Bab 1

Brukk!

"Buka matamu, Ruela...."

"Hmmm...."

Suaranya yang berat seperti menggema di kamar hotel. Aku terus mencari tumpuan untuk tanganku, disaat bibir tipisnya terus membelai setiap inci tubuh ini.

"Lihatlah dan tatap mataku...."

"Ahh...."

Entah apa yang membuatnya begitu kekeh memintaku terus menatapnya, disaat aku sedang ter4ngsang.

Aku mencoba menuruti keinginannya,  dan di saat bola mata kami beradu, aku seperti tersihir oleh tatapannya. Tatapan yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya dari siapapun.

Sensasi yang menggelitik seperti ada percikan kembang api yang terus membuat aku hilang kendali akan tubuhku sendiri.

Ini bukan kali pertama untukku bercumbu dengan seorang laki-laki karena aku adalah wanita bersuami, tapi entah mengapa rasanya begitu menantang membuat jantung ini terus berdebar.

Aku terus terheran-heran, di dalam hati ini bertanya, "Apa karena ini sebuah kesalahan?"

Aku benar-benar dibuat gila, suara rintihan dan erangan yang terdengar erotis di telinga ini kala itu.

Laki-laki ini begitu handal, memberikan rangsangan sampai membuat milikku basah kuyup di bawah sana.

Wajah yang merah padam, rahang yang kokoh begitu menyempurnakan ketampanannya. Pria muda yang sedang berusaha memberikan rangsangan kepadaku, ia begitu gigih melakukannya.

Tapi, berapa usianya?

Setelah melihat wajahnya dengan seksama aku merasa yakin bahwa dia jauh lebih muda dariku.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

Degh

Suara beratnya membuatku tersadar kembali.

Aku hanya menggeleng pelan menjawab pertanyaannya.

Ujung bibir seksinya terangkat, ia menunjukkan senyuman tipis tidak lama kemudian bibir itu mengecup bibirku. lidah yang menerobos masuk dan menyentuh dinding atas mulut kemudian memutar mengulum lidahku, ini benar-benar erotis dan menggairahkan.

Saat tubuh kami saling tumpang tindih merasakan sentuhan kulit satu sama lain, sementara dibawah sana, seperti ada sesuatu yang mengganjal dan begitu keras di antara tubuh kami.

Aku mencoba memalingkan pandangan untuk memastikan benda apa itu ...

Apa itu tangan ...?

Tapi tangannya sibuk meremas gumpalan daging berwarna merah muda di d4d4ku.

Degh!

Seketika aku terkejut mendapati benda tersebut.

"Ada apa?"

"I--itu, itu tidak akan muat," jawabku dengan terbata-bata, saat melihat miliknya berdiri tegak nan-kokoh.

"Aku anggap itu sebuah pujian," ucapnya sembari tersenyum lebar.

Tenggorokan ini terasa kering membuat aku menelan ludah dengan susah payah, ingin rasanya lari dari sini karena takut menerimanya.

Tapi ... Ini adalah awal dari sebuah pembalasan untuk si penghianat!

Mungkin orang lain akan menganggap ini gila, tapi bagiku ini cukup adil. Dan lihat saja, aku akan membalas rasa sakit hatiku dengan setimpal.

Bahkan lebih parah dari apa yang mereka lakukan ...

_____&&&&____

Sabtu 17 juni 20xx

Rumah keluarga Frans

"Ruela ...!"

"Iya, Bu ..."

"Bukankah, putra ibu sangat tampan?" tanya ibu mertuaku saat menghampiri aku yang sedang menatap foto suamiku.

Duniaku selalu tertuju kepadanya, senyuman indahnya di pagi hari terlihat seperti gula-gula yang selalu memberikan rasa manis di kehidupanku.

"Astaga ...!"

Aku terkejut saat melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul empat sore, padahal aku harus menjemput suamiku segera tapi aku selalu dibuat lupa waktu saat menatap gambar diri suamiku. Foto ini adalah fotoku bersama rekan-rekanku ketika kami berkerja bersama di maskapai penerbangan.

"Bu, aku pamit. Aku harus menjemput Frans di bandara, nanti ibu pergi saja dengan Selena di antar sopir ketempat acara!"

Aku bergegas mengambil tas lalu pergi keluar menuju mobil yang sebelumnya sudah aku siapkan untuk pergi menjemput suamiku.

Aku tidak pernah meminta apapun kepada sang pencipta karena aku sudah benar-benar merasa cukup dengan kondisiku saat ini, memiliki suami yang tampan dan keuangan yang lebih dari cukup.

Bahkan terkadang aku selalu bertanya, apa yang akan membuat hubungan kami berpisah, atau ujian seperti apa di masa depan yang akan membuat cintaku luntur.

Entah itu karena orang ketiga atau keluarga....

Mungkin semua itu akan aku lalui dengan mudah, karena kami selalu saling mencintai satu sama lain.

Bagiku tidak perduli orang lain, asalkan suamiku selalu mencintaiku itu lebih dari cukup.

Tapi, entah mengapa pertanyaan itu muncul di pikiranku dengan sangat kuat. Setelah mimpi buruk tadi malam.

Lucu ... Aku memimpikan suamiku berselingkuh dengan sahabatku sendiri yang sudah aku anggap seperti saudari.

Aku yang tidak ingin ambil pusing, menganggapnya hanya seperti Dejavu.

Hari ini aku yang mengetahui, jika suamiku mendarat setelah dia terbang dari berbagai negara. aku berniat memberikan kejutan untuknya karena hari ini hari pernikahan kami yang ke tujuh tahun.

Diam-diam aku menjemputnya ke bandara, aku ingin memberikan kejutan di hari ulang tahun pernikahan kami.

Ting!

Gawaiku berbunyi, menandakan adanya notifikasi pesan masuk.

(Dia sudah menuju parkiran....)

Namaku Ruela, aku adalah seorang ibu rumah tangga. Dan suamiku seorang pilot bernama Frans, sebenarnya dulu aku seorang pramugari dan kami sering melakukan penerbangan bersama dan di sanalah cinta kami bersemi hingga memutuskan menikah sampai saat ini, meski belum memiliki anak tapi aku sama sekali tidak meras inscure karena suamiku selalu sabar.

"Kebetulan sekali, aku baru saja sampai di parkiran."

Sengaja aku memarkirkan mobil di besmen, tempat biasa suamiku parkir. Karena aku istri dari seorang pilot, jadi aku mendapatkan akses.

Tapi, sesuatu yang tidak terduga terpampang jelas di depan mataku.

Aku melihat suamiku di tarik oleh seorang wanita masuk kedalam mobil, sontak aku langsung mematikan mesin mobilku lalu mencoba keluar tapi saat hendak membuka pintu ... Aku melihat sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Apa ini tindakan kriminal?

Mobil kami yang terparkir berhadap-hadapan membuat aku bisa melihat ke dalam mobil yang di masuki suamiku.

Awalnya aku pikir itu sebuah tindakan kriminal tapi setelah melihat wanita itu membelakangi kaca dan suamiku mencumbu bibirnya, di saat itu juga aku seperti tersambar petir di siang bolong.

Dengan mata kepalaku sendiri aku menyaksikan suamiku bercumbu mesra dengan wanita lain.

Hati ini berdebar sangat kencang, tubuhku bergetar hebat, nafasku terasa sesak seperti terhimpit ribuan batu di dalamnya.

Mataku mulai memanas melihat betapa ganasnya suamiku mencumbu wanita lain di depan mataku sendiri.

Tanpa terasa cairan bening mulai menetes di pipi, hatiku sakit. Benar-benar sangat sakit bagaimana bisa suamiku melakukan ini terhadapku.

Tapi siapa wanita itu?

Sejujurnya hati ini tidak kuasa menyaksikannya tapi rasa penasaranku lebih besar....

Degh

Seketika mataku terbelalak, saat melihat wajah wanita itu.

Apa ini lolucon?

Wanita itu sangat tidak asing untukku.

Tidak asing? Tentu saja, karena dia adalah sahabatku sendiri ... Sahabat yang sudah aku anggap seperti keluarga....

Aku tidak tahan lagi, dan ingin segera melabrak mereka berdua bagaimana bisa mereka melakukan hal yang begitu kejam terhadapku.

Bab 2

Drrrrrt

1 Panggilan masuk Calista.

"H--halo...."

"Ruela ...?"

"Apa kamu menangis?"

"Hiks ... Calista ... Frans, dia...."

"Ada apa Ruela? Kenapa kamu menangis? ... Coba, tarik nafas dulu, tenangkan hatimu. Jika sudah membaik katakan semuanya."

"Suamiku ... Dia berselingkuh dengan teman dekatku!"

Sesak rasanya, bahkan untuk menjelaskan saja aku tidak sanggup. Air mata ini terus menetes membasahi pipi.

Rasa sesak yang mengalung di tenggorokan membuatku kesulitan bernafas....

"Dimana kamu sekarang?"

"Aku, berada di parkiran Bandara ..."

"Pergilah dari sana!"

"Tidak mungkin, aku ingin tahu pasti semuanya!" tolakku.

Saat aku berbicara melalui telepon dengan sahabatku, tiba-tiba mobil suamiku pergi dari palkiran.

Aku tidak ingin melewatkan satu kesempatan ini, tanpa berpikir panjang aku mengikuti mobil suamiku.

Jalan-jalan yang aku lewati, terasa tida asing. Semakin jauh aku berjalan semakin aku mengetahui kemana tujuan mereka.

"Bukalah ini jalan menuju Apatermen milikku?"

Degh

Ternyata benar dugaannku, rupanya tujuan mereka adalah salah satu Apatermen milikku yang sudah aku sewakan beberapa bulan lalu.

Aku mengikuti mobil suamiku sampai ke besmen dari kejauhan, aku melihat mereka turun dan bergandengan tangan menuju lift.

Semakin lama perasaan ini semakin hancur, aku menduga bahwa mereka telah menjalin hubungan sudah sejak lama.

"Ruela ...!"

"Calista, apa kamu masih disana?" tanyaku.

"Heh ... Aku menunggumu dari tadi, aku sengaja tidak bersuara agar kamu tetap fokus menyetir," ucap Calista.

"Apa kamu mengikuti mereka?"

"Ya, sekarang aku berada di parkiran Apartemenku," jawabku.

Aku bergegas keluar dari mobil dan berjalan sembari menggunakan earphone agar terus terhubung dengan Calista, karena meski hanya melalui panggilan setidaknya aku tidak merasa sendirian.

"Kenapa di Apartemenmu?"

"Entahlah, padahal kata mertuaku apatermen itu sudah di sewa oleh anak sahabatnya beberapa bulan lalu," jawabku.

Langkahku terhenti saat di depan pintu apartemen miliku, seketika keraguan itu muncul menyelimuti hati.

Apakah yang akan terjadi setelah ini?

"Ruel ... Dengarkan aku baik-baik, apa kamu tahu sandi Apartemenmu?"

"Ya, aku tau...."

"Sekarang pilihan ada di tanganmu, pergi dari sana jika kamu masih menginginkan rumah tanggamu baik-baik saja dan anggap bahwa hari ini kamu tidak melihat apapun!"

Mana mungkin aku bisa menganggap semuanya seperti itu.

"Satu hal yang perlu kamu ingat Ruela. Laki-laki yang berselingkuh tidak akan pernah bisa berhenti."

Degh!

Dengan tangan yang gemetar aku menekan tombol sandi pintu Apatermen lalu saat pintu terbuka aku masuk kedalamnya.

Debaran jantung yang tidak terkendali, membuat tubuh ini semakin lama kehilangan tenaga.

Drap

Drap

Langkah kakiku terhenti saat mendengar suara desahan yang menggema.

"Ah ... Ini sungguh nikmat ..."

Dag

Dig

Dug

Lutut ku terasa lemas, kaki ini tidak bisa menopang tubuh hingga akhirnya aku luruh terduduk di atas lantai.

Tubuhku bergetar hebat, hati ini hancur berkeping-keping....

Rasanya benar-benar menyesakkan saat membayangkan apa yang sedang mera lakukan.

Aku bukan wanita polos yang tidak tahu apa-apa, aku wanita berpengalaman yang tentunya tahu apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana.

Suara rintihan dan erangan yang begitu menjijikkan terus menari-nari di telingaku....

Perlahan aku membuka pintu dan terlihat jelas mereka sedang melakukan hubungan seks di atas kasur yang dulu pernah aku tiduri dengan Frans.

"Ah ... Lebih kencang lagi sayang ..."

Tega sekali mereka melakukan ini terhadapku ...

Bagaimana bisa mereka melakukan ini di belakangku selama ini, dan itu artinya disaat dia bersamaku dia juga sempat memadu kasih dengan wanita itu? ... Sungguh menjijikan!

Ingin rasanya aku masuk dan menyeret keduanya keluar dari sini, lalu menyerang wanita tidak tahu malu itu secara brutal.

Aku bersumpah akan membalas rasa sakit hati ini terhadap kalian berdua ... Rintihan dan erangan ini suatu saat akan menjadi bumerang untuk kalian!

"Jika kamu sudah melihat semuanya, segera pergi dari sana ..."

"Bagaimana mungkin!" tanpa sadar aku berkata dengan nada tinggi dengan Calista, tapi para sampah itu begitu hilang akal sehingga tidak mendengarku.

"Lalu kamu akan melabraknya?"

Aku hanya terdiam, saat mendengar pertanyaan dari Calista. Memang benar aku sangat ingin membunuh keduanya.

"Jangan bodoh! Kamu hanya akan memberikan mereka keuntungan, dengar. Jika persidangan berlangsung imbang kamu hanya akan mendapatkan separuh harta dari apa yang kalian miliki!"

Apa?

Yang bener saja, meski menjadi ibu rumah tangga tapi aku memiliki usaha properti yang aku kumpulkan meski memang semua itu dari suamiku tapi aku yang berjuang mengurus semuanya. Enak saja hasil kerja kerasku para sampah itu yang akan menikmatinya.

Bahkan air mata ini sudah tidak menetes lagi, sepatutnya sejak tadi aku tidak perlu menangisi para sampah hina itu.

"Lalu kamu ingin aku berbuat apa?"

"Ikuti saja permainan mereka, dan tunggu tiga hari lagi aku akan pulang. Lalu kita bicarakan rencana kedepannya, untuk sekarang keluarlah dari sana diam-diam."

Aku menuruti ucapan Calista dan meninggalkan Apartemen lalu segera kembali ke rumah sebelum kedua penghianat itu menyadari keberadaanku.

Flesback on

"Ruela ... Bagaimana menurutmu?"

"Itu, cantik," jawabku, "Benar'kan ... Sayang?"

"Ya, kamu cantik Renata."

Setiap ada kesempatan kami selalu jalan bersama Renata adalah juniorku saat aku menjadi pramugari tapi sekarang dia sudah aku anggap seperti adik sendiri.

"Re, kamu menginap saja di rumahku hari ini."

"Tapi, Ruela ..."

"Jangan khawatir, di nih Apartemenku ada satu kamar tamu. Kamu bisa tidur disana!"

"Iya, kalau kamu pulang ke rumah juga terlalu jauh. Menginap saja di Apatermen kami selama beberapa hari sampai kamu mendapatkan tempat tinggal baru," ujar Frans.

Bukan hanya aku, suamiku juga sangat dekat dengan Renata aku melihatnya seperti dia menganggap bahwa Renata adalah adik iparnya.

***

Malam hari di Apartemen

00:31

Malam itu aku terbangun, karena rasa haus. Sayangnya tempat minum di atas meja ternyata kosong.

"Apa Frans sedang mengambil air?"

Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur tapi sesampainya di dapur aku tidak menemukan Frans.

"Apa Frans di kamar mandi?"

Karena masih setengah sadar, dan kelelahan mata ini terus menyipit meski hanya terkena cahaya lampu.

"Kamu nakal ... Pergilah sebelum Ruela bangun."

Saat melewati kamar yang di tempati Renata samar-samar aku mendengar percakapan Renata yang entah dengan siapa, mungkin Renata sedang menelpon dengan kekasihnya.

Aku yang tidak ingin menguping pembicaraannya melalui kamarnya begitu saja akan tetapi setelah beberapa langkah menjauh aku mendengar pintu kamar Renata terbuka.

Keriettt

Sontak aku langsung menoleh lalu melihat suamiku keluar dari kamar tersebut sembari membenarkan pakaiannya.

"Sayang ..."

Degh

"Apa yang kamu lakukan di kamar Renata jam segini?" tanyaku yang heran.

"Ah ... Tadi Renata ketakutan karena ada kecoa, aku yang lewat langsung membantunya," jawab suamiku.

"Bukankah kita harus menjaga tamu sayang ..." ucapnya kemudian merangkulku.

"Benar, terimakasih. Sayang kamu telah menggagap Renata seperti adik iparmu sendiri," ucapku tersenyum lebar. Rasanya senang karena suamiku selalu memperlakukan Renata baik.

Flesback off

Harusnya aku sadar bahwa saat itu kalian sudah bermain api di belakangku, sekarang aku merasa jika aku terlalu b0doh dan ceroboh sehingga tidak bisa mencium perbuatan busuk kalian dari jauh-jauh hari.

"Sial! Berengsek!"

