Bab 1

Bab.1

Seorang ibu menendang kasar pintu depan rumahnya sembari menarik paksa tangan anak gadisnya dengan kian keras dan menghempaskan dengan kuat sehingga anak gadisnya terjatuh . Wajah ibu tersebut memancarkan amarah yang amat sangat luar biasa , mulutnya mengeram penuh intonasi penekanan...

"PERGI KAMU , ANAK BANGSAT PEMBAWA SIAL.!. LEBIH BAGUS KAMU JADI PELACUR DAN MEMBERIKU BANYAK UANG.!"

"Ibu tolong jangan usir aku .!

Bukannya iba mendengar permohonan anak gadisnya tapi makin emosi ibunya , kedua tangannya terjulur menarik rambut anak gadisnya dan berteriak...

"PERGI KAMU , ANAK KEPARAT. TIDAK SUDI AKU MELIHATMU , ANAK HARAM.!"

Sontak gadis itu mengangkat wajahnya yang bersimbah air mata dan berkata dengan lirih..

"Aku anak ibu dan ayah. Aku bukan anak haram.!"

Dengan kasar kedua tangan ibunya mencengkeram kedua pipi gadis itu . Tatapan tajam penuh kebencian dan amarah..

"KAMU BUKAN ANAKKU , KAMU ANAK DARI PEREMPUAN SUNDAL YANG DI HAMILI SUAMIKU.!"

Gadis itu menggelengkan kepalanya dan menjawab di sela-sela tangisnya.

"Ti..ti..tidak mungkin , bu. Tidak mungkin ayah berbuat demikian . Aku terima semua pukulan dan caci maki ibu , tapi tolong jangan bicara buruk tentang ayah , bu.!. Ayah baik ."

Seorang pria tua keluar dari rumah mereka dan memeluk erat gadis yang menangis tersedu-sedu. Pria tua mendongakkan kepalanya , menatap wajah istrinya dan berkata..

"Hentikan , madre cattiva.!. Lepaskan tanganmu dari wajah Brava Ragazza ?. Dia tidak tahu apa-apa dan tidak bersalah.!"

"KAMU MEMBELA ANAK HARAMMU ,UOMO TRADITORE .!"

"Tutup mulutmu , madre cattiva.!"

Pria tua itu mendekap erat gadis yang menangis tersedu-sedu di pelukannya.

"TEPATI JANJIMU , UOMO TRADITORE .!. ATAU KUBUNUH ANAK HARAMMU .!"

Teriaknya sengit sembari mendorong tubuh pria tua dan gadis remaja yang berpelukan hingga tubuh mereka berdua terjengkang ke tanah.

"BRAVA RAGAZZA , KAMU MAU KUTARUH AYAHMU YANG TUA DAN SAKIT-SAKITAN INI DI PANTI JOMPO .?"

Ancam nyonya madre cattiva dengan kasar dan tampak dengan jelas kebencian kemarahan di sorot matanya.

"Jangan..jangan taruh ayah di panti jompo. !. Biarlah aku saja yang pergi dari rumah , bu .!"

Sergah Brava Ragazza dengan memelas dan tatapan matanya yang memohon agar ibunya tidak menitipkan ayahnya di panti jompo karena dilihatnya ibunya sudah hilang kendali. Nyonya madre cattiva berbalik masuk ke dalam rumah dan membanting pintu sekeras-kerasnya.

"aku sayang ayah dan tidak mau ayah di titipkan di panti jompo. Aku mau pergi dari rumah ini , tapi tolong beritahu aku yang sebenarnya sebelum aku pergi. Aku mohon , ayah.!"

Tuan Uomo Traditore menundukkan kepalanya , melihat wajah anak gadisnya.

"Ayah , aku mohon .! Jika ayah sayang padaku , tolong katakan yang sebenarnya padaku .!. Aku berjanji , aku tetap menyayangi ayah dan ibu.!"

