Gemerlap lampu kristal di Grand Ballroom Hotel Mahameru terasa seperti ribuan mata yang menusuk. Bagi Aveline de la Fontaine, setiap pantulan cahaya di gaun sutra berwarna perak miliknya terasa seperti sebuah ejekan. Gaun itu, sebuah mahakarya desain yang minimalis namun tak bercela, dipilihnya bukan untuk menonjol, melainkan untuk menyatu dengan latar. Seperti perannya selama tiga tahun terakhir ini: menjadi latar belakang yang indah bagi suaminya, Damian Blackwood.
Malam ini adalah malam penganugerahan "Architectural Innovator of the Year", sebuah ajang paling bergengsi di industri mereka. Perusahaan Blackwood dinominasikan untuk "Proyek Phoenix," sebuah revitalisasi kawasan kumuh di tepi kota menjadi pusat komersial dan hunian yang berkelanjutan. Sebuah proyek yang ambisius, kompleks, dan di atas kertas, sepenuhnya dipimpin oleh Damian. Namun, Aveline tahu di mana letak jiwa proyek itu sebenarnya.
Jiwa itu lahir di malam-malam tanpa tidur miliknya, di atas sketsa-sketsa yang diremas dan dibuang, di antara puluhan cangkir kopi dingin di studio pribadinya yang sunyi. Jiwa itu adalah filosofi desainnya: arsitektur yang melayani manusia, bukan sebaliknya. Konsep jembatan penghubung yang mengintegrasikan ruang hijau dengan beton, fasad bangunan yang mampu memanen air hujan, dan tata letak yang dirancang untuk menciptakan interaksi komunal-semua itu adalah bisikan idenya yang ia tuangkan ke dalam proposal, yang kemudian dengan bangga dipresentasikan Damian sebagai miliknya.
"Kau terlihat pucat, Aveline," suara Damian yang dalam dan dingin memecah lamunannya. Ia menoleh. Damian berdiri di sisinya, setelan Tom Ford hitamnya membungkus tubuhnya dengan sempurna. Tidak ada kerutan, tidak ada cela. Seperti biasa, ia adalah perwujudan dari kesempurnaan yang beku. Matanya yang kelabu menilainya sekilas, bukan dengan kehangatan seorang suami, melainkan dengan tatapan seorang CEO yang memeriksa asetnya sebelum ditampilkan di depan publik.
"Hanya sedikit lelah," jawab Aveline pelan. Tangannya tanpa sadar meremas clutch peraknya.
"Pastikan kau terlihat prima. Banyak wartawan malam ini," katanya lagi, lebih sebagai perintah daripada perhatian. Ia mengulurkan lengannya. "Ayo."
Aveline menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan untuk menenangkan gemuruh di dadanya, lalu mengaitkan lengannya di lengan Damian. Saat mereka berjalan menuju meja utama, kilatan lampu kamera menyambut mereka seperti badai petir buatan. Senyum tipis terpasang di bibir Aveline, sebuah senyum yang telah ia latih hingga sempurna di depan cermin. Senyum Nyonya Blackwood. Di mata dunia, mereka adalah pasangan idaman: Damian Blackwood, sang visioner yang dingin dan jenius, dan Aveline de la Fontaine, sang pewaris cantik dari keluarga arsitek legendaris yang kini dengan setia mendukung suaminya.
Sebuah kebohongan yang indah.
Keluarga de la Fontaine adalah bangsawan di dunia arsitektur. Kakeknya membangun ikon-ikon kota, dan ayahnya melanjutkan warisan itu dengan sentuhan modern. Aveline adalah permata mahkota mereka, seorang arsitek muda dengan bakat alami yang digadang-gadang akan melampaui para pendahulunya. Lalu datanglah Damian Blackwood, dengan tatapan tajam dan ambisi seluas samudera. Pernikahan mereka adalah sebuah merger, penyatuan dua dinasti untuk menciptakan kekuatan tak terkalahkan di industri properti dan konstruksi. Ayahnya menyetujuinya, melihatnya sebagai langkah strategis. Aveline, yang saat itu terpesona oleh karisma dan ketajaman pikiran Damian, dengan naif berharap bahwa dari aliansi bisnis ini, bisa tumbuh sesuatu yang lain. Cinta, mungkin. Atau setidaknya, rasa hormat.
Tiga tahun telah berlalu. Tiga tahun sejak ia memindahkan studionya ke salah satu lantai di Menara Blackwood, tiga tahun sejak ide-idenya mulai mengalir ke dalam proyek-proyek atas nama suaminya. Harapannya terkikis perlahan, seperti batu karang yang dihantam ombak tanpa henti. Damian tidak pernah melihatnya. Ia melihat nama de la Fontaine di belakangnya, melihat koneksi keluarganya, melihat otaknya sebagai sumber daya yang bisa dieksploitasi. Namun ia tidak pernah melihat Aveline.
"Damian! Aveline! Senang sekali melihat kalian," sapa seorang pria tua berperut buncit, Tuan Tirtayasa, salah satu investor besar Proyek Phoenix. "Aku yakin sekali piala itu akan kau bawa pulang malam ini, Damian. Proyek Phoenix itu... jenius! Benar-benar jenius!"
Damian mengangguk singkat, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Kita lihat saja nanti, Pak Tirta. Terima kasih atas dukungan Anda."
"Dan Nyonya Blackwood," Tuan Tirtayasa menoleh pada Aveline, matanya memancarkan simpati yang salah tempat. "Anda pasti sangat bangga pada suami Anda. Beruntung sekali Damian memiliki Anda di sisinya sebagai sumber inspirasi."
Aveline hanya tersenyum, senyum kosong yang sama. Inspirasi. Jika saja pria ini tahu bahwa 'inspirasi' itu terjaga hingga pukul empat pagi untuk memecahkan masalah sistem drainase pada desain yang ia puji. Jika saja ia tahu bahwa 'inspirasi' itu harus berdebat sengit (dalam diam, tentu saja, melalui catatan dan email) dengan para insinyur untuk memastikan integritas struktural jembatan hijaunya tidak dikompromikan demi anggaran.
Mereka duduk di meja utama, dikelilingi oleh para petinggi industri lainnya. Percakapan mengalir di sekitar Aveline seperti air sungai, tetapi ia merasa terdampar di pulau sunyi miliknya sendiri. Ia mengamati detail arsitektur ballroom itu-kolom-kolom bergaya neo-klasik yang megah, langit-langit berkubah dengan lukisan fresko yang rumit. Sebuah bangunan yang dirancang untuk memancarkan kemegahan dan kekuasaan. Seperti pernikahannya. Indah di luar, namun dingin dan kosong di dalam. Tanpa jiwa.
MC naik ke atas panggung, dan acara utama pun dimulai. Satu per satu, penghargaan dibacakan untuk kategori yang berbeda. Jantung Aveline berdebar semakin kencang, sebuah ritme yang menyakitkan di tulang rusuknya. Ia merasakan dilema yang aneh. Sebagian dari dirinya ingin mereka menang. Kemenangan itu adalah validasi atas kerja kerasnya, bukti bahwa idenya memang brilian. Namun, sebagian besar dari dirinya merasa ngeri. Kemenangan itu akan menjadi milik Damian. Namanya yang akan terukir di piala itu. Wajahnya yang akan terpampang di semua media esok hari. Dan ia akan kembali menjadi bayang-bayang yang tak terlihat.
"Dan sekarang... kategori yang kita semua tunggu," suara MC menggema. "Architectural Innovator of the Year. Nominasinya adalah..."
Beberapa nama dan proyek disebutkan. Layar besar di belakang panggung menampilkan visual dari setiap nominasi. Saat Proyek Phoenix muncul, dengan visualisasi 3D yang memukau dari bangunan-bangunan ramah lingkungan dan taman-taman vertikal, desas-desus kekaguman terdengar di seluruh ruangan. Aveline merasakan secuil kebanggaan yang pedih. Itu adalah dunianya, lahir dari imajinasinya.
"Dan pemenangnya adalah..." MC membuka amplop dengan gerakan teatrikal. "...Blackwood Corporation, untuk Proyek Phoenix!"
Riuh tepuk tangan membahana. Damian tetap tenang, seolah ia sudah tahu hasilnya sejak awal. Ia berdiri, merapikan dasinya, lalu menoleh sekilas ke arah Aveline. Bukan tatapan berbagi kemenangan, melainkan tatapan singkat yang berkata, 'Tugasmu selesai, tetaplah di sini.'
Aveline bertepuk tangan secara otomatis, otot-otot wajahnya kaku membentuk senyuman bangga yang palsu. Ia melihat Damian berjalan menaiki tangga panggung, setiap langkahnya penuh percaya diri. Ia berdiri di podium, membiarkan kilatan kamera menghujaninya sejenak sebelum mengangkat tangan meminta ketenangan.
"Terima kasih," suaranya yang berwibawa memenuhi ruangan. "Sebuah kehormatan besar bagi Blackwood Corporation untuk menerima penghargaan ini."
Ia memulai pidato kemenangannya. Ia berterima kasih kepada dewan juri, kepada para investor seperti Tuan Tirtayasa, kepada tim insinyur dan manajer proyek. Nama-nama disebutkan, formalitas dipenuhi. Aveline mendengarkan, setiap kata terasa seperti butiran pasir yang menggores hatinya. Ia menunggu. Mungkin, hanya mungkin, kali ini akan berbeda. Mungkin di hadapan ratusan orang ini, ia akan memberinya sedikit pengakuan. Sebuah kalimat sederhana seperti, 'Dan tentu saja, untuk istri saya, yang dukungannya tak ternilai'. Atau mungkin, 'Yang visinya menjadi denyut nadi proyek ini'. Sebuah angan-angan bodoh, ia tahu itu.
Damian berhenti sejenak, tatapannya menerawang ke kejauhan, melewati lautan wajah di hadapannya. Keheningan tercipta, penuh antisipasi.
"Namun," lanjut Damian, suaranya tiba-tiba melembut, dipenuhi nada emosional yang belum pernah Aveline dengar darinya selama tiga tahun pernikahan mereka. Nada itu menusuknya lebih tajam dari pisau. "Inovasi sejati tidak datang dari ruang rapat atau cetak biru. Inovasi datang dari inspirasi. Dan malam ini, saya ingin mendedikasikan penghargaan ini untuk satu-satunya sumber inspirasi abadi saya."
Jantung Aveline berhenti berdetak. Untuk sepersekian detik, sebuah harapan gila dan mustahil menyala di dalam dirinya. Apakah ia akan...?
"Untuk cahaya yang cahayanya tidak akan pernah padam," Damian melanjutkan, matanya berkaca-kaca dengan tulus. "Untuk arsitek pertama yang menunjukkan kepada saya bahwa sebuah bangunan bisa memiliki jiwa. Untuk cetak biru pertama dari semua impian saya."
Ia mengangkat piala itu sedikit lebih tinggi.
"Untukmu, Clara. Di mana pun kau berada, ini untukmu."
Nama itu menggema di seluruh penjuru Grand Ballroom. Clara. Nama yang terasa seperti kutukan di rumah tangganya. Nama cinta pertama Damian, tunangannya, yang meninggal dalam kecelakaan mobil lima tahun yang lalu. Nama hantu yang bayang-bayangnya selalu hadir, lebih nyata daripada kehadiran Aveline yang bernapas di sampingnya setiap hari.
Dunia Aveline runtuh. Bukan runtuh dengan suara gemuruh yang dahsyat, melainkan runtuh dalam keheningan yang memekakkan telinga. Tepuk tangan di sekelilingnya terdengar seperti suara air yang menjauh. Wajah-wajah yang menatap Damian dengan penuh kekaguman dan simpati terlihat kabur dan tidak fokus. Ia merasa seolah-olah seluruh udara telah tersedot keluar dari ruangan, meninggalkan kekosongan yang menyesakkan di paru-parunya.
Di atas panggung, di bawah sorotan lampu, suaminya sedang meratapi wanita lain. Dan di bawah sini, di dalam kegelapan yang relatif, istrinya-arsitek sebenarnya di balik kemenangan itu-telah dihapus sepenuhnya. Ia bukan hanya tidak diberi pengakuan; keberadaannya, kontribusinya, tiga tahun hidupnya, telah dilenyapkan dan digantikan oleh kenangan akan orang mati.
Penghinaan itu begitu total, begitu publik, begitu dalam, hingga rasanya tidak lagi menyakitkan. Rasa sakit telah berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang dingin, jernih, dan sangat tajam. Seperti sepotong pecahan kaca.
Ia menatap gelas kristal di tangannya. Cairan sampanye keemasan di dalamnya tampak tenang. Ia melihat pantulan wajahnya yang kabur di permukaan gelas, lalu ke arah panggung di mana Damian sedang menerima ucapan selamat.
Struktur pernikahannya, yang selama ini ia coba topang dengan pengorbanan dan harapan buta, akhirnya menunjukkan keretakan fatalnya. Pondasinya tidak pernah ada. Bangunan itu didirikan di atas tanah kosong, di atas kenangan orang lain. Dan ia, Aveline de la Fontaine, telah dengan bodohnya mencoba menghiasi sebuah bangunan hantu.
Damian turun dari panggung, piala emas di genggamannya. Ia berjalan kembali ke meja, wajahnya memancarkan kepuasan yang tenang. Beberapa orang menepuk punggungnya saat ia lewat. Ia tiba di meja, meletakkan piala itu dengan bunyi denting pelan di atas taplak putih.
"Sudah selesai," katanya pada Aveline, seolah-olah tidak ada yang luar biasa yang baru saja terjadi. "Kita harus menemui Menteri Pembangunan Kota sebelum beliau pergi."
Ia menunggu Aveline berdiri, seperti yang biasa ia lakukan. Patuh, tersenyum, dan siap memainkan perannya.
Tapi malam ini, Aveline tidak bergerak.
Ia tetap duduk, punggungnya tegak lurus. Tangannya yang tadi meremas clutch kini terlipat tenang di pangkuannya. Untuk pertama kalinya, ia menatap Damian-benar-benar menatapnya. Bukan sebagai suami, bukan sebagai mitra bisnis, tetapi sebagai seorang pria asing yang kebetulan telah berbagi alamat dengannya selama tiga tahun.
Ia melihat arogansi di matanya, ketidaksadaran total akan luka yang baru saja ia goreskan. Ia melihat seorang pria yang begitu terbungkus dalam dunianya sendiri sehingga orang lain hanyalah alat atau rintangan.
Damian sedikit mengernyit, tidak sabar. "Aveline? Ayo."
Perlahan, Aveline berdiri. Namun, ia tidak bergerak ke arah Damian atau Menteri yang menunggu. Ia mengambil clutch peraknya, memegangnya erat-erat. Matanya bertemu dengan mata kelabu Damian, dan untuk pertama kalinya, tidak ada lagi jejak permohonan atau harapan di sana. Hanya ada ketenangan yang dingin, setenang danau di musim dingin yang membeku.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan mulai berjalan menjauh. Menjauhi meja, menjauhi piala, menjauhi Damian.
Setiap langkah terasa ringan, seolah beban seberat tiga tahun baru saja terangkat dari pundaknya. Ia bisa merasakan tatapan bingung Damian di punggungnya, bisa mendengar desas-desus kecil yang mulai muncul di antara meja-meja di dekatnya. Ia tidak peduli.
Ia terus berjalan, melewati kolom-kolom megah, di bawah lampu kristal yang kini terasa seperti bintang penunjuk jalan. Ia tidak menoleh ke belakang. Tidak ada lagi yang perlu dilihat di sana. Bangunan itu telah runtuh. Dan dari puing-puingnya, Aveline de la Fontaine akan mulai merancang sesuatu yang baru. Sesuatu yang sepenuhnya miliknya.
Aveline tidak berlari. Setiap langkahnya di atas karpet tebal koridor Hotel Mahameru terukur dan sengaja. Ia tidak menoleh ke belakang, bahkan ketika ia merasa gelombang kebingungan dari orang-orang yang dilewatinya. Gaun peraknya berdesir pelan, satu-satunya suara yang menemaninya dalam kepompong keheningan yang ia ciptakan di tengah keramaian. Pintu lift terbuka di hadapannya, dan ia masuk, menekan tombol lobi dengan jari yang tidak lagi gemetar.
Di dalam kotak cermin itu, ia akhirnya melihat pantulan dirinya dengan jelas. Wajahnya pucat, tetapi matanya menyala dengan ketajaman yang sudah lama tidak ia rasakan. Tidak ada air mata. Air mata adalah untuk kesedihan atau kehilangan. Apa yang ia rasakan saat ini bukanlah kehilangan, melainkan penemuan. Ia telah kehilangan ilusi, dan sebagai gantinya, ia menemukan kembali dirinya sendiri.
Bunyi ting pelan saat lift tiba di lobi terasa seperti lonceng yang menandai dimulainya babak baru. Udara malam Jakarta yang hangat dan lembap menyambutnya saat pintu otomatis hotel bergeser terbuka. Kontras yang tajam dengan dinginnya pendingin udara dan atmosfer beku di ballroom. Aveline menghirupnya dalam-dalam. Baunya seperti kebebasan-campuran asap knalpot, aroma masakan dari pedagang kaki lima di kejauhan, dan wangi bunga dari taman hotel. Bau kehidupan nyata.
Seorang petugas membukakan pintu taksi untuknya. "Tujuan, Nyonya?"
"Jalan Cikini Raya," jawab Aveline, menyebutkan sebuah alamat yang sudah bertahun-tahun tidak ia kunjungi, sebuah alamat yang tidak ada dalam daftar properti bersama Blackwood.
Saat taksi melaju, membelah lalu lintas malam ibu kota, Aveline menatap keluar jendela. Gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, berkilauan dengan ribuan lampu, adalah taman bermainnya dulu. Ia bisa menyebutkan nama arsitek di balik sebagian besar gedung itu. Menara Blackwood, dengan desainnya yang agresif dan tajam, tampak mendominasi cakrawala, sebuah monumen arogansi suaminya. Tidak jauh dari situ, Menara de la Fontaine, karya kakeknya, berdiri lebih anggun, lebih tenang, dengan fasad yang seolah berdialog dengan langit. Sebuah perang bisu antara dua filosofi, dua dinasti. Dan ia terperangkap di tengah-tengahnya.
Taksi akhirnya berbelok ke jalan yang lebih tenang dan rindang, dipenuhi bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial. Mobil berhenti di depan sebuah paviliun bergaya art deco yang tersembunyi di balik pagar besi tinggi dan rimbunnya pohon-pohon tua. Ini bukan rumah, melainkan sebuah studio. Studio pribadi almarhum kakeknya, Adiwangsa de la Fontaine. Tempat ini telah dibiarkan tak tersentuh selama bertahun-tahun, dijaga oleh seorang penjaga tua, seolah menunggu tuannya kembali. Malam ini, tuannya telah kembali, dalam wujud cucunya.
Aveline membayar taksi dan melangkah keluar. Udara di sini terasa berbeda, lebih sejuk, beraroma tanah basah dan sejarah. Ia membuka gerbang yang berderit pelan dan berjalan di jalan setapak batu. Kuncinya masih ada di tempat rahasia yang hanya ia dan kakeknya yang tahu-di dalam pot terakota kosong di sudut teras.
Pintu kayu jati yang berat terbuka, menyebarkan aroma yang langsung membawanya kembali ke masa kecil. Bau kertas yang menua, debu yang mengendap, kayu cedar, dan sisa-sisa aroma tinta cina. Di dalam, cahaya bulan yang masuk melalui jendela-jendela besar menerangi siluet-siluet yang familiar: meja-meja gambar yang kokoh, rak-rak yang penuh dengan gulungan cetak biru, dan maket-maket arsitektur yang berdiri seperti kota hantu mini di atas meja-meja panjang.
Ini adalah tempat perlindungannya. Ini adalah sumber kekuatannya.
Tindakan pertamanya adalah melepaskan diri dari kepalsuan. Ia membuka ritsleting gaun perak yang terasa seperti sangkar itu dan membiarkannya jatuh ke lantai, tumpukan kain yang berkilauan dan tak bernyawa. Dengan hanya mengenakan pakaian dalamnya, ia berjalan ke sebuah lemari tua di sudut ruangan. Di dalamnya, tergantung beberapa kemeja kerja kakeknya yang sudah usang. Ia mengambil satu, kemeja katun putih yang sudah agak menguning, dan memakainya. Lengan bajunya terlalu panjang, jadi ia menggulungnya hingga ke siku. Kain yang kasar di kulitnya terasa lebih nyata dan menenangkan daripada sutra termahal sekalipun.
Ia merasa seperti dirinya lagi. Bukan Nyonya Blackwood. Bukan pewaris de la Fontaine. Hanya Aveline.
Kemudian, ia mengambil ponselnya. Jarinya bergerak dengan cepat dan pasti. Panggilan pertama adalah untuk pengacara keluarganya, Pak Binsar.
"Halo, Aveline? Ada apa malam-malam begini?" suara serak Pak Binsar terdengar khawatir.
"Selamat malam, Pak Binsar. Maaf mengganggu," kata Aveline, suaranya tenang dan datar. "Saya ingin Anda menyiapkan surat gugatan cerai untuk saya ajukan terhadap Damian Blackwood sesegera mungkin."
Hening sejenak di seberang telepon. Aveline bisa membayangkan pengacara tua itu duduk tegak di tempat tidurnya. "Aveline... apa kau yakin? Apa yang terjadi?"
"Sangat yakin. Alasan: perbedaan yang tidak dapat didamaikan," katanya, menggunakan istilah hukum yang terasa begitu klinis dan tidak memadai untuk menggambarkan jurang di antara mereka. "Tolong pastikan semua aset atas nama saya sebelum pernikahan terlindungi sepenuhnya. Termasuk kepemilikan saham saya di Fontaine Legacy."
"Tentu... tentu saja, Aveline. Saya akan siapkan drafnya besok pagi," jawab Pak Binsar, nadanya kini berubah menjadi profesional.
"Terima kasih," kata Aveline, lalu menutup telepon.
Selesai. Langkah pertama telah diambil. Ia meletakkan ponselnya dan berjalan lebih dalam ke studio. Jarinya menyentuh permukaan berdebu dari sebuah meja gambar. Di atasnya, terbentang sebuah sketsa lama milik kakeknya-sebuah jembatan. Goresan pensilnya begitu kuat dan penuh percaya diri. Kakeknya pernah berkata, "Seorang arsitek yang baik tidak hanya membangun struktur, Ve. Ia membangun koneksi. Antara tanah dan langit, antara masa lalu dan masa depan, antara manusia dengan manusia."
Damian membangun tembok.
Tiba-tiba, suara deru mobil sport yang familier memecah keheningan malam. Suaranya semakin dekat, lalu berhenti tepat di depan gerbang. Lampu depannya yang tajam menembus jendela studio, menciptakan bayangan-bayangan panjang dan dramatis.
Aveline tidak terkejut. Ia sudah menduganya. Damian tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara gedoran keras di pintu. Bukan ketukan, melainkan gedoran yang marah dan tidak sabar.
"Aveline! Buka pintu ini! Aku tahu kau di dalam!"
Aveline menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan ke arah pintu. Ia tidak merasa takut. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia tidak merasa takut pada pria ini. Ia membuka pintu kayu itu.
Damian berdiri di sana, wajahnya keras seperti batu pualam di bawah cahaya teras. Jasnya sedikit kusut, dasinya sedikit miring-pemandangan yang sangat langka. Matanya menyala karena amarah yang terkendali.
"Apa artinya semua ini?" desisnya, melangkah masuk tanpa diundang. Matanya menyapu interior studio yang berdebu dengan pandangan jijik, lalu berhenti pada penampilan Aveline-kemeja kebesaran yang ia kenakan. "Apa yang kau lakukan di tempat kumuh ini? Dan kenapa kau memakai itu? Kau mempermalukanku, Aveline. Pergi begitu saja dari acara."
Aveline menutup pintu dengan pelan. "Aku tidak mempermalukanmu, Damian. Aku hanya berhenti mempermalukan diriku sendiri."
"Omong kosong," bentaknya. "Semua orang melihatmu pergi. Semua orang bertanya-tanya. Reputasi kita..."
"Reputasi kita?" Aveline memotong, suaranya tetap tenang namun mengandung baja. "Tidak ada 'kita', Damian. Yang ada hanya kau dan citramu. Dan malam ini, kau membuatnya sangat jelas bahwa aku bahkan bukan bagian dari citra itu."
Damian menghela napas kasar, mencoba mengendalikan emosinya. Ia beralih ke taktik yang lebih rasional, seolah sedang bernegosiasi dalam sebuah rapat. "Dengar, aku tidak tahu kenapa kau begitu sentimentil soal pidato itu. Itu hanya kata-kata. Clara adalah bagian dari masa laluku. Itu tidak ada hubungannya dengan pernikahan kita."
Saat itulah Aveline tertawa. Tawa yang pelan, kering, dan tanpa kegembiraan. Tawa seseorang yang baru saja mendengar lelucon paling absurd di dunia.
"Tidak ada hubungannya?" ulangnya. "Damian, kau berdiri di atas panggung, menerima penghargaan untuk sebuah proyek yang jiwanya aku berikan padamu. Kau mengambil ide-ideku, kerja kerasku, malam-malam tanpa tidurku, lalu kau membangun monumen dari itu semua dan mendedikasikannya untuk hantu dari masa lalumu. Di depan seluruh dunia, kau membuatku tidak terlihat. Kau tidak hanya mengabaikanku, kau menghapusku. Dan kau bilang itu tidak ada hubungannya?"
Wajah Damian mengeras. "Aku tidak pernah memintamu bekerja sekeras itu. Itu pilihanmu. Aku memberimu kebebasan..."
"Kau memberiku sangkar emas!" balas Aveline, suaranya sedikit naik untuk pertama kalinya. "Kau menempatkanku di perusahaanmu, di bawah namamu, di mana setiap prestasiku secara otomatis menjadi milikmu. Itu bukan kebebasan, itu penjajahan yang sopan."
Ia berjalan ke salah satu meja dan mengusap debu dari sebuah maket kecil-desain pertamanya yang memenangkan kompetisi saat kuliah. "Aku adalah seorang arsitek, Damian. Sama sepertimu. Sama seperti kakekku. Tapi kau tidak pernah melihatnya. Kau hanya melihat seorang istri yang bisa kau manfaatkan bakatnya tanpa harus berbagi sorotan."
Damian terdiam, tampak bingung oleh ledakan kejujuran yang tiba-tiba ini. Logikanya tidak dapat memproses data emosional ini. "Ini tidak rasional, Aveline. Pikirkan bisnisnya. Pikirkan aliansi keluarga kita. Saham akan jatuh jika berita perceraian kita keluar."
Dan di sanalah inti masalahnya. Saham. Bisnis. Aliansi. Bukan perasaan. Bukan pengkhianatan. Bukan hati yang telah ia injak-injak.
"Aku sudah memikirkannya," kata Aveline dengan tenang. "Dan aku sudah menelepon Pak Binsar. Pengacaraku akan menghubungimu besok."
Mata Damian melebar karena terkejut, kemudian menyipit karena marah. "Kau tidak akan berani."
"Aku sudah melakukannya," Aveline menegaskan. Ia menunjuk ke arah pintu. "Pernikahan kita sudah selesai, Damian. Sama seperti percakapan ini. Tolong tinggalkan properti saya."
Kata-kata 'properti saya' terasa begitu kuat di lidahnya. Sebuah penegasan kepemilikan. Sebuah garis batas yang telah ia tarik.
Damian menatapnya lama, seolah baru pertama kali melihat wanita di hadapannya. Ia melihat keteguhan di mata Aveline, sebuah fondasi kokoh yang tidak bisa ia goyahkan. Arogansinya tidak lagi memiliki kekuatan di sini, di dalam benteng warisan Aveline. Dengan geraman tertahan, ia berbalik dan membanting pintu di belakangnya, meninggalkan keheningan yang diberkahi.
Aveline tidak goyah. Ia berdiri di tengah studio, di antara hantu-hantu masa lalu yang baik, dan merasakan kelegaan yang luar biasa menyelimutinya. Ia bebas.
Ia berjalan ke meja gambar terbesar di ruangan itu, meja kakeknya. Dengan kain lap, ia membersihkan permukaannya yang berdebu, menyingkap kayu jati tua yang indah. Ia menemukan gulungan kertas kalkir yang masih baru di dalam laci dan membentangkannya. Kertas itu terhampar putih dan bersih, sebuah kanvas kosong yang penuh kemungkinan.
Di luar, langit timur mulai memancarkan semburat fajar yang pucat. Cahaya pertama hari yang baru menyelinap masuk melalui jendela, mengusir bayangan malam. Aveline mengambil sebuah pensil grafit dari tempatnya. Ujungnya tajam. Ia memegangnya di atas kertas, tangannya mantap.
Sebuah nama muncul di benaknya, jernih dan kuat. Bukan de la Fontaine, bukan Blackwood. Sesuatu yang baru, yang miliknya.
Fontaine Creations.
Dengan napas yang mantap, Aveline de la Fontaine menarik garis pertamanya. Garis yang lurus, tegas, dan penuh dengan janji masa depan yang akan ia rancang sendiri.
Fajar di studio kakeknya tidak datang dengan kelembutan. Ia datang sebagai cahaya putih yang tajam, menyoroti kekacauan yang teratur di sekeliling Aveline. Lantai parket yang tadinya bersih kini dihiasi pulau-pulau kertas sketsa yang diremas. Meja gambar utama dipenuhi goresan-goresan pensil yang energik-konsep fasad, denah ruang, dan diagram alir organisasi. Aroma kopi kental yang baru diseduh bercampur dengan bau debu dan sejarah, menciptakan wangi khas dari sebuah revolusi pribadi yang berjalan semalaman. Aveline, masih mengenakan kemeja kebesaran kakeknya, berdiri di tengah ruangan, matanya memindai hasil kerjanya dengan tatapan seorang jenderal yang merencanakan serangan pertama. Ia tidak tidur. Tidur adalah kemewahan yang tidak ia butuhkan saat ini. Adrenalin adalah bahan bakarnya.
Ponselnya, yang ia abaikan selama berjam-jam, tiba-tiba bergetar hebat di atas meja. Sebuah panggilan masuk, lalu satu lagi, disusul rentetan notifikasi berita. Dengan enggan, ia meraihnya. Layarnya menyala dengan badai yang telah ia prediksi.
Portal berita bisnis terkemuka menampilkan foto dirinya dan Damian di acara semalam, foto yang diambil beberapa saat sebelum semuanya runtuh. Judulnya besar dan provokatif: "PERNIKAHAN EMAS ARSITEKTUR RETAK? NYONYA BLACKWOOD TINGGALKAN SUAMI DI MALAM KEMENANGAN." Portal gosip lebih kejam: "DRAMA DI PESTA ELIT: Ditinggal Istri Setelah Pidato Emosional Untuk Mendiang Tunangan, Hati Damian Blackwood Hancur Dua Kali?"
Narasi yang beredar jelas. Damian adalah sang korban-suami berbakti yang ditinggalkan oleh istri yang tidak stabil secara emosional, yang cemburu pada hantu. Aveline digambarkan sebagai sosok tragis yang rapuh atau, lebih buruk lagi, wanita pendendam yang kekanak-kanakan. Ia bisa melihat tangan Damian di balik semua ini. Ia adalah seorang maestro dalam mengendalikan persepsi publik.
Rasa marah yang dingin menjalari tulang punggungnya, tetapi tidak ada kepanikan. Ini adalah medan perang yang ia kenal. Selama tiga tahun, ia telah melihat bagaimana Damian membentuk opini, menghancurkan reputasi pesaing dengan rumor yang ditanam secara strategis, dan memoles citranya sendiri hingga bersinar tanpa cela. Sekarang, mesin yang sama diarahkan padanya.
"Kau butuh lebih dari sekadar pensil dan kertas untuk melawannya, Ve," bisiknya pada diri sendiri. Ia tahu langkah selanjutnya. Ia tidak bisa membangun sebuah kerajaan sendirian.
Panggilan pertamanya bukan kepada pengacara atau ayahnya, melainkan ke sebuah nomor yang sudah lama tidak ia hubungi. Panggilan itu dijawab pada dering kedua.
"Halo?" suara yang terdengar familier, sedikit serak karena baru bangun tidur.
"Reza? Ini Aveline."
Hening sejenak. "Aveline? Bos? Tunggu, kenapa kau menelepon dari nomor ini? Seluruh kantor mencarimu. Damian seperti..."
"Aku tidak lagi di Blackwood Corp, Reza," potong Aveline, suaranya tenang. "Dan aku bukan bosmu lagi. Aku menelepon untuk menawarkan pekerjaan baru."
Lagi-lagi hening, kali ini lebih lama. "Aku mendengarkan," kata Reza akhirnya, nada kantuknya hilang, digantikan oleh kewaspadaan.
Mereka bertemu satu jam kemudian di sebuah kedai kopi tua di kawasan Menteng. Bukan kafe mewah tempat para eksekutif mengadakan pertemuan, melainkan kedai sederhana dengan kursi rotan dan aroma kopi tubruk yang pekat. Ini adalah dunia Reza, bukan dunia Damian. Reza tiba, mengenakan jins dan kemeja flanel yang sedikit kusut. Matanya yang tajam langsung memindai Aveline, menilai kondisinya.
Reza adalah manajer proyek paling brilian yang pernah Aveline kenal. Ia bergabung dengan Blackwood Corp sebagai anak magang dan dengan cepat menanjak karena kemampuannya yang luar biasa dalam menerjemahkan visi arsitek yang paling liar sekalipun menjadi jadwal, anggaran, dan hasil yang konkret. Ia adalah jembatan antara mimpi dan realitas. Dan yang terpenting, ia adalah salah satu dari sedikit orang di Menara Blackwood yang tahu persis seberapa besar kontribusi Aveline pada Proyek Phoenix.
"Jadi, berita di media itu benar," kata Reza setelah memesan kopi hitam. Ia tidak bertanya, melainkan menyatakan fakta.
"Sebagian besar bohong, tapi bagian tentang aku meninggalkannya itu benar," jawab Aveline.
Reza mengangguk perlahan, menyeruput kopinya. "Aku hanya heran kenapa butuh waktu selama ini. Aku melihatmu di acara itu. Kau tampak seperti akan hancur atau meledak. Aku senang kau memilih untuk meledak."
Aveline tersenyum tipis, senyum tulus pertama dalam waktu yang lama. "Aku akan membangun firma sendiri. Namanya Fontaine Creations. Aku ingin kau menjadi orang pertama yang bergabung. Aku butuh seorang Kepala Proyek. Seseorang yang bisa mengubah sketsa-sketsa gilaku menjadi bangunan yang nyata."
Reza tidak terlihat terkejut. Ia hanya menatap Aveline lurus-lurus. "Kau tahu apa yang akan terjadi, kan? Damian tidak akan membiarkanmu begitu saja. Ini bukan lagi soal pernikahan. Ini soal bisnis. Kau adalah aset berharga yang kabur, dan kau tahu terlalu banyak rahasianya. Dia akan mencoba menghancurkanmu sebelum kau sempat meletakkan batu pertamamu."
"Aku tahu," kata Aveline.
"Dia akan mengikat semua klien besar. Dia akan menekan para pemasok untuk tidak bekerja sama denganmu. Dia akan menggunakan semua koneksi medianya untuk memastikan tidak ada yang mau berinvestasi padamu. Kau akan memulai dari nol, bahkan mungkin dari minus, dengan musuh sekuat Blackwood Corp," lanjut Reza, memaparkan kenyataan pahit tanpa basa-basi.
"Aku tahu," ulang Aveline, ketenangannya tidak goyah. "Itulah sebabnya aku membutuhkanmu. Aku punya visi. Aku butuh seseorang yang bisa membangun benteng di sekitarnya. Seseorang yang aku percaya."
Reza terdiam lama, matanya menatap ke dalam cangkir kopinya yang hitam pekat. Aveline menunggu, memberinya ruang untuk berpikir. Ia tahu ia meminta banyak. Ia meminta Reza untuk meninggalkan pekerjaan yang stabil dan bergaji tinggi untuk bergabung dengan sebuah perusahaan rintisan yang target utamanya adalah untuk dihancurkan oleh raksasa industri.
Akhirnya, Reza mengangkat kepalanya dan tersenyum miring. "Kapan kita mulai, Bos?"
Kelegaan yang hangat membanjiri Aveline. Ini adalah kemenangan pertamanya. Aliansi pertamanya telah terbentuk.
"Sekarang," jawabnya. "Tapi pertama-tama, kita butuh markas yang layak dan... modal."
Tantangan selanjutnya jauh lebih menakutkan daripada merekrut Reza. Ia harus menghadapi ayahnya.
Handoyo de la Fontaine menerima putrinya di ruang kerjanya yang megah di lantai atas Menara de la Fontaine. Ruangan itu adalah museum kesuksesan keluarga: dindingnya dilapisi kayu mahoni gelap, rak-rak buku dipenuhi literatur arsitektur klasik, dan di atas perapian marmer yang tidak pernah dinyalakan, tergantung potret Adiwangsa de la Fontaine yang menatap tajam, seolah mengawasi warisannya.
Ayahnya duduk di belakang meja berukuran besar, menatap Aveline dengan ekspresi yang sulit dibaca. Di atas meja, tergeletak tablet yang menampilkan artikel berita tentang 'drama' semalam.
"Aku sudah mengharapkan kedatanganmu," kata Handoyo, suaranya tenang namun mengandung kekecewaan. "Teleponku tidak berhenti berdering sejak pagi. Dari kolega, dari dewan direksi, bahkan dari bank. Kau menciptakan gelombang, Aveline."
"Aku hanya menolak untuk tenggelam, Ayah," balas Aveline, berdiri tegak di depan meja ayahnya. Ia tidak datang sebagai anak perempuan yang mencari perlindungan, ia datang sebagai seorang profesional.
"Meninggalkan suamimu di depan ratusan orang penting bukanlah cara menyelesaikan masalah," kata Handoyo. "Ada cara yang lebih... elegan. Lebih strategis. Apa yang kau lakukan itu impulsif. Buruk untuk citra keluarga, buruk untuk bisnis."
"Pernikahan itu sendiri adalah strategi bisnis, Ayah," balas Aveline. "Dan strategi itu telah gagal. Damian tidak melihatku sebagai mitra, ia melihatku sebagai sumber daya. Aku menolak untuk dieksploitasi lebih lama lagi. Aku datang ke sini bukan untuk meminta maaf. Aku datang dengan sebuah proposal."
Ia meletakkan sebuah map tipis di atas meja ayahnya. Di dalamnya ada beberapa lembar sketsa yang ia buat semalaman, bersama dengan draf rencana bisnis satu halaman untuk 'Fontaine Creations'.
Handoyo membukanya dengan skeptis. Matanya menyapu sketsa-sketsa itu-desain-desain yang berani, organik, dan sangat berbeda dari gaya kaku Blackwood Corp. Lalu ia membaca rencana bisnisnya. Visinya jelas: firma arsitektur butik yang berfokus pada desain inovatif dan berkelanjutan, menargetkan proyek-proyek yang dihindari oleh perusahaan besar karena terlalu menantang secara artistik.
"Kau ingin membangun firmanmu sendiri untuk bersaing dengan suamimu," kata Handoyo, lebih sebagai kesimpulan daripada pertanyaan.
"Bukan untuk bersaing dengannya," koreksi Aveline. "Untuk melampauinya. Untuk mengembalikan nama de la Fontaine ke tempatnya semula: sebagai pionir, bukan sekadar pemain korporat. Fontaine Legacy menjadi terlalu nyaman, terlalu aman. Kita sudah lama tidak menciptakan sesuatu yang benar-benar menggemparkan dunia arsitektur. Aku akan melakukannya."
Ada api dalam kata-katanya, gema dari semangat kakeknya yang didambakan oleh Handoyo namun tidak pernah bisa ia tiru sepenuhnya. Handoyo menatap putrinya, lalu ke potret ayahnya di dinding, lalu kembali ke sketsa di tangannya. Ia melihat lebih dari sekadar gambar. Ia melihat warisan. Ia melihat masa depan.
"Damian akan menghancurkanmu," kata Handoyo, mengulangi peringatan Reza.
"Biarkan dia mencoba," jawab Aveline. "Tapi aku tidak bisa melakukannya tanpa fondasi. Aku butuh ruang, Ayah. Dan aku butuh modal awal. Bukan sebagai hadiah, tapi sebagai investasi. Berinvestasilah pada putrimu. Berinvestasilah pada nama keluarga kita."
Keheningan yang panjang menyelimuti ruangan itu. Handoyo menimbang-nimbang, otaknya yang selalu berputar dalam kalkulasi bisnis kini beradu dengan kebanggaan seorang ayah. Akhirnya, ia mengambil telepon di mejanya.
"Rina," katanya kepada sekretarisnya. "Kosongkan lantai 17. Siapkan untuk renovasi. Dan hubungkan aku dengan bagian keuangan. Atur transfer dana awal ke rekening baru atas nama... Fontaine Creations."
Ia meletakkan teleponnya dan menatap Aveline. "Lantai 17 memiliki pemandangan terbaik ke arah pusat kota. Kakekmu dulu sering berdiri di sana. Jangan kecewakan dia."
Aveline mengangguk, rasa terima kasih yang mendalam memenuhi hatinya. "Aku tidak akan."
Satu minggu kemudian. Lantai 17 Menara de la Fontaine masih kosong dan berbau cat baru. Dinding-dinding kaca dari lantai ke langit-langit menyajikan pemandangan panorama Jakarta yang memukau. Di kejauhan, Menara Blackwood berdiri seperti pedang gelap yang menantang langit.
Aveline dan Reza berdiri di tengah ruangan yang luas itu, sebuah kanvas kosong yang siap mereka lukis. Reza memegang tablet, menampilkan daftar proyek-proyek kecil yang potensial: renovasi lobi hotel butik, desain rumah mewah di pinggir kota, sebuah galeri seni.
"Kita bisa mulai dari sini," kata Reza. "Proyek-proyek kecil, cepat, untuk membangun portofolio dan arus kas. Aman dan strategis."
Aveline hampir tidak mendengarkan. Matanya tertuju pada pemandangan di luar jendela. Tatapannya melewati Menara Blackwood, tertuju pada sebuah area luas di pesisir utara kota-kawasan pelabuhan tua yang terbengkalai.
"Apa itu?" tanyanya.
Reza mengikuti arah pandangannya. "Oh, itu. Proyek Revitalisasi Dermaga Kertajaya. Rencana besar pemerintah kota. Tender akan dibuka bulan depan. Skalanya tiga kali lipat Proyek Phoenix. Semua orang bilang itu sudah pasti jadi milik Blackwood atau konsorsium asing. Tidak ada yang berani menyentuhnya."
Aveline terus menatap area itu. Sebuah lahan luas yang terluka, menunggu untuk disembuhkan dan dilahirkan kembali. Sebuah tantangan yang mustahil. Sebuah panggung yang sempurna.
"Damian berpikir aku akan bersembunyi di balik proyek-proyèk kecil, menjilat lukaku, dan perlahan-lahan membangun kekuatanku," kata Aveline pelan, lebih pada dirinya sendiri. "Dia mengharapkan aku bermain aman."
Ia berbalik menghadap Reza, matanya berkilat dengan ambisi yang begitu besar hingga terasa nyaris berbahaya.
"Dia salah. Kita tidak akan memulai dengan kerikil, Reza. Kita akan langsung membidik gunung itu."
Reza menatapnya, lalu ke tabletnya yang berisi daftar proyek aman, lalu kembali ke wajah bos barunya yang penuh tekad. Senyum perlahan terkembang di wajahnya. Ini akan menjadi perjalanan yang gila. Dan ia tidak sabar untuk memulainya.