Seorang lelaki menerima telepon dari seseorang di flatnya.
"Hallo, ada apa Rick?" tanya lelaki itu pada orang yang meneleponnya. Dia menyalakan rokok dan berjalan ke sisi jendela. Membuka kaca jendela lalu mengepulkan asap rokok itu ke udara. Dingin angin malam berhembus menerpa wajah tampannya.
"Ada pekerjaan baru untukmu, Sam. Kau sedang butuh uangkan?" ucap seorang lelaki di seberang.
"Asal bukan memperkosa dan menculik anak kecil, aku terima," sahut lelaki yang dipanggil Sam itu.
Saat itu, lelaki bernama Sammy itu duduk di jendela kamar dengan tubuh yang bersandar ke dinding dan satu kaki yang terangkat. Siku tangannya yang memegang rokok bertumpu pada lutut kakinya. Dia kembali menghisap rokoknya.
Suara tawa lelaki bernama Ricky di seberang terdengar pecah. "Sammy-Sammy, tenang saja. Aku sudah paham di luar kepala mengenai apa saja persyaratanmu dalam menerima pekerjaan. Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu! Kau itu memang manusia paling aneh yang pernah aku kenal. Diberi pekerjaan enak, tapi malah menolak!" kata Ricky panjang lebar.
"Tidak usah banyak bicara! Cepat katakan, apa pekerjaannya?" Teriak Sammy yang malas mendengar basa-basi Ricky.
Suara jeritan seorang perempuan dari arah jalanan gelap dan sepi di bawahnya, menarik perhatian Sammy.
Dilihatnya seorang perempuan berlari terseok-seok menghindari kejaran beberapa lelaki berpostur tubuh tinggi besar.
Tampaknya perempuan itu berhasil tertangkap.
"Sam-Sam? Sammy! Kau masih mendengarku tidak?" Ricky terus berteriak saat dia menyadari orang yang dia ajak bicara tak kunjung menanggapi perkataannya.
"I-iya, sorry. Baiklah lanjutkan penjelasanmu," kata Sammy dengan fokusnya yang mulai terbagi.
Pasalnya jeritan si perempuan itu terus terdengar olehnya hingga detik ini. Entah apa yang sedang terjadi di bawah sana, Sammy sendiri tidak tahu dan tak berniat ingin tahu.
"Ini perintah dari salah satu orang penting di Arab Saudi, dia orang terpandang di timur tengah," kata Ricky melanjutkan.
"Iya, memangnya apa yang harus aku lakukan?" tanya Sammy.
"Kau ditugaskan untuk membunuh seorang Ustadz bernama Rakha Al-Farizi. Ustadz asal Indonesia. Dia Ustadz terkenal. Jadi kau tidak akan kesulitan mencari infomasi tentang dia," jelas Ricky.
"ARGH... TOLONG... Hentikan! Aku mohon..."
Lagi dan lagi suara jeritan lirih itu membuat Sammy tidak konsentrasi berbicara dengan Ricky.
Meski enggan, akhirnya Sammy menoleh ke bawah dan melihat perempuan itu kini sedang menjadi bulan-bulanan beberapa lelaki yang mengejarnya tadi, bahkan pakaian si perempuan itu sudah terkoyak sebagian.
SHIT!
Sammy membuang puntung rokoknya.
Memutus sambungan teleponnya dan langsung beranjak turun dari flat.
Pemandangan tak senonoh tertangkap penglihatan Sammy begitu dia berjalan mendekati sekawanan lelaki yang mengerubungi perempuan malang tadi.
Mereka memperkosa perempuan itu di jalanan!
Hingga akhirnya amukan Sammy mampu melumpuhkan sekawanan lelaki brengsek itu.
Mereka berlari tunggang langgang karena tak ingin mati di tangan Sammy yang memukuli mereka secara membabi buta.
Dengan wajah babak belur dan beberapa luka sayatan pisau di perut, Sammy menoleh ke arah mobil yang tadi dijadikan tempat mesum para lelaki itu.
Dia berusaha mencari sosok perempuan tadi.
Tapi sayangnya, Sammy tak berhasil menemukan perempuan itu.
Sammy berjalan sedikit tertatih ke arah mobil untuk mencari sekali lagi, siapa tahu perempuan itu bersembunyi dibalik mobil.
Ternyata tetap tidak ada.
Perempuan itu sepertinya memang sudah pergi.
Sammy hanya menemukan sebuah tas tangan yang kemungkinan milik perempuan itu di lokasi kejadian.
Lelaki itu membawa tas tangan itu ke flatnya lalu memeriksa isinya.
Hanya ada sebuah buku diary, beberapa lembar uang dollar yang jumlahnya tidak banyak, paspor, visa dan tanda pengenal.
Sammy mengambil kartu tanda pengenal itu dan membaca tulisan di sana.
Nama : RHEYNA KIRANA
Tempat/Tgl Lahir : BANTUL, 01-12-19XX
Jenis kelamin : PEREMPUAN
Alamat : JAKARTA
Agama : ISLAM
Status Pernikahan : BELUM KAWIN
Pekerjaan. : Karyawati Swasta
Kewarganegaraan : WNI
Kedua bola mata Sammy terbelalak ketika melihat wajah di foto kartu tanda pengenal itu.
Dia Rheyna, wanita yang sempat Sammy cari-cari kemarin.
Ternyata, gadis itu orang Indonesia dan dia seorang muslim?
Masa sebelum prolog...
Beberapa lelaki menodongkan pistol ke arah kepala dua orang manusia yang berlutut di lantai dengan dua kaki dan tangan yang terikat, serta mulut mereka yang disumpal kain.
"Jangan! Jangan sakiti mereka!" Teriak seorang lelaki berseragam militer yang keadaannya sama dengan dua orang tadi. Hanya saja mulut lelaki itu dibiarkan terbuka.
"Mamah... Papah... Kak Sam... Tolong... Lepas brengsek!" Jerit seorang perempuan lain di sudut ruangan yang berusaha melepaskan diri dari pelukan seorang lelaki yang hendak memperkosanya.
"Max, aku mohon! Jangan sakiti adikku! Lepaskan Anna!" Teriak lelaki itu lagi.
Lelaki bernama Max itu menyeringai saat sebelah tangannya berhasil menarik paksa satu-satunya pakaian yang masih membalut tubuh Anna.
Dia memperkosa Anna dihadapan keluarga wanita itu.
Ayah Anna, ibu Anna dan Kakak laki-laki Anna yang bernama Sammy.
"BAJINGAN! KEPARAT! KAMU PASTI MATI DI TANGANKU MAX! BIADAB!" Lelaki bernama Sammy itu terus meracau dengan caci maki kasar yang keluar tanpa henti dari mulutnya.
Tangisannya tak mampu lagi dia tahan melihat adiknya menjadi bulan-bulanan Max.
Sementara dia tak mampu melakukan apa-apa.
Sammy benar-benar merasa tak berguna.
Tubuh Anna meringkuk di pojokan ruang tamu setelah Max berhasil menikmatinya dengan sangat leluasa.
Max memakai kembali celananya dan merapikan pakaiannya yang berantakan.
Dia berjalan ke arah dua orang manusia renta yang duduk berlutut tadi.
Max mengambil alih salah satu senjata di tangan anak buahnya. Menekannya kuat-kuat di pelipis seorang wanita paruh baya bernama Larasati. Dia ibu Sammy dan Anna.
"Tolong, jangan bunuh ibuku! Bunuh aku saja! Jangan lukai mereka!" Kali ini Sammy tidak berteriak melainkan bicara dengan nada memelas dan memohon pada Max. Berharap lelaki itu berbelas kasihan pada keluarganya.
"Aku sudah bilangkan, aku paling tidak suka ditolak! Aku datang melamar Anna secara baik-baik! Tapi perempuan ini malah mengusirku!" Max memukul kepala Larasati dengan ujung senjata di tangannya.
Darah segar mengalir dari kepala wanita itu yang kini tersungkur di lantai.
"Ibu..." pekik Sammy tak berdaya. Lilitan tali yang mengikat tubuhnya sangat kuat, Sammy tak mampu berbuat lebih banyak untuk menolong Ibunya.
"Dan satu hal lagi yang membuatku muak, kau ingin tahu Sammy?" ucap Max kala itu.
Max mendekat ke arah Sammy dan berbisik di telinga lelaki itu.
"Ketika aku mengatakan pada Anna bahwa aku mencintainya, Anna justru mengatakan bahwa dia mencintai lelaki lain. Dan hebatnya, lelaki itu adalah kau, Mayor Sammy Immanuel,"
Max mengangkat kembali kepalanya, lalu dia bertepuk tangan.
"Sayangnya, drama romantis dua pasangan Kakak dan adik angkat itu kini harus berakhir tragis..."
Tatapan Max tertuju pada salah satu anak buahnya yang masih mengarahkan senjatanya ke kepala lelaki tua di sana.
Seketika sebuah letusan senjata terdengar.
"AYAAAHHH..." teriak Sammy berbarengan dengan rintihan tangis Ibunya yang terluka, juga Anna.
Tubuh lelaki paruh baya itu rubuh tepat di sisi tubuh istrinya yang tak lama kemudian menyusulnya tepat setelah dua letusan senjata kembali terdengar.
"IBUUUU..." teriak Sammy dan Anna tak berdaya.
Sammy masih menangis begitu pun Anna.
Tatapannya menusuk ke wajah Max.
Max yang saat itu memerintahkan pada anak buahnya untuk membawa Anna pergi, ikut bersama kawanannya, setelah lelaki itu berhasil melumpuhkan Sammy.
Max menembak dada Sammy dengan dua kali tembakan.
Saat itu dalam posisi setengah sadar, Sammy masih sempat mendengar teriakan Anna memanggil namanya.
Hingga setelahnya pandangan lelaki itu mengabur dan gelap.
*
"ANNAAA!"
Sammy terbangun dari tidur.
Dia terduduk di atas kasur lantai dengan tubuh yang basah oleh keringat.
Padahal cuaca di luar flatnya saat itu sangat dingin.
Mimpi buruk itu terus menghantuinya.
Membuat Sammy kembali larut dalam perasaan bersalahnya.
Dalam ketidakberdayaannya.
Sammy pikir, setelah dia berhasil membalaskan dendam keluarganya, maka semua kenangan pahit itu akan menghilang seiring waktu.
Nyatanya, Sammy salah.
Meski dia telah berhasil membunuh Max dengan tangannya sendiri, tapi perasaan bersalah itu tetap saja mengukung dirinya.
Memenjarakannya dengan sangat kejam.
Sammy bangkit dari kasur lantai yang menjadi tempat dirinya melepas penat dan lelah. Lelaki itu berjalan ke arah dapur untuk mengambil minuman. Sayangnya, dia tak menemukan stok air mineral di dalam lemari esnya.
Yang tersisa di sana hanyalah sebotol beer bermerk murah pemberian Ricky, sahabatnya.
Sammy mengambil botol beer itu, membukanya dan menenggaknya hingga habis tak bersisa.
Lelaki itu berjalan kembali menuju kamar.
Dia melepas kausnya yang basah.
Bertelanjang dada dia membuka jendela kamarnya lalu menyulut rokok.
Ditatapnya langit kelam di atas sana.
Sekelebat wajah gadis manis bernama Anna hadir dalam benaknya.
"Aku mencintaimu, Kak. Aku sudah menolak lamaran Max. Bahkan ayah dan Ibu sudah merestui hubungan kita..."
Ucapan terakhir Anna sebelum tragedi itu masih melekat kuat dalam ingatannya.
"Maaf, Anna. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya menganggapmu sebagai seorang adik,"
Menjadi sebuah penyesalan besar untuk Sammy karena dia sudah menyakiti hati Anna sebelum adiknya itu dibawa pergi oleh Max.
Entah di mana kini Anna berada.
Sammy sendiri tidak tahu.
Sebab, Anna berhasil kabur dari tawanan Max, sebelum kedatangan Sammy untuk membunuh lelaki biadab itu.
Itulah sebabnya, kini Sammy terdampar di negara antah berantah ini, setelah Ricky sahabatnya memberinya informasi mengenai keberadaan Anna di negara ini, yakni Amerika serikat.
Tepatnya, di Las Vegas.
Sayangnya, setelah berbulan-bulan Sammy berada di sini, dia tak sama sekali menemukan titik terang atas keberadaan Anna.
Bahkan setelah uang dalam rekeningnya kini semakin menipis.
Uang yang dia dapatkan dari profesi baru yang akhir-akhir ini dia geluti.
Sebuah profesi yang muncul akibat rasa kecewanya terhadap ketidakadilan yang dia terima.
Setelah dirinya difitnah hingga menyebabkan pemecatan secara tidak hormat yang dialaminya di dunia militer.
Hidup dengan penuh penderitaan akibat siksaan secara brutal dan tak berkeprimanusiaan yang diterimanya selama mendekam di balik jeruji besi.
Semua hal buruk itu perlahan menimbulkan pemberontakan dalam diri Sammy. Hingga akhirnya, lelaki itu memutuskan sesuatu yang sebelumnya bahkan tak pernah terpikir dalam benaknya sekali pun.
Yaitu, menjadi seorang pembunuh bayaran.
"You are amazing woman, sometime we play again huh?" ucap seorang lelaki bule dengan senyum penuh kepuasan. Dia mengecup bahu polos perempuan di sampingnya yang sedang menangis di balik selimut. Lelaki itu bangkit dari tempat tidur, memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai, memakainya santai sambil bersiul-siul kecil.
Lelaki bule itu sempat melempar beberapa lembar uang dollar ke atas tempat tidur sebelum pergi, hitung-hitung bonus karena dia merasa sangat puas.
Sepeninggal lelaki bule tadi, dua orang lelaki berpakaian serba hitam masuk. Mereka adalah bodyguard yang ditugaskan oleh seorang germo bernama Grace untuk mengawal salah satu harta berharga milik Mami Grace, yaitu Rheyna.
Seorang gadis Asia berparas cantik yang dibelinya dari salah satu mucikari bernama Kang Sun Woo.
"Cepat berpakaian, tamumu selanjutnya sudah menunggu," ucap salah satu bodyguard itu, melempar pakaian Rheyna ke wajah sang gadis.
Malu-malu Rheyna bangkit dengan selimut yang terlilit di tubuhnya, dia berlari ke kamar mandi untuk berpakaian.
Sementara ke dua lelaki bertubuh kekar itu terlihat senyum-senyum memandangi Rheyna.
*****
Dengan tubuh lelah bermandikan keringat, Rheyna masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamar yang disediakan Mami Grace untuknya.
Tugasnya malam ini sudah selesai, setelah dia melayani empat lelaki secara bergantian.
Rasa sakit dan perih di area apitan selangkangannya kian menjadi saat Rheyna hendak membasuhnya. Membersihkannya berkali-kali.
Rheyna mandi setelah menggosok keseluruhan anggota tubuhnya. Membasuhnya dengan air tanpa sedikit pun celah yang tersisa.
Dia melafalkan doa mandi junub berulang-ulang.
Air matanya meleleh dalam siraman air.
Selesai mandi, Rheyna mengambil wudhu untuk menunaikan shalat.
Meski tak tahu, apakah Allah berkenan menerima semua amal ibadahnya?
*
"Rheynakan juga putri Ummi? Iyakan?" ucap Rheyna pada seorang wanita berhijab hitam yang sedang menyiapkan makanan di meja, wanita yang dia panggil dengan sebutan Ummi.
Ummi mengelus kepala Rheyna. "Iya sayang. Rheyna juga putri Ummi. Semua perempuan-perempuan cantik di sini itu putrinya Ummi," jawab Ummi sumringah lalu wanita itu kembali ke dapur.
"Kalau begitu, Rheyna tidak mau diadopsi Ummi," dan kalimat Rheyna kali ini membuat suasana di dalam rumah yang sebelumnya ramai mendadak hening.
*
"Rheyna kenapa tidak mau mengaji?" tanya seorang lelaki berwajah tampan yang biasa Rheyna panggil dengan sebutan Ustadz Rakha. Dia anak lelaki Abi dan Ummi, pemilik panti asuhan tempat Rheyna dibesarkan.
"Rheyna ingin bertemu Mba Zulfa, Ustadz," sahut Rheyna sambil menangis.
"Zulfakan masih di rumah sakit. Besok sore insyaAllah Ustadz akan ke sana untuk menjemput Zulfa pulang," ucap lelaki itu dengan suara lembut dan senyumannya yang hangat.
Rheyna terpana sejenak.
Usianya yang saat itu beranjak remaja mulai menimbulkan perasaan-perasaan tak biasa di hatinya. Perasaan yang Rheyna pikir sebatas kekaguman semata.
Meski setelahnya Rheyna tahu kalau dia menyukai Ustadz itu.
Ustadz yang sering mengajarkan Rheyna mengaji di Yayasan.
*
"Abi, Rheyna tidak mau diadopsi, Rheyna takut Abi..." pinta Rheyna memohon ketika dirinya hendak dibawa pergi oleh ke dua orang tua yang mengadopsinya.
Air mata Rheyna membanjir di pipi.
Abi mengusap puncak kepala Rheyna dengan sayang. "Percaya sama Abi, semua akan baik-baik saja. Mereka orang baik, mereka akan merawatmu dan menjagamu hingga kamu besar. Katanya, ingin menjadi Ustadzah dan sekolah ke Malaysia seperti Mba-mu?" Abi menoleh ke arah Zulfa, kakak angkat Rheyna.
Tangis Rheyna semakin pecah. Terlebih saat Zulfa dan Ummi meraih tubuh Rheyna ke dalam pelukan mereka.
"Doa kami menyertaimu, Rheyna..."
*
Satu titik air mata Rheyna terjatuh mengena di atas mukena yang dia kenakan.
Rheyna masih larut dalam dzikirnya dan kenangan-kenangan indah masa kecilnya di kampung halamannya dahulu.
Bermain air di tepi pantai bersama Mba Aminah.
Main ayunan dengan Mba Zulfa.
Membuat istana pasir untuk Aisyah.
Bermain petak jongkok bersama Mba Latifah dan anak-anak yayasan lain.
Lomba memunguti kerang dan kelomang.
Mencicipi masakan Ummi yang super lezat tiada tandingannya.
Lalu belajar mengaji di sore hari bersama Ustadz Rakha yang menjadi idolanya.
Rheyna kangen kalian...
Bisik Rheyna dalam hati.
Mulutnya masih melantunkan kalimat-kalimat dzikir dalam posisi tubuhnya yang tertidur miring di atas kain yang dia jadikan sajadah.
Hingga setelahnya, Rheyna pun tertidur.
Dia lelah.
Sangat-sangat lelah.
*****
Malam ini Ricky mengatakan ingin mentraktir Sammy minum di sebuah Club malam ternama di kota penuh dosa dan maksiat yang menjadi tempat tinggal mereka selama beberapa bulan terakhir ini.
The sin city atau kota dosa.
Begitulah kiranya julukan untuk Las Vegas yang menjadi kota terpadat di negara bagian Nevada, ibu kota Clark County, Amerika Serikat.
Las Vegas adalah kota resor besar yang terkenal secara internasional untuk industri perjudian, perbelanjaan, dan hiburan malam.
Kota ini terkenal karena hiburan-hiburan malamnya yang penuh kegilaan dan kesenangan. Surga bagi para penikmat seks bebas yang menginginkan hiburan tak biasa.
Mulai dari panti pijat plus-plus, pelacuran, bar striptis, dan pertunjukan kabaret kaum transeksual, semuanya bisa ditemukan di kota ini.
Industri seks adalah hiburan nomor satu di Las Vegas. Prostitusi merupakan industri yang legal di sini.
Ada sebuah distrik yang terkenal sebagai gudangnya prostitusi di salah satu tempat di Las Vegas. Di sana para wisatawan bisa menjumpai penduduk setempat yang menjual obat-obatan terlarang. Ada pula klub yang mempertontonkan tarian telanjang dan tequila dengan harga terjangkau.
Glamournya malam di Las Vegas menjadi daya tarik tersendiri bagi para penduduk lokal maupun wisatawan asing.
Seperti halnya Ricky dan Sammy.
"Aku memiliki kenalan seorang gremo di sini, Sam. Namanya Mami Grace. Dia menyediakan wanita-wanita yang bisa dipesan dari berbagai penjuru dunia. Dari yang kulitnya seputih salju, kuning langsat, sawo matang sampai yang blacky, semuanya lengkap. Dari yang matanya besar seperti biji bekel sampai yang sipit juga ada. Atau kau mau yang dadanya sebesar durian montong atau telur mata sapi? Semuanya ada di sini. Lengkap!" Ungkap Ricky dengan penuh antusias. Dia memperagakan ukuran buah dada yang di maksud dengan ke dua tangannya.
Sammy hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Mereka sudah berjalan memasuki Club yang di maksud Ricky.
Sebuah Club yang menyambi sebagai rumah bordil milik Mami Grace.
Sammy duduk di salah satu meja Bar sambil menunggu Ricky yang katanya mau menemui Mamy Grace.
Malam tadi, Ricky si hacker sejati, baru saja mendapat tender besar hasil menipu di dunia siber yang dikuasainya. Uang dalam rekeningnya seketika menggembung. Itulah sebabnya Ricky mengajak Sammy jalan-jalan dan minum-minum malam ini.
Bahkan dengan baiknya Ricky mempersilahkan Sammy memilih perempuan malam yang disediakan Mami Grace sesuai selera secara cuma-cuma.
Intinya, malam ini semua Ricky yang bayar.
"Kau mau yang seperti apa, Sam?" tanya Ricky ketika lelaki itu sudah kembali dengan menggandeng dua pelacur sekaligus. "Yang seperti ini, atau yang ini?" Ricky menoleh ke kanan dan kiri sambil memperhatikan gerak-gerik perempuan-perempuan disampingnya. Kedua tangannya asik bergerilya di balik punggung wanita-wanita itu.
"Aku minum saja Rick," sahut Sammy yang mengangkat sloki winenya tinggi-tinggi.
"Ah, kau ini memang tidak seru! Jangan sampai aku benar-benar berpikir bahwa kau itu homo ya Sam?"
Sammy hanya tertawa.
"Ya sudahlah kalau tidak mau, aku tinggal dulu," kata Ricky sambil mengayunkan jemarinya dihadapan wajah sebelum dirinya pergi bersama kedua pelacur yang dia sewa, tentunya untuk bersenang-senang.
Sambil asik mendengarkan alunan music house, Sammy kembali menikmati winenya.
Tatapannya beralih menyisir seluruh ruangan di mana begitu banyak pria-pria hidung belang bertebaran. Pelayan-pelayan Club yang wara-wiri dengan tubuh yang nyaris telanjang.
Hingga pada saatnya, tatapan Sammy tertuju pada wajah seorang gadis yang tampaknya sedang kewalahan menghadapi serangan demi serangan beberapa pria yang mengerubunginya.
Pakaian gadis itu sudah tidak karuan. Tangan-tangan liar memenuhi hampir di setiap bagian sensitif dari tubuhnya.
Bukannya menikmati, Sammy merasakan adanya gurat keengganan dan ketidaknyamanan di wajah gadis itu dalam melakukan pekerjaannya. Seperti terpaksa.
Entah kenapa melihat pemandangan itu, pikiran Sammy mendadak teringat pada Anna.
Apa mungkin nasib Anna sekarang juga sama dengan nasib gadis itu?
Pikir Sammy membatin.
Lelaki itu menengggak wine sekali lagi lalu hendak beranjak untuk mendekati gadis itu, tapi sayang, belum sempat Sammy melangkah si gadis tadi sudah lebih dulu diajak pergi oleh seorang wanita bermake up tebal yang sepertinya sudah berumur. Bisa jadi dia adalah gremo di Club ini. Germo bernama Mami Grace yang tadi disebut-sebut oleh Ricky.
Tatapan Sammy tak beralih sedikit pun dari gadis itu.
Bahkan tanpa dia sadari Sammy malah mengekor kemana Gremo itu membawa sang gadis pergi. Seolah ada sebuah magnet yang menarik tubuh lelaki itu hingga membuatnya begitu penasaran terhadap si gadis berparas manis tadi.
Sebuah kamar di lantai tiga Club yang cukup mewah itu menjadi tujuan mereka saat ini.
Sammy masih terus mengikuti hingga akhirnya langkah dua perempuan itu sampai di depan sebuah ruangan yang sepertinya kamar.
Saat ke duanya menghilang di balik pintu kamar itu Sammy tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana.
Sammy masih bersembunyi dibalik dinding untuk mengamati.
Suara teriakan terdengar dari dalam kamar itu, yang Sammy tebak itu adalah suara teriakan gadis tadi.
Lengkingan dan rintihannya menyayat hati Sammy. Entah apa yang terjadi yang pasti ada kemungkinan gadis itu sedang disiksa.
Hal itu berlangsung cukup lama dan Sammy masih di sana, mendengarkan jeritan-jeritan absurd itu dengan penuh rasa iba. Sayangnya, Sammy tak ingin gegabah.
Jika dia sampai masuk bukan hanya dirinya yang akan terkena masalah, tapi Ricky juga.
Seketika pintu itu kembali terbuka, Sammy melihat gremo tadi keluar dan tak lama kemudian seorang lelaki berkulit hitam keluar diikuti empat orang bodyguardnya.
Ke dua bola mata Sammy terbelalak ketika mendapati siapa lelaki tadi.
Dia adalah salah satu aktor terkenal di Las Vegas yang namanya baru-baru ini melejit akibat film bergenre horor yang dia lakoni.
Kalau tidak salah namanya Black Steven.
Seketika, ingatan Sammy tertuju pada pemberitaan mengenai Black Steven yang mencuat di media akhir-akhir ini, itupun dia ketahui dari Ricky.
Banyak desas-desus yang mengatakan bahwa Blake Steven adalah seorang Homo alias Guy. Selentingan kabar lain ada yang mengatakan bahwa lelaki itu memiliki kelainan seks.
Mendadak, Sammy jadi khawatir dengan nasib gadis yang tadi di bawa oleh Gremo itu ke dalam sana.
Saat Sammy hendak melangkah untuk mendekati kamar itu, tiba-tiba datang empat orang lelaki yang kemungkinan adalah bodyguard di Club ini. Sammy tahu dari seragam yang mereka gunakan.
Dan betapa terkejutnya Sammy saat melihat orang-orang itu keluar sambil membawa si gadis tadi dengan memapahnya.
Kondisi gadis itu benar-benar kacau.
Wajahnya babak belur.
Si Gadis seperti kesulitan berjalan.
Bahkan Sammy bisa melihat lelehan darah mengalir di bawah kaki gadis itu.
Sepertinya dia nyaris pingsan.
Ya Tuhan...