Bab 1

"Sayang, tolong bikinin aku kopi susu dong!" seorang pria muda 30 tahun tengah asyik memainkan handphone-nya di depan ruang televisi. Marga Rendra Pradhana, nama yang melekat dalam dirinya.

"Mas, bubuk kopi dan susunya sudah habis dari kemarin," jawab Maya Kurnia Septa, gadis 27 tahun berstatus sebagai istri sah Rendra yang kini tengah berbadan dua.

"Bukannya empat hari lalu kamu habis beli satu renteng?"

"Iya Mas, tapi Mas Rendra minta dibikinin kopi sehari kadang sampai empat kali."

"Ya sudah, kamu beli di toko sebelah gih!"

"Uang belanjaku sudah habis, Mas. Saat ini aku tidak pegang uang sama sekali."

"Sebenarnya apa saja sih yang kamu beli? Masa setiap hari cuma lauk tempe dan tahu doang, kamu aku kasih uang seratus ribu untuk satu Minggu tidak bisa mengaturnya? Kamu bisa mikir nggak jadi istri itu harus pinter-pinter ngatur keuangan rumah tangga. Istri macam apa kamu ini!" Rendra meletakan handphone-nya dan kini berdiri di hadapan Maya yang tengah menundukkan wajahnya.

"Mas, walau lauk tahu dan tempe, minyak goreng dan bumbu tetap beli. Mas Rendra juga tahu sendiri minyak goreng saat ini mencapai dua puluh ribu satu liter. Kamu juga masih ingat jika empat hari lalu membelikanmu satu renteng kopi, harganya delapan belas ribu. Beras, sabun, samphoo, dan token listrik belum terhitung, Mas. Sayur pun sudah aku sanggupi untuk memetik di kebun. Belum lagi kemarin tabung gas habis. Sekarang tega sekali kamu bertanya aku ini istri macam apa? Tega banget kamu, Mas!" air mata datang tanpa diundang membasahi raut wajah Maya.

"Sekarang kamu berani menjawab perkataanku?" Rendra mulai terbakar emosi.

"Aku hanya mengatakan apa adanya, Mas."

"Istri tidak tahu diuntung!" Rendra mendorong tubuh sang istri hingga Maya terjatuh dan mengeram kesakitan.

"Ah, perutku! Perutku sakit sakit sekali, Mas."

"Kamu jangan manja! Aku hanya mendorongmu pelan!" Rendra pergi ke kamar meninggalkan Maya yang sedang kesakitan.

"Mas, ini benar-benar sakit!" Maya memegang perutnya sambil merintih kesakitan.

------------------

Marga Rendra Pradhana adalah salah satu karyawan yang mendapatkan imbas dari adanya pandemi. Tepat tiga bulan yang lalu dia di PHK oleh kantornya karena pengurangan karyawan.

Sedangkan Maya Kurnia Septa dulu sempat bekerja sebagai PSG dealer motor, tetapi Rendra menyuruh berhenti bekerja semenjak mengetahui kehamilan Maya tepatnya 6bulan yang lalu.

Mereka hidup berdua di sebuah rumah kontrakan sederhana. Usia pernikahan Rendra dan Maya di tahun ini telah genap lima tahun. Setelah sekian lama menunggu kehadiran sang buah hati, kita akhirnya mereka mendapatkan hadiah terindah dari Tuhan itu di tahun ini. Namun sayang, keadaan ekonomi mereka saat ini sedang memburuk. Uang pesangon yang diterima oleh Rendra pun hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka belum memiliki persiapan sama sekali untuk menyambut sang buah hati.

Rendra sudah mengajukan lamaran kemanapun tetapi tetap belum mendapatkan respon atau undangan interview dari perusahaan-perusahaan tempatnya melamar pekerjaan.

-------------------

"Mas, bantu aku berdiri. Perutku sangat sakit!" Teriak Maya sambil memegangi perutnya.

Rendra berpura-pura tidur dan seolah tak mendengar teriakan Maya. Maya yang tak mampu berdiri, kamu ini dia merangkak dari ruang televisi menuju kamarnya untuk mencapai tempat tidurnya.

Hati Maya semakin teriris melihat sikap suaminya yang kini kian tak lagi dikenalinya. Maya menaiki ranjang tidurnya dan berbaring di sudut ranjang.

Saling memunggungi. Iya, itulah yang sedang Rendra dan Maya lakukan saat ini. Di sisi lain, Maya memejamkan mata sambil mengingat seluruh kisah indah yang pernah mereka lalui selama ini.

Malam berlalu begitu lama untuk mereka. Ini bukan kali pertama mereka bertengkar hanya karena masalah kecil. Semenjak Rendra tidak bekerja, Rendra sering memarahi Maya tanpa sebab yang pasti. Sedangkan Maya semakin pendiam sejak Rendra sering memarahi dirinya. Sikap Rendra yang sering berubah-ubah membuat Maya mau tidak mau harus siap memahaminya sewaktu-waktu.

Tak ada sepatah katapun terucap diantara sepasang suami istri itu. Mereka sedang bergulat dengan pemikiran masing-masing. Rendra berpikir Maya tak mampu mengatur keuangan keluarga dengan baik tetap merasa dirinya lah yang benar. Sedangkan Maya yang tengah hanyut dalam air mata dan angan tentang masa-masa indah tetang dirinya dan sang suami, masih bertanya kepada dirinya di mana sosok suami yang selama ini sangat menyayangi dirinya.

Perut Maya semakin terasa sakit, tetapi ia tak berani mengeluh. Menahan sakit sambil terus memegangi perutnya sambil menangis hingga Rendra menyadari sang istri benar-benar sedang kesakitan.

"May, kamu kenapa?" Rendra memegang punggung sang istri.

"Aku tidak apa-apa," Maya menghapus air matanya dan segera membalikkan tubuhnya untuk menatap sang suami sambil tersenyum tipis untuk Rendra.

"Kamu masih menangis tentang tadi?"

"Aku tidak apa-apa."

"Perutmu benar-benar sakit ya? Sebelah mana yang sakit?" Ucap Rendra sambil mengelus-elus perut Maya. Air mata langsung terjatuh dari mata Maya.

"Mas, maafin Maya ya!"

"Kalau aku sedang marah, tolong kamu diam saja. Jangan kamu ikut ngomong." Rendra meraih tubuh Maya dan memeluk sang istri sambil membelai lembut calon buah hati mereka.

Maya meneteskan air mata dalam pelukan sang suami.

"Kita dulu memiliki bayangan jika rumah tangga kita akan berjalan sederhana tapi bahagia. Kamu cukup menjadi ibu rumah tangga yang sederhana untukku dan anak-anak kita kelak. Setiap pagi kamu menyuguhkan aku secangkir kopi susu, sedangkan aku bersiap untuk berangkat bekerja," Rendra mencium kening sang istri.

Maya hanya diam mendengarkan setiap kata yang menenangkan hatinya dari sang suami.

"Jika sore datang, kamu menyambut kedatangan ku dengan senyum manismu, May. Anak-anak pun berlari ikut menyambut kedatanganku dibelakangmu sambil memanggil ku 'ayah', mereka akan bertanya kepadaku, 'yah, mana ice cream-ku?' iya itulah yang akan mereka lakukan setiap menyambut kedatanganku," Rendra memeluk erat sang istri sambil meneteskan air mata kebahagiaan ketika membayangkan momen tersebut.

"Ketika aku sudah selesai membersihkan badan, sore ku akan berwarna dengan diisi menonton serial televisi keluarga bersama anak dan istriku. Apalagi jika waktu itu gemercik hujan, sungguh akan sangat hangat suasana itu, May. Kamu di dapur memasak pisang goreng dan membuatkan aku secangkir kopi susu kesukaanku dan susu hangat untuk anak-anak kita. Bukankah itu hal sederhana? Tapi kenapa aku begitu memimpikan momen-momen seperti itu, May?"

Tak sepatah kata pun terucap dari Maya. Hanya menjadi pendengar yang baik untuk Rendra, sang suami yang begitu ia cintai.

Rumah tangga yang diimpikan oleh Rendra bukanlah rumah tangga mewah. Namun, jalan Tuhan masih berkata lain. Dari awal hubungan mereka menuju pelaminan pun penuh liku. Kekuatan cinta mereka mendapatkan ujian yang datang silih berganti.

=======00000=======

Bab 2

- Flashback sebelum menikah-

"Pokoknya Ibu dan Ayah tidak setuju jika kamu menikah dengan Rendra!" Yanti, ibu dari Maya berteriak menentang keras keinginan Maya yang ingin menikah dengan Rendra.

"Tapi apa salah kami, Bu!" Maya menangis di hadapan kedua orang tuanya.

"Nduk, nurut sama orang tua. Ayah dan ibu tidak suka melihat kamu gandengan sama Rendra," Handoko, ayah kandung Maya memberikan pendapat.

"Mbok yo nurut, Nduk!" tambah Yanti.

"Maya ingin tahu alasan Ayah dan Ibu kenapa menolak hubunganku dengan Rendra?"

"Dulu Mbah Karso, kakek buyutmu pernah mempunyai masalah dengan keluarga mereka. Mbah Karso pernah sesumbar jika tidak akan pernah menikahkan anak cucu atau keturunannya dengan keluarga mereka. Jika itu terjadi maka rumah tangga tersebut tidak akan lama dan sering terjadi masalah dikemudian hari," terang Handoko.

"Tapi kenapa, Yah? Kenapa kakek buyut begitu membenci keluarga mereka?"

"Mungkin ini sudah waktunya cerita ini kita buka, Yah." Yanti menggenggam tangan Handoko.

"Cerita apa, Bu?" Maya semakin bingung dengan kedua orang tuanya.

"Ayah tidak sanggup, Bu. Ayah tidak sanggup jika harus mengingat kejadian itu." Mata Handoko tampak berkaca-kaca, ia melangkahkan kaki ke kamarnya meninggalkan Yanti dan Maya tetap di ruang keluarga.

"Ada apa dengan ayah, Bu?"

"Dengarkan cerita ibu, May. Mungkin jika kamu tidak memilih Rendra sebagai calon suamimu, kami tidak akan pernah cerita tentang hal ini kepada siapapun." Yanti memegang tangan sang putri sambil menarik nafas panjang.

"Ayahmu dulu memiliki seorang adik perempuan yang bernama Lastri. Wajahmu dengan Lastri sangat mirip, May. Lastri adalah adik kesayangan ayahmu yang telah tiada di usia 19 tahun. Maka dari itu, walau kamu anak pertama kami dan kamu pun memiliki dua adik, ayahmu paling sayang kepadamu," Yanti mulai bercerita tentang Lastri.

"Maksud Ibu, Lastri meninggal? Apakah dia sakit?"

"Tidak, May. Dia bunuh diri."

Seketika Maya membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.

"Dulu Lastri menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang bernama Burhan."

"Burhan? Om Burhan Pradhana?" Maya membulatkan matanya, karena ia mengenal nama tersebut.

"Iya benar sekali. Burhan Pradhana. Ayah kandung Rendra. Burhan dulu berpacaran dengan Lastri sampai Lastri hamil anak Burhan. Memang Burhan mau mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tapi keluarga besar Burhan tidak menyetujui hubungannya dengan Lastri."

"Tapi kenapa mereka tidak setuju, Bu?"

"Yang pertama karena kasta. Kasta keluarga ayahmu dulu jauh berbeda dengan keluarga mereka. Mereka pun meragukan bahwa anak yang dikandung oleh Lastri adalah darah daging Burhan. Mbah Karso mendatangi rumah mereka, tapi mereka mengusir Mbah Karso dan menolak terang-terangan. Mbah Karso pulang dengan wajah kecewa. Mbah Karso mengambil keputusan untuk Lastri membesarkan anaknya seorang diri bersama keluarga."

"Apakah waktu itu Ibu sudah menikah dengan ayah?"

"Belum, May. Tapi kami juga waktu itu sudah berpacaran, jadi ibu tahu semuanya. Sebulan kemudian, Lastri mendengar berita pernikahan Burhan dan Widya. Orang tua Rendra saat ini. Setelah mendengar berita itu, Lastri yang masih menyimpan rasa cintanya untuk Burhan, mungkin tak sanggup lagi menahan kekecewaan. Lastri memilih mengakhiri hidupnya dengan memotong denyut nadinya sendiri. Kekecewaan Mbah Karso, meledak dan menyumpahi agar keturunannya tidak ada yang berjodoh dengan anggota keluarga mereka."

"Orang tua ayah bagaimana, Bu?"

"Mereka hanya menurut dengan semua yang dilakukan Mbah Karso."

Maya terdiam setelah mendengar cerita sang ibu. Dia bergulat dengan pikirannya sendiri. Di sini ada keluarga yang ia hormati. Sedangkan di sisi lain ada Rendra, laki-laki yang ia sayangi.

Maya merenung sepanjang malam. Apakah kisah cintanya dengan Rendra akan berakhir begitu saja. Maya mengirimkan pesan kepada Rendra.

[Mas Rendra] Pesan singkat Maya langsung disambut oleh Rendra.

[May, bagaimana dengan keluargamu?] Jawab Rendra langsung ke poin utama. Rendra yang saat ini juga dirundung pilu dengan cerita yang sama dari Burhan, sang ayah.

[Apakah Mas Rendra, sudah tahu alasan mereka menentang hubungan kita?]

[Aku baru saja berbicara dengan ayahku. Mungkin cerita yang sama sudah kamu dengar dari keluargamu.] Isi pesan Rendra membuat Maya semakin tak mampu menerima kenyataan.

[Sayang, pegang erat cintaku. Jangan sekalipun kau lepas. Jika kita ditakdirkan berjodoh, kita akan tetap bersama.] Rendra menguatkan Maya.

[Aku pernah terjatuh dan pernah ditinggalkan, aku takut kau juga akan meninggalkan diriku, Mas.]

[May, Cinta suci kita lebih kuat. Dua tahun kita berhubungan, tak sekalipun aku menyentuhmu walau hanya untuk menciummu pun aku menunggu kita sah dan halal suatu saat nanti. Aku yakin, Tuhan melihat ketulusan cinta kita dan akan segera memberikan jalan yang indah untuk kita. Tolong jangan samakan aku dengan sikap ayahku sewaktu muda dulu yang tidak berani bertanggungjawab atas hal bodoh yang ia lakukan.]

[Aku sangat mempercaimu, Mas.]

[Besok kita ketemu di rumah Sari, ya.]

[Iya, Mas. Besok aku akan ke rumah Sari.]

------------------------

Keesokan harinya, Maya dan Rendra datang ke rumah sahabat baik mereka yaitu Anton dan Sari. Sahabat mereka yang baru menikah dua bulan yang lalu. Mereka berempat memang sahabat baik. Hingga keluh kesah satu sama lain bisa saling memberi pendapat.

Maya dan Rendra datang tidak dengan bersamaan. Rendra datang terlebih dahulu dengan motor sport miliknya. Sedangkan Maya datang sendiri dengan menggunakan motor matic miliknya. Semenjak keluarga mereka mengetahui asal usul keluarga mereka masing-masing, Maya dan Rendra sering bertemu secara diam-diam seperti saat ini.

Maya dan Rendra menceritakan semua tentang apa yang sedang hubungan mereka hadapi saat ini kepada Sari dan Anton. Sebagai sahabat yang baik, Sari dan Anton senantiasa mendengarkan keluh kesah sang sahabat. Sari menenangkan Maya yang sedang menangis di hadapannya.

"Aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi dengan hubungan kami," Isak tangis Maya tampak sangat tulus.

"Sabar May, pasti ada jalan." Sari memeluk sang sahabat.

"Masa lalu ayahmu berimbas kepada mu, Bro. Sekarang hubungan kalian menjadi serumit ini." Anton memegang dagunya sendiri tampak sedang berpikir.

"Aku pun nggak pernah menyangka dengan perbuatan ayahku yang seburuk itu. Aku benar-benar bingung harus bagaimana sekarang." Rendra menopang kepala dengan kedua tangannya, tanda sedang berpikir keras.

"Apakah ayahmu menyesali perbuatannya, Bro?" tanya Anton lebih penasaran dengan cerita cinta masa lalu Burhan dan Lastri.

"Tentu saja dia menyesal, dia seperti mengutuki dirinya sendiri atas kematian Lastri. Sedangkan sebenarnya ayah dan ibuku menikah karena hasil perjodohan, lebih tepatnya paksaan kakek buyutku agar ayah tidak menikahi Lastri. Kemarin malam ayah menceritakan semua kepadaku tanpa sepengetahuan ibu." Rendra menjawab pertanyaan Anton dengan meneguk minuman bersoda di tangannya.

"Aku ada ide untuk masalah kalian," ucap Anton tampak santai.

"Serius, ide apa?" Rendra tampak bersemangat. Maya pun seketika menghapus air matanya.

"Jalan satu-satunya adalah kau membuat hamil Maya terlebih dulu," jawab Anton.

"Apa?" ucap Rendra, Maya, dan Sari terkejut dengan ide yang diberikan Anton.

=======00000=======

Bab 3

"Gila! Ide gila macam apa yang kau berikan, Bro? Aku tidak akan pernah menyentuh apalagi mengotori hubunganku dengan Maya!" Rendra tampak kesal dengan ide yang diberikan oleh sahabatnya.

"Hahaha ... Siapa suruh kamu mengotori hubunganmu dengan Maya?" Anton malah tertawa terbahak-bahak.

"Terus bagaimana ceritanya Maya hamil kalau aku tidak menyentuhnya?" Rendra semakin kesal dengan pikirannya sendiri. Dalam pikirannya, jika dia tidak menyentuh Maya, berati orang lain yang akan menyentuh Maya agar Maya hamil.

"Hahaha ... Pasti kamu sedang berpikir jika aku akan menyuruhmu mencari orang untuk menyentuh Maya 'kan? Hahaha ...." Anton melanjutkan tertawanya.

Maya tampak sangat malu dengan pembahasan sensitif seperti ini.

"Kamu memang gila, Mas. Masa iya kamu kasih saran seperti itu sama sahabatmu sendiri!" Sari ikut kesal dengan ide yang diberikan suaminya.

"Sudah May, jangan pikirkan ide bodoh itu!" tambah Sari menenangkan sahabatnya.

"Hahaha ... Kalian sebenarnya mikir apa sih? Mana mungkin aku menjerumuskan sahabatku sendiri! Hahaha ...." Anton masih tertawa terpingkal-pingkal dengan pikirannya sendiri.

"Please, Bro. Kita kasih saran yang realistis. Saran yang tidak merugikan siapapun, terutama Maya." Rendra memegang tangan sang kekasih.

"Tidak ada yang dirugikan, Bro. Hahaha ...." Anton masih saja tertawa melihat Rendra, Maya, dan Sari yang sedang kesal.

"Sudah, Mas! Hentikan ide konyolmu itu. Aku sangat tidak setuju dengan ide itu!" Sari malu dengan ide yang diberikan oleh sang suami.

"Skip ide konyolmu!" tambah Sari memarahi suaminya.

"Oke sekarang kita serius. Dengarkan penjelasanku selengkapnya. Jadi Maya cukup pura-pura hamil anak Rendra saja. Tidak perlu benar-benar hamil." Anton meneguk minuman ditangannya tampak santai.

"Apa maksudnya? Aku tidak paham." Rendra serius mendengarkan ide Anton.

"Ceritanya Rendra berpura-pura dan mengaku kepada orang tua kalian bahwa Rendra telah menghamili Maya. Apapun yang terjadi Rendra ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya. Katamu tadi 'kan ayahmu merasa bersalah sama Lastri, kita lihat apa yang terjadi jika anaknya mengaku melakukan kesalahan yang sama dia lakukan di masa lalu," terang Anton.

"Bagaimana kalau mereka masih menolak hubungan kami? Orang tuaku pasti akan sangat kecewa kepadaku," Maya menatap sendu wajah Rendra.

"Pasti. Itu pasti! Mereka akan kecewa, itu sudah pasti. Tapi mereka akan berpikir ulang dengan kejadian silam yang sudah lama terkubur. Jika orang tua kalian adalah orang tua bijak, maka mereka akan belajar dari kesalahan masa lalu. Tetapi jika mereka orang tua yang tidak bijak, mereka akan melakukannya hal sama kepada anak-anak mereka. Dan ... Damn it! Aku tidak mau mengatakannya, untuk memikirkan hal itu pun aku sudah kesal jika kisah Burhan dan Lastri yang terpisah di masa lalu akan terulang lagi. Di sini bedanya adalah Maya tidak benar-benar hamil." Anton menerangkan dengan serius.

"Jika mereka meminta bukti kehamilan Maya, bagaimana?" Rendra mengeratkan genggaman tangannya untuk sang kekasih.

"Aku ada ide! Pakai testpack ku! Aku baru positif hamil 2minggu lalu. Aku punya tiga testpack untuk kau bawa yang hasilnya positif garis dua," Sari bersemangat memberikan ide.

"Orang tuaku pasti kecewa dan marah besar padaku, karena aku merusak nama baik keluarga!" Maya menundukan wajah.

"Saat mengaku kehamilan Maya, kalian berdua harus bersama. Jangan gentar dengan apa pun yang terjadi. Kalian harus saling menguatkan cinta kalian. Toh, sebenarnya kalian tidak melakukan hal buruk kok!" tambah Anton.

"Baiklah, aku akan memakai ide darimu. Terima kasih, bro! Kau terbaik!" Rendra memeluk Anton sebagai ucapan terima kasih.

-----------------

Rendra dan Maya kini sedikit merasa lega karena mendapat ide dari sahabatnya, walau mereka juga sadar masalah baru akan siap menanti mereka di depan sana.

Sari memberikan testpack miliknya kepada Maya untuk bukti kehamilan palsu Maya ketika Maya dan Rendra berpamitan pulang.

Kini rencana pertama mereka adalah datang ke rumah Maya untuk menemui Yanti dan Handoko, orang tua Maya.

Di depan halaman rumah Maya, sepasang kekasih itu turun dari kendaraan masing-masing.

"Mas, aku takut!" Maya tampak cemas.

"Jangan takut. Ada aku di sampingmu. Apa pun yang terjadi aku nggak akan pernah mundur walau semua orang tidak merestui cinta kita. Ingat jika Tuhan merestui, manusia tidak akan bisa berbuat apapun." Rendra menggandeng tangan Maya dan mengajaknya melangkah ke depan pintu rumah Maya.

Tok ... tok ... tok ...

Rendra mengetuk pintu walau pintu rumah itu saat ini tengah terbuka.

"Assalamu'alaikum ...." Rendra mengucap salam.

"Wassalamu'alaikum ...." Sahut Yanti membalas salam sambil berjalan dari arah dapur. Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat pemandangan di hadapannya saat ini. Iya benar, Yanti melihat Rendra dan Maya berdiri ditengah pintu sambil bergandengan tangan.

"Yah ... Ayah keluarlah! Lihat siapa yang datang!" ucap Yanti masih berdiri mematung sambil memanggil suaminya.

"Siapa yang datang, Bu?" Handoko keluar dari kamarnya dan langsung melihat ke pintu rumahnya. Amarah langsung memuncak ketika ia melihat Rendra.

"Hey, anak muda! Silahkan pergi dari rumah kami! Tidak ada tempat untukmu." Handoko hendak kembali ke kamarnya tapi terhenti oleh ucapan Rendra.

"Aku datang ke sini untuk melamar Maya dan mempertanggung jawabkan perbuatanku!" sahut Rendra yang masih berdiri di ambang pintu bersama sang kekasih.

"Apa maksudmu mempertanggung jawabkan?" Handoko langsung berbalik dan melangkahkan kakinya untuk mendekati Rendra dan Maya, disusul oleh Yanti di belakang Handoko.

"Maafkan saya, Om. Maya telah hamil anak saya usia kandungannya saat ini sudah 2bulan," jawab Rendra.

"Apa kau bilang!" Handoko meraih kerah baju Rendra dan langsung melesatkan pukulannya Beberapa kali tepat di wajah Rendra hingga Rendra terjatuh di depan teras rumah, tentunya Rendra sengaja tidak melakukan perlawanan.

"Ayah ... Hentikan! Tolong, Yah! Hentikan!" Maya merangkul kaki sang ayah dengan ditemani air mata tak kunjung berhenti.

"Sudah, Yah! Sudah! Wajah dia sudah berlumur darah, Yah!" Yanti menarik tangan sang suami.

"Bajingan! Kelakuanmu sama bejatnya dengan ayahmu! Laki-laki sialan!" Handoko tampak sangat kacau.

"Saya akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku kepada Maya, Om!" kata Rendra dengan kondisi wajah memar dan hidungnya mengeluarkan darah akibat pukulan Handoko.

"Brengsek! Itu juga yang dikatakan Burhan kepada Lastri! Tapi kenyataannya berbeda! Lastri mengakhiri hidupnya karena ulah Burhan!" Handoko mengambil posisi akan memukul Rendra kembali, tetapi ditahan oleh Yanti.

"Sudah, Yah! Sudah! Tenangkan diri Ayah! May ajak Rendra masuk dan ambilkan kotak P3K, kamu obati wajah Rendra!" ucap Yanti.

"Baik, Bu!" Maya membantu Rendra berdiri dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.

"Kenapa Ibu malah menyuruh brengsek itu masuk rumah kita?" Handoko masih dipenuhi emosi.

"Yah, tolong Ayah tenangkan diri Ayah terlebih dahulu. Malu sama tetangga jika ribut di depan rumah," Yanti menenangkan suaminya.

"Persetan dengan tetangga, rasanya Ayah ingin menghabisi Burhan dan anaknya saat ini!" Handoko mengambil gunting rumput dan melangkahkan kaki ke dalam rumah dengan dipenuhi emosi.

"Yah ... Ayah! Ayah mau ngapain? Yah, berhenti!" Yanti mengejar sang suami.

=======00000=======

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED