"Sayang Arief, bolehkan aku memegang lengan mu? aku takut tersesat di hotel sebesar ini," seru Binar artis wanita papan atas sekaligus tunangan Arief.
"Tentu," jawab datar Arief.
Seketika tatapan datar Arief berubah menjadi tatapan terkejut, ia melihat sesosok wanita yang selama tiga tahun ini menghilang dari dirinya.
"Airra? istri ku!" terkejut Arief.
Tanggal 22 febuari 2022, di hotel Castlystar Jakarta, salah satu hotel termewah serta termegah di ibu kota negara Indonesia.
Hari di mana seharusnya Arief Hadyanandira, ingin bersenang-senang dengan wanita yang di inginkan banyak pria.
Mood kesenangan Arief hancur ketika melihat satu wanita berpakaian cleaning servis dengan wajah yang cukup pucat serta keringatnya bercucuran membasahi wajah putih lembutnya.
Tentu saja hal ini membingungkan, satu pria mempunyai satu istri, serta satu tunangan yang sekarang melekat di dekat tubuhnya.
Bagi Arief, Airra adalah istri yang telah ia lupakan, sampai tak sengaja ia bertemu dengan istri yang telah ia lupakan, sedang mencari nafkah sendiri dengan kondisi badannya yang lemah.
"Airra, sedang apa kamu di sini," tanya Arief melihat istri yang telah ia lupakan itu sedang mengepel lantai sembari berjongkok-jongkok dengan kondisi badannya yang lemah di sebuah hotel.
Airra menyerengitkan alisnya, ketika melihat suaminya yang telah melantarkannya itu sedang bersama wanita cantik yang adalah artis ternama di negara indonesia ini.
"Tentu saja sedang bekerja! mata mu buta Mas?" celetuk Airra.
"Kerja? wanita dengan kondisi badan seperti mu, kenapa kau bekerja! apa kau fikir aku suami mu tidak bisa di andalkan hah!" teriak Arief.
"Aku harus bekerja untuk anak mu Mas! atas kau telah mentelantarkan ku!" sahut Airra yang mulai berkaca-kaca.
Sontak perkataan Airra membuat Arief segera melepaskan pegangan Binar, apa lagi perasaan tak kuatnya melihat Airra menangis. Dengan cepat ia menggenggam erat ke dua lengan Airra.
"Kau bilang anak siapa? se-sejak kapan?" sepontan Arief memegang lengan Airra, setelah mendengar istrinya yang telah ia telantarkan selama tiga tahun itu tak sengaja mengucapkan kata anak.
Tertawaan kecil Airra terlintas di wajahnya, senyuman miris Airra membuat Arief menatap bingung.
"Heh ... untuk apa terus berbicara hal ini, aku harus bekerja, selamat malam Mas Arief," Airra mempalingkan wajahnya, dan segera berjalan pergi.
Airra bahkan tak menanyakan sama sekali tentang suaminya sedang bergandeng mesra bersama wanita lain di sebuah hotel.
Sebelum itu Airra berjalan tegak melewati Binar, yang dari tadi ia hanya berdiri tak berbicara satu kata pun mungkin karena malu.
"Mas Arief, sudah ya jangan di fikirkan lagi sebagai tunangan mu sekarang mari ku antar ke kamar," lembut Binar.
Arief mematuhi perkataan Binar, hari ini adalah tepat di mana ia dan Binar bertunangan, mereka memutuskan ke hotel atas perintah Nadira ibu Arief.
Arief yang terlihat cocok untuk berada di dekat Binar yang sangat bercahaya, membuat Airra yang melihatnya merasa sesak sekali bernafas.
"Uhukk ... memang seharusnya aku tidak memberi tahu mu Mas, tentang si kembar, jika ku beri tahu pun kau akan membencinya," tangis tersedu-sedu Airra.
Arief dan Airra memulai pernikahan mereka dengan dasar sebuah cinta, namun cinta tidak bisa abadi, cinta akan hilang jika sudah tidak ada kepercayaan yang menyelimutinya dan hal itu membuat pernikahan mereka menjadi hancur.
Tiga tahun yang lalu, tepat di saat tanggal 22 febuari 2019, dimana Arief dan Airra menikah, mereka saling mengikat janji suci di depan hadapan semua orang, bahkan orang tua Arief pun berada di sana.
Awal mula Arief bertemu dengan Airra, di saat adik laki-laki Arief yang bernama Rikki Hayanadira membawa Airra Allina ke rumahnya.
Saat itu Rikki dan Airra satu kampus, ia menjadi satu kelompok dalam membuat tugas.
Kediaman Nandra yang begitu mewah serta terkaya di kota Jakarta, dengan sepatu slop berwarna pink, Airra melangkah masuk ke dalam bangunan megah itu.
"Maaf ya, rumah ku memang selalu sepi ... duduk dulu akan ku siapkan cemilannya," ucap Rikki mengarah ke dapur.
Airra memang tahu dari nama belakang Rikki terdapat Dira di belakangnya nama yang sudah bertahun-tahun berhasil menjadi keluarga terpandang serta terhormat.
"Maaf ... Airra, sepertinya aku harus keluar sebentar jika kau bosan, ambilah laptop di kamar ku, kau boleh memakainya terlebih dahulu," Rikki.
Rikki putra ke dua keluarga Nandra namun, ia memiliki ibu lain istri ke dua Garna namun, sayangnya ibunya telah meninggal.
"Bodoh! kenapa aku asal naik saja? kamar Rikki di mana?" bingung Airra.
Airra melihat sebuah kamar dengan pintu yang terbuka dan segera masuk ke dalam kamar.
"Woah ... kamar Rikki sebesar kossan ku. Ini kan leptopnya?" gumam Airra.
Airra mematikan laptop yang asalnya menyala, ia segera menutup leptop itu dan ingin membawanya.
Hawa dingin di belakangnya kini sangat terasa bahkan sampai menyentuh kulit lehernya.
Tess ... tetesan Air terjatuh di pundak Airra.
Lalu Airra mengingat bahwa yang di katakan Rikki rumahnya sedang tidak ada orang, lalu bayangan serta hawa dingin dan tetesan air ini apa?
Menjatuhinya berasal dari mana?
"Se ... setan, bisakah kau pergi? aku bisa memusnahkan mu dengan tatapan ku loh," gigil Airra sembari memejamkan matanya.
"Maling dari mana ini? seenaknya mengatai ku setan! lalu kau sendiri jin dari mana?" ujar sombong Arief.
Airra membuka matanya lebar-lebar, mana mungkin setan bisa menyautinya.
Setelah membalikkan badannya, Airra terkejut ketika melihat pria berambut hitam tebal, serta alis yang terangkat menujukkan betapa tinggi dan agung dirinya.
"Ma ... maaf Paman, aku tidak berniat mencuri, Rikki ia menyuruh ku mengambil laptopnya," gugup Airra sembari menunduk.
Hari itu pertama kali Airra bertemu dengan Arief, awalnya Airra kira ia yang memiliki tubuh besar serta terlihat terisi otot ada di mana-mana.
Serta wajah dingin dan angkuh, membuat Airra berfikir pria yang berada di depannya saat ini adalah ayah Rikki, yaitu Garna Nandra.
"Maaf ... siapa yang kau sebut paman?" tanya Arief.
Jelas sekali tersorot tatapan tidak suka pada bola mata Arief menatap lekat Airra.
Airra bingung, dengan pertanyaan pria yang ia fikir tua berada di depannya, ia tidak mengetahui pria yang ia kira tua itu.
Adalah calon pewaris harta kekayaan Nandra, umurnya hanya berbeda 2 tahun darinya.
"Airra? kenapa kau ada di kamar kakak?" tiba tiba Rikki datang tepat sekali di waktu yang sulit Airra lewati.
Airra ternganga ternyata pria yang ia kira ayah Rikki ternyata kakak laki-laki Rikki, yang bernama Arief Hadyanandira.
Merasakan aura marah dari arah depannya, lantas membuat Airra menatap Rikki dengan tatapan meminta tolong.
"Rikki ... tolong aku," fikir geru Airra dengan tatapan benar-benar ingin di bebaskan.
"Huft ... maaf atas kelancangan teman ku kak," hela Rikki segera memegang tangan Airra.
Sorotan tajam Arief menatap pegangan adik yang ia benci, yang saat ini memegang erat tangan Airra yang hampir membuatnya kesal.
"Pergi sana, segera panggil bibi Nina membersihkan kamar ku! ini sudah ternodai!" geram Arief berjalan ke arah lemari pakaiannya.
Sejak kejadian itu, penilaian Airra dengan pria
yang bernama Arief Hadyanandira sangatlah buruk. Bagi Airra ia pria sombong dan sok bersih yang pernah ia temui.
Siapa sangka rasa kesal dan benci Airra malah semakin mempertemukan Arief dengan dirinya.
Di saat hari di mana kampus Airra kedatangan seorang tamu besar, ia sebagai ketua BEM yaitu sebuah organisasi kemahasiswaan yang paling popular di kampus, tentu saja berkewajiban menanggung serta menyambut tamu besar adalah tugas Airra sebagai ketua BEM.
Goessan Airra dengan sepeda lipatnya berjalan dengan cepat menuju tempat parkir.
Tanpa ia sengaja goessan sepedanya menggores wajah depan mobil mewah yang baru saja terparkir.
"Maaf Pak, saya tak sengaja menggores mobil anda dengan sepeda saya, tunggu saya di sini saya akan bertanggung jawab nanti." terburu-burunya segera berlari ke arah kampus masih menggunakan helem sepeda berwarna pink.
Airra ternganga ketika melihat tamu besarnya seorang Arief Hadyanandira.
"Se ... selamat datang, mari saya tunjukkan arahnya," ucap sopan Airra.
Airra mengajak Arief berkeliling kampus, kedatangan Arief ke kampus Airra untuk melihat seberapa bagus donasi yang telah ia berikan dalam memperbaiki kampus itu.
"Dan ini tempat trakhir, taman bunga Woffly namanya bagus dan terdengar ramah, apa paman tau saya sendiri yang memberikan nama untuk tempat ini," riang Airra menatap nyaman taman yang sedang Mas Arief lihat bersamanya.
Senyuman Airra memikat daya tarik Arief. bibir bawah yang terlihat tebal serta kenyal, pria mana yang tak akan tergoda melihatnya?
"Siapa yang kau sebut paman? dan ya gadis kecil ... kau harus mengganti rugi atas goresan sepeda mu," Arief memegang dagu Airra dengan nada suara sangat rendah.
"Mom ... mobil itu milik mu ya? katakan saja berapa tetapi jangan mahal-mahal!" Airra segera menengok melepaskan pegangan Arief.
"Dua ratus juta, bayar sekarang jika tidak bisa kau boleh menggantinya dengan tubuh mu," tegas Arief.
Nominal tersebut sangat besar bagi Airra yang bahkan tak memiliki keluarga atau orang tua yang bisa ia andalkan.
Perkataan Arief terdengar memaksa, membuat Airra menangis tersedu-sedu.
"Huwaaa ... dasar lintah darah, aku tidak sekaya itu bahkan untuk makan saja sulit kau terlahir dari keluarga kaya serta orang tua berada! dan aku saja tidak tahu siapa yang melahirkan ku!" tangis Airra.
Arief terkejut dan panik ia dari awal memang tak berniat meminta uang, namun kepolosan Airra membuatnya ingin sengaja menjahilinya.
"Sttt ... diam lah jika kau berhenti menangis aku tak akan meminta uang itu!" Arief.
"Lalu tubuh ku? aku masih menginginkan organ ku!" tangis kembali Airra.
Tangis Airra kembali membuat kepala Arief ngelu, dengan menggunakan satu tangannya, ia membungkam mulut berisik Airra.
"Tubuh mu pun tak akan ku ambil!" tegas Arief.
Tangis Airra seketika mereda serta tak terlihat bekas air mata di wajahnya, seakan ia tidak pernah menangis.
"Tidak boleh menarik perkataan sendiri loh ya, hehehe," tawa Airra.
"Dasar, pantas ia menyebut ku sebagai paman.. wanita polos yang bahkan tidak mengetahui pria dewasa meminta tubuhnya untuk apa," fikir Arief melirik Airra.
Sejak saat itu Arief terus saja bertemu dengan Airra dengan sengaja atau pun tidak sengaja.
Awalnya rasa benci namun, semakin sering bertemu serta beberapa kejadian aneh, menimbulkan percik-percikkan rasa suka pada diri mereka masing-masing.
"Paman, ah ... maksud ku tuan Arief anda semakin sering datang ya," ucap gugup Airra yang saat ini sedang bekerja menjadi pelayan di sebuah cafe.
"Memangnya kenapa? lagian menu di sini enak semua," sahut cepat Arief.
Setelah mencatat menu pesanan Arief, Airra kembali dengan membawa beberapa pesanan.
Tak menyangka saat Airra menaruh pesanan di meja nomor 3, salah satu pria tua sengaja memegang pahanya.
Sepontan membuat Airra secara reflek menampar wajah pria tua itu sampai bergema membuat seluruh aktifitas di cafe terhenti.
"Dasar pelayan tidak tahu diri! kau baru saja menampar pelanggan hah! di mana menejer Cafe!" marah pria tua itu mencoba membalikkan kesalahan.
Airra tidaklah bersalah namun, ia tak bisa melawan pria tua itu dan lagi menejer tempat ia bekerja saat ini juga sedang memarahinya.
"Cepat katakan maaf pada Bapak ini!" perintah menejer cafe.
Airra terdiam, ia memiliki fikiran jika ia tidak salah maka jangan harap untuk mendengar permintaan maaf keluar dari mulutnya.
"Berapa bekas tamparan pelayan ini?" ujar Arief.
"Harga? kaya sekali ya? berikan aku lima ratus juta!" ledek pak tua.
"Akan ku berikan," Arief memberikan cek setotal satu miliar pada pak tua itu.
Pak tua itu terlihat sangat senang ketika melihat angka nol yang bagaikan kereta api merah sebentar lagi akan melintas di dompetnya.
"Dan sekarang mari hitung nominal atas tangan kotor mu memegang paha Nona ini." tegas Arief.
Hari itu Arief membela Airra ia yang seharusnya keluar uang satu miliar, kini malah mendapatkan kembali uang itu dengan dua kali lipat atas bukti cctv cafe.
"A ... anu, soal tadi." Airra terlihat malu untuk berterimakasih, ia juga bingung harus memanggil apa pada sang penyelamatnya juga pria yang ia sempat benci.
"Arief, mulai sekarang panggil saya Mas Arief." senyum Arief.
Sejak saat itu entah karena rasa ingin berterimakasih, Airra mulai bersikap baik pada Arief.
Seiring berjalannya waktu Airra serta Arief jatuh cinta.
Memang seharusnya membenci sebencinya saja mungkin orang yang kau benci di keesokkan harinya akan menjadi seseorang yang kau cinta.
Arief jatuh cinta pada Airra, mereka menikah setelah Airra lulus dari kuliahnya.
"Ku pinang kau dengan bismillah Airra.. mau kah kau menikah dengan ku?" ujar Arief.
Saat itu Arief berlutut tepat di hadapan semua orang di tengah keramaian di depan air mancur taman kota.
Jantung Airra tak berhenti berdebar saat pria bernama Arief ingin meminang dirinya.
"Aku menerimanya, Mas Arief bangunlah," jawab Airra menyambut uluran tangan Arief.
Dengan seruan semua orang untuk segera menyuruh Airra, menerima pria tampan yang rela menurunkan harga dirinya demi dirinya berlutut di hadapan semua orang.
Airra fikir dengan menerimanya saja, ia bisa langsung menjadi miliknya namun, beberapa keadaan menghalangi hubungan Airra dan Arief.
Identitas keluarga Airra yang tidak di ketahui, serta orang miskin tak sebanding dengannya yang begitu besar serta agung.
Atas pemikiran itu Airra menahan Arief untuk mengatakan hubungan mereka pada kedua orang tuanya.
Karena fikiran Airra yang begitu kencang akhir-akhir ini membuat penyakitnya kambuh. Di lahirkan dengan kondisi tubuh sering sakit serta lemah, membuat Arief khawatir.
Karena tubuh Airra juga membuat hubungannya akan semakin jauh, kedua orang tua Arief marah. Saat Arief merelakan gelar ceo serta perusahaan yang sudah ia emban di bahunya dan berpaling lebih memilih menjadi seorang dokter untuk merawat satu wanita saja.
"Arief! kau tau impian Ibu membesarkan mu untuk kau bisa memegang kekuasaan Ayah mu! bagaimana pun Ibu tak rela membiarkan anak selir itu menggantikan posisi mu! apa lagi ini hanya karena wanita miskin itu!" marah Nadira ibu Arief.
Rumah sakit Anta Ratna dimana saat ini Airra sedang di rawat.
Sentuhan tangan mas Arief setiap kali menyentuh tubuh Airra membuat Airra menyadari akan kehadirannya.
"Sudah makan? apa Suster merawat mu dengan baik?" cakap lembut Arief.
"Bagaimana dengan keluarga mu? kau habis menangis ya?" tanya lembut Airra segera mengusap pipi lembut Arief dengan0 punggung tangannya.
Melihat Arief sudah menjadi dokter pribadi Airra serta melepas gelarnya sebagia ceo.
Sudah pasti ia kembali dalam keadaan terpuruk, tentu saja kedua orang tuanya tak akan merestui tindakkan tak masuk akalnya.
"Bisakah jangan membahas itu sekarang?" Arief memalingkan wajahnya, jelas terlihat kesedihan di bola matanya.
"Aku tak akan menanyakannya, terimakasih Mas Arief aku cinta kamu," lembut Airra memeluk erat Arief.
Sejak saat itu Keluarga Arief sama sekali tak menanyakan kabar tentang Arief, sampai Airra memutuskan untuk menikah dengan mas Arief agar tidak membuat pengorbanan mas Arief sia-sia.
Undangan pernikahan di kirimkan kerumah kediaman Nandra, walau Airra serta Arief tahu mereka pasti tidak akan mau datang.
Tanggal 22 febuari 2019 Airra menikah dengan mas Arief dan tak menyangka ibu mas Arief datang di acara pernikahan.
Orang tua Arief melihat proses pernikahan, paling tidak terbayangkan entah mengapa selama ini yang Airra fikirkan tentang pandangan buruk ibu Arief kepada Airra ternyata salah.
Mereka menerima Airra menjadi menantu, tentu saja dengan alasan mas Arief kembali ke tempat duduknya sebagai seorang ceo.
"Haha ... senangnya menjadi Nadira memiliki menantu cantik serta jago memasak, mau tinggal satu atap lagi sama mertua,"
"Benar tuh, biasanyakan menantu lebih memilih tinggal terpisah untuk menghindari suruhan mertua," cakap teman sosialita ibu Arief.
"Haha ... kalian bisa saja, menantu ku Airra memang tak sebanding dari menantu kalian," ucap bangga Nadira menatap Airra yang saat ini sedang duduk malu.
Setiap hari Airra di rangkul hangat dengan ucapan manis dari mulut semua orang. Serta bisa tinggal satu atap menjadi sepasang suami istri sah dengan mas Arief.
"Kenapa kamu menangis Airra," Arief.
Airra menatap cermin sembari menangis, tentu saja suami mana yang tak terkejut melihat istrinya tiba-tiba menangis tanpa ada perkara.
"Apa cara ku mengeringkan rambut mu salah?" tanya kembali Arief.
Airra menggeleng, ia segera memegang tangan Arief yang berada di samping kepalanya.
"Terimakasih Mas, karena mu aku benar-benar memiliki sebuah keluarga," ujar Airra.
"Bicara apa sih," segera Arief mencium pipi Airra dengan lembut mencoba menenangkan istrinya.
Dua bulan pernikahan Airra terasa begitu cepat, mungkin karena setiap hari Airra yang selalu sibuk.
Dan lagi Airra harus merelakan mas Arief yang akan pergi sebentar lagi keluar negri, untuk mengurus masalah di perusahaan sana yang terkena kendala.
Airra melihat Arief sedang berkemas, perasaan sedih juga takut tak bisa menahan rindu kepada mas Arief membuatnya tak kuat ingin menahan Arief untuk tidak pergi.
"Mas ... berapa hari kamu akan pergi?" tanya Airra.
"Sebulan, kenapa? jika kamu merasa keberatan lebih baik aku batalkan saja ya?" sahut Arief.
