Adinda menatap kosong taman rumah sakit yang terlihat sepi, karena memang jam besuk sudah berakhir sejak 2 jam yang lalu. Di antara kekosongan yang menghias, tampak juga kebingungan di netra dengan warna cokelat itu. Di saat seperti ini, ia benar-benar merasa sendiri, dan sama sekali tidak memiliki teman. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat ia berlari pun sudah tidak lagi ada. Ia anak tunggal, dan kedua orangtuanya sudah meninggal sejak lima tahun yang lalu.
Adinda hidup seorang diri di kota yang banyak orang bilang lebih kejam dari ibu tiri ini. Gajinya menjadi seorang pelayan kafe, tentu saja tidak akan cukup untuk membayar tagihan rumah sakit yang sudah amat membengkak.
“Maaf Mbak, tapi jika Mbak Dinda tidak bisa melunasinya besok, terpaksa kami akan mencabut segala fasilitas yang kami berikan pada pasien.”
Wanita dengan surai lembut sepanjang punggung itu memejamkan mata. Menarik napasnya yang begitu sesak. Apa yang harus ia lakukan dengan ini semua? Siapa yang bisa ia mintai tolong?
“Kamu yang menyebabkan anak kami terbaring koma di rumah sakit! Jadi kami harap kamu akan bertanggung jawab dan tidak lepas tangan begitu saja!”
Napas yang terasa sesak itu kian bertambah sesak. Nyatanya kalimat yang ibu Alvaro katakan itu benar. Alvaro, laki-laki yang menjadi kekasihnya selama satu tahun belakangan ini mengalami kecelakaan karena dirinya. Andai hari itu Alvaro tidak bertengkar dengan kedua orang tuanya, dan tidak kabur demi memilihnya, tentu saja hal semacam ini tidak akan pernah terjadi. Andai saja saat ibu Alvaro datang, dan memintanya mundur hari itu, dia memilih mundur, mungkin saja Alvaro tidak akan terbaring di ranjang rumah sakit seperti sekarang ini. Andai saja— Adinda kembali mengembus napas lirih, mencoba untuk kuat karena semua kata andai itu telah menjadi percuma.
Sekarang, yang perlu ia lakukan adalah membayar tagihan rumah sakit, agar Alvaro bisa sembuh. Namun, lagi-lagi ia bingung dari mana mendapatkan uang dengan nominal yang tidak bisa dikatakan sedikit itu?
Adinda memejamkan mata, mencoba berpikir, dan— surat rumah. Apa dia harus menjual rumah peninggalan orang tuanya?
“Boleh saya numpang duduk?” Pertanyaan itu membuyarkan semua pemikiran yang kini memenuhi kepala Adinda. Ia menoleh dan segera melempar senyuman ramah pada seorang wanita yang kini berdiri di sampingnya.
“Silahkan Tante,” ujar Adinda sembari menggeser duduk agar wanita yang berusia sekitar enam puluh tahun itu bisa duduk.
“Siapa yang sakit?” tanya wanita itu, membuat Adinda urung untuk kembali memikirkan rencana menjual rumahnya.
“Teman, Tante,” jawab Adinda kikuk. Merasa tidak nyaman jika menyebut pacar.
“Pacar, ya?” tebak wanita itu dengan senyuman lembut, tidak ada nada nyinyir ataupun sok tahu, yang membuat Adinda akhirnya mengangguk.
“Sakitnya parah, kamu keliatan sedih gitu?”
Jika dalam kondisi hati yang baik, mungkin Adinda akan memilih pamit, daripada meladeni wanita yang mulai kepo dengan apa yang ia alami ini. Namun, keadaannya sedang sangat membingungkan, dan sepertinya Adinda perlu teman untuk sekadar berbagi cerita. Toh, wanita di sampingnya ini tidak ia kenal. Mungkin tidak masalah untuk sekadar berbagi resah.
“Sudah dua minggu koma, dan sampai sekarang belum sadar.” Adinda memberikan sebuah senyuman, yang malah terlihat menyedihkan.
“Dan jika besok saya belum membayar tagihan, semua pengobatan akan dihentikan,” bisik Adinda lagi dengan wajah sendu.
“Kenapa kamu yang menanggung? Memang keluarga tidak ada?”
Adinda menunjukkan senyum kecut, dan seharusnya ia berhenti saat itu juga. Bukan malah membeberkan apa yang terjadi. Entahlah, mungkin Adinda sudah terlalu lelah dan putus asa. Atau mungkin, karena sorot mata wanita ini tidak terlihat menghakimi.
“Kok ada ya keluarga kayak gitu? Ini kan menyangkut nyawa anak mereka? Apa mereka nggak mikir andai kamu nggak bisa bayar?” Adinda hanya tersenyum mendengar semua kalimat bernada marah itu. Ia merasa, seolah ibunya kini ada di sini untuk memberinya kekuatan.
“Makasih Tante, sudah mau mendengar curhatan saya,” ujar Adinda dengan senyuman tulus. Jujur, hatinya mulai membaik, dan sepertinya ia memang harus menjual rumahnya untuk membayar tagihan rumah sakit.
“Kamu mau ke mana?” tanya wanita itu saat Adinda bangkit dari duduknya.
“Saya sepertinya sudah menemukan solusi masalah saya, Tante,” jawab Adinda dengan senyum mengembang. Ia ingat salah satu tetangganya pernah menawar rumah peninggalan orangtuanya itu. Mungkin sekarang belum terlambat untuk menawarkannya.
“Boleh Tante tahu, apa itu?” Entah mengapa wanita itu merasa khawatir. Ia takut wanita muda di sampingnya ini melakukan hal nekad.
“Saya punya rumah peninggalan orang tua saya. Rasanya itu akan cukup untuk membayar tagihan rumah sakit. Lebihnya bisa saya pakai untuk menyewa kontrakan,” jelas Adinda tanpa beban. Seolah memang itu jalan yang terbaik.
“Orangtua kamu sudah meninggal?” Dan saat anggukan kepala yang ia dapat sebagai jawaban, wanita itu merasakan kepedihan yang luar biasa.
“Saya permisi dulu ya, Tante. Mau nawarin ke tetangga saya. Waktu itu dia mau, siapa tahu masih berminat.”
“Tunggu!” Namun, langkahnya terpaksa terhenti saat wanita dengan penampilan elegan itu menahan lengannya. “Siapa nama kamu?”
“Saya Adinda, Tante,” jawab Adinda dengan wajah bingung.
“Kamu anak baik.”
Adinda tersenyum manis saat mendengar pujian itu. “Terima kasih,” bisiknya masih dengan raut bingung.
“Boleh Tante bantu kamu, Sayang?”
Kening Adinda mengerut bingung. “Maksud Tante?”
“Berapa tagihan rumah sakit?” tanya wanita itu sungguh-sungguh. Dan dengan wajah yang semakin bingung, Adinda pun menyebutkan nominal yang jumlahnya sangat besar. Namun, anehnya wanita itu tidak terlihat terkejut.
“Ayo kita ke resepsionis.” Wanita itu menarik lengan Adinda, tapi Adinda menahan langkahnya.
“Tante ini maksudnya gimana? Saya nggak mau nyusahin Tante. Bahkan kita juga baru kenal.”
Wanita itu tersenyum hangat. “Nama saya Marlina. Saya juga seorang ibu yang mempunyai anak. Mana saya tega setelah mendengar cerita kamu tadi?”
“Tapi Tante, itu jumlahnya nggak sedikit.” Adinda merasa menyesal karena sudah menceritakan masalahnya pada orang asing. Sungguh, ia tidak berniat sampai ke arah sini.
“Tante tahu, dan Tante bisa bantu kamu,” ujar Marlina dengan senyum lembut keibuan. Membuat Adinda semakin merasa bersalah. Wanita ini begitu baik, dan dia tidak boleh memanfaatkannya.
“Tapi Tan—“
“Kamu bisa anggap ini hutang, dan mencicilnya pelan-pelan,” potong Marlina cepat.
Namun, Adinda menggeleng. “Saya hanya pelayan kafe, nggak akan bisa membayar hutang sebesar itu.” Adinda mencoba untuk berpikir realistis.
“Kalau begitu, kamu bisa membayar dengan cara lain,” ujar Marlina, kali ini ada sorot penuh harap yang terpancar dari mata itu. Hal yang sejak tadi tidak bisa mata Adinda tangkap, wanita ini kini seolah menunjukkan ruang rapuh yang terus disembunyikan.
“Apa itu Tante?” tanya Adinda, yang merasa trenyuh saat melihat mata wanita itu mulai berkaca-kaca.
“Menikahlah dengan anak saya.” Mata Adinda pun melebar saat itu juga.
“Uang itu akan saya jadikan mahar, jadi kamu tidak perlu mengembalikannya.”
Jantung Adinda pun perlahan berdetak cepat. Ada rasa takut, bingung, putus asa, yang kembali menyerangnya. Awalnya Adinda meminta waktu untuk berpikir, tapi nyatanya waktu tidak memihak padanya. Dan saat tetangga yang ia harap bisa menolong dengan membeli rumahnya ternyata baru saja membeli rumah di lokasi lain, maka Adinda tidak punya jalan keluar, selain menghubungi wanita itu.
“Oke, besok kita bertemu di rumah sakit dan saya akan melunasi semuanya.”
“Tante, tolong buat surat perjanjian. Saya takut nantinya hati saya goyah,” ujar Adinda yang merasa takut akan berbuat curang jika ada yang membuatnya tidak nyaman nanti.
“Baiklah, saya rasa saya memang tidak salah memilih. Kamu adalah orang yang tepat untuk menjadi pendamping anak saya.”
Adinda hanya tersenyum tipis, menyerahkan kehidupannya di depan sana pada Tuhan. Semoga, semuanya berjalan lebih mudah dari yang ia duga.
Lesung pipi di sebelah kanan itu tercetak, saat sebuah senyum lega tampak di wajah cantik, yang baru beberapa bulan lalu menginjak usia duapuluh lima tahun. Ada beban yang seolah terangkat dari pundaknya, setelah segala kerumitan yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya terpecahkan.
‘Din, saya tunggu di depan.’
Adinda Larisa, nama wanita dengan rambut sepunggung itu segera memasukkan ponsel ke dalam tas. Ia bersiap untuk membayar konsekuensi dari segala yang sudah ia dapat. Adinda tidak tahu jalan apa yang akan ia hadapi di depan sana nanti. Namun, yang pasti satu masalah sudah terselesaikan, dan ia akan menjalankan garis takdir yang sudah Tuhan tulis untuk jalan hidupnya.
“Al, aku pergi dulu,” ujarnya kepada laki-laki yang kini terbaring dengan berbagai alat terpasang di tubuhnya. “Mungkin setelah ini aku bakalan jarang nemenin kamu. Tapi aku janji bakal usahain untu datang setiap hari kok.” Bibir tanpa pulasan lipstick itu tersenyum, meski lawan bicaranya tidak pernah memberi tanggapan. Mata itu masih tertutup rapat seperti biasa.
“Kamu baik-baik, ya.” Setelah mengatakan itu, Adinda segera bankit, merapikan rambut keunguan yang catnya mulai memudar, lalu pergi sebelum wanita baik yang menunggunya di luar sana kembali mengirimkan pesan.
*
“Dulu dia nggak seperti itu,” ujar Marlina dengan sorot sedih yang kentara. “Dia selalu tersenyum ramah pada semua orang,” lanjutnya sembari menoleh kea rah samping.
Adinda yang sejak tadi fokus pada laki-laki jangkung di depan sana sontak menoleh. Memberikan senyum lembut sebagai penguat bagi ibu dari laki-laki yang sejak tadi ia perhatikan.
“Sekarang sikapnya dingin sekali. Hanya bisa ramah saat sedang berhadapan dengan klien saja.” Marlina menghela napas, membetulkan kaca mata hitam yang bertengger di pangkal hidung bangirnya. Tanpa harus melihat langsung pun, Adinda tahu kini mata itu berkaca-kaca.
“Beberapa kandidat yang selama ini Tante sodorkan, selalu saja gagal,” ujar Marlina kembali. Adinda hanya diam mendengarkan, sembari menyimpan semua informasi penting di dalam kepalanya.
“Selama ini, wanita-wanita itu silau pada jumlah uang yang Alvin tawarkan. Atau, mereka tidak akan tahan dengan sikap dingin Alvin yang sudah mengarah ke kasar.”
Kali ini Adinda yang menghela napasnya, ada setitik rasa takut yang mulai menyusup. Namun, saat tangan Marlina menggenggamnya, seolah tahu keresahan yang ada di hatinya kini, wanita itu berusaha untuk menunjukkan senyum penuh keyakinan.
“Kamu, akan bertahan kan, Dinda?” Marlina menurunkan kaca mata hitamnya, dan tampaklah sorot putus asa seorang ibu yang tengah mencari secerca kebahagiaan untuk anak laki-lakinya.
Adinda menghela napas, lalu membalas remasan tangan Marlina dengan senyum tenang yang akan membuat siapapun menyukainya.
“Dinda akan berusaha Tante. Dinda sudah punya gambaran, dan Dinda harap Dinda akan tahan banting nanti.” Wanita itu tersenyum lebar, berusaha memberi keyakinan bahwa dirinya tidak akan menyerah begitu saja.
“Tante yakin Tuhan mempertemukan kita bukan tanpa alasan. Tante yakin kamu adalah wanita tepat yang akan bisa menolong Alvin.” Secercah harap tampak tersorot di mata Marlina. Sejak dipertemukan dengan Adinda hari itu, Marlina yakin wanita ini berbeda.
“Dinda akan berusaha untuk nggak mengecewakan Tante,” bisik wanita itu dengan senyum yang semakin tampak manis, saat satu lekukan tercetak di pipi sebelah kanannya.
“Tante percaya kamu bisa. Dan, apa boleh tante minta sesuatu?”
Senyum Adinda menghilang, ada sedikit rasa khawatir tentang permintaan yang belum tersebut itu. “Apa itu?” Adinda menunjukkan senyum tipis, agar keresahannya tidak terbaca oleh mata Marlina.
“Belajar untuk mencintai Alvin. Tante rasa, itu cara mudah untuk meluluhkan hatinya.” Marlina kembali menunjukkan binary harap di matanya. “Mungkin, dengan sebuah ketulusan, laki-laki itu akan luluh sama kamu.”
Mulut Adinda hanya bisa membuka dan menutup tanpa bisa mengatakan apapun. Belajar mencintai? Adinda tidak memikirkan hal ini sampai detik ia menandatangani surat kesepakatan mereka tadi. Sebelum akhirnya Marlina membayar semua tagihan rumah sakit, bahkan perawatan untuk Alvaro beberapa bulan ke depan, sudah wanita itu bayarkan.
“Tidak perlu terburu-buru, dengan berjalannya waktu, Tante yakin kamu bisa mengambil hatinya.”
Ini, tugasnya sebenarnya apa? Kenapa Adinda baru menyadari jika hatinya harus diserahkan juga di sini. Ia harus membuat Alvin jatuh cinta kepadanya, demi melupakan sosok istri bernama Sofia. Lalu? Lalu setelah itu? Kenapa Adinda tidak memikirkan semua ini? Setelah Alvin jatuh cinta kepadanya, tidak mungkin bukan ia tinggalkan begitu saja?
“Kamu, mulai ragu, ya?” Marlina sepertinya membaca keraguan dan kegamangan yang kini memnuhi kepala Adinda. Namun, wanita itu malah menggeleng untuk menyanggah tebakan Marlina.
“Aku sudah menerima uangnya, dan aku sudah siap dengan konsekuensinya, Tante,” ujar Adinda dengan senyum yang tampak dipaksakan. Bukankah seharusnya seperti itu? Ia sudah menerima uang yang Marlina janjikan, dan tugasnya adalah membayar itu semua dengan syarat yang sudah Marlina berikan. TIdak ada lagi jalan mundur, dan apapun resiko di depan nanti yang menghadangnya, Adinda harus bersiap sepenuh hati untuk menyambutnya.
“Tante menaruh harapan besar sama kamu, Din.”
Adinda kembali memaksakan senyumnya untuk muncul. Yah, dia tidak mungkin mundur karena segalanya sudah dimulai.
“Jalan, Pak,” ujar Marlina pada supirnya, lalu mobil itupun melaju membelah keramaian.
Mata Adinda lantas bergerak kea rah di mana Alvin masih tampak serius di kafe seberang sana. Sosok itu terlihat ramah saat sedang berbicara dengan laki-laki yang tadi Marlina sebut klien perusahaan mereka. Mungkin, laki-laki itu pada kenyataannya tidak semenyeramkan yang ia bayangkan.
*
Agenda Adinda selama beberapa hari ini adalah mengikuti Alvin. Dia harus tahu keseharian laki-laki itu. Meski Marlina sudah menyebutkan daftar kegiatan anak laki-lakinya yang sebenarnya hanya berurusan dengan pekerjaan, tapi Adinda ingin tahu lebih banyak tentang laki-laki itu.
“Kegiatan Alvin setiap harinya selalu sama. Kalau nggak kerja ya paling dia di rumah. Tapi, beberapa hari ini dia lagi lembur terus soalnya ada kerja sama dengan perusahaan baru. Ada beberapa tender yang dia menangkan.”
Informasi tersebut menjawab pertanyaan yang tidak sempat muncul di kepala Adinda, tentang kenapa Alvin selalu pulang tengah malam.
Sebenarnya sampai detik ini Adinda masih bingung, kenapa laki-laki seperti Alvin harus dijodohkan. Alvin yang ada di bayangannya dengan Alvin yang kini ada di kejauhan sana tentu saja berbeda. Jika awalnya Adinda pkir Alvin adalah laki-laki kolot yang mungkin susah dekat dengan lawan jenis, maka Alvin yang terlihat di mata Adinda adalah sosok yang akan dengan mudah menarik lawan jenis.
Laki-laki itu memiliki tubuh jangkung dengan badan tegap bak model. Belum lagi garis wajahnya yang tegas tetapi terkesan teduh andai saja bibir itu mau tersenyum. Penampilan rapi dengan kemeja yang digelung sampai ke siku itu tentu saja akan membuat wanita manapun terpesona. Dengan singkat kata, Alvin adalah laki-laki tampan, gagah, dan tentu saja sangat menarik dari segi fisik.
Adinda menunduk pada buku menu saat sosok yang sejak tadi ia perhatikan itu menoleh ke arahnya. Jangan sampai ia memiliki kesan tidak baik di saat mereka bahkan belum saling mengenal.
Alvin sejak tadi terlihat hanya duduk melamun di salah satu meja kafe sembari menatap kosong kea rah jalan. Laki-laki itu sesekali menyeruput kopi di hadapannya. Bisa Adinda lihat beberapa pelayan kafe yang sejak tadi mencuri pandang kea rah laki-laki itu. Yah, seperti yang tadi ia bilang, Alvin akan mudah menyedot perhatian lawan jenis dengan begitu mudah.
“Sepertinya dari tadi saya lihat kamu terus melihat kea rah saya.” Mata Adinda melebar saat sosok jangkung itu sudah berdiri menjulang di depannya. Tatapan dingin dan tajam itu langsung menghujam tepat di manik matanya.
“Atau, kamu wanita baru yang ibu saya kirim.” Seharusnya Adinda bisa menguasai diri, seharusnya ia tidak melebarkan mata, karena dengan begitu Alvin akan dengan mudah menebak jika jawaban dari pertanyaan yang laki-laki lontarkan itu adalah ‘ya’.
Ada dengusan sinis yang bisa Adinda tangkap dari tempatnya. Terlalu tyerkejut membuat kerja syaraf otaknya seolah lumpuh saat itu juga. Tidak sepatah katapun bisa ia ucapkan. Apalagi Alvin terus menyerangnya dengan tatapan dingin yang begitu menakutkan.
“Jangan buang waktu kamu untuk hal yang tidak akan membuahkan hasil. Sebelum kamu membuang tenaga kamu itu, saya peringatkan untuk mundur.” Alvin terlihat masih tenang, dan kali ini melirik arlojinya. Setelah itu, ia pu segera pergi tanpa mengatakan apapun.
Adinda yang seolah baru menemukan fungsi tubuhnya dengan baik, segera berlari keluar mengejar sosok Alvin yang sudah berdiri di samping mobilnya.
“Mas Alvin tunggu!” Bisa Adinda lihat tangan laki-laki itu mengepal, sebelum akhirnya wajah itu bergerak ke arahnya.
“Kasih saya kesempatan,” ujar Adinda dengan senyum penuh percaya diri.
Alvin memberikan senyum, bukan jenis senyum yang akan orang sukai. Dari senyum yang ia berikan itu, berapa wanita langsung mundur teratur dari niat untuk mendekatinya.
“Kesempatan untuk melukai wanita lain?”
Kening Adinda tampak mengerut bingung. “Maksud Mas Alvin?”
“Jadi Ibu saya tidak cerita?”
“Cerita? Maksudnya?” Ada waswas yang kini menguasai hati Adinda.
“Jadi kamu nggak tahu status laki-laki yang akan kamu dekati?” Alvin tertawa dengan nada meremehkan.
Tidak hanya waswas, tapi hati Adinda kian bertambahj resah dan juga takut.
“Saya laki-laki beristri. Itu kalau kamu mau tahu.” Dan setelah mengatakan itu, Alvin masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Adinda yang mematung dengan mata melebar terkejut di tempatnya.
“Maaf, Dinda. Tante nggak bermaksud untuk bohongin kamu. Tante hanya lupa untuk memberikan informasi penting tersebut.”
Adinda yang memang langsung menemui Marlina selepas pertemuannya dengan Alvin hanya bisa tersenyum kecut. Lupa? Hal sepenting itu bisa Marlina lupakan? Namun, sayangnya Adinda bukan tipe wanita yang mudah meledakkan emosi. Sejak kecil ia dididik dengan cara lembut oleh mama dan papanya. Kedua orangtua yang akan selalu menjadi panutannya sepanjang sisa hidup yang Tuhan beri untuknya. Namun, rasa kecewa dan penyesalan ini tentu saja masih terus membuat Adinda ingin menarik waktu ke belakang. Seharusnya ia usahakan rumahnya terjual bagaimana pun caranya. Bukan malah menerima tawaran yang akhirnya membuatnya terjerat pada hal rumit semacam ini.
Menjadi madu bagi wanita lain tentu saja bukan hal yang bisa ia bayangkan akan terjadi pada hidupnya. Apakah ia memiliki dosa di masa lalu yang begitu besar? Sehingga terjebak pada situasi di mana ia tidak bisa mundur meski jika maju jalannya akan menjadi salah.
“Tapi semua yang terjadi tidak seperti yang kamu pikirkan, Sayang. Tante tidak mungkin mengambil keputusan tanpa memikirkan konsekuensinya.” Marlina terlihat takut jika Adinda akan mundur setelah mendengar cerita yang terucap dari bibir Alvin.
“Sekarang kamu ikut Tante!” Marlina berdiri, dan segera berjalan ke arah mobil yang terparkir di pinggir jalan. Dan tanpa mengatakan apapun, Adinda mengekor langkah Marlina yang entah akan mengajaknya ke mana.
*
Adinda mamandang sosok Alvaro yang masih terbaring koma di tempat tidurnya. Kilasan kalimat yang Marlina ceritakan tadi terus berdengung di telinganya. Nyatanya, apa yang akan Adinda hadapi di sana jauh lebih pelik dari apa yang ia bayangkan.
Adinda kira, ia hanya akan menghadapi seorang laki-laki dingin yang enggan mengenal wanita. Namun, ternyata sosok Alvin bersikap dingin karena ingin mempertahankan cinta yang ia jaga untuk istrinya.
Tentu saja itu akan lebih sulit karena hati Alvin sudah dipenuhi oleh nama Sofia. Dan siapapun wanita yang mendekat, akan dianggap sebagai ancaman bagi istri yang sangat ia cintai itu. Laki-laki itu tidak sedang menjaga hatinya, tetapi menjaga hati lain agar tidak terluka jika dia menggeser tempatnya.
“Sofia adalah cinta pertama Alvin. Mereka sangat lama berpacaran hingga akhirnya memutuskan untuk menikah. Tapi, kecelakaan itu merenggut semua hal yang Alvin rancang untuk masa depannya dengan Sofia.”
Adinda menghela napas, Alvin sebenarnya hanyalah pribadi yang terluka. Pribadi yang sangat rapuh, dan menutupi kerapuhannya melalui sikap dinginnya itu. Jika dipikirkan lagi, sebenarnya mereka berdua tidak jauh berbeda. Alvin melindungi Sofia dengan sikap dinginnya itu. Dan Adinda melakukan segala cara untuk bisa mempertahankan Alvaro agar tetap hidup. Mereka hanya dua manusia biasa yang sedang mempertahankan apa yang mereka anggap penting.
“Tolong Tante, Adinda. Buat mata Alvin terbuka agar mau melanjutkan hidup dengan cara yang benar.”
Andai saja permohonan itu tidak pernah ia dengar. Dan andai saja pertolongan itu tidak pernah ia terima. Tentu saja Adinda akan memilih untuk tidak mengusik dunia yang sudah Alvin bangun bersama Sofia. Namun, bagaimana mungkin ia bisa menolak permohonan wanita baik yang sudah mau mengulurkan tangan untuknya? Bagaimana ia bisa abai pada keinginan seorang ibu yang ingin melihat anak laki-lakinya bahagia? Walaupun Adinda sendiri ragu, apakah ia benar-benar bisa membawa kebahagiaan bagi Alvin?
Entah sudah berapa kali Adinda menghela napas untuk hari ini. dan ia terus mengulang itu seolah beban berat di dadanya bisa berkurang dengan cara itu.
“Al, jangan kecewa dengan apa yang aku lakukan sekarang, karena aku benar-benar nggak punya pilihan lain. Aku melakukan ini untuk mempertahankan jantung kamu agar tetap berdetak.” Satu bulir menetes, Adinda tidak tahu apa yang akan ia jelaskan nanti jika Alvaro tiba-tiba bangun.
“Aku janji akan segera menyelesaikan ini, dan akan kita bahas semuanya dengan pikiran tenang jika kamu bangun nanti.” Wanita itu mengusap air matanya, lalu memasang senyum manis yang selalu menjadi favorit Alvaro.
“Kamu cepet bangun, ya. Aku kangen banget kamu jailin. Aku kangen banget sama masakan asin kamu.” Adinda terkekeh dengan bulir yang kian menetes. Tidak tahu apakah tangisan itu memang untuk kerinduannya untuk Alvaro, atau sebagai bentuk lain dari pelarian kebingungan yang kini melandanya. Ia sudah memutuskan untuk melangkah maju karena memang tidak memiliki jalan mundur.
*
“Alvin itu paling suka sama masakan pedas dan berkuah. Apalagi yang ala rumahan. Dulu Sofia pinter masak soalnya,” jelas Marlina suatu hari. Dan hari ini, Adinda pun membuat masakan untuk laki-laki itu.
Adinda sendiri sudah tidak asing dengan kegiatan memasak seperti ini, karena memang sudah terbiasa hidup sendiri. Biasanya ia akan menikmati hasil masakannya bersama Alvaro, dan selama ini lidah laki-laki itu sangat cocok dengan masakan yang ia buat. Sementara kali ini, Adinda ragu Alvin akan menyukai masakannya. Apalagi setelah ia tahu jika Sofia adalah seorang chef yang begitu handal. Dan bahkan, setelah menikah Alvin berencana ingin membuka restoran dengan nama istrinya tapi tidak terealisasi sampai sekarang.
“Enak loh, ini mirip banget sama yang Sofia bikin,” ujar Marlina saat Adinda meminta pendapatnya tentang makanan yang ia buat. Wanita itu tentu saja tidak akan nekad memberikan masakan itu langsung kepada Alvin.
“Tante yakin?” Adinda takut Marlina hanya sedang membesarkan hatinya dengan memuji masakannya seperti itu.
“Sangat yakin, Alvin pasti akan terkejut saat mencicipinya nanti.”
Adinda tersenyum senang, dan berharap memang begitu adanya. Maka, setelah menemui Marlina, ia pun menuju ke kantor di mana Alvin bekerja. Ia tidak memiliki kesulitan karena Marlina memberinya akses masuk dengan mudah.
Perusahaan yang Alvin kelola memang milik keluarga, yang sekarang menjadi tanggung jawabnya untuk terus dikembangkan setelah ayahnya meninggal dunia. Dia anak sulung dari dua bersaudara, dan tidak mungkin meminta bantuan atau malah menyerahkan tanggung jawab besar ini pada Almira, adik perempuannya itu lebih berminat pada dunia traveling.
*
Alvin memandang kotak makanan di depannya dengan alis berkerut. Merasa janggal dengan kotak berwarna biru itu yang tiba-tiba saja ada di tempatnya. Padahal ibunya sama sekali tidak memberi kabar akan mengirim makan siang.
“Tari, ini makanan dari siapa?” tanya laki-laki itu pada sekretarisnya melalui interkom.
“Nggak nyebutin nama yang kasih, Pak. Katanya Pak Alvin bakalan tahu.”
Alvin berdecak malas, “Lain kali kalau nggak mau nyebutin nama, jangan kamu terima! Langsung buang kalau perlu!” sentak laki-laki itu dengan nada pedas, lalu memutus sambungan tanpa menunggu jawaban dari seberang.
Tidak perlu menduga, ini pasti ulah wanita baru yang mamanya bayar untuk mendekatinya. Nyatanya ibunya masih belum menyerah untuk menjodohkannya dengan wanita itu.
“Ibu kan juga pengin nimang cucu dari kamu, Vin.”
Alvin mendengus kesal saat mengingat perkataan yang ibunya ucapkan tempo hari. Hal yang pasti akan membuat Sofia sedih jika sampai mendengar itu.
“Aku harap Ibu nggak pernah mengatakan itu di depan Sofia,” balasnya yang langsung pergi ke kamar tanpa mau mendengar kalimat ceramah yang pasti akan keluar jika ia masih tetap duduk dengan ibunya.
Tangan Alvin sudah berniat untuk memberikan makanan itu pada sekretarisnya, tetapi matanya menangkap satu kertas terselip di sana.
‘Kalau dibuang, berarti Mas Alvin takut jatuh cinta sama masakan saya.’
Degusan sinis kembali terdengar saat kalimat itu terbaca olehnya. Mana mungkin Alvin akan terpancing oleh jebakan konyol semacam itu? Maka laki-laki itupun segera bangkit, dan menyerahkan kotak makan itu pada Tari yang tentu saja langsung menerimanya dengan senang hati.
“Ini baunya enak sekali loh, Pak. Bapak yakin mau kasih ke saya?” tanya Tari yang tidak sedang mengada-ada. Aroma masakan di dalam kotak itu memang langsung tercium tanpa harus membuka tutupnya.
“Saya alergi sama daging,” ketus laki-laki itu sembari melirik ke arah tembok pembatas. Di mana seseorang yang kini bersembunyi di sana ia yakini akan kecewa melihat apa yang ia lakukan.
Alvin pikir wanita itu akan berhenti setelah ia tolak. Namun, sepertinya ia harus bersikap lebih kasar dari ini. Atau, dengan cara lembut berbentuk uang dengan nilai banyak? Alvin tersenyum miring, nyatanya cara itu memang selalu berhasil.
Maka, saat keesokan harinya makanan itu kembali ada di mejanya, Alvin segera menemui wanita yang sedang berjalan ke arah lift itu untuk membuat sebuah kesepakatan.
“Sepertinya kita perlu bicara agar kamu mau mundur tanpa perlu saya kasari,” ujar Alvin pada wanita berwajah manis yang— Alvin menggeleng, lalu segera memutar langkah.
“Ikut ke ruangan saya.” Laki-laki itu tidak perlu mengulang kata-katanya, karena bisa ia dengar langkah kaki yang mengikutinya kini.