"Kenapa kau selalu muncul tiba-tiba? Bikin kaget saja," rengek Yura pada Fino yang tiba-tiba muncul di hadapannya itu.
"Kau melamun, makanya jadi kaget! Sebenarnya aku sejak tadi sudah ada di sini." Fino mengingatkan Yura yang tidak menyadari keberadaannya sejak tadi.
"Ada yang mencinta tapi orang lain tak mampu membalasnya, ada yang hidup bersama tapi tak saling cinta, sedangkan kita? Kita saling cinta, tapi tak bisa bersama," keluh Yura diikuti setetes air yang keluar dari ujung matanya.
Fino tersenyum. "Bukan tidak bisa bersama, tapi kita hanya takut! Takut pada Tuhan kita!" seru Fino yang berusaha tegar supaya Yura tidak sedih.
"Sudahlah! ini buatmu," sambung Fino seraya menyerahkan sebungkus pelastik kecil kepada Yura.
Yura mengerutkan keningnya. "Apa ini? Kau memberiku hadiah?" tanya Yura yang tersenyum pada Fino.
"Tadi di jalan aku tidak sengaja melihatnya, sepertinya cocok untukmu," jawab Fino.
"Hijab? Tapi aku 'kan tidak memakai hijab," sahut Yura yang langsung membentangkan hijab itu dan mengalungkannya di leher.
"Tapi ini cantik sekali, motifnya bagus, aku suka! Terimakasih yaaa, Fin," ujar Yura lagi seraya tersenyum menghargai pemberian Fino.
"Kau seorang muslim, kenapa tak mau pakai hijab?" Fino menatap Yura yang sedang mengamati hijab itu.
"Bukan tidak mau, tapi aku belum yakin." Yura memberi alasan.
"Aku non muslim, tapi aku suka wanita berhijab. Entah mengapa, kain hijab yang menutupi rambutnya justru membuat wajahnya menjadi semakin menawan." Fino menatap tajam ke arah Yura.
"Kalau aku jadi mu'alaf, apa kau mau memakai hijab?" Fino kembali bertanya pada Yura.
Yura berhenti berfikir dan menatap tajam mata Fino, ia tidak menyangka kekasihnya ini akan berbicara seperti itu.
"Yura, kau dengar ini baik-baik yaaa!"—Fino meraih tangan Yura dan melanjutkan kata-katanya— "Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah, Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."
Hati Yura meleleh mendengar lafadz dua kalimat syahadat yang keluar dari mulut Fino, bak ribuan jarum es menusuk ke dalamnya. Syarafnya seketika membeku semuanya.
Perlahan dengan bibirnya yang bergetar, Yura berkata, "Finnnooo, apa kau sadar terhadap apa yang kau lakukan? lafadz dua kalimat syahadat bukan untuk main-main!" seru Yura.
"Aku memang sedang tidak main-main Yura! mulai sekarang, aku muslim!" seru Fino untuk meyakinkan Yura.
Yura tersenyum menatap wajah Fino, dalam hatinya masih merasa kejadian ini hanyalah mimpi. Tapi kenapa perasaannya begitu tidak enak seperti mencemaskan sesuatu.
"Yura, coba kau lihat disebelah sana!" Fino menunjuk ke arah belakang Yura.
Yura langsung menoleh ke belakang dan melihat Adi yang sedang berlari tertatih-tatih dan menuju ke arahnya.
"Yuraaa ...!" sahut Adi dengan terengah-engah.
"Adi, ada apa?" Yura langsung bangkit dan mendekat ke Adi, sahabat Fino ini.
"Yuraa ..., Fiiinnn - Fiiinn, Finoo kecelakaan Yura!" Adi terbata-bata karena nafasnya masih memburu.
"Apa kau bilang? Adi, carilah candaan yang lain, ini tidak lucu!" Yura sedikit tersinggung dengan Adi yang kelewatan itu.
"Yura? Aku tidak bercanda, Fino kecelaan! Sekarang dia ada di rumah sakit! Ayo ikut aku!" ajak Adi semakin tidak karuan.
"Cukup Adi! Bercandamu keterlaluan! Jelas-jelas Fino ada di-" tiba-tiba Yura menghentikan pembicaraannya saat melihat Fino telah sirna dari tempat duduknya.
"Fiiinnnn ... Finoo ... Finoooo ...! Kau dimana? Finoo? Kau kemana?" Yura berjalan kesana kemari mencari-cari Fino.
"Astafirullohal'azim ... Finooo ... kau dimana?" Yura tersungkur, menangis ketika sadar Fino tidak ada lagi di hadapannya.
"Yura, sudah Yuraa ...! Kau ini kenapa? Ayo kita ke rumah sakit, Fino kritis sekarang." Adi merebut tangan Yura dan menariknya.
"Tidak mungkin Fino kecelakaan, tidak mungkin Di ... barusan dia ada disini bersamaku, lalu dia memberiku-" Tanpa menyelesaikan dialognya, Yura langsung menangis sejadinya.
"Yura cukup! Fino butuh dukungan kita sekarang, ayoo!" Adi berusaha menenangkan Yura dengan menggenggam erat kedua lengan Yura.
"Sumpah Diiii! Fino tadi di sini bersamaku, lalu dia memberiku hijab berwarna cream dan sekarang aku tidak tau Fino di mana dan hijab itu juga di mana?" Yura menangis terisak.
"Yura, kau harus tenang dulu! Kita pergi ke rumah sakit sekarang! Fino sedang berjuang melawan rasa sakitnya! Kau harus sabar! Ayo kita temui dia dulu!" Adi dengan sabar membantu Yura berdiri dan menuntunnya.
***
Setibanya di rumah sakit, ternyata semua orang sudah berkumpul disana. Yura berlari menemui seseorang yang tengah berdiri menundukkan kepalanya.
"Nini, bagaimana keadaan Fino?" tanya Yura pada Nini, neneknya Fino. Tapi Nini tak memberikan jawaban apapun.
"Kenapa kalian semua diam? Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan Fino? Nini, Fino kenapa?" Yura melutut dan menangis di depan keluarga Fino.
Tiba-tiba adik kecil Fino mengusap air mata Yura dan berkata dengan polosnya, "Teteh jangan nangis yaaa! kata Nini, Bang Fino baik-baik saja, dia sudah pergi kelangit untuk bertemu bidadari."
Yura merasakan seluruh tubuhnya lemas tidak berdaya, ia jatuh dan semakin bertekuk lutut di hadapan semuanya. Yura tidak pernah membayangkan, bahwa orang yang berbicara dengannya beberapa saat tadi hanyalah arwah Fino. Tak menyangka Fino akan secepat itu tiada, dia berlari menerobos masuk ke ruang IGD itu dan menggila di hadapan jenazah Fino. Semua orang masih terpaku dalam diam, airmata yang sejak tadi membanjiri pipi-pipi itu kini berangsur kering dengan sendirinya.
***
Beberapa hari setelah pemakaman Fino, Nini menemui Yura yang masih duduk dengan pandangan kosong di ruang tamu rumahnya.
"Cucuku Yura, Abangmu Fino sangat mencintaimu. Dia meninggal dalam keadaan muslim. Pagi itu sebelum kecelakaan terjadi, Fino telah memutuskan untuk memeluk Islam demi dirimu. Kami semua tidak lagi menentangnya, kami ikhlas jika Fino harus meninggalkan keyakinannya. Tapi takdir sekali lagi menjalankan sekenario menyedihkan ini. Terima ini nak, ini adalah barang terakhir yang dibawa Fino untukmu."
Setelah Nini pergi, Yura membuka bungkusan pelastik itu. Ternyata isinya adalah hijab yang sama dengan hijab yang dibawa arwah Fino saat menemuinya beberapa hari yang lalu. Ada surat kecil keluar dari dalamnya, pesan singkat dari sang pujaan hati,
'Aku takut membuatmu jatuh cinta terlalu dalam kepadaku! Aku takut tak bisa membimbingmu karena aku orang baru dalam agamamu.
Tapi, hadirmu telah memberiku banyak pelajaran. Kau mengenalkanku tentang agamamu hingga membuatku yakin untuk itu.
Setidaknya kebersamaan denganmu tidak membuat lafadz Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah menjadi sia-sia, karena Allah telah menuntunku untuk mengucapkannya dengan sangat lancar.
Terimakasih Yura, berkatmu saat ini aku bisa tidur dengan damai dalam pangkuan illahi.
Yura, jika suatu saat nanti akan ada kesempatan kedua untukku, jika nanti akan ada kehidupan setelah kematian, maka aku memilih untuk terlahir kembali sebagai seorang muslim. Aku akan memperdalam pengetahuan agamaku untuk menjadi imammu.
Tangis Yura langsung pecah setelah membaca tulisan Fino dalam surat itu, dia memeluk erat hijab itu. Dan kemudian memakai hijab itu di kepalanya
Yura terus hidup dalam kesenjangan perasaan. Cinta Fino terus mengikatnya, membuatnya enggan mencari yang lain. Yura menutup dirinya dari siapapun, menyendiri, dan terus menyendiri.
Yura mengalami depresi yang sangat berat, sehingga membuatnya kehilangan sebagian besar kesadarannya. Orang-orang menganggapnya telah sakit jiwa, hingga ia harus dipasung agar tidak mengacau.
Tapi Yura terus menunggu Fino bereinkarnasi sampai waktunya akan tiba. Sekarang, esok, bahkan dalam keadaan tua renta tak berdaya Yura akhirnya menyusul Fino.
"Tamaaaaat!" Hyura melompat turun dari kursi taman itu setelah menyelesaikan ceritanya dan meminum jus orange yang diberikan Fino.
Ternyata kisah yang tadi itu hanya cerita yang sedang disampaikan Hyura pada Fino.
"Sedih juga yaa Fin jadi mereka ..., mereka berjuang untuk cinta, tapi cinta itu malah berakhir tragis," ujar Hyura kembali mengemukakan pendapatnya tentang cerita yang barusan ia koar-koarkan.
"Fin, mengapa kau diam saja?" protes Hyura pada Fino yang tidak merespon kata-katanya itu.
"Ya terus aku harus berkata apa? Hyura, kau sudah berulang kali menceritakan kisah ini! hari ini saja sudah ketiga kalinya kau mengulang kisah yang sama, aku bosan Ra! aku bahkan sudah hampir hafal setiap katanya," balas Fino mengungkapkan kekesalannya.
"Tapi aku masih penasaran deh Fin, kenapa yaa authornya menulis cerita yang benar-benar gantung seperti itu?" Hyura memapahkan dagu di tangan kirinya.
"Hyura, ini hanya cerita fiksi. Merupakan hak si penulis mau membuat ceritanya seperti apa, kau tidak seharusnya selalu memusingkan cerita itu." Fino kembali menatap Hyura.
"Dari sekian banyak cerita yang ku ketahui, hanya cerita ini yang paling menarik Fin, entah mengapa aku merasa kalau cerita ini nyata Fin! Fino apa kau tau ka-" mendadak Hyura berhenti bicara saat Fino menatap wajahnya dengan marah.
"Kau kenapa lagi sih?" tanya Hyura dengan ketus.
"Sudah, aku sudah tahu apa yang akan kau katakan! Aku lelah Ra, lelah mendengar kau terus berhalusinasi." Fino memegang kepalanya.
"Aku tidak berhalusinasi Fin, aku merasa cerita ini benar-benar nyata! Cerita ini masih ada kelanjutannya!" seru Hyura semakin bersemangat.
"Yura juga telah tiada sekarang, jasadnya telah sirna dan sekarang dia juga pasti telah bereinkarnasi," tambahnya.
"Lalu kau akan mengatakan bahwa dirimulah reinkarnasinya?" Fino mengernyitkan keningnya.
"Nah, itu kau tahu!" seru Hyura tanpa rasa beban.
"Kau sudah mengucapkannya berulang kali Hyura," ketus Fino.
"Benar sekali Fin! Akulah Hyura Anastasya! reinkarnasi dari Yura. Kini aku telah hidup kembali, aku akan berkelana untuk mencari Finoku yang hilang." Hyura bangkit dari tempat duduknya dan mengacungkan kepalan tangannya ke atas.
Fino terus menggelengkan kepalanya memperhatikan wajah Hyura yang selalu mengait-ngaitkan hidupnya dengan isi buku itu.
"Eeh Fin, jangan-jangan kaulah Fino itu!" seru Hyura sambil mengamati wajah Fino yang mengerutkan keningnya menunjukkan ketidak setujuan.
"Tapi jika kau adalah reinkarnasi dari Fino, Yura dan Fino 'kan berpacaran, sedangkan kita malah bersahabat?" Hyura mengigit jari telunjuknya.
Fino menarik nafas panjang dan berkata, "Dengan begitu apa kau akan merubah status kita dari persahabatan menjadi pacaran? Supaya aku benar-benar jadi reinkarnasi dari Pinokio itu, begitu?"
"Ih, Pinokio...." Hyura mencubit hidung Fino. "Ya tidak lah! Tidak mungkin Fino bereinkarnasi menjadi makhluk jelek sepertimu! kalian hanya memiliki kesamaan nama. Fino itu manis, romantis, perhatian, pokoknya sempurna deh! Sangat berbeda dengan tikus kaku sepertimu itu." Hyura tertawa sambil mencomot roti yang dipegang sahabatnya ini.
"Lagian kau itu kan sahabatku, semestinya tidak ada hal cinta dalam persahabatan, aku menyayangimu Fin. Akan sangat berat beban yang harus ku tanggung jika kau menjadi pacarku nanti, aku tidak mau kehilangan sahabat terbaikku juga jika sewaktu-waktu cinta itu hilang," jelas Hyura dengan mulut yang mengembung karena ada roti di dalamnya.
"Andai kau tau bahwa selama ini aku telah jatuh cinta kepadamu, apa mungkin kau akan mengehentikan pencarianmu terhadap reinkarnasi konyol itu? Atau kau tidak akan peduli sama sekali terhadap perasaanku ini, karena status persahabatan yang terlalu kau junjung tinggi," batin Fino.
Fino Fransdico adalah nama lengkapnya, sejak kecil Fino dan Hyura sudah berteman baik. Mereka selalu bersama dan menjadi sangat dekat. Tidak ada yang Fino tidak tahu tentang Hyura, begitupun sebaliknya.
Tapi, sebagian besar orang meyakini bahwa di dalam persahabatan antara seorang laki-laki dan perempuan tidak selamanya mutlak hanya sebuah hubungan persahabatan. Apalagi jika cinta mulai menyelinap ke dalamnya.
Sejak awal, Fino telah menyadari cintanya kepada Hyura. Tapi dia lebih memilih untuk memendamnya, Fino takut akan kehilangan cinta dan sahabatanya jika mengatakan tentang perasaannya pada Hyura. Fino berfikir bahwa Hyura tidak akan pernah jatuh cinta kepadanya. Apalagi sampai saat ini Hyura benar-benar terobsesi untuk mencari reinkarnasi dari tokoh Fino yang telah mati di dalam buku kuno milik kakeknya Hyura itu.
Sementara Hyura juga masih mengamati wajah Fino. "Tidak buruk jika persahabatan kita berubah menjadi cinta Fin, tapi cukup puas aku menatap wajahmu itu tanpa pernah tau warna apa yang kau sembunyikan untukku. Aku bisa menebak perasaan semua orang dari warna mereka, tapi aku tidak pernah bisa melihat warna dari pria yang aku cintai ini. Kenapa, dia tak pernah menunjukkan perasannya yang sebenarnya? Apa yang kau sembunyikan dariku Fin? Bahkan telepatiku saja tidak sanggup menembusnya," batin Hyura.
Hyura Anastasya adalah seorang gadis indigo, sejak kecil ia sudah sering berbicara bahkan berteman dengan makhluk astral. Hyura juga sering menggagalkan rencana setan yang tidak baik dan menyesatkan manusia. Tidak sedikit tuyul yang ingin mencuri uang di sekitar Hyura menjadi insyaf karenanya. Hyura sangat menikmati kehidupannya, ia merasa beruntung menjadi salah satu orang yang memiliki kelebihan indera.
Hyura juga memiliki kekuatan telepati yang luar biasa, ia bisa mendeteksi isi hati orang lain hanya dengan melihat warna cahaya yang terpancar dari wajahnya. Dengan kekuatan itu, Hyura bisa tau siapa saja yang menyukainya, siapa saja yang membencinya dan siapa saja yang berbahaya untuknya.
Tapi tidak pada Fino, telepati Hyura tidak pernah bekerja pada sahabatnya itu. Hyura tidak pernah bisa melihat warna Fino yang sebenarnya. Karena Fino terus menampilkan warna yang begitu banyak di wajahnya. Padahal di dalam hatinya selalu ada rasa ingin memiliki pada Fino, tapi Hyura lebih mempercayai kekuatan telepatinya daripada kata hatinya sendiri.
Tiba-tiba Hyura tertegun melihat sesosok pria yang tiba-tiba muncul di belakang Fino.
"Kenapa Ra? Kau lihat apa?" tanya Fino yang sudah terbiasa menyaksikan sahabatnya seperti itu.
"Hey tunggu!"
Tiba-tiba Hyura berdiri dan langsung mengejar sosok pria itu, tapi dengan secepat kilat pria itu lenyap mengikuti arah angin.
Fino menghampiri Hyura yang masih terengah-engah. "Hyura ada apa?" tanya Fino yang langsung memegang pundak Hyura.
"Sial!" gumam Hyura. "Dia lagi Fin, orang itu lagi!" Hyura menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok pria itu.
"Hyura tenanglah, ini tempat umum Hyura, semua orang akan menatap kearahmu." Fino menenangkan Hyura dan menuntunnya untuk kembali duduk di bangku taman itu.
"Siapa dia Fin? Dia selalu muncul tiba-tiba lalu menghilang dengan sangat cepat, aku takut dia bermaksud jahat Fin!" Hyura menggenggam erat tangan Fino.
Fino meraih kepala Hyura dan menempelkannya ke dadanya.
"Tenang Hyura, dia itu sama dengan makhluk astral yang lain. Dia tidak akan bisa menyentuhmu apalagi menyakitimu. Takkan pernah!" Fino memeluk Hyura dan mengelus rambut Hyura untuk membuatnya tenang.
"Apa dia ada hubungannya dengan buku kakek yaa Fin? Dia itu muncul tidak lama setelah aku baca buku itu." Hyura keluar dari pelukan Fino dan mengigit bibirnya.
"Mungkin saja, mungkin benar katamu! Itu kisah nyata dan tokoh-tokoh di sana sudah menjadi hantu, jadi mungkin ambisimu itu mengusik ketenangan hantu buku itu, jadi hantunya marah!" Fino menyengir.
"Malah bercanda!" Hyura mencubit perut Fino. "Sudahlah, ayo beli takoyaki!" Hyura menunjuk ke arah pedagang kaki lima di seberang jalan sana.
Malam sudah semakin larut, tidak ada lagi aktivitas manusia yang terlihat. Hanya dentingan suara jarum jam dan semilir angin dengan diselingi jeritan binatang-binatang malam yang masih jelas terdengar. Alunan kesunyian malam pun tidak pernah gagal membuai semua mata untuk terlelap.
Malam memang kian sunyi, tapi tidak bagi sebagian besar indigo. Aktivitas para roh malah semakin meningkat pada malam hari. Para indigo itu bahkan tak pernah mengetahui bagaimana suasana kesunyian pada malam hari. Suara canda tawa para roh tersesat yang bermalam di kepala para indigo itu selalu membuat kebisingan, yang membuat beberapa dari mereka ingin memecahkan kepalanya saja. Mereka bahkan hampir tidak pernah mendapatkan kedamaian dalam tidur.
Seperti halnya Hyura, suara rintihan haru menyebabkan kebisingan meraung-raung menyisir otaknya. Sudah biasa baginya, jadi dia memilih untuk mengabaikannya saja. Tapi semakin lama rintihan itu semakin menjadi, seolah-olah seseorang yang menjadi sumber suara itu tengah merasakan sakit yang amat pedih. Rintihan itu seperti suara lirih yang sedang membutuhkan pertolongan, dan semakin memaksa Hyura untuk membuka matanya.
Dengan sangat berat, Hyura bangkit dari tempat tidurnya dan pergi mencari sumber suara rintihan itu. Bertahun-tahun bergaul dengan banyak setan membuat jiwa pemberani Hyura tak pernah ciut menghadapi situasi apapun. Hyura membuka pintu kamarnya perlahan-lahan agar tidak membangunkan anggota keluarganya yang lain.
Hyura berjalan mencari arah sumber suara itu yang ternyata berasal dari sebuah gudang di lantai atas rumahnya. Hyura menaiki tangga dan semakin semangat melangkahkan kakinya mendekati ruangan itu. Tak pernah gentar, Hyura memberanikan diri menyentuh gagang pintu dan, "Cekrek!" Suara pintu itu terbuka.
Betapa terkejutnya Hyura melihat keadaan yang jauh berbeda di dalam gudang itu. Gudang yang selama ini berisi benda-benda kotor yang lama tak terpakai dan hanya dihiasi sarang laba-laba berbalut debu-debu yang berkeliaran kesana kemari, tiba-tiba telah berubah menjadi ruangan yang tertata rapi lengkap dengan tempat tidur dan lemari pakaian di dalamnya.
Sejak kapan gudang usang ini menjadi kamar tidur? Bahkan kamar ini lebih indah dari kamarku, batin Hyura.
Hyura masuk dan kaget melihat seorang wanita cantik tengah terikat kaki dan tangannya di atas tempat tidur. Wajahnya sangat pucat, badannya kurus tak terawat dengan rambut kusam yang sepertinya sudah lama tak pernah dikeramas. Siapa wanita itu? Hyura mencoba mendekatinya dan sekarang wanita itu memalingkan wajah melihat ke arahnya. Wanita itu menangis seolah berharap Hyura akan menolongnya.
"Kau siapa? Mengapa terikat begitu?" Hyura mendekatinya dengan sangat hati-hati. Tapi wanita itu hanya menangis, sebagai jawaban dari pertanyaan Hyura.
"Baiklah, nanti saja kau bercerita yaa. Sebelumnya aku akan membantumu dulu." Hyura meraih rantai di tangan wanita itu.
Wanita itu menggelengkan kepalanya mengisyaratkan Hyura untuk tidak melakukan apapun, hingga terdengar suara ketukan langkah sepatu seseorang dari arah luar yg sedang menuju ke kamar itu. Secepatnya Hyura masuk ke sebuah lemari pakaian kosong untuk bersembunyi. Ada lubang kecil di pintu lemari itu sehingga Hyura dapat melihat jelas apa yang terjadi di luar.
Ternyata dia adalah seorang wanita tua renta yang sangat menyeramkan. Menggunakan baju kebaya kuno dengan rambut memutih sempurna yang dia biarkan terurai dengan bebasnya.
Wanita tua itu mendekati gadis yang dirantai, dia membawa sebuah nampan besi di tangannya. Hyura tak dapat melihat jelas apa isinya, tapi gadis itu terlihat sangat takut dengan kehadiran wanita tua itu. Wanita tua itu meletakkan nampannya di atas meja lampu di sebelah tempat tidur dan mengambil sesuatu dari dalam nampan itu. Ternyata benda yang diambilnya adalah sebuah jarum suntik dan membuat gadis itu semakin meronta-ronta ingin lepas dari rantai yang mengikat tangan dan kakinya. Seolah tak menginginkan wanita tua itu mendekatinya.
Hyura ingin keluar dari lemari itu dan membantu sang gadis, tapi dia merasakan ada sesuatu yang menghalanginya dan membuatnya tidak bisa bergerak. Seperti ada yang menahan kakinya untuk melangkah dan hanya mengizinkannya melihat apa yang akan terjadi. Wanita tua itu tertawa dengan mulutnya yang melebar seperti akan sobek.
"Suntik obat dulu yaa!" ujar sang wanita tua pada gadis tak berdaya yang hanya bisa menangis itu.
Wanita tua itu menusukkan suntikannya ke lengan gadis malang itu, dia bahkan tidak memikirkan cara yang benar untuk menyuntik seseorang. Tapi suntikan itu bukannya untuk memberinya obat, malah wanita itu menyedot darah gadis itu. Gadis itu mengerang kesakitan hingga tubuhnya menjadi lemas dan tak sadarkan diri, sementara Hyura hanya bisa mengawasinya dan tidak dapat berbuat apa-apa.
Wanita tua itu menyemprotkan darah dari suntikan ke dalam sebuah botol kecil. Lalu tiba-tiba pintu lemari tempat persembunyian Hyura terbuka dan membuat wanita tua itu menatap ke arahnya.
Hyura terperanjat sampai punggungnya terdorong ke dinding lemari itu. Untuk pertama kalinya Hyura merasa ketakutan karena kakinya masih terbelit sesuatu di dalam lemari yang membuatnya tidak bisa kemana-mana.
Wanita tua itu berjalan melayang ke arahnya hingga wajahnya sangat dekat dengan wajah Hyura
"Siapa kau?" tanya wanita tua itu.
Tapi Hyura tidak bisa membuka mulutnya karena wanita tua itu mengerang dengan bau mulut yang sangat amis seperti ikan busuk dan membuat Hyura merasa ingin muntah. Hyura mengamati wajah wanita tua itu, rambutnya kusam dan penuh dengan binatang-binatang kecil, wajahnya sangat menyeramkan dan penuh dengan bekas-bekas gigitan belatung. Mata Hyura kemudian mengarah ke mulut wanita tua yang bau itu, giginya menghitam dengan lidah yang pucat dan semakin menjijikkan saat beberapa belatung keluar dari mulutnya.
Wanita tua itu sangat marah, "kau melihat segalanya?" wanita tua itu mendekatkan wajahnya yang semakin menyeramkan dan tertawa terbahak-bahak, "Ahhahahaa ... Kau sangat berani rupanya! Tunggu dulu! Sepertinya kau bisa menjadi senjataku, ada sesuatu di matamu, aku harus mengambilnya." Hyura tak mengerti apa yang wanita tua itu katakan, satu-satunya yang ia fikirkan bahwa hidupnya benar-benar dalam bahaya sekarang.
Wanita tua itu mengarahkan suntikan tajam yang tadi ia gunakan untuk menyedot darah gadis itu ke mata Hyura. "Jangan ... jangan ...." Hyura hanya bisa merintih di dalam hatinya, entah apa yang membuat mulutnya masih terbungkam rapat.
Wanita tua itu terlihat semakin menyeramkan saat jarum suntik itu semakin dekat ke mata Hyura. Entah kekuatan apa yang digunakan wanita tua itu hingga Hyura masih tak bisa berkutik walau hanya untuk menggerakkan jarinya.
Kini Hyura hanya bisa pasrah saat jarum suntik itu semakin mendekati bola matanya. Hyura menjerit histeris saat jarum suntik itu terasa menerobos bola matanya. Dengan sekuat jiwanya ia melawan sesuatu yang menahannya itu hingga tangannya mampu digerakkan dan memberontak dengan sangat keras sampai Hyura mampu bangkit dari tidurnya. Entah apa yang membuat wanita itu tiba-tiba lenyap dari hadapannya. Hyura mengamati sekelilingnya dan mendapatkan dirinya masih berada di dalam kamar tidurnya.