Sama seperti remaja pada umumnya yang sedang jatuh cinta dan memilih untuk mencintainya dalam diam. Haera terus mencurahkan isi hatinya dalam bentuk tulisan. Setiap tulisan yang dibuat selalu tentang dia. Namun sayangnya Haera bukan jatuh cinta pada manusia biasa yang bisa bertemu setiap saat tetapi jatuh cinta pada seseorang yang dengan sadar tidak akan bisa digapai. Banyak perbedaan di antara mereka berdua.
Haera menutup buku catatan yang berwarna cokelat itu. Buku catatan yang berisi tentang tulisan-tulisan tentangnya. Matanya kembali menatap kearah laptop yang menyala menampilkan hasil tulisannya beberapa hari yang lalu. Haera tersenyum saat sahabatnya menghampiri dengan membawa 2 minuman cokelat dan beberapa snack kesukaan mereka berdua.
“Bagaimana sudah selesai?” tanya sahabat Haera setelah duduk di depan Haera.
“Belum, mengapa?”
“Aku ingin mengajakmu belanja. Adikku terus merengek memintaku untuk membelikan album terbaru mereka” gumamnya sambil meminum minuman miliknya. Haera yang mendengar itu hanya terkekeh dan mengangguk untuk mengiyakan ajakan Nara.
“Sebenarnya apa yang kau lihat dari mereka itu?” Haera bertanya padanya.
Nara hanya menunjukkan ponselnya yang menampilkan foto seorang pemuda. Haera melihat kearah ponselnya hanya bisa menahan senyum dan melanjutkan mengetik lagi.
“Apa kau menyukainya? Dia sangat terkenal di kalangan gadis remaja. Bahkan dia termasuk yang memiliki fans yang terbanyak”
“Iya aku menyukainya”
“Alasannya?”
“Tidak ada alasan khusus. Aku hanya kebetulan melihatnya kemudian semuanya terjadi begitu saja” Haera menjawabnya
Nara yang mendengar jawaban dari Haera hanya memutar bola matanya kesal dengan jawaban yang diberikan. “Ayolah Ra… kau bukan lagi gadis berusia 17 tahun Haera. Kau bahkan sudah berusia 24 tahun”
“Lalu jawaban seperti apa yang ingin kau dengar Nara?”
“Dia tampan”
“Itu sudah pasti. Semua yang melihatnya dengan mata mereka sendiri kalau dia sangat tampan” Haera mengedikkan dagu kearah laptopnya yang mulai meredup.
“Dia memiliki tubuh yang proporsional”
“Semua orang sudah tahu itu. Bahkan member yang lain juga memiliki tubuh yang proporsional”
“Dia tinggi”
“Jika itu alasan yang harus kujawab, teman-temannya yang lainpun ada yang lebih tinggi darinya”
“Dia pandai menari”
“Teman segrupnya juga pandai menari”
“Dia pandai bernyanyi”
“Dia salah satu main vocal dalam grupnya, jadi sudah pasti dia pandai bernyanyi” Haera menghembuskan napas beratnya. Pikirannya sekarang buyar saat topik pembahasan ini berpusat pada pemuda itu.
“Aku sendiri tidak tahu mengapa aku menyukainya”
Nara menyandarkan badannya pada sandaran kursi. Haera hanya terkekeh kemudian menutup laptopnya dan memasukkannya kedalam tas.
“Ayo kita membeli album terbaru mereka untuk adikku tercinta” Ajak Nara dan bangkit dari kursi. “Dan satu lagi, sepertinya kau bukan hanya mengidolakannya tetapi juga menyukainya atau bahkan mencintainya? Apakah benar apa yang kukatakan?”
Haera dan Nara melangkah keluar dari kafe milik kakak Haera. Untuk sementara kafe ini Haera yang urus. Selain mengurus kafe, Haera juga seorang penulis novel. Setiap harinya Haera berkutat pada tulisan yang harus diselesaikan.
Disaat Haera membutuhkan inspirasi untuk tulisannya, Haera tak sengaja bertemu dengannya. Laki-laki yang selama ini dikaguminya. Haera melihatnya sedang mengantarkan adiknya masuk hari pertama sekolah. Saat itu Haera juga mengantarkan Kaira anak dari kakaknya yang juga masuk di sekolah yang sama dengan adiknya. Saat itu Haera tak sengaja melihatnya, saat dia mengarahkan kamera untuk memotret adiknya, saat dia meminta tolong untuk difotokan bersama adik dan ibunya, berfoto bersama dengan adiknya bahkan ada beberapa fans yang tak sengaja melihatnya dan meminta foto dengannya.
Pemuda itu adalah Galexia Haekala Atalanta Early atau lebih dikenal dengan Haekal. Siapa yang tidak tahu Haekal? Mungkin semua orang tahu nama itu mulai dari remaja dewasa dalam negeri bahkan luar negeri sekalipun pasti tahu dia.
Sejak melihatnya di sekolah, Haera mulai mencari tahu profilnya. Haera kembali menemukan inspirasi untuk novel selanjutnya. Haera menggunakan visual laki-laki itu dan novelnya laris dengan cepat. Memang benar pengaruh idol sangat luar biasa. Bahkan fansnya sangat banyak hingga membuat penerbit kewalahan karena membludaknya pemesanan dari biasanya. Itu karena pengaruhnya yang luar biasa.
Arsyanaya Arabella Haeralyn dikenal sebagai Sunshine, penulis novel tentangnya. Haera terus tersenyum saat tidak sengaja melihat banyaknya remaja yang mengincar novel yang bercover laki-laki itu. Sejak saat itu, rasa asing dan aneh itu tumbuh menjadi perasaan yang orang sebut cinta. Ya, Haera mencintainya hanya karena melihat senyumannya.
Walaupun Haera mencintainya, tetapi Haera tak pernah membeli barang atau albumnya. Haera lebih suka membuat tulisan tentang dirinya. Sebut saja Haera orang gila. karena kenyataannya memang seperti itu.
**
“HAERAAAA!!!!”
Haera mendongak dan mendapati Nara lari menuju bangku yang ditempatinya. Haera tersenyum melihat kedatangannya dan saat gadis itu berdiri dihadapannya, Haera sadar jika dia membawa 2 lembar kertas yang tidak diketahui apa isinya.
“Ayo nonton” ajaknya dengan senyum. Haera mengerutkan dahi mencoba mencerna apa yang dilakukan oleh gadis didepannya ini.
“Nonton apa?”
“Orions. Aku berhasil mendapatkan dua tiket gratis” Nara menjelaskan.
“Jangan bercanda! Mana mungkin agensi mereka memberikan sesuatu secara gratis” Haera memutar bolamatanya kesal dan melanjutkan mengetik sesuatu.
“Awalnya juga aku gak percaya, mana mungkin mereka memberikan sesuatu secara gratis, yang ada itu nyicil dengan comeback idol-idolnya”
“Nah itu kamu tahu. Jadi apa sekarang?”
“Aku iseng-iseng daftar ternyata aku berhasil mendapatkan tiket gratis!”
Haera tak menanggapi Nara dan tetap lanjut mengetik di laptopnya.
“YA! Seharusnya kau senang diberi kesempatan bisa melihatnya secara langsung. Bukan dari layar TV, HP maupun laptop. Kita akan berada satu ruangan dengannya” kesal Nara sambil merebahkan tubuhnya di samping Haera dan meminum coklatnya.
“Tidak. Kau sajalah yang pergi menonton”
“Haera… ayolah, kau harus melihat mereka. Bukankah kau menyukai salah satu dari mereka”
“Tidak Nara” Haera menggelengkan kepalanya. Tidak ingin egonya menang yang selalu menyuruh untuk menerima ajakan dari Nara. Haera tak ingin melihatnya secara langsung, cukup seperti ini saja cara mencintainya. Jika melihatnya secara langsung akan sulit baginya untuk melepaskan diri dari laki-laki itu.
“Sia-sia usahaku war melawan ribuan penggemar mereka hanya untuk memberimu kejutan” dengus Nara.
Haera terkekeh melihatnya dan merangkul sahabatnya itu yang sudah lebih dari 5 tahun menemaninya. Haera harus memuji kegigihannya untuk memberikannya kejutan. Haera tak ingin makin terjebak dalam belenggu dengan perasaan yang tak berujung ini.
“maaf dan terima kasih untuk usaha dan kejutannya. Menurutku lebih baik kau pergi bersama adikmu saja. Bukankan kemarin adikmu meminta untuk dibelikan albumnya? Dia pasti sangat senang jika mengajaknya” Haera tersenyum lebar padanya.
Nara yang mendengar itu menoleh dan mendorong wajah Haera hingga hampir terjungkal kebelakang. Dia mendengus dan merengut lagi.
“Adikku gak bisa. Waktunya bersamaan dengan ujian. Aku akan pergi sendiri saja”
“Memang kau berani pergi sendirian?” Haera meledeknya dan dibalas dengan delikan mata sipitnya. Haera tertawa. Ayolah siapa yang tidak ingin pergi menonton grup Orions? Haera ingin. Sangat ingin. Sebenarnya tanpa mendapatkan tiket gratispun Haera dan Nara bisa saja menonton mereka mengingat penghasilannya lumayan besar dari kafe dan menjadi penulis.
“Haera.. kita hanya perlu menikmati penampilan mereka yang luar biasa dan meminta tanda tangan mereka. Bukankah begitu?”
“Tidak semudah itu. Meminta tanda tanganpun kau harus berdesak-desakan dengan penggemar mereka. Nikmati saja penampilan mereka dan aku akan menontonnya dari laptop”
“Kau ini memang menyebalkan, huh!!!” keluh Nara.
Haera hanya akan melihatnya dari layar TV, hp atau laptopnya. Haera tidak berharap untuk bertemu dengannya lagi apalagi bertatap mata dengannya yang sudah memberikan inspirasi yang luar biasa padanya.
Arsyanaya Arabella Haeralyn seseorang yang menyukai pemuda yang bahkan tidak pernah bisa digapai. Galexia Haekala Atalanta Early. Haera menyukainya. Haera menyukai senyumnya saat dia bertemu dengan penggemarnya. Haera menyukai penampilannya di layar kaca. Haera menyukai tatapan tajamnya namun meneduhkan. Haera menyukai suara indahnya. Haera menyukai kepribadiannya. Haera menyukai semua hal tentang dirinya sehingga membuatnya tidak sadar akan kekaguman yang berubah menjadi perasaan ingin memilikinya.
Haera salah. Benar Haera salah. Haera salah sudah menaruh perasaan pada dia.
Haera, apa kau sadar? Kau tahu kau siapa dan dia siapa?
Tentu saja Haera sadar. Dia adalah salah satu artis yang terkenal bahkan mungkin seluruh dunia mengetahui keberadaannya. tetapi apakah salah jika dia berharap agar Haekal dapat mengetahui keberadaannya walaupun kemungkinannya kecil? Tentu saja itu bukan harapan kecil tetapi itu adalah harapan terbesar dari semua penggemarnya salah satunya Haera.
Mungkin semua orang akan menganggapnya adalah orang yang bodoh. Bodoh karena menolak tiket gratis untuk menonton mereka. Keputusannya saat ini sudah tepat. Menulis tentangnya, menulis dengan menggunakan visualnya dan berharap suatu hari nanti dia akan mengetahui keberadaan Haera walau hanya sebagai penulis.
“Harusnya kau berhenti saja memaksa hatimu bukan malah mengejarnya”
Itu yang selalu kakak Haera ucapkan dan Haera hanya menjawabnya dengan senyuman. Jika Haera menghentikan perasaan semudah membalikkan telapak tangan mungkin sudah dia lakukan dari dahulu dan tidak akan menyukainya sampai saat ini.
Terkadang rasa lelah menghampiri Haera namun secepat kilat pergi karena dia mengusirnya disaat pemuda tersebut belum singgah padanya. Terkadang rasa ingin menemuinya begitu besar hingga membuat dadanya sesak, namun sekali lagi Haera tekankan, Haera tidak ingin makin terjebak namun di sisi lain juga tidak ingin melepaskannya.
Ya, Haera egois. Sebut saja Haera egois. Tidak ingin terjebak tetapi juga tidak ingin melepaskan. Haera memang bodoh membiarkan dirinya sendiri terluka karena imajinasi semu yang diciptakannya sendiri.
**
“HAEKAL!!!” Dimas berteriakan saat tidak sengaja mendorongnya. Dia berbalik badan dan mendapati anak nakal itu meringis dan mengucapkan kata maaf. Dimas yang sudah hafal dengan kelakuannya hanya memutar bola matanya kemudian melanjutkan langkahnya menuju mobil yang sudah menunggu mereka.
“Bang mau mampir sebentar tidak di depan sana?” tanya Haekal yang sudah duduk.
“ke mana?” tanya Dimas. “Jangan bilang kau mau membeli kopi lagi?” lanjutnya dengan tatapan menyelidik dan Haekal hanya meringis pertanda jika jawaban Dimas benar.
“Gak ada acara-acara beli kopi lagi. Mau berapa banyak kopi yang mau kau habiskan?”
“Ayolah bang….”
Dimas memutar bolamatanya malas dan melihat 7 tumpukan buku dijok belakang. dia mengambilnya dan menatap kover buku tersebut.
Haekal yang melihat abangnya menatap kover buku tersebut menjelaskan, “Oh itu, beberapa hari yang lalu ada fans yang memberiku buku sebanyak ini. Aku bingung mau kukemanakan jadi sementara aku taruh dijok belakang saja”. Haekal meraih salah satu buku yang bercover dirinya. “Aku bahkan tidak tahu jika aku jadi kover sebuah buku, bukankah ini pelanggaran. Menggunakan gambar orang lain tanpa izin yang bersangkutan?”
“HAEKAL!!! Ini hanya sebuah novel dan mungkin dia mendapatkan inspirasi dari dirimu. Jangan semua kau anggap pelanggaran” Dimas memutar bolamatanya.
“tetapi ceritanya bagus bang”
“Kau sudah membacanya?” tanya Dimas dan mulai membuka halaman pertama. Haekal mengangguk.
“Aku membaca bagian ini, dia sangat pandai merangkai kata bang. Cobalah baca bagian ini” kata Haekal sambil menunjukkan bagian buku tersebut dan memicingkan mata untuk membaca nama sang panulis.
“Sunshine. Sepertinya dia menggunakan nama samaran. karena selama ini aku belum menemukan nama Sunshine” kata Haekal yang melihat nama sang penulis sedangkan Dimas sudah terhanyut dalam bacaan yang ditunjukkan oleh Haekal.
“Kal, kafenya tutup” ucap sang manajer yang duduk di samping sopir dan membuat Haekal mengeluarkan kepalanya keluar mobil dan benar saja apa yang dibilang oleh managernya, kafe langganannya tutup. Haekal melihat jam di ponselnya. Pantas saja sudah tutup karena sudah jam 10 malam. Kafe langganannya itu hanya buka sampai jam 8 malam di hari kerja seperti ini.
“Bang bukankah kau memiliki kafe?” tanya Dimas ke manajer mereka.
“Sebenarnya itu kafe bukan milikku tetapi milik istriku. tetapi sekarang diurus oleh adiknya”
“Bagaimana kalau kita ke sana saja?” tanya Dimas lagi
“Iya bang, kita ke sana saja. di mana itu tempatnya?”
manajer mereka tampak berpikir sebelum mengiyakan. “Baiklah” jawab sang manajer dan mengarahkan menuju kafe.
Sekitar 15 menit kemudian, mereka sampai di jalan menuju kafe tersebut. Karena kafe tersebut berada di jalan yang lumayan kecil sehingga membuat mobil tidak bisa masuk, jadi mereka memutuskan untuk turun dan berjalan.
“Pak tunggu di sini dahulu ya. Kami akan berjalan sebentar ke sana?” ucap Dimas melepas seatbeltnya kemudian memakai topinya.
“Apa tidak sebaiknya saya antarkan saja?” tanya sopir tersebut.
“Tidak usah pak, tidak terlalu ramai juga. lagi pula aku juga ingin membeli makanan di sana. Tenang saja, sudah ada bang Tama jadi aku rasa aman. Bapak nanti akan kubelikan” kata Dimas. Sopir mereka dengan sigap mengangguk dan membiarkan 2 orang tersebut keluar bersama managernya turun dari mobil dengan penyamarannya.
Mereka bertiga berjalan sambil berbincang mengenai jadwal mereka selanjutnya. Tidak sepadat biasanya, namun mereka harus tetap berlanjut mengingat mereka akan mengadakan tur konser.
Haekal sesekali mengendikkan bahunya saat angin malam mengenai kulitnya. Dimas meminta berhenti sebentar saat melihat warung jajanan ringan kesukaannya. Haekal hanya menurut dan matanya mengamati keadaan sekitar.
“Cerita ini sangat bagus” ucap seorang gadis berusia 17 tahun yang membuat Haekal menoleh kearahnya. Ada 2 gadis yang sedang duduk di bangku yang tidak jauh dari warung tersebut dan salah satunya memegang buku bercover yang dia yakini adalah dirinya.
“Kau benar. Sunshine memang berbakat dan berhasil membuat kita terbawa perasaan saat membacanya”
“Buku ini menceritakan kisah seorang penggemar”
“Kau pernah bertemu dengannya?”
“Tidak. Tidak ada yang tahu dia siapa. Dia memakai nama pena untuk semua tulisannya. tetapi ada rumor jika dia berhasil lulus dari Hanyang Universitas”
“WAHH… Benarkah itu? Selain berbakat dia juga pandai”
“Entah itu benar atau salah, tidak ada yang tahu dia siapa. Kita cukup nikmati semua karyanya saja tanpa berniat mencari tahu identitas dia yang sebenarnya”
Haekal mengerutkan dahinya. Ternyata penulis yang bercover dirinya itu memiliki banyak penggemar. Haekal sangat penasaran dengan penulis itu.
“Ayo” Dimas mengajaknya dan Haekal segera mengangguk. Mereka bertiga kembali berjalan dan Haekal sempat mendengar 2 gadis tersebut menyebutkan buku yang sedang mereka baca tadi.
“To My First”
Dan Haekal berniat untuk membacanya, dia berdoa semoga di antara 7 buku yang diberikan oleh salah satu fansnya kemarin ada buku tersebut.
Mereka bertiga sampai di depan kafe yang dimaksud oleh manajer mereka. Tanpa menunggu lagi, mereka masuk ke dalam kafe tersebut dan langsung memesan.
“Selamat datang. Ada yang bisa kami bantu?” ucap salah satu karyawan dalam kafe tersebut.
Sebelum Haekal mengatakan pesanan, Dimas sudah mengingatkan untuk tidak memasan kopi.
“Chocolate 3 big” pesan Haekal.
“Mereka sangat tampan!!!”
Serentak mereka bertiga menoleh ketika seorang gadis berseru di depan gadis yang sedang berkutat dengan laptop. Mereka sempat berpikir bahwa mereka ketahuan ternyata itu bukan ditujukan untuk mereka.
“Aku sudah mendengarnya ratusan kali hari ini” suara lembut itu membelai di telinga Haekal. Ada desahan napas yang terdengar berat setelah melepas kacamatanya.
“Ayolah Ra, kau harus bertemu dengan mereka”
“Sekarang kau yang menjadi penggemar mereka hah?” garis itu mengangkat sebelah alisnya.
“Sepertinya aku akan…” Nara nyaris memekik
“YAKK NARA!!! Kau jangan berteriak! Kau bisa mengganggu pengunjung yang lain” keluh Haera
“Seperti tidak pernah histeris saja saat melihat mereka dilayar laptopku saja” kesal Nara. Haera memutar bolamatanya kemudian berdiri dan membawa mocca kesukaannya.
“Lebih baik kau pulang saja, ini sudah malam” ucap Haera
“Kau mengusirku?” tanya Nara
“Ya! Aku mengusirmu. Ini sudah malam jadi lebih baik kau pulang saja sana. Apa perlu ku antar sampai depan sana?”
“YAKK!!! Aku tidak sepenakut itu” Nara melangkah meninggalkan Haera sambil melambaikan tangannya.
Saat akan kembali kedalam kafe dan berjalan ke barista, Haera mendengar ada seseorang yang memanggil namanya. Sontak Haera menoleh dan mencari sumber suara tersebut. Ternyata yang memanggilnya adalah Tama, suami dari kakak Haera.
“Haera!!!” Tama memanggil Haera sambil berjalan menghampirinya.
“Kak Tama”
“Haera, bagaimana kabarmu sekarang? Dan apakah susah mengurus kafe ini?” tanya Tama yang sudah duduk di salah satu kursi dan Haera mengikutinya.
“Kabarku baik. Untuk kafenya tidak terlalu susah mengurusnya. Beberapa kali kak Hana juga mampir ke sini. Kak Tama ke sini sama siapa? Sendiri atau dengan siapa?” jawab Haera sambil menjelaskan keadaannya dan bertanya ke Tama.
Sebelum Tama menjawab pertanyaan Haera ada 2 orang yang berjalan menghampiri mereka berdua. Haera tidak tahu mereka siapa. Dilihat dari penampilannya saja sepertinya mereka bukan orang sini atau sepertinya belum pernah ke sini sebelumnya. Haera bisa melihat dari penampilannya yang tertutup. Mereka berdua memakai masker dan topi untuk menutupi wajah mereka.
“Bang masih lama gak?” tanya salah satu dari 2 orang tersebut.
Haera hanya diam melihatnya. Namun, ada satu orang yang menarik perhatiannya. Postur tubuhnya tidak asing menurutnya. Haera yakin itu dia. Pemuda yang selama ini Haera sukai. tetapi Haera juga tidak yakin apakah benar-benar dia atau bukan atau hanya imajinasinya saja. tetapi sebuah suara menyakinkan bahwa pemuda tersebut adalah dia.
“Bang ayo balik, aku tadi sudah ditanyai oleh Bang Tio untuk segera kembali.”
Deg… Suara itu? Benar. Itu suaranya!
“Kak sepertinya yang dibilang oleh temanmu ada benarnya. Kau harus segera kembali. Aku juga akan segera menutup kafenya” ucap Haera sambil menahan debaran di dadanya. Haera tidak bisa menahan dirinya jika mereka tetap berada di sini untuk waktu yang lama.
Haera berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar untuk membalik tulisan “open” menjadi “closed”. Tama melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya dan berdiri dari duduknya. Dia menghampiri Haera yang berada di depan pintu.
“Ra… Aku akan balik dan lain kali akan main lagi ke sini” ucap Tama dan berjalan keluar kafe. Dimas dan Haekal hanya tersenyum kemudian mereka pamit.
“Bang, sepertinya kita memiliki berbagai macam penggemar, salah satunya mereka” ucap Haekal setelah mereka di luar kafe.
“Ya. Kau benar. Aku cukup terkejut dengan mereka berdua” tambah Dimas.
Tatapan mereka berhenti pada seorang gadis yang sedang memasukkan papan menu ke dalam kafe. Kegiatan itu menyita perhatian Dimas dan Haekal. Mereka tahu, jika gadis itu mungkin adik dari managernya itu.
**
Haera meringis saat melihat banyaknya manusia yang berada di dalam venue ini. Didepannya sekarang ada panggung besar di mana nanti ada beberapa idol akan memberikan penampilan terbaik mereka. Disinilah Haera berdiri, berdiri akibat Nara yang menariknya dipagi-pagi buta.
Haera ingin sekali menolak, namun melihat Nara yang ingin menangis tadi pagi membuatnya tidak tega untuk menolak lagi. Dan akhirnya Haera di sini, berdiri dengan tiket yang sudah berubah menjadi gelang yang dipakai dipergelangan tangan kirinya.
“Aku sudah bilang untuk tidak memaksaku kan?”
“YAK!!! Kau harus terus bergerak Haera. Kau ingin dia tahu jika kau hidup kan? Jadi ini salah satu caranya. Jadi kau hanya perlu duduk manis dan menikmati saja penampilannya. OKE?”
“YAKKK!!!” Haera berseru hingga membuat beberapa orang di sekitar mereka berdua menoleh dan menatapnya. Haera segera membungkuk untuk meminta maaf pada penonton yang mendengar teriakannya tadi.
“Aku sudah memberikan bukumu. Dia mengambilnya. Setidaknya, dia harus tahu jika ada penggemarnya yang sangat terinspirasi olehnya hingga berhasil membuat buku tentang dirinya.”
Bola mata Haera membesar dan menghadap kearah gadis gila itu yang sialnya adalah sahabatnya sendiri.
“APA??? Kau gila?? Kau memberikannya? Untuk apa? Bagaimana jika dia tidak menyu…..”
“Apa kau tidak melihat postingan di bubblenya? Bukannya kau juga langganan bubblenya?” Nara memotong kalimatnya. Haera mengerutkan dahinya dan menggelengkan kepala membuat Nara menghembuskan nafasnya.
“Bukalah nanti jika sudah sampai di rumah…” suruhnya dan setelah itu Nara kembali menatap kedepan. Posisi mereka saat ini memang tidak paling di depan namun dari tempat duduk mereka bisa menonton dengan jelas penampilan para idola itu.
Haera mencoba menikmati jalannya acara ini. Sampai akhirnya 9 laki-laki itu muncul dengan gagahnya hingga membuat keadaan di sekitar makin memanas karena teriakan penggemar mereka. Disinilah Haera menyadari jika dia hanya dari dari dari ribuan orang yang menyukai mereka.
Dia terlihat sangat bersinar seperti biasanya. Satu-satunya laki-laki yang terlihat mengagumkan dengan tatapan mata yang tajam di antara member yang lainnya. Seperti namanya, dia terlihat sangat bersinar seperti sinar matahari di antara member lainnya.
Haera berhasil melihat mataharinya dengan nyata. Haera berhasil mendengar suaranya langsung tanpa melalui speaker laptop, hp maupun tv. Haera berhasil menatapnya dengan kedua mata tanpa terhalang layar apa pun. Yah! Haera berhasil! Haera meneteskan air mata saat melihat gerakan dancenya yang begitu luwes.
Dan kali ini Haera membiarkan perasaannya berkembang biak, dia tidak peduli lagi bagaimana nanti jadinya perasaan egois ini. Yang dia dipikirkan sekarang hanya bagaimana mata dan pikirannya mampu merekam setiap detail pergerakannya di atas sana.
Haekal, laki-laki yang mampu membuat sarafnya terkontrol hanya dengan mengikuti pergerakannya. Tidak laptop, hp maupun tv bahkan melihatnya secara langsung seperti ini fokusnya hanya tertuju pada laki-laki itu.
Tidak masalah jika Haera hanya sebagian titik kecil di antara banyaknya penggemar mereka. Baginya, mereka terutama dia adalah matahari yang bersinar dan menerangi hidupnya selama ini.
Haera tidak bisa berkata-kata lagi mereka adalah hidupnya, karena kenyataannya hidupnya jauh dari jangkauan mata mereka. Haera hanya bisa berkata bahwa mereka adalah harapannya, kebahagiaanya, dunianya, inspirasinya, cintanya, kekuataannya, semestanya, dan idolanya.
Terutama pada sosok laki-laki yang kini berdiri didepannya. Menatap kearahnya dengan tatapan tajam dan meneduhkan. Yah! Dia berhasil membuat seluruh tubuhnya kaku dan membuat jantung berdetak lebih kencang dari biasanya.
Mata Haera mengerjap saat merasakan Nara menepuk bahunya. Mengatakan kalimat yang benar-benar berhasil menariknya dalam lamunan dan keterkejutan karena matanya bertemu dengan mata tajamnya.
“Dia membacanya” bisik Nara.
Haera hanya menoleh pada gadis itu yang kini tersenyum lebar merentangkan tangannya meminta untuk masuk kedalam pelukannya. Lagi dan lagi, air mata Haera menetes dan masuk kedalam pelukannya. Haera menggumamkan kata terima kasih pada gadis yang selama ini menemaninya.
“Dia membacanya dan dia mengetahuinya?” tanya Haera pelan. Haera bisa merasakan Nara menganggukkan kepalanya. “terima kasih Nara, terima kasih banyak”
Bayangan mata Haekal mengarah pada Haera dengan gerakan bibirnya yang tertangkap dengan jelas dimatanya dan juga Nara. Laki-laki itu sedikit tersenyum kemudian berkata tanpa suara.
“Kita bertemu lagi…”
Haera kembali mengeluh saat Kaka Hana menghentikan mobilnya di depan gedung tempatnya bekerja selama ini. Haera mendongak menatap gedung pencakar langit tersebut dan menoleh kearah Kak Hana yang sudah membuka seatbeltnya.
“Ayo ikut masuk bersamaku” ajak kak Hana. Haera menggelengkan kepalanya dengan menggigit bibir bawahnya. Takut. Itu yang dirasakannya sekarang. Bagaimana jika dia bertemu dengannya di dalam sana?
“Tidak apa-apa, hanya sebentar saja. Setelah menemui Tama kita segera kembali”
“tetapi bagaimana jika…”
“Haera, sudah kubilang berapa kali kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan tentunya akan mengganggunya” keluh kak Hanna.
Selain dengan Nara, kak Hana juga mengetahui jika Haera menyukai salah satu idola yang berada dalam naungan agensi tempat Tama dan Hana bekerja. Awalnya kak Hana hanya menganggap cukup mengidolakan mereka, namun entah makin lama kak Hana mengetahui perasaan Haera yang sesungguhnya.
Berulang kali kak Hana mengajak Haera untuk bertemu dengan mereka namun untuk kesekian kalinya Haera menolak dengan tegas.
“Ayolah Ra… gak mungkin aku ninggalin kamu sendirian di sini” kak Hana yang berusaha membujuk.
“Gak apa-apa, aku di sini saja”
“Bakal kumatikan mesin mobilnya jika kamu tidak mau turun juga” kak Hana membuka pintu mobilnya. Haera yang melihat itu melebarkan matanya kemudian refleks ikut keluar dari mobil dan dengan sigap dia mengunci pintu mobil tersebut.
“Hanya sebentar saja Ra, tidak lebih dari 30 menit” katanya yang sudah menarik lengan Haera agar mengikuti langkahnya. Tangan kanannya memegang paperbag titipan Tama. Haera hanya bisa diam dan pasrah saat mengikuti langkahnya.
Mereka berdua naik lift untuk mencapai lantai 7. Kak Hana menerima telepon dari Tama dan mengatakan jika mereka hampir sampai ketempatnya. Haera hanya bisa menduga jika kak Hana benar-benar ingin membuatnya cepat mati setelah yang dilakukan oleh Nara kemarin.
Sampai di lantai 7, mereka berdua melangkah menyusuri lorong yang tidak terlalu ramai. Bisa dilihat hanya ada beberapa staff yang berjalan atau bercengkerama. Mereka menyapa kak Hana dengan sopan. Jangan heran jika kak Hana mengetahui ruangan-ruangan yang ada di dalam gedung ini, karena sebelumnya dia pernah menjadi karyawan di sini sebelum dipindah tugaskan di anak perusahaan.
Kak Hana menunjuk satu per satu ruangan yang berada paling pojok koridor hingga yang terdekat. Sepi dan tidak terdengar apa pun di sini, hanya detak jantung Haera yang makin berdetak lebih kencang dari biasanya.
“Aku tunggu di sini….”
“Masuk Ra!!!” Haera merasakan ada sebuah tangan yang merengkuh bahu dan mendorongnya untuk masuk kedalam ruangan latihan. Haera tolehkan kepalanya dan mendapati jika Tama dengan senyum tipisnya sedangkan Haera melirik kak Hana yang sedang menahan tawanya.
“ke mana perginya Mahen dan Haekal?” suara Tama membuatnya kini sadar sudah sepenuhnya masuk kedalam ruang latihan. Haera memundurkan langkahnya ingin pergi tanpa ketahuan oleh orang yang berada dalam ruangan tersebut. Tama melangkah mendekat kearah 7 laki-laki yang sedang duduk melingkar ditengan ruangan tersebut.
“Bersama dengan member Dream hyung” jawab Tio sebagai leader dari grup Orions. Haera dengan segera berbalik dan sialnya bukannya menabrak pintu yang dirasa tadi berada di belakang melainkan menabrak dada seseorang.
“Siapa?”
Dan tubuh Haera seketika mematung saat mendengar suara yang menjadi favoritnya beberapa tahun ini. Haera memejamkan matanya takut untuk menatap dan memundurkan langkah dan membungkukkan badan sebagai permintaan maaf.
“maaf sudah menabrakmu…”
“Hei jangan coba-coba untuk kabur ya” ucap Tama yang sudah menyadari keberadaan Haera.
Sial sekali hari ini.
Haera menoleh pada Tama yang menarik lengannya menuju ke arah 7 laki-laki yang menatap dengan rasa penasaran.
“Oh bukankah kau yang berada dalam kafenya Bang Tama waktu itu ya? Yang menyuruhnya untuk segera pergi?” itu suara Dimas. Haera menoleh kearahnya kemudian membungkukkan badanku 90 derajat.
“Iya benar! Itu kau kan?” ucap Dimas memastikan.
“Benar itu bang yang dikatakan oleh Dimas?” tanya Yudha
Haera menoleh pada Tama dan dijawab dengan menganggukkan kepalanya. Haera hanya tersenyum kecil kemudian kembali membungkukkan badannya.
“Namaku Haera. Senang bisa bertemu dengan kalian semua”
Tama melihat Haekal yang sedang mencari sesuatu mengalihkan perhatiannya. “Kau sedang mencari apa?” tanya Tama.
“Bang kamu melihat buku yang kutaruh di sini tidak?” tanya Haekal sambil mencari-cari barangnya.
“Buku yang mana? di sini banyak buku. Itu ada buku, di atas meja ada buku”
“Itu bang, buku yang bercover gambarku. Kau melihatnya tidak?”
Sebelum Tama menjawab, seseorang sudah menjawab pertanyaan Haekal.
“Oh maksudmu buku ini?” tanya Dimas sambil menunjukkan buku yang berada di sampingnya.
“Iya bang buku itu. Kau menemukannya di mana?”
“Tidak sengaja kutemukan di bawah kursi. Bukankah ini buku yang kau tunjukkan waktu itu Kal?”
“Buku apa yang kau maksud?” tanya Tama yang penasaran dengan buku yang dicari oleh Haekal.
“Ini bang” kata Dimas berjalan kearah Tama sambil menunjukkan buku tersebut.
Tama yang ditunjukkan oleh Dimas merasa tidak asing dengan buku tersebut. “Buku ini? Bukankah ini buku buatanmu Ra?” tanya Tama.
“Hah? Maksudmu apa bang?” tanya Haekal
“Iya ini buku buatan Haera. Dia penulis novel yang kau cari tadi” jawab Tama.
“Woah!!! Teruslah berkarya Haera. Tulisanmu sangat bagus. Sudah kubaca beberapa tulisanmu” Dimas tersenyum pada Haera dan hampir saja meleleh melihat senyum manisnya seperti itu.
“Kami akan terus mendukungmu!!!” tambah Tio dengan tangan yang mengepal membentuk symbol memberikan semangat.
“Jika kau ingin tanda tangan kami, kemarilah tidak usah sungkan. Kita akan memberikannya secara cuma-cuma” tawa Jeffery dan Haera hanya menanggapinya dengan senyuman juga.
“Ya, kami akan memberikannya secara sukarela” Yudha menimpali perkataan Jeffery.
“terima kasih untuk dukungannya” Haera membungkukkan badan sekali lagi dan berusaha menahan air matanya agar tidak jauh.
“Benar kau penulis dari novel ini?” Tanya Haekal sambil berjalan mendekat dan berdiri didepannya. Haera mendongakkan kepalanya dan terkejut saat mendapati wajah Haekal di depan wajahnya dengan alis yang menukik tajam.
“Ya?”
“Aku ingin bicara denganmu” kata Haekal. Haera mengerjapkan mata dan ingin menghapus air mata namun Haekal menahan tangannya kemudian memberikan tissue.
“terima kasih” Haera mengusap air matanya dengan tissue pemberian Haekal yang entah didapat dari mana.
“Kau ingin membicarakan apa?” kata Tama yang menginstrupsi mereka berdua.
“Hanya sebentar bang. Apa kau juga ingin ikut?” Haekal menjawabnya
“Aku beri waktu 15 menit, setelah itu kembali untuk latihan”
“Jangan kau racuni otak polos adikku!!!” seru Tama yang melihat Haera dan Haekal sudah keluar dari ruang latihan tersebut.
“Tidak akan bang. Aku hanya ingin membicarakan bukunyaaa…. mengapa kalian berlebihan sekali” keluh Haekal.
Mereka masuk kedalam ruangan yang sepertinya sering digunakan oleh member untuk tidur disela-sela latihan mereka. Ada satu set sofa dan beberapa makanan ringan di atas meja dan terdapat kulkas mini diujung ruangan.
“Duduklah” kata Haekal sembari berjalan menuju kulkas mini tersebut.
Haekal kembali dengan membawa buku dan memberikannya kepada Haera. “Ini…” Haekal memberikan buku buatan Haera yang berjudul “To My First”. Haera mengernyitkan dahi menatap kearahnya dan bertanya mengapa dia memberikan buku ini?
Haera mengangkat buku bercover dirinya yang dia berikan padanya beberapa menit yang lalu.
“Untuk apa kau memberiku buku ini?” tanya Haera.
“Aku membelinya ditoko buku beberapa hari yang lalu”
“Bukannya kau sudah membacanya?” Haera mengangkat sebelah alisnya dan Haekal hanya menjawab dengan anggukan kecil. “Lalu mengapa kau membelinya lagi?”
“Untuk memberikanmu tanda tanganku. Lihat, di sana ada tanda tangan member juga” katanya sambil menunjukkan kearah buku yang Haera pegang. Haera dengan segera membuka halaman pertama buku itu dan benar saja terdapat 9 tanda tangan mereka.
“Dan sekarang, kau harus menandatangani di bukuku” Haekal memberi sebuah buku yang bercover dirinya. Haera meringis malu karena itu adalah karyanya. Haera meraih bolpoin dan membuka halaman pertama buku bersampul cokelat itu.
Haera segera menandatangani buku tersebut kemudian menatapnya dengan napas yang memburu. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang hingga Haera mengira Haekal akan mengatakan “Kau sudah bertemu denganku. Sekarang katakan apa yang kau rasakan sejak dahulu?”
Tangannya gemetar sambil meletakkan buku yang masih berada dalam pangkuannya itu kemudian dengan lama Haera menatapnya. Dia tersenyum kecil dan sepertinya menikmati kegugupannya.