Airra tentu saja bisa membuat Arief tak jadi pergi namun, ia paham jika Arief tidak jadi pergi, mungkin saja keluarga Arief akan membujuk Airra mati-matian agar menyuruh Arief pergi.
"Bukankah sama saja, aku akan tetap membiarkannya pergi?" gumam pelan Airra.
"Tidak perlu Mas, lagi pula disana memerlukan diri mu, aku yang di sini ... hanya akan menunggu mu pulang," seru Airra.
Setelah kepergian Arief, suasana rumah menjadi berbeda semenjak kedatangan ayah Arief Garna Nandra.
Entah perasaan Airra yang salah atau memang benar, sikap ibu mertuanya seketika berubah.
"Selamat datang Ayah mertua," sambut Airra dengan sopan.
Garna Nandra ayah Arief yang di kenal pleyboy, bahkan sudah lima tahun tidak pulang, ia masih berani membawa satu wanita muda di sampingnya.
Sedikit syok ketika melihat sikap ayah Arief yang sangat santai membawa selingkuhannya pulang, jelas sekali disana sedang berdiri tegak istri sah yaitu ibu Arief.
"Kau istri yang anakku sampai rela turun ya? wajar kau memang cantik, maaf tidak bisa hadir di pernikahan mu waktu itu," sapa Garna sembari mengelus kepala Airra.
Setelah perbincangan yang menurut Airra agak sedikit celetuk, tanpa malu ayah Arief meminta istrinya tidak menggunakan kamar utama, karena kamarnya akan di pakai ia dan selingkuhannya.
Jelas tatapan sakit serta benci yang sekarang ibu mertua Airra rasakan.
"Ibu ... hari ini ingin tidur bersama ku?" tanya Airra.
Sejak saat itu ayah mertua selalu memperhatikan Airra tepat di hadapan ibu mertua.
"Ibu ... aku sudah memasak makanan kesukaan ibu, mari makan," ajak Airra, selama ayah mertua memperhatikannya lebih, entah mengapa ibu mertuanya merasa memberi jarak padanya.
Tepat saat itu juga pintu terbuka, terlihat seorang wanita cantik sedang berjalan masuk dan membawa beberapa oleh-oleh di tangannya.
Nadira segera berlari ke arah wanita itu, mengabaikan ajakkan makan menantunya.
"Binar! sayang ku, ya ampun ini semua untuk Bibi?" ria Nadira menyambut hangat Binar.
"Tentu saja, Binar habis syuting dari sepanyol loh, ini untuk Bibi," sambut kembali Binar.
Binar dari dulu memang memiliki hubungan erat pada keluarga Arief, dan lagi karirnya sebagai artis papan atas juga sebagai aset negara.
Binar menoleh ke arah Airra, sekejap ia tersenyum, lalu segera mengajak Airra bersalaman.
"Hallo, saya Binar teman wanita satu-satunyaa semasa kecil Mas Arief," Binar mengulurkan tangannya ia sedikit agak mengerengkan teman wanita satu-satunya.
Perasaan Airra tak enak saat melihat uluran tangan itu namun, jika ia tidak menyambut tangan wanita yang sedang menggatung itu, bisa saja ibu mertua yang sedari tadi menatapnya tidak akan berhenti menatap.
"Hai, saya Airra Handira istrinya Mas Arief selamat datang Binar di kediaman kami," sapa lembut Airra.
Airra agak kesal, ia kembali menekankan kata istri pada Binar.
Tentu saja semua orang tau di antara pria dan wanita tidak ada kata teman di dalamnya.
"Duh Binar, padahal kamu sudah jauh-jauh datang, Airra bisa siapkan beberapa cemilan dan minuman, Ibu dan Binar tunggu di ruang tamu ya," ujar Nadira segera menggenggam tangan Binar.
Seolah orang asing yang sedang berada di tengah-tengah keluarga akrab. Itu lah Airra sekarang.
Ibu mertua Airra lebih banyak berbincang dengan Binar, bahkan mereka sama sekali tak memberi Airra celah untuk berbicara.
Sejak hari itu wanita yang bernama Binar sering sekali datang, Airra pun merasa ibu mertua lebih senang atas kehadiran Binar, walau sering menyusahkan dirinya.