Bab 2

Bab.2

Brava Ragazza mencoba memijit pergelangan kaki kanannya yang terkilir. Hari makin malam , angin dingin mulai berhembus.

Brava Ragazzaee mencoba bangkit berdiri , pelan-pelan berjalan dengan terseok-seok. Kedua tangannya mengepal erat. ia sudah tahu harus berbuat apa. Terngiang-ngiang semua perkataan ayah dan ibunya., masih teringat jelas bagaimana kasarnya perlakuan ibunya tadi. Dengan nafas panjang Brava Ragazza menahan sesak di dada , tidak ada lagi air matanya yang menetes dari kedua matanya namun hatinya sekarang menangis dan rasanya sakit benar-benar sakit sekali. Hatinya berkata..

{"Ya Tuhan , mengapa sesakit ini rasanya ?. sungguh menyakitkan sekali. Selama ini aku tidak pernah tahu kalau aku hanyalah seorang anak haram , jika dikatakan menyakitkan , pastinya ini sudah amat sangat menyakitkan bagiku. ya tuhan , aku tidak bisa bertahan dan lebih baik aku mati saja .!"}

Makin lama makin lemas tubuh Brava Ragazza, dengan matanya yang terpejam , dirinya terus berjalan Ke tengah jalanan yang sepi dan tanpa di duga-duga

*TIINNNN......*

Klakson mobil bersamaan cahaya terang benderang lampu mobil , menyoroti wajahnya dan badannya , bukannya minggir tapi malah ambruk pingsan Brava Ragazza di tengah jalan.

"YA TUHAN...ADA GADIS TERJATUH.!"

Jerit dokter Buona Fata sembari membanting kemudi dan mobilnya melaju mengambil jalur kiri , menghindari tubuh gadis itu. Beberapa orang yang berjalan di tepi jalan langsung terhenyak melihat kejadian itu. Dokter Buona Fata menepikan mobilnya di tepi jalan dan bergegas keluar mobil menghampiri kerumunan orang di tengah jalan.

"Maaf , tolong beri saya jalan..!"

Ucap dokter Buona Fata pada orang -orang yang mengerumuni gadis yang terjatuh pingsan di tengah jalan namun kerumunan orang tidak menghiraukan dang dengan kesal dokter Buona Fata berteriak..

"MINGGIRLAH... BERI SAYA JALAN.!. SAYA DOKTER HENDAK MELIHAT KONDISI GADIS ITU .!"

Seketika itu juga orang-orang menoleh pada dokter Buona Fata yang menunjukkan kartu pengenal dokter dan mereka memberi jalan. Ia mendekat dan berjongkok di samping tubuh Brava Ragazza.

"Gadis ini masih hidup , tolong bawa gadis ini ke mobil saya agar saya secepatnya membawa ke rumah sakit.!. Silahkan jika ada di antara kalian yang ingin ikut .!"

Ujar dokter Buona Fata, dua orang membantu mengangkat tubuh gadis itu masuk ke dalam mobil dan ikut ke rumah sakit.

🌸

Bau obat-obatan menusuk hidungnya. Perlahan-lahan kelopak matanya bergerak dan terbuka .

"Apakah aku sudah mati .?"

Guman Brava Ragazza dengan lirih.

"Kamu masih hidup , gadis cantik."

Ia menoleh mencari asal suara, dokter Buona Fata tersenyum ramah.

Tatapan mata Brava Ragazza kosong ,

"Aku dokter Buona Fata. Kamu tadi menyeberang jalan saat mobil yang kukendarai melintas dan kamu terjatuh pingsan di tengah jalan. Nyaris kamu tertabrak."

Ucap dokter Buona Fata dengan lemah lembut.

"Boleh kutahu siapa namamu , gadis cantik .?"

"Brava.. Brava Ragazza, dokter."

Sahutnya dengan lirih nyaris tak terdengar. Dokter Buona Fata menarik kursi kosong dan duduk di sebelah tempat tidur pasien cantik yang berwajah sendu penuh kesedihan.

"Brava Ragazza, tadi aku memeriksamu dan ketemukan beberapa bekas pukulan di sekujur tubuhmu. Apakah ada yang memukulmu ?."

Brava Ragazza hanya terdiam dengan tatapan matanya kosong dan menggigit bibirnya sendiri.

"Tidak apa-apa , ceritalah .!. Jangan takut dan jangan malu , Brava Ragazza."

Ucap dokter Buona Fata.

Pelan - pelan Brava Ragazza menceritakan yang terjadi pada dirinya dan sekarang ia merasa agak ringan. Beban masalah tidak terasa seberat seperti tadi.

"Dokter Buona Fata , aku hanya punya lima dolar dan aku tidak bisa membayar biaya opname dan pengobatanku di rumah sakit ini. Bagaimana jika kubayar dengan bekerja sebagai pembantu atau tukang bersih-bersih di rumah sakit ini ?."

Ujar Brava Ragazza dengan sopan meskipun tampak jelas kekhawatiran di sikapnya. Dokter Buona Fata masih diam tidak mau langsung memberi jawaban .

"Dokter Buona Fata, tolong beri aku pekerjaan di rumah sakit ini , selain untuk membayar biaya opname dan pengobatanku . Aku butuh makan dan tempat berteduh. Aku tidak punya siapa-siapa dan untuk kembali ke rumah orang tuaku pun rasanya tak mungkin. Aku berjanji untuk bekerja dengan baik meskipun aku belum berpengalaman kerja di rumah sakit."

Dokter Buona Fata tersenyum ramah, menatap Brava Ragazza gadis yang baru dikenalnya . Tangannya mengusap kepala gadis itu dan berkata dengan nada pelan...

"Kamu tidak dikenakan biaya opname dan bebas biaya pengobatan. Sekarang istirahatlah , gadis cantik .!"

Brava Ragazza mengangguk dan dengan sopan menjawab..

"Terima kasih , dokter Buona Fata.!. "

Tiba-tiba ada yang berteriak...

"Mamaaa...."

Dokter Buona Fata dan Brava Ragazza menoleh ke arah pintu yang terbuka . Seorang anak perempuan kecil yang bergelayut manja pada seorang pria dewasa , berjalan menghampiri dokter Buona Fata.

"Aku dan papa menunggu mama pulang tapi mama tidak pulang."

Celoteh gadis kecil dengan aksen anak , sambil menatap wajah dokter Buona Fata yang tertawa kecil. Lalu mengangkat tubuh gadis kecil dan mendekatkan pada Brava Ragazza.

"Tadi mama mau pulang tapi hampir menabrak kakak yang jatuh pingsan di tengah jalan dan akhirnya mama bawa ke sini. Mama harus merawatnya , Abigail sayang."

Ucap dokter Buona Fata pada gadis kecil itu.

"Ohya Brava Ragazza , kenalkan ini Abigail Fata putriku . Usianya empat tahun dan yang berdiri di sampingku ini dokter Ramos Fata suamiku."

Dokter Buona Fata memperkenalkan anak dan suaminya pada Brava Ragazza yang langsung tersenyum dan mengangguk.

"Ok, Brava Ragazza istirahatlah , karena aku harus pulang dulu dan besok kita bertemu lagi .!"

"Terima kasih , dokter Buona Fata. Anda orang baik yang nomer satu menolongku."

Brava Ragazza menatap dokter Buona Fata dengan tatapan tulus meski masih ada kesedihan yang tersembunyi di balik tatapannya. Dokter Buona mencium pucuk kepala gadis yang masih terbaring lemah .

🌸

Angin malam florida berhembus makin kencang.

"Brava Ragazza itu gadis baik dan polos. Dia korban dari keegoisan orang tua. Dia minta bekerja sebagai pembantu atau cleaning service di rumah sakit , Ramos sayang ."

Ucap dokter Buona Fata pada dokter Ramos Fata suaminya yang sedang fokus mengemudi mobil.

"Ya , aku lihat sepertinya Brava Ragazza juga mengalami krisis percaya diri dan depresi tapi sekarang dia berusaha bangkit karena merasa kamu penolongnya, Buona sayang."

Ujar dokter Ramos Fata sembari menoleh pada istrinya yang duduk di sampingnya.

"Ramos sayang, aku merasa kasihan melihat dirinya sekarang bagaikan layangan putus . Ia diusir ibunya karena lampiaskan kemarahan ibunya pada kebohongan ayahnya. Tidak ada keluarganya dan kerabatnya yang perduli padanya . anggap saja sudah tak punya siapa-siapa dan tidak salah jika semua orang mengatakan ia yatim-piatu."

Jawab dokter Buona Fata , sembari melirik ke belakang melihat Abigail putri mereka yang tertidur sambil minum susu botol.

"Tak ada salahnya jika Brava Ragazza bekerja serabutan di rumah sakit. Minimal ada tempat tinggal untuknya dan yang terpenting ada kesibukan positif untuk melupakan masalahnya , Buona istriku."

Bab 3

Bab.3

KEESOKAN HARINYA,

"Selamat siang, Brava Ragazza. Aku datang siang karena harus menjemput sekolah Abigail putriku ."

"Selamat siang , dokter Buona Fata."

Brava Ragazza tersenyum , lalu mengulurkan tangannya memegang rambut Abigail dan berkata..

"Lucu sekali , rambutnya berwarna coklat di kepang dua dan ada pita merah kecil. Abigail jangan pergi , di sinilah bersamaku. Aku sendirian tidak punya teman."

Abigail mendongakkan kepalanya , menatap wajah dokter Buona Fata..

"Mama, apa aku boleh di sini bersama kak Brava Ragazza .?. Aku janji tidak nakal , mama.!"

"Boleh saja tapi mama harus periksa kak Brava Ragazza dan melepas jarum infusnya , Abigail.!"

Gadis kecil itu mengangguk meng-iya-kan dan dokter Buona Fata langsung memeriksa Brava Ragazza dan melepas jarum infusnya.

"Brava Ragazza , jika kamu masih ingin bekerja di rumah sakit ini maka kamu harus cepat sembuh .!"

Sontak berbinar-binar kedua mata Brava Ragazza dan senyum lebar menghiasi wajahnya.

"Terima kasih ,dokter Buona Fata. Aku pasti cepat sembuh agar dapat bekerja di rumah sakit ini. Aku bersyukur , tuhan masih menolongku melaluimu dan keluargamu , dokter Buona Fata."

"Sama-sama. Yang penting kamu harus semangat hidup dan lakukan hal-hal positif di hidupmu karena kamu gadis hebat .!"

Ujar dokter Buona Fata sembari memeluk bahu Brava Ragazza.

"Ok , aku harus ke ruang operasi untuk mengoperasi beberapa pasien. "

Dokter Buona Fata melangkah keluar kamar pasien lalu kembali ke ruang prakteknya.

"Mana Abigail , sayang .?"

Tanya dokter Ramos Fata sembari mencium bibir istrinya.

"Abigail sedang bersama Brava Ragazza di kamar pasien , Ramos sayang ."

"Artinya kita bisa mengoperasi beberapa pasien . Ayo , dokter Buona Fata sayangku .!"

"Ini jam kerja, di tunda dulu sayang-sayangannya , dokter Ramos Fata."

Dokter Ramos Fata tertawa keras sambil mencubit pipi istrinya. Mereka berdua berjalan keluar ruang praktek menuju ke ruang operasi memang melewati beberapa kamar pasien. Suami istri dokter itu mengintip Abigail putri mereka duduk di atas tempat tidur pasien bersama Brava Ragazza.

"Semua temanku mengejekku , kak Brava Ragazza. Katanya dokter itu tulisannya jelek , pantas kalau tulisanku sejelek tulisan papa mamaku."

Gerutu Abigail Fata sambil membanting buku tulisan dan kotak pensil. Brava Ragazza tertawa sambil membuka buku tulis dan mengambil penghapus dari kotak pensil.

"Dokter itu bukan pelukis tapi dokter harus cepat menangani pasien , menulis resep obat. Jadi wajar kalau tulisan kurang indah yang penting orang yang bekerja di apotik bisa membaca tulisan dokter di resep obat. Abaikan ejekan teman-temanmu, Abigail .!"

Ucap Brava Ragazza dengan suara lemah lembut.

"Kuhapus tulisanmu dan kita menulis berdua ya. Ikutilah gerakan tanganku , Abigail .!"

Tangan kanan Brava Ragazza memegang tangan Abigail yang memegang pensil.

Mereka berdua menulis.

"KAK BRAVA RAGAZZA , SEKARANG TULISANKU BAGUS.!"

Teriak Abigail Fata kegirangan.

"Tulisanmu pasti lebih bagus dari tulisan teman-teman sekelasnya asal kamu fokus belajar dan jangan emosi. Selesai kita menulis angka satu sampai sepuluh , nanti kita menulis dan menghafal huruf-huruf ya , Abigail.!"

"Ya , kak Brava Ragazza ."

Mereka berdua asyik belajar di atas tempat tidur pasien. Dokter Buona Fata dan dokter Ramos Fata menarik nafas lalu saling beradu pandang.

"Dia gadis baik yang cerdas dan sabar. Aku yakin kelak dia bisa menjadi seorang yang sukses , Buona istriku .!"

"Ya, kamu benar. Dia hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan hidup pahit."

Sahut dokter Buona Fata pada suaminya. Kemudian mereka berdua melangkah masuk ke ruang operasi. Seperti ini suami istri yang sama-sama berprofesi sebagai dokter , sama-sama bekerja menangani pasien. Setelah tiga jam mengoperasi beberapa pasien , mereka berdua kembali ke ruang praktek dan melewati kamar pasien. Mereka berdua mengintip Abigail Fata putri kecil mereka sedang tidur bersama Brava Ragazza. Tampak mereka berdua saling berpelukan .

"Brava Ragazza bisa menjadi sahabat dan kakak bagi Abigail karena ia sabar. Lihatlah , Abigail merasa nyaman dengannya .!"

"Iya Ramos sayang , pastinya Brava Ragazza juga merasa terhibur dengan adanya Abigail Fata putri kita."

Sepertinya Brava Ragazza sudah mendapat tempat di hati suami istri dokter itu dan putri kecilnya. Ia tampil dengan apa adanya tanpa di buat-buat.

🌸

SEMINGGU KEMUDIAN.

"Kak Brava Ragazza lagi apa .?"

Gadis itu terkejut dan menoleh ke samping , dilihatnya Abigail Fata berdiri tepat di sampingnya.

"Aku lagi membersihkan lantai koridor rumah sakit ini , Abigail. Sebentar lagi , aku selesai. Duduklah di sini ya .!"

Brava Ragazza mengangkat badan Abigail dan di dudukkan di atas kursi kosong. Dokter Buona Fata dan dokter Ramos Fata memperhatikan dari jendela ruang prakteknya. Dengan cekatan Brava Ragazza menyelesaikan pekerjaannya lalu membersihkan kedua tangannya dengan hand sanitizer kemudian mengganti seragam sekolah Abigail dengan baju ganti yang ada di dalam tas sekolahnya. Dengan sabar , gadis itu menyuapi makan Abigail lalu membuka tas sekolah dan memeriksa semua buku pelajaran.

"Ayo kita belajar berdua , Abigail.!"

Brava Ragazza mengajari Abigail berhitung dan membaca selama satu jam kemudian memasukkan kembali kotak pensil dan beberapa buku tulis ke dalam tas sekolah.

"Ayo Abigail waktunya tidur siang.!"

"TIDAK MAU , AKU MAU MAIN.!"

Brava Ragazza menghembuskan nafasnya , melihat gadis kecil yang berkacak pinggang di hadapannya.

"Bagaimana kalau aku menggendongmu sambil melihat daun-daun yang bergoyang di tiup angin ., Abigail .?"

Gadis kecil itu masih berkacak pinggang sembari menggelengkan kepalanya. Brava Ragazza berjongkok dan merentangkan kedua tangannya , langsung Abigail tertawa keras sambil melompat ke pelukan Brava Ragazza.

"Di bawah pohon rindang itu pasti menyenangkan sekali , Abigail .!"

Abigail melihat pohon rindang yang ditunjuk Brava Ragazza. Suami istri dokter itu masih melihat betapa sabarnya Brava Ragazza menghadapi Abigail Fata yang masuk kategori anak super rewel , keras kepala dan manja. Hitungan sepuluh menit, Abigail Fata sudah tertidur lelap di gendongan Brava Ragazza. Pelan-pelan pelan gadis itu mengambil tas sekolah dan berjalan masuk ke ruang praktek dokter.

"Abigail tidur. Ini tas sekolahnya dan sepatunya , dokter Ramos Fata .!"

Ujar Brava Ragazza pada papanya Abigail Fata yang mengambil tas sekolah dan sepatu putrinya dari tangan Brava Ragazza.

"Tolong baringkan si gadis kecil rewel itu di sini saja , Brava Ragazza.!"

"Abigail lucu dan baik , dia tidak rewel. Tapi hari ini dia agak badmood karena lututnya lecet. Dia terjatuh di sekolah , dokter Ramos Fata. Tapi sudah kuberi obat.!"

Brava Ragazza membaringkan tubuh gadis kecil itu. Dokter Ramos Fata langsung melihat lutut Abigail yang lecet.

"Terima kasih ya , Brava Ragazza."

"Sama-sama , dokter Ramos Fata."

Gadis itu menundukkan kepalanya dan mengangguk dengan sopan kemudian berbalik hendak keluar dari ruang praktek dokter tapi buru-buru dokter Buona Fata menarik lengan Brava Ragazza..

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED