Bab 1

“Ini apa Mas?” tanya Aulia yang baru saja diberikan oleh Dimas ketika selesai memasangkan dasinya.

“Baca saja, kamu bisa, kan?” ketus dari Dimas dengan suara yang galak tanpa melirik ke arahnya.

Aulia melihat ke arah kertas tersebut, bertuliskan undangan pernikahan. Dirinya tentu saja bingung. Sempat melirik ke arah sang suami, hendak bertanya apakah maksud dari dia memberikan ini. Tapi, dirinya berusaha berpikir positif, paling juga undangan temannya, kan?

Tanpa merasa curiga, Aulia langsung membuka kertas undangan tersebut, dan melihat siapa yang hendak menikah. Matanya tertuju kepada nama pengantin wanitanya terlebih dahulu. Di sana, tertera nama Melia.

‘Hmmm? Aku tidak punya teman bernama demikian,’ batinnya.

Matanya berubah pandang, melihat ke arah nama pengantin prianya. Seketika matanya langsung terbelalak, melotot rasanya mau keluar ketika melihat nama prianya. Dimas Afganis? Berubah kembali matanya melihat ke arah sang suami. Syok rasanya ketika dirinya melihat nama tersebut.

Hati kecilnya sudah terasa terporak-porandakan. Pikirannya sudah kacau balau hanya baru membaca namanya saja. Tetapi, hatinya mencoba untuk berpikir positif. Lalu dirinya menanyakan kepada sang suami perihal nama tersebut.

“Namanya sama kayak Mas, ya?” ucap Aulia sambil tersenyum tipis.

“Memang itu aku,” Langsung sang suami menjawab tanpa memberikan jeda.

Jantung Aulia seolah mau berhenti berdegup dan tidak sanggup menerima pengakuan dari sang suami yang dengan jelas-jelas mengatakan bahwa orang yang tertulis itu memang namanya, dan bukan orang lain. Tangan Aulia sudah gemetar sambil memegang kertas undangan.

Dimas selesai bercermin, dia memutar badan untuk melihat ke arah Aulia dengan wajahnya yang tidak merasa bersalah dan juga seperti sudah tidak akan kaget dengan reaksi dari Aulia sendiri.

“Lusa, kalau kamu datang. Jangan mengaku bahwa kamu adalah istriku! Aku tidak ingin pesta yang aku inginkan ini hancur karena egomu sendiri!” tegasnya.

Dimas berjalan melewatinya, tanpa mencoba menjelaskan lebih detail maksud yang dia lakukan ini, dan juga mengenai keputusannya yang menikah kembali tanpa memberitahu kepada Aulia terlebih dahulu. Dirinya masih terguncang, bahkan suaranya sedikit pun tidak mau keluar.

Mendengar bahwa pintu rumah telah ditutup, menandakan kalau Dimas telah keluar, langsung terjatuh dirinya kala tersebut. Menangis pun Aulia tidak sanggup. Air matanya seolah juga ikut membeku di dalam dirinya. Napasnya sesak. Ia memegang dada dan berusaha mengatur napasnya.

“HuHHHH, HUHHHHHH,” Ia merasa benar-benar sesak.

Tertatih-tatih, dirinya mengambil air dan juga langsung meneguknya. Merasa sedikit lebih baik, Aulia hanya bisa bersadar di badan kasur sembari sesekali menepuk dadanya sendiri. Kurang bisa ia percaya, bahwa suaminya akan menikah lagi.

‘Jadi…, aku dimadu?’

Benar saja. Lusanya, dengan pakaian yang formal, Aulia memberanikan diri datang ke alamat yang telah tertera pada undangan tersebut. Betapa megah dan juga ramainya tamu undangan yang dirinya lihat. Bahkan, ada orang-orang yang tidak pernah dirinya lihat juga datang ke pesta pernikahan dirinya.

Tampaknya, Dimas lebih menghargai pernikahannya kali ini, sampai melakukan pesta besar dan juga membuat pesta ini tampak sangat mewah. Apa ini yang sangat ia inginkan dari dulu? Lalu kenapa malah menikah dengan dirinya kalau begitu?

Pernikahan mulai berlangsung, hingga dimana mempelai mulai disatukan, dan mengucapkan janji mereka. Mata Aulia tidak bisa lepas dari pandangan wajah Dimas, yang tampak sangat bahagia dan juga penuh dengan seluruh suka cita yang ada. Hingga dirinya mendengar janji Dimas.

“Untuk istriku satu-satunya…, aku berjanji akan selalu berada di sisimu,” ucapnya sembari tersenyum dengan sangat dan amat lebar sekali.

Nyuttt. Hati dari dirinya ini sakit mendengar. Aulia merasa langsung lemas seketika. Dirinya sudah dikhianati, tapi malah nekat datang ke pesta pernikahan ini. Air matanya yang mulai terasa mengambang membuat Aulia tidak kuat. Ia segera keluar dari aula, meninggalkan gedung.

Air matanya sudah membasahi pipinya tersebut. Malam makin dingin, dan suasana makin sepi. Rasanya sesak sekali. Di dalam sana terdengar suara riang gembira, dimana mereka seolah merayakannya dengan sangat bahagia sekali. Yang tidak habis pikir adalah, keluarga Dimas tidak mengatakan apa-apa kepadanya, dan mereka sekarang berada di dalam sana seolah dirinya ini tidak pernah ada.

Rasanya ingin marah, dan juga mengamuk sebesar yang dirinya bisa, memikirkan bahwa ia hanyalah seorang wanita biasa. Kenapa…, apa kurangnya dirinya sampai akhirnya Dimas memilih wanita tersebut daripada dirinya ini?

Aulia pulang ke rumahnya, meski masih lemas dan juga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia masuk ke dalam rumah dengan wajah yang murung dan juga suasana hati yang sangat tidak nyaman sama sekali. Saat baru masuk kamar, Aulia menemukan selembar surat yang tertempel dengan jelas di sana.

‘Keluar dari rumahku. Sekarang ini adalan tempatku dan juga istriku saat ini. Sebaiknya segera kemasi barangmu dan jangan berada di rumah sebelum ukul 11 malam ini!’

Isi surat tersebut benar-benar snagat to the point. Akal sehat Aulia seolah sudah hilang seketika. Ia langsung menangis meraung dengan sangat keras sekali. Ia sama sekali tidak suka dengan cara orang ini memperlakukannya. Sangat tidak sopan!

Ia mengeluarkan koper dan mengambil semua bajunya. Memasukkan semuanya menjadi satu dan tidak meninggalkan satu pun barangnya di sana.

“Dasar pria brengsek! Mulutnya saja yang manis mengatakan bahwa dia akan setia! Nyatanya dia juga buaya!” kesalnya sambil memasukkan semua barangnya.

Keluar dari rumahnya. Aulia menuju ke mobil dan langsung memasukkan seluruh barangnya ke dalam bagasi. Masih dalam keadaan emosi, dirinya mengendarai mobil dengan perasaan benar-benar kalut sekali. Aulia menuju ke salah satu rumah sahabatnya, yang sudah lama tidak ia datangi.

Di depan rumahnya, berat sekali rasanya langkah dari Aulia untuk sekedar mengetuk dahulu. Bayangan soal sang sahabat yang dari dulu memperingati dirinya bahwa Dimas tak sebaik yang ia kira, terus terasa. Dirinya saja yang terlalu bebal dan menganggap ucapan sang sahabat hanya hasutan belaka.

TOK… TOK… ToK…. Bunyi dari pintu yang telah diketuk oleh Aulia.

“Ya? Siapa?” sahut suara sahabatnya dari dalam.

Kriett. Pintu terbuka dengan sangat lebar. Sang sahabat sedang memakan roti kembang yang dimana itu adalah makanan yang biasa dirinya beli dahulu saat masih berkuliah. Sang sahabat, Rina, menatapnya dengan kosong dan juga tidak kaget melihat kedatangannya.

Rina menghabiskan rotinya, menatap tajam kepada Aulia yang baru saja tiba di rumahnya tersebut, “Kenapa kamu datang? Sudah tahu sifat suamimu yang tidak pernah kamu percaya dari mulutku ini?" celetuknya dengan sangat ketus.

Mendengar ucapan tersebut, kembali membuat Aulia merasa sedih. Air matanya tetap mengalir, namun sunyi dari mulut Aulia hendak mengeluarkan isakannya. Rina hanya bisa menghela napas setelah melihat bagaimana dirinya ini merespon.

“Sudah lah,” ucapnya sambil menepuk pundah Aulia, “Ayo masuk, di luar sudah mulai hujan.”

Bab 2

Rina membuatkannya segelas the hangat dan juga memberikannya beberapa roti yang sama seperti yang tadi dia makan. Dengan gayanya yang cukup tomboi, Rina duduk sambil menaikkan sebelah kakinya tersebut, dan masih tetap mengunyah roti yang ia bawa.

“Makan lah, kamu bisa mati kelaparan kalau hanya menangisi pria brengsek itu,” ucap dari Rina.

Dengan tangan gemetar, Aulia mengambil roti tersebut. Entah karena lapar atau masih karena tidak bisa menerima kenyataan yang dirinya miliki ini, membuat tangan Aulia yang mencoba membuat roti masuk ke mulutnya terus geemtar. Bahkan air mata juga menimpali dirinya pada saat itu. Rasanya masih bingung dirinya harus tersenyum atau bagaimana dengan ini semua.

Rina mengubah posisi duduknya, lalu berpindah ke sebelah Aulia. Dia menepuk berkali-kali punggung Aulia dengan pelan dan sesekali mengelus memintanya untuk tenang.

“Sudah, jangan terlalu dipikirkan, sekarang kamu sudah bisa merasa aman di sini,” ucapnya.

Aulia menelan roti bersama dengan tangisannya tersebut. Tangannya menghapus air mata yang ada di pipinya dan mencoba untuk lebih tenang lagi.

“T- Tapi…, Rina, aku sangat mencintainya…, bagaimana mungkin aku bisa jauh dari Dimas?” ungkap dari Aulia.

“Astaga ya Tuhan,” Rina sudah tidak habis pikir lagi, “setelah kamu lihat bagaimana tingkahnya kamu masih bilang cinta?” ucap Rina.

Aulia menoleh ke arah Rina yang sudah kesal setengah mampus kepada Aulia ini, “K- Kamu tahu apa yang diperbuat oleh Dimas?” Aulia mencoba memastikan, karena tampaknya Rina berbicara seolah dia sudah tahu sekali dengan apa yang terjadi antara dirinya dan juga Dimas.

“Aku memang tak tahu secara jelas, tapi, yang pasti ini berkaitan dengan wanita, kan? Kamu pasti melihat di depan mata kepalamu sendiri kalau dia bersama wanita lain, makanya kamu bisa menangis seperti ini, kan?” terka dari Rina.

Tidak meleset sama sekali, meski tidak secara detail Rina tahu. Rasanya masih sesak sekali. Kenyataan ini terlalu pahit meski dirinya tahu dari mulut Dimas langsung. Ia masih tidak mengerti kenapa ini semua justru terjadi kepada dirinya ini. benar-benar tidak habis pikir.

“Dia…, Dia menikah dengan wanita lain..,” ucap Aulia.

Rina, yang mendengarnya sangat dan amat kaget sekali. Matanya yang sudah besar itu makin membesar seolah dia tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Dimas. Mulutnya bahkan ternganga karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aulia.

Dirinya masih mencobamengunyah roti yang dirinya bawa ini, dan sesekali menghapus air mata dan juga mencoba untuk menenangkan diri. Meski saat menelannya rasanya sakit sekali.

“Aku bahkan diminta untuk pergi dari rumah karena katanya dia mau tinggal di sana dengan wanita itu,” sambung Aulia dengan suara yang tersedu.

“ARGHHH,” Rina berteriak dengan sangat keras dan langsung bangun dari duduknya, “Brengsek! Dasar pria pengecut!” teriak dari Rina.

Aulia tahu bahwa Rina benar-benar kecewa dan juga marah sekaligus. Walau mereka sudah lama tidak bertemu, pastinya baginya ini adalah sebuah penghinaan yang sangat besar sekali, makanya dia bisa sangat dan amat marah sekali. Rina berbalik badan dan menuju ke arah dari Aulia.

“Kalian sudah berpisah? Sejak kapan kamu tahu?” introgasinya dengan sangat segera.

Dirinya segera menggelengkan kepala sambil menghapis air matanya, “Dimas baru mengatakannya dua hari yang lalu. Aku merasa tak bisa melepaskannya, aku benar-benar cinta padanya…, Rina,” balas Aulia.

Tentu saja ucapan dari Aulia membuat Rina makin kesal dan juga tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh dirinya. Kepalanya langsung ditoyor. “Bodoh, kamu sudah dimadu secara tidak langsung, dan kamu masih mencintainya? Pakai otakmu! Jangan pakai hatimu saja! Pria itu tidak puas denganmu dan mungkin dia tidak akan pernah puas soal wanita,” nasihat dari Rina.

“Tapi…”

“Tapa tapi tapa tapi, memang ya, cinta itu bikin orang yang dulu jadi juara kampus dan juga juara internasional bodoh sampai ke ubun-ubun?! Memang kamu tidak lihat apa saja kesempatan yang hilang semenjak bersamanya hah?! Kamu bahkan tidak bisa keluar rumah karena tidak menghasilkan uang!” sela Rina dengan galak.

Terdiam Aulia mendengarnya. Selama ini dirinya lebih sering dikurung bak binatang di dalam rumahnya. Hanya uang bulanan yang dirinya cukupkan untuk memenuhi seluruh kebutuhan pribadi sembari memotong uang makannya sendiri. Aulia juga dilarang bekerja, atau bahkan hang out bersama Rina sekali pun.

‘Tapi itu pasti demi kebaikanku, kan? Dimas pasti tahu apa yang baik untukku dan juga dia melakukan itu bertujuan untuk melindungiku, kan?’ batinnya mencoba berpikir positif atas apa yang semua telah dilakukan oleh Dimas kepadanya.

Ya…, selama ini Dimas sudah sangat baik padanya, kenapa dirinya harus bertindak seolah Dimas adalah orang jahat? Bukannya harusnya dirinya merasa bersyukur karena Dimas selalu berada di sisinya?

“Bodoh kamu namanya tidak pernah curiga padanya. Seharusnya kamu berpikir dengan logikamu. Dia bisa punya wanita lain sampai dinikahi hari ini pasti karena dia tidak pernah menunjukkanmu sebagai sebagai seorang istrinya! Harusnya dari dulu kamu dengarkan aku, kalau dia hanya tidak suka ada yang lebih dari yang dia bisa.”

DEGGGHHHH. Pikiran Aulia yang tadinya termenung memikirkan betapa baiknya Dimas selama ini dan juga memikirkan arah positif kepada sang suami, mendadak saja membeku dalam pikirannya. Kalimat ketus tersebut seolah membawanya ke dalam masa lalu yang cukup cerah. Bahkan sangat cerah sampai banyak orang sudah iri kepadanya.

‘Hebat ya Aulia, nanti kerja bisa langsung di periusahaan besar.’

‘Dia kalau cari investor untuk usahanya juga pasti lancar.’

‘Aulia kalau susah juga ada saja yang akan membantu. Dia kan pintar mambuat pertemanan dengan orang-orang hebat.’

Bayang-bayang ucapan banyak orang yang selalu mengaguminya mendadak muncul di kepalanya. Air mata yang semula menunjukkan betapa terpukulnya Aulia langsung tiada sama sekali. Begitu pun sesak dadanya. Rasa sakit hatinya seolah sirna setelah sahabatnya berkata dengan cukup kasar kepadanya, menyadarkan Aulia akan kenyataan yang ada.

Apalagi, perkataan soal Dimas tersebut…., Ya.

“A.. apa katamu?” Aulia meminta diperjelas.

“Kamu tidak tahu? Dimas pasti sengaja mengurungmu selama 3 tahun tanpa membiarkanmu bekerja itu, pasti karena dia ingin membuat kamu jauh di bawahnya! Sehingga dia akan tetap dipandang sebagai orang hebat lainnya!” tegas Rina.

Seolah masih tidak bisa percaya dengan sepenuhnya, tapi akal sehatnya juga tidak bisa menolak sama sekali apa yang dikatakan oleh Rina. Selama ini Aulia tidak melakukan apa-apa, tentu saja ia jadi kekurangan pengalaman di bidang apa pun yang dirinya miliki.

Bodoh…, kenapa dirinya bisa baru menyadarinya sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja kalau tahu akan jadi seperti ini?

“Aku bodoh!”

“Ya! Kamu bodohhhhhhhhh sekali.”

Bab 3

Melihat wajah Rina yang sebenarnya sedang marah tersebut, justru membuat Aulia malah sedikit tertawa dan mau mengeluarkan seluruh rasa leganya. Hanya saja dirinya tahan dengan segera, karena tahu kalau temannya ini tidak suka ditertawakan saat serius.

“Tapi…, kalau kamu sudah disuruh keluar dari rumah, bukannya berarti kamu secara tidak langsung mau diceraikan?” tanya Rina.

Bayang-bayang ketakutan akan hal tersebut yang tadinya sangat mengganggu pikiran Aulia, sekarang sudah tidak terasa demikian. Dirinya akhirnya bisa tersenyum tipis dan tidak ambil pusing dengan apa yang dikatakan oleh sang sahabat. Sekarang dia sudah bisa setidaknya menerka apa yang mungkin akan terjadi.

“Mungkin…, tampaknya Dimas lebih bahagia dengan pilihannya yang sekarang. Dia bahkan mengadakan pesta besar-besaran dan juga mengundang banyak tamu. Berbeda jauh saat hari pernikahanku,” jelas Aulia.

“Ya makanya! Coba saja kamu mendengarkanku dari dulu, mungkin sekarang kamu sudah jadi direktur perusahaan ternama. Atau mungkin saja sekarang kamu sedang berkeliling dunia!” gusar dari Rina yang benar-benar menyayangkan kesempatan Aulia.

Aulia tersenyum mendengar bagaimana pandangan Rina terhadap dirinya dengan mengandai-andaikan saja. Bahkan air matanya seolah kering setelah Rina secara tidak langsung mencoba meghiburnya. Rina yang melihatnya sudah bisa tersenyum pun kini menurunkan emosinya sendiri.

Dia mendekat ke arah dirinya kembali, duduk dan kembali memakan roti yang masih tersisa di atas piringnya tersebut. Badannya yang sangat kecil tersebut dilempar ke atas sofa dengan sangat ringan sekali.

“Lalu? Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Kalau kamu sampai mau datang ke rumah si Dimas atau keluarganya lagi, jangan muncul di depanku. Aku sudah muak memberitahumu yang buta dan tuli akan cinta si brengsek itu,” ketus dari Rina.

Meski pikirannya belum sepenuhnya terima dengan apa yang dikatakan oleh Rina, tapi ada benarnya juga. Sekarang, yang bisa dirinya datangi untuk menampung dirinya hanya lah Rina seorang. Dirinya ini yatim piatu, siapa lagi yang bisa dimintai tolong, kan?

Diam sejenak Aulia setelah mendengar kalimat dari Rina. Ada banyak pikiran dan juga sebenarnya tidak terlalu banyak pilihan yang bisa ia ambil. Dan ia mencoba, untuk mengutarakan isi pikiran kecilnya dulu.

“Sekarang, aku harus survive untuk hidupku dulu. Dari dulu Dimas hanya memberikan uang dapur dengan cash semata, sekarang aku tidak punya uang sama sekali. Dan aku yakin, Dimas tidak akan memberikan uang padaku,” jelas Aulia.

“Jadi, sekarang uang yang paling kamu butuhkan?” tanya Rina.

Aulia mengangguk. Demi keberlangsungan hidupnya yang dulu bergantung kepada Dimas, dan sekarang dipaksa keluar, membuatnya tidak memiliki bekal meski hanya sedikit pun. Mau meminjam ke bank saja dirinya tidak punya aset yang bisa dipakai sebagai jaminan.

Namun, ada satu kendala yang membuat dirinya sedikit ragu akan pilihan ini.

“Tapi, perusahaan mana yang mau memperkerjakan orang yang bahkan sejak lulus tidak pernah bekerja sama sekali? Terhitung lagi sudah cukup lama sekali dari waktu magang dulu,” ucap dari Aulia.

Rina mulai menyeringai mendengar ucapan dari Aulia. Dia menepuk punggung Aulia dan sesekali memberikan tawa kecil seolah sudah tahu apa yang direncanakan. Matanya melirik ke arah dirinya, dan melihat dengan sangat senang.

“Tenang, aku tahu ada perusahaan yang bisa menerimamu. Tapi, kamu harus ikut dulu denganku besok,” jawab Rina.

Bingung pastinya Aulia mendengarnya. Namun, tak menolak sama sekali, dirinya menerima tawaran karena Rina mengatakan dia tahu ada perusahaan yang bisa menerimanya ini.

Esok harinya. Aulia tidak menduga sama sekali kalau Rina berpikiran untuk mengajaknya ke sini. Ya, Mall. Sudah lebih dari 2 tahun dirinya datang kemari. Terakhir waktu Dimas yang mengajak karena katanya permintaan dari mama. Dan sekarang, sekali lagi dirinya datang kemari.

Mata Aulia tidak bisa melepaskan pandangan dari seluruh pakaian yang ada. Entah kapan terakhir ia sempat membelikan baju untuk dirinya sendiri. Hingga mereka berdua berhenti si store yang menjual berbagai pakaian untuk kerja.

“K- kenapa kita ke sini?” tanya Aulia.

“Katanya mau kerja. Memang kamu mau bekerja dengan pakaian bagaimana kalau bukan pakaian kantor? Kamu mau pakai daster?” balik tanya Rina yang kesal dengan pertanyaan Aulia.

“Tapi, aku tak punya uang.”

“Sudah, tenang saja, sekarang aku yang akan membayarnya dahulu. Cepat…, pilih,” ajak dari Rina yang sangat senang.

“Tidak, aku akan membeli-“

“Hei. Terserah kamu mau menerima ini sebagai hadiah atau mau kamu anggap hutang sekali pun aku tidak peduli. Sekarang, pilih saja, nanti biar aku yang urus pembayarannya,” ucap dari Rina segera menyela.

Tampak sangat senang sekali Rina memilih beberapa kemeja putih dan biru muda yang dicocokkan kepadanya. Rina juga memilihkan rok yang pantas untuk bisa dipakai untuk dirinya bisa melamar pekerjaan pastinya. Rasanya tidak enak sekali kepada Rina. Sahabatnya yang sangat tulus ini pernah ia abaikan begitu saja.

Ketika sedang melihat-lihat rok yang cocok untuknya, tak sengaja Aulia melihat dengan mata kepalanya sendiri, mama, mama Dimas berada di mall yang sama. Tanpa memikirkan dahulu dengan akal sehatnya, Aulia spontan bergerak dan mencoba menghampiri mama.

“Mama…,” ucapnya pelan. “Mama.” Sekarang dirinya langsung melangkah menuju ke arah sang mama.

“H- Hei, Aulia!” panggil Rina yang kaget akan pergerakan dari Aulia yang secara tiba-tiba sekali.

Langkah Aulia melesat dengan sangat cepat, dan ia tidak memikirkan kondisi sekitar saat hendak menghampiri sang mama tersebut. Di depan matanya, ia melihat bahwa mama datang bersama dengan adik ipar dan sedang memilih baju di depan sana.

Matanya terasa gelap kembali, karena Aulia mendatangi tanpa melihat ke sekitar dan juga seperti tergerak oleh hatinya untuk menanyakan perihal pilihan Dimas tersebut.

“Mama,” panggil Aulia sembari berada di dekatnya.

Mama menoleh beserta dengan adik iparnya. Tak jauh dari sana, muncul sesosok psangan dari belakang rak baju menuju ke samping mama. Jantung Aulia berdegup kencang, dan bahkan seluruh badannya terasa kehilangan keseimbangan saat melihat orang tersebut.

Muncul Melia dan juga Dimas yang sedang berpegangan tangan. Bola mata Aulia gemetar melihat pasangan tersebut muncul dari sana. Dia tidak tahu kalau ternyata mereka berdua juga ikut.

“Apa? Mama?? Kamu punya saudara lagi sayang?” tanya wanita bernama Melia, sambil melihat ke arah Dimas.

Dimas sempat memberikan kode kesal akan Aulia yang muncul, dan membuatnya langsung membuang muka dengan seketika. Benar-benar di luar dugaan sekali, kan? Dimas secara tidak langsung menunjukkan ekspresi marah, namun langsung berubah saat Melia bertanya.

“Ohh, bukan sayang, dia ini sepupu jauhku. Kebetulan dekat dengan mama, makanya dia memanggil mama dengan sebutan mama, bukan bibi,” jawab dari Dimas.

Itu membuat dirinya makin sakit ketika mendengar langsung dari suaminya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED