Bab 1

Selena tersenyum sembari menatap pemandangan indah di depannya. Segala yang ada pada laki-laki di depannya itu, terlihat begitu indah dan sempurna di matanya.

Semua gerakan laki-laki itu seakan melambat bagai slow motion pada video yang sering ia tonton. Dia mengunyah, dia tersenyum dan menatap Selena penuh cinta.

Ya, sepertinya Selena telah sejatuh cinta itu pada sosok makhluk paling sempurna yang pernah dia lihat. Laki-laki itu sedang duduk berdua dengannya sambil menikmati es krim coklat kesukaan Selena.

Alvaro Sebastian. Lelaki pertama yang membuat Selena merasakan indahnya cinta. Serta merasakan bagaimana pipinya menjadi bersemu merah saat dia mengucap kata suka dan cinta padanya dua tahun yang lalu.

"Ayolah, Sayang! Kau jangan menatapku terus seperti itu. Memangnya ada apa dengan wajahku? Apa ada yang aneh?" tanyanya membuat Selena mengulum senyum.

Selena menggeleng lalu menyendok es krim di depannya dan memasukkan sendiri ke dalam mulut. Dingin dan lumer di dalamnya.

"Tidak! Hanya saja, kau begitu terlihat indah di mataku," ucap Selena yang mungkin terdengar seperti sebuah godaan bagi Alvaro.

"Ya ampun! Aku tak seindah itu. Kau jangan membuatku malu. Bahkan kau yang terlihat lebih indah di kampus ini," jawabnya membuat Selena tertawa.

"Oh, ayolah, Babe! Kamu tidak lihat? Semua orang sedang menatapmu? Bahkan aku sampai iri hingga rasanya ingin mencolok mata mereka yang tidak tahu malunya menatap wajah kekasihku! Ah, rasanya aku sangat kesal," gerutunya dengan mengacak es krim di depannya dan membuat Alvaro tertawa.

"Kau, cemburu?" tanyanya. Selena meliriknya sekilas dan hanya mencebik kesal.

" Apa seperti itu, yang namanya cemburu?" tanya Selena dengan bodohnya.

" Hahahaha. Kau ini lucu sekali. Tak bisakah kau hanya bilang kalau kau sedang cemburu padaku?" ucap Alvaro yang lagi-lagi dengan tawanya yang renyah dan selalu menularkan senyum pada kekasih di depannya itu.

"Sudahlah, lupakan! Besok adalah hari terakhir kita di kampus ini. Haaahh, rasanya aku tidak ingin pergi dari sini," keluh Selena dan menatap keadaan sekelilingnya yang mungkin akan selalu di rindukan setelah ini.

"Kau benar! Empat tahun duduk di bangku kuliah ini, terasa seperti rumah sendiri. Hingga mau meninggalkannya sangat sulit," jawab Alvaro yang membuat Selena berdecak kesal.

"Jangan bilang, kau mau tinggal di sini lagi, hanya karena kau sangat mencintai kampus ini?!" tanya Selena dengan sedikit terkejut.

Lagi-lagi Alvaro tertawa. Seakan hidupnya tak pernah ada sedih sedikitpun. Ah, tidak. Bukan itu maksud Selena. Seolah jika bersama wanita itu, Alvaro akan selalu tertawa seperti itu.

"Mana mungkin aku melakukan itu? Sedangkan kekasihku juga akan keluar dari sini. Ah?! Apa kau mau tinggal di sini lagi bersamaku?!" tanyanya sedikit antusias.

Plak!

Selena menepuk bahu Alvaro sedikit keras yang lagi-lagi membuat laki-laki itu hanya tertawa.

"Aku tak mau diberi gelar mahasiswa abadi di sini," gerutu Selena dan semakin membuat Alvaro tertawa terbahak.

"Mungkin saja, jika kita masih di kampus ini, akan tetap membuat kita jadi tetap muda," katanya yang membuat Selena memutar bola mata, malas.

"Tetap saja umur kita bertambah. Aku memang senang berada di kampus ini, tapi aku tidak menyangkal juga tentang tugas kampus yang selalu membuatku memutar otak," tambah gadis itu lagi.

" Yeahh, i see. And i feel same with you," jawab Alvaro dan Selena hanya mengangkat bahu pelan.

"Then, what are we going to do now?" tanya Al dan Selena menatapnya dengan sedikit berpikir.

"Em, aku pikir, es krimnya harus dihabiskan lebih dulu. And then, we will spend the day together, bagaimana?" tanya Selena dengan sedikit antusias.

"I think, that is not good idea," ucap Alvaro dengan mimik wajahnya yang terlihat menyesal.

" Why? Kenapa? Kau tak suka seharian bersamaku? Apa sudah ada hal menarik bagimu selain aku? Apa karena kita sudah lulus dan kau sudah bosan padaku?" cecar Selena dengan pertanyaan yang beberapa hari ini ia pikirkan.

Alvaro memberikan tatapan tajam padanya. Bukan tatapan cinta seperti yang biasa ia berikan pada Selena. Apa maksudnya itu?

"You always overthinking about me! Apa aku seburuk itu di matamu?" tanyanya masih dengan tatapan tajam.

Selena menghela nafas panjang. Setidaknya dari kalimat yang laki-laki itu ucapkan membuatnya sedikit lega. Karena, itu berarti apa yang dicurigakannya tidak benar. Semoga saja. Harap Selena.

"Aku hanya ..."

"Hanya terlalu takut kehilanganku? Bukan begitu?" tebak Alvaro dengan sudah memasang senyum lebar yang terlihat sangat tampan dimata Selena. Arrghh! Bahkan Selena sangat kesal dengan suasana ini. Mempunyai kekasih tampan di kampus ini membuatnya terbakar cemburu.

"Hahaha, i know that, Selena. Kau tak perlu mengatakannya. Tapi, aku selalu tahu tentang dirimu. You love me too much. Like me! And i love you, too much," ucap Alvaro yang membuatnya tersenyum dan Selena pun tertawa.

Ponsel Selena berdering. Alvaro menghentikan tawanya setelah ia memberinya isyarat, bahwa Ibunya sedang menelepon.

"Ya, Bu?" kata Selena dengan nada riang seperti biasanya. Alvaro menggenggam tangannya erat. Sesekali menciumnya. Bahkan ketika Selena mau menariknya, ia kembali menariknya lagi, seolah enggan untuk melepaskan.

"Maaf, apa benar ini dengan keluarga Pak Harry?" tanya seseorang dari seberang sana yang seketika membuat jantung Selena sedikit berdebar.

"I... Iya benar. Dengan siapa saya bicara?" tanyanya pelan dan sedikit khawatir. Sedang Alvaro pun sudah ikut cemas melihat mimik wajah kekasihnya itu.

"Ayah anda mengalami kecelakaan. Sekarang mereka di Rumah Sakit dan, ..." ucap sebuah suara dari seberang sana membuat hatinya lemas seketika.

Hati dan pikiran Selena seakan tak bisa bekerja dengan baik. Bagai mendengar petir disiang bolong yang mengejutkannya. Namun, tak mampu membuatnya mengeluarkan suara.

" Sel? Ada apa?" tanya Alvaro di sampingnya. Gadis itu mendengar Alvaro bersuara. Tapi suaranya kali ini tak terdengar seperti lagu cinta yang biasa ia nyanyikan untuknya. Melainkan seperti suara dengungan nyamuk yang terdengar di telinganya.

Selena meremas dadanya, rasanya sesak. Seakan ia tak bisa bernafas. Berita itu sangat membuat hatinya ngilu.

"Selena?!!!" Alvaro menyadarkannya dari lamunan. Setelahnya Selena menangis sesenggukkan yang seketika membuat Alvaro membawa Selena ke dalam pelukannya.

********

Selena menatap sedih, melihat Ibunya yang menangis meraung di depan mata. Kain putih itu menutup seluruh badan dari sosok orang yang selama ini jadi kebanggaannya.

Ia terbujur kaku dengan bergelimangan darah di tubuhnya. Sedang Ibunya hanya bisa menangis dari ranjang sebelahnya. Ia pun sama terlukanya seperti Ayahnya. Tapi, mungkin rasa sakit di tubuhnya tak sesakit hatinya melihat belahan jiwanya pergi untuk selamanya.

Ia menghampiri tubuh Ayahnya yang terbaring di ranjang rumah sakit. Dibuka kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia pun tak bisa lagi membendung air mata saat benar-benar melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa benar itu adalah Ayahnya. Pahlawannya, serta kebanggaannya.

Selena meremas kain putih yang menutupi Ayahnya, air matanya tak bisa berhenti mengalir. Isakan tangis, raungan, geraman dan segalanya ia tumpahkan melihat sang Ayah yang tak lagi bernyawa.

Alvaro hanya menahan dan memeluk Selena yang terus memukul-mukul dada yang mungkin merasa sesak. Ah, bukan mungkin. Tapi memang sangat sesak.

"Dia Ayahku, Al! Kenapa dia pergi secepat itu?!" tangisnya pecah dan Alvaro hanya memeluknya erat. Merasakan kesedihan yang juga di alami kekasihnya sekarang.

Dokter berlari dan memeriksa Ibu Selena yang kemudian pingsan setelah tangisnya terdengar memilukan.

"Ibu?!!!"

Bab 2

Dokter mengatakan, bahwa kecelakaan yang terjadi pada kedua orang tua Selena adalah sebuah kecelakaan tabrak lari. Begitu yang di ceritakan oleh Dokter dan dari warga setempat yang membantu dan membawa kedua orang tua Selena ke Rumah Sakit.

Manusia seperti apa yang tega meninggalkan korban kecelakaan yang harusnya membutuhkan pertolongan, malah membiarkannya hingga Ayah Selena meninggal.

Selena marah mendengarnya. Tapi rasanya percuma, jika ia melaporkan pada pihak kepolisian. Tidak adanya saksi kuat yang menyaksikan kecelakaan itu, serta jalanan sepi yang minim penerangan juga tak adanya cctv di jalan yang menjadi tempat kecelakaan kedua orang tuanya.

"Aku akan membantu sebisaku, Sel," ucap Alvaro di samping Selena, saat gadis itu melamunkan nasib Ibunya.

Ibu Selena, mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan hebat itu. Membuat kesedihan Selena menjadi berlipat lebih menyakitkan dari yang ia kira.

"Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi sekarang, Al," ucapnya dengan terisak tangis dalam dada kekasihnya.

"Duniaku hancur, Al! Duniaku hancur!" tangisnya lagi.

"Masih ada Ibumu, Sel. Masih ada aku," ucap Alvaro menenangkan.

"Harusnya, aku pulang lebih cepat tadi. Andaikan aku pulang lebih cepat, mungkin... Mungkin aku bisa mencegah mereka pergi. Atau mungkin, aku bisa ikut serta dengan mereka, Al," ucap Selena dengan terus berlinang air mata.

Alvaro hanya menatap kekasihnya sedih dimana ia yang juga meneteskan air mata. Gadis cantik yang selalu riang dan selalu membuatnya iri itu, kini tengah berduka. Bahkan, mungkin dukanya lebih dalam dari apa yang pernah ia alami sekarang.

"Aku akan pergi untuk mencari tahu kebenarannya. Mungkin saja akan ada sebuah bukti yang bisa kita laporkan pada Polisi," ucap Alvaro. Selena hanya mengangguk lemah. Ia masih terisak tangis dan menatap iba pada Ibunya yang terbaring sakit dan masih memejamkan mata.

*********

Tiga hari berlalu. Sedangkan kondisi Ibu Selena belum membaik. Setelah luka di sekujur tubuhnya akibat kecelakaan, Ibu Selena mengalami kelumpuhan dan tak bisa berjalan. Sudah sakit tertimpa tangga. Tak hanya kelumpuhan yang ia dapat, nyatanya meninggalnya sang suami masih membekas luka dalam hatinya.

Luka di tubuh mungkin saja bisa sembuh. Namun, luka kehilangan seorang yang kita cinta apalagi pergi untuk selamanya tak akan pernah mengobati kerinduan yang menyeruak di dalam dada.

Selena merasa sakit melihat Ibunya terus menangis dan seakan menyesali dengan apa yang sudah terjadi padanya. Tak hanya luka fisik. Karena psikologisnya mulai terganggu karena kehilangan belahan jiwanya.

"Makanlah dulu. Kau juga butuh tenaga untuk menjaga Ibumu," ucap Alvaro yang datang membawakan makanan untuk Selena.

"Kau selalu membawakanku makanan, Al. Lalu bagaimana dengan uangmu? Seharusnya itu menjadi jatah uang jajanmu dalam sebulan," ucap Selena khawatir.

Selama ini Alvaro selalu mengatakan bahwa ia hanyalah anak kos dan berasal dari kalangan biasa saja yang sudah tak punya orang tua. Selena tidak tahu saja, bahwa seorang Alvaro Sebastian adalah putra dari keluarga kaya di kotanya. Hanya saja, Alvaro sengaja menyembunyikan identitasnya.

"Jangan pikirkan aku. Aku sudah mulai mencari pekerjaan paruh waktu kemarin. Dan gajiku akan dibayar setiap minggu," jawab Alvaro dengan sedikit senyuman berharap menularkan senyum pada kekasihnya yang beberapa hari ini tak lagi dilihatnya.

"Kau bekerja?" tanya Selena menatap kedua manik mata setajam elang itu.

"Ya! Hanya di sebuah Cafe. But, it is not too bad," kata Alvaro entengnya. Padahal dirinya hanya mencari alasan agar Selena tak menolak pemberiannya.

"Setelah ini, aku juga harus mencari pekerjaan, Al. Aku tidak bisa terus bergantung padamu," kata Selena sedih dan menatap ke arah Ibunya yang sudah terlelap di ranjangnya.

"Ya, nanti kita cari pekerjaan bersama-sama. Kamu jangan khawatir. Sekarang fokus pada kesehatan dan kesembuhan Ibumu dulu," ucap Alvaro yang diangguki Selena.

Sebenarnya hatinya masih sakit sepeninggal Ayahnya. Namun, keadaan yang harus membuatnya kuat. Karena Ibunya juga membutuhkannya. Untung saja ada Alvaro di sisinya. Jika tidak, entah akan bagaimana nasib Selena.

"O iya? Kau menemukan sesuatu di tempat kejadian kecelakaan orang tuaku?" tanya Selena menatap kekasihnya.

Alvaro sedikit terkejut mendengar pertanyaan Selena. Ia tergagap untuk menjawabnya.

"Emm,, itu. Itu, di sana memang tak ada apapun. Aku tak menemukan apapun di sana," jawab Alvaro gugup. Selena melihat gelagat aneh pada kekasihnya.

"Ada apa? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Selena curiga. Alvaro semakin kaget mendengarnya.

"Ah, tidak tidak tidak! Aku hanya, ... Aku hanya ingin ke toilet. Haha, iya benar. Aku ke toilet dulu sebentar," ucap Alvaro menghindari pertanyaan Selena.

Meski Selena sedikit curiga, tapi gadis itu mempercayai kekasihnya.

Alvaro mengelus dadanya. Degup jantungnya terasa terdengar sampai ke telinganya. Mana mungkin ia akan bilang bahwa ada sesuatu yang ia temui di sana. Namun, ia enggan untuk mengatakannya. Jika saja Selena tahu tentang hal itu, mungkin saja hubungan mereka akan berakhir di sini.

"Aku akan pulang dulu setelah ini, Al. Aku akan mengambil uang Ayah atau Ibu untuk biaya rumah sakitnya. Mungkin saja, di rumah ada beberapa uang yang tersisa untuk membayar biaya rumah sakit ini," ucap Selena saat Alvaro keluar dari toilet.

"Baiklah, aku akan menjaga Ibumu di sini," ucap Alvaro dan Selena tersenyum lega.

*********

Keesokan harinya, Alvaro pulang ke rumahnya. Gemuruh didadanya seakan tak bisa dibendung lagi. Karena mengingat tentang apa yang ditemukannya di lokasi kecelakaan kedua orang tua Selena.

Brak!!!

Alvaro membuka kasar pintu kamar di depannya. Dan betapa kagetnya saat ia mendapati Ayahnya sedang bermesraan dengan seorang wanita. Bukan sekali dua kali ini ia melihatnya. Bahkan ia merasa jijik memiliki Ayah sepertinya.

"Hey, Nak! Bisakah kau mengetuk pintu dulu?" ucap Arkanta dengan membenahi dirinya yang sudah berantakan.

Alvaro membuang muka, enggan melihat kelakuan Ayahnya. Tangannya mengepal erat. Setelah ia melihat wanita itu pergi dari kamar Ayahnya, Alvaro berbalik dan menatap tajam Ayahnya.

"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini?!!!" tanya Alvaro geram. Ia sungguh muak melihat Ayahnya selalu bergonta-ganti pasangan. Setelah bercerai dari Ibunya, setiap hari Arkanta selalu membawa wanita yang berbeda.

"Wajar saja jika Ibu meninggalkanmu! Kau terlihat menjijikan!" marah Alvaro padanya.

"Jaga ucapanmu, Al!" teriak Arkanta menatap tajam putranya.

Praakkk!!!

Alvaro melemparkan sebuah korek api mahal di meja Ayahnya.

"Ini milikmu, kan?" tanya Alvaro geram. Arkanta melihat benda di depannya. Matanya sedikit membulat seakan terkejut melihatnya. Namun, secepatnya ia merubah mimik wajahnya dengan biasa saja.

Namun, Alvaro sudah menangkap keterkejutan Ayahnya tadi. Membuatnya yakin, bahwa benar apa yang ditemukannya adalah milik Ayahnya.

"Siapapun mempunyai korek api seperti itu, Al. Kenapa kau menuduhku?" tanya Arkanta pada putranya.

Alvaro mengepalkan tangannya. Ia tahu jika Ayahnya hanya sedang menyangkalnya dan mengelaknya.

"Aku benar-benar tak habis pikir! Aku mempunyai Ayah tidak bertanggung jawab sepertimu!! Kau menjijikan! Kau pembunuh!"

"Hentikan omong kosongmu, Al!" teriak Arkanta yang mendengar ucapan Alvaro dan menuduhnya sebagai pembunuh.

"Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu! Atau aku sendiri yang akan menyeretmu dalam penjara," ancam Alvaro geram pada Ayahnya sendiri.

"Kau berani melakukan hal itu pada Ayahmu?" tanya Arkanta dengan senyum miringnya.

BRAK!

Sanjaya Abyakta, Kakek dari Alvaro datang tiba-tiba, masuk ke dalam kamar Arkanta yang sedang berdebat dengan anaknya.

"Kakek bisa lakukan hal itu sendiri, jika bukan nama perusahaan yang akan menjadi taruhannya. Terlalu mudah nama perusahaan akan hancur hanya karena orang bejat seperti Ayahmu, Al!" ucap Sanjaya memandang tajam ke arah putra semata wayangnya.

"Bahkan ia tak becus meneruskan perusahaan!" sambung Sanjaya lagi dengan wajah marahnya.

Alvaro mendengus kesal. Ia juga menyadari dan membenarkan ucapan kakeknya. Ayahnya memang tak pantas meneruskan perusahaan. Dan jika kejadian tabrak lari itu diketahui media, maka perusahaan yang akan menjadi taruhannya.

"Sebagai hukumannya, kau tak diijinkan masuk lagi ke dalam perusahaan! Dan kau! Saham yang kau punya akan aku alihkan pada kedua putramu!" titah Sanjaya membuat Arkanta mendelik kaget karenanya.

"Apa?!!!"

Bab 3

"Apa?!!! Mana bisa begitu, Yah!" sangkal Arkanta tidak terima.

"Aku sudah memikirkannya baik-baik. Aku sudah sangat lelah harus menyelesaikan semua ulah yang kau perbuat! Dan sekarang, tak akan ada lagi kesempatan untukmu! Berbuatlah sesuka hatimu! Dan jika kau merusak nama baik keluarga dan perusahaan, maka kau tak akan ada lagi dalam daftar ahli warisku!" ucap Sanjaya tegas dan berlalu meninggalkan kamar Arkanta.

Alvaro mendengus kesal. Ia menatap tajam ke arah Ayahnya. Lalu keluar mengikuti Kakeknya.

"Kek, ada yang ingin aku bicarakan pada Kakek," ucap Alvaro menghentikan Kakeknya yang berjalan tertatih menggunakan tongkat. Sanjaya memberi isyarat pada asisten rumah tangganya yang menemani dan membantunya berjalan.

"Kita ke ruangan Kakek saja," ucap Sanjaya yang kemudian berjalan lebih dulu. Dengan sigap, Alvaro membantu Kakeknya berjalan.

"Kebetulan, kakek juga ingin bicara padamu. Katakan! Apa yang kamu inginkan?" tanya Sanjaya menatap cucunya.

Alvaro mengambil nafas panjang dan mulai mengungkapkan keinginannya.

"Al mau minta tolong sama Kakek. Temanku sedang butuh pekerjaan. Tolong beri dia pekerjaan, Kek! Aku mohon!" ucap Alvaro mendekati kakeknya.

"Siapa yang membuatmu meminta hal seperti itu pada kakek?" tanya Sanjaya.

"Dia seseorang yang penting bagiku, Kek. Dan aku ingin membantunya," ucap Alvaro pada Kakeknya.

Sanjaya menatap intens pada cucunya itu. Sedikit berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepala tanpa menanyakan siapa yang orang yang penting bagi Alvaro.

"Benarkah, Kek?" tanya Alvaro merasa sangat senang. Sanjaya mengangguk dan tersenyum.

"Apa dia tahu kalau kau adalah keturunan keluarga Abyakta?" tanya Sanjaya pada Alvaro.

"Tidak, Kek. Aku tidak ingin ia tahu akan hal itu," ucap Alvaro. Sanjaya tersenyum.

"Baiklah. Sepertinya dia seseorang yang sangat spesial bagimu," ucap Sanjaya dan Alvaro sedikit merasa malu.

"Tapi ingat, Al! Kamu harus melanjutkan studimu di Luar Negeri, untuk melanjutkan perusahaan ini," kata Sanjaya yang seketika menghilangkan senyum indah di wajah Alvaro.

"Jangan membuang waktumu hanya untuk cinta sesaat," ucap Sanjaya meninggalkan Alvaro yang masih mematung di tempatnya.

Sepertinya, kakeknya itu tahu jika seseorang itu adalah kekasihnya.

*****

"Kau kapan pulang?" tanya Alvaro dari ponselnya. Ia sedang menelepon Kakaknya yang sedang berada di luar negeri.

Daniel Sagara Abyakta. Putra pertama dari Arkanta Abyakta yang merupakan Kakak dari Alvaro Sebastian Abyakta.

Daniel sedang melanjutkan studynya di luar negeri karena di suruh Kakeknya, Sanjaya Abyakta.

Sebenarnya, Daniel tak begitu tertarik dengan perusahaan milik Kakeknya itu. Namun, karena jengah selalu melihat Ayahnya bergonta ganti pasangan yang membuatnya mual, hal itu ia jadikan kesempatan agar tak lagi melihat Ayahnya.

"Mungkin bulan depan. Kenapa? Kau sudah merindukanku?" tanya Daniel dari seberang sana.

"Mungkin, ya! Tapi, di sini sedang ada masalah dan aku bingung karenanya," ungkap Alvaro mengeluh pada Kakaknya.

"Masalah Ayahmu itu?" tanya Daniel dari seberang sana.

"Hey! Dia juga Ayahmu!" kesal Alvaro mendapat desisan serta tawa kecil dari Daniel.

"Benarkah? Aku pikir aku sudah tak memiliki Ayah lagi. Dia seperti bukan Ayahku."

"Kau pikir, seperti apa Ayah kita?" tanya Alvaro merasa sedikit kesal pada Kakaknya. Alih-alih menjawab pertanyaan Alvaro, kakaknya itu malah mengalihkan pembicaraan.

"Kuliahmu sudah selesai?" tanya Kakaknya.

"Ya. Dan Kakek menyuruhku untuk menyusulmu dan melanjutkan studi di sana," kata Alvaro dengan sedikit nada sedih.

"Lalu kenapa, suaramu begitu?" tanya Daniel.

"Jika aku pergi dan melanjutkan study ku ke sana, itu artinya aku harus berpisah dengan kekasihku," keluh Alvaro sedih membuat Kakaknya terdiam sejenak.

Namun, setelahnya Alvaro mendengar decakan kesal dari Kakaknya.

"Dasar bocah! Jangan termakan oleh buaian cinta sesaat," sangkal Kakaknya itu.

"Hey! Cintaku bukan cinta sesaat! Ingat itu! Aku mencintainya setulus hatiku. Jika kau melihatnya, kau mungkin akan jatuh cinta," ucap Alvaro sembari tersenyum dan membayangkan Selena.

"Ckckck. Aku yakin cintamu itu akan luntur termakan oleh waktu. Atau bahkan terbawa angin saat kau terbang ke sini," ledek Daniel membuat Alvaro berteriak.

"Hey!!! Jangan asal bicara, kau! Awas saja! Suatu saat nanti kau akan termakan dengan ucapanmu sendiri!" kesal Alvaro pada kakaknya.

"Tidak akan!"

"Pasti!"

"No!"

"Kau akan bertemu dengan wanita yang membuatmu jatuh cinta. Bahkan, wanita itu seakan jadi candu bagimu. Tak kan tergantikan dengan apapun dan dengan siapapun juga," ucap Alvaro membuat Daniel berdecak kesal.

"Sudahlah! Hari ini libur dan ini hari tenangku. Aku mau istirahat!" ucap Daniel yang segera menutup telepon adiknya.

Alvaro mengumpati Kakaknya dengan menatap layar ponselnya. Namun, seketika itu ia mendapat pesan dari Kakaknya.

"Jika kau mengumpatiku, kau tidak akan aku beri uang jajan lagi," tulis Daniel membuat Alvaro sedikit terkejut karenanya.

Alvaro memang sering meminta uang pada Kakaknya, jika jatah uangnya telah habis. Dan sebagai Kakak yang baik hati, Daniel selalu memberinya.

"Dasar perhitungan sekali!" balas Alvaro kesal. Namun, setelahnya ia tersenyum. Kakaknya itu memang orang yang dingin.

Namun, meski begitu dia adalah Kakak terbaik baginya. Ia bersyukur, dalam keluarganya yang sepi ini, dirinya masih memiliki Daniel sebagai saudara.

Daniel hendak memejamkan mata, tapi urung ketika mendengar dering ponselnya kembali. Ia mengabaikannya karena ia pikir itu adalah Alvaro.

Dering ponselnya tak kunjung berhenti, hingga Daniel bangkit dan mengambil ponselnya. Ia hendak memaki adiknya yang berusaha mengganggunya.

Namun, ia memicingkan mata saat bukan nama adiknya di layar ponsel. Melainkan...

"Ya, halo, Kek?" ucap Daniel.

"Kenapa lama sekali? Apa kau sudah tidur? Tidak biasanya kau tidur jam segini?" tanya Sanjaya dari seberang sana.

"Ini hari minggu, Kek. Dan ini waktunya hari tenang untukku beristirahat," jawab Daniel.

"Baiklah. Tapi, Kakek hanya ingin menyampaikan sesuatu saja. Minggu depan, kau harus segera pulang. Akan ada perubahan jabatan dan posisi di perusahaan. Sudah waktunya kamu menggantikan Ayahmu. Agar ia tak lagi berbuat ulah," ucap sang Kakek membuat Daniel tertegun sejenak.

Ia sudah memikirkan hal ini dari kemarin saat mendengar Ayahnya melakukan tabrak lari yang untungnya tak diketahui siapapun juga.

Akhirnya, apa yang ditakutkannya terjadi juga. Daniel menghela napas panjang.

"Tapi, Kek?"

"Kakek sudah tidak sehat seperti dulu lagi. Entah sampai kapan umur Kakek. Kakek hanya ingin segera mengurus semuanya, sebelum terlambat," ucap Sanjaya dengan berharap cucu pertamanya itu mau mendengarkan.

"Aku tidak janji, Kek. Aku harus memikirkannya lebih dulu," kata Daniel.

"Selamat beristirahat. Sampai jumpa minggu depan," ucap Sanjaya dan menutup panggilannya.

"Tapi, Kek! Aku tidak bisa!" ucap Daniel. Namun, panggilan itu sudah ditutup oleh sang kakek.

"Arrgghhh!!!" geram Daniel.

Daniel mendengus kasar. Kata-kata Kakeknya seakan menjadi sebuah perintah bagi Daniel.

Sebenarnya hidup sendiri di negeri orang membuatnya sepi. Namun, untuk kembali ke rumahnya, rasanya ia tidak ingin lagi.

Sebenarnya, ia juga sangat rindu dengan rumahnya. Namun, ia enggan untuk kembali.

Daniel memandang sebuah foto seorang wanita bersama dirinya sewaktu kecil. Ibunya. Entah di mana sekarang ia berada.

Praaakk!!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED