MC utama :
1. Cedric Andrigo (Tuan Cedric) Milyader kejam, yang memiliki segudang bisnis legal maupun ilegal, sosoknya tidak memiliki perasaan iba, berusia 40 tahun Ayah dari Ben Andrigo.
2. Ben Andrigo mahasiswa berusia 19 tahun, kekasih dari wanita sederhana dan cantik bernama Falisha Marbella.
3.Falisha Marbella mahasiswi cantik, sederhana dan ceria berusia 19 tahun.
4. Nicco Jackson ( Asisten pribadi Tuan Cedric) 30 tahun.
5.Fanona Marbella 17 tahun baru lulus SMA, adik dari Falisha yang sakit Leukimia, selalu lemah dan menghabiskan waktunya dikursi roda sering bolak balik ke rumah sakit! Cantik seperti Falisha.
Suasana malam yang bertiupkan angin kencang tak menghalangi niat Ben Andrigo untuk menemui kekasih hatinya, gadis tercantik di kampusnya dia adalah Falisha Marbella, parasnya yang cantik dan tubuhnya yang sangat ideal membuat siapapun yang melihatnya akan tertarik dan mudah jatuh cinta pada Falisha.
Tibalah Ben dihalaman sebuah rumah kecil yang memiliki jendela dari tiap kamarnya. Falisha Marbella hanya tinggal bersama adiknya setelah kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan sepeda motor tiga tahun silam, Fanona Marbella yang baru saja lulus SMA namun menderita sakit Leukimia stadium 2, membuat Falisha harus kuliah sambil bekerja saat malam hari hingga pukul 23.00 malam untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan adiknya.
Falisha dan Ben sudah satu tahun ini sejak keduanya mulai kuliah di kampus yang sama, menjalin hubungan asmara. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, keduanya merasa hidup ini jauh lebih indah dan berwarna karena jalinan kasih diantara keduanya yang sama-sama tulus saling mencintai.
"Sutttt, suttt," kode dari Ben agar Falisha keluar rumah.
Falisha pun membuka jendela kamarnya dan melihat kekasihnya sudah berada didepan rumah. Falisha buru-buru keluar kamar untuk menemui Ben, namun saat hendak membuka pintu rumah! Fanona menatap Falisha dengan tatapan khawatir.
"Kamu kenapa menatap kakak seperti itu?" tanya Falisha.
"Apa kakak akan tetap berpacaran dengan laki-laki kaya itu?" tanya Fanona.
"Laki-laki kaya itu punya nama, dia Ben Andrigo! Dan kakak sangat mencintainya," kata Falisha.
"Jauhi dia, dan carilah laki-laki yang setara dengan kita kak! Aku tidak mau nantinya kakak menyesal kalau keluarganya tidak setuju dengan hubungan kalian!" kata Fanona.
"Sudahlah hubungan kami tidak sejauh itu, kamu tidak perlu khawatir Nona! Bahkan kakak saja tidak pernah mendengar Ben membicarakan keluarganya atau bahkan orangtuanya," kata Falisha.
"Terserah, aku sudah mengingatkan!" ketus Fanona.
"Hmm," menghembuskan nafas panjang.
Falisha tetap keluar rumah dan menemui Ben untuk kemudian berkencan seperti hari-hari sebelumnya! Ya mereka memang hanya bisa berkencan diluar kampus saat malam hari begini, karena Falisha harus bekerja sepulang kuliah.
"Hai, apa kamu menunggu terlalu lama?" tanya Falisha.
"Seribu tahun pun aku akan setia menunggumu keluar rumah," kata Ben.
"Dasar gombal!" kata Falisha.
"Apakah adikmu hari ini sudah control ke rumah sakit?" tanya Ben.
"Belum, besok baru aku antar dia! Ben, aku sedih sekali karena Nona sekarang sudah kehilangan kekuatan otot kakinya, dia harus memakai kursi roda terus," kata Falisha.
"Tidak masalah, besok aku akan mengantar kalian ke rumah sakit, dan kita akan beli kursi roda untuk adikmu!" kata Ben.
"Tidak usah Ben, kamu sudah terlalu banyak membantu aku," kata Falisha.
"Aku tidak mau kekasihku yang cantik ini sedih apalagi banyak pikiran, apapun yang membuatmu sulit aku akan coba ringankan," kata Ben.
Falisha pun tersenyum manis, Ben benar-benar laki-laki yang sangat baik, Falisha dan Ben pun masuk ke dalam mobil untuk pergi makan malam di sebuah cafe yang buka 24 jam dan menjadi tempat yang biasanya keduanya datangi.
Di sebuah rumah megah yang terdiri dari lima lantai, dilengkapi dengan fasilitas lift, area bilyard, tempat gym dan fasilitas lengkap lainya. Seorang asisten pribadi bernama Nicco Jackson berusia 30 tahun tengah sibuk mencari keberadaan Ben yang nyaris setiap malam menghilang dari kamarnya!
Nicco merogoh ponselnya yang sudah sejak tadi berdering.
"Hallo Tuan, maaf saya terlambat mengangkat telepon," ucap Nicco.
"Apa anak itu masih terus keluar malam?" tanya seorang laki-laki ditelepon itu dengan suara serak.
"Iya Tuan, Tuan Ben semakin sulit dikendalikan!" kata Nicco.
"Apa kau sudah mengetahui kenapa anakku sering keluyuran malam? Atau ada hal lain yang harus aku ketahui juga?" tanya laki-laki itu dengan suara tenang namun mencekam.
"Iya Tuan, aku sudah mengetahuinya! Tuan Ben, tengah menjalin hubungan dengan seorang gadis miskin penerima beasiswa di Universitas itu! Tuan Ben juga sering mengambil uang perusahaan akhir-akhir ini!" ujar Nicco.
Braghttttt.
Meja kerja mahal itu terdengar dipukul oleh penelpon itu dengan sangat keras.
"Katakan pada Ben, lusa aku akan pulang ke sana! Aku sendiri yang akan memisahkannya dari gadis miskin itu," kata laki-laki di telepon itu.
"Baik Tuan!" kata Nicco.
Dialah Tuan Cedric Andrigo, seorang Milyarder yang terkenal dengan kekejamannya dia mampu melakukan bisnis yang legal maupun ilegal yang terpenting itu menguntungkan, Tuan Cedric juga dikenal tidak memiliki rasa iba terhadap siapapun itu. Tuan Cedric adalah ayah dari Ben, dia seorang duda berusia 40 tahun dengan tubuh yang kekar dan wajah yang sangat tampan.
Semenjak isterinya meninggal, Tuan Cedric hanya menganggap wanita-wanita yang dia temui sebagai pemuas nafsu sesaatnya saja! Dia hanya fokus untuk menjalani bisnisnya yang legal ataupun yang ilegal, dan fokus membesarkan Ben dengan peraturan yang ketat namun sangat menyulitkan Ben, hingga hubungan keduanya tidak pernah akur.
Tuan Cedric yang sangat arogan, angkuh, dan emosional serta kejam itu mengepalkan tangannya setelah mengetahui satu-satunya pewaris Group Andrigo menjalin hubungan dengan gadis miskin yang tidak jelas asal-usulnya, ditambah lagi Ben, sudah berani memakai uang perusahaan untuk kebutuhan pribadinya.
"Ben, tidak akan pernah aku biarkan wanita jalang yang miskin itu merusak masa depanmu! Akan aku habisi gadis tidak tau diri itu!" Kecam Tuan Cedric.
Sementara itu, Ben dan Falisha tengah menikmati makan malam mereka di sebuah cafe, bahkan tangan Ben tak henti-hentinya memegangi tangan Falisha. Membuat keduanya makan dengan menggunakan satu tangan, dan satu tangannya lagi dipakai untuk berpegangan erat diatas meja.
"Ben sampai kapan kamu akan memegangi terus tanganku?" tanya Falisha.
"Sampai aku tidak memiliki lagi kekuatan untuk bisa menggenggam tanganmu Lisha!" kata Ben.
"Maksudmu?" tanya Falisha.
"Tidak ada maksud, aku hanya ingin menikmati setiap detik saat-saat aku bersamamu!" kata Ben..
"Aku ingin sekali kita cepat lulus kuliah, agar aku bisa segera menjadi isterimu Ben," kata Falisha.
"Aku pun berharap begitu!" kata Ben.
"Ben, tapi kenapa kamu tidak pernah menceritakan ayahmu? Kamu memberitahuku bahwa Ibumu meninggal saat kamu masih kecil, lalu bagaimana dengan ayahmu? Aku tidak pernah sekalipun mendengarmu menceritakannya?" tanya Falisha.
Ben hanya menatap wajah Falisha dan tak berniat menjawab pertanyaannya itu.
"Andaikan kamu tahu Lisha, betapa kejamnya ayahku, dia sangat membuat hidupku tertekan, dia adalah orang paling egois dan tidak berperasaan. Aku tak pernah ingin membahasnya." Dalam hati Ben..
Keesokan harinya, Falisha dan Ben yang tidak memiliki jadwal kuliah pagi mengajak Fanona untuk control penyakitnya ke rumah sakit, Nona harus dibantu untuk berjalan masuk ke mobil, karena kekuatan kakinya sudah melemah.
Sesampainya di rumah sakit, dokter kembali memberikan resep obat-obatan yang harus dikonsumsi oleh Nona, Falisha berharap penyakit adiknya bisa segera sembuh dan jangan sampai leukimia yang adiknya derita bertambah parah, karena jika sampai bertambah parah maka jalan satu-satunya adalah dengan kemoterapi.
"Lisha pakailah uang ini!" kata Ben sambil memberikan sejumlah uang yang lumayan banyak.
"Ben tidak usah! Aku akan membeli kursi rodanya Minggu depan saat aku sudah gajian," kata Falisha.
"Aku tau harga kursi roda dan biaya obat-obatan itu jauh melebihi dari penghasilanmu Lisha, aku tidak akan membiarkan kamu kepusingan sendiri sementara aku sangat bisa membantumu," kata Ben.
Falisha pun dengan sangat terpaksa kembali menerima bantuan dari Ben.
"Ben, setelah aku lulus dan bekerja ditempat yang lebih baik aku janji akan kembalikan semua uang yang sudah kamu berikan padaku, anggap aku pinjam," kata Falisha.
"Tidak usah kamu pikirkan, saat ini adikmu lebih membutuhkan perhatianmu Lisha, aku sangat senang bisa selalu membantumu," kata Ben.
Akhirnya kursi roda itu bisa dibeli, sehingga Nona tidak lagi kesulitan berjalan. Mereka pun kembali pulang ke rumah diantar oleh Ben.
Sementara disebuah bandara, Nicco yang merupakan asisten pribadi Tuan Cedric yang ditugaskan untuk mengawasi Ben, tengah menunggu pesawat yang membawa Tuan Cedric kembali ke negara ini, setelah cukup lama tinggal dibeda negara dengan Ben! Pesawat Tuan Cedric akan landing sebentar lagi.
Tuan Cedric pun akhirnya muncul dengan mengenakan kemeja berwarna hitam, dan kacamata berwarna hitam serta sepatu mewah dan jam tangan mewah yang melekat dalam dirinya, sosok Tuan Cedric sangat berwibawa dan memiliki sorot mata sangat tajam. Diusianya yang terbilang tidak muda lagi, ketampanannya masih tetap terjaga, tubuhnya pun sangat kekar dan masih terlihat seperti pria muda.
"Selamat datang Tuan! sapa Nicco.
Tuan Cedric, hanya menggerakkan dua jarinya pada bawahannya yang ikut serta pulang ke negara ini, agar segera membawa koper miliknya masuk kedalam mobil.
"Jam berapa Ben biasanya pulang dari kampus?" tanya Tuan Cedric.
"Pukul 17.00 sore Tuan," ujar Nicco.
"Berikan biodata gadis miskin itu, aku Inging membacanya diperjalanan menuju ke rumah!" kata Tuan Cedric.
"Silahkan Tuan!" kata Nicco, sambil menyerahkan tablet yang berisi biodata lengkap tentang Falisha.
Sepanjang perjalanan ke rumah, didalam mobil Tuan Cedric membaca setiap hal tentang Falisha, melihat biodatanya saja Tuan Cedric sangat kesal dan tak sabar untuk memberikan pelajaran berharga pada Falisha.
Hingga akhirnya Tuan Cedric pun tiba di rumah! Dengan menahan kesal Tuan Cedric sabar menunggu Ben pulang ke rumah, namun hingga sore harinya Ben tidak juga sampai di rumah.
"Nic, antar aku ke gubuk wanita miskin itu!" kata Tuan Cedric dengan expresi wajah menyeramkan.
"Baik Tuan, mari!" kata Nicco sambil mendampingi Tuan Cedric untuk menuju mobil.
Belum sempat masuk kedalam mobil! Mobil Ben tiba di halaman rumah Tuan Cedric, Ben keluar dari dalam mobil dan melihat Ayahnya tengah berdiri tegap dengan wajah menahan kesal. Tak ingin kembali berdebat dengan ayahnya, Ben pun melengos saja masuk ke dalam rumah melewati Tuan Cedric yang masih berdiri tegap memandanginya.
"Apa begini sikapmu terhadap ayahmu sendiri Ben?" teriak Tuan Cedric.
Langkah kaki Ben pun terhenti, dan berbalik menatap wajah Tuan Cedric.
"Aku capek, dan aku ingin ke kamar sekarang!" kata Ben.
"Tinggalkan pelacur miskin itu! Atau aku akan buat hidup wanita itu menderita!" ancam Tuan Cedric.
"Apa maksudmu?" teriak Ben yang sudah emosi mendengar ayahnya akan mengganggu gadis yang ia sangat cintai.
"Akan aku buat rumahnya rata dengan tanah, dan beasiswanya dicabut, lalu dia akan kehilangan pekerjaannya hingga membuat adiknya yang penyakitan itu mati!" ancam Tuan Cedric.
"Kau! Jangan pernah berani menyentuhnya! Atau," kata Ben.
"Atau apa Ben? Kau tau apa yang bisa aku lakukan untuk membuat wanita itu menderita, akhiri hubunganmu dengan gadis miskin itu lalu bertunangan lah dengan gadis yang sudah aku siapkan!" kata Tuan Cedric.
"Aku tidak akan pernah menurutimu!" teriak Ben.
"Nic, ratakan rumah wanita miskin itu sekarang juga! Dan bilang terhadap pihak Universitas bahwa aku menyuruh mereka mencabut beasiswa gadis itu!" kata Tuan Cedric.
"Baik Tuan!" kata Nicco.
Mendengar hal itu, Ben langsung memberontak tak terima bahkan hendak menghajar ayahnya sendiri, namun Nicco memegangi kedua tangan Ben.
"Lihatlah Ben, bahkan menyentuhku saja kamu tidak bisa? Apalagi melindungi gadis itu, menurut lah pada ayahmu sendiri ini, maka aku akan melepaskan gadis itu!" kata Tuan Cedric.
"Aku mohon jangan membuatnya menderita, dia sudah terlalu banyak kesulitan! Aku janji akan menuruti semua keinginan ayah," kata Ben.
"Lusa kau akan bertunangan dengan salah seorang gadis kaya dan terpandang pilihanku, setelah itu kau harus pindah kuliah dan belajar bisnis di Boston! Satu lagi, jangan pernah menemui gadis miskin itu, paham!" ancam Tuan Cedric.
Dengan berat hati, Ben terpaksa harus menuruti keinginan gila ayahnya itu. Ben tidak akan bisa sanggup jika Falisha dibuat menderita dan kesulitan. Namun Ben juga sangat frustasi dan depresi dengan sikap Tuan Cedric, bagaimana bisa hatinya hanya untuk Falisha tapi lusa dia akan bertunangan dengan gadis yang bahkan dia tidak kenal.
Keesokan harinya Ben tidak berangkat kuliah, tapi Ben mengirimkan pesan singkat pada Falisha untuk mengakhiri hubungan keduanya. Hal itu jelas membuat Falisha shock dan patah hati sangat berat, Falisha mencoba menelpon Ben dari pagi hingga malam hari, namun semakin Falisha mencoba menelpon Ben pikiran Ben menjadi semakin kacau.
"Ben, kenapa kamu mengakhiri hubungan kita? Apa salahku Ben, ini seperti bukan kamu!" Lirih Falisha yang sangat kecewa hingga menitihkan air matanya.
Semakin larut Ben semakin merasa depresi berat, hingga dia memutuskan keluar dari dalam kamar! Namun Nicco terus mengawasinya.
"Anda dilarang keluar rumah, karena besok acara pertunangan anda dengan gadis pilihan Tuan Cedric akan dilaksanakan!" kata Nicco.
"Nic, izinkan sekali ini saja aku membuat pikiranku tenang,, aku janji tak akan menemui Falisha! Aku mohon jangan ikuti aku!" kata Ben.
Nicco yang tidak tega melihat wajah putus asa Ben, dan tatapan mata Ben yang kosong lalu mengizinkan Ben keluar rumah untuk menjernihkan pikirannya. Ben pergi ke suatu bar, lalu minum minuman memabukkan hingga berbotol-botol disana.
Ben yang sudah mabuk berat hingga berjalan sempoyongan, menelpon Falisha dalam keadaan mabuk berat..
"Lisha aku mencintaimu!" kata Ben.
"Hallo Ben, kamu dimana? Kenapa bicaramu seperti orang mabuk?" tanya Falisha.
"Aku sedang berada di bar xxx, jika kamu juga mencintai aku kemarilah dan kita pergi bersama aku tidak sanggup lagi berada disini!" kata Ben dengan nada mabuk.
Falisha yang panik takut terjadi sesuatu pada Ben karena tidak biasanya Ben mabuk berat seperti ini, segera keluar rumah untuk menyusul Ben ke bar yang tidak jauh dari rumahnya.
Malam ini hujan turun dengan sangat deras serta suara petir yang terus terdengar menyambar, Falisha pergi menembus hujan menaiki angkutan umum dengan terburu-buru! Dia sangat khawatir dengan kondisi Ben, sesampainya di bar tersebut, terlihat Ben tengah duduk didepan bar sambil menyenderkan kepalanya pada dinding.
"Ben, apa kamu tidak apa-apa, kamu mabuk Ben? Kenapa kamu mabuk Ben?" tanya Falisha.
Ben tersenyum lalu memeluk tubuh basah kuyup Falisha sambil menangis.
"Aku tidak apa-apa, asal bersamamu aku akan baik-baik saja!" kata Ben.
"Ben, aku akan mengantarmu pulang sekarang!" kata Falisha.
"Aku yang akan mengantarmu pulang ke rumah Lisha, bajumu sudah basah kuyup! Ayo!" ajak Ben dengan kondisi teler.
"Tapi kamu mabuk Ben, kita naik taxi saja ya!" kata Falisha.
"Aku masih bisa menyetir Lisha, aku tidak mabuk hanya minum beberapa botol saja! Untuk terakhir kalinya, aku ingin mengantarmu pulang ke rumah!" kata Ben.
Falisha pun menuruti keputusan Ben, karena Ben mengatakan dirinya masih sanggup untuk mengemudikan mobilnya sendiri, ditambah lagi Ben pun ngotot ingin mengantarnya pulang. Saat ini hujan semakin deras hingga jalanan pun sangat gelap ditambah derasnya hujan yang menghalangi pandangan pengemudi.
"Ben, sebaiknya kita berhenti dulu! Hujannya sangat deras, mengemudi saat hujan begini bahaya Ben," bujuk Falisha.
Namun Ben yang sudah setengah sadar akibat pengaruh alkohol itu tak menggubris perkataan Falisha, dan malah menambah kecepatan mobilnya menjadi 120 km per jam. Mobil itu menembus hujan yang sangat deras, hingga akhirnya Ben tidak bisa lagi mengendalikan dirinya yang sedang dalam pengaruh alkohol!
"Awas Ben," teriak Falisha.
Aaaaaaaaa...
Mobil itu hilang kendali dan menabrak pembatas jalan dan terhenti setelah menabrak tiang listrik besar. Ben dan Falisha pun terlihat tidak sadarkan diri , pengemudi lain pun banyak yang berhenti untuk membantu menyelamatkan Ben dan Falisha yang masih terjebak didalam mobil.
Hingga akhirnya, mobil polisi berdatangan begitu juga dengan ambulance, mereka berusaha mengeluarkan tubuh Ben dan juga Falisha dari dalam mobil.
"Lapor Ndan, satu korban telah meninggal dunia! Dan satu lagi menderita luka-luka namun tidak terlalu parah!" kata seorang polisi.
"Masukkan ke kantong jenazah segera!" kata komandan polisi di tempat kejadian.
Falisha dan Ben dibawa ke rumah sakit! Falisha segera mendapatkan penanganan medis sementara Ben telah dinyatakan meninggal dunia dan dibawa ke ruang jenazah.
Malam itu Tuan Cedric yang sedang berada disebuah kamar bersama wanita sewaannya tak mengetahui bahwa Ben pergi dari rumah dan berakhir kecelakaan.
"Ayolah buat aku puas sekali lagi sayang! Aku masih ingin," lirih Tuan Cedric.
"Tenang sayang, hingga pagi pun aku sanggup memuaskanmu!" kata wanita sewaannya.
Nicco yang sedang tertidur di kursi ruangan tamu karena menunggu kepulangan Ben, terbangun karena mendengar handphone miliknya berdering.
Kring.
Kring.
"Ya hallo," kata Nicco.
“Apakah ini dengan keluarga Ben Andrigo?" tanya penelpon.
"Iya benar," kata Nicco.
"Kami dari rumah sakit xxx, ingin mengabarkan bahwa Tuan Ben Andrigo mengalami kecelakaan! Kami harap pihak keluarga bisa segera datang ke rumah sakit!" ujar penelpon.
Nicco langsung tak bisa berkata apa-apa lagi mendengar kabar tentang Ben! Bagiamana bisa Ben mengalami kecelakaan, Ben langsung berlari menuju kamar milik Tuan Cedric.
"Maaf Tuan Nicco, Tuan Cedric sedang tidak bisa diganggu!" ujar seorang penjaga kamar.
"Aku harus masuk dan menyampaikan berita ini, jadi menyingkir dari hadapanku!" kata Nicco.
"Ta-tapi," ujar penjaga itu.
Nicco tak menggubris larangan penjaga itu, dan langsung menerobos masuk ke dalam kamar Tuan Cedric.
"Hei Nic, apa yang kau lakukan!" kecam Tuan Cedric yang sedang asik bermain dengan wanita bayarannya.
"Maaf Tuan, aku ingin mengabarkan berita sangat penting!" kata Nicco.
"Apa itu? Kau menyingkirlah dari atas tubuhku, dan pergi dari kamarku sekarang!" ucap Tuan Cedric pada wanita itu.
Wanita itu terburu-buru memakai pakaiannya lalu pergi dari kamar Tuan Cedric.
"Tuan Ben mengalami kecelakaan Tuan!" kata Nicco.
"Apa? Ben kecelakaan? Bukankah dia berada didalam kamarnya?" tanya Tuan Cedric sambil memakai pakaiannya kembali.
"Tidak Tuan, tadi Tuan Ben meminta untuk keluar rumah sebentar!" kata Nicco.
"Astaga Ben, apa lukanya parah?" tanya Tuan Cedric dengan wajah panik.
"Belum tau Tuan! Mari segera ke mobil," kata Nicco.
Tuan Cedric dan Nicco segera masuk ke mobil untuk menunju ke rumah sakit, hujan pun masih terus berlanjut. Tuan Cedric dan Nicco sampai di rumah sakit lalu segera menanyakan keberadaan puteranya.
"Ada dua korban Tuan, yang satu meninggal ditempat, dan yang satu mengalami luka-luka dan belum sadarkan diri," ujar seorang suster.
"Meninggal ditempat? Hahahaha kau dengar itu Nic, tanpa harus aku menyingkirkan gadis miskin itu dia sudah mati Nic," kata Tuan Cedric.
"Maaf Tuan, namun yang meninggal ditempat bukan seorang gadis melainkan laki-laki bernama Ben Andrigo," ujar suster tersebut.
Wajah Tuan Cedric dan Nicco langsung memucat begitu tau Ben meninggal dunia. Tuan Cedric bahkan rapuh dan hendak terjatuh, namun ditenangkan oleh Nicco.
"Apa? Ben? Ini tidak mungkin, kau pasti salah suster, anakku itu anak yang kuat sama seperti aku, mana mungkin dia yang meninggal dalam kecelakaan itu! Gadis itu yang mati, bukan anakku!" teriak Tuan Cedric.
Tuan Cedric mengamuk di rumah sakit hingga membuat suasana di rumah sakit menjadi hilang kendali. Tuan Cedric tak kuasa melihat jenazah Ben yang tertutup kantung jenazah, begitu juga dengan Nicco yang masih tidak menyangka jika Ben telah pergi dengan sangat tiba-tiba.
Tuan Cedric terus mengamuk dan menangis tak karuan! Satu-satunya pewaris group Andrigo meninggal diusia yang masih sangat muda, satu-satunya anak yang selama ini dia jaga meninggalkannya secepat ini.
Tuan Cedric pun menggendong sendiri jenazah Ben dengan kedua tangannya hingga menaiki ambulance untuk menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan Tuan Cedric terus menangis meraung dihadapan jenazah anaknya.
Hingga keesokan harinya, jenazah Ben disemayamkan disamping kuburan Ibunya. Tuan Cedric yang sangat terpukul dengan kematian Ben namun juga sangat murka mengetahui bahwa Falisha gadis miskin itu justru selamat dari kecelakaan itu, Tuan Cedric pun bersumpah dihadapan kuburan Ben.
"Ben anakku, aku bersumpah akan membalas gadis itu dialah penyebab kamu meninggal seperti ini! Karena gadis miskin itu kamu keluar rumah malam itu, karena gadis itu juga kamu jadi sering membangkang ku, dan gara-gara gadis miskin itu kamu pergi meninggalkan Ayah Ben! Aku akan buat gadis itu menderita seumur hidupnya. Aku bersumpah Ben," Kecam Tuan Cedric.
Dendam yang luar biasa bergejolak di hati Tuan Cedric terhadap Falisha! Tuan Cedric menganggap bahwa Falisha lah yang menyebabkan Ben malam itu mabuk di Bar dan pergi berduaan menggunakan mobil dalam keadaan mabuk. Hingga Tuan Cedric sangat dendam dan bersumpah membuat Falisha akan segera membayar semua ini.