Bab 1

“Lho kok gaji saya cuma segini, Pak?” tanya seorang lelaki muda di ruangan atasannya.

“Kerja aja nggak becus, kalau mau gajimu utuh tagih semua klien-klien kamu! Klien pada nggak bayar kok minta gaji besar,”omel sang atasan.

“Tetapi saya mohon Pak, bulan ini jangan dipotong lagi. Saya akan kerja lebih keras lagi,” ujarnya.

“Kerja keras apa? diikutkan promosi jabatan malah hasilnya begitu, tender nggak pernah menang, proyekmu gagal. Beruntung kamu masih saya pertahankan, kalau tidak kasian karena kamu mau nikah, sudah saya pecat dari bulan kemarin,” lanjut pria tua dan gendut dengan kacamata yang tebal.

Skak Mat!!

“Saya janji Pak, saya akan berubah. Tetapi tolong-lah Pak, jangan potong gaji saya bulan ini.”

“Hei Ardhan, saya bisa kembalikan gaji kamu tetapi semua tunggakan klienmu harus beres dalam waktu dua hari.”

“Baik Pak, terima kasih banyak.”

Usai mengucapkan hal tersebut, ia pun berjalan keluar menuju ruangannya. Ketika pria bertubuh kurus itu akan masuk ke dalam ruangannya tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya. “Mas Ardhan, ini daftar klien yang harus ditagih dan pastikan semua tunggakan mereka beres secepatnya ya Mas. Atau gajimu bulan depan juga akan dipotong!!”

“Baik Bu, akan saya usahakan,” jawab Ardhan.

Ardhan lalu melanjutkan langkahnya menuju ke dalam ruangan kerjanya. Di dalam ruangan berukuran 3x3 meter itu, ia memilih klien yang akan didatangi hari ini. Ardhan akan lakukan semua hal agar gajinya bisa kembali utuh.

Setelah memilah dan memilih, ia menetapkan empat perusahaan karena etaknya yang berdekatan. Ardhan mempersiapkan semua berkas yang diperlukan kemudian keluar dari ruangannya dan bergerak menuju parkiran. Dengan motor bututnya lelaki itu siap menunaikan tugasnya.

Usai berjibaku di jalanan selama 45 menit akhirnya lelaki itu sampai di perusahaan yang pertama. Ardhan langsung menghadapa ke bagian resepsionis dan mengatakan maksud dan tujuannya datang ke perusahaan tersebut. Tak perlu menunggu waktu lama, orang yang hendak ia temui langsung mendatanginya.

“Selamat Pagi Pak, maaf saya men—“

“Kamu ini apa-apaan Pak Ardhan, saya tahu kewajiban saya apa. Tidak perlu kamu datang dan menagih ke kantor seperti ini!” ujar lelaki berkacamata tebal itu, ia tampak marah dengan kedatangan Ardhan.

“Saya datang ke mari dengan maksud yang baik, asal bapak tahu ya tagihan bapak ini sudah lewat—“

“Saya tahu dan saya tidak mangkir, perusahaan kami akan bayar tagihannya. Tetapi tidak perlu datang ke sini, memalukan saja!!” potong lelaki itu, ia semakin marah. Keributan antara dua orang itu membuat pihak keamanan perusahaan tersebut mendekati mereka.

“Ya kalau tidak mau malu, bayar tagihannya Pak! Saya yang kena getahnya!” jawab Ardhan tak kalah garang, emosinya sudah meluap.

“Usir dia Pak! Datang ke mari dengan tidak sopan,” titah lelaki itu kepada dua security tersebut. Kedua pria berbadan tegap itu seketika membawa Ardhan keluar dari ruang lobby perusahaan. Mereka mendorong Ardhan hingga terjatuh di lantai yang keras.

“Pergi kamu!! Jangan pernah datang ke perusahaan ini lagi!!”

Ardhan yang kesal dan merasa malu segera angkat kaki dari perusahaan itu, ia berjalan menuju motornya dan langsung pergi begitu saja. Hal pahit yang didapatkan Ardhan tadi tak membuatnya patah semangat, dirinya sudah bertekad akan menyelesaikan semua tunggakan klien-nya. Dan kini Ardhan bergerak menuju perusahaan yang kedua.

Berbeda dengan perusahaan sebelumnya, di tempat kedua kali ini Ardhan tak bertemu dengan pihak keuangan melainkan hanya bagian frontliner-nya saja. “Mohon maaf sekali Pak Ardhan, perusahaan kami belum bisa membayar sekarang tetapi kami akan melunasi tagihannya sesegera mungkin,” jelas pegawai wanita tersebut.

“Kira-kira berapa lama ya mbak? Saya perlu kepastian waktunya untuk laporan ke atasan saya. Tanggal jatuh temponya sudah terlewat jauh,” desak Ardhan.

“Kami belum bisa memastikan tanggal tepatnya, kami akan usahakan sesegera mungkin.”

“Begini saja mbak, katakan pada boss anda jika besok saya akan kembali ke sini lagi. Karena saya harus mendapatkan kejelasan tanggal pembayaran, terima kasih.”

Usai mengatakan hal tersebut kemudian Ardhan pergi dari perusahaan tersebut, ia bergerak cepat menuju perusahaan yang lainnya. Dua perusahaan yang didatanginya belum bisa membayar sedangkan hari sudah semakin siang membuat lelaki itu menjadi panik.

Ardhan bergegas menuju parkiran, menyalakan mesin motor bututnya dan bersiap ke perusahaan yang ketiga. Di tengah jalan motornya mendadak mati, Ardhan berdecak kesal. “Sial, pake mogok segala!” umpatnya sembari menepikan motor.

Ardhan mencoba memperbaiki motornya, ia memeriksa mesinnya berulang kali dengan teliti namun tak juga bisa menyala. Ardhan yang kesal mencoba beristirahat sebentar untuk meredam emosinya dan kekalutan dalam dirinya.

Ketika dirinya duduk di bahu jalan, netra coklatnya tak sengaja melihat seorang kakek renta sedang mengorek bak sampah. Kakek itu seperti hendak mencari makanan sisa, Ardhan yang teringat akan sosok kakeknya merasa iba. Ia lantas menghampiri pria tua tersebut.

“Permisi Kek, Kakek lagi cari apa di kotak itu?”

“Saya lapar Nak, dari kemarin belum makan,” jawab Kakek tersebut sembari menunduk.

Benar dugaan Ardhan, lelaki berpakaian formal itu berada dalam kebimbangan. Di satu sisi dirinya kasihan pada si Kakek, di sisi lainnya ia juga merasa lapar ditambah pula uangnya hanya tinggal sedikit.

“Saya ada sedikit rejeki buat Kakek, tolong diterima. Tidak usah mencari makanan di situ, beli saja di warung,” kata Ardhan seraya mengeluarkan uang receh dari saku celananya. Ternyata rasa ibanya lebih besar dibanding rasa laparnya.

“Terima kasih ya Nak, akhirnya saya bisa makan,” ujar Kakek tersebut tersenyum. Ardhan ikut senang melihat Kakek itu senang. “Saya tidak bisa membalas kebaikanmu tetapi saya punya sesuatu untukmu.”

Pria tua berbaju lusuh itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya. Sebuah kacamata putih diberikan oleh Kakek itu kepada Ardhan. “Tidak usah Kakek, saya tidak memerlukan kacamata ini,” tolak Ardhan.

“Terima saja, hanya ini yang saya punya. Mudah-mudah bisa membantu pekerjaan kamu ya,” ujar lelaki itu memaksa Ardhan untuk menerimanya. Akhirnya Ardhan menerima benda pemberian lelaki tua itu walau dengan berat hati.

“Kacamata ini tampak jadul, sepertinya ini kacamata baca,” gumamnya, lelaki itu kembali ke tempatnya semula. Ardhan yang penasaran lalu mencoba memakai kacamata tersebut, ia bercermin di kaca spion. “Lumayan cocok untukku.”

Lelaki itu kemudian mencoba melihat ke arah jalanan. Detik berikutnya ia menjadi ketakutan sendiri hingga memundurkan langkahnya. Ardhan yang panik berusaha melepaskan kacamata misterius tersebut tetapi benda itu terus menempel, tidak bisa dilepaskan sekeras apapun ia mencobanya.

 Apa yang dilakukan oleh Ardhan tentu saja menjadi pusat perhatian pengendara lain. Salah satu pengendara memberhentikan kendaraan dan bermaksud untuk membantu Ardhan. “Lho ini Mas Ardhan ya? Kenapa Mas?”

“Ah tidak apa-apa, Pak,” jawabnya.

“Beneran Mas Ardhan tidak apa-apa?” ulang lelaki itu dan Ardhan menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Kebetulan saya menunggu kedatangan Mas Ardhan lho. Bisa kita sekarang ke kantor saya?”

“Bapak menunggu kedatangan saya?”

Bab 2

“Iya, saya menunggu kedatangan Mas Ardhan untuk membayar semua tagihan perusahaan saya.”

“Bapak serius mau membayar semua tagihan?" ulang Ardhan yang tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Serius Mas, saya akan bayar semua beserta dendanya," sahut lelaki itu. Senyum mengembang seketika di bibir Ardhan, ia melupakan masalah kacamata tersebut. Yang terpenting sekarang kliennya membayar hutang-hutangnya.

"Baik Pak, kita bisa jalan sekarang," ujarnya. Dengan kendaraan masing-masing kedua menuju perusahaan tersebut. Tak butuh waktu lama keduanya pun sampai di tempat tujuan, Ardhan dibawa ke ruang rapat. Di sana mereka membicarakan mengenai tagihan yang belum terbayarkan, cukup lama Ardhan melakukan negosiasi hingga akhirnya dia pulang membawa kabar baik.

Perasaan Ardhan sungguh senang karena berhasil satu misinya namun tetap saja ada yang mengganggu pikiran lelaki itu. Penglihatan menjadi berbeda sekarang karena kacamata itu. Setiap kali ia menatap mata orang lain maka tampak warna merah atau biru.

"Apa jadi begini, kenapa bola mata mereka berubah. Apa maksudnya?" batinnya. Sayangnya Ardhan tak memiliki banyak waktu untuk menemukan jawabannya, sore ini dirinya masih harus pergi ke perusahaan terakhir. Kebetulan jarak perusahaan tersebut tak jauh sehingga dalam waktu singkat dirinya tiba di perusahaan keempat.

Tak seperti dua perusahaan sebelumnya, begitu Ardhan mengatakan tujuan ke perusahaan tersebut bagian frontlier langsung menyambutnya ramah. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh manajer perusahaan tersebut.

"Maaf ya Mas Ardhan perusahaan kami terlambat membayar kewajiban," ujarnya ramah ketika mereka sudah berada di ruang pertemuan. Proses pembayaran pun berlangsung cepat, setelah semua transaksi selesai Ardhan pun kembali ke kantornya dengan langkah ringan.

Semua orang di kantor mendadak ramah padanya, tentu saja hal tersebut membuatnya kaget. Kejutan lain menanti dirinya, Sang atasan tersenyum lebar sembari berjalan ke arahnya. "Nah gitu dong Dhan, kerja bagus. Kamu berhasil menagih klien yang paling sulit, hebat kamu," puji sang manajer.

"Te –terima kasih, Pak," sahut Ardhan gagap, ia tak siap menerima pujian dari orang yang biasanya memarahinya itu.

"Kamu pakai jampi-jampi apa? Atau kamu pakai doa apa, tiba-tiba perusahaan itu mau bayar?” tanya si boss yang terkesan menuduhnya bermain cara kotor.

"Tidak ada jampi-jampi atau doa khusus, Pak. Mungkin beliau kasihan pada saya," jawab Ardhan seraya mencuri pandang ke arah juniornya itu.

"Karena kerja kamu bagus hari ini, Saya akan tugaskan kamu untuk bertemu klien besar kita yang baru," tawar lelaki itu.

"Sa –saya Pak?" tanya Ardhan tak percaya.

"Iya, kamu mau 'kan Dhan? Ini kesempatan langka, kalau kamu berhasil mendapatkan kerjasama dengan perusahaan itu, kamu naik jabatan.”

"Mmm ... Begini Pak, A –anu ... sebenarnya saya ...," ujar Ardhan seraya menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal.

"Kamu pikirkan saja dulu, Dhan tetapi saya harap kamu bersedia menjadi wakil perusahaan,” kata si boss berlalu begitu saja. Ardhan lantas meneruskan langkahnya ke ruang kerjanya. Di dalam ruangan yang didominasi warna putih tersebut, ia memikirkan tentang banyak hal.

Salah satunya tentang tawaran dari atasannya tadi, Ardhan merasa tidak percaya untuk menunaikan tugas tersebut meskipun imbalan yang didapatkannya sungguh besar. Sudah lama dirinya menantikan kesempatan untuk naik jabatan. "Ini memang kesempatan emas untukku tetapi apa yang membuat Pak Boss mempercayakan tugas berat ini ya. Kenapa tiba-tiba begini," gumamnya.

Hal lain yang juga mengganjal pikirannya adalah semua bola mata orang berubah menjadi dua warna solid. Ardhan memikirkan apa yang membuat kedua mata mereka berbeda. Jika dilihat secara gender, bukan hanya rekan wanitanya saja yang memiliki bola mata biru, banyak rekan laki-laki yang memiliki warna serupa. Begitu pula sebaliknya.

Suara ketukan di pintu kerjanya membuat Ardhan menoleh, seseorang wanita masuk ke dalam ruangannya sembari membawa tumpukan daftar klien yang lain. "Ini daftar klien yang kedua, usahakan semua membayar ya Mas. Ingat, resiko apa yang akan kamu dapatkan jika tidak melakukannya dengan baik.”

"Mbak, Kamu lagi nggak sakit mata 'kan? soalnya matamu jadi merah?" ujarnya memberanikan diri bertanya karena mata wanita itu tampak merah pekat.

"Nggak, aku baik-baik saja. Mata siapa yang merah, kok tiba-tiba tanya begitu,”sahut wanita itu sewot kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.

"Jangan-jangan yang membedakannya perlakuan mereka ke aku. Merah artinya jahat dan biru itu baik,” cicitnya. "Buktinya milik karyawan lain berwarna merah pekat tetapi kenapa milik Pak Bobby biru ya?”

Pintu ruangannya kembali diketuk oleh seseorang kali ini yang datang adalah sang atasan. Sepertinya Pak Bobby tidak sabar untuk mendengar jawaban dari Ardhan. "Jadi gimana Dhan? Kamu sudah pikirkan bukan lalu apa jawabanmu?”

"Saya bersedia Pak," jawabnya cepat, Ardhan tak tahu bagaimana dirinya bisa berkata demikian.

"Baguslah kalau begitu, kamu akan pergi besok. Semua berkas sudah disiapkan, kamu tinggal mempelajarinya saja," jelas lelaki paruh baya itu. Sang atasan memuji penampilan baru Ardhan, beliau mengatakan jika lelaki itu tampak lebih baik menggunakan kacamata. Lelaki Itu hanya menundukkan kepalanya karena malu seraya mengumpat di dalam hati.

Sepeninggalan Pak Bobby, ada orang lain yang masuk ke dalam ruangannya. Seorang lelaki berbadan tegap, ia merupakan teman baik Ardhan. "Dhan, tadi aku dengar kamu jadi utusan kantor ya?" tanya lelaki itu tiba-tiba.

"Iya, mudah-mudahan Pak Bobby tidak salah pilih ya," timpal Ardhan.

Sudah pasti Pak Bobby salah pilihlah. Masa kamu yang jadi utusan kantor, pegawai lain 'kan banyak yang lebih baik dan lebih layak. Memangnya kamu bisa jawab semua pertanyaan mereka?" kata lelaki itu. Ucapan teman seperjuangannya itu tentu saja membuat Ardhan membulatkan matanya namun ada hal lain yang lebih mengejutkannya.

Mata teman baiknya itu sangat merah, merah pekat. Lelaki yang ada dihadapannya itu merupakan tempatnya berkeluh kesah, Ardhan tak pernah iri atas pencapaian temannya selama ini. Sayangnya temannya tak bersikap sama dengannya.

"Lebih baik kamu mundur saja Dhan, bilang saja kalau kamu tiba-tiba gugup atau apa. Biar digantikan orang lain yang lebih mumpuni," lanjutnya.

"Kenapa harus mundur? Pak Bobby mempercayakan tugas penting ini untukku berarti dia tidak mempercayai orang lain. Pegawai yang lain tidak ada yang lebih mumpuni dibandingkan aku,”sahut Ardhan dengan sedikit emosi. Ia mengusir temannya dengan alasan jika dirinya ingin kembali bekerja.

"Yakinlah Dhan, kamu akan gagal mengerjakan proyek ini seperti yang biasa kamu lakukan. Kamu angkat kaki dari kantor ini, secepatnya," ujar lelaki itu sebelum meninggalkan ruangan tersebut.

Ardhan duduk termenung di depan layar komputernya. Ia memikirkan tentang perkataan temannya itu, bagaimana jika ternyata ucapan tersebut menjadi kenyataan. Semua orang akan menyalahkannya, ia kembali menjadi topik pembicaraan satu kantor selama berhari-hari.

"Jika berhasil aku akan naik jabatan tetapi jika gagal kemungkinan besar aku akan dipecat. Mungkin memang lebih baik aku mundur saja,”pikirnya. Ardhan lantas beranjak dari kursinya kemudian berjalan menuju pintu berwarna cokelat itu.

"Ardhan, ada gawat. Ada kabar buruk untuk kita, klien kita ternyata ingin ...."

Bab 3

"Ingin apa, Pak?”

"Klien kita ternyata ingin bertemu sekarang juga," ujar Pak Bobby kepada Ardhan dengan panik. "Ini berkas yang harus kamu pelajari."

Ardhan memundurkan langkahnya, ia tak menduga jika harus menunaikan tugasnya secepat ini. Bahkan ia belum tahu apa yang harus disampaikan mengenai kerjasama perusahaan mereka.

"Pelajarilah secepat mungkin," imbuh lelaki itu seraya menyerahkan setumpuk berkas. Ardhan terdiam sembari menatap berkas-berkas itu. Otaknya sedang mencari cara bagaimana bisa mempelajari berkas sebanyak itu dalam waktu yang singkat. "Tunggu apalagi Ardhan? Cepat pergi dengan mobil kantor. Kamu pelajari berkas itu di mobil.”

"Ba –baik Pak.”

Ardhan bergegas menuju lift, tangan kekarnya menekan tombol dengan tak sabaran. Begitu pintu terbuka, kaki panjangnya segera masuk ke dalam. Dalam hitungan detik, ia sudah tiba di lobby perusahaannya. Ternyata supir kantor sudah menunggunya, mereka pun berangkat menuju tempat tujuan.

Selama perjalanan Ardhan fokus pada kertas yang ada di tangannya. Banyak hal yang harus ia ingat dan disampaikan di hadapan para klien nanti. Lelaki itu berharap, dirinya bisa melaksanakan tugasnya dengan baik.

Satu jam perjalanan sudah terlewat, akhirnya Ardhan sampai di tempat yang sudah disepakati oleh klien mereka. Ardhan masih memakai kacamatanya karena ia ingin tahu apa warna bola mata orang yang akan ditemuinya.Waktu terus berjalan terhitung sudah setengah jam Ardhan menunggu klien datang. Perasaan cemas, gugup dan bingung bercampur menjadi satu.

“Apa aku salah tempat atau meetingnya dibatalkan ya? Tetapi aku tidak dapat pemberitahuannya,” cerocos lelaki itu, ia menatap layar ponselnya berulang kali. Ardhan yang bingung kemudian berinisiatif untuk bertanya kepada atasannya.

Begitu ia menekan nomor telepon milik Pak Bobby, tak lama kemudian sebuah suara lelaki paruh baya menyahut. "Sore Pak, apakah klien kita mengganti tempat meeting atau ada informasi jika meeting dibatalkan?”

"[Apa maksudmu, Dhan? Tidak ada pemberitahuan resmi tentang dua hal itu.]”

"Begini Pak, saya sudah menunggu hampir 45 menit tetapi klien kita tidak kunjung datang," adunya kepada sang atasan.

Pak Bobby tentu saja terkejut mengetahui hal tersebut, pasalnya klien yang mereka temui itu adalah orang penting dan sangat menjaga reputasinya, bagaimana bisa sekarang beliau berbuat seperti itu. "[Kamu yakin pergi ke tempat yang benar, Dhan? Kamu tidak salah restoran 'kan?]”

"Benar Pak, saya sudah berada di restoran yang kita sepakati," jawab Ardhan. Sang atasan menyuruh lelaki itu untuk menunggu lima menit lagi, memang klien tak datang juga maka ia boleh kembali ke kantor.

Sembari menunggu waktu untuk kembali ke kantor, Ardhan melihat kembali proposal dan presentasi yang sudah disiapkan oleh staff perusahaannya. Lelaki itu tak menyadari jika ada seorang pria berjalan cepat ke arahnya.

"Pak Ardhan ya?” tanya orang itu. Ardhan seketika menengadahkan kepalanya. "Maaf ya Pak, saya terlambat karena tadi mendadak ada urusan kantor yang tidak bisa ditinggalkan. Maaf sudah membuat Bapak menunggu lama.”

"Jadi ini orangnya,”batin Ardhan, mereka semua kemudian berdiri menyambut orang penting tersebut. "Ah tidak masalah, Pak," ucapnya seraya mengulurkan tangan.

Sembari menjabat tangan Ardhan, pria itu berkata "Sepertinya kita pernah bertemu, tetapi di mana ya?”

"Oh begitu, tetapi maaf Pak, rasanya kita baru bertemu hari ini," timpal Ardhan. Ia sama sekali tak pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya.

"Mungkin saya pernah bertemu orang yang mirip kamu atau lupakan saja hal tadi," ujar lelaki itu sembari tersenyum. "Perkenalkan nama saya Prama Danureja," katanya sembari tersenyum.

Ardhan membalas dengan memperkenalkan namanya serta jabatannya di kantor, setelah itu mereka duduk kembali. Lelaki bertubuh jangkung itu mempresentasi tentang perusahaannya. "Bagaimana Bapak, apakah perusahaan kita bekerjasama?”

"Tentu saja Pak Ardhan, prospek ke depannya sangat menjanjikan," sahut Prama mantap. Pertemuan tersebut berakhir dengan kesepakatan kerjasama antara perusahaan Ardhan dengan perusahaan Prama.

Ardhan segera kembali ke kantor untuk mengabarkan berita baik tersebut. Sesampinya di kantor, ia bergegas menemui atasannya yang sudah menunggunya sedari tadi. "Bagaimana Dhan, kita berhasil mendapatkan kerjasama dengan perusahaan bonafit itu?”

"Tentu saja Pak, mereka menyukai program kerja kita dan setuju untuk bekerja sama," jawab Ardhan seraya tersenyum cerah.

Seketika bibir tebal lelaki yang ada di depan Ardhan juga ikut tersungging, akhirnya perusahaannya bisa bekerja sama dengan perusahaan paling besar dan terkenal di seluruh negeri. "Kerja bagus Ardhan, untuk bonus dan kenaikan jabatan kamu akan kita bicarakan setelah kerjasama ini berjalan.”

"Terima kasih, Pak. Saya permisi kembali ke ruangan saya dulu,” ujar Ardhan setelah menyerahkan berkas-berkas penting di meja Pak Bobby.

Pintu ruangan atasannya sudah tertutup, Ardhan kemudian melangkah menuju ruangannya. Apa yang baru saja ia lakukan jelas menjadi topik pembicaraan rekan-rekan kerjanya. Ada yang menatapnya sinis, ada yang ikut berbahagia atas pencapaiannya. Ada pula yang memasang dua muka.

"Selamat ya Dhan, aku senang kamu bisa menyelesaikan tugas berat itu dengan baik," ujar salah satu staff kantor sembari menjulurkan tangannya. Ardhan tak langsung membalas uluran tangan tersebut, ia fokus pada bola mata lawan bicaranya itu.

Seandainya Ardhan tak memakai kacamata itu, dirinya tentu saja tidak akan tahu bahwa tak semua orang baik padanya. Contohnya seperti wanita di depannya itu, ia tersenyum ceria, mengatakan hal baik namun nyatanya bola matanya berwarna merah pekat.

"Dhan? Kamu kenapa?”

"Oh tidak, terima kasih Kak. Akhirnya tugas berat itu selesai juga ya," balas Ardhan. Ia lantas kembali meneruskan langkahnya menuju ruang kerjanya. Lelaki itu teringat akan sosok Prama, baru kali ini ia berjumpa dengan orang seperti itu.

Sejak pertama kali melihat Prama, Ardhan merasa ada yang berbeda dengan orang tersebut. Warna auranya serta kedua bola matanya yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Lelaki berpenampilan borjouis itu memiliki bola mata berwarna jingga.

"Kenapa bola matanya berbeda? Apa arti warna jingga ya?" gumam Ardhan. Saat ini di benak Ardhan hanya ada pertanyaan tersebut, Ardhan tak tahu harus bertanya kepada siapa. Ia mencari di dunia maya pun tak ada jawabannya. "Apa yang harus kulakukan dengan orang seperti Pak Prama?”

Jelas saja Ardhan merasa penasaran dan bingung, pasalnya selama kerjasama kedua perusahaan itu berlangsung, Ardhan akan sering bertemu dengan Prama. Ia tak ingin kembali menjadi target penipuan oleh orang tersebut.

Setelah berpikir dengan keras, Ardhan berniat untuk mencari kakek misterius yang memberinya kacamata tersebut. Ia pun membereskan barang-barangnya dengan cepat. "Akan kucari di manapun Kakek itu berada. Aku harus meminta penjelasan darinya.”

"Kakek siapa, Dhan?”

Ardhan menoleh ke arah sumber suara, ternyata temannya yang sekarang menjadi orang paling dibencinya berada di ambang pintu.

"Kamu pakai dukun ya, Dhan?”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED