Bab 1 Dibalik Kecelakaan Bapak
"Layla berjanji akan mencari tau siapa yang membun*h, Bapak. Layla juga yang akan membuat orang itu merasakan derita lebih dari yang Layla dan Ibu rasakan. Layla janji, Pak! Layla janji!" batin ku seraya menatap dalam ke arah pusara bapak yang masih basah.
Kesedihan hari ini betul-betul tak bisa ku bendung. Bahkan tak terasa air mataku kembali menetes mengingat bagaimana dulu bapak begitu menyayangiku, memanjakan ku tanpa lupa mendidik ku dengan segala ajarannya tentang kehidupan. Dan air mataku semakin deras manakala kenangan indah itu berganti dengan bayangan kematian bapak yang belum lama terjadi. Bapak mengalami kecelakaan tunggal dengan amat tragis ketika beliau dalam perjalanan pulang dari kota. Tepatnya dari kantor tempat beliau bekerja sebelumnya yang mana kala itu sebelum bapak berangkat, beliau menyampaikan niat kedatangannya ke kantor itu hanya akan mengambil pesangonnya selama bekerja di kantor tersebut.
Di sisi lain ada hal yang membuatku semakin bersedih bercampur marah dari kematian bapak adalah ketidakadilan yang aku terima. Dimana di saat proses pemeriksaan tempat kejadian perkara, ditemukan hasil jika penyebab kecelakaan tunggal yang dialami bapak karena rem yang tidak berfungsi dengan semestinya. Pihak kepolisian yang menyelidikinya pun beranggapan kemungkinan besar yang terjadi adalah bapak memang sengaja di .celakai dengan memutus kabel rem pada mobilnya.
Sayangnya, seiring berjalannya waktu penyelidikan kecelakaan yang dialami bapakku malah ditutup begitu saja oleh kepolisian. Dengan alasan jika apa yang dialami bapak hanya kecelakaan karena kelalaian dari pihak pengemudi. Apalagi setelah kecelakaan terjadi semua barang berharga milik bapak masih berada di tempatnya. Hanya saja uang pesangon yang dimaksudkan tidak ditemukan di tempat kejadian perkara. Meski begitu pihak kepolisian menganggap jika besar kemungkinan uang tersebut di ambil oleh orang yang melewati kecelakaan tersebut.
Tentu saja keputusan ini lah yang kemudian membuatku marah dan tak terima. Aku merasa geram pada pihak kepolisian karena bagiku sangatlah tidak masuk akal jika dengan mudahnya mengubah pernyataan yang sebelumnya sudah di tetapkan. Apalagi jelas-jelas terlihat kalau kabel rem di mobil bapak memang sudah terputus ketika kecelakan terjadi. Dan soal uang pesangon yang hilang, pihak kepolisian pun tidak mengusutnya dengan tuntas.
Di sisi lain selama belasan tahun bapak bekerja, beliau sering mendapatkan banyak apresiasi dari teman dan atasannya karena kinerjanya yang bagus. Sebab ini lah yang memungkinkan jika ada pihak-pihak tertentu yang tidak menyukai bapak selama beliau bekerja di kantor tersebut. Ditambah pula bapak juga pernah bilang kalau ada seseorang yang secara terang-terangan selalu memperlihatkan sikap ketidak sukaanya terhadap beliau.
Karena hal tersebutlah aku bertekad untuk menemukan fakta yang sebenarnya dibalik kecelakan yang dialami bapak. Jika memang benar kecelakan tersebut di sengaja, akan ku cari dalang di baliknya dan akan ku buat ia merasakan lebih dari apa yang aku rasakan. Dan aku juga betul-betul dibuat penasaran dengan perubahan keputusan dari pihak kepolisian tersebut yang bagiku itu tidak make sense dengan apa yang terjadi. Karena aku menduga pasti ada oknum dibalik dihentikannya penyelidikan kecelakan yang dialami bapakku.
Aku bahkan tak peduli dengan resiko yang akan aku terima karena keputusanku ini.
Sebab peristiwa ini lah yang menjadikanku tidak hanya kehilangan sosok bapak, tetapi aku juga harus menerima kenyatakan bahwa ibuku mengalami depresi yang mengharuskan beliau dirawat di rumah sakit jiwa. Sungguh, kenyataan yang teramat menyakitkan di sepanjang hidupku.
Jadi, menemukan fakta yang sebenarnya adalah salah satu kunci supaya aku bisa melanjutkan hidup dengan lebih tenang.
"Kuatkan hatimu, Nduk. Ingat, masih ada ibumu yang membutuhkanmu," ucap Pakde Rudi –adik kandung bapak– yang sedikit membuatku tersentak.
Aku tersenyum seraya menghapus sisa-sisa air mataku. Dalam hati aku membenarkan kata beliau, meski bapak telah tiada, aku sebagai anak tunggal diharuskan menjadi lebih kuat demi diriku sendiri juga demi kesembuhan ibuku yang entah sampai kapan akan berada di keadaan yang demikian.
***
Beberapa bulan berlalu ....
"Alhamdulillah, Mas keterima di kantor Bu Mirna," kata Mas Bima padaku.
Aku tersenyum senang mendengar kabar tersebut. Sebab, itu artinya langkah pertama untuk memulai balas dendam ku atas kematian bapak dan depresi yang dialami ibuku telah tercapai. Karena sebenarnya kantor yang akan menjadi tempat bekerja Mas Bima tersebut adalah kantor yang sama dengan kantor bapakku bekerja dulu. Dan sengaja Mas Bima melamar di kantor tersebut karena nantinya ia yang akan membantuku menyelidiki orang-orang yang kami duga ada sangkut pautnya dalam kecelakaan yang di alami bapakku. Termasuk Bu Mirna yang memang saat itu hingga sekarang masih menjabat sebagai manajer di kantor tersebut.
Waktu pun terus berjalan. Hingga tak terasa tiga bulan sudah Mas Bima bekerja di kantor Bu Mirna. Dan selama itu juga Mas Bima berhasil mengumpulkan data-data siapa saja orang yang pernah bekerja sama yang kemungkinan juga memiliki rasa ketidaksukaan terhadap bapak selama bekerja di kantor tersebut.
Selain itu aku dan Mas Bima juga mengetahui sebuah fakta jika ternyata ada seorang wanita yang juga bekerja di kantor tersebut yang mana wanita itu merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih bapak ketika beliau masih berkuliah di kota. Fakta ini Mas Bima dapatkan dari beberapa seniornya di kantor yang memang mengenal bapak sejak lama. Dan diperkuat dengan pernyataan yang disampaikan oleh beberapa teman kuliah bapak yang kebetulan masih tinggal di kota.
Setelah bertahun-tahun berpisah, wanita itu akhirnya dipertemukan kembali dengan bapak di tempat kerja yang sama. Kala itu wanita tersebut masih menyimpan rasa suka terhadap bapak. Namun bapak menolaknya karena saat itu bapak sudah menikah dengan ibu dan sudah memiliki anak, yaitu aku. Dan wanita itu adalah Bu Mirna. Atasan Mas Bima yang juga menjadi atasan bapak selama lima tahun sebelum kepergiannya.
"Gak tau kenapa, aku yakin Bu Mirna pasti ada kaitannya dengan kecelakaan bapak," ucapku pada Mas Bima.
Mas Bima terdiam sejenak seakan sedang memikirkan sesuatu. Lalu beberapa saat kemudian ia pun berkata yang membuatku semakin yakin kalau kecurigaan ku terhadap Bu Mirna itu benar.
"Aku juga ngerasa gitu, tapi ... Kita, kan, gak ada bukti apapun." Mas Bima memperlihatkan keraguan di wajahnya.
"Tapi bisa jadi kan karena cintanya yang ditolak terus Bu Mirna jadi gelap mata. Dan motif kayak gini udah sering terjadi sama orang-orang yang ngerasa sakit hati. Iya, kan, Mas?" sambung ku.
Mas Bima menganggukkan kepalanya sebentar seolah ia membenarkan ucapan ku barusan. Namun,di sisi lain keraguan masih saja menyelimuti dirinya hingga membuatnya terdiam untuk beberapa detik.
"Aku akan selidiki lebih lanjut nantinya," kata Mas Bima tiba-tiba yang seketika itu membuatku terheran-heran.
Meski kebingungan dan Mas Bima sendiri juga tidak menjelaskan lebih lanjut terkait rencananya untuk menyelidiki Bu Mirna, pada akhirnya aku pun hanya bisa menurut. Aku percaya Mas Bima pasti akan menemukan solusinya sama seperti ia menemukan fakta terkait orang-orang yang berada di sekitar bapak sebelum beliau meninggal dunia.
Dan benar saja, tak membutuhkan waktu yang lama, Mas Bima pun kembali menemui ku dan menyampaikan sesuatu padaku. Dimana, anak sulung Pakde Rudi itu mengatakan jika dari penyelidikannya beberapa hari ini, ia menduga kuat kalau Bu Mirna memang ada kaitannya dengan peristiwa tragis yang dialami bapakku. Mas Bima menyimpulkan hal tersebut lantaran ia mendapatkan informasi mengenai catatan kriminal dari Bu mirna yang ternyata sudah beberapa kali berurusan dengan pihak kepolisian namun tidak ada kelanjutan proses dikarenakan adanya jaminan uang yang diberikan. Selain itu, karena cintanya yang tertolak, besar kemungkinan memang menjadi salah satu motif untuk mencelakai bapakku karena Bu Mirna merasa sakit hati.
So, pantas bukan jika aku mencurigai Bu Mirna?
Bab 2 Menikah Dengan Anak Musuh
Dan benar saja, tak membutuhkan waktu yang lama, Mas Bima pun kembali menemui ku dan menyampaikan sesuatu padaku. Dimana, anak sulung Pakde Rudi itu mengatakan jika dari penyelidikannya beberapa hari ini, ia menduga kuat kalau Bu Mirna memang ada kaitannya dengan peristiwa tragis yang dialami bapakku. Mas Bima menyimpulkan hal tersebut lantaran ia mendapatkan informasi mengenai catatan kriminal dari Bu mirna yang ternyata sudah beberapa kali berurusan dengan pihak kepolisian namun tidak ada kelanjutan proses dikarenakan adanya jaminan uang yang diberikan. Selain itu, karena cintanya yang tertolak, besar kemungkinan memang menjadi salah satu motif untuk mencelakai bapakku karena Bu Mirna merasa sakit hati.
So, pantas bukan jika aku mencurigai Bu Mirna?
Dan karena informasi yang diberikan Mas Bima ini lah yang kemudian membuatku semakin berapi-api untuk melakukan balas dendam terhadap Bu Mirna. Serta orang-orang yang sebelumnya aku dan Mas Bima percaya ikut terlibat dalam kecelakaan bapakku.
"Fix! Bu Mirna pasti pelakunya. Pasti dia juga yang udah menyuap para polisi untuk menutup kasus bapak," ungkap ku yang sudah seratus persen yakin jika Bu Mirna adalah dalang dari kecelakaan yang dialami bapakku.
"Ini hanya kesimpulan ku, Dek. Tapi, kalau dilihat dari catatan kriminal dan tentang masa lalu Paman dan Bu Mirna ... Make sense, sih," balas Mas Bima.
Tak lagi membalas, aku hanya terdiam dan membenarkan apa yang dikatakan kakak sepupuku itu dalam hati.
"Tapi tolong kamu jangan bertindak lebih jauh sebelum menemukan kebenarannya," pinta Mas Bima. Aku lantas mengernyitkan dahi tak mengerti. Sampai kemudian kakak sepupuku itu kembali berkata yang kini malah membuatku tercengang.
"Menikah lah dengan Alvin."
"Ha? Maksudnya?" tanyaku kebingungan.
Mas Bima pun menjelaskan jika aku bisa menikah dengan temannya itu, aku bisa memanfaatkannya untuk membuktikan dugaan kami terhadap Bu Mirna. Apalagi jika aku berhasil masuk ke dalam keluarga tersebut, aku akan lebih mudah membalas dendam ku apabila dugaan ku itu benar adanya. Selain itu aku juga bisa memiliki sumber dana gratis dari pemberian Mas Alvin guna membiayai segala hal yang nantinya aku butuhkan untuk memuluskan rencana ku.
"Tapi ... Kalau ternyata Bu Mirna gak kaitannya sama masalah ini, gimana, Mas?" Dan sekarang malah aku sendiri yang merasa ragu. Apalagi harus mempertaruhkan hidupku untuk menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku kenali.
"Tadi katanya yakin? Kalau yakin, aku bantu kamu pedekate sama Alvin. Kalau gak, aku gak yakin ada jalan lain."
Ku hela napasku mendengar ucapan Mas Alvin. Aku terdiam sejenak untuk memikirkan keputusan apa yang akan aku ambil.
"Oke! Aku setuju!"
Finally, dengan sedikit terpaksa aku pun menyetujui ide gil* dari kakak sepupuku itu.
***
Membuatku lebih dekat dengan Mas Alvin adalah hal yang mudah bagi Mas Bima. Hal itu lantaran kakak sepupuku itu merupakan salah satu teman dekatnya Mas Alvin di kantor. Lebih tepatnya Mas Bima lah yang sengaja mendekati Mas Alvin hingga membuat anak laki-laki Bu Mirna itu merasa akrab dengannya.
Dua bulan pun berlalu. Waktu yang terbilang singkat untukku yang akhirnya berhasil membuat Mas Alvin lebih akrab dan merasa nyaman ketika bersamaku. Namun, sesuai dengan nasihat dari Mas Bima, aku harus terus berhati-hati dan tidak boleh gegabah dalam bertindak. Membiarkan Mas Alvin dengan sendirinya menyatakan cintanya padaku adalah cara supaya dia tidak mencurigaiku.
Dan beberapa bulan sebelum satu tahun setelah kepergian bapak, usaha ku akhirnya membuahkan hasil. Mas Alvin jatuh dalam perangkapku. Dengan penuh kesadaran laki-laki seumuran Mas Bima itu berniat ingin menikahiku meskipun keputusannya itu ditentang keras oleh ibunya sendiri.
***
Singkat cerita acara sakral itu pun selesai digelar. Aku dan Mas Alvin kini resmi menjadi pasangan halal. Pernikahan yang dilangsungan tanpa kehadiran kedua orang tuaku itu teramat membuatku bersedih. Benar, meski berbulan-bulan telah berlalu, kondisi ibuku masih tetap sama. Walaupun begitu, sebagai anak aku tetap menyayanginya dan rutin mengunjunginya meskipun kerap ibu tidak mengenaliku.
Mas Alvin sendiri sudah tahu bagaimana kondisi ibukku. Meski demikian, ia tetap ingin melanjutkan membangun rumah tangga bersamaku. Tentu aku merasa beruntung karena jarang aku menemui laki-laki yang mau menikah dengan wanita yang orang tuanya adalah pasien rumah sakit jiwa. Sayangnya, keberuntungan yang aku rasakan tidaklah sama dengan apa yang dirasakan oleh Mas Alvin.
"Pernikahan ini adalah awal dari pembalasan dendamku untuk orang-orang yang sengaja menghancurkan keluargaku," batinku mengingat kembali peristiwa memilukan satu tahun yang lalu.
***
"Tolong bersabar, ya, sayang, aku yakin seiring berjalannya waktu Mama pasti akan menerimamu," kata Mas Alvin padaku.
Aku tersenyum manis pada laki-laki yang baru beberapa hari ini menjadi suamiku.
"Pasti, Mas. Aku akan bersabar dan bertahan untuk bisa mengambil hati Mama," balasku seraya tersenyum.
Mas Alvin lantas membalas senyumanku lalu mengecup keningku. Tak lupa juga ia memelukku sebelum pamit untuk pergi ke kantor. Sembari menatap kepergian mobil Mas Alvin, dalam hati aku berkata akan terus bersabar dan bertahan bukan untuk pernikahan ini, tetapi untuk membuat dirinya dan ibunya membayar atas apa yang terjadi pada keluargaku.
"Maafkan aku, Mas. Tapi bagiku menerima pinanganmu adalah cara satu-satunya untukku bisa membalaskan dendam atas kematian bapakku."
Ku hapus secara pelan satu tetasan air mata yang mengalir di pipiku. Aku mencoba untuk tidak lengah karena cinta yang diberikan oleh Mas Alvin padaku. Walaupun aku sendiri tak tahu cinta yang seperti apa yang diberikan suamiku itu. Ketulusan atau hanya belas kasihan.
"Kenapa kamu ingin menikahiku?" tanyaku pada Mas Alvin kala dirinya menyatakan ingin menikahiku.
Mas Alvin tersenyum dan mengarahkan pandangannya ke arah lain. "Tidak banyak wanita yang aku temui dalam hidupku. Sejak masuk SMP bahkan sampai Mama selalu menempatkan pendidikan yang mengharuskanku tinggal di asrama. Duniaku terlalu monoton. Tapi, semua itu berubah ketika aku mulai mengenalmu."
Ku hela napas kasarku mendengar perkataan Mas Alvin. Membuatnya jatuh cinta padaku memang salah satu tujuanku mendekatinya. Namun, siapa sangka kedekatan kami yang baru beberapa bulan, bahkan aku belum sempat mengeluarkan jurus-jurusku, ia malah terang-terangan menyatakan keinginannya tersebut. Meski merasa agak janggal, namun aku tetap menerima pinangannya tersebut. Walaupun banyak perbedaan di antara kami, yang mana hal tersebut lah yang menjadi alasan Bu Mirna tidak merestui hubungan kami.
Mas Alvin punya harta yang cukup sementara aku tidak. Aku hanya seorang gadis desa yang ingin menjalankan hidup dengan normal namun sayang keadaan tak berpihak padaku. Malah yang ada hidupku memaksaku untuk menjadi wanita j*hat yang mengharuskanku menyakiti orang-orang di sekitarku termasuk suamiku sendiri.
Akan tetapi, terlepas dari apapun alasan Mas Alvin melamarku, aku tak begitu memedulikannya. Malah aku berpikir kali ini keadaan sedang berpihak padaku. Toh pula dengan begini aku juga tidak perlu membuang-buang tenaga ataupun waktu lebih banyak hanya untuk membuat Mas Alvin jatuh dalam pelukanku. Yah, meskipun sejak awal hubungan kami mendapatkan pertentangan dari Bu Mirna, namun, seakan tak memedulikan ibunya, Mas Alvin tetap melangkah maju untuk menikahiku.
Sungguh beruntung bukan diriku?
***
Bab 3 Kesaksian Seorang Teman
Akan tetapi, terlepas dari apapun alasan Mas Alvin melamar ku, aku tak begitu memedulikannya. Malah aku berpikir kali ini keadaan sedang berpihak padaku. Toh pula dengan begini aku juga tidak perlu membuang-buang tenaga ataupun waktu lebih banyak hanya untuk membuat Mas Alvin jatuh dalam pelukanku. Yah, meskipun sejak awal hubungan kami mendapatkan pertentangan dari Bu Mirna, namun, seakan tak memedulikan ibunya, Mas Alvin tetap melangkah maju untuk menikahiku.
Sungguh beruntung bukan diriku?
***
Tak lama setelah kepergian Mas Alvin, aku bergegas kembali masuk ke dalam rumah. Mengambil ponsel dan kunci mobilku lalu bersegera menemui Mas Bima ke tempat yang memang sudah kami tentukan sebelumnya. Ya, meskipun aku baru hitungan hari menikah tak lantas membuat penyelidikan yang dilakukan Mas Bima berhenti. Kakak sepupuku itu terus melanjutkan investigasinya demi menuntaskan masalah yang sedang kami hadapi saat ini.
Sesampainya di sebuah cafe yang terletak tak jauh dari kantor suamiku, aku melihat Mas Bima tengah mengobrol bersama seorang pria paruh baya. Entah siapa pria tersebut, namun aku merasa seperti pernah melihatnya di hari dimana bapak akan dikebumikan.
Aku berjalan mendekati Mas Bima sembari terus memikirkan siapa pria di hadapannya itu.
"Mas Bima!" panggilku sesaat setelah berada di dekat meja tempat Mas Bima berada.
Mas Bima menoleh ke arahku dan mempersilakanku duduk. Ketika hendak duduk aku sempatkan melempar senyuman pada pria yang duduk di seberang mejaku itu. Dengan ramah pria tersebut membalas senyuman yang aku berikan.
Kemudian tanpa diminta Mas Bima lantas memperkenalkan siapa pria di hadapanku sekarang ini. Dimana pria tersebut bernama Surya atau yang biasa dipanggil dengan Pak Surya. Beliau adalah teman bapakku sejak kuliah dan bekerja di kantor yang sama. Beliau juga termasuk orang yang mendapat pesangon seperti bapakku dan beliau juga mengambil hak nya tersebut di hari yang sama.
"Masih ingat gak kamu sama saya?" tanya Pak Surya yang membuatku agak terkejut. Rupanya dugaanku benar.
Aku tersenyum tipis lalu menjawab ,"masih. Bapak yang pernah datang ke rumah waktu pemakaman bapak saya, kan?"
"Benar," balas Pak Surya seraya mengangguk kecil.
Setelah sedikit berbasa-basi, Mas Bima lantas melanjutkan pembicaraannya. Dimana tujuannya membawa Pak Surya di hadapanku tentu berkaitan dengan masalah yang sekarang ini aku hadapi. Benar, Pak Surya adalah salah satu saksi dengan apa yang terjadi di hari pengambilan pesangon tersebut.
"Silakan, Pak." Mas Bima mempersilakan Pak Surya untuk mengambil alih pembicaraan kami.
Namun, sebelum memulai semuanya, terlebih dahulu aku meminta izin pada Pak Surya untuk merekam video pertemuan antara aku dan beliau hari ini tanpa memperlihatkan Mas Bima. Hal ini ku lakukan untuk sebagai bukti karena aku yakin suatu saat aku pasti membutuhkannya. Syukurlah, Pak Surya dengan senang hati memberikan izin tersebut.
Barulah setelah aku meletakkan ponselku di ujung meja, dengan wajah tenang Pak Surya mulai membuka suaranya. Beliau berkata bahwa saat itu beliau dan beberapa temannya termasuk bapakku memang dijadwalkan mengambil pesangon di hari yang sama. Semuanya berjalan lancar namun ada yang terasa aneh ketika bapak dipanggil ke ruangan Bu Mirna setelah menerima hak nya. Dan panggilan tersebut diminta langsung oleh Dewi -seketaris Bu Mirna- yang mana orang-orang kantor tahu, jika Dewi yang ditugaskan oleh Bu Mirna itu artinya hal tersebut sangatlah penting.
Dari sini baik Pak Surya maupun teman-teman yang lain pun merasa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, karena status mereka tidak lagi sebagai karyawan di kantor tersebut, mereka pun tidak berhak tahu apa masalah yang terjadi. Pak Surya dan lainnya pun mencoba berpikir positif kalau mungkin saja apa yang disampaikan Bu Mirna kepada bapak adalah hal yang bersifat pribadi.
"Tapi selama bekerja hubungan bapak sama Bu Mirna baik-baik aja, kan, Pak?" tanyaku memastikan.
Saat mendengar pertanyaanku barusan membuat Pak Surya tak langsung menjawabnya. Beliau terdiam sejenak seolah ada sesuatu yang berat untuk disampaikan.
"Pak Surya?" panggil Mas Bima yang juga merasa penasaran dengan jawaban orang yang mengaku sebagai teman bapakku itu.
Pak Surya tersentak lalu beberapa detik kemudian beliau menghela napas beratnya. "Saya akan ceritakan, tapi tolong kalian jangan marah dan jangan menelannya mentah-mentah," kata Pak Surya.
Meski kebingungan dan tak begitu paham dengan apa yang dimaksudkan Pak Surya, aku dan Mas Bima pun mengiyakan perkataanya tersebut.
Pak Surya pun kembali memulai ceritanya. Aku dan Mas Bima pun juga menyimaknya baik-baik supaya tidak gagal paham.
"Entah apa yang disampaikan Bu Mirna kepada bapakmu, namun sepenglihatan saya, setelah keluar dari ruangan Bu Mirna, bapakmu terlihat gelisah. Dan setiap ditanya sama teman-teman apa yang sebenarnya terjadi dia hanya menjawab tidak apa-apa. Tidak ada masalah."
Setelah berkata demikian, Pak Surya terdiam sebentar lalu melanjutkan ceritanya. Dimana beliau mengaku tidak begitu percaya dengan jawaban yang diberikan bapak kepadanya. Dan hal tersebut sama dengan apa yang aku rasakan sekarang ini. Sesuatu hal yang tidak mungkin tidak apa-apa jika hanya bapaklah yang dipanggil Bu Mirna sedangkan yang lainnya tidak. Padahal sama-sama karyawan dan sama-sama pula mengambil pesangon.
Dan karena tak ingin terlalu ambil pusing, Pak Surya pun memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut kepada bapakku. Sampai akhirnya beberapa jam setelah pertemuannya dengan bapak di kantor, beliau mendapatkan kabar dari salah satu temannya kalau bapak mengalami kecelakan dalam perjalanan pulang. Dan sejujurnya, ketika mendapatkan kabar tersebut Pak Surya seketika itu teringat dengan apa yang terjadi di kantor. Pak Surya menduga kalau kecelakan yang terjadi kemungkingan adalah hal yang di sengaja.
"Terus kenapa Pak Surya bisa menyimpulkan seperti itu? Padahal Anda tidak tahu pasti apa yang terjadi di kantor," selidikku.
Pak Surya tersenyum dan terlihat begitu santai seakan beliau tahu jika aku akan mengajukan pertanyaan yang demikian.
"Saya yakin kamu pasti sudah tau tentang masa lalu bapakmu dan Bu Mirna," kata Pak Surya yang membuatku semakin penasaran dengan hal apa yang sebenarnya akan disampaikannya.
"Soal asmara mereka, kan?" tebakku. Aku yakin itu yang dimaksud Pak Surya barusan.
Pak Surya mengangguk dan membenarkan tebakanku. Hanya saja ada tambahan yang mana hal tersebut membuatku tak percaya sekaligus semakin penasaran dengan perkara ini.
"Ada rumor yang beredar kalau bapakmu dan Bu Mirna sudah pernah menikah siri dan mempunyai anak. Tapi untuk kebenarannya saya tidak tau. Mas Bima mungkin sudah tau?"
Mas Bima menggeleng pelan menandakan ia belum tahu perkara barusan.
"Status saya dan teman-teman saat itu hanya karyawan biasa. Rumor yang terjadi itu bukanlah urusan kami. Toh, setau kami bapakmu memang sudah menikah dengan ibumu. Ditambah selama bekerja bersama Bu Mirna, kami hampir tidak pernah melihat sikap bapakmu yang mencurigakan ketika bersama atasan kami itu. Beliau selalu bersikap biasa saja walaupun rumor tersebut sudah melekat ada pada dirinya," sambung Pak Surya.
Aku terpaku mendengar apa yang disampaikan Pak Surya barusan. Aku takut jika rumor itu betul-betul terjadi dan Bu Mirna benar-benar terlibat dalam kecelakan bapak. Jika benar demilikan ku pastikan bukan hanya motif asmara yang menjadi alasan dibalik Bu Mirna bertindak demikian. Tapi ada hal lain yang membuatnya berani melakukan hal tersebut.