Ucap Brava Ragazza dengan suara lirih setengah memaksa dan tatapan polos namun berbalut tuntutan jawaban jujur dari ayahnya yang masih penuh dengan kebimbangan.

"Ayah selalu mengajari kejujuran padaku tapi mana kejujuran ayah .?"

Tanya Brava Ragazza dengan nada suara pelan namun penuh penekanan dan tegas. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam dan sekarang ini untuk yang pertama kalinya dengan penuh keberanian ia meminta kejujuran tuan Uomo Traditore ayah kandungnya.

"i..i..iya , Brava Ragazza putriku. Ayah pernah menghamili seorang gadis sebelum menikah dan pernikahan ayah tidak di karuniai seorang anak pun , maka ayah mengambilmu. Istri ayah baru tahu , saat ibu kandungmu datang membezukmu yang sakit demam berdarah. Semenjak itu , ia kasar padamu sampai sekarang."

Walau tersendat-sendat dan pelan suara tuan Uomo Traditore namun itu bagaikan suara petir yang sangat keras menggelegar di telinga Brava Ragazza , juga bagaikan tamparan yang sangat keras , menyadarkan dirinya anak yang lahir di luar pernikahan. Hancurlah hati Brava Ragazza berkeping-keping karena selama ia merasa putri kandung dari tuan Uomo Traditore dan nyonya madre cattiva.

"siapa ibu kandungku dan dimana beliau sekarang , ayah.?"

Tanya Brava Ragazza dengan suara lirih bergetar menahan emosi yang tiba-tiba muncul di dirinya. Tuan Uomo Traditore menghela nafasnya sembari menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak tahu di mana ibu kandungmu sekarang berada karena dia raib bagaikan hilang di telan bumi , Brava Ragazza putriku .?"

Jawab tuan Uomo spontan, tak sadar bahwa ucapan itu refleks membuat Brava Ragazza melepaskan diri dari pelukannya , lalu bangkit berdiri langkah kakinya bergerak mundur.

"Terima kasih atas kejujuran ayah dan sampaikan rasa terima kasih pada ibu yang sudah merawatku dari bayi . Sampai kapan pun , aku selalu menganggap ibu itu ibu kandungku. Aku menyayangi ayah dan ibu."

Brava Ragazza tidak mau membawa sehelai bajunya yang teronggok di halaman . Gadis remaja itu berbalik, dengan kaki pincang ia berlari terseok-seok meninggalkan dirinya yang diam mematung.

"BRAVA RAGAZZA.."

Panggil tuan Uomo Traditore yang bermaksud mencegah putrinya berlari dan beliau hendak berlari mengejar namun anak gadis itu mencegah dengan menoleh sambil melambaikan kedua tangannya sembari berkata..

"Jika ayah sayang aku , tolong jangan mengejarku .!"

Mendadak tuan Uomo Traditore terdiam dan tubuhnya lemas , mendengar ucapan putri kesayangannya benar-benar di luar kendali.

."Brava Ragazza.."

Desis nyonya Madre Cattiva yang berdiri di balik kaca jendela ruang tamu. Tak terasa tubuhnya bergetar dan air matanya menetes. Ia mendengar semua percakapan suaminya dan Brava Ragazza , ia juga melihat betapa terpukulnya gadis itu. Hatinya berkata...

{"Selama ini aku selalu diam, menahan segala sakit dan nyeri di hatiku tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku terlanjur menyayangimu bagaikan anakku sendiri meski ayahmu dan perempuan sundal itu membohongiku , Brava Ragazza. Maafkan aku karena kekasaran ucapanku dan perbuatanku yang terpaksa harus kulakukan demi kejujuran yang harus kamu ketahui tentang siapa dirimu yang sebenarnya. Hanya dengan cara ini , ayahmu mengatakan yang sebenarnya padamu , Brava Ragazza. Aku selalu menyayangimu dan mendoakanmu kemana pun kakimu melangkah. Tuhan , ampunilah aku dan tolong temukan Brava Ragazza dengan ibu kandungnya."}

Nyonya Madre Cattiva terisak , rasa kasih sayangnya terhadap Brava Ragazza berhasil menendang keras rasa sakit hatinya . dia merasa biarlah cukup dirinya dan Tuhan saja yang tahu kalau dia menyayangi Brava Ragazza anak hasil hubungan gelap suaminya dan perempuan lain. sekarang nyonya Madre Cattiva sudah cukup merasa lelah dengan semua sandiwara kebohongan . Ditumbalkan dirinya sendiri, biarlah mendapatkan image ibu yang berperangai buruk dan di benci tuan Uomo Traditore suaminya juga Brava Ragazza karena menurutnya itu lebih baik dari pada harus hidup tersiksa layaknya di neraka setiap harinya karena menutupi sandiwara kebohongan selama delapan belas tahun lamanya.

🌸

Dengan kaki gemetar Brava Ragazza berjalan terseok-seok. Tangannya masuk ke dalam saku celananya mengambil dompet dan dilihatnya isi dompetnya hanya berisi lima dolar. Gadis itu duduk di tepi jalan .

"Ya Tuhan , uangku hanya lima dolar. Mana cukup untuk membeli makanan dan minuman ?. Kakiku terkilir , aku sudah tidak kuat berjalan lagi. Malam ini dimanakah aku harus berteduh .?."

Bab 2

Bab.2

Brava Ragazza mencoba memijit pergelangan kaki kanannya yang terkilir. Hari makin malam , angin dingin mulai berhembus.

Brava Ragazzaee mencoba bangkit berdiri , pelan-pelan berjalan dengan terseok-seok. Kedua tangannya mengepal erat. ia sudah tahu harus berbuat apa. Terngiang-ngiang semua perkataan ayah dan ibunya., masih teringat jelas bagaimana kasarnya perlakuan ibunya tadi. Dengan nafas panjang Brava Ragazza menahan sesak di dada , tidak ada lagi air matanya yang menetes dari kedua matanya namun hatinya sekarang menangis dan rasanya sakit benar-benar sakit sekali. Hatinya berkata..

{"Ya Tuhan , mengapa sesakit ini rasanya ?. sungguh menyakitkan sekali. Selama ini aku tidak pernah tahu kalau aku hanyalah seorang anak haram , jika dikatakan menyakitkan , pastinya ini sudah amat sangat menyakitkan bagiku. ya tuhan , aku tidak bisa bertahan dan lebih baik aku mati saja .!"}

Makin lama makin lemas tubuh Brava Ragazza, dengan matanya yang terpejam , dirinya terus berjalan Ke tengah jalanan yang sepi dan tanpa di duga-duga

*TIINNNN......*

Klakson mobil bersamaan cahaya terang benderang lampu mobil , menyoroti wajahnya dan badannya , bukannya minggir tapi malah ambruk pingsan Brava Ragazza di tengah jalan.

"YA TUHAN...ADA GADIS TERJATUH.!"

Jerit dokter Buona Fata sembari membanting kemudi dan mobilnya melaju mengambil jalur kiri , menghindari tubuh gadis itu. Beberapa orang yang berjalan di tepi jalan langsung terhenyak melihat kejadian itu. Dokter Buona Fata menepikan mobilnya di tepi jalan dan bergegas keluar mobil menghampiri kerumunan orang di tengah jalan.

"Maaf , tolong beri saya jalan..!"

Ucap dokter Buona Fata pada orang -orang yang mengerumuni gadis yang terjatuh pingsan di tengah jalan namun kerumunan orang tidak menghiraukan dang dengan kesal dokter Buona Fata berteriak..

"MINGGIRLAH... BERI SAYA JALAN.!. SAYA DOKTER HENDAK MELIHAT KONDISI GADIS ITU .!"

Seketika itu juga orang-orang menoleh pada dokter Buona Fata yang menunjukkan kartu pengenal dokter dan mereka memberi jalan. Ia mendekat dan berjongkok di samping tubuh Brava Ragazza.

"Gadis ini masih hidup , tolong bawa gadis ini ke mobil saya agar saya secepatnya membawa ke rumah sakit.!. Silahkan jika ada di antara kalian yang ingin ikut .!"

Ujar dokter Buona Fata, dua orang membantu mengangkat tubuh gadis itu masuk ke dalam mobil dan ikut ke rumah sakit.

🌸

Bau obat-obatan menusuk hidungnya. Perlahan-lahan kelopak matanya bergerak dan terbuka .

"Apakah aku sudah mati .?"

Guman Brava Ragazza dengan lirih.

"Kamu masih hidup , gadis cantik."

Ia menoleh mencari asal suara, dokter Buona Fata tersenyum ramah.

Tatapan mata Brava Ragazza kosong ,

"Aku dokter Buona Fata. Kamu tadi menyeberang jalan saat mobil yang kukendarai melintas dan kamu terjatuh pingsan di tengah jalan. Nyaris kamu tertabrak."

Ucap dokter Buona Fata dengan lemah lembut.

"Boleh kutahu siapa namamu , gadis cantik .?"

"Brava.. Brava Ragazza, dokter."

Sahutnya dengan lirih nyaris tak terdengar. Dokter Buona Fata menarik kursi kosong dan duduk di sebelah tempat tidur pasien cantik yang berwajah sendu penuh kesedihan.

"Brava Ragazza, tadi aku memeriksamu dan ketemukan beberapa bekas pukulan di sekujur tubuhmu. Apakah ada yang memukulmu ?."

Brava Ragazza hanya terdiam dengan tatapan matanya kosong dan menggigit bibirnya sendiri.

"Tidak apa-apa , ceritalah .!. Jangan takut dan jangan malu , Brava Ragazza."

Ucap dokter Buona Fata.

Pelan - pelan Brava Ragazza menceritakan yang terjadi pada dirinya dan sekarang ia merasa agak ringan. Beban masalah tidak terasa seberat seperti tadi.

"Dokter Buona Fata , aku hanya punya lima dolar dan aku tidak bisa membayar biaya opname dan pengobatanku di rumah sakit ini. Bagaimana jika kubayar dengan bekerja sebagai pembantu atau tukang bersih-bersih di rumah sakit ini ?."

Ujar Brava Ragazza dengan sopan meskipun tampak jelas kekhawatiran di sikapnya. Dokter Buona Fata masih diam tidak mau langsung memberi jawaban .

"Dokter Buona Fata, tolong beri aku pekerjaan di rumah sakit ini , selain untuk membayar biaya opname dan pengobatanku . Aku butuh makan dan tempat berteduh. Aku tidak punya siapa-siapa dan untuk kembali ke rumah orang tuaku pun rasanya tak mungkin. Aku berjanji untuk bekerja dengan baik meskipun aku belum berpengalaman kerja di rumah sakit."

Dokter Buona Fata tersenyum ramah, menatap Brava Ragazza gadis yang baru dikenalnya . Tangannya mengusap kepala gadis itu dan berkata dengan nada pelan...

"Kamu tidak dikenakan biaya opname dan bebas biaya pengobatan. Sekarang istirahatlah , gadis cantik .!"

Brava Ragazza mengangguk dan dengan sopan menjawab..

"Terima kasih , dokter Buona Fata.!. "

Tiba-tiba ada yang berteriak...

"Mamaaa...."

Dokter Buona Fata dan Brava Ragazza menoleh ke arah pintu yang terbuka . Seorang anak perempuan kecil yang bergelayut manja pada seorang pria dewasa , berjalan menghampiri dokter Buona Fata.

"Aku dan papa menunggu mama pulang tapi mama tidak pulang."

Celoteh gadis kecil dengan aksen anak , sambil menatap wajah dokter Buona Fata yang tertawa kecil. Lalu mengangkat tubuh gadis kecil dan mendekatkan pada Brava Ragazza.

"Tadi mama mau pulang tapi hampir menabrak kakak yang jatuh pingsan di tengah jalan dan akhirnya mama bawa ke sini. Mama harus merawatnya , Abigail sayang."

Ucap dokter Buona Fata pada gadis kecil itu.

"Ohya Brava Ragazza , kenalkan ini Abigail Fata putriku . Usianya empat tahun dan yang berdiri di sampingku ini dokter Ramos Fata suamiku."

Dokter Buona Fata memperkenalkan anak dan suaminya pada Brava Ragazza yang langsung tersenyum dan mengangguk.

"Ok, Brava Ragazza istirahatlah , karena aku harus pulang dulu dan besok kita bertemu lagi .!"

"Terima kasih , dokter Buona Fata. Anda orang baik yang nomer satu menolongku."

Brava Ragazza menatap dokter Buona Fata dengan tatapan tulus meski masih ada kesedihan yang tersembunyi di balik tatapannya. Dokter Buona mencium pucuk kepala gadis yang masih terbaring lemah .

🌸

Angin malam florida berhembus makin kencang.

"Brava Ragazza itu gadis baik dan polos. Dia korban dari keegoisan orang tua. Dia minta bekerja sebagai pembantu atau cleaning service di rumah sakit , Ramos sayang ."

Ucap dokter Buona Fata pada dokter Ramos Fata suaminya yang sedang fokus mengemudi mobil.

"Ya , aku lihat sepertinya Brava Ragazza juga mengalami krisis percaya diri dan depresi tapi sekarang dia berusaha bangkit karena merasa kamu penolongnya, Buona sayang."

Ujar dokter Ramos Fata sembari menoleh pada istrinya yang duduk di sampingnya.

"Ramos sayang, aku merasa kasihan melihat dirinya sekarang bagaikan layangan putus . Ia diusir ibunya karena lampiaskan kemarahan ibunya pada kebohongan ayahnya. Tidak ada keluarganya dan kerabatnya yang perduli padanya . anggap saja sudah tak punya siapa-siapa dan tidak salah jika semua orang mengatakan ia yatim-piatu."

Jawab dokter Buona Fata , sembari melirik ke belakang melihat Abigail putri mereka yang tertidur sambil minum susu botol.

"Tak ada salahnya jika Brava Ragazza bekerja serabutan di rumah sakit. Minimal ada tempat tinggal untuknya dan yang terpenting ada kesibukan positif untuk melupakan masalahnya , Buona istriku."

Bab 3

Bab.3

KEESOKAN HARINYA,

"Selamat siang, Brava Ragazza. Aku datang siang karena harus menjemput sekolah Abigail putriku ."

"Selamat siang , dokter Buona Fata."

Brava Ragazza tersenyum , lalu mengulurkan tangannya memegang rambut Abigail dan berkata..

"Lucu sekali , rambutnya berwarna coklat di kepang dua dan ada pita merah kecil. Abigail jangan pergi , di sinilah bersamaku. Aku sendirian tidak punya teman."

Abigail mendongakkan kepalanya , menatap wajah dokter Buona Fata..

"Mama, apa aku boleh di sini bersama kak Brava Ragazza .?. Aku janji tidak nakal , mama.!"

"Boleh saja tapi mama harus periksa kak Brava Ragazza dan melepas jarum infusnya , Abigail.!"

Gadis kecil itu mengangguk meng-iya-kan dan dokter Buona Fata langsung memeriksa Brava Ragazza dan melepas jarum infusnya.

"Brava Ragazza , jika kamu masih ingin bekerja di rumah sakit ini maka kamu harus cepat sembuh .!"

Sontak berbinar-binar kedua mata Brava Ragazza dan senyum lebar menghiasi wajahnya.

"Terima kasih ,dokter Buona Fata. Aku pasti cepat sembuh agar dapat bekerja di rumah sakit ini. Aku bersyukur , tuhan masih menolongku melaluimu dan keluargamu , dokter Buona Fata."

"Sama-sama. Yang penting kamu harus semangat hidup dan lakukan hal-hal positif di hidupmu karena kamu gadis hebat .!"

Ujar dokter Buona Fata sembari memeluk bahu Brava Ragazza.

"Ok , aku harus ke ruang operasi untuk mengoperasi beberapa pasien. "

Dokter Buona Fata melangkah keluar kamar pasien lalu kembali ke ruang prakteknya.

"Mana Abigail , sayang .?"

Tanya dokter Ramos Fata sembari mencium bibir istrinya.

"Abigail sedang bersama Brava Ragazza di kamar pasien , Ramos sayang ."

"Artinya kita bisa mengoperasi beberapa pasien . Ayo , dokter Buona Fata sayangku .!"

"Ini jam kerja, di tunda dulu sayang-sayangannya , dokter Ramos Fata."

Dokter Ramos Fata tertawa keras sambil mencubit pipi istrinya. Mereka berdua berjalan keluar ruang praktek menuju ke ruang operasi memang melewati beberapa kamar pasien. Suami istri dokter itu mengintip Abigail putri mereka duduk di atas tempat tidur pasien bersama Brava Ragazza.

"Semua temanku mengejekku , kak Brava Ragazza. Katanya dokter itu tulisannya jelek , pantas kalau tulisanku sejelek tulisan papa mamaku."

Gerutu Abigail Fata sambil membanting buku tulisan dan kotak pensil. Brava Ragazza tertawa sambil membuka buku tulis dan mengambil penghapus dari kotak pensil.

"Dokter itu bukan pelukis tapi dokter harus cepat menangani pasien , menulis resep obat. Jadi wajar kalau tulisan kurang indah yang penting orang yang bekerja di apotik bisa membaca tulisan dokter di resep obat. Abaikan ejekan teman-temanmu, Abigail .!"

Ucap Brava Ragazza dengan suara lemah lembut.

"Kuhapus tulisanmu dan kita menulis berdua ya. Ikutilah gerakan tanganku , Abigail .!"

Tangan kanan Brava Ragazza memegang tangan Abigail yang memegang pensil.

Mereka berdua menulis.

"KAK BRAVA RAGAZZA , SEKARANG TULISANKU BAGUS.!"

Teriak Abigail Fata kegirangan.

"Tulisanmu pasti lebih bagus dari tulisan teman-teman sekelasnya asal kamu fokus belajar dan jangan emosi. Selesai kita menulis angka satu sampai sepuluh , nanti kita menulis dan menghafal huruf-huruf ya , Abigail.!"

"Ya , kak Brava Ragazza ."

Mereka berdua asyik belajar di atas tempat tidur pasien. Dokter Buona Fata dan dokter Ramos Fata menarik nafas lalu saling beradu pandang.

"Dia gadis baik yang cerdas dan sabar. Aku yakin kelak dia bisa menjadi seorang yang sukses , Buona istriku .!"

"Ya, kamu benar. Dia hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan hidup pahit."

Sahut dokter Buona Fata pada suaminya. Kemudian mereka berdua melangkah masuk ke ruang operasi. Seperti ini suami istri yang sama-sama berprofesi sebagai dokter , sama-sama bekerja menangani pasien. Setelah tiga jam mengoperasi beberapa pasien , mereka berdua kembali ke ruang praktek dan melewati kamar pasien. Mereka berdua mengintip Abigail Fata putri kecil mereka sedang tidur bersama Brava Ragazza. Tampak mereka berdua saling berpelukan .

"Brava Ragazza bisa menjadi sahabat dan kakak bagi Abigail karena ia sabar. Lihatlah , Abigail merasa nyaman dengannya .!"

"Iya Ramos sayang , pastinya Brava Ragazza juga merasa terhibur dengan adanya Abigail Fata putri kita."

Sepertinya Brava Ragazza sudah mendapat tempat di hati suami istri dokter itu dan putri kecilnya. Ia tampil dengan apa adanya tanpa di buat-buat.

🌸

SEMINGGU KEMUDIAN.

"Kak Brava Ragazza lagi apa .?"

Gadis itu terkejut dan menoleh ke samping , dilihatnya Abigail Fata berdiri tepat di sampingnya.

"Aku lagi membersihkan lantai koridor rumah sakit ini , Abigail. Sebentar lagi , aku selesai. Duduklah di sini ya .!"

Brava Ragazza mengangkat badan Abigail dan di dudukkan di atas kursi kosong. Dokter Buona Fata dan dokter Ramos Fata memperhatikan dari jendela ruang prakteknya. Dengan cekatan Brava Ragazza menyelesaikan pekerjaannya lalu membersihkan kedua tangannya dengan hand sanitizer kemudian mengganti seragam sekolah Abigail dengan baju ganti yang ada di dalam tas sekolahnya. Dengan sabar , gadis itu menyuapi makan Abigail lalu membuka tas sekolah dan memeriksa semua buku pelajaran.

"Ayo kita belajar berdua , Abigail.!"

Brava Ragazza mengajari Abigail berhitung dan membaca selama satu jam kemudian memasukkan kembali kotak pensil dan beberapa buku tulis ke dalam tas sekolah.

"Ayo Abigail waktunya tidur siang.!"

"TIDAK MAU , AKU MAU MAIN.!"

Brava Ragazza menghembuskan nafasnya , melihat gadis kecil yang berkacak pinggang di hadapannya.

"Bagaimana kalau aku menggendongmu sambil melihat daun-daun yang bergoyang di tiup angin ., Abigail .?"

Gadis kecil itu masih berkacak pinggang sembari menggelengkan kepalanya. Brava Ragazza berjongkok dan merentangkan kedua tangannya , langsung Abigail tertawa keras sambil melompat ke pelukan Brava Ragazza.

"Di bawah pohon rindang itu pasti menyenangkan sekali , Abigail .!"

Abigail melihat pohon rindang yang ditunjuk Brava Ragazza. Suami istri dokter itu masih melihat betapa sabarnya Brava Ragazza menghadapi Abigail Fata yang masuk kategori anak super rewel , keras kepala dan manja. Hitungan sepuluh menit, Abigail Fata sudah tertidur lelap di gendongan Brava Ragazza. Pelan-pelan pelan gadis itu mengambil tas sekolah dan berjalan masuk ke ruang praktek dokter.

"Abigail tidur. Ini tas sekolahnya dan sepatunya , dokter Ramos Fata .!"

Ujar Brava Ragazza pada papanya Abigail Fata yang mengambil tas sekolah dan sepatu putrinya dari tangan Brava Ragazza.

"Tolong baringkan si gadis kecil rewel itu di sini saja , Brava Ragazza.!"

"Abigail lucu dan baik , dia tidak rewel. Tapi hari ini dia agak badmood karena lututnya lecet. Dia terjatuh di sekolah , dokter Ramos Fata. Tapi sudah kuberi obat.!"

Brava Ragazza membaringkan tubuh gadis kecil itu. Dokter Ramos Fata langsung melihat lutut Abigail yang lecet.

"Terima kasih ya , Brava Ragazza."

"Sama-sama , dokter Ramos Fata."

Gadis itu menundukkan kepalanya dan mengangguk dengan sopan kemudian berbalik hendak keluar dari ruang praktek dokter tapi buru-buru dokter Buona Fata menarik lengan Brava Ragazza..

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED