Matahari terbenam di cakrawala, mewarnai langit dengan semburat jingga dan merah saat Jill melangkah keluar dari kantornya. Hari itu telah panjang dan melelahkan, tetapi pikirannya masih penuh dengan sketsa dan desain yang akan dia ciptakan esok hari. Dengan langkah yang tergesa-gesa, dia membuka pintu mobilnya dan meluncur ke dalam, siap untuk pulang ke kedamaian rumahnya. Namun, kedamaian itu segera terkoyak saat dia menyadari kehadiran yang tidak diundang di kursi penumpang. Seorang pria dengan pakaian yang berlumuran darah duduk dengan tenang, senjata di tangannya menunjuk tegas ke pelipis Jill. Detak jantungnya berpacu, adrenalin mengalir deras, namun dengan keberanian yang dipaksakan, Jill menyalakan mesin dan membiarkan instingnya mengambil alih. Mobil itu melaju perlahan, membawa mereka berdua ke dalam malam yang tak pasti, di mana rahasia dan bahaya bersembunyi di setiap belokan.
"Jangan takut, aku tidak akan membunuhmu. Asalkan kau, patuh." Katanya pria itu, menatap tajam wajah Jill.
Jill hanya mengangguk, tanpa menoleh. Ia fokus ke depan, mengendarai mobilnya.
Malam itu, jalanan tampak sepi dan hanya terang benderang oleh lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan. Pria di samping Jill, dengan nafas yang teratur menandakan ketenangan yang terlatih, memperhatikan melalui kaca spion bahwa ada bayangan yang mengikuti mereka — sebuah motor dengan lampu yang redup. Ketika motor itu mendekat, pria berjaket kulit hitam yang mengendarainya mengeluarkan pistol dan menodongkannya tepat ke arah kaca jendela mobil Jill. Dalam sekejap, pria di samping Jill bertindak dengan refleks yang tajam, menarik pistolnya dan melepaskan tembakan. Namun, dalam pertarungan yang berlangsung cepat, peluru yang dilepaskan meleset, berdesingan dekat wajah Jill, meninggalkan jejak panas yang membakar kulitnya dan menyisir kedua bola matanya. Teriakan Jill memecah kesunyian malam, dan dalam kepanikan, mobil yang mereka tumpangi mulai oleng tak terkendali. Mereka berdua berjuang untuk menguasai setir, tapi nasib telah menentukan jalannya. Dengan suara gemuruh yang menggelegar, mobil itu akhirnya menabrak sebuah pohon besar di pinggir jalan, meninggalkan mereka dalam keheningan yang tiba-tiba, dikelilingi oleh debu dan daun-daun yang berterbangan.
"Ayo, cepat bantu!!" Teriak salah satu pejalan kaki yang kebetulan melintas, dan melihat kejadian itu.
"Di dalam mobil, hanya ada satu orang!" serunya pejalan kaki lain, yang memeriksa ke dalam mobil.
Dalam keheningan malam yang tiba-tiba terpecah oleh suara sirine yang mendesing, Jill terbaring tak berdaya, merasakan setiap denyut nyeri yang melanda tubuhnya. Kepalanya berputar, dan dunia di sekelilingnya terasa seperti bergerak dalam gerakan lambat. Dengan setiap tarikan napas yang berat, ia mencoba mempertahankan benang tipis kesadaran yang masih tersisa. Samar-samar, ia merasakan kehadiran orang-orang di sekitarnya, mendengar suara bisikan dan langkah kaki yang terburu-buru, merasakan sentuhan tangan yang berusaha menolongnya. Namun, seiring dengan suara sirine yang semakin keras, kesadarannya mulai terkikis, dan Jill menyerah pada gelapnya ketidaksadaran, terhanyut ke dalam keabadian yang sunyi, di mana rasa sakit dan ketakutan perlahan-lahan memudar.
*****
Koridor rumah sakit yang biasanya ramai kini terasa hening, hanya sesekali terdengar suara langkah kaki perawat yang lewat. Di depan ruang operasi, tiga sosok berdiri dalam diam yang berat. Laras, mertua Jill, tampak tenggelam dalam dunia digitalnya, matanya tidak pernah lepas dari layar ponsel yang terus berkedip dengan notifikasi. Sementara itu, Dila, adik ipar Jill, terlihat sibuk berbicara di ponselnya, mungkin mencari pengalihan dari ketegangan yang menggantung di udara. Di antara mereka, Reno, suami Jill, berjalan mondar-mandir dengan raut wajah yang gelisah. Setiap gerakannya mencerminkan kekhawatiran yang mendalam, matanya sesekali menatap pintu operasi, seolah mencoba menembusnya untuk melihat kondisi Jill. Waktu seakan berhenti bagi mereka, setiap detik terasa seperti jam, menunggu kabar yang akan menentukan nasib Jill, wanita yang mereka cintai.
Selang beberapa jam, seorang dokter keluar dari ruang operasi. Dokter tersebut di hampiri oleh Reno dan bertanya bagaimana keadaan istrinya. Dokter mengatakan, kalau saat ini yang di butuhkan Jill adalah kornea mata. Tentu saja itu mengejutkan Reno, Laras dan Dila. Pasalnya, tidak mudah mendapatkan kornea mata, apalagi harganya terbilang fantastis.
“Dokter, bagaimana keadaan Jill? Apakah dia baik-baik saja?”
Dokter menghela napas panjang, menatap raut wajah Reno yang khawatir. “Untuk saat ini, Jill membutuhkan transplantasi kornea mata. Kondisinya stabil, tapi ini adalah langkah yang perlu segera diambil untuk memulihkan penglihatannya.”
“Transplantasi kornea? Itu… itu mengejutkan.” Katanya, Reno.
"Tapi dokter, mendapatkan kornea mata bukanlah hal yang mudah, dan biayanya…” ucapan Laras menggantung.
Dokter itu menganggu, lalu berbalik dan menghilang di balik pintu ruang operasi, meninggalkan Reno dalam genggaman kecemasan yang semakin menguat. Ia merasa seolah-olah setiap detik yang berlalu adalah seberkas harapan yang menguap. Sementara itu, Laras tampak tenang, hampir tidak terpengaruh oleh berita yang baru saja mereka terima, matanya masih terpaku pada layar ponsel yang terus menerus menyala. Dila, dengan sikap yang serupa, tampak lebih asyik dengan percakapan di ponselnya daripada situasi tegang yang sedang berlangsung. Mereka berdua, dalam gelembung mereka sendiri, tampaknya terpisah dari realitas yang menyakitkan bahwa Jill, anggota keluarga mereka, sedang berjuang antara hidup dan mati hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiri.
Reno berbalik merebut ponsel milik ibunya. "Ma, ini masalah serius!"
Laras matanya mendelik, merebut kembali ponsel di tangan putranya. "Mama capek. Jill, memang menantu tidak berguna."
"Ma, bukan saatnya kita bahas seperti ini. Aku juga capek, setiap hari mendengar hasutanmu, ma... " keluh Reno frustasi.
'Kamu pikir, mama sedang menghasutmu?" tanya Laras terlihat emosi. "Kau, sudah di butakan cinta!"
"Ma!" pekik Reno, menatap tajam Laras. Sementara Dila, acuh tak acuh dengab pertengkaran mereka. Bagi Dila, itu sudah menjadi kebiasaan di rumah.
Reno balik badan menatap Dila yang masih asik mengobrol. Ia langsung menghampirinya dan merebut ponsel. Di bantingnya ponsel ke lantai hingga berantakan. Dila menatap marah pada Reno, ia tidak mengerti kenapa Reno semarah itu.
"Kamu juga sama saja, bukannya membantuku berfikir!"
Dila tersenyuk sinis. "Dia istrimu, tanggung jawabmu. Aku? aku hanya adikmu, dan dia bukan tanggung jawabku!"
Reno berteriak frustasi karena kesal oleh mama dan adiknya. Ia bergegas pergi meninggalkan Laras dan Dila yang masih terpaku di tempatnya.
"Salah siapa, memilih perempuan tidak berguna itu." Celetuk Dila, dan di benarkan oleh Laras.
"Kau benar, Kirana lebih cocok dengan Reno. Cantik, kaya, berpendidikan, dan tentu saja bisa memberikan keturunan."
Dila mengangguk, menyetujui pernyataan mamanya. 'Sudahlah ma, aku capek. Kita pulang saja."
Laras mengangguk, ke duanya beranjak pergi meninggalkan rumah sakit. Mereka berdua tidak perduli dengan ke-adaan Jill. Bagi mereka, Jill adalah benalu dalam keluarga besar Sanjaya.
Kesembuhan yang perlahan namun pasti mulai menyelimuti Jill, membawa kabar baik yang telah lama dinantikan. Di sebuah ruangan yang dipenuhi cahaya lembut dari sinar matahari pagi, Jill duduk dengan tenang, ditemani oleh Reno, suaminya yang setia, dan Sanjaya, ayah mertuanya yang bijaksana. Keduanya berdiri di sampingnya, menunggu dengan napas yang tertahan. Hari ini adalah hari yang menentukan, saat dokter akan dengan hati-hati membuka perban yang selama ini menyelimuti mata Jill. Reno dan Sanjaya, meski dengan perasaan yang berbeda, sama-sama berharap bahwa saat perban itu terlepas, Jill akan kembali melihat dunia dengan mata yang baru. Mereka berdua, dalam diam, mengirimkan doa dan harapan mereka, berharap bahwa keajaiban akan terjadi, dan Jill akan kembali menatap ke dalam jiwa mereka seperti dulu kala.
Dengan gerakan yang penuh perhatian, dokter mulai mengurai perban yang selama ini menjadi penghalang antara Jill dan dunia luar. Detik-detik berlalu seperti jam, dan ketika lapisan terakhir kain ditarik, sebuah keheningan menegang menyelimuti ruangan. Mata Jill yang terbuka perlahan hanya disambut oleh kegelapan yang pekat, sebuah kekosongan yang tak terdefinisi. Tangannya meraba-raba di udara, mencari sesuatu yang bisa memberi petunjuk, memberi harapan bahwa cahaya akan kembali. Namun, tidak ada yang berubah; hanya kegelapan yang tetap setia menemaninya. Tubuhnya mulai gemetar, seiring dengan ketakutan yang tumbuh dari dalam, menggigilkan tulang-tulangnya, dan membisikkan kepadanya bahwa mungkin saja, ini adalah kegelapan yang akan menjadi sahabatnya selamanya.
Ketika kegelapan tetap memeluk pandangan Jill, kepanikan mulai merayap ke dalam suaranya. “Dokter, mengapa saya tidak bisa melihat? Mengapa semuanya gelap?” tanyanya dengan suara yang gemetar.
Dokter, dengan suara yang tenang dan penuh empati, menjawab, “Jill, ini normal setelah operasi seperti ini. Anda hanya mengalami kebutaan sementara karena mata Anda masih menyesuaikan. Ini akan membaik.”
Kata-kata dokter itu seharusnya membawa ketenangan, namun bagi Jill, mereka hanya menambah kebingungan dan rasa takut. Teriakannya memecah kesunyian, penuh dengan rasa takut akan masa depan yang tidak pasti. Reno, yang telah berdiri di sampingnya, dengan cepat merengkuhnya dalam pelukan yang hangat dan menenangkan, mencoba mengirimkan kekuatan dan dukungan melalui sentuhan yang lembut. “Akan baik-baik saja, Jill,” bisiknya, berharap kata-katanya dapat menjadi jangkar di tengah badai emosi yang sedang dihadapi Jill.
Setelah suasana sedikit mereda, dokter mendekati Reno dan Sanjaya yang berdiri di samping tempat tidur Jill. Dengan nada yang serius namun penuh harapan, dokter memulai pembicaraannya.
“Reno, Sanjaya, saya mengerti ini adalah waktu yang sulit, tetapi kita harus bertindak cepat. Jill memerlukan pemeriksaan lanjutan dan transplantasi kornea mata secepat mungkin.”
Reno menatap wajah Dokter penuh dengab harapan. “Kami siap melakukan apa saja untuk Jill. Anda menyebutkan Amerika dan Hong Kong?”
Dokter mengangguk. “Benar, kedua negara tersebut memiliki fasilitas dan teknologi canggih untuk prosedur ini. Namun, perlu Anda ketahui bahwa daftar tunggu untuk donor kornea sangat panjang, dan bisa memakan waktu.”
Sanjaya, dengan suara yang tenang namun tegas, menambahkan: “Kita akan lakukan yang terbaik. Jika membawa Jill ke Amerika adalah langkah yang tepat, maka kita akan mengambil langkah itu.”
Reno mengangguk, tekadnya terlihat jelas di matanya. “Kita akan temukan cara,” katanya, “Jill pantas mendapatkan kesempatan ini.”
****
Reno membawa Jill pulang ke rumah yang telah dipenuhi oleh keheningan dan kecemasan. Setelah memastikan Jill beristirahat dengan nyaman di kamar, Reno mengumpulkan keberanian untuk menghadapi Laras, Dila, dan Sanjaya di ruang tamu. Dengan napas yang dalam, ia memulai percakapannya.
“Dokter mengatakan Jill membutuhkan transplantasi kornea secepatnya. Kita harus mempertimbangkan untuk membawanya ke Amerika atau Hong Kong.”
Laras, dengan nada yang tegas dan dingin, memotong pembicaraan: “Tidak, kita tidak akan mengeluarkan uang untuk itu. Perusahaan sedang dalam masalah, kita tidak bisa membuang-buang dana untuk pengobatan Jill.”
Sanjaya, yang selama ini hanya mendengarkan, tampak terkejut dengan reaksi istrinya: “Tapi Laras, ini tentang kesembuhan Jill. Kita tidak bisa hanya…”
Laras menegaskan. “Saya sudah katakan tidak, Sanjaya. Keputusan sudah dibuat.”
Reno dan Sanjaya bertukar pandang, kekecewaan dan ketidakpercayaan tergambar jelas di wajah mereka. Mereka tahu bahwa perjuangan untuk Jill baru saja menjadi lebih sulit.
Laras memperhatikan kebingungan yang terpancar dari wajah Reno, dan dengan senyum yang sarat makna, ia mendekat. “Reno,” katanya, suaranya rendah dan penuh dengan tawaran yang tidak terucap, “mungkin sudah saatnya kita mempertimbangkan lamaran dari Keluarga Kirana.”
Reno, yang terkejut dengan saran yang tiba-tiba itu, menolak dengan tegas. “Tidak, Laras. Itu bukan pilihan. Kita tidak bisa menjual masa depan Jill untuk…”
Namun Laras memotong, mengingatkan dengan nada yang lebih serius, “Jika Jill tidak mendapatkan transplantasi kornea mata, dia akan buta selamanya. Pikirkanlah, ini bisa menjadi solusi untuk semua masalah kita.”
Reno merasa sudut-sudut dunianya bergeser, tekanan dari Laras menambah beban yang sudah berat. Namun, dalam hatinya, ia tahu tidak ada kompromi yang bisa dibuat ketika menyangkut penglihatan dan masa depan Jill.
Ketidakpastian dan keputusasaan menggantung berat di udara, membebani langkah Reno yang meninggalkan rumah. Setiap detak jam di dinding seolah mengejek kebuntuan yang ia rasakan, suara detikannya mengingatkan pada waktu yang terus berjalan tanpa memberikan solusi. Reno merasa terjepit di antara keinginan untuk melindungi Jill, cinta hatinya, dan tekanan yang tak henti-hentinya dari Laras. Langkahnya yang gontai mencerminkan kefrustrasian yang mendalam, sebuah pertempuran batin yang tak kunjung menemukan kemenangan. Malam yang biasanya menawarkan kedamaian kini hanya menambah kesunyian hatinya, dan dengan setiap langkah yang menjauh dari rumah, Reno semakin tenggelam dalam labirin pikirannya sendiri, mencari jalan keluar yang tampaknya semakin sulit ditemukan.
Laras tersenyum memandang Reno yang pergi begitu saja, Sanjaya hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Sebagai ibu, kau benar benar keterlaluan."
Laras melirik tajam Sanjaya. "Apa bedanya denganmu? sama bukan?"
Sanjaya menghela napas panjang, ia beranjak pergi dan enggan berdebat dengan istrinya, karena itu akan percuma.
"Ma, serius?" tanya Dilla, dan Laras menganggukkan kepalanya.
"Mama yakin, Reno bakal menerima?" tanya Dila lagi.
Laras mengangguk. "Lihat saja nanti, mama pastikan...perempuan buta dan mandul itu, akan segera pergi dari rumah ini."
Laras dan Dila tertawa terkekeh, mereka bersorak. Kekayaan keluarga Kirana tidak akan ada habisnya. Dengab menikahkan Reno dan Dila, akan membantu perkembangan perusahaan Sanjaya.
"Mama ingin segera punya cucu, dan kau..bisa menikah dengan Angga."
Dila tersenyum lebar, impiannya menjadi pengantin. Menikah dengan pria sederajat akan segera tercapai.
Sejak kebutaan menimpa Jill, hidupnya berubah menjadi serangkaian tantangan yang tak henti-hentinya. Setiap hari membawa kesulitan baru, setiap tugas sederhana kini menjadi rintangan yang harus diatasi. Dalam kegelapan yang menyelimuti pandangannya, Jill menemukan dirinya bergantung pada indra lainnya untuk menavigasi dunia yang kini terasa asing.
Laras dan Dila, yang seharusnya menjadi pilar dukungan, malah menemukan celah dalam kelemahan Jill untuk mengeluarkan kata-kata yang tajam dan menyakitkan. Mereka menggunakan kondisi Jill sebagai alat untuk memanipulasi Reno, mendorongnya untuk segera menikahi Kirana, gadis dari keluarga yang kaya raya, dengan harapan bahwa hubungan itu akan membawa solusi finansial untuk pengobatan Jill.
Reno, yang hatinya hancur melihat penderitaan Jill, merasa terjebak dalam dilema yang menyiksa. Di satu sisi, cintanya kepada Jill membuatnya ingin melakukan apa saja untuk membantunya mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan. Namun, di sisi lain, gagasan untuk menikahi Kirana hanya demi uang adalah sesuatu yang bertentangan dengan setiap serat keberadaannya. Setiap malam, Reno terjaga, merenungkan masa depan yang suram, mencari jalan keluar dari labirin emosi yang kian membingungkan ini.
Pagi itu, Jill berusaha melakukan yang terbaik untuk membantu Reno, meski dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Dengan hati-hati, ia menuangkan kopi hangat ke dalam cangkir, meraba meja dengan tangan yang gemetar untuk memastikan tidak ada yang tumpah. Namun, nasib berkata lain; secangkir kopi tergelincir dari genggamannya dan tumpah ke atas meja, merembes ke dokumen penting perusahaan yang tergeletak di sana.
Reno, yang sudah dilanda kecemasan karena situasi dengan Jill dan Kirana, melihat kejadian itu dan, dalam momen kelemahan, kata-kata yang tidak seharusnya terucap keluar dari mulutnya. “Jill, lihat apa yang telah kamu lakukan! Ini sangat penting bagi perusahaan!”
Jill, yang merasakan setiap kata itu seperti pisau yang menusuk, hanya bisa berdiri diam, merasakan air mata yang tidak bisa dilihatnya mulai mengalir. Laras dan Dila, yang menyaksikan semuanya, tidak melewatkan kesempatan untuk menambah kerumitan situasi.
Laras, dengan nada sinis, berkomentar, “Nah, lihatlah apa yang terjadi ketika kita terlalu bergantung pada orang yang tidak mampu.”
Dila, menambahkan dengan suara yang penuh dengan kepalsuan, “Mungkin ini adalah tanda bahwa kita harus membuat keputusan yang lebih… praktis.”
Reno, yang menyadari kesalahannya, merasa penyesalan yang mendalam. Ia mendekati Jill, mencoba memperbaiki situasi, “Jill, maafkan aku. Aku tidak bermaksud…”
Namun, kata-katanya terasa hampa di tengah kekacauan emosi yang telah tercipta, dan Jill, dengan hati yang hancur, hanya bisa berjalan pergi, meninggalkan Reno dalam keheningan yang pahit.
Dalam kekalutan yang mendalam, Reno berbalik menghadapi Laras dan Dila. Emosi yang telah terpendam meledak, dan dengan suara yang gemetar namun tegas, ia menyatakan, “Saya tidak akan menikah dengan Kirana. Tidak sekarang, tidak pernah.”
Laras, dengan mata yang berkilat licik, tiba-tiba terjatuh ke lantai, tangannya meremas dada, wajahnya memucat. “Aku… aku tidak bisa bernapas,” katanya dengan suara serak.
Dila, yang terkejut, berteriak, “Mama!”
Reno, yang panik, segera meraih teleponnya. “Saya akan memanggil dokter,” katanya, sambil menekan nomor darurat. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya apakah ini hanya tipu muslihat lain dari Laras atau kenyataan yang mengerikan yang harus dihadapi.
Ketegangan menggantung di udara saat dokter memeriksa Laras yang terbaring lemah. Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam, dokter akhirnya berbicara, “Laras mengalami serangan jantung ringan. Dia harus menghindari stres sebisa mungkin.”
Reno, yang telah menahan napasnya, menghela napas lega. Namun, ketika dokter meninggalkan ruangan, Laras mulai menangis, air matanya mengalir deras. “Reno,” katanya dengan suara yang bergetar, “Aku mungkin tidak punya banyak waktu lagi. Aku hanya ingin melihat cucuku sebelum aku pergi. Tolong, nikahi Kirana demi Jill.”
Reno merasa hatinya terbelah. Di satu sisi, ia ingin memenuhi keinginan terakhir ibunya, tetapi di sisi lain, ia tahu bahwa menikahi Kirana bukanlah jawaban untuk masalah mereka. Dengan suara yang penuh dengan konflik, ia berkata, “Ibu, aku tidak bisa membuat keputusan itu sekarang. Cinta tidak bisa dipaksakan, dan Jill masih menjadi prioritas utama saya.”
****
Dalam keheningan malam yang hanya ditemani oleh suara detik jam yang berirama, Reno duduk termenung, pikirannya terbelenggu oleh dilema yang semakin memburuk. Setiap hari, ia menyaksikan Jill berjuang dengan kebutaan yang baru, sering kali terjatuh atau tersandung, hatinya hancur melihat cinta hidupnya dalam kondisi seperti itu. Tekanan dari Laras dan Dila, yang tidak pernah berhenti, semakin menambah beban pikirannya.
Minggu telah berlalu, dan dengan setiap hari yang berlalu, Reno merasa semakin terpojok. Akhirnya, dengan berat hati, ia mengambil keputusan yang akan mengubah hidup mereka semua. Reno setuju untuk menerima tawaran Laras, tetapi ia menetapkan syaratnya sendiri: pernikahan dengan Kirana akan menjadi kontrak semata, tanpa ikatan emosional atau komitmen jangka panjang. Itu adalah langkah yang didorong oleh keputusasaan, sebuah upaya untuk mengamankan masa depan Jill, meskipun itu berarti mengorbankan kebahagiaannya sendiri.
Dengan langkah yang berat, Reno bersama Laras dan Sanjaya mendatangi rumah mewah Keluarga Kirana. Udara di dalam ruangan itu terasa kaku saat mereka duduk menghadapi Prambudi dan Retno, orang tua Kirana. Reno, dengan suara yang bergetar namun penuh tekad, menyampaikan persetujuannya.
“Saya mengerti keinginan Anda dan saya bersedia memenuhinya. Saya akan memberikan keturunan untuk Keluarga Kirana.”
Prambudi, dengan tatapan yang menilai, mengangguk perlahan. “Dan setelah anak itu lahir, kami mengharapkan Anda akan memenuhi janji Anda untuk menceraikan Kirana,” ujarnya dengan nada yang tegas.
“Itu adalah kesepakatan kita. Saya akan menceraikan Kirana setelah semua ini selesai.” Kata Reno, dengab tegas.
Retno, yang selama ini hanya mendengarkan, akhirnya berbicara, “Kami menghargai keputusan Anda dan kami akan memastikan Jill mendapatkan pengobatan yang dia butuhkan.”
Dengan perasaan yang campur aduk, Reno menandatangani dokumen kontrak pernikahan di atas materai, sebuah tanda persetujuan yang tidak bisa diubah lagi. Setiap goresan pena adalah pengingat akan jalan yang telah dipilih, sebuah kontrak yang akan mengikat masa depan mereka semua.
Setelah tinta di atas materai mengering, menandakan kesepakatan yang telah tercapai, suasana di ruangan itu terasa lebih berat. Reno, dengan pandangan yang tegang, berpaling kepada Laras.
Reno melirik Laras dan berbisik di telinga mamanya. “Ma, saya mohon, pernikahan ini harus tetap rahasia. Jill tidak perlu tahu.”
Laras, dengan senyum yang dipaksakan, mengangguk perlahan. “Tentu saja, Reno. Akan saya jaga rahasia ini.”
Namun, di balik senyumnya, ada kilatan yang tidak bisa diabaikan, sebuah niat yang lebih gelap tersembunyi dalam bayang-bayang pikirannya. Laras telah menyetujui permintaan Reno, tetapi dalam hati kecilnya, ia sudah merencanakan bagaimana menggunakan rahasia ini untuk keuntungan sendiri, mungkin sebagai senjata terakhir melawan Jill, yang tidak menyadari badai yang sedang berkumpul di cakrawala hidupnya.