Zaura Mazna Maziya—akrab disapa Ziya—sudah dua puluh empat tahun, dan hari ini terasa sangat sibuk. Dengan cekatan, dia memasukkan pakaian ke dalam koper biru mudanya, bersiap untuk perjalanan ke desa Cisande, Sukabumi. Dia akan menghadiri acara pinangan sepupunya, Marini Naisha, di rumah Kakek dan Neneknya. Sudah tiga tahun dia dan keluarganya tak mengunjungi kampung halaman sang Ibu. Kerinduan memuncak, terutama pada Kakek, Nenek, dan Marini. Usai memastikan semua beres, Ziya bergegas mengambil wudu, kebiasaan yang tak pernah dilewatkannya sebelum tidur.
"Ziya!" panggil wanita berusia dua kali lipat dari Ziya yang tak lain adalah wanita yang telah melahirkan Ziya.
Ziya yang sudah menutupi setengah tubuhnya dengan selimut bermotif doraemon pun kembali terbangun. Dia dengan segera membuka pintu kamar dengan mata yang menahan kantuk. Sang Ibu merasa bersalah karena telah mengganggu waktu istirahat putrinya, tetapi wanita yang hanya mengenakan daster motif floral itu tak punya pilihan lain karena ada hal penting yang harus disampaikan kepada putri tunggalnya itu.
"Ada apa, Bu?" tanya Ziya dengan tangan yang mengusap air mata akibat kantuk yang menyerang.
"Maaf kalau Ibu mengganggumu, tetapi ibu ingin menyampaikan kalau besok kamu berangkat duluan, ya."
Ziya menautkan kedua alis mendengar perkataan wanita di depannya. Dia menatap penuh tanya. Perkataan sang Ibu membuatnya bingung karena rencana awal mereka akan pergi bersama ke desa Cisande yang merupakan tempat kelahiran sang Ibu. Namun, saat ini dia mendegar langsung jika sang Ibu memerintahkan dirinya pergi lebih dulu dan yang lebih membingungkan adalah sang Ibu memberi tahu perihal ini saat ini juga, sehingga Ziya merasa ada hal penting yang perlu diketahui.
"Besok mendadak Ayah ada urusan penting, sehingga baru bisa berangkat lusa. tidak papa, ya, kamu berangkat duluan? Sampaikan pada Kakek dan Nenek kalau kami menyusul." Naditya menjelaskan.
"Masalah apa, Bu? Sampai menyampaikannya malam ini juga." Ziya tak bisa menahan rasa ingin tahunya.
"Karena besok pagi Ayah dan Ibu harus berangkat untuk mengurus urusan itu, sehingga menurut Ibu disampaikan sekarang lebih baik. Ibu harap kamu mengerti." Naditya mengusap pundak putrinya lembut. Kemudian, dia meninggalkan Ziya dengan tanda tanya besar di kepalanya.
Setelah kepergian Naditya, Ziya kembali menutup pintu. Kemudian, kembali ke pembaringan dengan mata yang menerawang langit-langit kamar berwarna putih. Ada banyak pertanyaan di kepala gadis itu mengenai perkataan sang Ibu, tetapi raganya sudah minta istirahat, sehingga dia menunda rasa penasarannya itu. Lalu memilih memjamkan mata.
Suara azan Subuh membangunkan Ziya dari tidur nyenyak. Dia segera menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Kemudianan, berjalan pelan keluar kamar menuju kamar kecil untuk berwudu. Wajahnya terlihat lebih segar setelah air menyentuh permukaan kulit wajah. Dia menyelesaikan wudu, lalu melaksanakan salah satu kewajiban wanita muslim di pagi hari.
Ziya membentangkan sajadah bermotif Masjid Aya Sofia. Dia penyuka sesuatu yang berhubungan dengan negara dua benua itu. Salah satu mimpinya adalah dapat berkunjung ke kota yang banyak sejarah islam di sana. Gadis ceria penyuka sejarah itu senang mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Baginya sejarah adalah napas kehidupan karena mengetahui asal-usul setiap peristiwa dapat menjadi pembelajaran sendiri agar tidak mengalami kejadian yang tidak menyenangkan yang pernah dialami orang-orang terdahulu.
Selesai melaksanakan kewajibannya, Ziya segera bersiap untuk pergi ke kampung halaman di Kabupaten Sukabumi. Dia tidak ingin terjebak macet di perjalanan, sehingga berinisiatif untuk berangkat lebih pagi dengan menggunakan bus jadwal terpagi. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal wanita berpakaian tunik biru muda dengan celana kulot putih itu pun menarik kopernya. Sebelum mengunci kamar, dia memastikan jilbab pashmina birunya tidak berantakan dengan bercermin menggunkan kamera depan ponsel.
"Hai, Sayang. Sudah siap?" tanya Nataprawirya yang merupakan ayah gadis itu.
"Sudah, Yah," jawab Ziya sambil duduk di depan ayahnya yang terhalang meja makan.
"Sayang, maafkan ayah dan ibu tidak bisa pergi bersama. Kamu enggak papa kan pergi duluan?" Nataprawirya memastikan putri tunggalnya akan baik-baik saja meskipun berangkat sendiri.
"Ayah, aku ini sudah terbiasa pergi sendiri, jadi enggak perlu khawatir." Ziya tersenyum manis ke Ayahnya.
Kemudian, Ziya mengambil sepotong roti yang sudah disiapkan ibunya. Dia memakan dengan lahap roti selai cokelat kesukannya. Naditya mendekat ke putrinya. Dia senang karena Ziya tidak bertanya lebih lanjut masalah apa yang sedang dihadapi ayahnya. Naditya memberi kode dengan mengangguk ke suaminya. Nataprawirya yang mengerti arti anggukkan istrinya pun segera bangkit dari duduk, lalu memeluk putrinya dari samping.
"Ayah dan Ibu berangkat dulu, ya. Besok kami menyusul. Jaga dirimu baik-baik." Nataprawirya juga mengecup kening sang putri.
"Ibu sudah menyiapkan nasi goreng sosis kesukaanmu untuk bekal di jalan. Dimakan, ya, Sayang. Kami berangkat." Naditya memeluk putrinya.
"Hati-hati, Yah, Bu. Kabari aku kalau urusan kalian udah selesai." Tak lupa Ziya mencium tangan kedua orang tuanya.
Tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya, Ziya menyimpan banyak tanya di kepalanya. Namun, dia tidak mau membuat kedua orang tuanya khawatir, sehingga dia berpura-pura untuk tidak mempermasalahkan hal yang disembunyikan kedua orang tuanya. Ziya berusaha untuk berpikir yang baik-baik dengan mendoakan urusan kedua orang tuanya diberikan kelancaran. Hanya itu yang dapat dilakukan Ziya saat ini.
Setelah selesai dengan sarapanya, Ziya memesan taksi online untuk membawanya menuju terminal Pulogadung. Dia juga sudah mengabari sepupunya kalau dirinya akan berangkat untuk memenuhi undangan itu.
Perjalanan dari Jakarta menuju rumah Kakek dan Neneknya menggunakan bus memakan waktu kurang lebih dua jam tiga puluh menit. Menurut Ziya itu bukan perjalanan yang lama karena dirinya terbiasa melakukan perjalanan menapaki jejak sejarah. Ziya tidak sabar ingin berjumpa dengan kakek dan nenek serta Marini. Dia juga penasaran dengan calon suami Marini. Siapa sosok laki-laki yang berhasil membuat gadis yang digandrungi oleh laki-laki sedesa itu jatuh cinta. Ziya tak sabar mendengar langsung dari mulut Marini.
Ziya sangat menikmati perjalanan ini meskipun dirinya juga tidak memungkiri rindu dengan wajah-wajah polos anak-anak didiknya di PAUD Ceria. Namun,Ziya juga butuh relaksasi untuk mengisi energi kembali agar nanti ketika berjumpa dengan wajah-wajah polos itu dirinya bisa kembali bergembira.
"Assalamualaikum, Dek," sapa Ziya di telepon.
"Waalaikumsalam, Teh. Teh Ziya sudah di jalan?" tanya suara di seberang sana.
"Alhamdulillah sudah. Mungkin satu jam lagi sampai terminal Sukabumi." Ziya menjawab sambil memandang ke luar jendela menikmati pemandangan hijau di sisi jalan.
"Punten, Teh. Marini enggak bisa jemput di terminal, kumaha atuh?" Suara marini terdengar tidak enak hati karena sebelumnya sudah berjanji untuk menjemput.
"Enggak papa, Dek. Teteh bisa ke sana sendiri, enggak usah khawatir. Kamu fokus aja dengan acara lamaranmu." Ziya menanggapi dengan santai. Dia sudah terbiasa melakukan perjalanan sendiri lagipula dirinya masih ingat jalan menuju rumah Kakek dan Neneknya.
"Teteh kabari, ya, kalau sudah sampai terminal. Teteh hati-hati."
"Iya, kamu enggak usah mikirin teteh. Teteh baik-baik aja." Ziya berusaha menenagkan adik sepupunya itu.
Tak lama kemudian bus yang ditumpangi Ziya sudah sampai terminal Sukabumi. Ziya dengan segera turun. Kemudian, dia mencari angkutan untuk membawanya ke desa Cisande. Kedatangan Ziya ke Sukabumi disambut dengan gerimis yang perlahan menjadi hujan deras disertai angin yang cukup kencang. Ziya berlari mencari tempat untuk berteduh, celana kulot putihnya mulai terkena percikan air bercampur degan tanah, sehingga menimbulkan warna kecokelatan. Dia tidak memperdulikan itu.
Ziya melihat ponselnya untuk megabari Marini. Namun, sinyal tidak ada. Dia pun mengetik pesan melalui aplikasi berwarna hijau, berharap ketika sinyal kembali pesan itu terkirim. Dia menunggu hujan reda, tetapi langit masih terus menumpahkan kesedihannya. Sudah satu jam Ziya menunggu, tetapi hujan masih setia membasahi bumi. Ziya pun nekat untuk menerjang hujan. Dia menghampiri seorang pria paruh baya yang sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi.
"Permisi, Pak. Apakah ada ojek di sekitar sini?"
"Saya ojek, Neng. Neng mau ke mana? masih deras hujannya." tanya pria itu sambil mempersilakan Ziya duduk di sampingnya.
"Saya mau ke desa Cisande, Pak. Bapak bisa antar?" Ziya berharap pria seusia ayahnya itu mau membantunya.
"Hujan, Neng. Jalannya licin."
"Saya bayar dua kali lipat, Pak. Bantu saya, ya." Ziya tak bisa menunggu lebih lama lagi, dia khawatir kakek dan neneknya akan khawatir jika dia tak juga sampai.
Pria seusia ayahnya itu berpikir sejenak. Kemudian, mengangguk. Sebelum berangkat dia menghambiskan kopi yang tersisa setengah itu. Ziya mengucap syukur dalam hati. Dia pun tersenyum senang. Jarak dari terminal menuju desa Cisande tidak terlalu jauh, sehinga dia optimis sebelum ashar dirinya sudah sampai.
Tukang ojek itu mengendarai motor dengan hati-hati karena jalanan yang licin. ketika sampai menuju pintu masuk desa jalanan semakin licin dengan terlihat orang-orang yang putar balik. Ziya bertanya-tanya apa yang terjadi sehingga pengendara motor memilih putar balik.
"Jembatannya putus, Mang." Suara pengendara lain memberi tahu.
Motor yang ditumpangi Ziya pun berhenti. Ziya pun mengerti, dia tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan ojek. Ziya memilih turun. Kemudian, membayar jasa ojek sesuai kesepakatan.
"Hatur nuhun, ya, Pak."
"Neng, enggak mau kembali ke terminal aja? Masih hujan, Neng. Jalannya licin."
"Enggak papa, Pak. Ini sudah dekat saya bisa jalan kaki sembari mencari jalan lain siapa tahu ada." Ziya tetap pada keputusannya.
"Kalau begitu hati-hati, ya, Neng." Ojek itu pun pergi meninggalkan Ziya dengan pakaian yang sudah basah.
Ziya menarik kopernya sambil bertanya kepada warga sekitar yang berada di dekat jembatan untuk bertanya jalan yang bisa dilalui. Dia mendapat informasi ada jalan lain, tetapi memutar, sehingga lebih jauh dan hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Ziya pun senang mendengar informasi itu. Setelah mengucapkan terima kasih, dia melanjutkan perjalanan sesuai arahan warga tersebut. Dia menelusuri jalan yang licin karena air hujan sambil menahan dingin karena kehujanan. Beruntung tubuhnya kuat karena sering melakukan perjalanan yang tidak mudah. Sesekali Ziya mengangkat kopernya karena roda tidak mau berputar akibat terlalu banyak tanah yang menempel.
Jalan yang licin dan tubuh yang lelah membuat Ziya kehilangan keseimbangan tubuh, sehingga dirinya terpeleset. Kemudian, terjatuh dengan terguling karena jalanan menurun. Kakinya terkilir. Dia berusaha bangkit meskipun badan terutama kakinya terasa sakit. Koper yang dipegangnya pun ikut terjatuh. Beruntung kopernya kuat, sehingga tidak rusak. Namun, penampilan Ziya sangat kacau karena pakaiannya kotor akibat dirinya terguling.
Ziya berusaha bangkit dari jatuh. Dia berusaha keras untuk melangkahkan kakinya, tetapi kaki sebelah kananya terkilir membuat dia kesulitan untuk melangkah. Hujan masih setia menemani. Tubuh Ziya sudah mengigil kedinginan. Namun, tekatnya masih kuat. Wanita yang pakaiannya sudah penuh lumpur itu terus berusaha berjalan meskipun tertatih-tatih. Dia berjalan sambil menyeret kopernya yang sudah kotor juga. Pikirannya saat ini mencari tempat untuk berteduh karena tidak memungkinkan dia melanjutkan perjalanan dengan tubuh yang mengigil kedinginan karena guyuran hujan.
"Aku harus mengabari Marini jika terjebak di sini." Ziya bermonolog sambil kembali mengecek sinyal di ponsel.
Dia menggeleng lemah karena sinyal masih belum muncul juga. Selain, kedinginan Ziya juga merasa lapar. Perutnya dari tadi memberi sinyal minta diisi. Ziya memaksimalkan sisa tenaga yang dimilikinya untuk mencari tempat berteduh. Dari kejauhan Ziya melihat gubuk, Dia segera menghampiri gubuk tersebut dengan menahan nyeri di kaki kanan.
Setelah susah payah gadis berjilbab pashmina yang sudah berantakan itu pun sampai di depan gubuk. Dia mengetuk berkali-kali berharap ada penghuni yang dapat membantunya. Kondisi Ziya saat ini membutuhkan bantuan orang lain.
"Assalamualaikum, permisi apakah ada orang di dalam?"
Tak ada sahutan, sudah tiga kali Ziya mengetuk dan mengucapkan salam, tetapi tidak ada tanda-tanda ada kehidupan di dalam. Ziya pun berinisiatif mendorong pintu gubuk itu. Suara deritan pintu pun terdengar. Dia membuka dengan perlahan, matanya menyapu sekeliling untuk memastikan ada orang atau tidak di dalam.
Melihat tidak ada orang, Ziya pun masuk dengan perlahan. Kemudian, duduk beralaskan tikar usang yang tersedia di gubuk. Dia meluruskan kakinya sambil memijit perlahan. Keadaan di gubuk lebih baik dan lebih hangat.
Ziya mengecek ponsel untuk melihat jam. Waktu menunjukkan pukul empat sore. Itu artinya waktu salat Ashar telah tiba. Dia mencari cara agar dapat membersihkan diri. Ziya melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang. Setelah itu, Ziya membuka kopernya untuk mencari pakaian bersih serta handuk. Dia bersyukur karena yang kotor hanya kopernya saja, sedangkan isi dalam koper aman.
Ziya segera melakasanakan salat setelah kondisi dirinya lebih baik. Dia salat sambil duduk karena kakinya terasa sakit. Setelah salat dia melipat perlengkapan salat dan memasukannya kembali ke koper. Merasa dirinya sudah lebih baik, Ziya pun ingin melanjutkan perjalanan. Namun, sebelum melanjutkan perjalanan dia membuka bekal yang telah disiapkan sang Ibu. Ziya memakannya dengan lahap. Perjalanan kali ini benar-benar menguras tenaga Ziya.
Energi Ziya telah terisi kembali meskipun kaki sebelah kanan masih terasa sakit. Dia segera membersihkan semuanya, lalu bergegas pergi. Belum sempat Ziya menarik pintu, kakinya tersandung kopernya sendiri hingga tubuhnya terhuyung, lalu jatuh dengan lengan sebelah kanan membentur pinggiran gubuk yang terdapat paku, sehingga membuat pakaian yang dikenakan Ziya terkoyak bagian lengan kanan.
"Astagfirullah, ceroboh sekali aku." Ziya bermonolog.
Dia mengurungkan niatnya untuk meninggalkan gubuk karena melihat robekan pakaian di lengan sebelah kanan cukup panjang. Selain itu, kulit putihnya pun ikut tergores. Gadis yang saat ini menggunakan kemeja biru laut yang dipadukan dengan celana hitam itu pun kembali duduk dan berniat mengganti pakaiannya kembali. Namun, belum sempat dia mengganti pakaian suara derit pintu yang terbuka menghentikan aktivitasnya. Ziya terpaku di tempat melihat sosok laki-laki dengan pakaian yang hampir basah menorobos masuk. Ziya dengan segera menutup lengannya yang terbuka dengan jilbab pashmina yang dikenakan.
Laki-laki itu tidak merasa terganggu dengan adanya Ziya. Dia fokus mengeringkan rambutnya yang basah tanpa mempedulikan keberadaan Ziya. Ziya merasa tidak nyaman dengan keberadaan laki-laki asing di dekatnya. Dia berusaha tidak peduli, tetapi terlihat jelas dari wajanya bahwa dia tidak nyaman.
"Tenang, saya tidak akan mengganggumu." Laki-laki itu seperti mengetahui isi pikiran Ziya. Dia berkata dengan santai tanpa melihat Ziya.
Ziya menggeser tubuhnya dengan susah payah karena kaki yang terkilir semakin terasa sakit. Dia menjaga jarak dan tidak mempercayai begitu saja orang asing di depannya.
"Sudah kubilang, aku tidak akan mengganggumu." Laki-laki itu kali ini menatap Ziya.
"Mau apa kau di sini?" tanya Ziya dengan ketus.
"Kamu sendiri?"
"Balik bertanya."
"Kau tak lihat tubuhku basah. Itu artinya?" Laki-laki yang akrab disapa Ezar itu sengaja menggantung kalimatnya.
"Berteduh," jawab Ziya dengan cuek.
"Itu tahu, kenapa masih bertanya?"
"Hanya memastikan."
Mereka pun terdiam dengan pikirannya masing-masing sampai akhirnya Ziya lebh dulu bergerak. Dia melanjutkan niat awal untuk melanjutkan perjalaan, sedangkan Ezar baru tersadar ada yang aneh dengan cara jalan perempuan di depannya. Dia memerhatikan cara jalan Ziya yang tertatih, tetapi dirinya memilih tak peduli karena bukan urusannya.
"Kamu mau ke mana?"
"Bukan urusanmu." Ziya tak menghiraukan pertanyaan laki-laki asing itu.
"Di luar masih gerimis." Ezar memberi tahu.
"Aku tahu." Lagi-lagi kaki sebelah kanan Ziya terasa sakit sampai dirinya terpaksa berhenti lagi.
Ezar memerhatikan kaki Ziya yang terlihat bengkak dengan balutan kaus kaki dan sandal jepit. Ziya baru mengganti sepatunya dengan sandal jepit digubuk ini, sesaat sebelum kehadiran Ezar. Ezar terus memerhatikan tanpa ada niat untuk membantu gadis yang sedang kesusahan dengan dirinya dan koper yang dibawanya.
Ziya kembali terjatuh karena kaki kanannya semakin sakit. Dia sudah tak dapat memaksa kaki kanannya bergerak. Ezar pun tergerak untuk membantu gadis di depannya. Dia melangkah mendekat, tetapi gadis yang ingin ditolongnya justru menolak dengan mengangkat tangan kanannya.
"Aku tak apa." Ziya berkata dengan wajah pucat menahan sakit.
"Yakin? Wajahmu berkata sebaliknya." Ezar berusaha berbuat baik dengan gadis di depannya.
"Iya, aku yakin." Sepersekian detik setelah mengatakan itu Ziya berteriak kesakitan.
Ezar yang mendengar teriakan Ziya pun refleks mendekat dan melihat kaki Ziya. Dia menggeleng ketika melihat kondisi kaki Ziya. Laki-laki berjaket hitam itu berusaha menenangkan gadis itu. Dia juga tidak mengerti harus membantu seperti apa karena diirinya juga tidak memahami permasalahan kaki terkilir. Itu jelas bukan keahliannya.
"Kamu membawa obat gosok atau semacamnya? Mungkin dengan itu kakimu sedikit terbantu."
"Ada, di koperku." Ziya menjawab dengan menahan rasa sakit.
"Boleh aku ambil?"
"Ya." Ziya tak punya pilihan lain selain menerima bantuan laki-laki yang baru bertemu dengannya kurang dari tiga puluh menit.
Atas izin Ziya Ezar pun membuka koper biru itu. Dia menemukan obat gosok di antara tumpukan pakaian. Setelah mendapatkan yang dicari, Ezar memberikan obat itu kepada Ziya. Dia tak berani menyentuh Ziya karena melihat Ziya yang sejak tadi menjaga jarak dengannya.
"Terima kasih." Ziya pun membuka kaus kakinya. Dalam hati dia memohon ampun karena telah memperlihatkan auratnya kepad pria yang bukan mahram. Ezar yang mengerti kegusaran Ziya pun memilih berbalik badan.
Ziya mengoleskan obat gosok tersebut ke kakinya. Dia tidak bisa menahan teriakannya karena rasa sakit yang tak tertahan. Ezar yang panik mendengar teriakan Ziya pun kembali menghadap ke Ziya. Dia berusaha membantu.
"Aku bantu cari bantuan, ya? Sepertinya kakimu harus segera diobati." Ezar bersiap berdiri. Dia juga melepaskan jaketnya karena merasa tidak nyaman akibat basah terkena air hujan, sehingga hanya menggunakan kaus.
Belum sempat Ezar membuka pintu, Ziya kembali berteriak dan mengaduh kesakitan. Dia tak bisa menahan lebih lama lagi. Wajahnya pucat. Ezar yang mendengar lagi-lagi langsung berbalik badan. Kemudian, mendekat ke Ziya.
Tanpa mereka sadari ada warga yang mendengar teriakan Ziya. Kemudian, mendekat ke gubuk bersama warga lainnya. Mereka merasa heran mendengar teriakan di gubuk kosong karena penasaran keduanya mendekat, lalu seketika membuka pintu gubuk. Keduanya menggeleng melihat ada sepasang anak manusia sedang berduaan.
Kondisi Ziya yang duduk dengan meluruskan kaki serta lengan baju sebelah kanan yang koyak serta posisi Ezar yang membelakangi pintu dengan tangan yang hampir menyentuh kaki Ziya membuat kedua warga seolah melihat keduanya sedang ingin melakukan hal yang tak beradab di desa mereka. Salah satu dari mereka bahkan memanggil ketua RT untuk menghakimi Ziya dan Ezar.
"Ah, kebetulan ada Bapak, saya ingin minta tolong." Ezar yang menyadari kehadiran bapak yang mengenakan jas hujan segera menghampiri Bapak tersebut.
"Minta tolong apa? Minta tolong untuk menikahkan kalian berdua?" Bapak tersebut manatap tajam ke Ezar dan Ziya.
"Maksudnya apa, ya, Pak?" Ezar menautkan kedua alis.
Ziya yang menyimak pembicaraan keduanya pun ikut bingung. Dia tidak mengerti maksud Bapak berjas hujan yang baru saja tiba. Namun, Ziya yang sudah menahan sakit sejak tadi memilih untuk diam, tidak ingin menanggapi perkataan kedua lelaki di depannya.
"Sudahalah, enggak usah mengelak, A." Bapak berjas hujan itu terus mengatakan hal yang tidak dimengerti oleh Ezar dan Ziya.
Ezar dan Ziya saling tatap dengan tanda tanya besar di pikiran keduanya. Lelaki berkaus putih itu mulai menelaah situasi. Dia berpikir jika ada kesalah pahaman di antara dirinya dan bapak berjas hujan. Ezar ingin sekali membalas tatapan penuh tuduhan dari Bapak tersebut, tetapi dia menahannya karena sadar di tempat siapa saat ini. Ezar pun menarik napas dalam untuk meredakan gejolak amarah karena telah dituduh sesuatu yang tidak dia paham.
"Pak, saya benar-benar tidak mengerti maksud, Bapak? Saya-," kata Ezar terpotong karena dengan tiba-tiba banyak warga yang berdatangan.
Ezar semakin dibuat bingung. Dia tidak mengerti dari mana datangnya warga bahkan sejak tadi tak ada satu pun warga yang ditemuinya ketika dia sibuk mencari tempat berteduh, tetapi sekarang tanpa diundang warga tersebut beradatangan. Tatapan warga penuh benci ke Ezar dan Ziya. Dua anak yang tidak saling mengenal itu ditatap bagai penjahat kelas kakap yang tertangkap basah melakukan kejahatan. Suara-suara teriakan tidak jelas juga dilemparkan ke Ziya dan Ezar membuat keduanya saling tatap kembali.
"Arak mereka!"
"Mereka sudah mengotori kampung kita!"
"Tidak ada maaf untuk pezina!"
"Nikahkan saja!"
"Manusia tidak beradab! Gaya saja orang kota kelakukan seperti binatang!"
Kalimat-kalimat makian terus berdatangan silih berganti membuat Ziya dan Ezar tak mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan. Ezar sudah tidak dapat menahan gejolak di dadanya. Telinganya mulai panas karena mendengar tuduhan-tuduhan tidak berdasar itu. Rahang pria itu mengeras dengan tangan terkepal. Dia menegakkan kepala. Kemudian, melihat satu per satu warga dengan tatapan tajam, sedangkan Ziya tak henti mengucap istigfar melihat keadaan yang kacau.
"Siapa yang kalian tuduh pezina?" tanya Ezar dengan suara intimidasi. Dia mengeluarkan aura mencekam seperti melawan musuh-musuhnya dipersidangan.
"Tuduhan kalian tidak benar. Itu fitnah." Ziya yang sejak tadi diam ikut membuka suara.
"Alah, maling mana ada yang mau ngaku! Suadah Pak RT segera eksekusi, arak mereka!"
Kondisi semakin tidak terkontrol, warga yang datang mulai terus menekan Pak RT untuk menghukum Ziya dan Ezar yang menjadi sasaran kemarahan warga. Tangan Ezar mulai dipegang oleh dua orang warga dengan kencang seakan-akan takut bahwa tersangka akan melarikan diri. Ziya pun yang sejak tadi duduk dipaksa berdiri oleh warga lainnya, dia juga diperlakukan sama seperti Ezar. Warga yang dipenuhi kilatan marah dari matanya menutup mata dengan kondisi Ziya yang pucat karena menahan sakit sejak tadi.
Kedua tangan Ziya dipegang ke belakang oleh salah satu warga laki-laki, sehingga lengan baju sebelah kanan yang sejak tadi dia berusaha tutup dengan pashmina tersingkap memperlihatkan kulit putih Ziya. Ziya berusaha melepaskan cengkaraman pria asing di sampingnya, tetapi tenaga perempuan tidak sebanding dengan tenaga pria yang penuh kemarahan.
"Pak, saya mohon lepaskan. Tolong! Bapak membuat lengan kanan saya terlihat." Ziya memohon dengan muka pucatnya.
"Diam! Bukannya emang ingin dibuka!"
"Sudah! Tenang Semuanya! Kita selesaikan ini secara baik-baik." Lelaki berpakaian batik dengan peci hitam yang tak lain adalah ketua RT setempat mulai menengahi.
Mendengar suara tegas orang yang disegani di desa membuat warga yang tadinya ricuh mulai tenang. Mereka mengikuti instruksi Pak RT. Namun, tetap tidak membiarkan Ziya dan Ezar terbebas. Keduanya terus dipegang dengan kencang.
"Pertama, saya tahu kalau kalian bukan warga asli sini. Kalian dari mana?" Pak RT bertanya dengan baik.
"Jakarta." Ezar dan Ziya menjawab bersamaan.
"Tuh kan! Mereka menjawab dengan kompak, sudah dipastikan mereka adalah sepasang kekasih yang ingin mengotori kampung ini dengan perbuatan yang tak bermoral." salah satu warga menyahut puas seakan tuduhannya adalah kebenaran.
"Kami bisa menjelaskan." Ezar kembali bersuara kali ini dia merendahkan suaranya.
"Jadi, begini, Neng dan Aa. Kedua warga saya melihat kalian sedang berduaan digubuk ini dan hendak melakukan perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama. Kalian ingin melakukan penyatuan kan?" Pak RT mulai menjelaskan duduk perkara.
"Ini murni salah paham. Kami tidak saling mengenal." Ziya berusaha menjelaskan dengan pelan. Dia berharap warga mempercayai kebenaran itu.
"Betul yang dikatakannya. Kami tidak saling mengenal. Saya ke sini karena berteduh kehujanan dan kebetulan di gubuk ini ada dia juga yang sedang berteduh. Kami tidak melakukan apa-apa." Ezar berusaha meluruskan kesalah pahaman ini.
"Bohong! Jelas kami melihat mereka hendak berbuat yang tidak-tidak. Coba saja jika kami tidak melihatnya sudah dipastikan mereka akan melakukan perbuatan menjijikan itu." Warga yang pertama menemukan Ezar dan Ziya di gubuk bersuara.
"sungguh kami tidak melakukan apa-apa." Ziya berusaha membuat warga percaya.
"Buktinya apa kalau kami melakukan tuduhan itu?" Ezar yakin kalau mereka tidak memiliki bukti apa pun karena tuduhan itu memang tidak benar.
"Kalian semua bisa melihat kalau baju wanita itu robek. Selain itu, lihat penampilan mereka juga kacau dan kami mendengar teriakan yang kalian tahu teriakan apa yang kami maksud."
"Yang dikatakan Mang Asep benar, Pak RT. Saya juga menyaksikan dan mendengar hal yang sama."
Ezar dan Ziya tak punya celah untuk menjelaskan. Perkataan mereka bagai angin lalu yang tidak mendapatkan satu aja dukungan dari warga sekitar. warga lebih percaya perkataan kedua manusia yang dengan tega menuduh Ezar dan Ziya. Pak RT juga lebih mempercayai keterangan kedua warganya dibandingkan dengan penjelasan Ziya dan Ezar.
Ziya dan Ezar dibawa ke balai desa untuk mendapatkan hukuman karena tuduhan dari dua warga desa yang sama sekali tak dikenal oleh Ziya dan Ezar. Ezar merasa diirinya dipermalukan serta dibuat tak berdaya berhadapan dengan warga desa. Dia yang biasanya dengan gagah berani membela kebenaran kliennya, sekarang tak mampu membela dirinya sendiri.
Liburan yang diharapkan membawa kesegaran otak justru menambah masalah hidup untuk pria berusia dua puluh delapan tahun itu. Pertama kalinya dia merasa menyesal menyetujui pilhan tempat berlibur dari sahabat sekaligus asisten kepercayaannya.
Ziya pun merasakan hal yang sam dengan Ezar. Dirinya sangat malu diperlakukan sedemikian buruk di kampung halaman orang tuanya. Diarak ke balai desa dengan penampilan yang sangat kacau, diteriaki pezina dan makian lainnya membuat dirinya merasa sangat terhina. Ziya juga memikirkan tanggapan dari kakek dan neneknya serta kedua orang tua jika kejadian ini sampai ke telinga mereka. Ziya merasa tak punya muka untuk bertemu dengan keluarganya. Ziya yakin kakek dan neneknya akan sangat marah jika mengetahui hal yang menimpa dirinya. Ziya berharap keluarganya akan percaya dengan penjelasannya nanti, sehingga dirinya dapat terbebas dari tuduhan tak berdasar warga setempat.
"Silakan hubungi keluarga kalian." Pak RT memerintahkan Ziya dan Ezar setelah sampai di balai desa.
"Apakah masalah ini tidak bisa diselesaikan tanpa melibatkan keluarga?" Ezar jelas keberatan jika orang tuanya harus terlibat dengan kesalah pahaman ini.
"Iya, terutama kamu." Pak RT melihat ke arah Ziya.
"Saya?" Ziya menunjuk dirinya sendiri.
"Kami membutuhkan wali untuk melangsungkan pernikahan ini." Pak RT berkata dengan tenang.
"Pernikahan?" Ziya dan Ezar melebarkan mata bersamaan karena terkejut.