Elara menatap bayangan dirinya di cermin besar kamar utama. Gaun tidur sutra yang membalut tubuhnya terasa begitu kontras dengan suasana hatinya yang bergejolak. Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, Vesper belum juga pulang. Bukan karena urusan pekerjaan-Elara tahu lebih baik dari itu.
Ia duduk di tepi ranjang king-size yang terlalu luas untuk ditempati seorang diri, mengamati layar ponselnya yang sepi tanpa satu pun pesan dari suaminya. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Sesekali, Elara menggigit bibirnya, menahan gejolak kemarahan dan kepahitan yang semakin menumpuk sejak hari pertama pernikahan mereka.
Pernikahan yang seharusnya menjadi awal bahagia malah berubah menjadi permainan bertahan hidup.
Vesper tidak pernah menginginkannya. Itu sudah jelas sejak hari pertama ia mengucapkan janji suci di altar dengan ekspresi dingin dan tatapan kosong. Pernikahan ini hanyalah hasil dari perjodohan bisnis-Elara adalah bidak yang dikorbankan oleh keluarganya untuk mengamankan kemitraan dengan keluarga Aldric. Dan Vesper? Pria itu dipaksa menikah dengannya ketika hatinya sudah dimiliki oleh orang lain.
Namun, meskipun ia tahu Vesper membencinya, Elara tidak akan menyerah. Tidak setelah ia merasakan kenyamanan hidup sebagai nyonya keluarga Aldric. Ia tidak akan mundur dan menyerahkan semuanya hanya karena Vesper ingin bebas. Jika pria itu menginginkan kebebasan, biarkan dia berjuang untuk mendapatkannya.
Tiba-tiba, suara pintu utama berderit, menandakan seseorang baru saja masuk ke dalam rumah. Elara segera bangkit, melangkah keluar dari kamar, dan menuruni tangga dengan kecepatan yang terkontrol. Di lantai bawah, ia mendapati Vesper melepaskan jasnya dengan malas, melemparkannya ke sofa seolah rumah ini hanyalah tempat persinggahan sementara.
Aroma alkohol samar tercium dari tubuhnya, meskipun pria itu tampaknya masih cukup sadar. Mata tajamnya yang biru keperakan sekilas melirik ke arah Elara sebelum ia mengabaikannya sepenuhnya.
"Sudah larut," suara Elara terdengar datar, mencoba menahan emosinya. "Dari mana saja?"
Vesper menanggapi dengan tawa dingin. "Memangnya aku harus melapor padamu?"
Elara mengepalkan tangannya, tetapi ia menahan diri.
"Sebagai istrimu, aku berhak tahu," ujarnya dengan nada tenang, meski ada ketegangan di balik kata-katanya.
Vesper menghela napas, lalu menatapnya dengan sorot mata yang penuh dengan ketidaksabaran. "Jangan berlagak seperti istri yang peduli, Elara. Kita berdua tahu kau tidak ada di sini karena cinta."
Elara mendekat selangkah, menantang tatapan suaminya. "Dan kau juga tidak ada di sini karena keinginanmu sendiri, Vesper. Kita sama-sama tahu itu."
Ada keheningan sejenak, sebelum Vesper mengangkat sudut bibirnya dalam senyum sinis. "Kau benar. Itu sebabnya aku ingin mengakhirinya."
Elara mengangkat dagunya, menolak menunjukkan kelemahan. "Kau ingin aku menggugat cerai? Sayangnya, itu tidak akan terjadi."
Vesper tersenyum miring, seolah sudah mengantisipasi jawaban itu. "Kita lihat saja nanti."
Elara tahu ini bukan sekadar ancaman kosong. Vesper akan melakukan apa pun untuk membuatnya menyerah-mengabaikannya, mempermalukannya, bahkan mungkin melukainya secara emosional. Tapi jika pria itu berpikir ia akan menyerah begitu saja, maka ia salah besar.
Permainan ini baru saja dimulai.
Keesokan paginya, Elara duduk di meja makan dengan tenang, menyeruput kopi hitam tanpa gula, sementara mata birunya yang dingin sesekali melirik ke arah pria di seberangnya. Vesper, dengan kemeja putih yang digulung hingga siku dan dasi yang longgar, tampak sibuk membaca koran seolah kehadiran Elara sama sekali tidak penting.
Pagi mereka selalu seperti ini-senyap, tegang, dipenuhi tatapan tajam yang tak pernah benar-benar bersinggungan. Jika ada kata-kata yang terucap, itu hanya pernyataan dingin atau sindiran halus yang lebih menusuk daripada pisau.
Elara meletakkan cangkirnya dengan sengaja, menciptakan suara ringan yang membuat Vesper akhirnya mengangkat kepala.
"Kita harus menghadiri gala amal malam ini," ucapnya datar, matanya menatap pria itu tanpa berkedip.
Vesper menyandarkan punggungnya, satu alisnya terangkat. "Dan aku harus peduli?"
Elara menahan keinginan untuk memutar mata. "Sebagai pasangan suami istri, kehadiran kita di acara publik adalah bagian dari citra keluarga Aldric."
Pria itu menghela napas, seolah pembicaraan ini hanya membuang waktunya. "Kau bisa pergi sendiri."
"Tidak bisa." Elara menyilangkan tangan di dadanya. "Para investor ingin melihat kita sebagai pasangan harmonis. Jika kau tidak datang, itu hanya akan memperkuat rumor bahwa pernikahan kita sedang bermasalah."
Vesper menyeringai sinis. "Pernikahan kita memang bermasalah."
"Tapi tidak ada yang perlu tahu," balas Elara tajam. "Aku tidak akan membiarkan reputasiku hancur hanya karena egomu."
Vesper menatapnya lama, sebelum akhirnya meletakkan korannya di meja dengan gerakan santai yang penuh ketidaktertarikan. "Baiklah. Aku akan datang."
Elara merasa sedikit puas, tapi ia tahu Vesper tidak akan membuatnya mudah. Pria itu tidak akan pernah setuju tanpa memiliki rencana tersembunyi.
Malam itu, Elara berdiri di depan cermin besar di kamarnya, mengenakan gaun hitam elegan yang membentuk tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjangnya, dan perhiasan berlian menghiasi pergelangan tangannya. Semua tampak sempurna di luar-seperti topeng yang harus ia kenakan setiap kali muncul di hadapan publik.
Ketika ia menuruni tangga, Vesper sudah menunggunya di ruang tamu. Pria itu mengenakan setelan hitam yang pas di tubuhnya, dasinya sempurna, dan auranya penuh dengan karisma dingin yang selalu berhasil menarik perhatian siapa pun.
Saat mata mereka bertemu, Vesper tersenyum kecil, tapi bukan senyum hangat-lebih seperti permainan yang baru saja dimulai.
"Kau terlihat cantik," ujarnya, suaranya rendah dan licin seperti racun.
Elara tidak membalas pujian itu. "Kita tidak punya waktu untuk basa-basi."
Vesper tertawa kecil. "Selalu serius. Tidak heran aku ingin segera menceraikanmu."
Elara menahan amarahnya dan mengulurkan tangannya. "Kita akan terlambat."
Vesper mengambil tangannya, menuntunnya keluar, tapi cengkeraman mereka lebih seperti dua musuh yang bersiap bertarung daripada pasangan yang saling mencintai.
Malam ini, pertarungan mereka akan berlanjut-bukan di dalam rumah, tetapi di hadapan dunia.
Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom, memancarkan cahaya keemasan yang menambah kesan mewah di setiap sudut ruangan. Para tamu berdandan sempurna, mengenakan gaun dan jas mahal, sambil bersulang dengan sampanye yang mengalir tanpa henti. Ini bukan sekadar gala amal-ini adalah panggung kemunafikan, tempat di mana semua orang berpura-pura peduli sambil mempertahankan citra mereka di mata dunia.
Di tengah gemerlap itu, Elara berjalan dengan kepala tegak, tangannya bertaut dengan lengan Vesper seolah mereka adalah pasangan sempurna. Tapi di balik senyum anggun yang ia tampilkan, ada amarah yang mendidih di dalam dadanya.
Mereka baru saja tiba, dan ia sudah bisa merasakan permainan yang dirancang Vesper malam ini.
"Lihat siapa yang akhirnya datang," suara seorang wanita menyapa mereka dengan nada manis yang dibuat-buat.
Elara menoleh dan langsung mengenali sosok itu. Ivy Langford. Wanita yang selama ini disebut-sebut sebagai 'kekasih' Vesper.
Mata Elara dengan cepat menelusuri Ivy-gaun merah darah yang menggoda, bibir yang melengkung dalam senyum penuh kemenangan, serta tangan yang dengan santai memegang gelas sampanye seolah ia telah mengklaim tempatnya di sisi Vesper.
Dan Vesper? Pria itu tidak menunjukkan sedikit pun tanda ketidaknyamanan. Bahkan, ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Elara sadar-ini bagian dari rencananya.
"Senang melihatmu, Ivy," Vesper menyapa dengan nada santai, seolah istrinya tidak berdiri tepat di sampingnya.
Elara merasakan jemarinya mengepal di sisi tubuhnya. Ini adalah permainannya. Vesper ingin memancing reaksi, membuatnya terlihat seperti istri pencemburu yang lemah dan putus asa.
Tapi Elara bukan wanita yang mudah dipermainkan.
Dengan langkah tenang, ia menyunggingkan senyum kecil dan mengalihkan pandangannya ke Ivy. "Aku juga senang melihatmu di sini, Ivy. Aku tidak tahu kau diundang."
Ivy terkekeh pelan. "Oh, tentu saja aku diundang. Lagipula, aku memiliki banyak koneksi di sini."
"Ah, begitu," Elara mengangguk seolah terkesan. "Aku hampir lupa-kau memang punya keahlian dalam... memasuki tempat yang bukan milikmu."
Tatapan Ivy mengeras sesaat sebelum ia cepat menyembunyikannya di balik senyum anggunnya.
Vesper menatap Elara, seolah menikmati pertunjukan ini. "Sayang, kau tidak keberatan kalau aku mengajak Ivy untuk satu tarian, kan?"
Elara bisa merasakan beberapa pasang mata sudah memperhatikan mereka, menunggu bagaimana reaksinya. Jika ia menolak, itu berarti ia mengakui kekalahan. Jika ia menyetujui, ia memberi Vesper kebebasan untuk mempermalukannya di depan semua orang.
Tapi Elara selalu tahu bagaimana membalikkan keadaan.
"Aku keberatan," jawabnya santai, membuat beberapa orang di sekitarnya membelalakkan mata.
Vesper mengangkat alis, tertarik. "Oh? Dan kenapa begitu?"
Elara menyentuh dasi suaminya, menyesuaikannya sedikit dengan gerakan lembut namun penuh kepemilikan. "Karena kita adalah pasangan malam ini, sayang. Jika kau ingin menari, kau akan menari denganku."
Tatapan mereka bertemu, penuh ketegangan yang hampir bisa dirasakan oleh siapa pun yang menyaksikannya. Ivy tampak seperti ingin berkata sesuatu, tapi Elara sudah menarik Vesper ke lantai dansa sebelum wanita itu sempat membuka mulutnya.
Musik berubah menjadi melodi klasik yang lembut, dan Elara meletakkan tangannya di bahu Vesper sementara pria itu melingkarkan lengannya di pinggangnya.
"Kau bermain dengan baik," Vesper berbisik di telinganya. "Tapi kau tahu ini tidak mengubah apa pun, kan? Aku masih ingin kau pergi."
Elara tersenyum tipis. "Dan aku masih tidak akan memberimu apa yang kau inginkan."
Vesper tertawa kecil, tapi ada sesuatu di matanya yang berkilat tajam. "Kau tidak akan bisa bertahan selamanya, Elara. Aku akan membuatmu menyerah pada akhirnya."
Elara mengeratkan genggamannya pada tangan pria itu, menatapnya dengan sorot penuh perlawanan. "Kita lihat siapa yang menyerah lebih dulu, Vesper."
Di antara musik dan tatapan penuh persaingan, perang antara mereka baru saja mencapai babak baru.