Emosi itu terus meluap sehingga tidak terkendali, aku yang saat itu sedang menyetir langsung membanting setir saat melihat mobil yang ada di hadapanku.

Ckitttttt ......

Bab 3

"Hah ... Hah ..."

Jantung ini terus berdegup kencang seperti naik rollercoaster, untung saja mobilku hanya menyerempet tipis dan tidak terjadi kecelakaan fatal.

Tok ...

Tok ...

Dada ini naik turun saat aku mengatur nafas tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kaca mobilku.

'Pasti dia meminta ganti rugi ...' gumamku menebak tujuan pria tersebut menghampiri mobilku.

Aku menurunkan kaca mobil dan melihat ke arah pria yang sedang berdiri di depan pintu mobil.

"Apa anda baik-baik saja?" tanyanya.

"Apa?"

Jujur ini di luar dugaan, awalnya aku pikir ia akan marah karena jelas aku yang ceroboh saat berkendara.

"Apa anda bisa keluar, sebentar?" tanyanya.

Dengan tangan yang gemetar, aku membuka pintu mobil. Sebenarnya aku merasa sedikit takut tapi tidak ada pilihan lain selain menurutinya.

"Maaf ...! Saya benar-benar minta maaf, karena telah mengakibatkan kecelakaan ini!"

"Tidak masalah, asalkan anda baik-baik saja itu sudah cukup," jawabnya.

Aku mendongak dan menatap wajah pria tinggi yang ada di hadapanku ini.

Aneh, wajahnya tidak terlihat marah sama sekali. Padahal dia pantas jika ingin marah terhadapku.

"Apa anda tidak marah?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.

"Tentu saja tidak, ini adalah kecelakaan siapapun tidak menginginkan ini terjadi," jawabnya.

Laki-laki ini begitu santai, jika orang lain pasti akan marah dan mungkin memakiku. Tapi, berbeda dengannya. Seolah-olah tidak ada yang terjadi barusan.

"Begini saja, simpan nomor telepon saya. Jika mobil anda di bawa ke bengkel saya akan mengganti biayanya," usulku kemudian mengambil ponsel yang ada di dalam mobil.

"Anda tidak perlu melakukannya, tapi jika anda memberikan nomor anda saya tidak masalah," ucapnya.

Dia memberikan ponselnya, dengan cepat aku menuliskan nomor ponselku di gawainya.

_______&&&_______

Tapi setelahnya aku mendapatkan panggilan dari ibu mertuaku.

1 Panggilan masuk Mommy

"Halo, Bu ..."

"Ruela ...! Cepat pulang!"

Entah apa yang terjadi tiba-tiba ibu mertua memintaku segera pulang. Aku langsung berpamitan dengan laki-laki tersebut kemudian segera pulang.

Aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi, sesampainya di rumah aku langsung menerobos masuk.

Hening dan gelap ketika aku memasuki rumah….

Jantungku kembali berdegup kencang, perasaan tidak enak tiba-tiba menyeruak dalam hati ini.

Apa ada perampokan?

Terdengar seseorang yang menyusul membuka pintu aku menoleh dan melihat ke arah pintu seketika lampu menyala dan di sana terlihat Frans datang bersama Renata.

"Kejutan ...!"

Begitu semuanya terlihat rumah penuh dengan dekorasi yang sangat cantik, dan ibu mertuaku datang membawa kue di tangannya bertuliskan selamat hari ulang tahun pernikahan ke 7.

Mereka terus bersorak riang teman-teman dekatku dari pramugari dan pilot ternyata ikut hadir di sini.

Mereka mengucapkan selamat dan mendoakan agar rumah tangga kami langgeng sampai maut memisahkan.

"Semoga kalian bahagia selamanya! Saling setia sampai maut memisahkan kalian!"

Aku hanya tersenyum getir mendengarnya, entah mengapa doa yang mereka panjatkan terdengar seperti kutukan bagiku.

Pesta itu terus berlanjut bahkan sampai semua orang mabuk berat, bau alkohol memenuhi ruangan ini.

Aku tidak bisa melepaskan pandanganku terhadap Frans dan juga Renata entah mengapa setelah mengetahui hubungan mereka, aku melihat jika sekarang tindakan mereka semakin jelas.

Aku pergi ke taman belakang disana ada beberapa teman dekatku juga teman suamiku berkumpul.

Baru saja bibir ini terbuka berniat menyapa mereka, namun aku urungkan ketika mendengar mereka berbicara tentangku.

"Gila, berani sekali Renata datang bersama Frans ..."

"Aku sebenarnya muak, ingin sekali rasanya membongkar kebusukan mereka."

Degh!

Seketika jantung ini berhenti berdetak….

'Jadi selama ini mereka tahu ...?'

Sejak kapan mereka mengetahui perselingkuhan Frans dengan Renata?

"Kita tidak perlu ikut campur, kalian tahu posisi Frans dia adalah pilot yang dipercayai CEO."

"Aku bisa gila, rasanya mulutku gatal."

"Sejak kapan kalian tahu?" Selaku bertanya kepada mereka. Sontak mereka semua menoleh ke arahku, raut wajah yang memucat pasif karena terkejut terpampang jelas di wajahnya.

"Ruela ...!"

"Hebat kalian, aku pikir kalian sahabatku tapi ternyata kalian tega memperlakukan aku seperti orang bodoh!” jeritku tertahan. Dada ini bergemuruh hebat, rahang mengeras namun aku tahan semuanya.

Mataku terasa panas, buliran bening kembali menetes membasahi pipi. Sekuat apapun aku menahan diri agar tidak menangis tetapi air mata ini mengalir deras dengan sendirinya, seakan tidak pernah ada habisnya.

Aku menatap mereka dengan tatapan tajam…. Aku benar-benar murka saat itu rasa kecewa yang melambung keudara akan sahabatku.

Bagaimana mereka begitu tega berkerja sama melakukan ini terhadapku.

"Apa kalian puas menganggapku seperti orang bodoh?"

Tidak cukup dengan penghiatan suami dan orang yang aku anggap seperti adik sendiri, kini sahabat-sahabatku teman curhat dan bermain. Juga ikut menikamku dari belakang.

Aku merasa menjadi manusia paling bodoh di dunia ini, karena telah menjadi manusia yang tidak tahu apa-apa.

Kecewa ...

Sedih ...

Dan terluka, aku merasa di titik paling bawah semasa hidupku selama ini ...

"Ruela ... Kami tahu, bahwa kami salah tapi posisi kami benar-benar sulit!"

"Lalu kalian lebih memilih diam, meski sahabat kalian terluka? Padahal kalian lebih mengenalku dulu ketimbang mereka!" Pekikku semakin menjadi.

"Ruela ..."

"Cukup ... Kalian memilih diam, bukan? Maka dari itu aku harap kalian diam untuk selamanya termasuk bahwa kalian tahu bahwa aku sudah mengetahuinya!”

Suaraku semakin meninggi, aku mengusap air mata ini dengan kasar. Mata yang tajam ini menatap wajah mereka satu per satu.

Aku tidak habis pikir dengan semua ini, kenapa bisa mereka tahu lebih dulu dibandingkan aku istri sah nya? Apa aku seb0doh itu? Semudah itu mereka mengelabuiku selama ini?

Dengan emosi Aku masuk ke dalam rumah hatiku seperti terbakar membuat kerongkonganku terasa haus.

Aku berniat mengambil air minum ke dapur, namun saat di sana tanpa sengaja telingaku mendengar pembicaraan yang tidak seharusnya aku dengar.

"Dimana otakmu! Bisa-bisanya kamu datang bersama Frans kerumah ini!"

'Apa maksudnya ini?...'

"Tadi kami sedang bersama, tapi tiba-tiba ibu menelpon Frans!"

"Jangan pernah berharap aku merestui kalian, dengar. Aku diam bukan berarti menyetujuinya!"

"Ini semua karena permintaan Frans!”

Degh!!

'Jadi, Ibu sudah mengetahui hubungan mereka?’

Jadi akulah orang terakhir yang mengetahui kebejatan manusia brengs3k itu?

Ibu, bahkan sahabatku tahu tentang perselingkuhan mereka. Hebat sekali mereka memperlakukan aku seperti orang bodoh.

Amarahku semakin memuncak tapi aku mengingat kata-kata Calista, bahwa aku harus berpikir panjang. Lihat saja aku akan membalas satu persatu kalian yang mempermainkanku, sampai kalian tahu rasa sakit yang aku alami.

Sepanjang pesta, aku hanya terdiam menyaksikan mereka berpesta pora. Mulutku bungkam seribu bahasa aku merasa lucu dengan kejadian hari ini dimana aku benar-benar terkejut dengan hadiah di hari pernikahanku yang ke tujuh tahun.

Yaitu .... Terbongkarnya sebuah "PENGHIANATAN"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED