"Apa itu?" dr. Mahendra antusias.
"Pak William akan mencabut gugatan kasus ini jika dr. Mahendra mengalihnamakan pemilik dan semua saham rumah sakit ini kepadanya". Lanjut dr. Arif.
"Gila! Dia sungguh picik! Ini pasti jebakan. Sampai mati pun saya tidak akan sudi!" dr. Mahendra mengepalkan tangannya, geram.
"Kita masih punya kesempatan, dokter". Ucap salah satu dokter yang ada di ruangan itu. Dialah salah satu dokter ortopedi, namanya dr. Moris.
dr. Mahendra pun menatapnya penasaran.
"Ada satu pengacara dari firma hukum RNP yang belum kita temui. Dia ahli. Bahkan saat ini dia condong lebih memilih kasus yang berat setelah 50 kasus pertamanya." Jelas dr. Moris.
"Siapa dia? Antarkan saya kesana!" dr. Mahendra antusias.
dr. Moris pun menjelaskan tentang latar belakang pengacara tersebut, begitupun keadaannya saat ini.
dr. Mahendra dan para dokter yang berada di ruang meeting itu pun segera bergegas menuju ruangan dimana Theo berada.
Para dokter menunggu di luar ruangan, sedangkan dr. Mahendra terlihat serius berbincang dengan Theo di dalam ruang perawatan tersebut.
Hingga kurang lebih 30 menit akhirnya mereka membuat sebuah kesepakatan dengan saling menjabat tangan. Tapi entah apa saja yang mereka bicarakan, hanya mereka berdua yang tahu.
Kediaman dr. Mahendra
Seminggu kemudian...
"Apa?! Papa gak bisa gitu dong pah... aku kan udah punya pacar. Dia akan melamarku segera pah..." ucap Lili yang kesal dengan papanya, dr. Mahendra.
"Lili...dengerin papa dulu. Dia itu orang yang luar biasa. Dia udah nyelamatin hidup papa, hidup kamu dan rumah sakit kita ini." dr. Mahendra mencoba meyakinkan Lili.
"Tapi pah, aku gak mau dijodohin. Aku udah punya pilihanku sendiri. Ngapain main jodoh-jodohan segala kaya zaman dulu aja!" Tolak Lili.
"Lili, ini cuma sementara ya. Kamu boleh menggugat cerai dia setelah 1-3 bulan, oke?! Kamu buat surat perjanjian pra nikah aja sama dia. Papa percaya dia gak bakal ngapa-ngapain kamu kok."
"Tapi pah, hitungan bulan itu lama. Aku harus bilang apa sama Lucas jika aku ketahuan?? Dia juga nanti gak bakal mau nikahin aku kalau udah jadi janda." Lili terus mencoba meyakinkan papanya supaya membatalkan rencana pernikahannya dengan pria yang tidak dikenalnya. Dia tidak ingin menikah dengan siapapun selain Lucas yang saat ini statusnya sebagai pacar Lili.
"Tenang, pernikahan ini kan rahasia. Antara keluarga kita dan keluarga dia saja".
"Kenapa harus aku pah yang jadi korbannya??" Lili mulai frustasi.
"Sssttt! Jangan pernah bilang begitu. Kamu akan baik-baik saja. Yang harus kamu lakukan hanyalah merawat dia di rumahnya selama kamu masih menjadi istrinya, oke?!" Tegas dr. Mahendra yang tak bisa dibantah Lili.
Lili pasrah dengan apa yang sudah menjadi keputusan papanya itu. Dia tidak percaya dengan nasibnya saat ini dan hanya bisa menangis. Dia harus berusaha menyembunyikan pernikahannya nanti dari publik terutama sang pacar, Lucas.
Beberapa jam kemudian akad pun berlangsung di kediaman dr. Mahendra.
Kini Lili tahu siapa yang menjadi suaminya saat ini. Dia yang tak lain adalah salah satu pasien yang dioperasinya seminggu yang lalu.
Theo yang masih berjalan menggunakan tongkat itu tentu pun masih membutuhkan perawatan khusus. Lili pun sedikit mengerti dengan kondisinya yang seperti itu.
Theo datang bersama papanya, Raymond Nusantara. Lili tahu bahwa Raymond adalah pemilik firma hukum RNP. Meskipun begitu, Lili tidak tahu dengan pekerjaan Theo, yang statusnya kini menjadi suaminya. Dia tidak peduli sama sekali.
Kediaman Theo
Hari itu pun Lili langsung dibawa ke kediaman Theo. Disana Theo tinggal sendiri, sehingga rumah yang begitu besar pun terasa sepi. Adapun pembantu yang membersihkan rumahnya hanya datang saat pagi dan sorenya sudah pulang lagi ke rumahnya yang tidak jauh dari kediaman Theo.
Saat ini keduanya menaiki tangga menuju lantai dua, tanpa ada yang memulai percakapan diantara mereka.
"Aku atur sandinya dulu. Sekarang sandinya hari pernikahan kita aja ya, biar kamu gak lupa" ucap Theo di depan pintu kamarnya, lalu membuka pintu tersebut.
Theo merangkul pinggang Lili dan melangkah memasuki pintu. Namun tiba-tiba Lili menepis tangan Theo dan reflek mendorongnya sampai terjatuh.
"Aww..w" pekik Theo kesakitan ketika badannya terhempas ke lantai. Dia pun segera bangkit perlahan dengan mendirikan tongkatnya terlebih dahulu.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu datang kesini untuk memperpendek umurku, hah?!" Ucap Theo yang tiba-tiba menjadi kesal dengan tingkah Lili yang di luar dugaan.
"Aku hanya ingin memastikan jika lukamu itu memang masih butuh perawatanku." Reflek Lili mengucap kalimat itu tanpa berpikir panjang. Padahal dalam hatinya dia merasa bersalah dengan tingkah konyolnya itu.
"Astaga!!!" Theo tak percaya dengan sikap dan ucapannya yang tak bisa dianggap biasa itu saat berada di rumahnya sendiri. Tidak seperti layaknya seorang dokter yang sopan, ramah dan perhatian terhadap pasien. Terutama perhatian pada dirinya, pikirnya.
Padahal hakikatnya semua pasien di rumah sakit diperlakukan sama.
"Kamu tidur di kamar sebelah aja. Atur sandimu sendiri!" Ucap Theo yang meninggalkan Lili di depan pintu kamarnya.
"Ya sudah, itu lebih baik." Jawab Lili santai, berjalan ke kamar sebelah yang ditunjuk oleh Theo.
Brakkk!!!
Theo melempar tongkatnya dengan kesal.
"Sial! Sepertinya aku menginjak ranjau!" Gerutunya sambil mengepalkan tangannya dan menonjoknya beberapa kali ke kasur empuknya yang berukuran king tersebut.
Sementara di kamar sebelah, Lili sedang asyik menata bajunya di lemari. Setelah itu dia langsung membuka laptopnya untuk membuat surat perjanjian pra nikah.
Lili masuk ke kamar Theo tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia hanya menekan sandi yang telah dibuat Theo sebelumnya. Lili pun menghampiri Theo yang sedang meneguk wine di kursi sofa kamarnya di depan tv.
"Tolong ditanda tangani" titah Lili singkat dengan menyimpan dua lembar kertas dan sebuah balpoin diatas meja, tepatnya disebelah botol wine.
Theo yang tak ingin pusing dengan kedatangan Lili di kamarnya, langsung saja menuruti apa yang diminta Lili tanpa ingin tahu apa isi dari dua lembar kertas tersebut.
"Kamar ini luas banget, lebih luas dari kamarku. Fasilitasnya juga lengkap, kayak di apartemen aja. Dan kasurnya..., kenapa banyak bunga??" Gumam Lili dalam hati, dan tak lantas dia ucapkan. Lili tak ingin larut dalam pikirannya. Dia pun langsung pergi meninggalkan Theo tanpa basa-basi. Kemudian ditempelkannya satu lembar surat perjanjian pra nikah tersebut di daun pintu bagian dalam kamar Theo. Begitupun dengan rangkapannya, yang dia tempel di daun pintu kamarnya sendiri.
Malampun sudah semakin larut. Kini jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sepasang pengantin baru itu pun tidur dengan lelap di kamarnya masing-masing.
Siang harinya Lili keluar dari ruang kelas kedokterannya di sebuah kampus. Disana terlihat seorang pria tinggi nan tampan sedang menunggu Lili di depan.
"Sayang" ucap pria yang memakai jas almamater itu melambaikan tangannya memanggil Lili.
"Kak Theo". Jawab Lili dengan senyum bahagianya menghampiri pria tersebut. Dialah Theo, pacar Lili saat itu.
"Kak, maaf yaa Lili gak bisa nemenin kak Theo sidang tadi" sesal Lili dengan manja.
"Gak apa-apa kok. Tapi sebagai gantinya aku minta hadiah, boleh?"
"Emm...boleh. Nanti Lili kasih, janji!"
"Tapi aku pengennya sekarang" Theo tanpa basa-basi mencium bibir Lili dan melumatnya dengan lembut. Ciuman itu pun begitu intens. Keduanya pun saling menikmati.
Kriiiingggg!!!!
Alarm berbunyi.
Lili membuka matanya segera. Dengan nafas yang tidak beraturan dia mencoba meraih ponselnya di atas nakas untuk mematikan alarm tersebut.
Lili tersadar dari mimpinya. Sejenak dia mencoba mengingat mimpi tersebut.
"Ehmmm!" Theo tiba-tiba ber-ehmm ria disampingnya.
Lili merasa aneh, kenapa ada Theo yang berdiri dengan tongkatnya disana, pikirnya.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Lili melotot.
"Kamu pikir aku disini untuk apa? Suara alarm mu yang tadi bunyi sudah mengganggu tidurku!" Ucapnya reflek. Nadanya tak bersahabat.
"Apa iya sudah berbunyi dari tadi? Sampai terdengar ke kamar sebelah?" Gumamnya dalam hati.
Lili pun bangkit dari kasurnya menuju lemari. Disana dia langsung mengganti bajunya tanpa menghiraukan adanya Theo.
Mata Theo langsung membelalak kala melihat bodi naked Lili. Walau hanya menggunakan pakaian dalamnya saja, tapi tetap itu membuat libido Theo naik, secara dia adalah pria normal.
"Heyyy...apa-apaan kamu bertingkah seperti itu di depanku?"
"Aku ada jadwal operasi satu jam lagi. Aku buru-buru"
"Dasar dokter jorok. Bukannya merawatku, merawat dirimu sendiri saja tidak becus. Mandi sana!"
"Aku akan mandi di rumah sakit aja" jawab Lili berlalu meninggalkan Theo di kamar.
Theo menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol seorang dokter yang kini menjadi istrinya itu.
Tak lama dia segera sadar dengan apa yang dilakukannya sebelum alarm berbunyi tadi. Dia mengusap sisa saliva di bibirnya karena perbuatannya dengan Lili.
Meskipun kesal dengan tingkah Lili, dia tetap mencuri sedikit apa yang menjadi hak nya sebagai suami. Kemudian tertawa kecil sambil meninggalkan kamar Lili menuju kamarnya.
"Halo, Oliv..?" Theo menghubungi seseorang yang dipanggilnya Oliv. Dialah adik bungsu Theo yang masih tinggal dengan papanya, Raymond.
"Iya kak. Ada apa?" Jawabnya di sebrang sana.
"Sebelum ke kampus, kamu kesini dulu ya. Bawain aku jus sama bubur" titah Theo.
"Ya ampun udah nikah aja masih nyuruh-nyuruh aku sih. Terus bi Mirna kemana emangnya?"
Oliv memakai sepatu dan bersiap pergi ke kampus.
"Dia minta libur hari ini. Udah ah jangan bawel, kamu kesini aja. Ada yang mau aku ceritain sama kamu" Tanpa basa-basi Theo memutuskan sambungan teleponnya.
Sedangkan Oliv yang berada di sebrang sana membuang nafas kasar, lalu berjalan malas.
Setelah 25 menit di perjalanan, tiba lah Oliv di kediaman Theo. Namun tidak seperti biasanya, kali ini dia tidak bisa masuk karena sandi yang ditekannya gagal terus.
Ting-tong!
Akhirnya Oliv memutuskan untuk menekan bel saja. Tidak lama kemudian pintu pun dibuka oleh Theo.
"Sandinya dirubah kak?" Oliv penasaran.
"Hmmm...tanggal pernikahanku." Jawabnya singkat.
Mereka pun menuju meja makan.
"Istri kakak kemana? Kok sepi?" Oliv melihat ke sekeliling rumah. Oliv berniat untuk menyapa kakak iparnya tersebut.
"Dia udah pergi. Katanya ada operasi"
"Emm.. Tadi aku gak beli jus. Tapi beli buahnya aja. Gak apa-apa kan?" Tanya Oliv sambil mengeluarkan buah tersebut dari kantong kresek lalu menatanya di meja makan setelah mencucinya terlebih dulu.
"Gak apa-apa. Sama aja."
"Oh iya, tadi kakak mau cerita apa?"
Mendapat pertanyaan Oliv, Theo pun langsung menatapnya sedih.
"Menurut kamu apa aku salah jika menyesal telah menikahi dia? Aku seperti menginjak ranjau" Theo dengan mimik menyedihkan.
"Kok bisa sih kak? Dia menjebak kakak?"
Sedangkan Theo hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya udah ceraiin aja. Lagian kan belum di publikasikan juga pernikahannya" ucap Oliv simple.
"Gak bisa gitu, Oliv. Aku sudah kehilangan 10 milyarku. Hiiikk..." tuturnya menyedihkan.
"Maksudnya gimana? Aku gak ngerti." Oliv penasaran.
Flashback on
dr. Mahendra masuk ke ruang perawatan Theo. Disana Theo sedang duduk bersandar di brankar pasiennya sambil memainkan ponselnya.
"Selamat sore. Perkenalkan saya dr. Mahendra pemilik rumah sakit ini. Apakah anda bapak Bastian Theo Raymond?" tanyanya sambil mengulurkan tangan kanannya. Theo pun langsung menerima uluran tangan tersebut dan mereka pun saling berjabat tangan untuk yang pertama kalinya.
"Iya, saya sendiri" jawabnya singkat.
Dalam benak Theo dia bertanya-tanya kenapa pemilik rumah sakit ini bisa datang mengunjunginya tiba-tiba.
dr. Mahendra menceritakan tentang kasus yang menimpanya saat ini dan butuh bantuan Theo sebagai pengacara untuknya.
"Jika kasus ini dimenangkan, saya akan membayar anda 10 milyar" dr. Mahendra tanpa basa-basi.
"Wow...fantastis" gumam Theo dalam hati bersorak. Namun tetap dengan wajah santai.
"Apa ada penawaran yang lebih baik? Saya tidak butuh uang sebanyak itu." Ucap Theo yang sedikit menantang.
Mau tidak mau dr. Mahendra harus bernegosiasi lagi dengan Theo.
"Apa yang anda inginkan? Saya akan turuti."
Mendengar tuturan sang dokter, Theo tersenyum picik.
"Dokter lihat sendiri keadaan saya seperti ini. Saya butuh perawatan khusus di rumah pribadi saya. Bukan hanya seorang dokter, tapi merangkap jadi istri" tutur Theo santai.
"Maaf, maksud anda?"
"Saya ingin menikah dengan dr. Liliana. Bolehkah?"
Deg!!
Jantung dr. Mahendra berdetak kaget kala nama anaknya disebut. Terdiam sesaat dan berpikir keras. Keputusan apa yang akan diambilnya.
Satu sisi, jika dia menolak dengan keinginan Theo, maka Theo tidak akan sudi membantunya dan tidak ada lagi harapan untuk mendapatkan pengacara yang handal. Jika bukan karena Theo, sudah dipastikan sisa hidupnya akan dia habiskan dibalik jeruji.
Di sisi lain, jika dia menerima permintaan Theo dan akhirnya lolos akan kasus ini, hidupnya akan tenang, rumah sakit pun akan aman di tangannya. Tentunya rumah sakit bisa diwariskan ke Lili, putri tunggalnya itu. Meskipun harus mengorbankan sebagian kehidupan Lili. dr. Mahendra pun masih punya harapan lain, jika Lili tidak mencintai suaminya nanti, dia bisa saja menggugat cerai. Setidaknya dia akan mendapatkan kuasa akan rumah sakit secara utuh, begitu pikir dr. Mahendra.
Akhirnya dr. Mahendra pun setuju dengan apa yang diminta oleh Theo. Kini keduanya pun sepakat dan saling berjabat tangan.
Seminggu setelah kesepakan akhirnya Theo bisa dipulangkan dari rumah sakit. Dia meluncur ke Pengadilan Negara di dampingi oleh papanya sendiri, Raymond Nusantara.
Entah benar diadakannya sidang atau hanya mediasi saja yang jelas dr. Mahendra tidak mendapat kerugian sedikitpun atas kasusnya itu. Sudah dipastikan, janji dr. Mahendra harus ditepati hari itu juga.
Selepas keluar dari Pengadilan Negara, Theo dan papanya langsung menuju kediaman dr. Mahendra untuk melangsungkan akad nikah Theo dan Lili disana.
Flashback off