergesa, memindai nomor Alexander ke dalam ponselnya. Soraya membuka percakapan di grup dan memilih melewatkan puluhan unread message, demi mengetik cepat dengan dentuman di dada.
'Girlllssss!!!! Gue di apart om om!'
'Hah? om om mana? Lo nggak pa-pa?'
'Soraya, lo gpp kan? Kok bisa?
'Kita nyariin lo. Ini rencana mau ke kantor polisi.'
'Soraya, pliss bilang lo gpp.'
Dalam sekejap, grup WhatsApp yang sempat sunyi dan hanya berisi lima orang -termasuk dirinya- kembali ramai.
Soraya sudah berada di dalam taksi, saat sibuk menerima panggilan video call dari grup chat.
Entah bagaimana, tadi tiba-tiba seorang pemuda berwajah imut muncul dan mengantarnya turun ke lobi. Pemuda yang mengaku asisten pribadi Alexander Richard itu, juga memesan taksi untuknya.
Jangan bayangkan pemuda itu berpenampilan seperti ART pada umumnya, atau pun bak amang-amang tukang kebun. Asisten pribadi Alexander bahkan berwajah tampan, dengan tubuh ramping dan berpenampilan rapi. Tunggu. Pemuda berwajah imut itu memang bukan ART. Pemuda itu menyebut dirinya sebagai asisten pribadi Om Alexander .
Asisten pribadi berwajah imut, mantel Dolce&Gabbana yang kini membungkus tubuhnya, private lift, dan private lobby. Soraya tidak percaya pagi ini ia terbangun di apartemen mewah, di kawasan paling strategis ibu kota. Bahkan saat ia menyempatkan untuk googling, apartemen yang ditempati Alexander hanya memiliki 19 unit, dimana satu lantai hanya untuk 1 unit.
Asisten pribadi Alexander , tiba-tiba muncul dari balik sebuah pintu. Memperkenalkan diri dengan sopan, kemudian mengatakan taksi yang sudah dipesan sudah menunggu di bawah. Tadi ia mengekor di belakang pemuda itu dan melihat beberapa pintu lain, lukisan besar, juga perabotan yang terlihat mahal. Segalanya tertata rapi namun Soraya tidak melihat satu orang pun asisten rumah tangga. Apa Alexander membersihkan sendiri rak bukunya hingga tidak menyisakan debu sedikit pun? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul begitu saja di kepalanya.
"Ini lantai berapa?" tanyanya tadi pada si asisten pribadi saat mereka tengah menunggu lift di private lobby. Tidak banyak perabotan di private lobby itu. Hanya ada bufet, tempat payung, cermin berbingkai keemasan, dan bunga palsu di dalam vas acrylic keemasan berukuran sedang.
"Lantai tujuh belas," jawab si asisten sembari menekan tombol menuju lobi.
Rasanya sulit dipercaya. Soraya berharap ia tidak terbangun dari tidur dan mendapati ini semua hanyalah mimpi.
"Pas ketemuan aja ya gue ceritain. Gue belom mandi, mau basuh-basuh muka dulu. Tar gue ceritain betapa gantengnya si om..." ucapan Soraya terhenti saat menyadari lirikan supir taksi dari spion. "Udah dulu ya, bye!" Soraya buru-buru menutup panggilan video.
"Maaf Kak, bukan bermaksud gimana-gimana. Dulu saya sering malam-malam nganterin klien ke apartemen tempat saya jemput Kakak tadi... " Bapak supir taksi yang sedari tadi diam mulai membuka obrolan.
Klien? Soraya masih memandangi supir taksi yang sesekali melirik melalui spion.
"Klien saya itu pelanggannya tinggal di apartemen itu tadi. Kalau nggak salah lantai 12 katanya. Ekspatriat, direktur salah satu perusahaan swasta."
Bibir Soraya menganga. Jangan-jangan si Bapak Supir mengira dia adalah....
"Setahu saya di sana bahkan ada jacuzzi. Apa Kakak baru pertama kali ke sana? Saya sering dapet orderan ke situ, tapi nggak pernah lihat Kakaknya... " Supir taksi berusaha tersenyum ramah.
"Oh hahaha... nggak gitu Pak...."
"Tenang. Saya bisa simpan rahasia. Ini kartu nama saya." Sebelah tangan bapak supir terjulur mengambil selembar kartu dari dashboard. Kartu itu terselip di antara dua jemari pak supir, menunggu diambil oleh Soraya.
Bahkan supir taksi memberinya kartu nama? Soraya pada akhirnya mengambil kartu nama itu, agar tangan bapak supir tidak pegal.
"Kalau butuh kendaraan malam-malam atau pagi buta bisa hubungi saya." Bapak supir taksi kembali melirik melalui spion. "Dijamin aman. Bahkan kakak bisa bebas ganti baju, atau nitip make up di sini buat touch up di jalan. Semua bisa diatur. Saya sering kok, nganterin cewek ke apart tadi atau apart sekitar situ."
"Oh.... " Soraya tersenyum getir sembari menggaruk sisi kepalanya yang tidak gatal. Gara-gara ia bercerita tidak sempat mandi kepada teman-temannya tadi, auto dikira lonte. Tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan di kepalanya.
"Jadi Bapak sering dapet orderan ke apartemen tadi?"
"Lumayan."
"Mmm... lantai 17, eh maksud saya apa Bapak pernah nganter cewek yang dapet orderan ke lantai 17? "
Bapak supir taksi terkekeh pelan. "Saya nggak tahu mereka pada ke lantai berapa Kak. Tapi kebetulan salah satu klien saya yang sering ke sana, pernah cerita pelanggannya bos dari Jepang, tinggal di lantai dua belas."
"Oh..." Soraya manggut-manggut sebelum terlintas lagi pertanyaan lainnya. "Kalau asisten, eh maksud saya cowok yang pesen taksi ini tadi, sering order?"
Bapak supir taksi terdiam beberapa saat sebelum menjawab, "Nggak begitu sering sih... "
Entah kenapa, hati Soraya sedikit kecewa saat mendengar jawaban barusan. Berarti asisten pribadi Alexander menyimpan nomor bapak supir ini dan menghubungi secara pribadi untuk mengantarnya pulang?
Sekarang semuanya menjadi sedikit jelas bagi Soraya. Pantas, bapak supir taksi mengira dirinya seorang lonte. Sepertinya, beberapa wanita panggilan Alexander juga pernah menggunakan jasa bapak ini.
Oh, ayolah. Tampan, lajang, karismatik, mapan, dan tinggal di apartemen mewah. Berikan satu alasan masuk akal yang mengharuskan Alexander tidak main perempuan. Soraya menggigiti bibir bawahnya sembari menatap sedih pada mantel yang ia kenakan.
"Jangan kelamaan jadi lonte Kak," ujar Bapak Supir taksi. "Ada salah satu klien saya, kadang bawa amplopan yang isinya dollar. Dia nggak beli barang branded, atau coat seperti yang Kakak pakai. Dia sekolah S2, dan sekarang sudah jadi notaris. Jangan kelamaan Kak... "
"Pak saya bukan lonte," sahut Soraya cepat. Dalam hati sedikit heran karena kedua mata bapak supir taksi ini sungguh jeli dalam menilai barang. Tapi memang mantel yang ia kenakan terkesan sangat elegan juga mahal. Mungkin siapa pun dengan cepat bisa menyimpulkan bahwa ia mengenakan mantel bermerek.
"Oh ya?" Bapak supir taksi terlihat heran. "Terus Kakak ini apa?"
"Pokoknya bukan lonte. Kenapa Bapak ngira saya lonte?"
Bapak Supir Taksi mengusap dagunya sejenak. "Cowok yang tadi itu," jawabnya kemudian. "Beberapa kali dia pesen taksi saya buat nganter pulang lonte.... "
Soraya diam seribu bahasa.
'Selamat pagi Om Alexander . Makasih banyak buat mantel dan sarapannya, Om. Makasih juga buat tumpangannya. Kapan bisa saya balikin mantel ini langsung ke Om?
Soraya.'
Soraya membaca lagi, entah untuk yang keberapa kali pesannya di kolom chat. Mungkin vice president memang sesibuk itu hingga kolom chat-nya tidak kunjung dibuka.
Padahal, status Alexander online.
Sudah lewat satu hari. Apa ia terlalu cepat menghubungi Alexander ? Soraya menimbang-nimbang sikap agresif yang kini ia sesali.
Seharusnya ia sedikit jual mahal.
Seharusnya ia menghubungi Alexander tiga hari lagi.
Seharusnya ia membuat lelaki itu penasaran.
Namun sekali lagi, semua sudah terlambat bagi Soraya. Ia terlanjur tenggelam dalam pikirannya sendiri. Pertemuan singkat dengan Alexander , membawanya pada pesona misterius lelaki itu.
Lelaki itu menjadi penyelamatnya di kelab malam, tetapi juga beberapa kali menyewa pelacur. Bahkan asisten pribadi Alexander membukakan pintu taksi untuknya.
Jadi Alexander itu hitam atau putih? Alexander malaikat atau bajingan? Soraya tenggelam dalam pertentangan hatinya sendiri.
Soraya teramat paham, jika pakaiannya malam itu mengundang tatapan penuh nafsu para lelaki di kelab malam. Bahkan seseorang yang sinting nekat memasukkan pil ke dalam minumannya. Namun Alexander , bersikap seperti pria terhormat.
Kulitnya tidak tergores sedikitpun. Celana dalamnya tidak bergeser dan ia pulang dari tempat Alexander dalam keadaan kenyang dan selamat.
Padahal dengan kecantikan dan pesonanya, Soraya tahu bisa membuat lelaki manapun hilang akal. Tapi Alexander , tidak hilang akal. Lelaki itu bahkan berhasil membuatnya merasa kehilangan kesempatan dalam sekejap.
Tidak, Soraya baru saja memulai dan ia tidak ingin kehilangan kesempatan dengan Alexander begitu saja.
Tampan dengan jabatan vice president. Alexander dengan mudah menyingkirkan para pemuda kandidat lain yang sangat berharap menjadi kekasihnya.
Soraya menatap frustasi mantel Dolce&Gabanna yang ia gantung di lemari. Mantel itu kini bersanding dengan celana jeans, bra, kaos, dan syal miliknya. Soraya tidak ingin mantel, ia ingin Alexander . Rasanya belum ada pemuda manapun yang bisa membuatnya penasaran setengah mati seperti ini.
Soraya merasa dunianya berputar begitu cepat. Ia baru saja menapaki jalan kebebasan sebagai mahasiswi perantauan. Jauh dari orang tua dan ingin mencecap lebih banyak pengalaman adalah hal yang selama ini ia impi-impikan.
Soraya hanya ingin pergi bersenang-senang dengan teman satu circle-nya, clubbing, berkenalan dengan para pemuda tampan dan menjadikan salah satu dari mereka sebagai kekasihnya. Ia baru saja menjelma dari Soraya si anak rumahan menjadi Soraya si social butterfly di kampusnya.
Soraya menikmati perubahan drastis dalam hidupnya. Ia bahkan berteman dengan gadis-gadis populer di fakultasnya, dan selalu menarik atensi setiap waktu. Soraya merasa berhasil melepas predikat gadis kuper, gadis cupu, juga gadis alim yang selama ini menjadi identitasnya.
Sudah semenjak tahun kedua di bangku sekolah menengah atas ia ingin menjadi seperti itu, tipikal gadis keren dan populer yang hanya mengencani cowok-cowok top tier. Ia ingin mengencani deretan cowok tampan dan populer lalu bersenang-senang. Namun, ia tidak pernah bisa karena tidak memiliki keberanian untuk itu. Ayahnya selalu bersikap protektif dan selalu membatasi pergaulannya. Predikat gadis baik-baik, terlanjur melekat kepadanya. Ditambah, penampilannya saat di SMA tergolong biasa-biasa saja. Sama sekali jauh dari definisi keren.
Bersekolah di SMA favorit, tidak pernah kekurangan uang jajan, berteman dengan gadis baik-baik, juga tumbuh di keluarga harmonis. Sebenarnya tidak ada yang kurang dalam hidupnya. Namun bagi Soraya, segalanya jadi membosankan.
Ia bosan menjadi gadis baik-baik yang harus pulang sebelum pukul sembilan malam. Ia ingin tahu rasanya merokok dan menenggak bir. Ia ingin tahu rasanya pacaran dengan cowok badboy yang bisa membuat iri gadis lainnya. Ia ingin mengenakan bikini dan mengunggah foto seksinya di Instagram. Ia ingin bersenang-senang di kelab sepanjang malam dan bertingkah sedikit gila. Soraya hanya ingin menikmati dinamika kebebasannya saat ini dan menjadi pusat perhatian. Namun semua berjalan lebih gila daripada bayangannya. Alih-alih mendapat kenalan cowok bad boy di kelab, ia malah dibawa pulang om-om vice president.
Soraya tersenyum sendiri membayangkan, bagaimana reaksi teman-temannya nanti saat ia menceritakan kisahnya ini dengan bangga.
Getaran pada ponselnya membuat Soraya mengecek notifikasi di layar dengan cepat. Jantungnya nyaris melompat, saat ia melihat chat masuk dari Alexander .
Akhirnya! Hati Soraya bersorak kegirangan.
'Hai, maaf baru balas. Chat kamu ketumpuk. Saya cek jadwal dulu ya. Nanti saya kabari lagi.'
Soraya termenung menatap layar ponselnya. Kenapa Alexander bersikap seolah tidak begitu tertarik padanya?