Sore ini, aku baru saja pulang kuliah. Capek rasanya naik motor kurang lebih 45 menit menuju kampus. Nasha Dwi Paramitha itulah namaku, gadis berusia 20 tahun yang sedang menempuh S1 pendidikan dokter gigi di Unsoed Purwokerto.
Aku bungsu dari dua bersaudara, anak pasangan Bapak Rahmat dan Ibu Sarinah atau biasa dipanggil Bu Inah. Kakakku berusia lima tahun diatasku. Namanya Nisha Eka Paramitha, sekarang bekerja sebagai bidan di salah satu rumah sakit di Purwokerto.
Saat memasuki pagar rumah, kulihat sebuah motor CBR hitam terparkir rapi di halaman rumahku.
"Siapa yang datang ya?" batinku.
Aku pun memasuki rumah setelah sebelumnya memarkirkan motorku disebelah motor CBR.
"Assalamu’alaikum." Aku mengucap salam.
"Wa’alaikumsalam," jawab keempat orang yang ada di ruangan. Kompak.
Aku menyalami Ayah, Ibu dan Mbak Nisha hingga mataku terpaku pada seseorang yang duduk di samping Mbak Nisha. Masya Allah tampan dan mempesona. Postur badannya tinggi menjulang, atletis, mata setajam elang, alis tebal, bibir tipis dan kulit putih. Jangan lupakan wajah keturunan indonya alias blasteran. Duh, begitu mempesonanya lelaki ini, aku jadi tergoda. Astaga.
"Kenalin Na, Mas Rayyan. Dia pacar Mbak." Mbak Nisha memperkenalkannya padaku.
"Nasha, Mas. Salam kenal." Aku pun mengulurkan tanganku.
"Rayyan," ucapnya sambil menyambut uluran tanganku.
Kami mengobrol lama. Dari obrolan kami, aku tahu Mas Rayyan itu cowok-able banget. Kelihatan banget cinta mati sama Mbakku. Hihihi. Tatapan matanya itu loh lembut banget tapi tajam. Setdah. Hahaha.
"Saya pamit pulang dulu Om Tante. Insya Allah minggu depan saya berserta kedua orang tua saya akan melamar secara resmi."
"Amin. Semoga dipermudahkan semuanya. Terima kasih ya Nak," tutur ayahku.
"Saya yang justru harus berterima kasih karena Om dan Tante telah mendidik putri Om ini dengan luar biasa."
"Ah Mas ini. Gombal." Mbak Nisha tampak malu.
"Hahaha. Mari Om Tante."
"Ya Nak hati-hati," ucap Ayah dan Ibu.
Mbak Nisha mengantar Mas Rayyan ke depan. Ayah dan Ibu segera masuk ke kamarnya. Aku sengaja mengintip apa yang mereka lakukan.
"Mas, jangan lupa kalau sudah sampai aku di WA ya?" Mbak Nisha mulai berbicara.
"Iya sayang. Kamu bobok yang nyenyak ya. Jangan lupa mimpiin Mas," ucap Mas Rayyan sambil mengelus rambut Mbak Nisha.
"Pengin cepet halal Dek. Biar Mas bisa cium kamu."
"Ish Mas Rayyan ah. Udah dibilangin kalau .... "
"Iya. Makanya Mas sabar sayangku. Mas suka kok icip-icip yang halal bukan yang haram."
Kulihat pipi Mbak Nisha merona. Ah, kenapa aku juga ikut merona kayak aku yang di gombalin aja. Ckckck.
"Ya udah Mas pulang. Dah Adek. Assalamu’alaikum."
"Wa’alaikumsalam."
Mbak Nisha segera masuk ke dalam rumah. Dan kaget melihatku tengah senyum-senyum gak jelas.
"Cie ... Mas Adek. Uh! Romantisnya."
"Ish. Kamu ya Dek. Suka jahilin Mbak." Mbak Nisha menarik kedua pipiku.
"Aaaaa ... sakit Mbak," keluhku.
"Hahaha. Habis pipi kamu gemesin kaya bakpao." Aku mengerucutkan bibir.
"Udah jangan marah, nanti cantiknya ilang."
"Hemmmm ... Mbak kenal Mas Rayyan dimana?" tanyaku kepo.
"Dia dokter baru di tempat Mbak. Usianya baru 26 tahun."
"Ooo ... cakep ya Mbak."
"Hahaha. Cakeplah kalau gak cakep gak mungkin Mbak suka."
"Kayaknya orangnya baik ya Mbak. Penyayang gitu."
"Hu'um. Makanya Mbak yakin dia lelaki yang baik. Dia selalu jaga Mbak dan menghargai Mbak."
"Mbak sama Mas Rayyan berapa lama pacaran?"
"Tiga tahun kurang lebihnya. Mbak kenal pas Mas Rayyan lagi koas di rumah sakit tempat Mbak kerja. Setelah lama kenal kita pacaran. Lalu kita LDR-an selama dia intership ke NTT, bertahan pacaran sampai sekarang. Alhamdulillah bentar lagi lamaran," Mbak Nisha tak mampu menyembunyikan raut bahagianya.
"Alhamdulillah. Nasha doakan semua lancar ya Mbak. Doakan Na juga biar ketemu sama lelaki baik kaya Mas Rayyan."
"Amin. Tapi fokus kuliah dulu ya Dek."
"Oh itu pasti."
Kami berbincang cukup lama di ruang tamu hingga hari mulai malam. Akhirnya kami menyudahi obrolan kami dan menuju kamar masing-masing.
*********
Kamu hati-hati ya Na, insya Allah bulan depan Mbak beli motor jadi kamu gak perlu bolak balik jemput aku atau naik bus lagi."
"Santai Mbak, masih bisa disiasati kok."
"Mbak cuma kasihan aja sama kamu harus bolak balik nganter dan jemput Mbak. Belum lagi kalau Mbak ada tugas kamu yang ngalah naik bus."
"Mbak Nisha ini kayak sama siapa. Eh... Mas Rayyan," sapaku saat melihat Mas Rayyan tengah berjalan mendekati kami. Dia tersenyum dan wow lesung pipinya duh bikin hati meleleh.
"Kalian sering berangkat bareng?" tanya Mas Rayyan.
"Iya," jawab kami kompak.
"Kok aku gak pernah lihat Nis?"
"Soalnya kalau Mas Rayyan udah datang langsung bawaannya heboh nyiapin ini itu jadi gak pernah perhatian sama adik cantikku ini," tutur Mbak Nisha.
"Betul. Betul. Betul," sahutku.
"Hahaha. Ya Allah. Maaf. Mas beneran gak tahu."
"Ya udah sih gak penting juga. Mbak, Mas. Aku berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum."
"Wa’alaikumsalam."
Aku pun segera menjalankan motorku setelah berpamitan dengan mereka.
********
Sabun, sikat gigi, lotion, deodorant, parfum, bedak, lipstik, tissue lalu ... ah, roti tawar rupanya," gumamku.
Aku tengah berbelanja bulanan untuk diriku sendiri. Sebelum pulang, aku mampir ke Moro dulu. Hari Minggu nanti acara lamaran Mbak Nisha dan Mas Rayyan, dijamin aku gak bisa keluar karena harus bantu ini bantu itu. Makanya mumpung longgar, jadi sekalian. Apalagi jadwal tamu bulananku tak lama lagi pasti datang.
"Na, kamu disini?"Aku menoleh ke asal suara.
"Eh, Mas Rayyan? Kesini juga Mas?"
"Iya nganter Mamah beli ini itu ...."
"Banyak sekali," lanjutku dengan tangan membentuk lingkaran.
"Hahaha. Gemesin kamu ya."
"Aw. Aw Aw. Ish sakit Mas!" Aku memukul keras tangannya. Lalu aku memegang kedua pipiku yang habis dia cubit.
"Habis pipimu gemesin tahu. Pantas Nisha suka bilang sama Mas kalau suka sekali mencubit pipimu."
"Ckckck. Dasar kakak sama calon kakak ipar pada kurang garam. Klop pokoknya pantas jodoh," gerutuku.
"Amin. Kan Minggu kita lamaran terus nikah."
"Ya. Ya. Ya. Terserah. Minggir Mas, Na mau lewat."
Aku mendorong troliku ke arena roti tawar khusus wanita.
"Kamu suka pake yang gak bersayap rupanya?"
Astaga aku lupa kalau masih ada Mas Rayyan.
"Ish, Mas ini. Ngapain ngikutin Na. Malu tahu. Hush. Hush. Pergi sana ini area cewek, cowok dilarang mendekat."
"Hahaha." Mas Rayyan malah tertawa dan memperlihatkan kembali kedua lesung pipinya.
Husah. Husah. Aku segera membuang pikiran anehku. Ya ampun aku mesti nyari pacar yang punya lesung pipi juga. Biar bisa mengalihkan duniaku dari pria blasteran ini. Ckckck.
"Ngapain malu Na, udah biasa. Lagian aku ada tiga cewek di rumah ya tapi yang satu masih SD sih."
"Haish Mas Rayyan nyebelin."
Aku berusaha memasang muka marah. Namun kalimat Mas Rayyan selanjutnya membuatku sumringah.
"Udah selesai milih rotinya, sini Mas bayarin," ucapnya sambil mendorong troliku.
Asik. Jatah uang buat belanja bulananku aman, jadi bisa buat beli novel hihihi. Akhirnya kuikuti langkah Mas Rayyan menuju kasir.
Sesampainya di kampus, aku segera melesat untuk mencari teman-temanku.
"Na. Sini," teriak Jeni.
Aku segera menghampirinya yang tengah duduk bareng Rosi.
"Yang lain pada kemana?" tanyaku.
"Katanya ada urusan mendadak. Apalagi setelah tahu matkul Pak Candra kosong alias libur. Tapi kita dapat tugas suruh dikumpulin lewat email."
"Oh. Ya udah yuk nyari wifi gratisan," ajakku.
"Ayuk. Tapi jangan disinilah bosen. Cari di fakultas lain yuk," ajak Jeni antusias.
"Boleh. Tapi dimana?" tanyaku.
"Fakultas Hukum aja? Gimana?" saran Rosi.
"Cakep Ros, sambil kita tebar pesona sama anak Hukum. Aku dengar kebanyakan dari mereka anak orang kaya guys. Hihihi," seperti biasa radar Jeni pada cowok tampan dan tajir langsung on.
"Tentu. Ayuk," sahut Rosi tak kalah antusias.
Aku cuma geleng-geleng kepala melihat tingkah para sahabatku. Sesampainya di salah satu gazebo di Fakultas Hukum, aku langsung mengeluarkan laptop dan mulai menyusun tugas dari Pak Candra. Sementara kedua temanku asik selfi dan tebar senyum sana sini.
Sesekali kulirik mereka. Ya ampun. Sekali lagi aku hanya terkekeh lalu kembali menenggelamkan diri dengan menatap layar laptop.
"Selesai." Aku merenggangkan otot-otot tubuhku untuk mengurangi rasa pegal karena cukup lama fokus dengan laptop.
"Copy Na. Ntar aku tinggal ngedit," pinta Jeni dan Rosi seperti biasa.
"Nih udah aku copy di flashdisk. Ingat ya, gak boleh sama. Harus ada yang kalian ubah kata-katanya," tukasku.
"Wokeh," sahut keduanya kompak.
Sambil menunggu mereka menyalin dan mengedit tugas mereka, kuedarkan pandanganku untuk mengamati keadaan sekeliling. Hingga tatapanku tertuju pada seorang cowok, dia tersenyum manis kearahku. Wow ... tampan. Punya dua lesung pipi lagi kayak Mas Rayyan. Astaga kok balik ke calon kakak iparku lagi ya. Hadeh. Karena dia masih senyum ke arahku aku pun membalas senyumnya.
"Na, kamu senyumin siapa?" tanya Rosi.
"Pengin senyum aja," jawabku.
"Masa sih?" Rosi tak percaya dan mengedarkan pandangannya.
"Aneh. Masa kamu senyum sendiri. Kirain ada cowok cakep yang kamu lihat." Rupanya Rosi masih penasaran, dia masih saja celinguk kanan kiri hahaha.
"Nasha itu kayaknya gak bakalan jatuh cinta deh Ros, dia itu JOSETI alias jomblo sejati," celetuk Jeni tanpa mengalihkan matanya dari laptop.
Aku hanya tersenyum tanpa mau menanggapi. Kuedarkan lagi pandang mataku. Ah, rupanya cowok tadi sudah pergi.
*****
Acara lamaran Mbak Nisha terlaksana seminggu kemudian. Rencananya enam bulan lagi mereka akan menikah. Karena keluargaku dan Mas Rayyan masih memegang adat Jawa yang kuat. Termasuk masalah hitungan dalam menentukan tanggal pernikahan.
"Selamat Mbakku sayang. Cie ... yang mau jadi istri."
"Makasih Dek." Mbak Nisha mengulas sebuah senyuman dan terlihat cantik sekali.
"Selamat ya Beb. Aku turut senang dengernya," ucap Mbak Hilda sahabat karib Mbakku. Seorang bidan juga dan bekerja di tempat yang sama dengan Mbak Nisha.
"Sama-sama semoga kamu sama Farhan segera nyusul."
Kulihat Mbak Hilda hanya tersenyum tipis.
*****
Aku tengah berjalan melintasi koridor menuju Perpus pusat sambil membalas pesan Rosi temanku.
Bruk.
"Maaf gak sengaja," ucapku.
"Oh gak papa. Kamu Nasha kan?" ucap cowok yang kutabrak.
"Iya betul siapa ya?"
"Feri. Kamu lupa ya sama aku," jawabnya.
Aku mengerutkan kening berusaha mengingat-ingat.
"Oh … Feri anak Hukum ya? Oh hai apa kabar?"
"Baik. Aku pikir kamu lupa sama aku."
"Hehehe. Sedikit. Habis mau gimana lagi setelah Ospek kita gak pernah ketemu lagi."
Feri adalah salah satu kenalan yang aku temui saat Ospek dulu. Sama-sama Maba. Bedanya dia anak Hukum. Karena kampus kami berbeda praktis kami tak pernah jumpa lagi.
"Minta nomer WA-nya dong," pinta Feri.
"0813xxxxxxxx," jawabku.
"Oke aku save ya. Oh iya aku pergi dulu ya. Ada urusan. Sampai jumpa lagi." Feri berlalu dari hadapanku.
Aku masih memandang Feri bahkan aku tersenyum tanpa kusadari hingga sebuah tepukan keras menempel pada bahuku.
"Aw ... sakit tahu!" sungutku.
"Hehehe. Maaf lagian kamu dari tadi aku panggil gak jawab-jawab. Ayuk buruan ke Perpus," kata Rosi.
"Ayuk."
Kami pun berjalan sambil sesekali bercanda.
*****
Aku tengah menstarter motorku secara manual. Nasib karena aki motor sudah soak harus ganti tapi belum ada duit. Hiks. Hiks. Nasib. Mana pake rok lagi, lupa aku.
"Nasha," sebuah suara memanggilku.
"Feri."
"Kenapa motornya?" tanyanya.
"Hehehe. Harus di starter manual," jawabku sambil cengengesan.
"Hahaha. Sini aku bantu." Feri langsung membantuku. Yap tuh kan langsung hidup.
"Habis ini mau kemana?" tanyanya saat aku mulai menaiki motor.
"Mau langsung balik."
"Makan dulu yuk. Mumpung jam satu, nih. Udah makan belum?"
"Belum. Niatnya mau makan di rumah makanya langsung pulang ini."
"Makan dulu ya sama aku. Lagian lama kita gak ngobrol," pintanya.
"Tapi nanti kalau motornya gak bisa aku starter lagi gimana?" terangku ragu.
"Hahaha. Ampun deh Na, kan ada aku."
"Oh iya. Hahaha. Maklum panik takut gak bisa starter manual lagi."
"Ya udah yuk, kita ke WS ‘Warung Stik’ aja ya. Sana berangkat dulu nanti aku nyusulin di belakang. Ntar paling kamu aku salip."
"Hahaha. Tahu aja kamu, aku gak bisa naik motor cepet-cepet."
"Hahaha. Tahulah. Ayuk."
Kami pun segera menuju ke WS. Disana kami pun makan sambil ngobrol.
Ternyata Feri masih seperti dulu, ramah dan supel. Calon kandidat pacar ini. Asek. Ups. Hahaha.
*****
"Duh yang kemarin makan bareng sama gebetan," Rosi mulai melancarkan aksi menggodaku.
"Hehehe. Kok tahu. Emang kamu dimana? Kok aku gak tahu."
"Ya mana tahulah, kamunya asik gitu sama gebetannya."
"Lah, kamu kemarin ke WS juga?"
"Iya, aku di kursi paling pojok sebelah Selatan."
"Masa sih? Kok gak nyapa aku?"
"Maunya. Tapi gak enak takut ganggu," Rosi menyeringai jahil.
"Hahaha ... ih. Kayak sama siapa aja. Sapa aja lagi."
"Eh ... tapi bukannya yang kemarin makan sama kamu si anak Hukum ya? Feri kalau gak salah."
"Yupz. Masih inget aja Non sama namanya," ucapku sambil menyentuhkan bahuku pada bahunya.
"Hehehe. Ingetlah. Orang ganteng mana sih yang gak aku ingat. Kami pun tertawa terbahak menertawakan kekonyolan Rosi. Ya begitulah Rosi, radarnya sangat tajam kalau sudah mengenai cowok cakep.
*****
"Nasha," panggilan ibuku menyahut merdu.
"Ada apa Ibuku sayang?" Ciri khas Ibu, suara melengking dan tak mau berhenti kalau belum ditindaklanjuti.
"Tuh, ada temenmu datang. Uluh-uluh bungsu Ibu. Udah gede. Udah ada yang ngapelin."
"Hah, siapa yang ngapelin Bu?" aku syok mendengar ada cowok yang ngapelin aku. Di hari Minggu masih jam 9 pagi juga. Wow keajaiban dunia. Sepertinya status jomblo abadiku sedikit goyah.
Aku pun segera menuju ruang tamu dan awuwu ... kaget. Ternyata Feri yang datang. Aku pikir dia cuma bercanda ternyata beneran mau main. Oh, lihatlah senyum manisnya. Duh bikin meleleh hati. Hem ... aku akan pertimbangkan jadi pacar kalau dia nembak dech. Eh, emangnya dia suka sama aku ya. Ckckck haluku terlalu tinggi.
"Nasha."
"Feri."
Aku terkejut melihat Feri yang baru turun dari motornya.
"Ada apa?"
"Mau ketemu Mbak Nisha."
"Hah? Ngapain? Mbak Nisha kan udah punya Mas Rayyan?"
Feri terkekeh. Aku menatapnya bingung. Kenapa sih dia?
"Kamu ya Na, beneran polos."
"Polos gimana?"
"Ya aku nyari kamu lah, mau jemput kamu. Ck. Masa Mbak Nisa."
Mataku membelalak. Astaga. Apa ini? Apa ini berarti?
"Na ... Na ... Nasha!" Suara Feri terdengar lebih tinggi. Aku terkesiap.
"Eh ... i-iya hehehe." Aku memasang senyum paling menawan yang kupunya.
Tiba-tiba Feri terdiam. Padangan matanya fokus kearahku.
"Kamu kenapa Fer?"
"Eh, enggak kok."
"Hahaha. Kok gantian sih. Tadi aku sekarang kamu."
"Udah yuk berangkat. Keburu siang."
"Oke."
Aku segera menuju ke motorku dan hendak memasukkan kuncinya.
"Loh Na, kamu ngapain?"
"Nyalain motorku dong."
"Ck. Terus gunanya aku kesini buat apa?"
Aku diam. Astaga. Aku menatap kikuk ke arah Feri.
"Udah sini bareng aku. Sebelumnya aku mau minta ijin dulu sama orang tua kamu."
Feri langsung masuk ke rumahku. Karena hanya ada Ibu, ia akhirnya ijin ke ibuku. Sungguh ada yang berdesir di dadaku ketika menyaksikan bagaimana Feri begitu sopan terhadap ibuku.
"Kami berangkat dulu Tante."
"Iya Nak Feri. Hati-hati ya. Jangan ngebut!" pesan Ibu.
"Siap Tante. Pokoknya Nasha dijamin aman sama saya."
Ibu hanya tertawa. Kami pun berpamitan dan aku segera membonceng Feri.
Sepanjang perjalanan kami bercerita. Sosok Feri yang supel dan aku yang juga cerewet membuat perjalanan dari Jatilawang menuju Purwokerto terasa dekat.
"Kamu kuliah sampai jam berapa?" tanya Feri ketika aku melepas helmku.
"Jam satu. Kamu?"
"Sama. Nanti aku jemput ya."
"Oke."
"Siniin helmnya."
"Kenapa?" Aku menatap Feri bingung.
"Buat jaminan biar kamu gak bisa kabur."
"Astaga. Ya Allah Fer."
Dia hanya tersenyum lalu pamit menuju Fakultas Hukum.
Aku masih mengamati Feri sampai bayangannya lenyap.
Plak.
"Astagfirullah. Ros! Kaget tahu!" sungutku.
"Hehehe. Lagian kamu lihat apaan? Dipanggil dari tadi gak jawab."
"Hehehe. Enggak kok. Yuk masuk. Lima menit lagi Bu Wuri kan ngajar."
Aku langsung menarik tangan Rosi, berusaha menghentikan rasa ingin tahunya yang sudah kategori level tertinggi. Hal itu bisa kulihat dari sorot matanya.
******
Dua bulan semenjak perjumpaan kami di koridor menuju Perpus pusat, aku dan Feri akhirnya jadian. Akhirnya aku punya pacar. Hahaha. Pacar pertamaku insya Allah jadi calon suamiku juga eaaa.
Aku memang selalu mencontoh Mbakku. Mbak Nisha gak pernah neko-neko, sekolah selalu peringkat tiga besar di kelas. Manut sama orang tua. Bahkan Mbak Nisha juga gak pernah pacaran, sekalinya punya pacar eh mau jadi calon suami. Mana calonnya berkualitas lagi. Pokoknya gitu, aku selalu menjadikan Mbak Nisha contoh yang baik bagi hidupku.
Dalam segala hal kami sangat mirip bahkan tinggi kami hampir sama mungkin aku sedikit lebih tinggi beberapa senti. Kulit kami sama-sama putih hanya bentuk muka saja yang berbeda. Mbak Nisha bentuk muka oval dengan pipi tirus dan mata sipit. Kalau mukaku bulat dengan pipi chubby dan mata bulat.
"Duh ... yang mau ngedate." Mbak Nisha menghampiriku dan duduk di ranjang.
"Hehehe. Ah, Mbak Nisha. Mbak Nisha kok gak jalan sama Mas Rayyan."
"Mas Rayyan ada operasi mendadak. Dia sedang membantu dr. Satrio."
"Oooo. Emangnya Mas Rayyan mau ambil spesialis apa nantinya? "
"Bedah. Tapi nanti kayaknya. Nunggu kita nikah dulu."
"Wuih cakep bener dech calonnya Mbak. Ah, jadi pengen Mas Rayyan jadi suamiku dech."
"Apa?" mata Mbak Nisha memelototiku.
"Hahaha. Maksud Na, pengen suami Na besok kayak Mas Rayyan sifatnya."
"Dasar usil kamu." Mbak Nisha memukul pelan bahuku. Lalu kami tertawa bersama.
*****
"Seger ya udaranya." Saat ini kami berada di pantai Menganti.
"Iya seger, tapi medan ke sininya gak kuat aku," aku menggerutu.
"Tapi setimpal kan dengan keindahannya?" ucap Feri.
Aku mengangguk. Benar apa katanya, pantai ini sungguh indah.
Kami terdiam cukup lama menikmati sejuknya udara pantai. Tiba-tiba kedua tangannya melingkari bahuku. Aku bergetar, antara takut dan malu. Lama- kelamaan wajahnya memperpendek jarak kami berdua hingga jarak kami hanya sekitar lima senti. Lalu... Hap.
Aku meletakkan telapak kananku pada mukanya. Hampir saja fiuh. Feri nampak kecewa, bisa kulihat dari raut wajahnya.
"Maaf Fer, aku pantang berbuat lebih karena semua akan aku serahkan pada suamiku kelak. Jadi, jika kita berjodoh maka semuanya akan aku serahkan kepadamu. Terserah kamu. Kalau kamu mampu bertahan kita lanjut kalau enggak aku gak maksa." tuturku panjang lebar.
Feri hanya terdiam, cukup lama kami saling diam. Tapi kemudian Feri tersenyum lembut kearahku.
"Maaf, aku pikir ini adalah wujud kasih sayangku. Gak papa kok. Aku sayang kamu Na. Aku akan tunggu kamu sampai kita jadi pasangan halal. Tapi janji, harus setia sama aku ya?"
"Iya. Janji. Kamu juga jangan selingkuh ya? Dijaga tuh nafsunya."
"Idih. Emangnya aku cowok apaan?" tuturnya dengan gaya kemayu.
Kami tertawa bersama. Selanjutnya obrolan tercipta dan tidak membahas lagi tentang ciuman yang gagal.
*****
Tiga bulan sudah kami berpacaran. Suka duka kami lewati bersama. Belajar dari pengalaman di pantai Menganti, aku tak pernah pergi berdua lagi. Selalu aku membawa serta Rosi untuk menemaniku. Biar gak ada setan diantara kami. Tapi bukan Rosi juga setannya.
Sedangkan acara pernikahan Mbak Nisha kurang dari satu bulan. Segala persiapan sedang dilakukan. Kadang kulihat mereka jalan berdua untuk membeli segala tetek bengek pernikahan. Hingga kulihat Mas Rayyan mengantarkan Mbak Nisha pulang. Mereka baru saja tugas malam, terlihat sangat kelelahan. Iseng aku mengintip mereka.
"Langsung mandi, istirahat, gak boleh kemana-mana, gak boleh capek!" titah Mas Rayyan.
"Iya. Mas juga. Hati-hati ya pulangnya."
"Iya. Udah masuk gih."
"Mas dulu sana yang pergi. Nanti baru aku masuk."
"Kamu dulu, pokoknya Mas baru pergi kalau udah memastikan calon istri Mas masuk rumah."
"Tapi aku mau nungguin Mas," ya ampun baru tahu aku kalau Mbakku punya bakat manja.
"Hehehe. Ya udah. Mas pulang yah." Mas Rayyan menyentuhkan bibirnya ke jari telunjuk dan tengahnya yang menyatu kemudian dia tempelkan ke bibir Mbak Nisha. Aw... Aw... Aku kok meleleh ya.
"Ish... Mas mesum." Mbak Nisha cemberut tapi pipinya memerah.
"Hahaha. Polos sekali calon istriku. Belum diapa-apain udah merah aja. Belum yang iya-iya."
"Massss, udah pulang sana," muka Mbak Nisha semakin memerah.
"Hahaha. Oke Mas pulang. Sabar ya cinta sebulan lagi. Muah." Mas Rayyan melampaikan kiss bye lewat tangannya. Kemudian naik ke mobilnya dan melaju membelah jalanan.
Aku segera berlalu takut dikira ngintip, padahal emang ngintip. Hahaha. Dalam hati aku berdoa semoga Feri seperti Mas Rayyan. Lelaki baik yang mampu menjaga hati dan menjunjung tinggi kehormatan kami. Amin.