Pernikahan ini... omong kosong.
Adhitama menatap pantulan dirinya di cermin, rahangnya mengeras. Tuxedo hitam yang ia kenakan hari ini terasa seperti borgol, mencekiknya, membatasi setiap inci kebebasannya. Di sampingnya, riuh rendah perayaan di ballroom hotel bintang lima itu terasa semakin memuakkan. Mereka merayakan sesuatu yang mati sebelum sempat bernapas.
Dia tahu, dia seharusnya ada di sini, berdiri di pelaminan itu. Tapi bukan dengan Riani. Seharusnya dengan Kiara, kekasihnya, wanita yang sudah ia impikan sejak dulu. Tapi takdir, atau lebih tepatnya, kehendak ayahnya, menamparnya telak. Kiara pergi. Dan untuk mengamankan posisi Adhit di perusahaan-dan warisan yang sudah diujung tanduk-ayahnya mendesaknya, memaksanya, mengancamnya untuk menikahi Riani.
Seorang janda. Nyaris tak ia kenal.
Adhit menyesap whiskey-nya cepat. Rasa pahitnya tak sebanding dengan rasa marah yang membakar di dalam dadanya. Ia kembali menghadap cermin, lantas berbalik saat pintu kamar ganti pribadi itu terbuka perlahan.
Riani masuk.
Seketika, aura dingin Adhit meningkat sepuluh derajat. Riani tampak... tenang. Terlalu tenang, pikir Adhit. Dalam gaun pengantin putih yang panjang, Riani terlihat anggun, tapi di mata Adhit, ia hanya melihat sosok wanita yang telah merenggut segalanya. Gaun itu tidak membuatnya terlihat seperti pengantin impiannya. Gaun itu hanya membungkus penyesalan terbesarnya.
Riani menutup pintu di belakangnya tanpa suara. Ruangan itu kedap, membiarkan keheningan tebal mengisi kekosongan.
"Kita akan pulang sebentar lagi," ucap Adhit, suaranya datar dan keras, tanpa basa-basi. Ia tidak menoleh, pura-pura sibuk membenarkan dasi kupu-kupunya yang sudah sempurna.
Riani melangkah lebih dekat, tapi berhenti di jarak yang sopan. "Iya, aku tahu." Suaranya lembut, tanpa getaran.
Itu yang paling mengesalkan bagi Adhit. Riani terlalu menerima. Tidak ada air mata, tidak ada protes, tidak ada upaya untuk mendekat, seolah ia benar-benar hanya menjalankan tugas.
Adhit akhirnya berbalik, menatap Riani lurus-lurus. Matanya menantang, mencari celah, mencari keraguan di mata Riani. Tapi yang ia temukan hanyalah sepasang mata cokelat yang teduh, tenang seperti danau di pagi hari.
"Dengar," Adhit melangkah, kini jarak mereka hanya beberapa langkah. "Aku akan bicara blak-blakan, agar kita tidak buang waktu."
Riani mengangkat dagunya sedikit, menunggunya bicara.
"Pernikahan ini tidak nyata," kata Adhit, menekankan setiap kata. "Ini kontrak. Transaksi. Kita berada di sini karena Ayahku. Dan kau ada di sini karena hutang budi, atau apalah alasan konyol yang kau berikan pada keluarga."
Ia melihat kilasan rasa sakit di mata Riani, tapi itu hanya sepersekian detik. Riani segera mengendalikan ekspresinya.
"Aku mengerti, Mas Adhit," balas Riani, menggunakan panggilan formalitas yang membuat Adhit merinding.
"Jangan potong aku," potong Adhit tajam. "Aku belum selesai. Kita akan tinggal di bawah satu atap, itu keharusan. Tapi kau harus tahu batasmu."
Adhit meletakkan gelas whiskey-nya di meja rias, menimbulkan bunyi yang keras.
"Pertama. Kamar kita terpisah. Malam ini, dan seterusnya. Aku akan meminta Bi Ijah menyiapkan kamar tamu di ujung koridor untukmu. Kau punya kuncimu sendiri. Jangan pernah memasuki kamarku tanpa izinku. Aku tidak peduli kau istriku secara hukum. Bagiku, kau adalah... rekan sekamar yang dipaksakan."
Riani mengangguk pelan. "Baik."
"Kedua. Di depan keluarga dan publik, kita harus bersikap layaknya suami istri. Kau mengerti? Senyum, genggam tanganku di acara formal, anggukan kepala saat aku bicara. Hanya akting. Begitu kita di dalam mobil, atau di rumah, kau kembali ke posisimu. Diam, dan jaga jarak."
"Aku paham. Aku akan bersikap profesional," jawab Riani, suaranya tetap stabil.
Adhit merasa darahnya mendidih. Profesional? Wanita ini bicara seolah mereka sedang menjalankan proyek kantor. Ia ingin Riani melawan, ingin Riani menunjukkan sedikit emosi, sedikit rasa sakit, agar ia bisa membenarkan sikap kasarnya. Tapi Riani tidak memberinya apa-apa.
"Ketiga. Kita tidak akan pernah memiliki... keintiman. Aku tidak akan pernah menyentuhmu, dan kau tidak perlu mencoba apa pun yang membuatku berpikir sebaliknya. Aku punya hidupku, kau punya hidupmu. Kita hanya berbagi alamat surat menyurat."
Adhit sengaja membuat kata-katanya setajam belati. Ia menatap lekat, berharap melihat air mata atau setidaknya getaran di bibir Riani.
"Aku menghormati keputusanmu, Mas Adhit," kata Riani. Ia menarik napas tipis. "Aku datang ke pernikahan ini bukan untuk mencuri hatimu, atau menggantikan siapa pun di hidupmu. Aku di sini untuk melunasi janji. Ketika janji itu selesai, aku akan pergi. Tanpa drama, tanpa tuntutan."
Pengakuan Riani, yang terdengar sangat tulus, justru membuat Adhit semakin curiga. Kenapa semudah ini? Kenapa ia tidak merengek, tidak memohon, tidak mencoba untuk setidaknya menanyakan kenapa Adhit begitu membencinya?
"Bagus kalau kau sadar diri," ejek Adhit, melipat tangannya di dada. "Satu hal lagi. Aku akan memberimu uang bulanan yang lebih dari cukup. Anggap itu kompensasi atas drama yang harus kau jalani. Ambil. Tapi jangan pernah berpikir uang itu akan memberimu hak untuk mencampuri urusanku, terutama soal Kiara. Aku tidak ingin ada satu pun pertanyaan tentangnya."
"Aku tidak butuh uangmu, Mas Adhit," sahut Riani, kini ada sedikit nada tegas dalam suaranya. "Aku di sini bukan untuk menjual diri. Uang itu, silakan gunakan untuk kebutuhanmu sendiri. Aku masih bisa mencari nafkah."
Penolakan Riani terhadap uang itu terasa seperti tamparan tak terduga. Adhit terdiam sejenak. Ia sudah menyiapkan skenario bahwa Riani adalah wanita materialistis yang akan dengan senang hati menerima setoran bulanannya. Kenyataannya, Riani justru menolak.
"Jangan bodoh," desis Adhit. "Ambil saja. Itu bagian dari transaksi ini. Agar kau tidak bisa berdalih bahwa aku tidak memberimu apa-apa."
"Aku akan menggunakannya seperlunya untuk operasional rumah tangga, jika itu bagian dari tugasku," kata Riani, memegang buket bunga mawar putihnya erat-erat. "Selebihnya, aku tidak akan menyentuhnya."
Adhit menghembuskan napas panjang. Ia merasa lelah berdebat dengan ketenangan Riani. Ia berharap wanita ini adalah lawan yang mudah ditebak, tapi Riani adalah kotak hitam.
"Terserah kau," Adhit menyerah untuk saat ini. "Yang jelas, kau sudah dengar aturannya. Jangan sampai kau melanggarnya, Riani. Karena kalau kau melanggar, aku tidak akan segan-segan membuat hidupmu-"
"-Aku tidak akan melanggar. Aku hanya ingin menjalani sisa kontrak ini dengan damai," Riani memotongnya, tidak dengan nada marah, tapi dengan kejujuran yang menenangkan.
Mereka terdiam lagi. Adhit menatapnya. Sekarang ia memperhatikan detail Riani. Kulitnya yang bersih. Matanya yang besar. Punggungnya yang tegak. Ia mengakui, Riani cantik. Kecantikannya alami, tidak menantang, tapi justru itu yang membuatnya terlihat kuat.
Tiba-tiba, ia merasakan dorongan aneh, sebuah dorongan untuk bertanya.
"Kenapa kau setuju melakukan ini, Riani?" tanyanya, nada suaranya sedikit lebih rendah, tidak lagi berupa perintah. "Kau harus menikah dengan pria yang membencimu, hanya demi 'hutang budi'? Hutang macam apa yang sampai mengharuskan kau mengorbankan masa depanmu?"
Riani tersenyum tipis. Senyum itu tidak menjangkau matanya. Itu adalah senyum kesedihan yang ia tutupi dengan baik.
"Itu urusanku, Mas Adhit. Sama seperti Kiara adalah urusanmu," jawab Riani, menggunakan peraturannya sendiri untuk memblokir Adhit.
Adhit merasa seperti dipukul balik. Riani benar. Ia sudah melarang Riani bertanya tentang Kiara, jadi Riani juga berhak menjaga rahasia pribadinya.
"Baiklah," Adhit mengalah, membiarkan kemarahannya mereda. "Aku hanya ingin semuanya jelas. Aku tidak akan pernah menginginkanmu di sini, Riani. Kehadiranmu hanya membuatku teringat betapa kacau hidupku sekarang. Jadi, tolong, buat dirimu tidak terlihat."
Riani mengangguk, kali ini tanpa senyum. Rasa sakit itu akhirnya kembali ke matanya, namun ia menelannya cepat.
"Aku akan berusaha, Mas Adhit. Sekarang, pesta hampir selesai. Kita harus kembali ke hadapan tamu," kata Riani, melangkah ke pintu.
Adhit memperhatikan Riani. Ia menyadari sesuatu. Riani tidak pernah mencoba menyentuhnya, tidak pernah mencoba mendekat, bahkan saat pernikahan ini dilangsungkan. Ia selalu menjaga jarak, bahkan sebelum Adhit membuat peraturan itu.
Dia terlalu tenang. Terlalu menerima. Seolah keberadaanku di hidupnya tak berarti apa-apa.
Perasaan itu, rasa bahwa dirinya tidak berarti bagi Riani, entah kenapa, lebih menyebalkan daripada perlawanan terbuka. Ia berharap Riani setidaknya peduli pada penolakannya. Tapi Riani tampak acuh tak acuh.
"Tunggu," panggil Adhit, sebelum Riani sempat membuka pintu.
Riani berbalik. "Ada lagi?"
Adhit melangkah maju, meraih tangan Riani. Ia melakukan ini bukan karena ia ingin menyentuh Riani. Ia melakukan ini karena ini adalah bagian dari sandiwara. Di pelaminan, mereka harus bergandengan.
Riani terkejut. Tubuhnya sedikit menegang saat jari-jari Adhit yang dingin menyentuh kulitnya.
"Kita sudah sepakat, sandiwara harus sempurna," kata Adhit, suaranya kembali dingin dan penuh perintah. "Tunjukkan senyummu. Senyum bahagia. Bukan ekspresi tertekan seperti itu. Orang akan curiga."
Adhit menarik Riani lebih dekat, hanya untuk mengoreksi ekspresinya. Riani memejamkan mata sesaat, lalu membukanya dan memaksakan seulas senyum di bibirnya. Senyum itu terlihat palsu, tapi cukup meyakinkan untuk publik.
"Ayo," ajak Adhit, melepaskan genggaman tangannya saat Riani sudah siap.
Mereka keluar dari ruangan kedap suara itu dan langsung disambut oleh tatapan puluhan orang. Tawa, tepuk tangan, dan suara musik menyergap mereka.
Saat kembali berjalan di samping Riani menuju meja utama, Adhit kembali meraih tangan Riani, menggenggamnya erat, seolah mereka adalah pasangan yang paling bahagia di dunia.
Riani, tanpa diminta, membalas genggamannya, dan tekanan jari Riani terasa lembut, namun kuat. Ia bahkan berbalik sebentar, menatap Adhit dengan mata yang sekarang menunjukkan kebahagiaan palsu yang sempurna.
Saat itu, Adhit sadar, Riani adalah seorang aktris yang handal.
Dan ini adalah pertunjukan yang harus ia mainkan selama ia tidak tahu sampai kapan. Ia benci setiap detik pertunjukan ini. Ia benci Riani karena telah menjadi bagian dari panggung sandiwara hidupnya. Tapi, lebih dari segalanya, ia benci dirinya sendiri karena tidak bisa menolak kehendak ayahnya.
Mereka duduk di kursi pelaminan. Di depan semua orang, Adhit bahkan menyandarkan kepalanya sebentar ke bahu Riani, hanya untuk melihat reaksi ibunya. Sempurna. Ibunya tersenyum lega.
Riani, saat Adhit menyandarkan kepala, tidak bergerak. Ia tidak menyambut, tidak juga menolak. Ia hanya diam, membiarkan Adhit bersandar padanya seperti pada bantal. Tindakan pasif itu sekali lagi membuat Adhit merasa dirinya tidak berarti. Ia segera menegakkan tubuhnya kembali.
Malam itu, Adhit menghabiskan sisa acara dengan menghindari kontak mata dengan Riani, berbicara hanya seperlunya, dan membiarkan Riani menjawab pertanyaan-pertanyaan basa-basi dari tamu. Riani menjawab semua dengan anggun, menyebut Adhit 'suami yang baik' dan 'pria yang sabar'. Kebohongan-kebohongan itu terdengar begitu alami dari bibirnya.
Pukul 11 malam, mereka akhirnya meninggalkan hotel. Di dalam mobil mewah, Adhit melepas dasi kupu-kupunya kasar dan melemparkannya ke kursi belakang.
"Kerja bagus," kata Adhit sinis, tanpa menatap Riani. "Kau layak dapat Oscar untuk peran itu."
Riani hanya menoleh ke luar jendela. "Terima kasih."
Jawaban yang santai itu membuat Adhit semakin frustrasi. Ia ingin Riani bereaksi, ingin Riani menunjukkan bahwa ia terluka dengan sindiran itu.
"Kau tidak punya perasaan, ya?" tanya Adhit, nadanya sekarang lebih menyerang.
Riani menoleh perlahan. "Aku punya, Mas Adhit. Hanya saja, aku tidak perlu menunjukkannya padamu. Aku sudah membuat janji untuk melunasi hutang budi, dan janji itu bukan tentang perasaanku. Janji itu tentang komitmen pada skenario ini."
"Kau gila," Adhit mendengus.
"Mungkin," jawab Riani sambil tersenyum lagi. Tapi kali ini, senyum itu benar-benar terlihat pahit. "Atau mungkin aku hanya lebih realistis. Aku tahu aku bukan pilihanmu. Dan aku menghormati itu. Aku tidak akan pernah mencoba menjadi sesuatu yang bukan aku di matamu."
Adhit terdiam. Riani mengucapkan kebenaran yang kejam, namun ia mengucapkannya dengan ketenangan yang menghancurkan.
Sampai mereka tiba di rumah Adhit yang megah.
"Aku akan minta Bi Ijah menyiapkan kamar tamu. Kamar di ujung koridor lantai dua. Pastikan kau tahu batasmu, Riani," kata Adhit sebelum keluar dari mobil.
Adhit bahkan tidak menunggu Riani. Ia langsung masuk ke rumah. Saat ia mencapai tangga, ia berbalik. Riani masih berdiri di ambang pintu, tampak kecil dan sendirian di bawah lampu kristal yang mahal.
"Besok pagi, kita sarapan bersama. Hanya di meja makan. Untuk dilihat oleh para pelayan," perintah Adhit, sebagai bagian dari skenario pernikahan yang harus terus dimainkan.
"Tentu," jawab Riani, anggun.
Adhit menaiki tangga tanpa menoleh lagi. Ia masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan membuang pakaian formalnya. Ia kemudian berjalan ke kamar mandi, menyalakan pancuran air dingin. Di bawah guyuran air, ia berharap ia bisa membersihkan dirinya dari hari yang penuh sandiwara ini, dan yang paling penting, membersihkan otaknya dari bayangan Riani.
Tapi yang paling mengganggunya saat itu bukanlah rasa marahnya, melainkan keheningan Riani yang mematikan. Keheningan yang menunjukkan bahwa Adhit tidak punya kekuatan apa pun untuk menyentuh hati wanita itu. Keheningan itu membuat Adhit merasa tidak penting.
Di sisi lain, setelah Adhit naik, Riani berdiri di sana selama beberapa menit, membiarkan keheningan rumah besar itu memeluknya. Ia melepaskan senyum yang ia kenakan sepanjang malam.
Dadanya terasa sesak. Kata-kata Adhit-tidak nyata, transaksi, aku tidak akan pernah menginginkanmu-berputar-putar di kepalanya. Tentu saja itu menyakitkan. Siapa yang tidak terluka saat pernikahannya dimulai dengan deklarasi perang?
Tapi Riani menarik napas dalam. Ini adalah harga yang harus ia bayar. Sebuah janji yang harus dilunasi.
Ia kemudian berjalan pelan menuju dapur. Bi Ijah menyambutnya dengan tatapan khawatir.
"Nyonya Riani, selamat datang. Maafkan Den Adhit, dia memang begitu..."
Riani tersenyum pada Bi Ijah, senyum yang kali ini lebih tulus. "Tidak apa-apa, Bi. Aku sudah tahu risikonya."
"Den Adhit menyuruh saya menyiapkan kamar di ujung koridor..."
"Iya, Bi. Tolong tunjukkan jalannya. Dan tolong, untuk besok, siapkan menu sarapan biasa saja. Jangan terlalu repot," pinta Riani.
Bi Ijah mengantar Riani ke kamar tamu. Kamar itu besar, mewah, tapi dingin. Riani duduk di tepi ranjang. Ia membuka resleting gaun pengantinnya perlahan, melepaskan mahkota kecil di kepalanya. Ia tidak menangis. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis.
Riani memandang sekeliling kamar. Di meja samping tempat tidur, ia melihat sebuah Alkitab kecil. Ia membukanya, membaca satu ayat yang selalu memberinya kekuatan.
"Aku akan baik-baik saja," bisik Riani pada dirinya sendiri. "Ini hanya sementara."
Ia lalu berganti pakaian. Saat ia melihat gaun pengantin itu teronggok di lantai, ia tidak merasa menyesal. Ia hanya melihatnya sebagai kostum yang harus ia kenakan.
Ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di lantai dua. Tujuannya bukan mengintai Adhit, tapi hanya mencoba mengenali rumah ini. Ia berjalan melewati kamar-kamar kosong, hingga ia berdiri di depan pintu kamar Adhit. Pintu itu tertutup rapat, dan dari dalam, ia bisa mendengar samar-samar suara gemericik air dari pancuran kamar mandi.
Riani tahu, di balik pintu itu, ada pria yang sangat membencinya.
Ia mengangkat tangannya, ingin mengetuk, mungkin menawarkan air atau makanan. Tapi ia menarik tangannya kembali. Tidak. Ia sudah diberi instruksi. Jaga jarak, buat dirimu tidak terlihat.
Ia tahu, jika ia menembus batas itu sekarang, Adhit akan menganggapnya sebagai agresi. Adhit akan berpikir ia sedang mencoba merebut sesuatu.
Riani berbalik. Ia berjalan ke kamarnya sendiri. Ia menyadari satu hal: untuk bertahan di rumah ini, ia harus lebih dingin dari Adhit. Ia harus menjadi cangkang kosong, membiarkan kata-kata pedas Adhit mental begitu saja. Hanya dengan begitu, ia bisa melunasi janjinya dan pergi dengan kepala tegak.
Malam itu, Adhit tidur sendirian di kamarnya yang besar, dikelilingi kemarahan. Riani tidur sendirian di kamarnya yang besar, dikelilingi kesepian yang tenang.
Tembok es sudah resmi dibangun. Dan ironisnya, yang membangun tembok itu adalah Adhit, tapi yang tampaknya paling nyaman dengan tembok itu adalah Riani. Ini adalah awal dari pernikahan mereka, yang bukan didasari cinta, tapi didasari oleh penolakan yang keras dan penerimaan yang misterius.
Keesokan paginya, Adhit turun. Ia melihat Riani sudah duduk di meja makan. Riani sudah berpakaian rapi, kemeja putih sederhana dan celana panjang berwarna navy. Ia terlihat seperti siap pergi bekerja, bukan seperti pengantin baru.
"Pagi," sapa Adhit, lagi-lagi dengan suara datar.
"Pagi, Mas Adhit," balas Riani, tanpa mengalihkan pandangan dari cangkir tehnya.
Bi Ijah datang membawa sarapan. Adhit makan dengan cepat dan tanpa suara.
"Aku akan pergi ke kantor," kata Adhit, setelah menghabiskan kopinya.
"Baik," jawab Riani.
"Aku akan pulang larut. Jangan tunggu aku," tambah Adhit, ia mencoba memberikan perintah yang lebih tajam.
"Aku tidak pernah menunggu siapa pun, Mas Adhit," kata Riani, akhirnya menatapnya. Matanya tenang, tanpa cela, tanpa emosi. "Aku sudah punya kegiatan sendiri. Jangan khawatir."
Adhit membeku di tempatnya. Ia ingin Riani menanyakan ke mana ia pergi, atau setidaknya menunjukkan sedikit kepedulian. Jawaban Riani yang begitu independen itu sekali lagi membuatnya merasa, dalam pernikahan ini, dia adalah pihak yang tidak penting.
Adhit pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Pintu depan tertutup dengan suara keras, meninggalkan Riani sendirian di meja makan besar itu, sambil menikmati tehnya dengan santai.
Ia harus terus bersikap seperti ini. Jika Adhit menganggapnya tidak penting, maka ia akan menjadi tidak penting. Jika Adhit menganggapnya hanya formalitas, maka ia akan menjadi formalitas. Itu adalah satu-satunya cara ia bisa bertahan sampai hari di mana ia bisa meninggalkan rumah ini, dan Adhitama, untuk selamanya.
Tapi di dalam hati Riani, ada bagian kecil yang berbisik, bertanya-tanya: Akankah Adhit pernah melihatku lebih dari sekadar pengantin pengganti?
Ia segera membungkam suara itu. Tidak. Tidak akan pernah. Ia harus fokus pada misinya, bukan pada hati pria yang sudah membencinya sejak awal.
Ia bangun dari kursi, merapikan cangkirnya, dan bersiap untuk hari pertamanya sebagai 'istri' di rumah yang asing ini. Sandiwara dimulai.
Adhit benci akhir pekan. Bukan karena dia anti sosial, tapi karena akhir pekan berarti kewajiban. Dan kewajiban terbesar sekarang adalah memenuhi undangan makan malam di rumah utama, rumah kedua orang tuanya.
Rumah itu terasa seperti ruang interogasi, apalagi sejak dia membawa Riani ke sana sebagai istrinya.
"Kau sudah siap?" Adhit bertanya tanpa menoleh. Dia sedang mengancingkan manset di pergelangan tangannya.
Riani keluar dari kamar tamunya. Hari ini dia mengenakan dress selutut berwarna abu-abu muda, sangat sederhana. Tidak mencolok, tapi tetap elegan. Itu membuat Adhit sedikit lega. Dia tidak perlu khawatir Riani akan mencoba menarik perhatian berlebihan.
"Sudah, Mas Adhit," jawab Riani. Dia berdiri di ambang pintu, menunggu.
"Ingat aturannya," Adhit mengingatkan, suaranya tajam. "Ini panggung sandiwara terbesar kita. Ibu akan mengawasimu, mengawasi setiap gerak-gerikmu. Jangan sampai kau membuatku terlihat bodoh, atau membuat diriku semakin terpojok soal warisan."
Riani mengangguk. "Aku tahu tugas sandiwaraku. Senyum, pegangan tangan, angguk."
Ada sedikit nada lelah di suara Riani, atau mungkin itu hanya perasaan Adhit saja. Tapi kelelahan itu cepat hilang, digantikan oleh ekspresi tenang yang menyebalkan.
Di perjalanan, mobil terasa hening mencekam. Adhit sibuk dengan pikirannya sendiri, memikirkan bagaimana cara menghadapi ibunya, Sasmita, yang pasti sudah menyiapkan rentetan pertanyaan jebakan. Ibunya adalah seorang master dalam seni manipulasi emosional.
"Mas Adhit," Riani tiba-tiba memecah keheningan.
Adhit menoleh, sedikit terkejut. "Apa?"
"Apa yang harus aku katakan jika Ibu bertanya tentang... tentang kamar?"
Adhit menatap Riani, matanya menyipit. "Apa? Kau takut melanggar aturan yang sudah kubuat?"
"Aku hanya memastikan skenario kita sinkron. Aku tidak ingin jawaban yang bertentangan dengan ceritamu di depan Ibu. Itu bisa merusak citra pernikahan ini," jelas Riani, suaranya praktis dan logis.
Adhit merasa seperti baru saja dikritik oleh manajer proyek. "Bilang saja kita masih penyesuaian. Bilang saja aku... aku terlalu sibuk dengan kantor, tapi kau sabar menunggu. Itu terdengar manis dan pasrah, kan?"
"Baik. Penyesuaian, sabar menunggu. Aku catat," Riani mengangguk, lalu kembali menatap ke luar jendela.
Jawaban itu membuat Adhit makin kesal. Kenapa dia harus mencatat seperti sedang menghadiri rapat dewan direksi? Kenapa dia tidak sedikit saja terlihat emosional?
Setibanya di rumah utama, suasana langsung terasa hangat-terlalu hangat. Begitu masuk, Riani langsung disambut pelukan erat dari Ibu Sasmita.
"Oh, Sayang! Akhirnya kamu datang. Kamu tahu, Ibu senang sekali kamu sekarang jadi menantu Ibu. Kamu membawa ketenangan," ujar Ibu Sasmita, memeluk Riani erat-erat, seolah Riani adalah anak perempuannya yang hilang.
Adhit memutar bola mata. Tentu saja, Riani membawa ketenangan. Karena Riani itu selembar kertas kosong yang bisa diisi dengan harapan dan manipulasi.
Adhit hanya menyapa ayahnya, Pak Dirgantara, dengan anggukan kaku. Pak Dirgantara hanya tersenyum tipis, matanya mengawasi Adhit dan Riani secara bergantian.
Di meja makan, sandiwara pun dimulai. Riani duduk di samping Adhit. Tangan Riani berada di pangkuannya, tapi setiap kali Ibu Sasmita melihat, Riani dengan cepat meletakkan tangannya di atas tangan Adhit yang tersembunyi di bawah meja. Sentuhan itu sangat singkat, hanya tekanan kecil, tapi cukup untuk menjaga ilusi. Adhit merasa jijik.
Pertanyaan-pertanyaan dimulai begitu hidangan pembuka selesai.
"Riani, kamu suka masakan Ibu? Ibu sengaja masak sup tom yam karena Adhit bilang kamu suka masakan pedas," tanya Ibu Sasmita, tersenyum manis.
Adhit hampir tersedak. Dia tidak pernah tahu makanan kesukaan Riani. Dia bahkan tidak pernah bertanya.
"Sangat enak, Bu. Mas Adhit bilang Ibu pandai sekali memasak," jawab Riani, melirik Adhit sekilas dengan senyum paling meyakinkan.
Adhit hanya bisa mengangguk kaku, mendadak menjadi suami yang perhatian. Ia menyadari betapa mudahnya Riani mengisi kekosongan informasi tentang mereka.
Lalu, datanglah serangan utama. Ibu Sasmita menurunkan garpunya, tatapannya beralih dari Riani ke Adhit, lalu kembali ke Riani dengan tatapan penuh harapan.
"Sayang, Ibu tidak ingin memaksa, tapi kalian kan sudah menikah. Warisan itu... ya, Ibu tahu itu urusan perusahaan, tapi Adhit butuh keamanan. Kami berdua berharap, kalian bisa segera memberikan cicit untuk kami."
Jantung Adhit berdetak kencang. Ini dia. Pertanyaan yang paling ia takuti. Itu berarti, Ibu tahu mereka belum... belum melakukan apa-apa.
Adhit sudah siap membuka mulut, mencari alasan klise seperti "masih sibuk," atau "belum siap," tapi Riani mendahuluinya.
"Ibu, terima kasih atas doanya," ujar Riani, suaranya tetap lembut, tidak defensif sama sekali. Dia bahkan meraih tangan Ibu Sasmita di meja, tindakan yang membuat Adhit terpaku.
"Aku mengerti harapan Ibu dan Bapak. Tentu saja, aku juga ingin itu terjadi. Tapi Mas Adhit, dia pria yang sangat menghargai perasaanku. Dia tahu aku baru saja kehilangan, dan dia tidak mau terburu-buru. Dia bilang, dia mau aku benar-benar siap, secara mental dan emosional, sebelum kami melangkah lebih jauh."
Riani berhenti sejenak, menatap Adhit dengan mata penuh adorasi palsu yang membuat Adhit ingin mencekiknya di tempat.
"Mas Adhit adalah pria yang sangat menghormati. Dan aku sangat menghargai kesabarannya. Kami sedang dalam tahap penyesuaian, Bu. Tolong doakan saja agar semuanya berjalan lancar, ya?"
Boom.
Riani telah membalikkan keadaan. Dia tidak hanya menangkis pertanyaan itu, tetapi dia juga mengubah Adhit menjadi suami yang sangat baik, penuh pengertian, dan menghormati. Alih-alih menyalahkan Riani, Ibu Sasmita justru menatap Adhit dengan bangga.
"Oh, Adhit! Ibu tidak menyangka. Syukurlah kalau kamu bersikap dewasa seperti itu, Nak," ujar Ibu Sasmita, matanya berkaca-kaca.
Ayah Adhit tersenyum, mengangguk. "Ya, bagus Adhit. Itu yang namanya menghormati pasangan."
Adhit ingin berteriak bahwa ini semua bohong, bahwa Riani hanya memainkan peran drama yang sempurna. Tapi ia terjebak. Ia tidak bisa membantah. Jika ia membantah, itu berarti ia mengakui bahwa ia adalah pria dingin yang tidak menghormati Riani. Skenario Riani membuatnya terlihat sebagai pahlawan, dan jika ia melawan, ia akan terlihat seperti pecundang.
Rasa marah Adhit tidak tertuju pada Ibunya, tapi pada Riani. Wanita ini benar-benar lihai. Dia menggunakan aturan Adhit (yaitu menjaga jarak) untuk menjadikannya pria terhormat di depan keluarganya.
Sisa makan malam terasa menyiksa bagi Adhit. Setiap kali Riani berbicara, setiap kali dia tertawa kecil menanggapi lelucon Ayah, Adhit merasa Riani adalah alien yang memakai kulit manusia. Ia terlalu pandai bermain peran.
Saat mereka akhirnya pamit pulang, Ibu Sasmita memeluk Riani sekali lagi. "Kamu itu memang menantu terbaik, Riani. Sabar, pengertian, dan lembut. Tolong jaga Adhit baik-baik, ya."
Riani hanya tersenyum dan mengangguk.
Di dalam mobil, begitu pintu tertutup, suasana dingin kembali memenuhi ruang. Adhit menatap lurus ke depan, tapi rahangnya mengeras.
"Kenapa kau bilang begitu?" desis Adhit, suaranya rendah dan berbahaya. "Kenapa kau harus berbohong bahwa aku menghormatimu?"
Riani menoleh, ekspresinya kembali tenang. "Aku hanya mengikuti instruksimu, Mas Adhit. Sandiwara harus sempurna, bukan?"
"Itu namanya manipulasi, Riani! Kau membuatku terlihat seolah-olah aku pria suci yang sangat menghormatimu! Sementara kau tahu sendiri, aku melakukan ini karena aku tidak mau menyentuhmu!"
"Aku hanya menggunakan kebenaran yang sudah kau deklarasikan di Bab 1," balas Riani, nadanya santai. "Kau yang membuat aturan jarak, Mas Adhit. Dan di depan Ibu, aku hanya membenarkan aturan itu dengan alasan yang lebih diterima masyarakat: rasa hormat dan empati karena masa laluku."
Adhit membanting tangannya ke konsol mobil, tapi ia segera mengendalikan diri. Pengemudi mereka mungkin bisa mendengar.
"Kau sengaja membuatku terjebak, kan? Kau ingin Ibu melihatku sebagai pria yang baik agar kau mendapat simpati dan posisi yang kuat!" tuduh Adhit, matanya menembus Riani.
Riani menggeleng pelan. "Aku tidak butuh simpati, Mas Adhit. Aku butuh ketenangan. Jika Ibu percaya bahwa kau bersikap baik padaku, maka Ibu tidak akan terlalu sering mengganggu kita untuk urusan anak. Bukankah itu juga menguntungkanmu? Kau tidak perlu dipaksa untuk tidur denganku."
Kata-kata Riani menusuk Adhit telak. Riani memang benar. Dengan membuat Adhit terlihat baik, Riani sebenarnya melindungi batas yang telah mereka sepakati. Dia melindungi dirinya dari intervensi, yang secara otomatis melindungi Adhit dari tuntutan konsumasi.
Namun, Adhit tidak bisa menerima bahwa ia 'diselamatkan' oleh Riani.
"Jangan berpikir kau bisa mendikteku," kata Adhit keras. "Aku tahu kau punya motif. Warisan itu. Aku tahu kau pasti punya motif tersembunyi untuk hutang budi konyolmu itu."
Riani menarik napas dalam. "Aku tidak peduli pada warisanmu, Mas Adhit. Aku di sini karena Ayahmu. Bukan karena hartamu. Kau bisa memercayainya atau tidak. Itu bukan urusanku. Tugasku hanya satu: menjadi istrimu di depan mata publik sampai batas waktu yang ditentukan, lalu pergi. Dan selama aku di sini, aku akan menjaga kehormatanku sendiri."
Riani menoleh ke jendela lagi. "Lagi pula, bukankah kau yang meminta aku untuk 'membuat diriku tidak terlihat'? Dengan membuat alasan bahwa kau menghormatiku, aku memastikan tidak ada drama yang menarik perhatianmu. Aku hanya menuruti maumu."
Adhit terdiam. Riani selalu bisa membalikkan keadaan. Setiap kali Adhit menyerang, Riani membalasnya dengan logika dingin yang didasarkan pada aturan yang dibuat Adhit sendiri.
"Mulai sekarang, kau tidak perlu mencoba bersikap manis lagi di depanku," Adhit akhirnya berkata, nadanya lebih lelah daripada marah. "Itu membuatku mual."
"Aku tidak pernah mencoba bersikap manis, Mas Adhit. Aku hanya bersikap sopan," Riani mengoreksi. "Sama seperti yang kau lakukan saat berbisnis dengan klien."
Perjalanan pulang terasa sangat panjang dan sunyi. Begitu sampai di rumah, Adhit langsung turun dan naik ke kamarnya tanpa menoleh. Ia benci wanita itu. Ia benci fakta bahwa Riani, dengan ketenangan dan logikanya, membuatnya terlihat kecil. Ia benci bahwa Riani seolah-olah mampu menavigasi kekacauan ini jauh lebih baik daripada dirinya.
Adhit masuk ke kamar, membanting pintu, lalu menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Ia meraih ponselnya, mencari nama Kiara. Ia harus bicara dengan Kiara. Hanya Kiara yang bisa mengembalikan kewarasannya, mengembalikan rasa pentingnya.
Namun, Kiara sedang di luar negeri, menghindari semua drama ini. Adhit merasa sendirian dan terperangkap.
Sementara itu, di lantai bawah, Riani masuk ke kamarnya. Dia melepas dress-nya. Dia tidak langsung menangis, tapi rasa sakit itu ada. Itu sakit, bukan karena Adhit memarahinya, tapi karena Adhit benar-benar tidak melihat ada hal baik sedikit pun dalam dirinya. Dia melihat Riani hanya sebagai musuh yang mencoba mencuri sesuatu.
Riani duduk di depan meja rias. Dia melihat bayangannya. Dia tahu dia sedang melakukan pekerjaan kotor. Menjadi istri palsu adalah pekerjaan kotor. Tapi janji itu terlalu besar untuk dilanggar. Janji pada Pak Dirgantara, janji untuk memastikan Adhit mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Dia mengambil ponselnya, memeriksa pesan. Ada pesan dari seorang temannya.
"Riani, kamu baik-baik saja? Aku dengar kamu menikah. Mendadak sekali. Dengan siapa?"
Riani hanya membalas singkat, "Aku baik. Ada urusan mendesak yang harus kuselesaikan. Nanti aku cerita."
Dia tidak bisa menceritakan ini pada siapa pun. Tidak ada yang akan mengerti betapa beratnya berada di samping pria yang matanya selalu memancarkan kebencian.
Riani berjalan ke jendela kamarnya. Ia menatap ke luar. Rumah ini terasa seperti penjara emas. Dia punya segala kemewahan, tapi dia tidak punya kehangatan sedikit pun.
Dia kembali teringat saat Ibu Sasmita memeluknya tadi. Pelukan itu terasa tulus. Itu adalah satu-satunya momen nyata hari ini. Dan dia harus melindungi momen itu. Dia tidak ingin merusak kebaikan Ibu Sasmita dengan drama rumah tangga.
Dia berpikir tentang kata-kata Adhit di mobil: "Aku tahu kau punya motif. Warisan itu."
Ya, motifnya ada. Tapi bukan untuk dirinya sendiri. Itu untuk Adhit. Ironisnya, ia berada di sana untuk menyelamatkan Adhit, tapi Adhit justru membencinya karena ada di sana.
Riani menyalakan laptopnya. Dia tidak punya waktu untuk berlarut-larut dalam kesedihan. Dia harus menyiapkan presentasi untuk pekerjaannya yang ia lakukan secara daring. Dia adalah seorang desainer grafis lepas, dan dia harus terus bekerja. Dia tidak mau mengambil uang Adhit, bukan karena gengsi, tapi karena dia ingin menjadi mandiri. Dia ingin, saat dia pergi nanti, tidak ada satu pun ikatan, finansial atau emosional, yang menahannya.
Saat Riani fokus pada pekerjaannya, di kamar seberang, Adhit tidak bisa tidur. Ia bangkit, menyalakan televisi dengan suara pelan. Pikirannya melayang pada Riani.
Dia tidak bisa mengerti Riani. Wanita itu menolak uangnya, tidak pernah menuntut apa-apa, dan selalu bersikap logis. Adhit sudah terbiasa berhadapan dengan wanita yang mendamba harta atau perhatian. Tapi Riani bukan keduanya.
Kehadiran Riani di hidupnya, yang seharusnya menjadi benalu yang mudah dipotong, justru berubah menjadi perangkap yang cerdas. Perangkap yang membuatnya terlihat baik di mata orang lain, tapi membuatnya merasa bersalah dan tertekan saat sendirian.
Adhit keluar dari kamar. Ia berjalan melewati koridor gelap. Tujuannya adalah dapur, untuk mencari air dingin.
Saat melewati kamar Riani, ia melihat celah cahaya dari bawah pintu. Riani belum tidur.
Ia berhenti di depan pintu itu, telinganya mencoba menangkap suara apa pun. Yang ia dengar hanyalah ketukan lembut jari di keyboard. Riani sedang bekerja.
Adhit merasa aneh. Mengapa Riani harus bekerja jika dia sekarang istri dari Adhitama Dirgantara? Bukankah seharusnya dia menikmati kekayaan ini?
Rasa penasaran mengalahkan rasa benci Adhit. Ia ingin tahu apa yang Riani lakukan di sana, sendirian, setelah menjalani sandiwara pernikahan yang melelahkan.
Ia mengangkat tangannya, ingin mengetuk. Tapi, ia teringat lagi pada peraturannya sendiri. Jangan pernah memasuki kamarku tanpa izinku.
Ia tidak ingin Riani berpikir ia melanggar aturannya sendiri. Ia tidak ingin Riani merasa menang.
Adhit menarik tangannya kembali. Ia melanjutkan perjalanannya ke dapur. Di sana, ia meminum air dingin dan mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Riani hanyalah wanita biasa, seperti yang lain. Dia hanya pandai menyembunyikan motifnya.
Tapi keheningan dan cahaya dari bawah pintu kamar Riani terus mengganggu pikirannya. Riani, si janda tenang, telah berhasil menciptakan konflik baru: konflik di benak Adhit, yang mulai bertanya-tanya tentang siapa Riani sebenarnya, dan mengapa wanita itu begitu rela mengorbankan diri demi sebuah janji yang tak ia ketahui.
Adhit kembali ke kamarnya, masih tidak bisa tidur. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak hanya marah. Ia mulai penasaran. Dan rasa penasaran itu jauh lebih berbahaya daripada kebencian.
Pekan ini, Adhit harus membawa Riani ke pesta ulang tahun salah satu kolega bisnisnya yang paling berpengaruh, seorang pengusaha properti bernama Pak Herman. Pesta ini penting. Adhit butuh dukungan Pak Herman untuk proyek terbarunya.
Adhit merasa tertekan. Membawa Riani sama saja seperti membawa bom waktu. Ia harus terus waspada, memastikan Riani tidak membuat kesalahan yang merusak citra dirinya.
"Kau harus bersikap sempurna di sana, Riani," pesan Adhit saat mereka di mobil. "Ini bukan lagi soal keluarga. Ini soal jutaan dolar. Kau hanya perlu senyum dan diam. Biarkan aku yang bicara."
Riani, yang sibuk membetulkan letak selendangnya di bahu, menoleh. "Aku tahu etika sosial, Mas Adhit. Aku tidak akan mempermalukanmu."
"Aku harap begitu," Adhit mendengus. "Di sana akan ada banyak orang penting. Dan mungkin... mungkin ada Kiara."
Adhit mengucapkan nama itu tanpa sengaja. Ia menyesal begitu kata itu keluar dari mulutnya. Ia melirik Riani, mencari reaksi.
Riani diam. Hanya ada jeda singkat sebelum ia menjawab.
"Aku mengerti. Aku akan menjaga jarak. Kau fokus saja pada bisnismu," kata Riani. Sama sekali tidak ada nada cemburu, tidak ada nada ingin tahu.
Ketenangan Riani membuat Adhit kesal. Ia berharap Riani setidaknya bertanya, "Siapa Kiara?" atau menunjukkan sedikit rasa tidak suka. Tapi Riani justru bersikap seperti asisten pribadi yang sedang diberi daftar tugas.
Sesampainya di lokasi pesta, ballroom sudah penuh. Adhit dan Riani langsung menjadi pusat perhatian. Adhit yang baru menikah mendadak menjadi topik hangat.
Adhit segera menggenggam tangan Riani erat. Genggaman ini bukan karena ia ingin melindungi Riani, melainkan karena ia ingin memamerkan bahwa pernikahan mereka baik-baik saja, meskipun ia merasa genggaman itu terasa sangat palsu.
Riani membalas genggamannya, dan seperti biasa, ia menampakkan senyum yang memukau-senyum yang menipu seluruh ruangan.
Mereka berkeliling. Adhit memperkenalkan Riani sebagai istrinya. Riani menyambut semua orang dengan sopan dan ramah. Ia tidak banyak bicara, tapi ketika ia bicara, kalimatnya selalu tepat, singkat, dan berkelas.
"Selamat, Adhit. Istrimu cantik sekali," kata Pak Herman, sambil menatap Riani dengan kagum.
"Terima kasih, Pak," jawab Adhit, berusaha terdengar bangga.
Riani tersenyum. "Terima kasih, Pak Herman. Selamat ulang tahun."
Adhit lega. Riani sejauh ini menjalankan perannya dengan sempurna. Terlalu sempurna, malah.
Saat Adhit sedang serius membahas proyek dengan Pak Herman, Riani berdiri sedikit di belakangnya, memberi ruang tapi tetap dalam jangkauan pandangan.
Di tengah obrolan itu, seorang wanita mendekat. Gaunnya mewah, riasannya tebal, dan matanya memancarkan rasa superioritas yang kuat.
"Adhit! Selamat, ya. Aku tidak menyangka," katanya, menyapa Adhit dengan nada yang terlalu akrab, seolah mereka baru saja bertemu kemarin sore.
Adhit menegang. Itu Karina. Wanita yang sempat dekat dengannya setelah Kiara pergi, sebelum ia dijodohkan dengan Riani. Karina adalah tipe wanita sosialita yang suka gosip dan selalu tahu segalanya.
"Karina. Terima kasih," jawab Adhit kaku.
Karina lalu beralih menatap Riani, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan itu adalah tatapan menghakimi yang panjang dan menyakitkan.
"Oh, jadi ini dia? Riani, kan? Kudengar... kau menggantikan pengantin yang seharusnya?" Karina berkata dengan nada tinggi, cukup keras hingga beberapa orang di sekitar mereka melirik.
Adhit merasa wajahnya memanas karena malu. Karina baru saja merusak sandiwara yang ia bangun susah payah.
"Karina, jaga bicaramu," desis Adhit.
Karina tertawa. "Kenapa? Bukankah itu rahasia umum? Aku hanya penasaran, Adhit. Kau yang seorang perfectionist mau menikahi janda yang..." Karina membiarkan kalimatnya menggantung, matanya merendahkan Riani.
Adhit sudah siap membela Riani, bukan karena ia peduli, tapi karena ia tidak mau urusan pribadinya diumbar.
"Karina, Riani adalah istriku. Kami-"
"Aku tahu, Mas Adhit," Riani memotongnya, dengan senyum yang sama sekali tidak hilang dari wajahnya. Riani melangkah sedikit maju, menempatkan dirinya di samping Adhit, bukan di belakang.
Ia menatap Karina lurus-lurus. Tidak ada amarah, tidak ada ketakutan, hanya ketenangan yang mendalam.
"Selamat malam, Karina," kata Riani lembut. "Aku memang istri Mas Adhit. Mengenai masa laluku, aku tidak melihat itu relevan dengan statusku sekarang, atau dengan kebahagiaan kami."
Karina mendengus. "Kebahagiaan? Coba lihat tatapan Adhit padamu. Dia bahkan tidak mau menatap matamu sekarang."
Karina benar. Adhit memang sedang menghindari tatapan Riani karena merasa bersalah dan terpojok oleh situasi itu.
Karina melanjutkan, "Adhit adalah tipe pria yang hanya peduli pada citra. Kalau kamu tidak bisa memberinya image yang sempurna, dia akan bosan. Apalagi kalau kamu cuma 'pengantin pengganti'."
Riani tersenyum lagi. Kali ini, senyum itu sedikit berbeda. Lebih tegas.
"Aku tidak tahu apa yang Mas Adhit ceritakan tentangku padamu. Tapi aku tahu satu hal, Karina," Riani maju selangkah, kini ia lebih dekat ke Karina daripada Adhit.
"Mas Adhit adalah pria yang sangat bertanggung jawab. Dia pria yang setia pada janjinya. Dan janji pernikahannya sekarang adalah padaku. Dia bisa saja mencari wanita lain dengan image yang sempurna, tapi dia memilih untuk berdiri di sisiku, menghadapi semua gosip. Aku sangat menghargai komitmennya itu."
Riani membalikkan serangan itu lagi. Dia tidak membela dirinya sendiri. Dia membela Adhit, mengubah penolakan Adhit menjadi tanggung jawab dan komitmen di mata orang lain.
Karina terkejut. Dia tidak menyangka Riani akan membalas dengan memuji Adhit.
Adhit, yang mendengarkan di samping Riani, merasa terkejut luar biasa. Riani tidak hanya menangkis. Dia mengubah hinaan menjadi pujian untuk Adhit. Karina kini terlihat seperti wanita jahat yang mengganggu pasangan bahagia.
"Tentu saja Mas Adhit mencintaiku, Karina. Kenapa tidak? Aku memberikan ketenangan yang dia butuhkan, bukan drama yang dia hindari," Riani mengakhiri, dengan nada yang begitu meyakinkan.
Karina terdiam, wajahnya merah. Dia merasa kalah dalam permainan kata-kata ini. "Baiklah. Aku hanya berharap kebahagiaan itu bertahan lama," ujarnya sinis, lalu berbalik pergi dengan langkah cepat.
Semua orang yang mendengar percakapan itu kembali ke urusan masing-masing, tapi bisik-bisik yang tersisa adalah kekaguman pada Riani, dan rasa malu pada Karina.
Adhit menatap Riani. Ia menarik Riani menjauh dari kerumunan, menuju sudut yang lebih sepi.
"Apa-apaan itu?" tanya Adhit, nadanya tidak lagi marah, tapi benar-benar bingung.
"Aku hanya menjalankan sandiwara, Mas Adhit. Seperti yang kau minta. Sandiwara yang sempurna. Karina mencoba merusak citramu di depan Pak Herman," jelas Riani, tanpa menganggap tindakannya itu luar biasa.
"Kau tidak perlu membelaku! Dan kau tidak perlu berbohong bahwa aku mencintaimu!"
"Aku tidak berbohong, Mas Adhit. Aku hanya memilih kata-kata. Aku bilang kau setia pada janji dan bertanggung jawab. Itu benar, kan? Kau setia pada janji Ayahmu dan bertanggung jawab atas pernikahan ini. Dan kau bisa lihat, hasilnya efektif," Riani menunjuk ke arah Pak Herman yang sedang melihat mereka dengan senyum mengangguk.
"Kau..." Adhit kehabisan kata-kata. Riani memang tidak berbohong. Dia hanya memutar fakta untuk keuntungannya-atau keuntungan Adhit.
"Satu lagi," Riani melanjutkan, matanya menatap Adhit dengan serius. "Jika kau tidak ingin orang lain merusak citra kita, kau juga harus berhenti bersikap dingin di depan umum. Aku membela citramu, tapi kau berdiri di sana seperti ingin lari. Itu justru memancing kecurigaan."
Riani memimpin, membalikkan keadaan lagi. Adhit, sang pemberi perintah, kini menerima kritik atas penampilannya di panggung sandiwara.
"Aku harus bertemu Pak Herman lagi. Kau ikut denganku. Dan kali ini, tunjukkan sedikit kehangatan di wajahmu. Setidaknya, berpura-puralah," perintah Riani.
Adhit merasa ada dorongan aneh untuk mematuhi Riani. Ia tidak bisa membantah logika Riani. Riani telah mempertaruhkan dirinya untuk menyelamatkan reputasi Adhit.
"Baik," Adhit berdesis. "Tapi jangan anggap ini kemenangan."
"Tidak ada kemenangan di sini, Mas Adhit. Hanya bisnis yang harus diselesaikan," jawab Riani, kembali memasang senyumnya.
Mereka kembali ke Pak Herman. Adhit mencoba tersenyum-senyum yang terasa kaku di wajahnya. Riani dengan lembut menyentuh lengan Adhit saat Adhit berbicara, gerakan kecil yang membuat mereka terlihat intim.
Di tengah obrolan serius, Adhit mulai memperhatikan Riani lagi. Riani mendengarkan obrolan bisnis dengan penuh perhatian. Ekspresi matanya menunjukkan dia mengikuti setiap poin yang dibahas.
"Istri Anda sepertinya tertarik pada proyek kami, Adhit," canda Pak Herman.
Adhit terkejut. "Ah, dia... dia memang suka hal-hal baru."
"Aku memang tertarik, Pak Herman. Dari analisis pasar yang Mas Adhit lakukan, sepertinya proyek ini memiliki potensi jangka panjang, terutama di segmen mid-low yang pasarnya belum terlalu jenuh," Riani menyela, memberikan analisis singkat yang membuat Adhit terpaku.
Riani tidak hanya tahu obrolan mereka. Dia mengerti.
"Wow, Riani. Kamu tahu banyak tentang pasar?" tanya Pak Herman kagum.
"Tidak banyak, Pak. Hanya sesekali membaca materi Mas Adhit yang berserakan di rumah," jawab Riani, merendah.
Adhit merasa ada kejutan kecil yang menyerang egonya. Riani, yang ia anggap wanita rumah tangga biasa, ternyata memiliki otak yang tajam.
"Hebat, Adhit. Kau tidak hanya mendapatkan istri cantik, tapi juga otak yang cerdas," puji Pak Herman.
Adhit hanya bisa tersenyum kaku. Ia merasa Riani semakin sulit untuk didefinisikan. Ia sudah menetapkan Riani sebagai 'musuh' yang mudah ditebak, tapi Riani terus menunjukkan sisi-sisi yang membuatnya bertanya-tanya.
Pesta selesai. Di mobil, suasana sudah tidak sedingin sebelumnya. Ada lapisan rasa penasaran yang menyelimuti Adhit.
"Kau tahu tentang analisis pasar?" tanya Adhit, langsung ke intinya.
"Sedikit," Riani menjawab, menatap ke luar jendela lagi.
"Jangan merendah. Itu bukan 'sedikit'. Kenapa kau tidak pernah bilang kau cerdas?"
Riani menoleh. "Apa gunanya? Kau sudah membuat kesimpulan tentang siapa aku di hari pertama, Mas Adhit. Aku tidak perlu menghabiskan energiku untuk mengubah kesimpulanmu. Tugasku bukan menjadi sekretarismu, tapi menjadi istrimu dalam skenario ini."
Jawaban itu benar-benar mengakhiri percakapan. Riani kembali menunjukkan sikap pasif-agresif yang membuatnya selalu unggul dalam setiap argumen.
Sesampainya di rumah, mereka langsung menuju kamar masing-masing. Adhit memasuki kamarnya, tapi ia tidak bisa tenang. Ia membuka laptopnya. Ia mencari di Google, mencoba menemukan jejak digital Riani.
Riani, janda, hutang budi.
Tidak ada apa-apa yang signifikan. Tidak ada skandal, tidak ada berita negatif, hanya beberapa foto lama yang buram.
Adhit merasa frustrasi. Ia butuh tahu siapa Riani. Jika ia ingin mengalahkan Riani dalam permainan ini, ia harus tahu motif Riani.
Di malam yang sama, Adhit tidur dengan perasaan gelisah. Kebenciannya terhadap Riani mulai terasa samar, digantikan oleh rasa penasaran yang terus tumbuh. Ia tidak lagi membenci Riani karena Riani ada di sana. Ia membenci Riani karena Riani tidak bisa ia pahami.
Keesokan harinya, saat Adhit bersiap ke kantor, ia melihat Riani sudah duduk di ruang tamu, bukan di meja makan. Ia sedang menelepon.
"Iya, Tante. Aku tahu. Tapi aku akan tetap melunasinya sendiri. Aku tidak mau Mas Adhit tahu. Aku tidak mau dia berpikir aku menikahinya demi menutupi hutangku," Riani berkata dengan suara pelan, tapi cukup jelas didengar Adhit.
Adhit berhenti di tangga. Ia mendengar kata-kata kunci: hutang, melunasinya sendiri, tidak mau Mas Adhit tahu.
Riani melihat Adhit berdiri di tangga. Ia segera memutus teleponnya. Wajahnya tegang.
"Maaf, Mas Adhit. Aku tidak tahu kau sudah di sini," Riani berkata, menyembunyikan ponselnya.
Konflik baru muncul. Adhit menangkap potongan percakapan yang menjelaskan mengapa Riani bersedia menikah: hutang. Tapi Riani juga ingin melunasinya sendiri, bukan dengan uang Adhit.
"Hutang apa?" tanya Adhit, nadanya menuntut.
Riani menggeleng. "Itu bukan urusanmu, Mas Adhit. Itu urusanku. Dan aku sudah bilang, aku tidak akan menyentuh uangmu untuk ini."
"Tapi kau menikahiku karena itu! Itu sudah jadi urusanku!" seru Adhit.
"Aku menikahimu karena janji pada Ayahmu. Janji itu terpisah dari hutangku. Dan aku akan mempertanggungjawabkan keduanya secara terpisah," Riani menjawab, kembali memasang tembok ketenangannya.
Adhit mendekat. Rasa marah, penasaran, dan kekaguman yang samar-samar bercampur menjadi satu.
"Aku bisa melunasi hutangmu sekarang. Berapa pun. Asal kau jujur padaku," tantang Adhit.
Riani menatapnya, matanya menunjukkan rasa kasihan. "Kau pikir semua masalah bisa diselesaikan dengan uang, Mas Adhit? Tidak. Hutang ini adalah tanggung jawabku. Dan aku akan menyelesaikannya dengan caraku. Kau hanya perlu fokus pada bisnismu. Aku tidak akan mengganggumu."
Riani berdiri, memberikan senyum kecil, dan berjalan ke dapur. Ia meninggalkan Adhit berdiri di tengah ruang tamu, terbungkam oleh wanita yang menolak uluran bantuannya.
Adhit kini tahu ada hutang. Tapi ia tidak tahu seberapa besar, kepada siapa, dan mengapa Riani begitu mati-matian menyembunyikannya. Dan yang paling mengganggu, kenapa Riani lebih memilih untuk menjadi istri kontrak yang dibenci daripada menerima uang Adhit dan menyelesaikan masalahnya?
Riani, tanpa sadar, baru saja memberikan Adhit teka-teki yang paling rumit dalam hidupnya.