Bab 1

Jakarta 2018

   Dania menghela napas perlahan. Ia menatap tiket pesawat di tangannya. Lalu, ia menatap Ibunya yang tersenyum di atas kursi roda sambil menatapnya penuh kebanggaan. 

"Selama Dania pergi, Ibu jangan lupa minum obat ya. Ibu jangan lupa makan dan istirahat yang cukup, ya." 

"Iya, Ibu pasti akan menjaga kesehatan Ibu," jawab Kartika.

   "Kamu belajar yang tenang ya, nak. Di sini kan ada Mama dan juga kak Yunita yang akan menjaga Ibumu. Kau belajar yang rajin saja, supaya kau segera lulus dan juga bisa menjadi dokter spesialis." 

"Terimakasih, ma," jawab Dania. Ia menatap Ibu angkatnya itu dengan penuh rasa terimakasih yang tulus. Jika tidak ada Ibu Aryani kehidupan Dania saat ini mungkin tidak akan seperti sekarang ini.

   Tahun ini Dania berusia 24 tahun. Dan ia baru saja menyelesaikan S1 nya di sebuah Universitas ternama di kota Bandung. Dan, sebentar lagi ia akan terbang ke Singapura untuk melanjutkan pendidikan S2 nya. Dania merasa seperti mimpi bisa menjadi seorang dokter. Dia menatap kembali sangat Ibu menatap dengan kedua netra yang sudah berkaca- kaca. 

"Ibu jangan nangis. Aku bisa sedih dan kepikiran di sana nanti," ujarnya sambil memeluk dan mencium wajah Kartika. 

"Ibu hanya terharu melihatmu bisa seperti sekarang, nak. Maafkan segala kesalahan Ibu, ya. Ibu sudah terlalu banyak membuatmu menangis dan kesulitan."

   Dania menggelengkan kepalanya. "Ibu nggak salah apa- apa. Aku seharusnya berterimakasih karena Ibu bersedia merawat dan melahirkan aku. Jika waktu itu Ibu memutuskan untuk melenyapkan diriku, tentu aku tidak akan berdiri di sini sekarang."

***

_ Bandung 1990_

   "Pergi sekarang juga dari sini!" pekik Sulastri pada Ceppy suaminya. Mendengar teriakan sang istri Ceppy langsung naik darah. Ia mendorong Sulastri sehingga istrinya itu terbentur ke tembok. Dahi Sulastri pun langsung mengeluarkan darah. Sulastri yang melihat ada darah di dahinya bukannya merasa takut, dengan cepat ia menyambar pisau yang tergeletak di atas meja dan mengacungkannya pada sang suami. 

"Kau mau bermain-main denganku?!Kemari kau sekarang juga!"

   Tiba-tiba dari dalam Kartika putri mereka datang dan melerai. 

"Pak, bu! Udah, malu sama tetangga. Bapak sama Ibu nggak malu gitu hampir setiap hari berantem terus!" 

"Ibu kamu itu liat, kurang ajar sama Bapak," jawab Ceppy dengan napas tersenggal.

"Siapapun juga pasti akan marah kalau lihat suami setiap hari kerjanya ongkang kaki. Pergi ke warung kopi, minum- minum, judi!" teriak Sulastri.

    Dengan cepat Kartika merampas pisau dari tangan Ibunya. Dengan berani ia menempelkan pisau itu ke lehernya. 

"Kalau Ibu sama Bapak nggak bisa berhenti ribut,lebih baik aku mati!" jerit Kartika. 

"Eeeeh, kamu anak kecil, ikut-ikutan gila kaya bapak kamu? Sana, pergi sekalian kamu sama Bapakmu itu.Nggak butuh suami sama anak modelnya kaya kalian, pergi!!"

   Bukannya panik, Sulastri malah semakin emosi. Dia pun langsung melangkah menuju ke kamarnya dan membanting pintunya dengan keras. Kartika meletakkan pisah di tangannya. Ia pun terduduk lemas seketika. Air matanya mulai menetes di pipinya. Ceppy mengembuskan napasnya perlahan. Ia menghampiri Kartika dan mengelus rambut putri sulungnya itu perlahan. 

"Maafkan bapak, neng. Gara - gara Bapak di PHK, Ibu jadi marah- marah terus." 

"Bapak usahalah, pak. Cari kerjaan, apa aja. Mau jadi tukang becak, ngojek, narik angkot atau apa sajalah yang penting halal. Malu, pak setiap hari bapak sama ibu ribut terus." 

"Insya Allah, nak."

   Kartika bangkit dan segera masuk ke kamarnya meninggalkan Ceppy sendiri. Ceppy tadinya bekerja di sebuah pabrik. Tapi, sudah setahun ini ia di PHK dan belum mendapatkan pekerjaan kembali. Untuk sehari- hari akhirnya Sulastri bekerja sebagai pembantu untuk mencukupi kehidupan mereka sehari- hari.

   Ceppy menghela napas panjang ia sebenarnya tidak mau seperti ini. Ia juga tidak mau membebani istrinya. Tapi, apa daya dia hanyalah lulusan sekolah dasar. Mana ada perusahaan atau pabrik yang mau menerima. Jika dia dapat bekerja di pabriknya yang dulu itu karena bantuan seorang sahabatnya. Ya, dengan cara menyogok orang dalam sehingga ia bisa di terima bekerja. Dengan usianya kini yang sudah memasuki 45 tahun mana ada pabrik yang mau menerima.  Ceppy pun bangkit berdiri dan melangkah keluar dan berjalan dengan gontai. Saat ini ia hanya ingin menenangkan dirinya. Mungkin dengan menikmati angin malam, ia akan lebih baik. 

    Sampai menjelang Isya, Ceppy tidak juga kembali ke rumah. Kartika yang sedang menggoreng nasi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sudah tidak heran lagi jika bapaknya tidak pulang sampai malam. Apalagi baru jam 7 malam. Tapi, entah mengapa perasaan Kartika malam itu tidak enak. 

"Teteh kenapa?" tanya Agung sang adik. Kartika menggelengkan kepalanya. 

"Perasaan teteh nggak enak. Coba kamu panggil Ibu,suruh makan sekalian. Teteh udah masakin nasi goreng," ujar Kartika. Agung mengangguk, tapi baru saja ia hendaknmengetuk pintu kamar Ibunya, pintu rumah mereka di ketik dengan keras. Agung dan Kartika pun saling berpandangan. Tampak Sulastri membuka pintu kamar nya akibat mendengar gedoran di pintu yang sangat keras.

   "Kalian nggak dengar pintu di gedor segitu kerasnya?!" hardik Sulastri pada kedua anaknya. Kartika dan Agung tak menjawab, mereka mengikuti langkah ibunya. Dengan kesal Sulastri membuka pintu. Hampir saja ia memaki orang yang menggedor pintu rumahnya. Tapi, makannya hanya menggantung saat melihat Pak RT dan dua orang berseragam Polisi yang datang. 

"Aduh, punten Pak RT. Ada apa ini?" tanya Sulastri cemas. Pak RT yang bernama Uju Supriyadi itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tampak sedikit kebingungan. Sementara Kartika dan Agung sudah saling pandang penuh kecemasan.

   "Apa benar ini rumah bapak Ceppy Nugraha?" tanya salah satu anggota kepolisian yang bernama Gunawan. Sulastri mengangguk, "Betul, ada apa ya pak?" tanya Sulastri. 

"Begini bu, suami Ibu saat ini sedang kritis di rumah sakit karena terlibat perkelahian dengan preman. Apa Ibu bisa ikut kami?"

   Dada Sulastri terasa begitu sesak. Ia memang kesal pada suaminya. Tapi, tidak pernah terlintas dalam benaknya jika sang suami akan mendapatkan musibah seperti ini. Hampir saja ia terjatuh, jika Kartika dan Agung tidak bergegas menangkap tubuh Ibu mereka. 

"Ibu tidak apa-apa?" tanya pak Uju dengan cemas. Sulastri menggelengkan kepalanya. "Udah, saya nggak apa-apa. Teu nanaon. Sebentar saya ganti baju dulu ya."

    Sulastri bergegas menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Dan, 15 menit kemudian dia keluar dengan membawa tasnya. "Kalian jaga rumah. Ibu pergi dulu," ujarnya pada kedua anaknya dan langsung pergi bersama Pak Uju dan kedua Polisi yang sedang bertugas itu. 

    Sementara Kartika hanya bisa tertegun dan meneteskan air mata. Entah mengapa ia merasa bahwa setelah ini akan ada sesuatu yang jauh lebih buruk menimpanya. Kartika hanya bisa berdoa, semoga semua akan baik-baik saja.

Bab 2

Kartika dan Agung tidak menyangka jika pagi itu Sulastri akan pulang dengan membawa jasad ayah mereka pulang. Kartika tidak kuasa menahan derai air mata. Ia menangis tersedu sambil memeluk Agung adiknya. Beberapa tetangga mereka langsung membantu memandikan jenazah ayah mereka. Ceppy rupanya terlibat dalam perkelahian dengan para preman ketika ia mabuk. Perkelahian yang tidak seimbang dan satu buah tikaman yang tepat mengenai organ vitalnya membuat Ceppy meregang nyawa setelah beberapa jam ia melawan maut di dalam ruang operasi.

   "Kamu yang sabar ya, neng. Harus bisa hibur Ibumu," ujar Aminah majikan Sulastri. Kartika hanya mengangguk pedih."Terima kasih banyak ya, Bu," jawab kartika pilu. 

"Ini disimpan ya, nggak usah bilang sama Ibumu. Ini buat pegangan ya, kasian adikmu sekolahnya. Kamu juga neng, udah kelas 2 sayang sebentar lagi naik ke kelas 3. Kalau ada apa-apa, bilang sama Ibu ya," kata Aminah lagi sambil memberikan amplop berisi uang pada Kartika. Aminah memang baik. Ia adalah juragan beras yang memiliki kios beras di pasar Caringin Bandung.

   Setelah disolatkan di mesjid terdekat, jenazah Ceppy langsung di makamkan di TPU Cikutra. Kartika hanya menangis pilu saat melihat jenazah Ceppy di masukkan ke dalam liang lahat. Sulastri hanya diam membisu. Ia memang marah dan kesal pada suaminya yang hampir setahun terakhir ini tidak memberi nafkah padanya. Tapi, Sulastri tidak menyangka jika Ceppy akan pergi secepat ini. Tak ada isak tangis, tak ada teriakan. Sulastri hanya diam membisu. Bahkan setelah pemakaman selesai pun Sulastri hanya diam. Ia membiarkan tetangga- tetangganya yang mempersiapkan acara tahlil untuk suaminya. Dia hanya mengurung diri dikamar. Aminah yang melihat hal itu melarang Kartika untuk mengganggu Ibunya.

   Aminah tau bagaimana kondisi keluarga Sulastri dan Ceppy. Aminah seorang janda yang ditinggal suaminya meninggal dunia. Anak Aminah hanya satu. Dan, dialah yang menjaga dan mengurus kios beras mereka. Aminah pernah meminta Kartika dan Agung untuk menjadi anak angkatnya. Tapi, Sulastri tidak mau memberikannya. Aminah pun tidak bisa memaksa. Tapi, terkadang ia memberikan uang saku pada Kartika dan Agung jika kebetulan mereka berpapasan di jalan. Sempat terbersit dalam benak Aminah untuk menjadikan Kartika menantunya. Tapi, ternyata putra tunggalnya sudah memiliki pilihan  sendiri.

***

   Siang itu, Sulastri baru saja pulang bekerja dari rumah Aminah saat beberapa orang preman mengacak- acak rumahnya. Sementara Kartika dan Agung tampak ketakutan dan saling berpelukan di halaman rumah mereka. 

"Heeh, ada apa ini mengamuk di rumah orang! Kalian siapa?!" hardik Sulastri. 

"Kami di suruh bos nagih utang sama Cecep! Kamu istrinya Ceppy alias Cecep kan?!" 

"Yang punya utang udah mati! Tuh, kuburannya baru seminggu. Kalian pergi jangan datang lagi kesini. Saya nggak ada urusan!" 

"Enak aja, nih liat surat rumah kalian ada di tangan kami. Ini ada surat perjanjiannya juga, kamu mau kami bawa dan kami seret ke kantor polisi?!" bentak seorang preman yang bertubuh paling besar.

   Sulastri menelan salivanya. Ia terkejut melihat sertifikat asli rumah yang sudah berpindah tangan itu. Tubuhnya lemas seketika. 

"Be-berapa hutangnya?" tanya Sulastri. 

"Hutangnya 30 juta. Sama bunganya jadi 45 juta."

"Banyak sekali itu bunganya?!"

"Heh, suami kamu itu udah nunggak 6  bulan lebih. Jadi, wajar bos kasi bunga tinggi sesuai perjanjian!"

   Sulastri terdiam, dalam hati ia merasa kesan bukan main. Sulastri tidak menyangka bahwa suaminya akan meminjam uang dalam jumlah banyak pada rentenir. Sulastri mencoba mengingat- ingat kapan terakhir Ceppy memiliki uang banyak. Dan, tatapan matanya berubah tajam pada sang anak. 

"Ini gara- gara bayar uang sekolah kamu sama beli motor, ya kan?!" hardik Sulastri pada Kartika. Kartika terdiam, ia ingat almarhum memang sedikit terlambat membayar tunggakan uang pangkal masuk SMU nya dan juga SPP-nya selama beberapa bulan. 

"I- iya, bu. Tapi, waktu itu kan, bapak beli motor itu buat ngojek, trus kalau nggak salah sisa uangnya dikasi ke ibu kan?" 

"Sial! Memang kamu sama bapak kamu itu sama aja! Ngapain sekolah tinggi, ujungnya juga paling jadi SPG!" 

"Heh, nggak usah ribut! Kalian jadinya kapan mau bayar?!" 

"Sa- saya minta waktu bang, saya pasti lunasi semuanya," jawab Sulastri. 

"3 hari lagi kita balik lagi ke sini!"

   Dan, kelima preman itu pun akhirnya pergi dari rumah Sulastri. Sulastri langsung menatap Kartika dengan tajam. "Semua ini gara-gara kau yang ingin sekolah, ngotot! Udah tau bapakmu di PHK , liat akibatnya sekarang! Bapakmu jadi berhutang, kau pikir 45 juta itu sedikit, hah?!Kalau rumah ini disita, kita mau tinggal di mana?!" 

"Aku sekolah biar pintar, bu. Biar bisa angkat derajat Ibu sama Bapak," jawab Kartika lirih. 

"Hah, angkat derajat apa? Nyusahin yang ada! Di pikir biaya sekolah murah?! Jatuh dari langit! Perempuan paling nikah juga jadi babu di rumah, dapur sama kasur. Nih, kalau adik kamu yang sekolah tinggi nggak masalah!" bentak Sulastri.

   Kartika hanya bisa menangis sedih. Ibunya memang selalu seperti itu. Kartika merasa Ibunya pilih kasih. Selalu saja Agung yang lebih di bela. Dan juga di perhatikan. Sementara dia sendiri tidak. 

"Kenapa sih, bu selalu saja Agung yang Ibu bela. Apa aku nggak boleh sekolah tinggi? Aku juga mau jadi sarjana kaya teh Intan." 

"Heeeh, jangan mimpi, Intan itu emak bapaknya punya kios di pasar. Mobilnya aja ada berapa? Mau kuliah tinggi juga ada biaya. Kamu?! Bapak kamu itu udah mati! Kalau nanti kamu nikah, kamu bakalan ikut suami. Mending kalau suami kamu kaya raya bisa ngasih sama Ibu. Kalau modelnya kaya bapak kamu?! Boro- boro ngasih sama Ibu yang ada mungkin malah nyusahin. Numpang tinggal di rumah ini! Sekarang kamu nggak usah sekolah lagi! Ibu nggak punya biaya. Mending si Agung aja yang sekolah tinggi. Agung nantinya jadi kepala keluarga, dia yang bakalan angkat derajat Ibu. Dia itu anak laki-laki," Sulastri mulai merepet.

   Kartika hanya bisa menangis tersedu, ia pun memilih untuk masuk ke kamarnya. Sudah terlalu sering Sulastri menyakiti hatinya. Biasanya Ceppy selalu membelanya jika Sulastri memaki. Tapi, kini sang ayah sudah tiada. Tak ada lagi tempatnya untuk mengadu dan berkeluh kesah. Ceppy memang pengangguran, suka mabuk- mabukan. Tapi, dia adalah seorang ayah yang cukup baik bagi Kartika meskipun jauh dari kata sempurna. 

"Kenapa Bapak cepat sekali pergi, lihat kan, pak. Ibu selalu begitu, di mata Ibu tidak ada yang benar dari Kartika. Apa yang Kartika lakukan  selalu saja salah," gumam Kartika di sela isak tangisnya.

   Sementara itu, Sulastri masih terdengar mengomel di luar. Dan terdengar juga beberapa barang di banting. Selalu seperti itu jika Sulastri marah. Ia akan membanting apa saja sebagai sasaran emosinya.

Bab 3

Seharian itu, Sulastri pergi entah kemana. Sejak subuh ia sudah keluar rumah, karena khawatir Kartika pun akhirnya memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah dulu. Ia membuatkan adiknya sarapan. Lalu membersihkan rumah dan mencuci serta menggosok pakaian. Tak lupa ia juga membereskan rumah yang berantakan karena ulah para preman penagih hutang kemarin. 

    Sampai menjelang isya, Sulastri akhirnya pulang. Wajahnya tampak begitu lelah. Dan, saat ia menatap Kartika ia hanya mendelik dan langsung masuk ke kamarnya. 

"Gung, kau ajak Ibu makan, kalau teteh yang ajak makan nanti Ibu marah," kata Kartika pada Agung adiknya. Namun, belum sempat Agung mengetuk pintu kamar, Sulastri sudah keluar dari kamarnya. 

"Ganti pakaian dan bereskan baju-bajumu, lalu ikut Ibu!" perintah Sulastri pada Kartika. 

"Kita mau kemana, bu?" tanya Kartika takut- takut. 

"Nggak usah banyak tanya, cepat!" bentak Sulastri. 

    Melihat gerakan Kartika yang lambat, Sulastri langsung menyeret putri sulungnya itu. Dengan gerakan cepat, Sulastri menyambar tas jinjing dan mengisinya dengan pakaian- pakaian Kartika, kemudian ia menyeret Kartika untuk ikut bersamanya. 

"Kau jaga rumah, kalau ada apa-apa lari ke rumah Ibu Aminah, dengar?!" kata Sulastri pada Agung. Agung hanya mengangguk dan menatap kepergian Sulastri dan Kartika. 

    Sementara itu, dengan kasar Sulastri menarik tangan Kartika dengan kasar, hingga gadis itu menjerit kesakitan. Sulastri menyetop taksi yang kebetulan lewat dan langsung mendorong Kartika untuk cepat masuk. Mereka tiba di sebuah kompleks perumahan elite dan taksi itu berhenti di sebuah rumah yang besar. 

"Tunggu sebentar, saya tidak lama," kata Sulastri. Ia pun langsung menarik tangan Kartika dan menyeretnya untuk mengikuti langkahnya memasuki rumah besar itu. 

    Tampaknya kedatangan mereka memang sudah dinanti, tak lama setelah memencet bel, seorang wanita cantik dengan make up yang sedikit tebal membukakan pintu. 

"Oh, ini anaknya? Tinggalkan dia di sini, ambillah ini," wanita itu menyerahkan amplop berwarna coklat yang cukup tebal kepada Sulastri. Sulastri langsung meraihnya dan berpaling pada Kartika. "Kau tinggal di sini dan menurut kepada tante Sania," kata Sulastri datar. Belum lagi sempat Kartika berkata-kata tangannya sudah di tarik untuk masuk ke dalam. Kartika hanya sempat melihat Sulastri berjalan dengan cepat dan menaiki taksi kemudian menghilang di balik kegelapan malam. 

    Kartika berdiri takut-takut sambil memeluk tas yang berisi pakaiannya. Ia tampak sedikit ketakutan, bagaimana tidak jika tatapan mata Sania seolah sedang menelanjanginya. 

"Kamu cantik sekali, berapa usiamu?" tanya Sania sambil mengelus pipi mulus Kartika. 

"Sa-saya ... u-umur saya 16 tahun, tante," jawab Kartika takut-takut.

"Masih sangat muda. Baiklah, sekarang harus di persiapkan terlebih dahulu. Ingat, kau harus menurut kepadaku. Asal kau tau saja, aku baru saja membelimu sebesar 50 juta rupiah dari Ibumu. Jadi, aku berhak atas dirimu sekarang ini. Apa kau mengerti, anak cantik?" ujar Sania. 

"Apa aku akan menjadi pembantu di rumah ini, Tante?" tanya Kartika dengan polos. 

    Sania tertawa terbahak-bahak, "Kau polos sekali ya, hahaha ... Tapi, bagus itu artinya Sulastri tidak berdusta. Jadi, aku bisa mendapatkan cuan yang lebih banyak. Tetii! Sini cepat kamu, Teti...!"

Seorang pria dengan gaya kemayu tergopoh- gopoh menghampiri mereka, "Ada apa sih, Mamiih? Teriak- teriak aja deh, eike kan lagi sibuk di belakang."

"Sini, bikin gadis polos ini jadi cantik, malam ini kita akan bawa dia ke mess. Aku baru membayarnya 50 juta, jadi kau buat dia cantik," kata Sania. Pria kemayu yang bernama Teti itu langsung berbinar- binar menatap Kartika.

"Waduh, ini sih bakalan jadi ladang duit, cucok. Cantik, tinggal di poles dikit udah pasti langsung bersinar kaya bintang, eike dandanin dia dulu, Mami. Cuz, sini ikut eike," kata Teti. 

     Teti langsung menarik tangan Kartika dan membawanya ke ruangan belakang. Di ruangan itu terdapat sebuah kaca yang cukup besar dan juga pakaian - pakaian yang sangat cantik, namun bagi Kartika pakaian- pakaian itu begitu terbuka dan terlalu seksi. Dengan cepat, Teti mendudukkan Kartika di kursi,lalu ia mengambil alat- alat make up dan mulai memoles wajah Kartika. Kemudian, ia juga menata rambut Kartika menjadi lebih indah. Dan, terakhir Teti meraih beberapa gaun yang cantik- cantik. 

    Tapi, setelah memilih, Teti mengambil sebuah dress dengan bahan satin berwarna hitam dengan kerah Cheongsam. Dress itu sebenarnya panjang, tapi memiliki belahan yang tinggi di kedua sisi nya. 

"Pakai ini, cepat," katanya. Kartika dengan gugup menerima gaun itu. 

"I-ini gaunnya bagus sekali. Ini buat saya pakai?" 

"Ya iyaa teteh cantik, masa akikah yang pake? Buruan, ganti sekarang." 

"Kamar gantinya di mana?" tanya Kartika. 

     Teti mengembuskan napasnya dengan kasar, dengan sekali tarik ia merobek pakaian yang  Kartika pakai membuat gadis itu memekik kecil. 

"Pakai sekarang!" katanya. Kartika pun buru-buru mengenakan pakaian yang diberikan oleh Teti. Melihat penampilan Kartika, Teti langsung bertepuk tangan. Tak lupa Teti mengambil sepasang sepatu yang cocok dengan pakaian yang di kenakan oleh Kartika.

     Teti pun langsung membawa Kartika ke hadapan Sania. Melihat penampilan baru Kartika, Sania yang sedang bicara dengan seseorang melalui telepon langsung memutuskan sambungan teleponnya. 

"Gimana, cucok kan kerjaan eike," kata Teti. 

"Kamu nanti antar dia ke Savoy Homann sama Donny dan Wahyu. Antar sampai depan pintu kamar, ini nomor kamarnya. Inget di tunggu di lobby. Sekalian, ambil bayarannya. Inget hanya tiga jam. Nggak lebih, abis itu bawa pulang ke sini. Besok pagi baru bawa dia ke mess." 

    Kartika merasa bahwa apa yang di katakan oleh Sania bukanlah sesuatu yang baik. Perlahan, Kartika pun memberanikan diri untuk bertanya. 

"Tante, maaf sebelumnya. Kenapa saya harus mengenakan pakaian seperti ini? Lalu, kenapa saya harus berdandan begini?" tanya Kartika lirih. Sania tertawa terbahak-bahak. "Kamu ini polos, benar-benar polos ya. Apa Ibumu tidak memberitahu sebelum ia membawamu kepadaku?!" tanya Sania. Kartika menggelengkan kepalanya. 

"Nggak, Tante. Ibu tidak mengatakan apapun. Tadi, saat Ibu pulang beliau hanya menyuruh saya untuk mengemasi pakaian dan kemudian langsung membawa saya kemari." 

     Sania mendekati Kartika, lalu memegang pipi gadis itu. "Dengar baik- baik anak cantik, Ibumu sudah menjualmu kepadaku. Untuk apa? Untuk aku jadikan sebagai wanita penghibur, untuk aku jadikan kupu-kupu malam. KUPU-KUPU MALAM!" 

    Kartika tersentak kaget, dadanya sesak seketika. Hatinya terasa tersayat- sayat sembilu. Ibu yang sangat ia cintai dan ia hormati dengan tega menjualnya. Air mata Kartika menetes seketika. Ia merasa lemas seperti tidak bertulang. Sania menyeringai, "Tidak perlu menangis, yang perlu kau lakukan sekarang adalah melayani tamu pertamamu sebaik-baiknya. Bawa dia sekarang, dan suruh dia untuk menghapus air matanya," kata Sania kepada Teti.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED