Bab 1

"Hari ini kamu mau kemana, Ay?" tanya Viki.

"Aku mau dateng ke pertandingan bola anak-anak. Mereka kan ada pertandingan persahabatan

sama bank sebelah," jawab Arum membenarkan letak ponselnya.

"Jam berapa emang?" tanya Viki lagi.

"Ya nanti sore sih. Rencana berangkat jam tiga,” jawab Arum lagi melirik jam di tangannya.

"Ya udah aku anter. Telat dikit tapi ya. Tunggu aku selesai anter Jay ke tukang servis laptop,"

jelas Viki.

"Emang gak ngrepotin? Aku bisa berangkat sendiri kok," Arum meyakinkan diri.

"Udah, gak pake acara nolak-nolak segala ya," Viki bicara lagi dengan sangat lembut.

"Iya udah iya iya., terserah kamu aja!" jawab Arum memilih mengiyakan karena tak ingin

berdebat lebih panjang melalui panggilan video dengan kekasih brondongnya, Viki.

Arum alias Chintya Aprilia Kusumaningrum, janda tanpa anak berusia 30 tahun yang bekerja

sebagai staf HR di sebuah bank swasta di Malang. Wajah manis dengan rambut lurus sebahu.

Tubuh ideal dengan pipi chubby. Sedikit tomboy, supel, aktif, mandiri, dan pekerja keras. Sudah

dua bulan ini pacaran dengan rekan kerjanya di kantor, Viki alias Viki Narendra Gautama.

Seorang perjaka tingting berusia 25 tahun yang bekerja sebagai customer service. Manis dengan

kulit sawo matang. Baik, pekerja keras, dan ya sesekali masih suka genit sama nasabah.

Setidaknya itulah yang Arum tahu untuk saat ini.

Sesuai janji, sampai juga Viki didepan rumah Arum sore hari itu. Rumah orang tua Arum lebih

tepatnya. Dia tinggal di sana hanya bersama ibunya yang sudah berusia senja. Sedangkan sang

ayah sudah lebih dulu meninggalkan mereka tiga tahun lalu. Arum keluar rumah dengan celana

jins kesayangan dan hem kotak bewarna biru. Tak lupa tas ransel mini nya dengan make up tipis dan rambut yang dibiarkan tergerai. Ciri khas penampilannya sehari-hari yang nyaman dan

sederhana. Segera menyambar helm yang sudah disiapkan sang kekasih.

"Dimana ini tempatnya?" tanya Viki.

"Di sebelah Mall Bahari," jawab Arum singkat.

“Ok pegangan, kita meluncur!”

Tidak banyak yang mereka bicarakan selama di jalan. Hanya basa-basi saja seperti biasa.

Perjalanan 15 menit pun mereka sampai lokasi. Arum langsung turun saja dan masuk ke dalam

lapangan futsal beriringan dengan Viki. Bergandengan tangan? Tentu tidak. Arum bukan tipe

wanita yang suka bermanja-manja dengan prianya. Itu sangat menggelikan baginya. Itu juga

kenapa sulit untuk rekan kerja mereka yang lain untuk menebak apa hubungan Arum dengan

Viki sebenarnya. Keduanya tidak ingin memberi klarifikasi bak selebriti. Biarkan semuanya

mengalir seperti air. Toh cepat atau lambat teman-teman mereka akan mengetahuinya.

Pertandingan sedang berlangsung. Arum mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ada

beberapa sosok yang tak dikenalnya di sisi kiri ruangan yang kemungkinan besar adalah mereka

dari bank lawan. Salah satunya memandang Arum dan melempar senyum saat mata mereka tak

sengaja bertemu. Tentu sebagai bentuk sopan santun Arum balas tersenyum walau dengan

sedikit kerut di dahinya.Arum beralih melihat beberapa rekannya yang sedang bertanding. Di

pinggir lapangan sisi kanan ada beberapa sosok yang dikenalnya. Agus dari IT, Bari dari

security, Jimi dari akunting, Juki dari marketing, dan Ojin yang juga CS sama seperti Viki. Tak

begitu akrab memang tapi Arum tentu saja mudah membaur. Sedangkan Viki sudah mulai

menyulut rokoknya bersama Ojin yang kebetulan memang cukup akrab dengannya.

Kedatangan mereka berdua tentu mengundang bisikan penasaran segera termasuk Ojin.

"Kalian tuh pacaran?" tanya Ojin ke Viki.

"Emang kalo dateng bareng gini harus pacaran?" Viki malah balik tanya.

"Hm, ya gak juga sih. Ya kali aja. Kalian sok misterius banget berdua," jawab Ojin enteng.

"Ato lu yang kepo?" respon Viki enteng.

"Ya emang sih kamu mau pacaran sama siapa juga bukan urusan aku. Cuman pesen aja aku tuh, jangan suka mainin cewek. Kasian dia. Setau aku, dia baru cerai kan sama suaminya?" Ojin

mencoba peruntungan.

"Gak usah sok suci deh! Mending kamu urusin tuh duo teller yang kamu PHPin terus itu. Mereka

masih enggak berhenti ngejar-ngejar kamu kan?" ejek Viki balik yang membuat Ojin meringis

memilih untuk melanjutkan kegiatan menghisap rokoknya.

Beda lagi dengan Arum yang juga diinterogasi oleh Agus yang memang cukup terkenal di bank

karena paling update mengenai gosip-gosip terhangat masa kini. Jangan heran, mulut laki-laki di

tempat Arum bekerja bahkan lebih licin dari perempuan. Agus mungkin bahkan tahu rahasia

terkecil apapun yang terjadi di bank saat ini.

"Udah terang-terangan sekarang bawa Viki?" godanya.

"Ya ngapain juga gelap-gelapan, Gus. Ada-ada aja!" timpal Arum.

"Ya pokoknya kalo ada kabar bahagia tuh dibagi-bagi gitu. Kan biar kita juga ikut seneng."

pancing Agus.

"Hahaha. Kita? Ya kamu aja kali, Gus. Lumayan dapat bahan ghibah baru kan?" serang Arum

karena memang dia yakin besok di bank, acara keluarnya dengan Viki hari ini akan menjadi

berita panas.

Agus ataupun rekan lainnya sebenarnya penasaran. Tapi tak pernah bertanya secara blak-blakan

karena Arum dan Viki sendiri nampaknya tidak terlalu ingin hubungannya dibahas. Makanya

mereka selalu memberi jawaban yang ambigu dan berputar-putar tiap ditanya.

Pertandingan futsal itu memang tidak lama, setelah sekitar satu jam pertandingan usai. Arum

pamit pulang pada orang-orang yang dia kenal. Karena lapar, dia minta Viki untuk menemaninya

makan malam lalapan favorit yang kebetulan searah dengan rumah Arum.

"Laper apa doyan sih, Ay?" tanya Viki jahil melihat lahapnya Arum makan bebek goreng di

hadapannya.

"Laper… tapi doyan. Hehehe,” jawab Arum setelah meneguk es jeruk pesanannya.

"Ya udah makan yang banyak biar makin gendut," goda Viki lagi.

"Hm, nanti aku nya gendut kamu nya lari. Udah ketebak!" ejek Arum.

"Hahaha. Baper amat. Ya enggak lah. Aku mah udah cinta mati sama kamu, Ay!" goda Viki.

"Halah gombal! Emang kamu kira mempan gitu ngomong sok-sokan manis ke aku?" seru Arum

lagi.

Viki hanya bisa tertawa melihat tingkah sang kekasih. Hubungan mereka memang tidak terlalu

kaku juga yang membuatnya justru merasa nyaman dalam menjalani hubungan. Arum juga

bukan tipe wanita yang suka jaim, tapi lebih santai dan apa adanya saja. Masing-masing lanjut

menikmati sepiring nasi bebek penyet plus es jeruk.

Setibanya di rumah karena jam masih menunjukkan pukul tujuh, Viki memilih mampir sebentar.

Arum sudah keluar dari dapur membawakan kopi panas untuk sang pujaan hati. Lalu tidak

sengaja melihat brosur perumahan yang tergeletak di lantai. Seseorang pasti taruh itu di sana.

Arum mulai membacanya dengan seksama.

"Vik, ini loh bagus perumahan. Enggak pake uang muka, cicilannya juga murah terus flat, dan

lokasinya juga bagus loh. Kamu gak pengen beli?" tanya Arum.

"Buat apa? Masih ada rumah ortu aku di Surabaya," jawab Viki singkat.

"Ya buat investasi lah, Viki! Daripada kamu kos kaya sekarang kan sama-sama keluar duit juga

tiap bulan. Nambah dikit kamu bisa nyicil rumah dan kamu enggak perlu tinggal di kos lagi,"

bujuk Arum lagi.

"Ya udah sini coba aku bawa tuh brosur. Nanti biar aku liat-liat lagi!" langsung sambar saja Viki.

"Enak loh punya rumah sendiri. Misal ortu kamu pengen jenguk, ya mereka bisa nginep situ.

Atau ada temen-temen kamu pengen main juga bisa lebih bebas di situ. Aku dukung pokoknya

kamu beli rumah. Nanti kalau kamu minat, aku bisa temenin kamu liat lokasinya!" bujuk Arum

tiada henti.

"Ay, kamu nih ngerangkap marketing perumahan ya? Ngotot banget aku disuruh beli rumah. Ato

jangan-jangan itu modus aja? Kamu kan yang sebenernya pengen main rumah aku? Iya kan?

Hehehe," goda Viki.

"Hah, repot emang ngomong sama perjaka tua. Pikirannya ya anda, gak jauh-jauh dari

selangkangan!" ejek Arum.

"Hah? Selangkangan? Emang aku ngomong apaan? Ya kamu kali yang mikirnya kesana. Aku

enggak tuh!" Viki semakin semangat menghoda sang kekasih.

Sebuah cubitan keras di lengan Viki menjadi hadiah untuk keusilannya, "terusin kamu ya! Udah pulang sana! Udah malem aku capek mau tidur!"

"Sakit banget, Ay! Ngapain sih cubit segala? Ya udah kalo gitu aku pulang ya. Pamitin ke mama

kamu jangan lupa!" kata Viki.

"Iya iya ok. Ya udah sana ati-ati. Sama makasih tadi udah nemenin," kata Arum lagi

melambaikan tangan.

Begitulah kehidupan Arum sekarang. Manis karena Viki yang menemani hari-harinya. Walau

mungkin bagi sebagian orang hubungan mereka terlihat tak biasa. Viki yang berusia lima tahun

lebih muda darinya juga perbedaan status yang mencolok antara keduanya, seringkali menjadi

bahan gunjingan dari orang-orang yang mengenal mereka. Arum juga tidak menutup mata dan

telinga, dia tahu teman-temannya di kantor sering membicarakannya, tapi dia tidak pernah ambil

pusing.

Arum memilih menonton drama korea di kamarnya, tapi dia tidak sendirian. Seekor kucing

persia jantan yang sangat gendut bernama Jelly selalu menemaninya. Rebahan santai di samping

sang empunya. Arum mengecek ponsel yang sedari tadi tak tersentuh. Membuka instagram dan

memperhatikan story teman-teman onlinenya hingga tak sengaja menemukan foto mantan

suaminya bersama seorang wanita yang tak tahu siapa. Selfie mesra dengan senyum lebar ke arah

kamera. Dia Puja Nugrawan Prasojo atau dia selalu memanggilnya Mas Pras.

Tidak ada yang salah pada hubungannya dengan Pras. Dia pria yang sangat baik juga sabar dan

bertanggungjawab. Seorang pembawa acara berita di stasiun televisi lokal di daerahnya. Ya

mereka memang tinggal berjauhan sejak pertama kali menikah. Arum tinggal di Malang, maka

Pras tinggal di Blitar. Tidak ada yang berniat mengalah. Masing-masing terlanjur mencintai

pekerjaan juga keluarganya. Mereka toh akan tetap bertemu di penghujung minggu. Kebanyakan

Pras yang akan berkunjung ke Malang dan sesekali sebaliknya.

Walau semuanya tampak baik, tapi mungkin itulah salah satu penyebab keretakan rumah tangga

mereka. Pada akhirnya rasa yang membuncah itu mereda menjadi jenuh. Cinta yang besar itu

memudar dan melebur. Kasih yang indah dan perhatian yang nyata itu kini kabur. Akhirnya

pernikahan mereka kehilangan percikannya dan dengan sangat terpaksa memilih untuk berpisah dengan dalih kebahagiaan bersama.

Apa kamu bahagia sekarang, Mas? Aku kok kangen sih, Mas. Kangen kamu boncengin aku naik vespa kesayanganmu. Kangen kita jalan-jalan random ke mall. Kangen kamu ajakin keliling cari berita bagus buat stasiun TV-mu. Kangen kamu yang sabar banget ngadepin aku yang super cerewet.

Munafik kalau Arum mengatakan bahwa dia lupa. Kenangan itu akan selalu ada. Bagaimanapun Mas Pras pernah menjadi bagian terpenting dalam delapan tahun kehidupannya. Berpengaruh begitu besar membentuk sosoknya yang saat ini. Walaupun sekarang hanya tersisa setumpuk sesal yang selalu datang belakangan, namun dia berusaha begitu keras untuk bangkit dan mengambil semua pelajaran berharga.

Bab 2

Berapa bulan yang lalu di kantor Arum,

"Arum, kamu dipanggil sama Pak Yos tuh!" panggil Rizki.

"Aku? Ok!" Arum gerak cepat masuk ke ruangan Pak Bos nya yang ajaib itu.

Arum mengetuk pintu dan masuk saja perlahan,

"Selamat ulang tahun istriku."

"Loh Mas Pras? Kok bisa di sini?" Arum tidak tahu harus memasang ekspresi bagaimana.

Mas Pras tetap tersenyum dengan sebuket bunga di tangannya. Sengaja duduk di kursi atasan Arum untuk mengerjainya. Lalu rekannya yang lain ikut masuk membawa kue juga cemilan lainnya. Menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Pak Yos, Lili, Asti, Rizki, Uli, dan Tri.

Hari ini memang hari ulang tahun Arum yang bertepatan jatuh pada tanggal 15 April setiap tahunnya.

"Selamat ulang tahun ya Arum," salam Pak Yos padanya.

Masing-masing memberi ucapan selamat lalu lanjut memotong kue dan menikmati cemilan yang tersedia. Ya selayaknya kejutan ulang tahun pada umumnya.

"Gimana nih kejutannya kira-kira? Suka ya?" tanya Lili yang melirik ke arah Mas Pras di ujung ruangan.

"Iya, gak nyangka Mas Pras disini. Saya kira gak bakal datang karena semalam sudah ngucapin," tutup Arum tentu saja.

"Ditemenin dong suaminya Arum. Jauh-jauhan aja kaya orang lagi marahan," Rizki angkat bicara.

Arum hanya tersenyum paksa saja. Semalam padahal dia baru saja bertengkar dengan sang suami melalui telepon. Arum hanya merasa semuanya mulai berbeda. Belum lagi karena suaminya bilang tak akan datang untuk merayakan ulang tahunnya. Kini Mas Pras disini, bukankah seharusnya dia bahagia?

Rekan-rekan Arum yang mengerti, satu persatu meninggalkan ruangan. Pak Yos berdalih mengadakan rapat dadakan di ruang pertemuan yang sebenarnya hanya memberi waktu untuk kedua orang ini bicara. Jangan salah paham, kabar mengenai keretakan rumah tangga itu memang sudah terdengar ke seluruh penjuru ruangan.

"Hm, kapan sampe?" Arum basa basi.

"Baru tadi pagi. Langsung kesini," jawab Pras.

"Habis ini mau kemana?" tanya Arum lagi.

"Mau balik lagi ke Blitar. Ada kerjaan yang gak bisa ditinggal," jawab Pras menimbulkan sedikit kekecewaan.

"Hm gitu. Aku kira mau mampir rumah mama dulu," Arum berkomentar.

"Ya nanti weekend pasti aku kesini lagi," jawab Pras tersenyum.

"Ya udah ati-ati aja ya. Makasih udah nyempetin dateng. Aku juga gak bisa lama-lama. Enggak enak sama lainnya udah mulai kerja, masa aku ngobrol disini," Arum coba menjelaskan.

"Iya. Ya udah semangat kerjanya ya," Pras mengelus puncak kepala istrinya itu dan pergi meninggalkannya setelah berpamitan dengan Rizki yang kebetulan berpapasan dengannya di depan ruangan.

Di ruang pertemuan di mana semua teman Arum sedang berkumpul,

"Kalian liat gak sih tampang Mas Pras sama Arum juga? Kaku banget gak sih gak kaya suami istri. Keliatan banget kalo lagi ada masalah," Lili mulai berspekulasi.

"Ih iya. Aku liatnya aja gimana gitu. Jadi ikut kasian liat mukanya mereka tuh. Apa jangan-jangan emang bener ya gosip-gosip itu?" Uli penasaran.

"Gosip kalo Arum selingkuh sama Viki? Itu mah udah rahasia umum, tapi semoga enggak bener. Kasian Mas Pras," jawab Lili lagi.

"Kalo menurut kamu gimana Asti? Kamu kan best friend nya Arum. Masa dia gak pernah cerita-cerita sih sama kamu?" tanya Uli penasaran.

"Enggak tahu. Dia enggak pernah cerita sama aku tentang masalahnya. Lagian aku enggak mau ikut campur urusan pribadi dia. Kalo dia emang enggak mau cerita ya aku biarin aja. Ya kita doain aja semoga masalahnya cepet selesai," kata Asti berusaha bijak.

"Ih Asti mah gak asik. Kalo itu sih kita juga pengennya mereka baik-baik aja. Kan itu kenapa kita inisiatif undang Mas Pras hari ini buat kasih kejutan ke Arum!" Lili membela diri.

"Gosip bener deh nih cewek-cewek. Tuh Pak Yos udah dateng," Rizki yang baru saja tiba angkat bicara.

Mereka memilih fokus pada rapat yang bos nya pimpin ini. Tak lama Arum juga memasuki ruangan. Langsung duduk di sebelah Asti memperhatikan intruksi. Setelah 15 menit bicara, si bos yang menerima telepon, memilih mengangkatnya di luar ruangan.

"Loh Mas Pras kamu tinggal?" tanya Asti tentu saja penasaran melihat temannya ini cepat kembali.

"Dia udah balik kok ke Blitar," jawabnya singkat.

"Lah cepet banget? Aku kira bakal nunggu dirumah orang tua kamu?" tanya Asti lagi.

"Ya kamu tau lah dia. Mana mau dia nunggu sendirian di rumah mama. Jadi ya gitu deh lebih milih pulang,” dan Asti hanya mengangguk saja tanda mengerti.

Pikiran Arum jadi melayang. Bukan berarti hubungan Mas Pras dan mama Arum buruk. Hanya saja memang Mas Pras terlalu pendiam dan sedikit canggung. Bahkan ketika ada di rumah orang tua Arum, dia lebih memilih menghabiskan waktu di dalam kamar. Keluar kamar hanya untuk makan dan ke kamar mandi saja. Tidak banyak bicara dengan kedua mertuanya.

Tentu saja semua bukan tanpa sebab. Hubungan mereka awalnya memang tidak disetujui oleh orang tua Arum. Papa dan mama Arum merasa Pras bukan calon yang baik untuk anaknya karena pekerjaannya yang kurang menjanjikan. Pras bahkan hampir saja membatalkan pernikahan mereka. Menanggalkan cincin pertunangan yang sudah tersemat di jarinya.

Tentu saja itu Arum. Dia tidak tinggal diam. Dia berontak dan membela Pras di depan orang tuanya. Pras faktanya memang pria baik dan sudah sewajarnya orang tua Arum memberi kesempatan, pikirnya. Hingga pada akhirnya papa dan mama Arum memberi izin. Tidak lain tidak bukan demi kebahagiaan sang putri satu-satunya. Setelah lampu hijau didapat, Arum segera pergi ke Blitar sendiri untuk bertemu Pras. Meyakinkannya agar mau melanjutkan pernikahan.

Saat itu Pras percaya bahwa dirinya memang kurang pantas bersanding dengan Arum. Keluarganya memang sangat sederhana. Pekerjaannya juga memang tidak begitu mentereng. Namun karena melihat ketulusan dan perjuangan Arum, sebagai laki-laki dia merasa malu karena memilih menyerah. Pada akhirnya karena cinta yang begitu besar, mereka menikah.

"Arum, Arum?" panggil Pak Yos didepan sana.

"Ya, Pak?" Arum yang melamun tersadar setelah dicolek Asti.

"Gimana sih? Kamu nglamun? Dari tadi saya udah ngomong panjang lebar kamu ternyata enggak dengerin?" Pak Yos mulai marah.

"Ya maaf, Pak. Kenapa, Pak?" Arum bertanya lagi.

"Ah udah lah. Kamu tanya aja sama yang lain nanti," Pak Yos beralih bicara pada Tri meninggalkan Arum dengan sedikit perasaan bersalah.

Jam makan siang pun, Arum memilih makan sendiri di ruang kerjanya. Sepi saat yang lain lebih memilih makan di kantin. Dia memang lebih suka begini. Hanya saja, banyak pikiran yang menyita tenaganya akhir-akhir ini. Bertemu dengan banyak orang di kantin tidak akan membantunya sama sekali. Akhirnya, dia kembali memikirkan tentang kelangsungan hubungannya dengan Pras.

Kemana perasaanku yang menggebu-gebu dulu? Kenapa sekarang rasanya jadi hambar?

Sebuah pesan masuk di ponsel Arum dari Viki.

Viki : Udah makan siang?

Arum : Ya, ini lagi makan siang.

Viki : Tapi aku enggak kliatan kamu di kantin?

Arum : Ya aku makan di ruangan.

Viki : Padahal aku pengen bisa liat kamu di kantin.

Arum : Ngapain?

Viki : Ya kangen aja sih.

Arum : Mulut dijaga ya.

Viki : Nanti pulang jadi bareng?

Arum : Ya boleh aja sih.

Viki : Ok nanti aku tunggu di luar ya.

Arum : Sebagai ucapan terima kasih, nanti kita mampir makan dulu deh.

VIKI : Asiiik. Aromanya bakalan traktiran ulang tahun nih.

Arum : Hahahaha. Siiip dah.

Itulah Viki. Ya dia memang dekat dengannya beberapa waktu belakangan ini. Dan memang begitulah Viki, suka bicara manis padanya. Tentu Arum tak pernah ambil pusing, karena Viki memang terpaut usia cukup jauh darinya dan dia memang menganggap Viki sama saja dengan teman prianya yang lain. Namun tak bisa dipungkiri, kehadiran Viki bisa sedikit menghiburnya dalam kondisinya yang sedang pelik.

Arum memang punya banyak teman pria karena sifatnya yang cenderung tomboy juga tentunya tuntutan pekerjaan. Suaminya juga tidak pernah melarangnya untuk berteman dengan siapapun. Bahkan Arum sudah biasa pulang dan pergi atau sekedar makan-makan dengan beberapa rekan kerja prianya. Arum memang tidak membawa kendaraan sendiri karena mamanya melarangnya. Lebih memilih sang anak pergi dengan kendaraan umum yang dinilainya lebih aman. Tentu saja semuanya atas sepengetahuan suami.

Arum juga tahu bahwa kedekatannya dengan Viki perlahan dipahami salah oleh orang lain. Mereka mulai menganggap Viki sebagai orang ketiga dalam hubungannya bersama Pras. Bukan tanpa alasan, itu karena Viki memang bukan orang yang sepertinya akan bisa dekat dengannya. Secara hubungan pekerjaan pun, sebenarnya juga sama sekali tidak cocok. Namun Arum tak merasa ada yang salah karena ya mereka hanya berteman. Oleh karena itu, dia memilih diam. Biarkan saja orang lain berasumsi semau mereka. Karena kebenarannya hanya dia yang tahu.

Sore hari sepulang kerja, Arum sedang dibonceng Viki.

"Seneng deh aku. Bisa nemenin kamu di hari spesialmu," goda Viki.

"Jangan mulai deh, Vik! Mending fokus aja deh liat jalan tuh di depan!" sergah Arum.

"Hahaha. Kenapa sih? Aku serius loh!" ujar Viki lagi.

"Ya aku juga serius, Vik. Aku laper! Pengen makan rawon!" elak Arum.

"Hahaha. Iya iya ini juga lagi otw kan," goda Viki terus.

"Tapi by the way, seandainya kamu belum ada suami… kira-kira kamu mau gak kalo nikah nya sama aku?" Viki mencoba peruntungan.

"Lah, tapi kan aku ada suami, Vik please deh!" kata Arum.

"Ya aku kan bilang seandainya. SE AN DAI NYA ngerti gak sih?" Viki mengeja perlahan.

Tak kunjung mendapat jawaban, Viki bertanya lagi, "jadi gimana? Mau enggak?"

"Astaga. Males jawab aku pertanyaanmu aneh!" Arum mengelak menatap punggung yang sedang menyetir didepannya ini.

Nih cowok sebenernya bercanda doang atau serius sih? Nih lama-lama bisa baper akunya. Hm, tapi ya gak mungkin lah ya dia serius. Secara dia masih single masih muda. Pasti banyak cewek yang mau sama dia. Lah aku? Udah ada suami di rumah, muka juga enggak cantik-cantik amat! Aku enggak boleh keGRan!

Bab 3

Sebuah pesan masuk dari Pak Yos yang memintanya datang ke ruangan. Kebetulan Arum sedang keliling melihat kondisi kantor. Arum terburu-buru meninggalkan semmua pekerjaannya dan setelah 10 menit berjalan cukup jauh akhirnya tiba juga di depan ruangan sang bos. Dia mengetuk dan masuk ke dalam ruangan Pak Yos. Ya itu memang sudah kebiasaan di HR. Bisa masuk walau sang bos belum mempersilahkan dari dalam.

"Duduk dulu Arum," Pak Yos mempersilahkan.

Arum menurut saja segera duduk di sana. Masih berusaha mengatur nafas yang ngos-ngosan. Pasti ada pekerjaan lainnya yang harus dia kerjakan. Pak Yos masih bicara di telepon entah dengan siapa. Arum meneliti ruangan dominasi warna putih gading ini. Berkas yang selalu berserakan di atas mejanya penuh tumpukan dokumen yang perlu di tanda tangani. Di sudut ruangan berjejer beberapa piala juga plakat tentu beberapa ordner berisi dokumen. Lengkap dengan cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela tirai.

"Arum, saya mau bicara penting sama kamu!" kata Pak Yos segera membuat Arum cukup bingung.

"Apa itu pak?" tanya Arum.

Pak Yos nampak berpikir dulu. Mungkin memilih kalimat yang tepat untuk disampaikan ke anak buahnya ini.

"Jadi gini, saya dengar gosip dari karyawan di sini, kalo kamu dekat sama anak CS, namanya Viki. Apa… itu benar?" tanya Pak Yos terlihat berhati-hati.

"Ada apa, Pak? Emang bapak dengar gosip apa antara saya sama Viki?" Arum malah balik tanya.

"Ya… hanya gitu aja sih. Kamu deket sama dia gitu," kata Pak Yos yang seolah menekankan kata ‘dekat’.

"Saya gak tau bapak dengar apa dari mereka ya, Pak! Saya sama Viki ya berteman biasa aja Pak sama aja kaya saya sama Rizki atau Tri," elak Arum segera.

"Ya, saya cuman mengingatkan saja disini. Sebagai atasan kamu, saya cuman bisa bilang kalau HR itu wajah perusahaan. Kalo satu saja dari kita berbuat, satu HR akan kena imbasnya. Apa kamu enggak kasian sama teman-teman kamu? Saya juga bicara sebagai orang tua kamu di sini. Kamu itu punya suami, enggak baik kalo kamu terlalu dekat sama karyawan pria lain. Bisa jadi fitnah ya kaya sekarang ini," Pak Yos coba menjelaskan dengan perlahan.

"Mohon maaf ya, Pak! Kalopun saya memang ada apa-apa sama Viki. Ini kan kehidupan pribadi saya pak. Hubungan saya dan bapak ya hanya hubungan profesional antara bawahan dan atasan. Bapak gak seharusnya ikut campur urusan pribadi saya dong!" Arum mulai emosi.

"Ya saya bicara karena saya dengar keluhan dari karyawan lain Arum! Kalau enggak juga saya enggak akan ikut campur masalah kamu. Ini kan juga demi kebaikan HR. Juga kamu," Pak Yos berpendapat.

"Ini secara gak langsung bapak nuduh saya selingkuh, sedangkan saya memang gak ada apa-apa sama Viki. Lagian ya Pak, kalo ngomongin masalah selingkuh. Di kantor ini juga banyak kok orang-orang yang suka selingkuh, suka main perempuan, kenapa hanya saya yang dipermasalahkan?" tanya Arum mulai kesal dan emosi.

"Ya sudah kalo kabar itu memang salah ya saya minta maaf. Berarti kecurigaan teman-teman itu salah dan saya juga enak ngejawabnya kan. Saya sekali lagi kan juga cuman mengingatkan. Jangan sampe gosip seperti ini makin berkembang, " kata Pak Yos lagi menekankan kepeduliannya.

"Iya sudah pak!" Arum sudah enggan bicara lagi.

Arum memilih pergi meninggalkan ruangan itu. Toh dilihat dari bahasanya, Pak Yos sebenarnya sudah terlanjur percaya dengan gosip itu. Beliau hanya berusaha sebaik mungkin untuk tidak terkesan menuduhnya walau memang itu yang sedang dia lakukan. Arum sudah bekerja lima tahun dengan Pak Yos. Sudah sangat hafal dengan watak beliau yang memang keras sama dengan dirinya. Itu kenapa sering sekali mereka adu mulut masalah pekerjaan walau akhirnya setelah itu keadaan membaik dan kembali seperti semula.

Astaga. Pada kenapa sih tuh orang-orang. Kepo banget sama hidup aku. Bikin kesel aja!

Bingung siapa yang harus dia curhati saat itu, akhirnya dia memilih mengirim pesan pada Viki. Pria yang dinilainya bertanggung jawab dengan adanya insiden ini. Jujur saja, Arum sangat kesal hari ini. Moodnya tentu saja berubah dengan sangat drastic karena pembicaraan yang menurutnya tidak masuk akal dari sang atasan.

Arum mengetik pesan di ponselnya untuk Viki, “Vik, gara2 kamu nih aku dimarahin Pak Yos!”

Karena masih jam kerja, Arum tahu Viki tak akan langsung membalas pesannya. Dia pasti masih sibuk melayani nasabah. Arum meletakkan kembali ponselnya dan menatap layar komputer dengan tatapan nanar. Matanya sesekali beralih pada pesan masuk di aplikasi Whatsapp nya. Ada nama suaminya di sana yang pasti juga masih sibuk bekerja. Mereka tetap berkirim pesan walau rasanya berbeda. Lebih seperti formalitas saja. Menunaikan kewajiban.

Dibacanya lagi pesan mereka pagi ini,

Pras : Hari ini aku ada liputan di luar.

Arum : Owh ya. Dimana?

Pras : Ada objek wisata baru aja sih kaya pantai gitu.

Arum : Owh, ya ati2 aja ya, Mas. Jangan lupa kabar-kabarin.

Pras : Siap!

Ya, begitu saja isi pesan singkat mereka. Benar-benar singkat. Hingga sekarang pun belum ada pesan masuk lagi dari sang suami.

Jam sudah menunjukkan pukul 11.45 siang. Tentu saja setelah kejadian dimarahin Pak Yos sebelumnya dia enggan mengerjakan pekerjaannya dan memilih untuk pergi ke luar ruangan menemui hal apapun yang bisa dijadikan sasaran kemarahannya. Dua orang cleaning service bahkan harus membersihkan toilet kamar mandi dua kali hanya karena Arum merasa pekerjaannya kurang sempurna

"Kenapa sih muka suntuk banget?" Asti yang kebetulan bertemu dengannya di depan klinik bertanya.

"Enggak apa-apa kok. Capek aja habis keliling," alasan Arum.

"Makan dulu aja. udah jam istirahat juga kan habis ini? Kali aja habis itu ilang capeknya," kata Asti lagi.

"Iya gampang," itu saja jawab Arum.

Asti memang bisa dikatakan adalah salah satu sahabat terbaiknya di kantor itu. Sebelum Asti menikah, dia bahkan sering menginap di rumahnya dan di situ dia akan banyak sekali bercerita tentang kisah cinta masing-masing. Asti bahkan tahu bagaimana lika-likunya hubungannya dengan Pras dan sebaliknya. Entah kenapa, untuk masalah ini dia memilih diam. Sedikit banyak dia memang takut untuk menceritakan yang satu ini, entah kenapa.

Arum memilih kembali ke dalam ruangan tepat saat rekannya yang lain memilih turun untuk makan siang di kantin. Selain alasan kenyamanan dan mager, Arum memang makin enggan makan di kantin sejak gosip itu tersebar semakin lebar. Rasanya setiap dia masuk pintu kantin, ada mata-mata yang penuh tanya dan penasaran, ada bibir-bibir yang membicarakannya. Arum jengah dengan semua itu. Dia memilih untuk duduk di bangkunya dan memperhatikan ruangan yang kini sepi. Ada beberapa meja di dalam ruangan itu. Satu meja yang sangat besar untuknya berbagi dengan Asti, Uli, dan Lili. Di ruang lain, ada meja Tri dan Rizki dan ruang Pak Yos yang tentu saja terpisah.

Arum menoleh ke arah ponselnya sebentar. Memilih mengirim pesan pada sang suami. Memberi kabar kalau dirinya sedang beristirahat yang tak lama hanya dibalas ‘OK’. Arum hanya mampu menghela nafas membaca pesan minimalis dari sang suami. Mungkin memang masih sibuk. Diletakkan kembali ponselnya. Tiba-tiba tak lama pesannya berbunyi lagi saat Arum baru saja membuka nasi kotak di hadapannya. Itu Viki membalas pesannya.

Viki : Gara2 aku? Kenapa?

Arum : Pak Yos tahu kalo kita deket. Kayanya ada yang kasih info. Jadi ya gitu deh aku dimarah2in. Diceramahin gak jelas sumpah.

Viki : Waduuuh. Tapi ya udah sih.

Arum : Lah kok cuman gitu?

Viki : Terus mau kamu gimana?Ya aku minta maaf deh kalo gitu.

Arum : Ya gak gimana2 sih kesel aja akunya.

Viki : Ya udah lah cuekin aja. Kita kan emang gak ada apa2. Eh, belum ada ding.

Arum : Kamu nih orang lagi sebel malah dibecandain! Aku lagi serius ini!!!

Viki : Hehehe. Iya iya maaf.

Arum : Kayanya mulai sekarang kita harus jaga jarak deh.

Viki : Apaan sih! Ya terserah kamu aja lah!

Arum : Hehehe. Becanda ding.

Viki : Dasar gak jelas!

Arum : Lah jadi dia yang ngambek?

Viki : Udah lah mending makan aja dulu biar gak stres.

Malam harinya, baru saja tiba di rumah. Meletakkan tas ransel dan membuka kaos kakinya. Ada sebuah notif pesan masuk dari sang suami di ponselnya. Arum segera merebahkan tubuhnya dan membuka isi pesan itu.

Pras : Sudah pulang?

Arum : Sudah, barusan aja.

Arum : Mas sendiri?

Pras : Sudah kok. Tadi bersih-bersih dulu terus edit video bentaran.

Arum : Owh iya syukur kalo gitu. Udah makan?

Pras : Udah dong. Kamu sendiri?

Arum : Udah juga tadi pulang kantor makan bakso dulu sama Tri. Aku telpon ya?

Pras : Ya aku aja deh nanti yang telpon ya. Mau lanjut ngedit bentar.

Arum : Owh gitu. Ya udah kalo gitu. Aku juga mau mandi dulu.

Pada akhirnya, sampai malam, sampai sinetron yang Arum tonton habis, Pras tidak menelponnya. Entah mungkin masih sibuk edit videonya atau justru sudah tidur. Arum merasa, komunikasi mereka akhir-akhir ini semakin buruk. Walaupun memang suaminya bukan tipe pria romantis dari dulu. Gaya komunikasi semacam ini dianggap biasa oleh mereka, tapi makin kesini rasanya komunikasi mereka makin kurang dan terkesan ala kadarnya. Arum tidak terlalu ambil pusing sebenarnya, dia punya banyak sekali teman baik pria atau wanita yang bisa diajaknya bicara, dia juga banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan. Jadi hari-harinya juga tidak terasa terlalu sepi walau hidup berjauhan dengan Pras.

Daripada sang suami, justru Viki yang dari tadi masih aktif mengiriminya pesan. Padahal dia sedang kembali ke rumah orang tuanya di Surabaya.

Arum : Gak ada kegiatan banget kamu dari tadi chat aku terus?

Viki : Ya emang gak ada Arum.

Arum : Cepet cari cewek gih, jadi kita gak digosipin lagi kan.

Viki : Gak mau lah. Aku tunggu jandamu aja.

Arum : Lah gila lu ya! Kok gitu banget sih doamu?

Viki : Ya becanda kali. Lah kamu sendiri, bukannya chat sama suami kamu, malah sama aku. Hayo?

Arum : Lagi sibuk dia.

Viki selalu begitu. Selalu bicara manis dan penuh modus. Siapa coba yang tidak kepikiran kalau terus diberi kata-kata seperti itu.

Beneran deh nih brondong alay maunya apa sih sebenernya? Maju terus pantang mundur! Apa dia beneran suka sama aku? Ah, mau dipikir gimana juga ya masa sih dia suka sama aku? Aku aja yang keGRan deh kayanya. Astaga Arum, tobaat tobaat!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED