Bab 1

Ada rasa senang, tapi juga perasaan bersalah pada Risa, istriku. Setelah dihantui sesal, akhirnya kuputuskan untuk memberitahunya hari ini.

"Ma, tau Nia?" tanyaku membuka percakapan. Aku yang tengah melahap makanannya yang lezat berusaha bersikap setenang mungkin.

"Ya. Perawan tua teman kerja Papa itu kan?" Istriku menjawab sambil menguleni adonan donat pesanan customernya.

"He'em."

"Kenapa emangnya? Mau nikah?"

"Dia hamil."

"Apa? Wah gila. Nikah aja belum," ucapnya terkejut. "Tapi luar biasa pria yang menghamilinya, Pa. Kita yang udah nikah 15 tahun aja belum punya anak." Risa melirikku sekilas. Yah, aku tahu dia tengah menyalahkanku karena dipikir suaminya ini mandul. Tapi, kupastikan dia akan lebih terkejut ketika tahu siapa ayah dari janin di rahim Nia.

"Apa Mama setuju kalau kita adopsi anaknya, Ma?"

"Apa, mengadopsi anak hasil zina? Mama gak salah denger, Pa? Gimana kalo nanti anaknya perempuan, kita bakal tersiksa menjelang akad nikahnya. Lagian selama ini, mama minta adopsi satu dari ponakan-ponakan kita, Papa nolak. Padahal orang tuanya ikhlas, nasabnya lebih jelas dan tidak akan mempersulit kita di kemudian hari."

"Iya, betul! Semua yang Mama ucap itu benar. Tapi papa keukeuh karena papa nunggu anak papa sendiri, Ma. Kamu gak tau rasanya jadi lelaki yang tidak punya keturunan." Nada suaraku menekan dan meninggi. Jujur saja selama ini aku merasa minder karena semua orang mengira aku pria yang tidak bisa punya anak. Tidak jantan dan lemah.

"Tunggu!" seru Risa tampak sejenak berpikir diletakkannya adonan yang dipegang. Sambil menyipitkan mata ia berjalan ke arahku.

"Maksud Papa nunggu anak Papa?" Telunjuknya mengacung pada tubuhku seolah menjudge sesuatu.

"Em. Itu ... itu ...." Haiss pakai keceplosan segala. Kalau gini bisa runyam masalahnya.

"Papa ada main sama Nia?"

"Maafkan Papa, Ma," jawabku akhirnya dengan lesu. Hanya itu yang bisa kuucap.

Wajah Risa seketika pucat pasi, terduduk lemas di kursi yang persis ada di sebelahnya.

"Papa harus tanggung jawab, Ma."

BERSAMBUNG

Bab 2

"Semua dosa itu diampuni kecuali syirik."

______________oooOooo_______________

"Aku harus tanggung jawab, Ma."

Suasana hening seketika. Bahkan makanan istriku yang lezat kini terasa hambar dan membuatku tak berselera mengambil suapan selanjutnya.

"Ma ...."

Istriku masih bergeming dengan air mata yang terus meleleh. Tak ada suara selain suara cairan yang dihirup. Sesekali Risa menyeka air matanya.

"Maafkan, papa, Ma. Papa khilaf. Kami hanya melakukannya sekali. Setelah itu kami tak pernah berhubungan. Selain urusan kerja."

"Tidak, Pa. Aku tidak percaya. Hasil lab tidak mungkin salah, papa 90% positif mandul." Risa mendongak perlahan.

Dia masih ngotot aku mandul. Sudah jelas aku menghamili Nia. Selama ini aku bertahan karena yakin tes itu salah dan berharap suatu saat bisa punya bayi pernikahanku dengan Risa. Dan karena sebelum menikah aku bahkan sempat menghamili dua pacarku, untungnya mereka mau aborsi hingga tak repot menikah sebelum punya pengahasilan. Dengan alasan itu mana mungkin aku percaya bahwa diriku mandul.

Sudah lebih empat belas tahun pernikahan, akhirnya aku khilaf tidur dengan Nia di mes saat istirahat lembur. Entah apa yang merasukiku hari itu? Dia sama sekali tak cantik, apalagi jika dibanding istriku, meski lebih muda dari Risa.

Hari itu aku yang akan pulang mendengar Nia berteriak, tanpa ragu menghampiri gadis yang berusia 33 tahun di mesnya. Pintu terbuka, saat akan masuk Nia berlari ketakutan dari dalam hanya dengan memakai kaos tanpa lengan dan celana pendek memelukku.

Aku berusaha melepaskannya, tapi rupanya gadis itu benar-benar ketakutan. Setelah menenangkan, aku pergi ke dapurnya melihat binatang bernama tikus -yang dia bilang nangkring di atas kompor saat ia akan memasak mie rebus- sudah tidak ada.

Nia menahanku, membuatkan kopi sebelum pulang. Katanya supaya tidak mengantuk. Tapi setelah meminum kopinya dan mengobrol beberapa waktu, tiba-tiba keinginan itu hadir, dan kami melakukannya dengan sukarela. Kami yang selama ini dekat dan suka bercanda selayaknya teman kerja lain, tidak pernah kepikiran akan melakukannya. Tidak pernah.

Aku bahkan menjauhinya setelah itu. Kami jarang bersapa seperti biasa dan menganggap yang terjadi hanya kecelakaan. Nia sadar aku adalah lelaki berkeluarga.

Namun, sebulan kemudian, gadis itu bilang dia hamil. Ini gila! Setelah memikirkan banyak hal akhirnya kuputuskan untuk mengadopsi anak itu dane mnanggung semua biaya kehamilan juga persalinan dengan bertanya lebih dulu pada Risa. Dengan begitu, bisa mengurangi tekanan hidup yang Nia rasa. Walau bagaimana aku harus tanggung jawab. Lagi pula sudah lama aku mengidamkan kehadiran seorang anak.

"Bisa saja dia tidur dengan pria lain, hamil dan menjebak Papa." Risa menangis, ia masih belum mau mengakui bahwa aku bisa menghamili seorang wanita. Aku tahu ini menyakitkan baginya. Suaminya selingkuh, dan ternyata dialah yang mandul setelah bertahun-tahun menyindir kelemahanku sebagai seorang pria.

"Kamu pikir Nia wanita sebusuk itu?"

"Wanita baik-baik dan tak busuk mana yang mau tidur dengan suami orang, ha!?" Tangisnya semakin menjadi-jadi, sampai aku bingung bagaimana menenangkannya. Ia bahkan bangkit, mengambil adonan yang telah dibuat dan dilempar padaku.

Aku diam. Diam. Dan diam. Tak akan ada kata ajaib untuk bisa membuatnya mengerti posisiku.

"Suami BRENGSEK! MENJIJIKKAN!" teriak Risa sebelum akhirnya berlari ke kamar. Meninggalkanku sendiri dengan perasaan yang tak ku mengerti. Harusnya menyesal atas perbuatan yang membuat istriku murka, tapi di sini di sudut benda yang di namakan hati, aku bahagia akan memiliki putra.

***

"Jadi bagaimana, Mas? Apa Mas sudah memikirkan jalan ke luar? Aku tidak mungkin pulang ke kampung dalam keadaan hamil atau bawa anak tanpa ayah." Nia mengucapnya dengan ragu, ia pasti memberanikan diri mengutarakan padaku.

Jelas sekali gurat kesedihan di wajahnya. Tentu saja, mana ada wanita yang mau memderita hamil tanpa ayah?

Kutarik napas dalam-dalam. "Maaf, Nia. Aku bahkan belum bisa bicara baik-baik dengan istriku. Dia jelas tidak mau dimadu."

Kalau saja belum pernah ada kejadian Risa pergi ke pengadilan agama karena memberinya pilihan antara dimadu dan dicerai, pasti kutawarkan solusi itu.

"Aku bisa ngerti itu, Mas. Kalau memang sulit, dan tak ada jalan lain. Aku akan menggugurkan kandungan ini." Nia mengucapnya dengan menangis.

"Jangan!" seruku seketika. Aku tidak ingin kehilangan anakku lagi. "Em, kamu sabar dulu ya. Aku akan cari cara terbaik. Oke?" Kuyakinkan itu tanpa menjanjikan apa pun, jangan sampai Nia putus asa dan membunuh anakku.

Nia mengangguk, tangisnya makin deras.

"Tolong jangan menangis. Tidak enak dilihat orang." Aku celingukan, takut kondisi Nia menarik perhatian orang lain dan aibku tersebar. Ya Tuhan, apa semua wanita memang suka menangis saat bicara? Apa hati mereka memang serapuh itu?

***

Sore hari aku memilih segera pulang, merayu Risa dan membujuknya dengan berbagai cara. Saat memasuki rumah, hal berbeda terjadi. Dapur yang biasanya terdengar bunyi-bunyian karena aktivitas Risa kini sepi dan terasa kosong. Tak ada makanan di atas meja. Selain nasi dan lauk pauk basi sisa semalam. Juga adonan berserakan yang mengering. Kamar kami tertutup rapat. Saat akan kubuka dikunci dari dalam.

"Huft."

Kemarahan seorang istri benar-benar karma. Berjuang hidup dengan baik layaknya keluarga lain ternyata tak cukup membuatku bahagia. Entah apa yang kurang dalam hidupku ini? Aku ini penyabar menghadapi istri macam Risa yang tajam lidahnya, lalu menghadapi keluarganya saat menyindirku tak punya keturunan, tak kupikirkan hal itu. Aku juga tidak punya musuh dan baik pada semua orang. Tapi kenapa Tuhan tidak segera memberiku keturunan dan justru meletakkan anakku di rahim orang lain?

Tidak lama, gagang pintu kamar terdengar. Risa ke luar dari sana dengan koper kecil di tangannya.

"Aku nggak ngerti apa yang sebenarnya terjadi? Aku jijik sama kamu melebihi apa pun. Sekarang aku pulang tempat ibu. Jangan menyusul jika tidak ingin perselingkuhan kamu menyebar di kampung," ancamnya. Mata Risa bengkak, dia sepertinya terus menangis dari semalam. Ah, tapi tetap saja dia cantik. Aku bisa maklum, mungkin saking marahnya tak lagi kudengar sapaan 'papa' untukku.

"Apa Mama mau kita cerai?"

"Aku bilang akan ke rumah ibu! Bukan cerai!" Risa berteriak dan melangkah pergi.

Kupukul mulutku. Bisa-bisanya kuucap kalimat jahanam itu. Untung saja dia tidak mengiyakan. Aku harus berhati-hati bicara. Seburuk dan setajam apa pun ucapan istriku, hatinya hangat dan tak mungkin terganti dengan yang lain apalagi Nia.

Baiklah. Aku akan memberi waktu tenang untuk Risa. Aku tahu dia sangat mencintaiku. Lagi pula kejadian ini hanya kekhilafan yang tak disengaja. Bersikap gegabah sekarang hanya akan membuatku kehilangan segalanya.

***

"Ya, sudah lanjutkan ngobrolnya. Aku mau ke mushola dulu." Faridh salah satu teman kerja kami yang paling alim berpamitan. Dia memang berbeda dari yang lain. Satu-satunya spesies di perusahaan yang masih mau beribadah.

"Ya." Aku dan Agus menjawabnya.

Sudah seminggu, ponsel istriku tak bisa dihubungi. Karena di rumah kesepian aku lebih sering nongkrong di mess pria dan tak pulang.

"Nyoh, diunjuk kopine Mas Aryo." Dirman menyuguhkan kopi hitam di meja.

"Makasih, Man."

"Jadi kapan sampean niduri Mbak Nia?" Agus yang tengah duduk bersandar di samping bertanya.

Dirman dan Agus sudah seperti keluarga bagiku. Lima tahun kami bareng dan curhat urusan masing-masing.

"Bulan lalu," jawabku sambil mengambil korek untuk menyulut rokok.

"Lagian, Mas-mas. Sampean selingkuh kok ndak pilih-pilih. Mbokyo milih seng ayu, minimal mirip BCL, wes nanggung tenan." Dirman geleng-geleng.

"Guoblok kamu, Man! Wong serius malah guyon! Bukan itu masalahe. Kamu ngerti Mas Aryo ini khilaf!" Agus menunjuk-nunjuk pada Dirman. Mereka ini lebih muda dariku, selisih sepuluh dan delapan tahun.

Sudah buntu rasanya, mungkin aku sudah gila menceritakan masalahku pada mereka.

"Iya, aku khilaf. Mana istriku gak mau dimadu."

"Berarti cerai, Mas?" tanya Agus.

"Nggak mungkin kecuali selingkuhanku secantik BCL. Hemh," jawabku asal. Tidak mungkin aku melepas Risa. Kami menikah bukan setahun dua tahun, tapi 15 tahun. Keputusan bercerai adalah hal terbodoh untuk dipilih.

"Susah, Mas. Gak mau poligami, gak mau cerai, tapi gak mau kehilangan anak sampean. SUSAH!" Agus menimpali.

"Lha ya to! Emang sampean mau nikah sama Mbak Nia, Gus? Kalo aku dibayar 100 juta pun ogah." Dirman mementahkan ucapan Agus.

"Huft! Apes!" ucapku sambil menghancurkan rokok yang menyala di asbak.

"Mas, aku punya solusi jitu. Pasti semua aka bahagia karena ini. Mas Aryo, istri Mas, dan Mbak Nia semua akan bahagia." Tatapan Agus serius.

"Apa itu?"

"Pindahkan janin, Mas. Aku kenal dukun yang bisa bantu. Eh, dia bukan dukun tapi kyai yang sudah banyak bantu gadis-gadis hamil dipindah ke perut wanita berkeluarga yang pengen punya anak."

"Apa?"

"Apa lagi? Ini aman. Sampean tetep sama istri, dapat anak dan gak perlu ngawini Mbak Nia. Dan Mbak Nia gak perlu nanggung malu lagi karena hamil."

"Gak mungkin aku melakukan itu, Gus. Aku sudah janji sama istriku gak maen sama dukun." Risa memang bukan wanita alim yang ke mana-mana pakai kerudung, sholat pun jarang. Tapi dia benci hal-hal yang berbau takhayul, katanya sirik dan gak masuk surga. Dia bilang Allah akan mengampuni semua dosa kecuali syirik. Ya aku juga tahu itu, makanya aku masih Islam dan tidak main dukun seperti waktu perjaka dulu.

"Ini bukan dukun, Mas. Ini kyai. Dan Mas Aryo ke sana itu bentuk ikhtiyar, bukan sirik!" Agus seolah tahu apa yang ada di kepalaku. Tapi kalau dipikir benar juga kata Agus, memindahkan janin akan jadi solusi terbaik.

Apa aku harus melakukannya?

BERSAMBUNG

Emang bisa janin dipindahin Tor? Ya bisalah, emang apa yang gak bs buat author? 🤣🤣

Mungkin menurut sebagian orang yang belum menyaksikan langsung menganggap cerita aye cacat logika, ya gak masalah. Gak ada paksaan percaya pada kebenaran sebuah cerita apalagi 'fiksi.'

Ada dua orang korban yang masih hidup. Dua2nya sempat dekat secara pribadi dengan aye waktu kejadian. Saat yang satu janinnya hilang usia 6 bulan, satu teman lagi tiba-tiba perutnya besar dan melahirkan. Penduduk berkeyakinan, mereka adalah korban ilmu hitam pemindahan janin yang salah kirim, ada juga yg bilang bayi yang hilang dihisap kuyang. Allahua'lam. Tidak ada kewajiban belajar ilmu ghaib semacam itu jd cukup dugaan dan kembalikan pada Allah saja.

Komentar di atas masih biasa, yang parahnya POV 1 dianggap author sang pelaku yang meyakini main dukun kedok kiyai itu boleh. 😆

Kalao tidak keberatan baca saja, insyaaAllah tar ada pesan yang bisa diambil. Jangan lupa krisarnya. 😘

#Bukan_Rahim_Istriku

(2)

[Kita cerai saja! Batinku gak kuat dan tersiksa setiap ingat kamu selingkuh!]

Nanar kutatap layar ponsel, sms Risa membuat dada ini terasa nyeri.

Demi harga diri dan kejantanan, kuputuskan mengambil jalan yang Agus sarankan. Memindahkan janin dari rahim Nia ke rahim istriku Risa. Tak peduli jika harus menjual sepetak tanah pemberian bapak dan hutang pada bos demi mahar yang harus kuberikan pada Mbah Yai.

Mendesah panjang saat akan pergi, sekedar untuk tahu kabar Risa tak bisa, panggilanku dialihkan dan sms tak ada yang dibalas.

"Mas, ayok!" seru Agus yang sudah ada di atas motor. Dia bahkan rela izin tak masuk kerja dua hari demi menemaniku ke gunung kidul.

"Ya, sebentar." Aku bangkit dan duduk diboncengan belakang motor ninja milikku.

Kata Agus pegunungan yang kami lalui lumayan terjal dan sempit, jadi tidak bisa dilalui dengan mobil.

Motor melesat membelah jalanan kota dan jalan-jalan kecil pedesaan. Sesekali aku mengeluh karena bosan.

"Gus, mbah yai kan tajir, sekali mahar saja sampe puluhan juta. Masa tinggalnya di gunung gini. Mana jalan susah. Ck. Gak ada sinyal lagi."

"Yah, itu rahasia perusahaan Mas. Kayaknya berkaitan sama ilmu ghaib yang beliau miliki. Mungkin, ilmunya hanya bekerja kalau orangnya ada di tempat sepi. Kaya kisah nabi yang dulu menyendiri di gua." Agus menjawab sekenanya. Aku yakin dia pun gak ngerti soal ini. Lagian apa pantes manusia disamain nabi. Ada-ada saja.

Setelah melewati puluhan kilo jalan sempit, akhirnya kami sampai di sebuah kampung. Ya, kampung, yang artinya kyai itu bukan sendiri terisolir di dalam hutan. Ada beberapa rumah dengan penerangan tidak memadai.

Sampai di sebuah gubuk dengan pohon-pohon besar menjulang motor kami berbelok.

"Serem amat rumahnya, Gus. Ini kyai apa dukun?" celetukku ketika bulu kuduk tiba-tiba meremang disertai bau-bau yang tak wajar, seperti aroma kembang kuburan.

"Huss. Ati-ati bicara Mas. Kalau rewang mbah yai marah bisa berabe urusannya."

"Em. Ya. Maaf."

Sampai di teras ada dua orang yang mempersilakan kami masuk. Dan membawa ke hadapan orang yang kami tuju.

"Assalamualaikum. Anak muda." Suara berat pria yang rambutnya memutih menyapa begitu kami datang.

"Waalaikumsalam."

"Langsung saja, sebut nama dua wanita yang ingin ditukar janinnya." Lelaki dengan wangi menusuk hidung itu bertanya tanpa basa-basi. Dia tahu maksud kedatangan kami tanpa diberitahu.

"Luarbiasa," ucapku refleks tanpa berkedip.

"Sudah jawab saja. Tidak perlu takjub. Haha." Bukan hanya ucapan, tawa itu juga terdengar berat.

Akhirnya kusebut dua nama wanita, Risa dan Nia. Sayang sekali, janin hanya bisa dipindah begitu menginjak usia di atas lima bulan. Ini sangat tidak menguntungkan. Dalam waktu selama itu, pernikahanku dan Risa pasti sudah berakhir. Setelah seminggu lebih di rumah mertua, dan dia mengirim sms meminta cerai, aku yakin ada yang memprovokasinya agar melakukan itu.

"Hem, sepertinya ada kekuatan yang mengikat perempuan bernama Nia ini." Pernyataan kyai itu membuat aku dan Agus kaget.

"Apa itu?" Agus sontak bertanya.

"Ada yang mengikat jodohnya," ulas yai.

"Wah, pantes dia jadi perawan tua," Agus menimpali.

"Hem. Tapi aku tidak bisa memastikan itu sebelum bertemu langsung dengannya." Kyai melanjutkan. Tapi menurutku itu tidak perlu, tidak penting kondisi Nia. Yang penting adalah bisa mendapatkan anakku dan mempertahankan pernikahan dengan Risa. Untuk ini saja sudah menguras banyak uang, untuk apa aku mengeluarkan uang lagi demi Nia?

"Kita urus itu nanti. Tentang perpindahan janinnya, apa tidak bisa dipercepat, Yai?" tanyaku yang keberatan dengan syarat itu.

"Hem. Janin itu harus dipastikan dulu, bahwa nantinya punya kehidupan sampai ia dilahirkan."

"Maksudnya? Hem, apa hal itu harus dijelaskan?"

"Ya, ya. Yai."

"Apa gunanya memindahkan calon mayit. Itu justru beresiko."

Aku manggut-manggut, kyai itu pun bertanya lagi, "Apa kamu takut istrimu akan menuntut cerai ke pengadilan?"

"I-iya, Yai."

"Jangan khawatir, berikan ini padanya." Yai memberikan bungkusan kecil yang diminta untuk ditabur di sumur mertua, agar Risa bisa meminumnya. Juga kertas yang bertuliskan Arab Melayu untuk dibaca katanya.

***

Sepulang dari gunung kidul aku tidak membuang waktu. Setelah mengantar Agus ke mess, kupacu motor menuju rumah mertua. Pukul 04.00 sampai tempat di mana Risa sudah seminggu tinggal, aku sengaja tak membangunkan mereka yang masih lelap. Dengan kondisi sepi, keadaan jadi lebih baik, karena tak akan ada yang melihat atau pun curiga.

Selesai dengan itu, aku pulang dan bersiap bekerja. Di waktu istirahat kuungkap niatku pada Nia yang sudah kupikirkan matang-matang dari semalam. Jangan sampai ia tertekan dan memutuskan untuk menggugurkan kandungan.

"Nia, aku akan menikahimu secara siri. Karena walau bagaimana kamu hamil karena aku." Aku berusaha meyakinkan wanita di sampingku dengan alibi. Aku berniat menikahinya secara siri, dan menceraikannya begitu janin sudah dipindah. Setelah janinnya berusia lima bulan, semua akan aman.

Nia terkejut, matanya yang sipit itu melebar. "Benarkah, Mas?"

"Tapi tolong sembunyikan kehamilan ini dari siapa pun."

"Iya, Mas. Aku sanggup melakukan itu."

"Nanti aku akan membelikan korset untukmu, jadi perutmu tidak kelihatan membesar."

"Iya, Mas." Perempuan itu tersenyum. Tapi sedikit pun tidak membuat dadaku berdesir karenanya.

'Maafkan aku Nia, hanya ini jalan yang bisa kutempuh. Aku terpaksa menarik ulur keadaan agar tal kehilangan anakku.'

"Em, Nia. Apa kamu dulu pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki dan putus?" Jujur walau tak penting, aku penasaran juga bahwa ucapan kyai itu benar tentang Nia. Hal itu akan membuatku semakin yakin ada sang kyai dan tenang telah mengeluarkan banyak uang.

"Hem?" Dahi Nia tertaut.

"Ah, sudahlah. Kalau tidak mau cerita tidak apa-apa," ucapku basa-basi. Benar saja Nia hanya tersenyum dan tidak menjawabnya. Dasar, gak peka juga dia rupanya.

***

Pulang kerja aku memilih tidak ke mana-mana karena badan rasanya remuk, sejak semalam aku belum tidur kecuali memejam mata sebentar tadi pas istirahat kerja.

"Mas, kok Mbak Risa lama gak kelihatan. Biasanya nongkrong sama ibu-ibu." Mbok warung bertanya saat aku menyantap makanan.

"Em. Iya, Mbok nemenin orang tuanya. Katanya ambiennya kambuh."

"Cuma ambien ditemenin?"

"Iya, ambien komplikasi TBC soalnya, hehe."

"Oalah, ada-ada saja." Si Mbok meninggalkanku kembali ke belakang.

Usai makan di warteg dekat rumah, kuputuskan tidur saja. Namun, saat mata akan terpejam ponselku berdering. Begitu melihat nama pemanggil, mataku melebar. Senang rasanya, Risa akhirnya menelepon.

"Pah lagi ngapain? Jemput aku sekarang, ya!"

BERSAMBUNG

Bab 3

Sekarang ini aku merasa menjadi lelaki paling bahagia di dunia. Bukan hanya istri yang memaafkan dan menerimaku apa adanya, sebentar lagi akan ada darah dagingku sendiri yang lahir dari rahim istriku, Risa.

"Mah, kamu bener gak marah lagi?" Aku bertanya pada Risa yang meletakkan kepala di lenganku. Jujur saja ada keraguan mantra yang yai berikan akan bekerja. Marah karena diselingkuhi itu bukan hal main-main.

Setelah berbaikan tak membuang kesempatan, sudah seminggu lebih aku puasa dan akhirnya berbuka hari ini. Sekarang kami sama-sama lelah, dan saling berbicara hangat seperti biasa. Mungkin ini lah yang kata orang bahwa rumahku surgaku. Tak ada kebencian, hanya cinta yang berbicara di sini.

"Heem."

"Apa nantinya Mama akan mengungkitnya lagi? Karena itu akan menjatuhkan harga diriku sebagai lelaki."

"Kenapa Papa tanyanya begitu? Apa Papa gak mau aku maafin?"

"Yah, nggaklah. Masa gak mau dimaafin?" Kurengkuh tubuh Risa. Kutunjukkan betapa aku mencintai wanita itu lebih dari siapapun di dunia.

***

Waktu berputar begitu cepat. Mungkin karena kami menjalani kebahagiaan. Aku yang tetap bersama Risa dengan pengharapan mendapat keturunan suatu hari nanti, juga Nia yang memiliki suami meski aku tak pernah menyentuhnya.

"Dek Nia, Mas mau lihat perutnya boleh?" tanyaku pada Nia yang tengah membereskan barang. Sedang aku duduk di sofa dengan secangkir kopi buatannya. Akan menyenangkan melihat calon anakku mengelami perkembangan hidup.

Sudah tiga bulan aku menyewakan sebuah rumah kecil untuk Nia, agar tidak banyak yang melihat aktivitasnya seperti waktu di mess dulu. Setidaknya aku akan tenang, wanita itu tidak kepergok oleh siapapun di sini meski ia masih bekerja di pabrik yang sama denganku.

Mendengarku, Nia menoleh. Ia tersenyum dan tanpa ragu mendekat padaku di sofa. Diperlihat perutnya yang mulai membuncit.

"Ini Mas, anak kita sudah lima bulan di perut Nia." Tangan Nia meraih tanganku untuk diletakkan di perutnya yang tak rata.

"Hem. Anak ayah. Baik-baik ya, di sana." Kuusap permukaan yang terasa licin itu. "Nia, jaga baik-baik ya anakku ini."

Nia mengangguk. Wajahnya berbinar bahagia.

'Kamu sungguh harus menjaganya, Nia. Sebulan lagi, janin itu akan beralih ke perut Risa.'

Istri siriku tak pernah neko-neko. Tidak banyak menuntut. Jika dilihat dari dekat dia ini cantik sebenarnya, tapi aneh kenapa tidak ada lelaki yang mau dengannya.

"Mas. Dua bulan lagi kan lebaran. Hari itu perut Nia pasti kelihatan besar. Ditopang korset pun percuma." Ia seperti ingin mengungkapkan sesuatu.

"Ya. Terus?"

"Em. Maukah, Mas nemenin Nia pulang ke kampung." Wanita itu mengucap ragu. Sedang aku tetiba merasa ada hal tak enak. Ini permintaan berat.

"Em. Gak perlu hari pertama, Mas. Hari ke tujuh juga boleh. Nia tau Mas pasti selain pulang ke rumah orang tua Mas sendiri pasti juga pergi ke rumah orang tua Mbak Risa."

Aku mengingat sesuatu hingga mengiyakan permintaan Nia. "Iya, Dek Nia. Jangankan hari ke tujuh. Hari pertama pun aku siap mengantarmu pulang ke kampung." Kutarik bibir ini membentuk sebuah senyuman, bagaimana aku akan mengantarnya sedang hari itu janinnya sudah berpindah dan aku sudah menceraikannya.

"Terima kasih, Mas." Wanita itu tersenyum simpul. Tertangkap jelas raut bahagia di wajahnya.

***

Satu bulan telah berlalu, kulihat Risa tampak gelisah di depan televisi.

"Kamu kenapa, Sayang?" Kudekati wanita yang telah belasan tahun menemaniku itu.

"Nggak tau nih, Pah. Badanku gak enak rasanya."

"Ya, sudah istirahat saja. Kenapa masih duduk di sini."

"Tapi kan, Papa belum makan."

"Sudah, nanti aku ambil sendiri."

Risa akhirnya bangkit, pergi ke kamar dengan ekspresi kelelahan. Melihatnya yang terus memegangi perut, aku jadi ingat bahwa usia kandungan Nia sudah masuk enam bulan. Apa mungkin ini waktunya?

Kuperhatikan Risa dari bibir pintu kamar. Ia yang merebahkan diri dan menutup tubuh dengan selimut masih terlihat gelisah. Sekitar lima belas menit berbaring dengan posisi tak menentu, wanita itu akhirnya bangkit masuk ke kamar mandi. Aku pun pergi ke meja makan, menyantap apa yang telah dihidangkan.

"Paahhhh!" Teriakan melengking terdengar saat suapan ketiga masuk ke mulut. Sontak aku berlari ke asal suara.

Kuketuk pintu kamar mandi berkali-kali karena panik. Tak lama Risa membukanya.

"Kamu kenapa, Sayang?" tanyaku padanya yang terlihat pucat pasi.

"Mas lihat perutku!" ucapnya sembari membuka handuk yang membelit tubuh.

"Pe-perutmu besar, Ma." Mataku melebar sempurna karena terkejut.

"Kenapa ini, Pah?" tanyanya dengan raut ketakutan.

"Em. Kamu tenang dulu ya, Sayang. Ayok kita ke atas kasur dulu." Kugiring Risa menuju ranjang.

"Tadi perutku emang agak mual dan begah. Apa ini efek maag yang kuderita ya, Pah?" racaunya sambil jalan.

Di saat yang sama ponselku berdering. Melihatnya sebentar panggilan dari Nia. Tidak mungkin aku mengangkat panggilannya di saat Risa sedang panik-paniknya. Istri keduaku itu pasti sekarang juga mengalami hal yang sama tak enaknya dengan Risa.

___________________

"Pah, lihat perutku!" ucapnya sembari membuka handuk yang membelit tubuh.

"Pe-perutmu besar, Ma." Mataku melebar sempurna karena terkejut.

"Kenapa ini, Pah?" tanyanya dengan raut ketakutan.

"Em. Kamu tenang dulu ya, Sayang. Ayok kita ke atas kasur dulu." Kugiring Risa menuju ranjang.

"Tadi perutku emang agak mual dan begah. Apa ini efek maag yang kuderita ya, Pah?" racaunya sambil jalan.

"Tidak apa-apa." Aku menguatkan.

Di saat yang sama ponselku berdering. Melihatnya sebentar panggilan dari Nia. Tidak mungkin aku mengangkat panggilannya di saat Risa sedang panik-paniknya. Istri keduaku itu pasti sekarang juga mengalami hal yang sama tak enaknya dengan Risa.

Ini hanya tentang waktu. Yang pasti tidak bisa dikatakan jauh. Mau atau tidak, semua akan terjadi. Maafkan aku, Nia.

Setelah berada di posisi yang nyaman, aku mulai bertanya pada istri pertamaku itu.

"Apa rasanya sakit?"

"Nggak sih, Pah. Cuma agak berat dan begah." Risa menjawab pelan dengan sedikit meringis. Entah kesakitan atau bagaimana, aku tidak tahu karena tidak pernah merasakan  hamil.

"Ya, sudah. Gak papa, Sayang. Kita periksa ke bidan aja ya."

"Kok bidan, Pah? Bukan dokter spesialis?"

"Ya, sudah ke mana saja. Yang penting kita periksa," ucapku tak ingin membuang waktu memastikan janin Nia sudah berpindah ke perutnya. "Ayo, siap-siap!"

Ia mengangguk cepat.

Wah, rasanya senang sekali hatiku. Kemarin bahagia. Hari ini bahagia. Besok aku juga akan bahagia. Akhirnya, keinginanku punya anak sejak lama terkabul.

Kami melewati jalanan sepi karena malam. Sakit yang dirasa istriku adalah alasan darurat untuk membawanya segera pergi memeriksakan diri. Sepanjang jalan berkali-kali aku menanyakan apa yang ia rasakan, tapi berkali-kali pula Risa bilang tak apa-apa.

"Lho, Pah. Kan aku bilang ke dokter aja. Kenapa ke bidan?" Risa protes begitu motor kubelokkan ke sebuah klinik bersalin.

"Sudah nurut saja. Protesnya ditunda dulu, oke." Kali ini aku memaksa. Tidak ada gunanya menjelaskan banyak hal yang mungkin membuatnya bingung dan bertanya-tanya lalu menuntut jawaban padaku.

Di dalam ruangan berukuran 2x3 Risa dibaringkan di ranjang pasien. Setelah mengecek air seni, benar Risa hamil. Ia terkejut bukan main, bingung dengan kondisinya tapi juga senang.

"Masa aku hamil, Pa?"

Aku hanya tersenyum, dan berpura-pura terkejut lalu mengucap syukur.

Seorang bidan bersalin selanjutnya melihat keadaan janin dengan USG. Kulihat kening bidan itu mengerut. "Mbak bener haid terakhir bulan lalu dan baru telat seminggu?"

"Betul, Bu Bidan."

"Tapi, janin ini ukurannya sudah besar. Harusnya berat segini masuk usia 6 bulan." Bu Bidan menyampaikan keanehan yang ia rasa.

"Em, mungkin haid yang dialami bukan karena ovum yang tak dibuahi Bu. Tapi karena peluruhan yang lain."

"Em?" Sang Bidan masih mengerutkan alis. "Memangnya Ibu Risa punya riwayat penyakit rahim?"

Kami berdua menggeleng, yang akhirnya membuat bidan itu mendesah. "Ya sudahlah. Yang penting bayinya sehat. Istirahat yang cukup dan makan makanan bergizi."

"Iya, Bu."

***

Hari-hari kami lewati dengan kebahagiaan. Begitu pun Risa. Aku jadi sering disanjung karena akhirnya bisa menghamili dirinya. Benar, aku bukan pria mandul.

Di sisi lain, karena merasa terteror panggilan dan chat dari Nia, kumatikan ponsel. Sengaja mengambil cuti, tidak masuk kerja selama seminggu ini untuk menghindarinya, dan menjaga Risa yang kini tengah hamil. Aku bahkan menyewa rumah baru agar Nia tidak bisa menemukanku. Malas saja rasanya melihat Nia yang mengeluh karena kehilangan kandungannya. "Bersabar lah, Nia. Sebentar lagi aku akan menceraikanmu karena tak ada lagi alasan untuk tetap bersama."

Tepat di hari ke 14 sejak janin itu berpindah, aku merasa ada hawa yang aneh di sekitar rumah. Setelah pulang dari apotik membelikan vitamin dan susu ibu hamil Risa yang habis, motor yang kukendarai tidak bisa digas. Hingga akhirnya berhenti sendiri di pohon besar yang jaraknya 200 meter dari rumah.

"Mas!" Suara seorang wanita mengejutkanku.

Aku terkejut, sontak menoleh dan mendapati Nia telah duduk di bangku kayu bawah pohon itu. Wanita itu hanya menggunakan daster yang kelihatan lecek. Ada beberapa bercak di bagian lengannya. Mungkin dia terluka saat masak atau apa, tak penting buatku.

"Nia?!" Segera turun dari motor dan menghampirinya.

"Ayo ikut!" Kutarik lengan Nia, menjauh dari rumah dengan membawanya pergi. Namun, ia menolak.

"Mas, kenapa kamu tega mengambil anakku?" tanyanya dengan suara serak. Aku tidak mengerti dari mana dia tahu? Apa Agus sudah mengkhianatiku dengan menceritakannya pada Nia?

"Apa yang kamu bicarakan?"

"Mas gak usah pura-pura." Nia terlihat emosi.

"Ayo kita bicara di tempat lain." Takut Risa tahu, aku memaksanya naik ke atas motor dan membawanya pergi.

Motor kupacu lebih cepat dari biasa, meninggalkan rumah sejauh mungkin. Sepanjang jalan aku berusaha menenangkan Nia agar dia percaya. Tapi tak ada jawaban. Sebentar lagi akan sampai di mess. Setelah sampai aku akan meminta maaf dan menceraikannya.

Namun, sesampainya di sana aku malah dibuat terkejut. Nia tidak ada di boncengan. Ke mana perempuan itu? Apa dia marah dan turun di jalan tadi? Jelas-jelas dia ikut naik, tidak mungkin kan loncat lalu mendatangi Risa. Gawat jika itu terjadi.

Masih setengah bingung, aku ke messnya. Tapi ruangan itu tidak dikunci dan sepi. Akhirnya kuaktifkan ponsel, banyak pesan masuk dan tak kupedulikan, tujuanku adalah mencoba menelpon tapi nomor Nia tidak aktif.

Membuang napas kasar, kulangkahkan kaki menuju mess pria. Memastikan Agus sudah mengkhianatiku. Namun, baru saja pintu dibuka oleh Agus, pria itu mengomel.

"Mas Aryo kenapa hapenya gak diaktifkan?"

"Memangnya kenapa?"

"Mana pindah rumah lagi!" Agus terlihat kesal.

"Kenapa, sih?" Aku semakin bingung. Baru datang ingin menuntut jawaban malah disalahkan.

"Mbak Nia bunuh diri seminggu lalu, Mas!"

"Apa?!"

Lalu siapa yang menemuiku tadi?

BERSAMBUNG

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED