Tiga tahun lalu, Everland Korea.
Raja melangkah meninggalkan Cahaya yang kembali menolaknya, menolak uluran cinta yang ditawarkannya. Entah apa yang salah dengannya hingga Cahaya seakan enggan terikat padanya. Dia sangat mencintai gadis itu, mencintai dengan setulusnya. Namun dia harus berlapang dada menerima penolakan untuk kedua kalinya.
Cahaya terdiam sendiri, tempat di mana dia berada sekarang adalah salah satu tempat hiburan terbaik di Korea, namun keramaian dan keindahan tempat itu tak dapat membuatnya merasakan bahagia.
Lagi, dia bersikap angkuh menolak Raja. Merasa jumawa dengan rasa cinta lelaki itu, dengan mudah berkata tidak, padahal hatinya juga mendamba.
Munafikkah dia? Tidak. Semua dilakukan untuk kebaikan lelaki itu, lelaki dengan sejuta pesona itu pantas mendapat yang terbaik, dan itu bukan dirinya.
Sudah cukup dia melukai perasaan Raja beberapa bulan yang lalu, dan mungkin juga barusan atas penolakannya. Tapi ke depannya, lelaki itu akan tertawa bahagia dengan melupakan semua tentangnya. Bukankah waktu akan menyembuhkan luka?
Lukanya ... juga luka hati Raja. Semua akan baik-baik saja walau sekarang terasa menyiksa.
"Ya, naik kora-kora yuk? Tuh, Andri sama Adrian udah naik." Alya sang sahabat menghampiri, memilih kursi kosong di sebelahnya untuk dia duduki.
Cahaya tersenyum mencoba menutupi luka hati, luka yang sengaja dia toreh sendiri, luka yang dibuat berdenyut nyeri saat menolak tawaran sang pangeran hati.
"Males, Al. Kenapa nggak naik aja bareng mereka tadi?" kata Cahaya mencoba bersikap biasa.
"Tadinya mau bareng, cuma nggak enak aja kalau hanya bareng mereka. A Raja mana? Tadi aku lihat dia bareng kamu?" Alya menoleh mencari keberadaan Raja, lelaki itu tadi terlihat bersama dengan Cahaya.
"Pergi, nemuin Norri mungkin," kata Cahaya mencoba abai, padahal hatinya berteriak lantang.
Ya, alasan lain menolak Raja adalah melihat kedekatan Raja dengan manajer pemasaran dari Malaysia itu. Selain cantik dan tentunya pintar, Norri begitu terlihat menunjukkan ketertarikan pada Raja, Cahaya yang telah mengecewakan Raja, ingin memberi kesempatan pada Raja untuk membuka hati, bukan hanya terpaku padanya yang sudah terlalu sering menyakiti.
Bodohkah dia?
Tidak. Dan biarlah. Cahaya hanya ingin Raja mendapatkan yang terbaik, dan sepadan dengannya. Bukan seperti dirinya yang hanya seorang anak petani.
"Norri? Manager dari Malaysia itu?"
Cahaya mengangguk, "Kamu cemburu, Ya?"
Cahaya menatap Alya tajam, menolak mengakui apa yang dikatakan.
"Tidak!"
"Bohong!"
"Terserah!"
Alya menghembuskan napas kesal, merasa heran dengan pemikiran Cahaya, kenapa gadis itu tidak pernah mau mengakui perasaannya sendiri?
"Kamu akan menyesal, Ya."
"Kenapa? Aku hanya ingin yang terbaik untuk a Raja."
Mata Alya memicing, menatap penuh selidik pada Cahaya, yang tanpa sengaja membuka kata tanpa perlu ditanya.
"Jangan bilang kamu menolak a Raja lagi, Ya?" tanya Alya tepat sasaran.
"Ya, dan itu yang terbaik untuk a Raja."
"Konyol! Bagaimana bisa kamu bilang itu yang terbaik, Ya? Kalau bahagianya dia itu kamu! Kamu Cahaya Kamila! Bodoh!" Alya tak dapat menutupi kekesalannya pada Cahaya, dan dia semakin kesal saat dengan enteng Cahaya mengendikkan bahunya menanggapi perkataan Alya.
"Kamu akan menyesal, Ya!"
'Ya, dan aku menyesal sudah sejak lama, dan aku akan terus seperti ini, Al.'
Kata-kata Cahaya tidak akan didengar Alya, karena dia hanya berbicara pada dirinya sendiri.
"Kamu memang sudah terobsesi pada oppa, Ya. Kamu menutup mata dan hati pada cinta yang a Raja tawarkan."
"Tidak, karena aku pun akan mengakhiri semuanya dengan oppa, aku akan fokus pada tujuan awalku datang ke negeri ini, aku hanya akan berpikir tentang masa depan."
"A Raja juga masa Depan kamu, Aya! Dia mencintai kamu!"
"Kamu tidak akan mengerti apa yang ada di kepalaku, Al."
"Tentu saja aku tak mengerti, dan tak ingin mengerti! Sudahlah, aku malas berbicara padamu."
Alya bangkit dan berjalan menjauhi Cahaya, menghampiri Adrian dan Andri yang baru turun dari wahana kora-kora.
Cahaya menghembuskan napas kasar, biarlah semua orang menganggapnya keras kepala, dia akan tetap dalam pemikirannya sendiri.
Cahaya mengangkat wajahnya saat seseorang datang, dari aroma minyak wangi yang menguar, dia sudah bisa menebak siapa yang ada di depannya.
Kim tersenyum, lelaki keturunan Korea itu lalu duduk di samping Cahaya. Dia sangat rindu lada gadis yang beberapa hari lalu kembali mendapatkan kemarahan tak jelas darinya.
Bodoh memang, cemburu membuatnya bersikap kekanakan.
"Honey!" panggil Kim, dengan panggilan yang pernah membuat Cahaya merasa tersanjung, tidak seperti sekarang hatinya terasa hambar, "Masih marah? Aku minta maaf, aku menyesal!"
Cahaya memalingkan muka, untuk kesekian kali lelaki itu meminta maaf atas sikap possesif-nya. Dan Kali ini, Cahaya tidak ingin memberikan maaf itu kembali. Dia menyerah untuk bertahan di sisi Kim.
"Aku lelah, Oppa!" kata Cahaya ambigu, membuat Kim mengernyit tak mengerti.
"Lelah? Kalau begitu istirahatlah."
"No, bukan itu. Aku lelah dengan semua, dengan hubungan kita--"
"Honey?" Kim merasakan sesuatu menusuk dalam hatinya, apa Cahaya akan memutuskannya?
"Iya, aku lelah. Kita akhiri saja semua. All finish!"
Deg!
Ada yang menghentak keras dadanya, sakit. Terasa sesak.
Cahaya memutuskannya, setelah beberapa saat lalu dia tersenyum penuh kemenangan atas pengakuan Raja, yang mengatakan kalau dia kembali ditolak oleh Cahaya.
Namun apa sekarang? Nasibnya pun tak jauh beda, Cahaya memutuskannya! Mengakhiri jalinan rasa yang baru sebentar mereka bina. Dia juga kalah ternyata.
Tidak! Belum, dia belum kalah. Dia akan melakukan apa saja untuk menahan Cahaya di sisinya.
Apapun.
"Kenapa ... kenapa kamu ingin mengakhiri hubungan kita, Honey? Aku sangat mencintaimu, apa kamu meragukan itu?" Kim menggenggam tangan Cahaya.
Yang membuat seseorang yang memperhatikan mereka berdua, salah sangka atas pemandangan yang dilihatnya. Menyangka kalau keduanya tengah saling mengungkapkan rasa cinta, hingga dia berharap bahagia selalu ada pada gadisnya.
"Tapi cintamu membuatku tersiksa, Oppa! Aku tersiksa!" air mata Cahaya tak dapat ditahan, meluruh jatuh menuruni pipi.
Kim tersentak, semenyakitkan itukah mencintainya?
Dia hanya ingin melindungi miliknya, Cahaya-nya. Semua sikap possesif yang ditunjukkan Kim hanya sebagai ungkapan cinta yang tak terbatas pada Cahaya.
"Aku minta maaf kalau semua yang aku lakukan sudah menyakitimu, Honey. Tapi tolong, beri aku kesempatan. Aku tidak ingin kita putus, aku sangat mencintaimu!" Kim mengusap pipi Cahaya, hatinya sakit dengan semua kenyataan yang ada.
"Maaf, Oppa. Berikan aku waktu untuk menguji kembali hatiku. Aku butuh waktu."
"Ok, baik. Kamu butuh waktu? Aku berikan, sebanyak yang kamu butuhkan. Tapi tolong, jangan putuskan aku. Kumohon?!" Kim menghiba penuh pengharapan. Bagaimana dia tidak sanggup kehilangan Cahaya.
Lagi pula bagaimana tanggapan Raja, kalau tau dia juga diputuskan oleh Cahaya? Tentunya itu akan melukai harga dirinya.
Cahaya menatap Kim sendu, karena lelaki ini dulu dia mengkhianati Raja, karena cinta ... atau mungkin obsesinya dia memilih Kim dadi pada Raja. Dan sekarang lelaki itu memohon padanya, pantaskah dia memberikan kesempatan lagi pada Kim?
"Aku butuh sendiri, Oppa."
"Tentu, ambil waktu sebanyak yang kau mau, aku akan menunggu kamu kembali. Aku mencintaimu, Honey! Sangat mencintaimu," ujar Kim penuh keyakinan, berharap sang pujaan sudi menerima kesalahan yang terus dia lakukan berulang.
"Aku pergi dulu."
Cahaya melepaskan genggam tangan Kim, beranjak pergi dari sana, sekedar melepas sesak di dada, dengan menikmati tempat wisata yang kini dia datangi.
Kim mengepalkan tangannya kuat, menyesali sikapnya yang tak berubah sama sekali. Kim sadar Cahaya sudah sering memberinya kesempatan, namun selalu saja dia melakukan kesalahan.
Kali ini Kim bertekad, tidak akan membuat Cahaya menyesal telah memberinya kesempatan.
"Akan aku buktikan kalau aku bisa menjadi seperti yang kamu mau, Honey. Aku tak bisa kehilanganmu. Tidak pernah bisa!" senandika Kim dengan terus memperhatikan Cahaya yang kini bergabung dengan ketiga temannya.
Cinta, apa benar serumit itu?
Alya berjalan cepat meninggalkan kantin, tangannya yang menggenggam tempat minum, mencengkram erat. Dia semakin memburu langkah ingin segera sampai di tempat kerjanya.
Perutnya yang semakin membuncit, mengurangi gerak langkahnya. Apalagi teriakan beberapa orang yang mengingatkannya untuk berhati-hati terdengar, hingga saat akan memasuki tempat kerja Andri, laki-laki itu menghentikan langkahnya.
"Hati-hati berjalan, Sayang! Aku ngeri lihat kamu jalan seperti barusan. Ingat, ada anak kita dalam perutmu!" tegur Andri dengan tatapan penuh kekhawatiran, Alya yang mendapat protes dari suaminya hanya tersenyum polos.
"Iya, Sayang. Maaf!"
"Jangan minta maaf, tapi jangan diulangi lagi!" Andri mengusap kepala Alya sayang, memberikan usapan pada perut Alya yang kini tengah mengandung anaknya kemudian, "Anak Ayah, kalau Bundanya nakal jangan diam saja, ya?!" sapa Andri yang ditanggapi tendangan kecil dari dalam sana, sepasang calon orang tua baru itu tertawa.
"Dia nurut!"
"Iyalah. Anak aku!" Alya mencebik, sedang Andri tertawa pelan, "Barusan kenapa sih tergesa-gesa?"
Alya tersenyum penuh misteri, lalu menggeleng membuat Andri memicing semakin heran.
"Rahasia! Aku belum mau cerita sama kamu sebelum bilang sama Cahaya."
"Ada apaan sih?"
"Nanti kamu juga tau sendiri! Udah ah, takut dicariin anak-anak!" Alya melanjutkan langkahnya menyusuri lorong menuju tempat kerjanya, Andri yang memang tidak bisa memaksa agar Alya menjawab rasa penasarannya, menggeleng.
Alya melangkah menuju meja kerjanya yang bersebelahan dengan meja kerja Cahaya, setelah menyimpan tempat minumnya, dia beranjak mencari keberadaan Cahaya. Hingga dia bisa menemukan gadis itu sedang memeriksa hasil kerja salah satu karyawannya.
"Ya!"
Cahaya menoleh sebentar, lalu kembali memeriksa barang saat melihat Alya berjalan mendekat.
"Apa?" tanya Cahaya saat Alya sudah berdiri di sampingnya.
"Sibuk?"
"Urgent, harus dikirim siang nanti. Tadi juga Pak Indra nanyain spec yang kemarin, udah beres belum?" terang Cahaya tanpa mengalikan pandangannya.
"Udah, sedang cek QC. Aku ada kabar gembira nih!" Alya semakin tidak sabar menyampaikan berita yang akan dia sampaikan. Membuat Cahaya menghentikan pekerjaannya.
"Apa?"
"Jangan kaget tapi!" Alya sudah heboh sendiri, ciri khas dia saat ada berita yang menurutnya sangat menarik.
Cahaya mendesah pelan, calon ibu itu tetap tak berubah. Itulah yang membuat Cahaya nyaman bersahabat dengan Alya.
"Iya," jawab Cahaya pendek agar Alya segera mengatakan maksudnya.
"Tadi waktu ke kan--"
"Cahaya!" sebuah panggilan menghentikan perkataan Alya, keduanya menoleh pada sumber suara.
"Iya, Pak Indra?!" jawab Cahaya, sedang Alya menghembuskan napas pasrah, tampaknya waktunya kurang tepat untuk bercerita.
"Ini nggak lulus, barang lain ada nggak?" tanya Indra memberikan kertas hasil kerja pada Cahaya.
Cahaya mendesah lelah, "Aku cek belakang dulu, Pak!"
"Nanti kabarin ya?! Soalnya nanti mau ada manager pemasaran yang baru, mau diajakin ngenal produksi."
"Loh, emang Bapak mau kemana?" tanya Alya yang sedari tadi hanya diam.
"Saya cuma pengisi kekosongan saja, Al. Orang barunya udah ada di kantor kok, ya udah aku ke sana dulu." Indra pun berlalu setelahnya,
"Ya?"
"Ceritanya nanti aja ya, Al? Aku mau cek barang dulu."
"Euh, Ya--" tangan Alya mengambang di udara, tak bisa mencegah Cahaya yang beranjak ke bagian belakang untuk memeriksa barang.
"Ya sudahlah, nanti saja bilangnya. Dia juga lagi sibuk," guman Alya meninggalkan tempat kerja Cahaya.
Cahaya terus melakukan pekerjaannya mencari barang yang memang sangat dibutuhkan untuk segera kirim. Perusahaan tempat kerjanya sekarang, adalah perusahaan yang sama waktu dia kerja di Korea. Perusahaan di Korea memutuskan memindahkan semua ke Indonesia setahun setelah Cahaya bekerja di negeri ginseng itu.
Dan di tempat baru, jabatan leader membuatnya sibuk dan melupakan janji seseorang, yang telah berjanji akan datang dua tahun lalu, namun hingga akhir penantian di tahun ketiga pun, lelaki itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Berbeda dengan Alya yang berhasil menyatukan cintanya dengan Andri, dan kini tengah menunggu kelahiran anak pertama mereka.
Cahaya kembali melangkah ke tempat kerjanya, mengatakan pada karyawan bawahannya untuk mengerjakan barang yang dibutuhkan.
Waktu terus berjalan, kesibukan Cahaya harus terhenti oleh suara bel tanda istirahat berbunyi. Menyandarkan tubuh lelahnya di kursi kebesarannya, di sebelahnya Alya menatap diam.
"Kenapa, Al? Gitu amat liatinnya!"
"Cape?"
"Dikit, kenapa?"
"Aku tanya boleh?"
"Apa?"
"Kalau tiba-tiba kamu ketemu a Raja---gimana?" Cahaya melihat Alya kaget, sudah lama mereka tidak membicarakan nama itu, kenapa sekarang Alya menanyakan lagi?
"Ada apa sih, Al? Tumben!"
"Jawab saja."
"Entahlah, aku malu--" Cahaya mendesah lelah, semua cerita masa lalu kembali membayang di benaknya. Tentang dia, Kim, dan juga Raja.
"Kamu ... masih mengharapkan kedatangan oppa ya?" tanya Alya menatap dalam Cahaya, ia merasa iba dengan kisah cinta gadis cantik di depannya itu.
"Aku ... tidak mau membicarakan tentang dia lagi, Al. Sudah cukup aku memberikan banyak kesempatan padanya, baik saat bersama, ataupun setelah kami berjauhan," jawab Cahaya yakin.
"Lalu selama ini ... kenapa kamu menutup hati? Bahkan Adrian pun kamu tolak."
Cahaya tersenyum, benar dia dengan tegas menolak cinta Adrian, saat lelaki itu mengungkapkan cintanya setelah sekian lama memendamnya, namun karena merasa lebih nyaman menjadikan Adrian sebagai teman, Cahaya membuat Adrian menghentikan harapannya untuk memiliki cinta Cahaya.
"Aku bukan menutup hati, hanya ... belum bisa membuka hati lagi."
"Bukan karena berharap bertemu seseorang?"
Cahaya mengerutkan keningnya, "Bertemu seseorang? Siapa?"
"Aku yakin kamu akan terkejut, kalau aku bilang siapa yang aku lihat tadi," ujar Alya berteka-teki, dan Cahaya yang sudah sangat mengenal Alya dengan baik, yakin kalau yang dikatakan Alya adalah satu kebenaran.
"Emangnya siapa yang kamu lihat tadi?" tanya Cahaya yang mulai tertarik dengan pembicaraan mereka.
"Tadi itu, aku .... "
"Kenapa belum ke kantin?" suara lain menginterupsi, hingga Alya kembali menelan kata-katanya.
Kenapa susah sekali untuk mengatakan, siapa yang aku lihat sama kamu, Ya? Bathin Alya pasrah, namun tatapannya terlihat kesal pada seseorang yang baru saja mendekat.
"Ganggu aja kamu, Yan!" dengus Alya membuat Adrian yang baru saja datang mengernyit heran.
"Kenapa sih Bumil satu Ini, Ya?" Adrian melihat pada Cahaya, yang terkekeh melihat Alya cemberut.
Cahaya salut dengan sikap dewasa yang ditunjukkan Adrian, lelaki itu tetap menganggapnya sahabat walaupun cintanya ditolak. Bahkan, dua bulan lalu Adrian sudah melabuhkan hatinya pada gadis lain, dan akan segera menikah. Tinggal Cahaya yang masih enggan mencari pendamping entah karena alasan apa, hanya Cahaya yang tau jawabannya.
"Dari tadi itu, aku mau ngasih tahu Cahaya sebuah kabar gembira, tapi selalu aja ada halangan. Siapa yang nggak kesel coba?" rajuk Alya dengan wajah ditekuk. Adrian yang mengerti langsung terkekeh.
"Ya, maaf ... kan aku nggak tahu kalau kalian sedang serius, kirain sengaja lagi nungguin biar bisa barengan ke kantin. Andri mana?" kata Adrian dan menanyakan keberadaan suami Alya itu.
"Nggak tahu, belum ke sini juga," jawab Cahaya sambil mencari keberadaan Andri, yang biasanya langsung datang menjemput Alya untuk makan siang bareng.
"Udah ah, yuk ke kantin. Lapar!" ajak Alya yang sudah kembali sifat aslinya, beranjak bangun, lalu melangkah lebih dulu ke kantin.
"Nggak nunggu Andri?" tanya Cahaya yang juga beranjak dari kursi.
"Pastinya dia sudah nunggu di dekat kantin," jawab Alya pasti.
Cahaya dan Adrian mengikuti Alya, sambil membicarakan tentang banyaknya barang rusak yang dikirim balik. Perbedaan suhu, dan beberapa faktor membuat hasil barang yang diproduksi tidak berfungsi dengan baik. Hingga perusahaan mendapat kerugian, dengan kembalinya barang untuk di tes satu persatu.
Andri yang menunggu kedatangan Alya dan yang lain di depan departemennya, langsung bergabung berjalan menuju kantin.
Setelah mendapatkan jatah makan siang mereka, keempatnya menuju meja yang masih kosong tempat mereka biasanya. Alya yang merasa yakin dengan apa yang dilihatnya tadi saat mengambil minum, melayangkan pandangan mencari keberadaan seseorang yang sangat diyakini olehnya sebagai orang yang dikenalnya. Namun, nihil. Orang yang dia cari tak nampak di antara banyaknya karyawan, baik bagian produksi atau pun staf yang sedang menikmati makan siang mereka.
Alya mendesah pelan, mulai ragu dengan apa yang dilihatnya tadi. Bisa jadi memang bukan orang yang dikenalnya.
"Kamu kenapa, Sayang? Seperti yang nyari seseorang gitu." Andri yang menyadari tindakan Alya bertanya, dan tentu saja hal itu juga menjadi perhatian Cahaya dan Adrian juga, keduanya melihat pada Alya.
"Nggak, aku lagi nyari …!" Alya tak melanjutkan perkataannya, saat dari pintu masuk kantin, beberapa orang staf masuk bersama dengan orang yang tadi dilihatnya.
Dengan gugup dan juga perasaan senang, Alya menunjuk ke arah empat orang yang baru masuk. "Itu! Coba lihat ke sana! Apa benar apa yang aku lihat ini? Dia baru saja masuk!"
Ketiganya menoleh pada arah yang ditunjuk oleh Alya, dan kesiap kekagetan langsung menghiasi wajah mereka. Di sana, seseorang yang pernah mereka kenal, tengah berbicara sambil berjalan mengambil makan siang.
Mereka saling pandang, dan mereka menyakini siapa yang baru mereka lihat itu. Apalagi Cahaya, posisi duduknya yang membelakangi pintu masuk membuatnya harus memutar sebagian tubuhnya melihat pada objek yang dimaksud Alya.
"PAK RAJA!" kata Andri dan Adrian bersamaan, mereka saling pandang meyakinkan diri sendiri, Alya mengangguk tegas dengan senyum mengembang. Berbanding terbalik dengan Cahaya yang merasakan seluruh sendinya lemas.
'Tidak! itu tidak mungkin dia!'
"Benarkan? A Raja!"
"Pak Raja kerja di sini juga?" tanya Adrian melihat pada Alya, setelah tadi menegaskan lagi bahwa hasil penglihatannya tidaklah salah.
"Aku nggak tahu, tapi aku tadi lihat dia waktu ngambil minum, sedang diajak melihat departemen belakang. Dan ini juga yang mau aku katakan sama Cahaya, tapi gagal terus." Alya melihat pada Cahaya yang posisi duduknya ada di depannya, "Ya, kamu yakinkan itu a Raja?"
Cahaya mengerjap, pertanyaan Alya menariknya kembali dari kelebat ingatan tentang sosok yang sekarang ini ada di sekitarnya, sosok yang belum mengetahui keberadaannya. Entah bagaimana reaksi Raja saat melihatnya kembali. Tentu saja dengan drama yang menyertai mereka di masa lalu.
Apakah Raja akan senang bertemu kembali dengannya?
Atau malah ... berpura-pura tidak mengenalnya sama sekali?
Lelaki itu terlihat semakin matang, walau dari jauh Cahaya bisa melihat, betapa pesona Raja selalu membuat kaumnya terpesona. Lelaki itu ... semakin tampan!
Cahaya memalingkan muka, menundukkan wajah dengan ingatan yang kembali berkelana.
Flashback on
Lelaki itu berdiam menunggu, lewat tiga puluh menit dari jam kerja seseorang yang ditunggu sudah berlalu, dia yakin sebentar lagi gadis yang sedang diharapkan bisa memaafkan dan menerimanya kembali akan tiba.
Dari dalam mobilnya, dia bisa leluasa mengamati ke halte. Kesibukan menjelang senja itu tidak terlalu menarik perhatiannya, kedatangan bis jemputan yang membawa raga kekasihnya itulah yang dia harapkan saat ini.
Kekasih?
Iya. Bukankah mereka memang belum berakhir?
Penantiannya berakhir, senyuman terbit di bibirnya begitu melihat bis yang dia tunggu meluncur mendekat ke arah halte. Melihat sekilas tampilan wajahnya dari spion tengah, Kim mengusap wajahnya pelan, mengusir rona bosan yang tadi nampak di wajah tampannya. Apalagi tadi dia harus terus menoleh ke belakang untuk memastikan kedatangan bis jemputan dari Osan.
Kim bisa melihat Cahaya yang turun bergantian dengan Adrian dari dalam bis, mereka terlihat tertawa bersama. Ah, dia merasa iri pada Adrian. Lelaki itu bisa dengan mudah melihat senyum dan tawa Cahaya kapanpun, sedang dia? Apalagi setelah kejadian di Everland waktu itu, Cahaya terus menghindarinya dengan alasan butuh waktu sendiri.
Kim tersiksa menahan rindu, sedang gadis itu seakan tiada mengadu. Benarkah gadis itu telah berhenti mencintainya?
Kim membuka pintu mobil saat Cahaya dan Adrian semakin mendekat ke arah mobilnya terparkir.
Cahaya yang baru menyadari mobil Kim ada di sana, bertepatan dengan lelaki itu menampakkan diri dari dalam mobilnya. Langkahnya terhenti, begitu Kim melangkah mendekat, pun dengan Adrian. Menoleh pada Kim dan Cahaya bergantian.
"Aku ... pulang duluan, Ya," kata Adrian tanpa menunggu jawaban dari Cahaya melangkahkan lagi kakinya, mengangguk sopan pada Kim, begitu berpapasan dengan lelaki yang pernah sangat dicintai gadis yang juga disukainya itu.
Yakin Cahaya sudah tidak mencintai Kim lagi?
'Berharap boleh kan?'
"Honey?!" panggil Kim dengan suara sedikit bergetar. Rasa rindu setelah satu bulan tidak bertemu, membuatnya ingin sekali merengkuh Cahaya dalam hangat peluknya. Hembusan angin di penghujung musim semi, menerbangkan surai hitam panjang Cahaya.
Cahaya mencoba tersenyum, tak mengingkari diri kalau dia juga merindukan sosok yang ada di hadapan sekarang. Laki-laki yang pernah begitu gigih hatinya inginkan. Laki-laki yang sudah membuatnya tak setia pada Raja.
"Oppa!"
"Ne ga ... bogoshipo!" jujur Kim setengah berbisik, antara malu dan tak kuasa menahan beban rindu. Tapi dia sudah bertekad, semua harus diakhiri sekarang. Hari. Ini. Juga. Harus! Apapun keputusan Cahaya, dia akan terima dengan lapang dada. Cukup sudah semua ketidakpastian di antara mereka.
Cahaya meraba hatinya, mencari tau getaran perasaan yang mungkin masih berdesir saat dia bertemu dengan Kim, dan ... ada!
"Na do!" jawab Cahaya jujur, cukup sudah dia berbohong pada dirinya, dulu dia tidak mau jujur akan perasaan sesungguhnya pada Raja, hingga akhirnya dia kehilangan lelaki penuh pesona itu. Lalu kesempatan kedua yang diberikan Raja saat memintanya kembali, dan lagi-lagi dengan dalih demi kebaikan Raja dia menolak lelaki itu. Sekarang ini, lelaki yang--katanya-- sangat mencintainya, mengatakan tentang kerinduan padanya, Cahaya berjanji akan kembali menerima Kim. Bukankah lebih baik dicintai dari pada mencintai?
Walau dia sangat menyebalkan?
'Iya!'
"Benarkah?" Kim tak dapat menyembunyikan raut bahagia di wajahnya, memangkas jarak, berdiri tepat di depan Cahaya.
"Iya, aku ... rindu!" senyuman Kim semakin lebar, Cahaya tetap menjadi miliknya.
"Apakah itu artinya ... kita--"
Cahaya mengangguk, Kim menarik lembut tubuh Cahaya, mengabaikan tatapan orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
"Kumowo, Honey! Saranghe!" bisik Kim memeluk erat tubuh kekasih, yang sebulan ini sukses membuatnya tersiksa rasa.
Tangan Cahaya terangkat membalas pelukan penuh rindu Kim, sekali lagi dia memberikan kesempatan lelaki bermata sipit itu kesempatan. Dan Cahaya berharap, kali ini Kim bisa membuktikan semua ucapannya.
Flashback off.