Bab 1

Jomlo 1

"Pagi Pak Sarif," Aku menyapa riang Pak Sarif, satpam yang sudah paruh baya di rumah sakit ini.

"Eh, Neng Hasmi. Masuk pagi, ya?" balasnya ramah.

"Masuk malam, Pak. Hehehe ... ya, iyalah, Pak. Kalau jam segini udah di sini, pasti masuknya pagi. Gimana sih, Pak."

Pak Sarif tergelak renyah menanggapi selorohanku yang sebenarnya garing.

"Kirain masuk angin, Neng."

"Kembung, dong."

Kembali Pak Sarif pun tergelak, lalu mempersilahkan aku pergi setelahnya. Kalau tetap di sana, aku yakin pembicaraan kami akan memanjang dan akan menimbulkan keterlambatan masuk kerja.

Bukan apa-apa, Surat peringatan sama potongan gaji bukan Author yang menanggungnya. Jadi, sebelum dompetku meringis gara-gara potongan gaji, lebih baik aku sadar diri dan .... mundur, Kapten!

Aku melangkah riang ke kawasan rumah sakit, yang sudah hampir lima tahun ini menjadi tempatku mengais rezeki. Diiringi lagu Jaran Goyang, yang mengalir lancar jaya dari headset yang menempel di telinga. Sesekali aku pun menggoyangkan pantat teposku, mengikuti musik yang terdengar..

Jurus yang sangat ampuh.

Teruji terpercaya.

Tanpa anjuran dokter.

Tanpa harus muter-muter.

Cukup siji solusinya.

Pergi ke mbah dukun saja.

Langsung tembak.

Mbah saya putus cinta ....

Hihiy ... mantap ... tarik mang!

"Memang mantul, nih, lagu. Bagus buat bangun mood." Aku bermonolog di sela-sela langkahku.

Sesekali, mulutku pun juga ikut bersenandung riang mengikuti lagunya. Namun. Aku melakukannya dengan cara berbisik. Takutnya aku mendadak viral, gara-gara meng-cover lagu dari Via Vallen. Sedangkan suaraku sendiri tak beda jauh dengan sang penyanyi asli. Ya ... kalau diibaratkan. Via Vallen itu nilai suaranya sepuluh. Kalau aku jelas kebalikannya, alias nol satu. Kan, beda tipis doang. Hehehehe ....

Apa salah dan dosaku sayang.

Cinta suciku kau buang-buang.

Lihat jurus yang kan kuberikan.

Jarang goyang ... jaran goy ….

Jedug!

Bruk!

"Wadaw! Pantat gue!" seruku refleks. Aku baru saja hendak berbelok ke arah koridor menuju loker, tapi justru tak sengaja menabrak sesuatu akibat terlalu asik manggut-manggut menikmati musik dari headseat.

Mungkin saja tembok, terasa keras. Eh, tapi ... sejak kapan ada tambahan tembok di koridor begini? Kok, aku baru tahu.

"Are u okay?"

Temboknya bisa ngomong! Ih, serem, ya? Jangan-jangan itu tembok jadi-jadian lagi. Atau .... Hiiyyy. Pemikiranku justru membuat bulu kuduk bergidik sendiri, bayangan yang terlintas di kepala membayangkan kemungkinan makhluk astral yang baru saja kutabrak.

"Hei, Kamu tidak apa-apa, kan? Ada yang terluka?" tembok jadi-jadian itu bersuara lagi

Aku mengerjap beberapa kali meyakinkan diri, sebelum memberanikan diri mendongak untuk melihat tembok apa yang bisa berbicara itu.

"Kamu?!"

"Bapak?!"

Refleks aku dan tembok … eh, orang itu pun berseru dengan kompak.

Ladalah! Ternyata temboknya Pak Pengacara! Ya, cocoklah kalau begitu. Karena memang orang ini terlihat seperti tembok yang bisa ngomong. Kenapa aku bisa mengatakan hal seperti itu? Tentu saja karena Pengacara si Daddy, alias suaminya Dokter Karina memang mirip dengan tembok, baik wajah dan kelakuannya. Datar, lempeng, dan kaku.

Kurang mirip bagaimana lagi? Dia memang seperti batu diberi nyawa.

Mengetahui apa yang sudah kutabrak, aku berusaha bangun dengan susah payah. Karena tembok yang bisa ‘bicara’ ini, bener-bener tidak ada kepekaan sama sekali. Seperti mengulurkan tangan atau membantuku bangun atau yang lainnya. Paling tidak agar dia terlihat seperti pria pada umumnya.

Namun, sayangnya si pengacara itu malah diam saja dan membiarkanku ngedeprok di lantai mirip suster ngesot.

Menyebalkan sekali, kan?

Pada akhirnya aku memilih berdiri sendiri dengan tangan kanan mengusap kening, yang masih terasa agak pening. Sementara tangan kiriku mengelus-elus pantat tepos, yang baru saja berciuman dengan lantai.

Please, jangan pernah kalian praktekan. Bukannya terlihat kasihan, yang ada nanti kalian malah dikasih pisang sama yang lihat. Hehehehe ....

Oke skip! Aku hanya becanda saja. Ojo baper, okeh!

"Ngapain liat-liat? Naksir? Ngomong, Bos!" sindirku sinis ketika sudah berdiri tegak. Namun, pria itu masih tetap tak bereaksi apa pun.

"Mimpi!" balasnya singkat, padat, dan menyakitkan.

Tanpa minta maaf, minta nomor telpon, minta makan, apa lagi minta nomor rekening. Pria itu justru pergi begitu saja, sangat menyebalkan, kan?

"Huh, dasar tembok! Gak pernah sekolah! Bukannya minta maaf abis nabrak orang. Malah maen kabur aja. cowok apaan itu?" gerutuku kesal.

Bukan gerutuan lagi yang terlontar, karena aku sengaja meninggikan suara, berharap manusia tembok itu mendengar keluhanku barusan. Hanya ingin tahu saja, apa telinganya masih berfungsi dengan baik atau tidak?

Pria itu berhenti melangkah. Namun, tetap terdiam dalam posisi yang sama. Tidak berbalik ke arahku sama sekali.

Alhamdulilah ....

Itu brarti telinganya masih berfungsi normal. Semoga saja setelah ini dia pasti akan minta maaf.

"Sepertinya ada yang bersuara, tapi ... dari mana, ya?"

What the ....

Dia mendadak buta atau bagaimana? Bisa-bisanya dia bicara seperti itu, setelah apa yang sudah terjadi antara kami. Haish! Kenapa bahasanya jadi begitu, ya?

Ralat! Maksudnya setelah apa yang terjadi barusan dan ... Hello! Aku bukan makhluk tak kasat mata! Meski tubuhku kecil dan imut, tetap saja aku bisa terlihat.

Ah, Dasar Pengacara sialan!

Kekesalanku semakin meningkat drastis. Apa lagi setelahnya, si manusia tembok itu kembali melanjutkan langkah tanpa dosa tanpa menoleh. Aku pun hanya bisa mengeram kesal di tempatku.

"Dasar kampret! Kirim ajian semar mesem juga dah, nih. Biar jadi bucinnya Hasmi sekalian!" gerutuku yang juga memilih melanjutkan langkah pada tujuan awalku.

Alansyah Hermawan namanya. Pengacara kepercayaan Pak Arjuna, suaminya Dokter Karina, yang sering aku panggil si daddy.

Jangan salah paham! Panggilan itu tidak ada maksud apa pun. Aku hanya suka memanggilnya seperti itu, karena menjadi saksi hidup dalam perjalanan kisah cinta Dokter Karina dan Pak Arjuna. Untuk cerita lebih detailnya, baca saja di novel mereka, ya?

Karena hal itulah yang membuatku sering bersinggungan dengan Alan. Di mana saat itu, dia adalah orang yang dipercaya menyelesaikan kasus yang menimpa Dokter Karina.

Berawal dari keisenganku yang terus menggodanya karena gemas dengan wajah datarnya. Kami pun jadi seperti Tom and Jerry sekarang tiap kali bertemu. Melihat tampilan Alan yang dingin sekaligus kaku, kupikir sifatnya juga akan seperti karakter tokoh di dalam novel yang sering kalian baca. Sayangnya prediksiku salah besar, karena dia akan selalu dengan senang hati membalas semua keisenganku padanya.

Lidah pria itu lebih tajam dan pedas mengalahkan bubuk cabe merk Bon Cabe. Membuatku ingin ambil mie rebus dan telor untuk melengkapinya sekaligus.

"Tumben tuh muka pagi-pagi udah butek? Abis di putusin pacar atau abis ketemu penagih hutang?" Salah satu teman sejawatku menyindir saat bertemu di loker.

"Gimana gak butek, kalau pagi-pagi udah ketemu tembok dikasih nyawa. Nyebelin!"

"Siapa? Pak Alan maksud lo?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Calon Bucinnya Hasmi!"

Bab 2

"Mi, besok anter ke Tanah Abang, yuk?" ajak Dokter Karina, waktu kami sedang makan siang di kantin sumah sakit.

"Mau ngapain?" tanyaku singkat, sembari menikmati bakso pedas di hadapanku.

"Mau beli kaos. Soalnya Arjuna udah bawel banget, kalau liat saya pake kaos robek sana sini. Katanya kayak gak mampu beli baru aja." Cerita Dokter Karina sambil mencebik kesal. Membuatku langsung tergelak seketika.

"Astaga, Dok!" seruku tak habis pikir. "Lagian dokter mah, emang aneh, sih. Punya suami kaya, kok malah demennya pake kaos robekan. Made in Tanah Abang lagi. Ya, ampuuun ... dokter mah, emang bener-bener kebangetan." Aku benar-benar gemas sekali mendengar cerita Dokter Karina barusan.

"Loh? Emang saya salah apa? Pake kaos robekan kalau emang nyaman, kan, gak masalah. Selama itu masih berbentuk kaos dan masih bisa dipake. Ya … kan, mubazir kalau harus dibuang. Lagian, saya pakenya di dalam rumah ini. Gak ada yang liat juga selain Arjuna, kenapa, sih, pada ribut aja?" protes Dokter Karina tak terima.

"Ya … tapi, kan, gak harus yang robek-robek juga, Dok, yang lebih bagus-bagus masih banyak. Bener kata si daddy, Kayak gak mampu beli aja. Padahal kalau dokter mau, beli sama pabriknya pun mampu. Kenapa malah jadi sok miskin gini, sih? Sampe Kaos aja gak mau ganti. Ya Tuhan ... dokter mah emang manusia langka," ungkapku panjang lebar yang membuat Dokter Karina semakin cemberut.

"Ya makanya saya ngajakin kamu ke Tanah Abang. Soalnya saya kesel diomelin Arjuna mulu." Dokter Karina mencebik kembali dengan kesal.

"Malahan nih, ya, tuh kaos-kaos saya, sebagian besar sudah sengaja dirobekin Arjuna biar gak bisa pake lagi. Ngeselin banget, kan. Sekarang saya jadi bingung mau pake apa kalo di rumah. Saya udah gak punya kaos lagi, Mi," lanjutnya polos dengan menggebu-gebu.

Tak ayal, cerita Dokter Karina membuatku kembali terbahak.terlihat sekali kalau memang somplak sekali dokter satu ini.

"Gak usah pake apa-apa aja, Dok. Biar cepet jadi." Otakku terpanggil untuk menggodanya, membuat Dokter Karina langsung mencubit lenganku gemas.

Bukannya marah, aku malah semakin tergelak melihat kekesalan Dokter bedah kesayangan para pasien anak itu. Wanita ini memang selucu itu kala menanggapi candaanku.

"Lagian kenapa harus Tanah Abang, sih, Dok? Kan, ada mall gitu yang lebih adem sama nyaman buat belanja. Kenapa harus ke Tanah Abang yang pasti sumpek dan panas? Belum lagi kalau rame. Pasti desek-desekan gak bisa jalan. Emangnya dokter gak masalah apa, sama semua itu?" Kali ini aku mencoba untuk lebih serius.

"Iya, sih, tapi ... gimana, ya, Mi? Kalau di mall saya gak bisa nawar."

Hah, Apa? Menawar?

"Mana harganya mahal-mahal, lagi. Masa satu bijinya aja sampai ratusan ribu. Kan, kalau di Tanah Abang, seratus ribu aja bisa dapet tiga biji tuh. Padahal model sama bahan sama. Cuma menang dimerk, doang. Saya, kan, butuh kaosnya, Mi. Bukan merknya. Jadi ya ... mending Tanah Abang ajalah."

Ya salam!

Memang Dokter Somplak. Semenjak dulu tak ada yang berubah, masih suka merakyat. Pantas saja suaminya sering uring-uringan.

Padahal asal kalian tahu. Selain menjadi dokter senior yang sudah mempunyai nama besar di rumah sakit ini, tapi dia juga merupakan istri dari pemilik rumah sakit ini. Akan tetapi sifatnya malah terlihat lebih sederhana daripada dokter lain, yang notabenenya adalah bawahannya.

Luar biasa, kan?

Hal itulah yang terkadang membuatku malu akan Dokter Karina. Aku yang bukan siapa-siapa saja, malah lebih banyak maunya daripada Dokter Karina. Terlalu banyak yang diingikan, tapi isi kantong tak sesuai.

Sementara yang jelas-jelas punya kantong tebal, malah lebih suka mengirit daripada berfoya-foya. Dia juga tak pernah mau pamer, apa lagi sok menjadi sosialita. Jujur, itu juga yang membuatku betah berteman dengan Dokter Karina dari dulu. Karena dia tak pernah pandang bulu dalam berteman.

Sangat berbeda dengan teman sejawatnya. Bukan maksud menjelekan atau yang lainnya. tapi aku pun tak munafik juga kalau memang ada segelintir orang yang masih suka berperan antagonis di rumah sakit ini.

Itulah hidup. Iya, kan?

Selalu berdampingan. Di mana pun dan kapan pun, karena memang hidup ini harus seimbang. Hanya saja orang seperti Dokter Karina langka adanya. Orangnya selalu lurus, dan tak pernah berlaku macam-macam, padahal dia mempunyai suami yang kekayaanya naudzubillah tak kan pernah habis.

Uang tak berseri dengan asset yang tersebar di mana-mana, tapi lihat saja kelakuan Dokter Somplak ini? Bukannya memanfaatkan situasi yang dimiliki, agar terlihat seperti nyonya-nyonya sosialita jaman now, yang segala aktivitasnya muncul di newsfeed Instagram. 

Bahkan sampai saat ini. Dokter Karina lebih suka ke mana-mana memakai jasa ojek online daripada menaiki mobil pribadi. Padahal kalau ditelisik lebih jauh lagi, sang suami memiliki mobil yang jika dihitung-hitung, bisa saja dia membuka showroom mobil mewah.

Bisa kalian bayangkan sendiri segemas apa Pak Arjuna atas kelakuan ‘merakyat’ istrinya ini. Mau menggunakan mobil yang mana tinggal pakai, malah memilih menggunakan ojek online. Bukan hal yang mengherankan jika ego sang suami tersentil karena merasa tak bisa mensejahterakan istrinya sendiri. Walau pada kenyataannya sebelum menikah pun Dokter Karina memang sudah begini adanya. 

Alih-alih tinggal di apartemen mewah dan memanfaatkan uang gaji seperti yang lainnya. Dokter Karina malah lebih suka tinggal disebuah rumah kontrakan minimalis, yang katakanlah standar menengah ke bawah. Karena dilihat dari sisi mana pun, kontrakan Dokter Karina emang gak ada mewah-mewahnya. Pokoknya berbanding terbalik dengan gaji yang selama ini diterima sebagai dokter bedah.

Awalnya aku berpikir dia memang pelit atau karena sedang dikejar hutang, makanya tak pernah mau foya-foya. Namun, setelah aku mengenalnya lebih dekat, ternyata itu semua karna memang sifat dasar Dokter Karina sendiri yang tak pernah suka kemewahan.

Aku semakin malu dengan kelakuanku selama ini, begitu tahu jika Dokter Karina justru menyumbangkan sebagian gajinya untuk panti asuhan milik temannya. Walaupun kadang kuakui jika kelakuannya sedikit error, tapi kalau soal sifat dan wataknya menjadi panutan.

Dari Dokter Karina jugalah, aku mengetahui, jika harta bisa dibawa mati. Tentu kalau kita menggunakannya di jalan kebaikan, selain itu juga bisa memperlancar rezeki. Kita tidak akan pernah merasa kekurangan hanya dengan bersedekah, yang ada rezeki akan semakin melimpah

"Ayolah, Mi. kamu mau, kan, temani saya? Saya beliin hijab deh satu lusin," ajak Dokter Karina lagi, di sertai sebuah penawaran yang sangat menggiurkan.

Sifat dasar wanita adalah jika mendenger kata gratis? tidak akan nada penolakan.Begitu pula denganku. Karenanya aku pun mengangguk dengan cepat. Rezeki memang tak boleh ditolak.

Alhamdulillah ... rezeki anak soleha.

****

Satu hari sebelumnya ….

"Dok, besok jadi ke Tanah Abang?” tanyaku di sela aktivitas membantu Dokter Karina, merapikan data pasiennya.

"Belanjanya sih jadi, Mi, tapi gak jadi ke Tanah Abang," jawab Dokter Karina terlihat sedih.

"Loh, kenapa?" tanyaku dengan penasaran.

"Gak di bolehin sama Arjuna," cebik Dokter Karina. "Katanya nyusahin diri sendiri aja, cuma buat beli kaos doang. Dan lagi, katanya dia gak rela liat saya dempet-dempetan di sana sama orang lain. Iya kalo yang mepetin saya ibu-ibu. Nah kalo yang mepetnya cowo? Mending dia ratakan aja tuh Tanah Abang. gitu katanya, Mi," Dokter Karina mengadu seperti bocah cengeng.

"Trus-trus?" Kepo-ku akhirnya.

"Ya ... mau gimana lagi? Daripada tuh Tanah Abang beneran diratain Arjuna dan bikin banyak orang kehilangan mata pencahariannya. Mending saya yang mengalah. Kan, kamu tau sendiri gimana Arjuna? Dia tuh kalau udah ngancem gak pernah main-main. Makanya ya ... manut wae," jelas Dokter Karina memberengut lucu, membuatku kembali tertawa.

Sudah tahu punya suami posesif parah, suka sekali membantah. Kalau sudah begini, bagaimana acara belanjanya nanti.

Dasar Dokter nakal!

"Trus? Kita jadinya belanja di mana nanti, Dok?" Aku kembali bertanya, setelah puas menertawakan Dokter Karina sampai dia kesal.

"Di mall," jawabnya setengah jengkel.

"Jam berapa nanti?" Aku mengacuhkan muka kesal si Dokter somplak.

"Uhm ... bentar deh," jawab Dokter Karina ragu. "Saya tanyain ke Alan dulu, ya?"

Eh?

"Loh, kok? Nanyanya sama si jal … eh, Pak Alan, sih? Apa hubungannya acara belanja kita sama tuh pengacara lempeng?" 

"Ya ... soalnya yang mau nemenin kita belanja itu Alan, Mi. Arjuna gak bisa nemenin saya. Kamu tau, kan, dia masih di luar kota?"

Apa?

"Tapi … kan, Dokter Karina bisa pergi berdua aja sama saya? Ngapain pake di temenin segala, sih? Kaya anak kecil aja," protesku tak setuju dengan ide ini.

Apa bisa aku harus menghabiskan waktu yang cukup lama dengan pengacara itu? Meski ada Dokter Karina antara kita, tetap saja rasanya aneh.

"Mana diijinin kalau cuma berdua, Mi, Arjuna takut banyak yang modusin kalo gak di temenin cowok. Jadinya ya ... dari pada saya dikawal puluhan bodyguard cuma buat beli kaos, mending saya pilih di kawal Alan aja. Pinter, kan, saya?”

Pinter ndasmu! Kalau seharian di kawal si jalan tol … bisa-bisa naik tensi darahku.

Duh, emak ... kudu kumaha iye?

Bab 3

"Eh, Neng Hasmi, mau ke mana,nih, pagi-pagi udah rapi aja? Jalan-jalan, ya? Cie, yang baru aja gajian." Celotehan Bu Arni menyambutku saat baru saja keluar dari kontrakan, yang sudah satu setengah tahun ini aku tinggali. 

Kebetulan sekali Bu Arni sedang berkumpul dengan ibu-ibu lainnya di depan kontrakan. Mereka tengah belanja sayur di Kang Sueb sekaligus bergosip. Dan … ya, ini kontrakan yang sama dengan kontrakan yang dulu pernah ditinggali Dokter Karina.

Mendengar kata penyambutan Bu Arni, yang kulakuan hanya bisa mendengus pelan dan menyengir. Karena aku tahu pasti  apa maksud Bu Arni barusan. Apa lagi kalau bukan mau mengingatkanku untuk membayar uang kontrakan bulan ini.

Ah ... Bu Arni memang paling jago dalam memberikan kode, malahan kadang kelewat kreatif. Cukup memaklumi, kalau emak-emak jaman now terlalu sering menonton sinetron. Itu sebabnya terkadang banyak melakukan adegan yang didramatisir.

"Ah, si Ibu, nih, bisa aja ngodenya. Iya ... iya, Bu. Saya gak lupa, kok, sama kewajiban saya," jawabku ringan seraya mendekati Bu Arni yang sudah memandangku dengan mata yang berbinar dari tempatnya berdiri.

Berbeda dengan Dokter Karina yang biasa membayar rumah kontrakan ini pertahun. Aku hanya mampu membayarnya perbulan saja. Alasannya adalah selain aku tak sekaya Dokter Karina, karena memang gajiku pas-pasan. Selain itu juga, aku takut uang yang sudah aku kumpulkan untuk membayar kontrakan terlihat lebih besar nominalnya. Rasa-raanya aku tak sebegitu rela melepaskan yang aku tabung sedemikian rupa.

Maka dari itu, demi menghindari yang namanya khilaf gara-gara uang terpakai pada penghujung akhir tahun dan berujung terlilit tunggakan. Aku lebih memilih mengubah metode pembayaran rumah ini secara perbulan. Paling penting jangan sampai menunggak, karena sama saja dengan berhutang. 

Dan hutang akan dibawa sampai mati.

Hidupku saja belum tentu berada di jalur yang benar, ibadahku saja belum tentu diterima pun dengan dosa yang sudah menggunung. Itu sebabnya aku benar-benar menghindari hutang, karena akan lebih memberatkanku di akhirat kelak.

Mengerikan, kan?

Sembari tersenyum, aku menyerahkan satu amplop coklat yang memang sudah kusiapkan dari semalam. Sedikit berbasa-basi sebentar dengan Bu Arni dan para tetangga lainnya, aku mencoba akrab dengan para tetangga yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga. hidup merantau bukanlah suatu hal yang mudah. Aku sendiri berusaha mengakrabkan diri dan bersosialisasi, karena tetangga adalah saudara terdekat yang kita punya saat merantau ke kota orang.

Bukan apa-apa, andai saja nanti sampai aku—amit-amit tapi ya—terkena musibah di sini. Maka yang menolongku pertama adalah tetangga. Walau terkadang sifat mereka sedikit banyak menyebalkan, tetap saja mereka akan menjadi garda depan untuk membantu.

Itu sebabnya aku cukup tahu diri untuk tak mau mencari ribut  dengan para tetangga, apa lagi cari musuh.

Obrolan kami terhenti begitu mendengar suara klakson mobil yang nyaring, hampir membuat para ibu-ibu tetangga terlonjak kaget. Sebuah mobil van hitam udah berdiam diri tak jauh dari tempatku dengan Dokter Karina yang melambai dari bangku belakang.

"Eh ... itu bukannya Neng Karina yang itu, ya?"

"Eh, iya, yang itu."

"Wah, suaminya kok beda lagi, ya?"

"Udah ganti kali, ya?"

"Wah, parah sih, masa baru setahun lebih udah ganti aja."

Ingin sekali rasanya aku memutar bola mata dengan malas, kala mendengar nyinyiran mereka terhadap Dokter Karina. Jadi yang bisa aku lakukan hanya menghela napas panjang saja tanpa menanggapinya. Menghadapi para ibu-ibu bukanlah hal yang muda, apa lagi untuk gadis seusiaku yang terpaut jauh.

Sabar ... sabar ... Orang sabar sebentar lagi body-nya bertambah semok.

"Ekhem!"

Aku berdehams sedikit keras untuk meraih simpati mereka, supaya mereka berhenti  berbicara hal yang aneh-aneh mengenai Dokter Karina. Hal itu sukses membuat para ibu-ibu menatapku tajam.

"Maaf, ya, ibu-ibu sekalian. Tapi ... sebenarnya, itu calon suami saya. Kebetulan rumahnya searah dengan Dokter Karina. Makanya jemput sayanya bareng. Jadi ... tolong, ya? jangan digosipin macem-macem."

Aku terpaksa berbohong, demi untuk menghentikan gosip yang ditujukan pada Dokter Karina. Dan untuk Alan … sorry, bukan niat hati untuk mengaku-aku pun mengikuti ketenaran Dokter Karina. Hanya saja, aku tak enak hati padanya. Semenjak menikah dengan si Daddy, dia selalu menjadi sasaran empuk terus untuk digosipkan.

baik di rumah sakit pun di sini, gossip miring selalu berhembus seiring dengan kehadirannya. Padahal dia orang baik dan ramah, tapi herannya ada saja yang tak menyukainya. Aneh, kan?

"Kita itu gak bisa memaksa orang untuk menyukai kita. Begitu pula sebaliknya. Kita juga gak akan bisa menghentikan orang-orang yang tidak menyukai kita. Karena inilah hidup. Selalu berdampingan. Jadi yang harus kita lakukan, hanya terus melakukan yang terbaik. Gak peduli kebaikan kita akan diakui atau nggak. Yang terpenting, jalani aja yang menurut kita baik. Dan gak mengusik orang. Karena Tuhan itu gak pernah tidur. Akan ada saatnya. Di mana yang benar akan terlihat, dan yang jahat akan mendapat hukumannya. Gak usah takut dan gak usah dipusingkan. Karena hidup itu selalu bergulir, sesimpel itu."

Terkadang Doter Somplak ini terlihat begitu bijak dalam menyikapi segala gossip yang menerpa dirinya. Tak urung hal itu justru membuatku yang tadinya panas karena gosip, langsung mereda. 

Ya sudahlah. Lagi pula mereka juga tak mengenal Alan pun tak terlalu jelek untuk diakui sebagai tunangan. Eh? 

Bicara apa aku barusan?

Setelah berhasil membungkam mulut pedas ibu-ibu itu. Aku segera beranjak mendekati mobil Dokter Karina, yang dikemudikan si pengacara berwajah lempeng seperti jalan tol itu. Sedari tadi Alan sudah mengklaksoniku berulang kali. Terlihat sekali jika pria itu sudah tak sabaran.

Ck! Dasar menyebalkan.

Sesaat Dokter Karina memberiku kode untuk duduk di depan saja, ketika akan membuka pintu belakang kemudi. Ada Mbok Jum ternyata yang duduk di sebelahnya. Kalau begini ceritanya aku merasa seperti couple betulan. Like tuan dan nyonya.

"Lelet!" Aku langsung disambut dengan desisan sinis si jalan tol.

Kan? Apa aku bilang tadi? Suka sekali memancing keributan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED