Bab 1

Turki

Hiruk pikuk keramaian orang-orang membuat Erhan ingin menutup telinga. Sejujurnya, bukan karena masalah suara musik yang lantang atau tarian yang dilakukan para tamu yang membuatnya enggan berada disana. Tapi ia merasa bosan dengan pertanyaan-pertanyaan yang para tetua dari pihak keluarga ibunya berikan.

"Kapan kau akan menikah?" atau "Kapan kau akan menyusul si anu?" atau "Si A sudah punya sekian anak, kapan kau memberikan orangtua mu cucu?" Dan yang membuatnya kesal adalah pertanyaan "Memangnya kau tidak bosan melajang?"

Damn! Siapa juga yang mau terus melajang di usianya yang sekarang?

Lagipula, dirinya masih berusia 28 tahun. Belum terlalu tua untuk memutuskan melajang bukan?

Karena kesal, akhirnya ia memilih untuk meninggalkan aula dimana pesta sedang berlangsung dan pergi menuju taman hotel yang sepi. Sayangnya, bukannya bisa menenangkan diri, dia malah mendapatkan kesialan yang lain dengan bertemu sosok yang tak ingin dilihatnya.

"Menghindar, heh?" pertanyaan itu jelas sekali dimaksudkan untuk mengejeknya.

Erhan mendengus. Namun memilih untuk duduk di tempat yang sama dengan sepupunya yang super tengil itu. "Apa yang kau lakukan disini?" Ia balik bertanya. Lalu kemudian sebuah senyum mengejek turut terkembang di wajahnya. "Kupikir aku tahu." Ucapnya dengan wajah sumringah. "Kau menghindari pertanyaan dari para wanita tua di dalam sana, iya kan?" ledeknya.

Lucas mengangkat sebelah alisnya. Memandang Erhan dengan jijik. Sementara Erhan tertawa terbahak karenanya.

Dengan cukup keras ia menepuk punggung sepupunya dengan tangan kirinya hingga mengeluarkan suara. "Sabar, Sepupu. Semua akan indah pada waktunya." Ucapnya dengan nada mengejek. "Setidaknya kau lebih tua daripada aku. Kenapa aku lupa itu? seharusnya saat aku ditanya kapan akan menikah, aku menjual namamu."

"Apa maksudmu?" tanya Lucas tak mengerti.

Erhan mengedikkan bahu dengan gerakan tak acuh. "Seharusnya saat mereka bertanya, aku menjawab. 'Mana mungkin aku melangkahi Lucas. Dia bujang yang usianya lebih tua dariku.' Bukan begitu?" lanjutnya dengan wajah mengejek. Namun bukannya menjawab ejekan Erhan. Lucas memilih untuk memalingkan muka. "Hei, Sepupu. Kau tersinggung?" tanya Erhan tiba-tiba karena melihat ekspresi wajah sepupunya yang berubah. Lucas biasanya baik-baik saja jika Erhan menggodanya, namun sepertinya sepupunya itu saat ini sedang dalam mode sensitif. "Apa kau sedang PMS?" godanya lagi.

"Sialan kau!" bentak Lucas. Erhan malah tertawa karenanya. "Kalau kau tidak punya pekerjaan disini, lebih baik kau ikut denganku ke Indonesia." Ucap Lucas pada akhirnya.

Pernyataan bernada perintah dari sepupunya itu membuat Erhan mengerutkan dahi. "Maksudmu? Kau sedang merekrutku?" tanyanya tak yakin.

Lucas mengedikkan bahu. "Terserah kau menyebutnya apa. Tapi yang jelas, aku dan Adskhan membutuhkan bantuanmu. Lagipula, Paman Gohan juga sudah menyuruhmu untuk bekerja bukan?"

Erhan mengedikkan bahu. "Kau tahu kalau aku tidak punya minat dengan konstruksi. Aku lebih suka melihat para wanita cantik daripada tumpukan batu dan bau cat."

Lucas mengerling kepada sepupunya. "Hanya untuk sementara. Aku butuh seseorang yang bisa kupercaya. Sementara Adskhan saat ini tidak bisa diandalkan." Jawab Lucas lagi.

Erhan mengerutkan dahinya bingung. "Mana mungkin pekerja marathon itu tidak bisa diandalkan?" ejeknya.

Lucas lagi-lagi mengedikkan bahu. "Dia sedang mengejar seseorang sampai dia lupa pada perusahaan."

Erhan terbelalak. "Apa itu artinya dia akan menikah lagi?" tanyanya tak percaya. Lucas hanya mengedikkan bahu. Kemudian dia merangkul bahu Lucas dan mengusap lengan berotot pria itu dengan lembut. "Sabar ya, sepupu. Terima saja nasibmu."

Lucas kembali mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"

"Aku tahu kau merana. Saat Adskhan akan menikah untuk kedua kalinya, kau malah masih asyik saja sendiri." ledekan Erhan tentu saja membuat sepupunya itu meradang. Lucas bahkan menyikut rusuk Erhan dengan cukup keras sampai Erhan mengaduh. Namun pria itu kembali tertawa tak lama setelahnya. "Tapi sepupu, aku sebenarnya ingin bertanya sesuatu padamu." Ucapnya lagi.

"Apa!" bentak Lucas.

"Slow, Bro. slow." Ucap Erhan dengan kedua tangan terangkat ke atas. "Aku hanya ingin bertanya, apa kau pria normal?" tanyanya dengan mata tertuju ke arah bagian bawah tubuh Lucas. "Apa adikmu itu benar-benar bisa berdiri?" lanjutnya lagi yang membuat Lucas semakin meradang.

Kesal, Lucas hendak memukul Erhan namun pria itu bisa berkelit dengan mudah dan menjauh dari Lucas dengan tawa yang tak lepas dari wajahnya.

Erhan berhasil menjauh dari Lucas pada akhirnya. Biarkan saja sepupunya itu kesal. Anggap saja ini sebagai balas dendamnya atas situasi tak menyenangkan yang sedang ia hadapi kini. Memangnya dia tidak kesal selalunya ditanya kapan menikah. Memangnya Erhan tidak mau punya pasangan yang dia cintai dan mencintainya. Tentu saja dia mau, hanya saja kalau belum jodoh, dia harus bilang apa?

Indonesia? Negara itu tak asing di telinganya. Negara itu adalah tempat dimana paman-pamannya bertemu dengan cinta sejati mereka. Dan saat ini Adskhan pun sedang mencari pujaan hatinya disana. Apakah mungkin jika ternyata Tuhan menggariskan jodohnya berasal dari sana juga?

Haruskah ia pergi juga?

Baiklah, kenapa tidak. dia bisa mencobanya. Sekali berenang tiga pulau dia datangi. Usaha sepupunya, usaha ayahnya dan juga usahanya untuk mendapatkan jodoh. Ya, kenapa tidak. siapa yang tahu nanti saat dia kembali dia sudah membawa mempelai wanita untuk dia ajak melakukan Kina Gecesi. Erhan tertawa dalam hati.

Beberapa hari kemudian.

Jalan tol penghubung kota itu tampak lengang. Bandung. Nama kota kedua yang Erhan singgahi setelah sebelumnya menapakkan kakinya di Jakarta. Kota ini adalah kota dimana kakak dari ayah Erhan memutuskan untuk menetap.

Ya, jika Erhan memiliki darah Turki murni karena kedua orangtuanya berasal dari Turki. Maka kedua paman dari pihak ayahnya berbeda. Karena keduanya memilih untuk menikah dengan warga Negara Indonesia.

Dari apa yang Erhan dengar, kedua pamannya itu awalnya lari ke Indonesia karena menghindari perjodohan yang dilakukan oleh kakek dan neneknya. Bermulai dari pelarian itulah mereka akhirnya menemukan cinta sejati mereka. Dan yang sangat Erhan ingin acungi jempol adalah, keduanya itu begitu setia terhadap pasangan mereka.

Para wanita Indonesia memang memiliki pesona tersendiri.

Erhan selalu memperhatikan kedua bibinya saat mereka berkunjung ke Turki. Atau saat Erhan berkunjung ke Indonesia—yang sebenarnya tidak sering dia lakukan. Tantenya, Helena. Ibu dari Adskhan, kakak sepupu tertuanya. Itu memiliki raut wajah yang—orang mengatakan jutek. Itulah kenapa pada awalnya Erhan menjaga jarak karena takut jika tantenya itu akan menyentilnya dengan kata-kata pedas suatu waktu. Tapi faktanya, semakin beranjak dewasa ke dewasa, ia tahu bahwa itu hanyalah mimik saja. Karena di balik wajahnya yang selalu tampak dingin itu. Beliau adalah wanita yang sangat perhatian dan lemah lembut.

Sementara Aunty Karin. Ibu dari sepupunya Lucas yang kini duduk di kursi depan. Itu adalah kebalikan dari Tante Helena nya. Beliau adalah orang yang selalunya ceria dan banyak bicara. Ia pun kadang berpikir, bagaimana bisa pamannya yang pendiam bisa memiliki istri yang super cerewet seperti Aunty nya itu. Tapi lagi-lagi, dibalik sifatnya yang ceriwis itu. Aunty Karin adalah sosok ibu yang begitu lembut dan tak kalah penuh perhatiannya seperti tante Helena.

Dan kini, Erhan merasa bahwa petualangannya akan dimulai.

Bab 2

Berminggu-minggu tinggal di Indonesia, keinginan Erhan untuk tebar pesona alhasil terhalang oleh kedua sepupunya. Bagaimana tidak, Erhan merasa dirinya seperti kerbau dan kedua sepupunya itu seperti petani yang selalu saja menyuruhnya untuk membajak sawah mereka.

Masalahnya, meskipun banyak kota yang ia datangi. Dia tidak punya waktu untuk bersenang-senang. Tidak ada itu yang namanya menikmati hidup. Apalagi kesempatan untuk cuci mata. Lucas dan Adskhan seolah mengutuknya untuk menjadi campuran semen dan pasir. Lama-lama dirinya bisa mati kaku. Umpatnya dalam hati.

Erhan memasukkan mobilnya ke area perumahan Adskhan. Akhirnya dia mendapatkan waktu untuk berlibur juga. Dan kali ini, ia berniat untuk mencuci mata dan ia benar-benar ingin menikmatinya. Namun belum sempat ia keluar dari mobilnya. Dua bocah kembar beda ibu bapak itu menerobos masuk ke dalam mobilnya. Siapa lagi kalau bukan keponakannya, Syaquilla. Dan sahabat baiknya, Carina.

"Apa-apaan ini?" tanya Erhan memandang kedua remaja itu.

"Anterin kita ke rumahnya Carin, Uncle." Pinta Syaquilla. Keponakannya.

"Ngapain? Emangnya Uncle ini supir kalian?" tanyanya pada kedua remaja itu. Tak disangka kedua remaja itu mengangguk bersamaan. "Siapa yang bilang?" tanya Erhan tak suka.

"Uncle Lucas!" jawab Syaquilla dengan polosnya. Erhan memandang keponakannya itu dengan mata menyipit. Meskipun mulutnya menggerutu kesal karena sikap sepupunya Lucas yang menjadikannya supir. Namun ia tidak menolak dan kemudian kembali memutar mobilnya keluar dari rumah mewah Adskhan.

Erhan tahu kemana tujuan mereka pergi. karena ia sudah seringkali melewati rumah itu dan sesekali mengantar mereka ke sana jika memang ia sedang berada di kota yang sama, karena seperti yang dikatakan dua remaja itu, ia lebih seperti supir pribadi daripada pamannya.

"Kamu yakin Papa kamu gak pake pelet?" Erhan buka suara saat pintu gerbang kembali terbuka dan mereka keluar dari kediaman mewah sepupunya. Ia memandang bocah bermata keemasan itu dari spion tengah.

"Maksud uncle apa?" tanya Syaquilla dengan polosnya.

"Maksud Uncle, kenapa tantenya dia mau sama Papa kamu yang udah tua itu? Udah tua, wajahnya kaya hutan rimba pula." Nyinyirnya.

Syaquilla memandang Erhan dengan mata menyipit sementara Carina yang duduk di sampingnya malah cekikikan.

"Uncle, ih. Papa Qilla itu ganteng tau!" tolaknya. Carina yang duduk di sampingnya tampak mengangguk setuju.

"Penuh pesona." jawab remaja itu dengan gaya berlebihan.

"Iya, ganteng pada jamannya. Alias jaman old." Lanjut Erhan lagi. "Kamu," ucapan itu ditujukan pada Carina. "Lebih baik kamu bujuk tante kamu. Daripada dia sama Adskhan yang udah tua, mening dia sama Uncle. Udah muda, ganteng, kaya juga. Pokoknya sama uncle itu banyak plus nya." Ucap Erhan berpromosi.

"Ih, Uncle!" Pekik Syaquilla dengan lantangnya. "Qilla itu mau dapetin Itan jadi mamanya Qilla susah. Enak aja Uncle minta buat Uncle."

"Ya elah, La. Masih banyak cewek diluar sana yang bisa Papa kamu deketin. Tuh, masih ada si Anastasia. Dia lebih cocok sama Papa kamu." jawabnya.

"Qilla gak mau sama tante Anas!" Tolak Syaquilla lantang. "Lagian Carin bilang tante Anas itu cocoknya sama om-om menjelang kakek." lanjutnya, yang lagi-lagi mendapat anggukkan antusias dari Carina.

"Iya, kayak Papa kamu." Seloroh Erhan, yang kemudian mendapat pukulan keras dari Syaquilla. Erhan mengaduh karena terkejut.

"Enak aja bilang papa Qilla kakek. Masih muda tahu. Lagian Uncle ini, buat dapetin Itan jadi mamanya Qilla itu susah, enak aja main minta. Uncle aja yang sama tante Anas."

"Ya elah, berjuang dikit itu gak apa-apa. Papa kamu bisa berjuang lagi nanti. Toh dia udah ahli ini." Jawab Erhan. "Lagian Anastasia itu bukan tipenya Uncle. Tapi tipe-tipenya papa kamu." Lanjutnya. "Lagian kamu, namanya itu Anastasia, bukan Anas. Ya kali dia itu penangkal jin." ." (Merujuk pada surat An-Nas dalam Al-Qur'an yang isinya meminta pertolongan dari gangguan jin, setan dan manusia).

"Ya, soalnya kata Carina, penampilan tante Anas itu lebih kayak gangguan setan secara nyata. Pake baju kurang bahan, ngiklanin paha sama dada. Emang gitu ya kalo tampilan model? Mana make-upnya tebel banget. Kasihan Papa nanti harus modalin Tante Anas biaya buat oplas, botox sama beli serum import."

"Yey, anak kecil tahu apa. Lagian kamu," tunjuknya lagi pada Carina. "Kamu itu kayak lahir di jaman old aja. Pikirannya ketuaan." Tegurnya. "Nih ya, jangan kalian hakimi seseorang dari penampilannya. Jangan hakimi penampilan model semuanya kayak gitu. Kalo ibarat peribahasa, kamu tuh nilai dia kayak 'akibat nila setitik rusak susu sebelanga'. Satu model yang terlalu cantik, rusak image model lainnya. Ada kok model yang tampilannya rapi, tertutup."

"Masa? Siapa?" tantang Carina.

"Tuh, model baju muslim." Kini pukulannya didapat dari dua tangan sekaligus.

"Kalian ini kenapa sih, mukul-mukul mulu? Mau Uncle laporin ke komnas perlindungan pria tampan mapan rupawan? Dihukum gak dikasih uang saku baru tahu." Lagi, Erhan mengusap lengannya.

"Habis Uncle itu kalo ngomong suka bener." Qilla dan Carina tertawa terbahak. "Ya iya kalo model baju muslim pasti tertutup. Masa iya pake bikini."

"Lah kamu juga kalo nge judge kagak kira-kira. Nih ya, Uncle kasih tau. Penampilan orang dari luar gak selalu nunjukkin karakter asli orang sebenarnya. Misal, kamu lihat aktor meranin antagonis di film, kan bisa jadi aslinya itu ramah tamah, baik hati dan tidak sombong. Sebaliknya, aktor yang kelihatan selalu meranin protagonis gak selamanya ramah diluaran."

"Iya, kalo itu Qilla juga tahu. Namanya tuntutan peran. Tapi kan Tante Anas itu beda. Kerjaannya nyosor-nyosor mulu. Kalo kata Carina, udah kayak bebek nemu pantat. Maunya matok mulu."

"Ya ampuuunnn... Qilla. Bahasa kamu tuh." Erhan menghentikkan mobilnya di depan rumah berlantai dua milik sahabat keponakannya itu. "Lama-lama Uncle ruqiah mulut kalian berdua. Terutama kamu." Ucapnya pada Carina. "Apa perlu Uncle lakban sekalian? Komen kok pedes amat kayak gitu. Kamu belajar dari siapa sih?" tanyanya pada Carina. Namun Carina malah mengedikkan kepala menunjuk ke arah luar sana dimana sosok Caliana muncul. Kekesalan Erhan menghilang seketika kala melihat sosok gadis cantik bertubuh sintal keluar dari gerbang. "Ya Allah, cantiknya." Puji Erhan. "Rin, beneran kamu gak mau ngasih dia buat Uncle aja? Toh sama Uncle ataupun sama Om Adskhan kalian pada akhirnya tetep sodaraan." Bujuknya lagi.

Keduanya kembali memukul lengan Erhan. Membuat Erhan mengaduh kesakitan. Tepat disaat Caliana masuk ke dalam mobil.

"Ada apa nih?" tanyanya pada ketiganya bergantian.

"Ini Itan, Uncle." Rajuk Syaquilla.

"Kenapa?"

"Uncle bilang Itan sama Uncle aja daripada sama Papanya Qilla." Ucap Syaquilla masih dengan wajah merajuknya.

"Dia?" Caliana menunjuk Erhan. Syaquilla mengangguk. "Uncle kamu?" tanyanya lagi. Syaquilla kembali mengangguk. "Loh, Itan kira dia supir baru Papa kamu." Jawabnya dengan nada datar.

Erhan memandang Caliana terbelalak, lalu kemudian memutar bola matanya. Sementara kedua remaja di belakangnya tertawa cekikikan.

"Tawaran Uncle kayaknya Uncle cancel deh, La." Ucap pamannya seraya menyalakan mesin mobil.

"Tawaran yang mana?" Tanya Syaquilla heran.

"Tawaran buat jadiin Tante Caliana calon istri Uncle. Uncle gak mau nantinya mati muda kalo sering ketemu sama kalian bertiga." Ucap Erhan seolah Carina dan Caliana tidak ada di sana.

"Sorry to say ya, Uncle tuir. Mening Om Adskhan kali kemana-mana. Udah tampan, tajir, baik hati pula. Ya meskipun mukanya datar dan Uncle bilang kaya hutan rimba, tapi tetep penuh pesona. Irit ngomong pula. Kalo udah senyum, aduuuhhh... Bikin melting bin klepek-klepek. Gak kayak Uncle, udah muda, kurus, sakunya gak jelas, kalo ngomong kayak petasan betawi, ditambah mulutnya lemes kayak cewek kurang belaian." Carina membalas tanpa memperdulikan ekspresi Erhan yang kini membelalakkan mata padanya. Kedua mata mereka bertemu lewat spion tengah. "Apa?!" Carina melotot. Erhan balas melotot.

Caliana dan Syaquilla yang mendengarnya hanya bisa menahan tawa.

"Udah, Uncle sama Carin kenapa sih, kalo ketemu udah kaya si Oscar sama Poppy aja." Sergah Syaquilla.

"Ya kali dia Uncle itu kaya kadal gurun." Jawab Carin yang kembali membuat Erhan melotot.

"Apa kamu bilang? Uncle kayak kadal gurun? Lagian siapa tuh Oscar siapa juga Poppy?"

"Udah, yang tua mah ngalah aja. Gak usah pengen tahu urusan anak muda." Cebik Carina. "Lagian Uncle juga kepedean mau sama Itan. Kayak Itan mau aja sama Uncle." Dan terus saja selama perjalanan mereka diisi dengan keributan antara Carina dan Erhan.

Bab 3

Suasana hiruk pikuk di tempat pemotretan sengaja ia acuhkan. Nadira lebih memilih untuk menghabiskan waktunya menikmati sesi curhat via telepon bersama sahabat baiknya, Gisna. Gadis lugu yang sudah menjadi sahabat karibnya sejak jaman putih abu-abu itu kini tengah berbahagia dengan kondisinya yang sedang mengandung.

Cukup mengejutkan sebenarnya. Khususnya bagi Nadira. Sahabatnya yang pemalu tiba-tiba saja membuat keputusan impulsif untuk menjadi seorang ibu pengganti bagi sosok pria yang sama sekali tidak dikenalnya demi menyelamatkan ibunya. Dan hal itu juga menjadi penyesalan terbesar dalam hidup Nadira karena dirinya sebagai sosok sahabat tak bisa membantu Gisna kala wanita itu berada dalam posisi terpuruk. Semua ini karena kata 'profesional' sialan yang sering diagung-agungkan oleh asistennya si Fera bin Feri. Manusia setengah jadi. Sehingga ia bahkan tidak bisa menggunakan ponselnya sendiri.

Sejak saat itu, Nadira tidak lagi menuruti ucapan sang manager dan meminta hak nya sebagai seorang manusia untuk mengontrol hal pribadinya dengan caranya sendiri.

"Ra, bentar lagi lo take." Orang yang baru saja diumpatnya kini tengah berdiri menjulang di hadapannya dan memandangnya tajam. "Buang tuh permen. Kelakuan lo dah kayak anak lima tahun aja." Gerutunya sambil berlalu pergi. Nadira mencebik namun kemudian memilih bangkit.

"Udah dulu ya, Na. Aku mesti take lagi. Nanti kalo pulang aku mampir. Jaga ponakan aku baik-baik." Pintanya sebelum menutup sambungan telepon.

Nadira meletakkan ponselnya kembali ke dalam tasnya sebelum kemudian memandang Feri yang kini ingin dipanggil Fera karena sifat kemayunya yang semakin menjadi. "Lo mau? Ngomong kalo mau. Gue ada banyak di tas." Ucapnya menjawab teguran Fera bin Feri sebelumnya.

Pria bertubuh tambun itu memutar bola mata. "Ya ampun, Dira. Gigi loe tuh lama-lama bisa ompong tahu gak sih." Pekik Fera lagi.

Bukannya menurut, Nadira malah nyengir dan menunjukkan gigi putihnya yang terawat. "Permen karet itu bagus buat kesehatan tau. Salah satu cara menghilangkan stres." Ucapnya dengan santai dan lalu memasukkan sisa permen karet kembali pada bungkus awalnya dan membuangnya ke tempat sampah. Dengan senyum manisnya, Nadira berjalan menuju depan kamera dan siap dengan posenya.

Pemotretan selesai pada pukul sepuluh malam. Tidak terlalu larut sebenarnya, karena seringkali Nadira menghabiskan waktu lebih daripada itu. Semua tergantung dari situasi dan kondisi pemotretan itu sendiri. Dan juga tema. Jangan lupakan itu.

Nadira dan kawan-kawannya yang tergabung dalam proyek ini sudah diberikan kunci untuk kamar tempat menginap mereka. Pemotretan yang diadakan di Bali ini adalah lokasi terakhir pemotretan mereka setelah sebelumnya mereka melakukan pemotretan di Makassar dan Lombok. Besok atau lusa, mereka baru akan kembali ke Jakarta. Ya Tuhan, Nadira sangat rindu pada apartemen mungilnya.

Ia melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur single sesaat setelah membuka pintu. "Cape gue." Desahnya.

Kamar yang ditempatinya ini bukanlah kamar presiden suite karena Nadira juga bukan model kelas atas dengan bayaran fantastis. Tapi dia juga bukan model pemula. Sehingga bayarannya tidak terlalu murah juga. Fasilitas seperti ini baginya sudah cukup.

"Mandi dulu, baru rebahan." Perintah Fera bin Feri.

Sesaat Nadira mendelik pada managernya itu, tapi kemudian mengiyakan saja dan bangkit menuju kamar mandi.

Nadira memandangi wajahnya di cermin. Menghapus sisa make up yang masih tersisa dengan pembersih wajah sebelum memulai mandi. Ia bersyukur, memiliki paras cantik yang diturunkan dari gen kedua orangtuanya. setidaknya itu salah satu andalannya hingga sukses di dunia modeling saat ini. Karena sejujurnya memilih dunia model memang bukan cita-citanya.

Awalnya Nadira begitu ingin menjadi seorang fashion designer. Minatnya pada dunia itu jauh lebih besar daripada keinginannya untuk berjalan di atas catwalk. Namun karena untuk kuliah di jurusan itu tidaklah murah, maka ketika ada orang yang memberinya kesempatan untuk menjadi model, ia menerimanya begitu saja. Anggaplah ini sebagai batu loncatan. Jika suatu saat nanti dia memiliki peluang untuk mencapai cita-citanya, setidaknya dia tidak perlu lagi memulai semuanya dari awal karena dia sudah membangun koneksi.

Selain wajahnya, ia juga beruntung karena dianugerahi bentuk tubuh yang ideal yang bisa menunjang karirnya. Ketika diluaran sana orang-orang bersusah payah untuk diet, Nadira tidak perlu melakukan hal tersebut karena tubuhnya entah kenapa begitu untuk sulit gemuk. Poin plusnya adalah dia bisa mengejek sahabatnya Meta yang begitu ingin menjadi model namun tidak kesampaian.

Tapi meskipun memiliki tubuh proporsional, bukan berarti Nadira tidak bekerja keras. Tahun awal ia memulai karirnya, Fera bin Feri mendidiknya dengan begitu keras. Olahraga, latihan catwalk, diet pola makan. Dan blah-blah-blah urusan lainnya. Belum lagi masalah pendidikan attittude. Benar-benar menyiksa Nadira pada awalnya. Karena ia merasa terkekang dan tak bisa menjadi dirinya sendiri.

Hanya di depan Meta, Gisna dan Fera bin Feri lah dia bisa menjadi dirinya sendiri.

"Cin, lo dapet paket lagi." Fera bin Feri mengedikkan kepalanya ke arah meja rias yang ada di depan tempat tidurnya. Carina yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk di atas kepalanya berjalan mendekat dan melihat buket bunga yang ada disana. "Dari orang yang sama." Lanjut saat Nadira mengambil kartu yang terselip diantaranya.

To. My Beautiful Nadira

Kamu tampak cantik sekali dengan gaun pemotretan hari ini. Lain kali, gunakan gaun itu saat berdua denganku.

From. Your Admirer. J.D

Nadira menggeram. Meremas kertas itu dan melemparkannya ke dalam tempat sampah. Seketika ia memandang Fera dengan matanya yang tajam. Buket bunga itu, beserta kartu ucapannya adalah hal yang Nadira takuti belakangan ini. Bukan karena bunganya yang tidak cantik. Atau ucapan di kartu yang tidak manis. Tapi sosok si pengirim yang tak diketahui lah yang membuat Nadira merasa takut. Bagaimana tidak, bunga beserta ucapan itu selalu saja dikirim dimanapun Nadira melakukan pemotretan.

"Loe masih belum tahu siapa yang ngirim ini semua?" tanyanya dengan marah. Kartu ucapan itu sudah diremasnya dan dilemparnya ke tempat sampah. Fera, yang ditanya hanya bisa menggelengkan kepala dengan mimik bersalah. "Gue udah bilang kalo gue gak suka sama ini semua. Ini nakutin tau gak sih loe? Minimal loe cari tahu dong. Jangan sampe gue ketar-ketir takut sendiri. Dia tuh kayaknya selalu ada dimana-mana. Lama-lama gue jadi takut kalo jalan sendirian trus tiba-tiba dia nyerang gue gitu."

"Lo kebanyakan nonton drama, Cin. Orang tuh suka kalo ada fans, ini malah takut."

"Ya kali gue se terkenal Jovita sampe diburu fans." Sejenak amarah melingkupinya ketika mengingat nama wanita yang membuat sahabatnya menderita itu. "Gue kan masih model ecek-ecek Fer. Lagian kalo fans nya normal sih gue juga oke-oke aja. Tapi ini, gue bahkan gak tahu dia siapa, dia orang mana, umurnya berapa, tapi dia kok kayak tahu segalanya tentang gue. Dia bahkan selalu aja ngirim buket begituan dimanapun gue pemotretan. Kan nakutin Fer." Nadira bahkan bergidik setelahnya.

"Udah lah, Posthink aja. Siapa tahu dia emang tahu dia emang punya orang dalem jadi dia dapet info tentang loe."

"Ya tetep aja nyeremin Fer. Kalo suka berubah jadi obsesi, itu bukan lagi hal yang bisa dianggap wajar. Loe gak pernah nonton apa di film-film. Adanya penculikan, pembunuhan, pemerkosaan, itu semua karena obsesi Fer."

"Yaelah, film lagi, drama lagi. Loe kayak anak micin tahu. Lama-lama loe nyangkut-nyangkutin hidup loe macem novel. Ya udahlah, Cin. Kalo pun semuanya serba film, drama sama novel. Loe mimpinya hidup loe macem Cinderella gitu. Yang berakhir ketemu pangeran. Atau gak kayak si Belle yang akhirnya merubah monster jadi pangeran." Nadira menepuk dahi.

"Ya kali lo samain hidup gue sama dongeng buat anak-anak." Decihnya. "Udah, balik sana ke kamar loe. Gue mau tidur." Usir Nadira kasar. Fera bangkit dari duduknya dengan enggan. "Oh ya, sebelum pulang ke Jakarta, beliin Pai Susu sama Pia ya." Nadira berteriak di antara sela-sela pintu.

"Hmm... Berapa banyak?"

"Yang banyak aja. Buat bumil." Teriaknya lagi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED