"Mas minta maaf ya, Uni? Semua ini Mas lakukan karena terpaksa. Mas sama sekali tidak tau kalau kedua orang tua Mas telah mengatur pernikahan ini. Sekali lagi, maafkan Mas ya, Uni?"
Seruni termangu. Biantara Sadewa, kekasihnya sampai beberapa menit yang lalu, seperti menjatuhkan bom di hatinya. Dan mantan pacarnya itu sukses besar. Hatinya hancur porak poranda tak bersisa. Tadinya Seruni mengira kalau Bian tiba-tiba menyambangi rumahnya karena kangen. Tapi ternyata mantan kekasihnya itu datang untuk mengantar surat undangan.
Tidak tau, tapi menerima. Apa itu bisa disebut terpaksa?
"Tidak apa-apa, Mas. Mungkin kita memang tidak berjodoh."
Walau langit serasa runtuh di depan matanya, Seruni mencoba tersenyum tegar. Ya, apalagi yang bisa ia lakukan bukan? Berteriak atau menangis meraung-raung? Maaf-maaf saja. Saat ia dicampakkan pun, ia akan berusaha menerima dengan anggun. Sayang sekali kalau harga dirinya ia jadikan keset wellcome bukan?
"Kamu... kamu... tidak marah pada Mas? Tidak ingin berteriak atau memaki-maki Mas misalnya?"
Sosok gagah di hadapannya tampak bingung. Beribu tanya terbias dari kedua bola matanya.
"Apa dengan Uni marah dan memaki-maki Mas, pernikahan Mas dengan Nastiti bisa dibatalkan?" ucap Seruni datar. Kepala laki-laki gagah yang selama lima tahun ini memacarinya, menggeleng gelagapan. Kegelisahan terlihat dari gerak-geriknya yang tidak bisa diam.
"Tidak bisa, Uni. Mas tidak mungkin mempermalukan kedua orang tua, Mas."
Tapi mempermalukan pacar, mungkin saja kan, Mas?
"Nah, Mas sudah menjawab pertanyaan Mas sendiri. Jadi Uni tidak perlu menjawabnya lagi," Seruni beringsut dari kursi teras rumahnya. Terlalu lelah untuk mendengar pembelaan diri dari laki-laki yang lima tahun lalu mengaku mencintainya lebih dari apapun di dunia. Lidah memang tidak bertulang. Janji yang dulu begitu lantang dikumandangkan, ternyata begitu gampang dilupakan.
"Kenapa harus dengan Nastiti?" tanya Seruni penasaran. Nastiti adalah sahabat karibnya sejak berseragam merah putih. Mendengar pacar sendiri tiba-tiba akan dinikahkan saja, hatinya bagai diiris-iris. Apalagi saat tau bahwa calon istrinya adalah sahabat sendiri. Seruni seolah-olah merasa ada pisau tak kasat mata yang sengaja ditancapkan di punggungnya.
"Mas juga tidak tau, Uni. Tapi menurut ibu, bapak berhutang budi pada keluarga Nastiti. Terpilihnya bapak sebagai kepala desa bulan lalu, itu semua atas campur tangan Pak Hasto dan Bu Sari. Makanya Bapak ingin membalas budi dengan meminang Nastiti sebagai menantu. Hanya itu yang Mas tau," guman Bian lirih. Selama bercerita, Bian tidak sekalipun menatap matanya. Dan itu artinya Bian sedang berbohong. Lima tahun menjadi pacarnya, cukup membuat Seruni mengenali karakter Bian.
"Baiklah. Selamat menempuh hidup baru ya, Mas? Semoga Mas berbahagia dengan wanita pilihan Mas, oh iya, wanita pilihan orang tua Mas maksudnya," ralat Seruni pura-pura salah berbicara. Merahnya pipi Bian mengindikasikan sesuatu. Bian tau bahwa ia memang bermaksud menyindir. Mereka terlalu mengenal kepribadian satu sama lain.
"Uni terima ini undangannya ya, Mas? Uni masuk dulu." Seruni menggeser dingklik. Bermaksud masuk ke dalam rumah.
"Tunggu sebentar, Seruni!" Bian yang merasa belum selesai berbicara, menyambar pergelangan tangan Seruni.
"Ketahuilah Uni, walaupun minggu depan Mas akan menikahi Nastiti. Tapi di sini, di hati Mas ini, hanya kamu wanita yang paling Mas cintai. Percayalah, Uni," sergah Bian putus asa. Seruni tersenyum masygul mendengar kerancuan kalimat Bian.
"Apa, Mas? Uni adalah orang yang paling Mas cinta? Lihat Mas, cacing tanah saja sampai ingin tertawa mendengarnya!" sembur Seruni seraya menepis kasar tangan Bian. Ia tidak habis pikir dengan sikap Bian yang begitu kekanakan. Bian seperti anak kecil yang sibuk membela diri karena dianggap menelantarkan mainan lamanya, demi sebuah mainan baru. Menyedihkan.
"Mas, cinta itu sejatinya tidak menyakiti. Tidak menghianati apalagi membodohi. Benar kan, Mas? Tapi mengapa cinta Mas mengandung ketiga unsur itu? Cinta model apa itu namanya, Mas?" sindir Seruni getas. Entah mengapa mendengar pengakuan cinta Bian tadi, membuatnya muak alih-alih bersedih. Ternyata cuma segini mental laki-laki yang kemarin masih ia gadang-gadang akan menemaninya seumur hidup. Lemah sekali!
"Satu hal yang harus Mas ketahui. Sekarang, Uni tidak lagi sedih Mas tinggal menikah dengan Nastiti. Tidak sama sekali. Mas tau kenapa?" cecar Seruni lagi. Bian menggeleng. Ia tidak tau lagi harus bersikap bagaimana menghadapi amukan Seruni.
"Karena hari ini, Uni telah melihat siapa diri Mas yang sebenarnya. Mas ini laki-laki yang tidak punya pendirian. Tidak punya tujuan dan tidak punya daya juang. Untung saja bukan Uni yang akan menjadi istri, Mas. Untung saja."
Seruni memuntahkan semua rasa marah, kecewa dan sakitnya pada Bian untuk terakhir kalinya. Ia berjanji, setelah hari ini, ia tidak akan pernah membiarkan sebutir pun air matanya jatuh untuk menangisi laki-laki ini.
"Tapi, Uni--"
"Pulanglah, Mas. Ingat baik-baik kata Uni ini. Mulai hari ini Mas jangan pernah menemui Uni lagi tanpa ada Nastiti di samping Mas. Uni bukan penghianat yang suka menikam dari belakang seperti beberapa orang. Uni masuk dulu."
Tanpa menunggu jawaban Bian, Seruni melangkah tertatih-tatih ke arah pintu. Membuka dan menutupnya sekaligus di depan hidung Bian. Selesai sudah. Tidak ada gunanya lagi ia menyesali masa lalu. Apalagi jika masa lalunya selemah itu.
"Jadi cuma begini akhir penantian lima tahunmu?" Sindiran tajam ayah tirinya membuat Seruni menghela napas panjang. Di ruang tamunya yang sederhana, ibu dan ayah tirinya duduk bersisian. Tidak perlu orang pintar untuk menebak maksud ayah tirinya yang tengah duduk manis menunggunya di sini. Tujuannya sudah pasti untuk mengejek nasib sialnya.
Jangan sekarang. Demi Tuhan, saat ini ia begitu capek saling berbalas sindiran untuk hal yang tidak lagi penting.
"Lima tahun kamu menunggunya berkarir di ibukota. Dan saat ia sudah berhasil jadi orang, kamu dicampakkan begitu saja seperti seonggok sampah. Begini ini laki-laki yang kamu gadang-gadang paling kamu cinta dan mencintaimu? Hah, cinta tah* kucing!"
Sabar Uni, sabar. Bagaimana pun kalimat itu memang pernah keluar dari mulutmu. Terimalah dengan besar hati.
"Lima tahun yang lalu memang begitulah kenyataannya, Yah. Mengenai mengapa Mas Bian sekarang berpaling hati, itu di luar kuasa Uni. Uni bukan Tuhan yang Maha membolak-balikkan perasaan seseorang," jawab Seruni datar. Beginilah hubungannya dengan ayah tirinya. Seperti anjing dan kucing. Mereka berdua memang tidak pernah akur.
"Kamu ini, setiap dinasehati orang tua, menyahut saja!" Ayah tirinya menggebrak meja. Wajahnya memerah karena emosi yang mulai naik.
"Menasehati? Menurut Ayah, bagian mana dari kalimat Ayah tadi yang mengandung nasehat? Uni tidak mendengarnya sama sekali." Gebrakan di meja bertambah kencang. Dan seperti biasa, ibunya menatapnya dengan pandangan menghiba. Isyarat tanpa kata agar ia mengalah saja.
Selalu begini. Lagi dan lagi.
"Sudah, jangan banyak bicara lagi. Berhubung kamu sekarang tidak mempunyai hubungan apapun lagi dengan Bian, sebaiknya kamu terima saja lamaran Pak Nyoto. Pak Nyoto 'kan tidak kalah kaya dengan si Bian. Kebun tebunya saja berhektar-hektar.
Dan istri-istrinya juga berjejer-jejer di sepanjang jalan desa!
"Kamu akan hidup senang seperti Siska, Dewi, Ratih, Tanti dan yang lainnya. Teman-temanmu yang dulunya melarat, kini sudah hidup senang semua karena menjadi istri konglomerat."
"Pak Nyoto usianya bahkan lebih tua dari Ayah. Uni tidak sudi hidup seperti Siska, Dewi, Ratih, Tanti dan yang lainnya seperti kata Ayah. Dibalik kemewahan hidup mereka, tidak ada ketenangan hidup di dalamnya. Mereka semua saling fitnah, saling tikung dan bermuka dua hanya untuk menyenangkan seorang bandot tua yang sudah bau tanah. Uni tidak semenyedihkan itu!" desis Seruni geram.
Alangkah dangkalnya pemikiran orang-orang seperti ayah tirinya ini. Hanya karena ingin hidup enak, mereka merendahkan diri menjadi benalu, alih-alih berusaha meraih kesuksesan sendiri. Kemalasan memang dekat sekali dengan kebodohan.
"Jangan sok jual mahal kalau hidup kamu masih melarat, Uni! Sudah bagus Pak Nyoto mau melamar kamu yang cacat. Selain Pak Nyoto, apa ada orang yang mau melamar kamu lagi? Si Bian saja lebih memilih Nastiti yang normal dari pada kamu yang cacat!" amuk ayah tirinya. Kali ini bukan hanya wajah ayah tirinya saja yang merah. Urat-urat di lehernya pun terlihat bersembulan. Ayah tirinya benar-benar emosi kali ini.
"Kalau memang Ayah sangat mengagumi Pak Nyoto, kenapa tidak Ayah saja yang menikah dengannya."
Bunyi kursi yang jatuh terdengar seiring dengan pedasnya pipi kanannya. Seperti biasa, jika ayah tirinya tidak bisa membalas ucapannya, maka tangannya lah yang berbicara.
"Didik anak perempuanmu agar tau sopan santun, Bu. Ibu lihat sendiri 'kan, betapa kurang ajar sikapnya pada Ayah. Dasar, pengkor!"
Setelah menamparnya, kemarahan ayah tirinya kali ini dilampiaskan pada ibunya. Dan seperti biasa, ibunya pasti akan membela ayah tirinya, walau ayah tirinya ini sudah mengkata-katainya.
"Ayah ke rumah Pak Nyoto dulu, Bu. Kalau terus di sini, bisa-bisa darah tinggi Ayah kumat lagi." amuk ayah tirinya pedas.
"Ayah tidak mau tau, pokoknya Ibu harus menatar anak Ibu ini agar bisa berbakti pada orang tua. Dan salah satu caranya adalah dengan menerima lamaran Pak Nyoto secepatnya."
Setelah mengucapkan ancamannya, ayah tirinya keluar rumah dengan membanting pintu. Sejurus kemudian suara motor tuanya terdengar meninggalkan halaman rumah. Syukurlah, setidaknya ia bisa sedikit tenang sekarang.
"Kamu jangan kurang ajar begitu pada ayahmu, Nak."
"Begitu? Tapi kalau ayah yang kurang ajar pada Uni, boleh Bu?" tantang Uni sinis. Ia capek terus disalahkan dan tidak sedikit pun diberi keadilan. Budaya patriaki telah begitu melembaga di negeri ini. Tidak ada secuil pun keadilan bagi kaum perempuan. Mengenaskan.
"Lihat pipi Uni ini, Bu? Ayah menampar Uni. Apa Ibu tidak sakit hati darah daging Ibu disakiti orang?"
"Itu karena ucapan kamu juga kurang ajar, Nak. Bagaimana pun, dia kan ayahmu. Sudah seharusnya kamu menghargai dan menghormatinya. Maksud ayahmu itu--"
"Bukan. Dia bukan ayah Uni. Dia cuma suami Ibu yang kebetulan Uni panggil ayah. Ayah Uni yang sebenarnya sudah meninggal bertahun lalu. Titik."
Kalimat terakhirnya sukses membungkam omelan ibunya. Ya, apalagi yang bisa ibunya bantah kalau apa yang dikatakannya memang sebenar-benarnya kenyataan bukan?
Dengan langkah tertatih-tatih Seruni melanjutkan langkah ke dalam kamar. Air matanya terancam ambrol karena tidak kuasa menahan kesedihan. Hatinya sakit saat ayah tirinya memukulnya dan mengkata-katainya pengkor, tetapi ibunya malah membela ayah tirinya. Sebegitu takutnya kah ibunya kehilangan cinta seorang suami, sampai-sampai ia melupakan perasaan terluka anak kandungnya sendiri? Mungkin inilah contoh kalau seorang perempuan telah menghambakan kebahagiaannya pada manusia lain yang kebetulan ia sebut suami. Mereka jadi tidak tau lagi mana yang salah dan mana yang benar secara akal sehat. Yang mereka ikuti hanyalah ajaran masa lalu. Ajaran yang menyatakan bahwa seorang istri harus berbakti, tanpa kata tetapi kepada suami. Bahwasannya kedudukan seorang istri, berada pada posisi yang lebih rendah dari pada suami. Konsep feodal Jawa kuno di mana seorang istri wajib memperlakukan suami layaknya seorang dewa. Suami harus dipuji, ditakuti, dihormati tanpa kecuali. Omong kosong!
Getaran ponsel di saku, menghentikan lamunan Seruni. Ia kembali menarik napas panjang kala melihat nama Nastiti di layar ponsel.
Demi Tuhan. Drama apalagi ini?
"Ya, Ti. Ada apa?" Hening sejenak. Sepertinya Nastiti sedang mengumpulkan alibi untuk membela diri. Manusia memang beginilah adanya.
"Uni, aku tahu kalau kamu telah mengetahui semuanya. Mas Bian bilang, ia sudah mengantarkan undangan ke rumahmu."
Jeda kembali.
"Uni, aku cuma mau bilang kalau aku juga terpaksa menjalani pernikahan ini karena--"
"Karena terpaksa menuruti keinginan kedua orang tuamu 'kan?"
"Benar, Uni. Soalnya--"
"Sudahlah, Ti. Kamu tidak perlu menjelaskan apapun kepadaku. Toh sekarang Mas Bian bukan apa-apaku lagi. Selamat menempuh hidup baru ya, Ti? Semoga jodoh kalian berdua tetap jodoh sampai maut memisahkan. Oh, ya ngomong-ngomong kamu tidak dalam todongan senjata kan saat dipaksa kedua orang tuamu untuk menikah?"
Jeda lagi. Sepertinya Nastiti kaget saat mendengar sindiran frontalnya.
"Kalau memang kamu merasa berat sekali menjawabnya, tidak usah dijawab. Toh, kita berdua sudah sama-sama tau apa jawabannya? Aku tutup dulu teleponnya ya, Ti? Tidak ada gunanya juga membicarakan masalah yang tidak penting. Buang-buang pulsa saja." Seruni langsung mematikan ponsel. Ia capek hati karena harus terus bermain sandiwara sedari tadi.
Seruni meletakkan ponsel di atas meja kayu sederhana. Menyeret langkah mendekati ranjang tuanya. Merebahkan tubuh lelahnya setelah seharian bekerja di pabrik. Saat tidur-tidur ayam, ia mendengar suara ketukan pintu diiringi panggilan adik tirinya. Setelah ia menjawab masuk, kepala mungil Andini yang masih berusia delapan tahun, muncul di ambang pintu.
"Dini boleh masuk, Mbak?" tanya adiknya ragu-ragu.
"Boleh dong, Dini. Ayo, sini tidur-tiduran dengan, Mbak." Seruni mengembangkan pelukan. Adik kecilnya langsung berlari kan memeluknya erat. Wajah adik kecilnya begitu murung. Seperti ada sesuatu yang membebani hatinya.
"Lho, Dini kok murung? Ada apa? Putra nakal ya?" tebak Seruni. Anak tetangganya itu memang kerap menjahili Dini. Namanya juga anak-anak. Kepala mungil Dini menggeleng.
"Bukan. Dini sedih karena kata Putra dan Desi, Mas Bian sudah tidak sayang pada Mbak Uni lagi. Kata mereka Mas Bian sudah tidak sayang karena Mbak sekarang pengkor."
Astaghfirullahaladzim!
"Dini cuma mau bilang kalau Dini akan tetap mencintai Mbak, walau Mbak itu pengkor atau pun tidak. Mbak jangan sedih lagi ya?" Air mata Seruni membanjir tak kala Dini memeluk erat lehernya. Setelah seharian dikecewakan, dihina dan dihianati oleh orang-orang yang mengaku mencintainya. Dukungan tulus Dini menghangatkan hatinya yang telah patah arang. Dukungan kecil ini membuatnya lebih bersemangat menghadapi hidup.
"Terima kasih ya, Dini. Mbak tidak apa-apa kok, Dek. Mbak ini walau pengkor kan tetap strong. Mbaknya siapa dulu coba?" Seruni mencoba menghibur adik kecilnya.
"Mbaknya Dini dong. Hehehe." Tawa ceria adiknya memberi sedikit semangat di hati Seruni. Sembari memeluk tubuh mungil adiknya, ia memanjatkan sepenggal doa. Semoga saja di hari-hari ke depan, hatinya akan tetap ikhlas menerima cobaan, dan punggungnya tetap kokoh dalam menerima segala beban. Karena ia yakin, bahwa hidup bukan tentang mendapatkan semua yang ia inginkan. Akan tetapi tentang mensyukuri apa yang ia miliki, dan sabar menanti yang akan menghampiri. Aamiin.
Notes.
Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti.
Dalam domain keluarga, sosok yang disebut ayah memiliki otoritas terhadap wanita, anak-anak dan harta benda. Secara tersirat sistem ini melembagakan pemerintahan dan hak istimewa laki-laki serta menempatkan posisi wanita di bawah laki-laki.
Sejak Seruni menginjakkan kakinya di pabrik gula, kasak kusuk berkelompok sesama buruh terlihat di mana-mana. Dimulai dari bagian divisi penggilingan tebu, pemurnian, kristalisasi hingga penguapan, semua membentuk tim ghibah berkelompok. Setiap ia melintas, kumpulan pekerja di atas lima orang berbisik-bisik sembari meliriknya berkali-kali. Topik ghibah mereka sudah jelas ; bahwa ia telah dicampakkan Bian setelah lima tahun berpacaran. Tatapan kasihan dan sebagian lagi tatapan menyukuri membayangi punggungnya. Begitulah sifat manusia. Ada saja celah bagi mereka untuk mengurusi kehidupan manusia lainnya.
Seruni mendekati mesin penggiling tebu. Memeriksa cairan tebu manis yang telah digiling dan siap dimasukkan dalam boiler. Cairan yang sudah dipanaskan akan menjadi ekstraksi jus yang mengandung sekitar 50 % air, 15% gula dan serat residu atau bagasse. Tugasnya di pabrik ini adalah memeriksa jus ekstraksi sebelum dialirkan pada mesin penjernihan atau liming.
"Apa kabar kalau Bian akan menikah minggu depan itu benar, Uni?"
Suara bariton Damar terdengar dari balik punggungnya. Damar adalah teman akrab Bian dulu. Persahabatan mereka merenggang saat mereka berdua menyukai seorang gadis yang sama, yaitu dirinya. Damar juga bekerja di pabrik ini sebagai kepala bagian Tata Usaha Keuangan.
"Begitulah, Mas," sahut Seruni pendek. Ia pura-pura sibuk memperhatikan mesin penggiling. Ia enggan banyak berbicara dengan Damar. Selain saat ini masih dalam jam kerja, Damar juga telah memiliki seorang kekasih yang kebetulan bekerja di pabrik ini juga. Namanya Widuri. Dan bukan rahasia lagi kalau Widuri memusuhinya. Maklum saja kisah cinta segitiga antara Bian, Damar dan dirinya di masa lalu, juga diketahui oleh Widuri. Makanya Widuri selalu tidak tenang setiap melihat interaksi antara dirinya dan Damar. Walaupun hanya sebatas membicarakan masalah pekerjaan.
"Akhirnya apa yang Mas bilang dulu terbukti 'kan? Bian itu tidak sebaik yang ia tampilkan di permukaan." Ocehan Damar tidak Seruni pedulikan.
Kamu juga tidak, Mas. Orang baik itu tidak akan menjelek-jelekkan teman sendiri di belakang punggungnya.
"Kalau saja dulu kamu memilih Mas, mungkin saat ini kita sudah berbahagia dengan satu atau dua orang buah hati kita," pungkas Damar lagi. Seruni berdecih. Inilah sifat Damar yang paling tidak ia suka. Suka berandai-andai dan menyalahkan keadaan.
"Dan bisa juga saat Mas ini malah mengejar-ngejar janda, padahal satu atau dua buah hati kita sedang menunggu-nunggu kehadiran Mas di rumah," balas Seruni asal. Orang yang suka mengail di air keruh seperti Damar ini perlu sekali-sekali dikerasi.
"Kamu kok bicaranya seperti itu, Uni? Dari dulu kamu tidak pernah sekali pun berusaha menyenangkan hati Mas," keluh Damar sembari bersungut-sungut.
"Karena dari dulu pun Mas selalu suka mencari kesempatan di saat kesempitan. Dan itu adalah kebiasaan yang tidak baik, Mas. Mas jadi seperti menunggu-nunggu kesalahan orang lain hanya untuk memanjakan ego Mas. Bahwa Mas itu lebih baik dari orang tersebut," tandas Seruni lagi.
"Ketahuilah Mas, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini memang sudah digariskan oleh yang Maha Kuasa. Mengenai berpaling hatinya Mas Bian, mungkin itu juga bagian dari rencanaNya. Bukan tidak mungkin, setelah ini Tuhan akan mempertemukan Uni dengan seseorang yang lebih baik lagi. Uni percaya, Tuhan tidak bermain dadu. Semua yang terjadi pasti ada alasannya. Tugas Uni sebagai manusia adalah tetap bersyukur dan berikhtiar saja. Titik." Pungkas Seruni tegas.
"Baru saja ditinggal Mas Bian, kamu sudah sibuk menggoda pacar orang ya, Uni?"
Tanpa berpaling pun Seruni sudah tau siapa yang berbicara. Widuri, pacar Damar. Hubungan mereka berdua memang cenderung seperti seorang tahanan dan sipir penjara, daripada pasangan kekasih. Widuri tidak pernah membiarkan Damar sendirian terlalu lama, sementara Damar selalu mencari cara agar bisa lolos dari pengawasan Widuri. Betapa melelahkan hubungan mereka berdua bukan? Begitulah bila suatu hubungan dibina tanpa adanya unsur kepercayaan.
"Jangan suka menarik kesimpulan sendiri, Wid. Aku tidak pernah menggoda Mas Damar, baik itu dulu ataupun sekarang. Kamu juga tau itu kan?" sahut Seruni dingin.
"Ya. Tapi itu dulu. Sewaktu kamu masih berpacaran dengan Mas Bian dan mengabaikan Mas Damar. Tapi sekarang 'kan beda. Kamu sudah dicampakkan Mas Bian. Pasti kamu sekarang blingsatan mencari pengganti Bian. Ngaku kamu!" Widuri berkacak pinggang. Air mukanya memperlihatkan kebencian yang kentara. Beginilah sikap kaumnya jika sudah cemburu buta. Sudah cemburu, buta lagi. Makanya mereka tidak bisa lagi melihat kenyataan. Kata mata hati mereka sudah buta karena tertutup syak wasangka.
"Aku kasihan melihatmu seperti ini, Wid. Hidupmu pasti tidak tenang setiap kali ada pasangan yang bubar jalan. Wid... Wid... daripada kamu sibuk memusuhi perempuan-perempuan lain, bukankah lebih baik kalau kamu fokus pada kisah cintamu sendiri? Kamu akan kelelahan kalau harus terus menjegal perempuan-perempuan yang kamu anggap saingan. Ibarat kata, daripada harus menyingkirkan satu persatu batu di jalan, lebih baik kalau kamu memakai sepatu 'kan?" ujar Seruni seraya menjauhi Damar dan Widuri. Hidupnya sudah cukup sulit saat ini. Ia tidak mau menambahinya dengan menjadi wasit di antara perseteruan sepasang kekasih yang tidak pernah harmonis ini.
"Mau ke mana kamu, pengkor? Aku belum selesai berbicara!"
Teriakan Widuri hanya dianggap angin lalu oleh Seruni. Tidak ada gunanya meladeni manusia yang sedang hilang akal. Buang-buang tenaga saja.
"Kamu tuli ya, Uni? Kasihan sekali. Sudah pengkor, eh tuli lagi!" Teriakan Widuri memerahkan telinganya. Namun Seruni tidak bergeming. Meladeni orang gila hanya akan membuatnya ikut gila juga.
"Sudah Wid. Sudah! Malu." Kali ini Damarlah yang bersuara. Mungkin ia malu karena menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Oh, jadi Mas belain si pengkor itu? Kalau memang Mas suka sekali sama dia, ya sudah, kita putus saja!"
Hah, macam betul saja. Giliran benar-benar diputuskan, pasti Widuri akan mencari berbagai cara untuk mengelak.
"Baik. Mas juga sudah capek menghadapai segala kegilaan kamu. Mulai hari ini kita pu--"
"Mas kok begitu sih? Aku bersikap seperti ini karena aku mencintai kamu, Mas. Mas malah main minta putus saja. Mas tidak pernah menghargai perasaan cintaku sama sekali!"
Tangisan Widuri membuat Seruni memutar bola mata. Benarkan dugaannya? Seruni benar-benat gregetan mendengar ketidaksingkronan kata-kata Widuri. Yang minta putus siapa, yang dituduh memutuskan siapa.
Seruni mempercepat langkah semampunya. Bosan mendengar drama murahan sepasang kekasih labil padahal sudah bangkotan. Tapi akibatnya, kaki kanannya yang terluka karena kecelakaan dua tahun lalu terasa nyeri. Berjalan cepat membuat kaki kanannya bekerja lebih keras. Pinggul dan urat-urat kakinya mulai terasa nyeri. Tertatih-tatih Seruni menyambar satu kursi plastik di dekat mesin sentrifugasi. Setelah menghempaskan pinggul di sana, ia mengurut-urut pelan kakinya. Pertengkaran Widuri dan Damar samar-samar masih terdengar. Seruni memilih untuk menulikan telinganya.
"Kamu kenapa, Uni? Sakit lagi ya kakinya?" Mbak Endang dari bagian kristalisasi, menyapa. Kekhawatiran tersirat di kedua bola matanya.
"Nggak apa-apa kok, Mbak. Cuma sedikit nyeri saja karena Uni jalannya buru-buru. Ya Mbak tau sendiri kan kenapa?" sahut Seruni pendek. Pertengkaran Widuri dan Damar sayup-sayup masih terdengar seiring dengungan mesin sentrifugasi.
"Mereka berdua memang kayak anjing dan kucing, Uni. Tidak perlu terlalu kamu pikirkan. Widuri itu, dengan kambing yang diberi lipstick saja cemburu apalagi dengan kamu. Jangan dimasukkan ke dalam hati omongannya si Widuri ya?" Seruni mengangguk. Di antara sedikit orang-orang baik di pabrik, Mbak Endang adalah salah satunya. Mbak Endang tidak suka bergosip apalagi mengurusi orang. Apalagi saat ini Mbak Endang sedang hamil tua. Si Mbak selalu menjaga sikap dan tutur katanya. Takut menurun pada bayinya, katanya.
"Eh Mbak Endang kapan mengambil cuti? Bukannya kandungan si Mbak sudah memasuki bulan ke delapan ya?"
"Iya, Uni ingat saja hehehe. Bulan depan Mbak sudah cuti kok. Kata dokter kemarin, selama masih kuat tidak apa-apa sih bekerja. Asal jangan terlalu capek saja. Kalau sudah hamil tua malah disarankan untuk banyak bergerak agar saat persalinan nanti lancar jaya. Nah kalau yang masih hamil muda seperti Nastiti, baru bahaya. Soalnya--"
Nastiti hamil? Oh jadi ini sebabnya mereka tiba-tiba menikah?
"Eh, maksud Mbak begini. Kalau hamil muda itu 'kan kandungannya belum kuat--" Mbak Endang salah tingkah menyadari kalau ia telah salah berbicara.
"Seperti kandungannya Nastiti ya, Mbak?"
Terlanjur penasaran, Seruni langsung saja memotong kalimat Mbak Endang. Seruni tau kalau Mbak Endang keceplosan dan sedang berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Maaf ya, Uni. Mbak kelepasan bicara. Bukan maksud Mbak untuk menyindir keadaanmu saat ini. Maaf ya, Uni?" Endang serba salah dalam menanggapi pertanyaan Seruni. Seruni adalah type orang yang paling sulit ditebak hatinya. Saat ia senang, sedih atau marah sekali pun, air mukanya sama. Datar saja. Makanya ia jadi kesulitan harus bersikap bagaimana. Ia tidak tau apakah Seruni tersinggung, sedih atau bahkan marah karena ia menyinggung soal Nastiti.
"Tidak apa-apa, Mbak. Mbak 'kan tau kalau Uni bukanlah perempuan baperan. Uni hanya penasaran. Jujur, Mas Bian dan Nastiti mengatakan alasan yang sama, soal perjodohan orang tua. Uni hanya ingin mendengar versi lain dari Mbak saja. Supaya Uni tidak terlihat bodoh-bodoh amat di mata mereka."
Seruni merasa ia harus menjelaskan alasannya. Dengan begitu Mbak Endang jadi tidak ragu-ragu lagi untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
Endang menoleh ke kanan dan kiri. Memastikan kalau tidak ada telinga lain yang ikut mendengar pembicaraannya. Pembicaraan seperti ini sifatnya sensitif. Ada seorang penguping saja, satu kampung pasti akan mengetahuinya.
"Kemarin sewaktu Mbak kontrol kandungan ke PUSKESMAS, Mbak bertemu dengan Nastiti yang tengah berkonsultasi dengan dokter Kartika. Dokter Kartika memang terbiasa menerima pasien dua orang sekaligus kalau sedang ramai. Supaya semua pasien kebagian konsul. Nah kebetulan giliran Mbak itu berbarengan dengan Nastiti. Dari situ Mbak jadi tau kalau Nastiti sedang hamil tiga minggu. Begitulah yang Mbak tau, Uni," terang Endang dengan air muka prihatin. Mereka sama-sama sudah dewasa dan juga bukan orang bodoh. Sebab pernikahan Bian dan Nastiti sudah jelas. Nastiti hamil oleh Bian.
"Kamu jangan sedih ya, Uni? Mbak yakin, di atas semua kesakitanmu hari ini, pasti ada hikmahnya. Setidaknya kamu jadi tau karakter Bian yang sesungguhnya sebelum kamu terlanjur menjadi istrinya bukan?"
Endang mengelus pelan bahu Seruni. Mencoba memberi dukungan sebagai sesama perempuan. Seruni tersenyum pahit. Ia sudah mengikhlasnya semuanya kendati ada sakit yang lain di hatinya. Sakit karena penghianatan dua orang yang paling disayangi dan dipercayainya. Ia sadar, mulai hari ini sepertinya ia akan sangat sulit untuk mempercayai orang lagi. Perumpamaan kondisinya saat ini, sama seperti pisiknya. Ia seperti dipaksa harus berjalan dengan satu kaki. Memang masih bisa, tapi sulit.
Sisa hari itu dijalani Seruni dengan setengah hati. Hatinya nelangsa dan pikirannya bercabang ke mana-mana. Berbagai kata seandainya, kalau saja dan seharusnya, terus berputar-putar di benaknya. Ia menyesali pernikahan Bian dan Nastiti? Tidak sama sekali. Dua orang penghianat itu memang pantas disandingkan satu sama lain. Yang ia sesali adalah waktunya yang terbuang percuma untuk dua kisah tidak berguna lima tahun lamanya. Kisah cinta sekaligus kisah persahabatannya.
***
Waktu telah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Itu berarti satu jam lagi ia sudah bisa pulang ke rumah. Seruni berikut tiga orang rekannya bersiap-siap melakukan liming, saat ektrasi jus telah melalui tahap akhir. Selanjutnya jus hasil ekstraksi mereka panaskan terlebih dahulu, sebelum melakukan liming untuk mengoptimalkan proses penjernihan.
Beberapa rekan laki-laki mencampurkan kapur berupa kalsium hidroksida atau Ca(OH) ke dalam jus, dengan perbandingan yang sudah ditentukan pihak pabrik. Selanjutnya ekstraksi jus yang sudah diberi kapur dimasukkan ke dalam tangki pengendap gravitasi atau clarifier. Ekstraksi jus yang mengalir melalui mesin clarifier setelahnya tampak menjadi lebih jernih. Tugasnya hari itu selesai sudah. Tinggal bagian dari divisi evaporasi, kristalisasi, afinasi, karbonatasi, penghilangan warna, hingga pendidihan dan sisa recovery lah yang akan melakukan sisanya. Proses mengubah tebu menjadi gula pasir memang cukup panjang prosesnya.
Seruni menarik napas lega. Ia sudah bisa pulang sekarang. Kakinya begitu pegal karena terus berdiri seharian. Terkadang, saat tidak ada mandor yang mengawasi, ia mencuri-curi duduk sebentar. Mengistirahatkan kakinya yang tidak sempurna agar tidak terlalu lelah.
Seruni berjalan ke arah gudang tempat para pekerja wanita berganti pakaian. Di lepasnya penutup kepala, masker dan pakaian kerjanya dengan kaos putih dan rok katun sederhana bermotif bunga-bunga. Ia sudah tidak sabar ingin pulang ke rumah dan beristirahat. Musim giling seperti ini memang membuat pekerjaannya lebih berat dua kali lipat. Baru saja selesai berganti pakaian, ponselnya bergetar. Seruni mengerutkan dahi saat mengetahuinya bahwa ibunyalah yang menelepon. Tumben. Tidak biasanya ibunya menelepon di jam-jam seperti ini. Toh sebentar lagi juga ia akan pulang.
"Ya, Bu. Ada apa?"
"Ini Ayah, Uni. Kamu cepat pulang. Pak Nyoto sudah menunggumu di rumah. Ayah tidak mau tahu. Pokoknya kamu harus menerima--"
Seruni menutup panggilan sekaligus mematikan teleponnya. Tidak hanya di pabrik, di rumah pun ketenangan hidup sudah tidak lagi bisa dinikmatinya. Sepertinya tidak mungkin lagi ia kembali ke rumah. Satu ide tiba-tiba melintasi benaknya. Baiklah, jika di desa ini ia tidak bisa lagi mendapatkan ketenangan, mungkin di tempat lain bisa. Setelah menarik napas panjang tiga kali, Seruni menekan satu kontak.
"Hallo, Mbak Mayang. Mbak jadi pulang ke Jakarta sore ini? Oh sudah mau jalan ya? Tunggu Uni sebentar ya, Mbak? Paling lama dua puluh menit lagi Uni pasti sudah sampai di rumah Mbak. Nanti saja Uni ceritakan semuanya ya, Mbak?"
Setelah menutup ponsel, Seruni buru-buru menyusul Pak Leman yang jam kerjanya juga sudah berakhir. Pak Leman adalah tetangga Mayang. Seruni bermaksud menumpang mobil pick up Pak Leman agar bisa lebih cepat sampai ke rumah Mayang. Dan syukurnya Pak Leman tidak keberatan ditumpangi olehnya.
Dan sore itu menjadi saksi bahwa Seruni akan meninggalkan desa yang seumur hidup belum pernah ditinggalkannya menuju kota Jakarta. Ia akan mencoba membangun hidup baru di sana bersama Mayang, yang sudah lebih dulu hijrah bertahun-tahun yang lalu. Semoga saja kelak ia bisa sesukses Mbak Mayang dan membantu keuangan ibu dan adik semata wayangnya. Aamiin.
"Ni... Uni... bangun. Kita sudah sampai di Jakarta." Sayup-sayup Seruni mendengar seseorang memanggil-manggil namanya. Seruni memaksa membuka matanya yang masih terasa lengket karena mengantuk. Mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali. Mencoba menyesuaikan pandangan karena silau akan cahaya lampu mobil. Saat pandangannya sudah fokus, barulah Seruni memperhatikan dengan seksama di mana sekarang ia berada. Mobil yang ia dan Mayang tumpangi berhenti di depan sebuah kompleks perumahan kecil. Rumah-rumah mungil bermodel dan bercat sama berjejer rapi. Ada sekitar dua puluhan rumah di sana.
"Ini mess karyawan tempat Mbak bekerja, Uni. Ayo kita masuk," ajak Mayang ramah. Seruni mengangguk. Karena tidak membawa apa-apa, ia hanya lenggang kangkung saat keluar dari mobil. Sementara supir mengeluarkan satu tas travelling yang cukup besar milik Mayang.
"Atasan Mbak Mayang pasti baik sekali ya, Mbak?" guman Seruni sambil berjalan. Tak henti-hentinya ia mengagumi mess karyawati yang asri ini.
"Kenapa kamu bilang begitu, Uni?" Mayang melirik Seruni yang terus memandangi mess dengan pandangan kagum.
"Bukannya Uni bermaksud menghina ya, Mbak? Tapi untuk ukuran mess bagi para pelayan, mess ini rasanya terlalu mewah. Lah mess untuk para pimpinan di pabrik PT Tebu Manis Plantations saja tidak semewah ini?" pungkas Seruni lagi.
Mayang tersenyum masygul. Seorang pendatang dari kampung seperti Seruni ini saja bisa merasakan kejanggalan dalam fasilitas kerjanya. Tapi mau bagaimana lagi. Hidup di ibukota memang sekeras-kerasnya kehidupan. Tidak nekad artinya tidak makan.
Melihat Mayang hanya tersenyum tipis dan tidak menjawab pertanyaannya, Seruni pun tidak membahasnya lagi. Sepertinya ia sudah terlalu lancang menyuarakan pendapatnya padahal tidak diminta. Kini ia mengekori langkah Mayang tanpa banyak bertanya lagi. Langkah Mayang berhenti di depan pintu satu rumah mungil bertuliskan angka 4B. Saat pintu dibuka, lima kepala sontak berpaling ke arahnya dan Mayang. Sepertinya mereka semua adalah rekan-rekan kerja Mayang. Karena mereka semua menggunakan pakaian seragam. Hanya saja Seruni sedikit heran melihat seragam pelayan yang mereka kenakan. Setaunya pelayan itu berseragam putih dengan rompi dan rok span. Rambut juga digelung rapi, agar tidak ada helaian rambut yang jatuh saat menyajikan makanan.
Namun rekan-rekan Mbak Mayang ini malah mengenakan tank top putih super ketat dengan tulisan Astronomix Girls di bagian dada. Bawahannya adalah celana super pendek berwarna orange, serta apron pinggang hitam mungil yang menutup bawah perut mereka. Seruni terkesima. Apa memang seperti ini seragam pelayan-pelayan di Jakarta? Ia sudah pasti tidak berani mengenakannya.
"Masuk, Uni. Ini mess Mbak bersama dengan rekan-rekan kerja Mbak yang lain," ujar Mayang. Seruni tersenyum sopan seraya menghampiri rekan-rekan Mbak Mayang yang sepertinya sedang bersiap-siap bekerja. Tas-tas mungil sudah menggantung di bahu mereka masing-masing.
"Selamat malam, Mbak-Mbak semua. Nama saya Seruni. Panggil saja saya Uni. Saya teman sekampung Mbak Mayang." Seruni memperkenalkan diri dengan sopan. Ia kemudian duduk di sisi kiri sofa dan Mbak Mayang menyusul duduk di sampingnya.
"Teman sekampungnya Mayang toh? Pantes. Kenalin gue Vina. Itu Nella, Fika, Riri dan Eva." Vina memperkenalkan diri seraya menunjuk ke empat temannya sekaligus.
"By the way, lo nggak usah manggil kami-kami ini dengan sebutan Mbak keleus. Umur kita kayaknya juga sebaya," imbuh Vina.
"Apalagi gue," sela Fika. "Gue baru delapan belas tahun, Uni. Baru tamat SMU. Gue juga baru sebulan jadi waitrees di Astronomix," lanjut Fika lagi.
"Maaf, saya hanya berusaha bertutur sopan," sahut Seruni. Saat mendengar bahasa lo gue, Seruni seperti merasa ada di belahan dunia lain. Karena di kampungnya tidak ada yang berbicara seperti itu. Ia telah benar-benar jauh dari kampung rupanya. Ia ternyata seudik itu.
"Kalau saya boleh tau, rumah makan mana yang baru buka malam-malam begini ya?" tanya Seruni penasaran. Bukan apa-apa. Dia ini mata ayam. Artinya di atas jam sembilan malam, matanya sudah tidak bisa diajak kompromi. Kalau ia ikut bekerja sebagai pelayan bersama mereka, takutnya matanya tidak mau bekerjasama alias mengantuk. Mendengar pertanyaannya rekan-rekan Mayang yang lain saling berpandangan.
"Si Mayang nggak ngasih tau lo, apa kerjaan dia dan kami semua di sini?" Kali ini Nella yang bersuara. Nella juga melirik Mayang saat mengajukan pertanyaannya. Hanya saja Mayang tidak bergeming. Ia tetap diam seribu bahasa.
"Sudah, Mbak, eh Nella. Kata Mbak Mayang, ia bekerja sebagai pelayan. Iya kan, Mbak?" Seruni menolehkan kepala pada Mayang. Lagi-lagi Mayang hanya diam. Ia seolah-olah tidak mendengar pertanyaannya.
"Iya, kami semua memang pelayan. Tapi bukan pelayan rumah makan biasa, Uni. Kami semua ini pelayan club malam. Sebutan sopannya sih waitrees. Tugas kami bukan hanya mengenyangkan perut pelanggan saja. Tapi juga mengenyangkan bagian bawah perut pelanggan."
Astaghfirullahaladzim!
"Apa si Mayang--"
"Cukup, Nell! Sisanya biar gue aja yang ngejelasin," sergah Mayang. "Sebaiknya lo-lo semua cepetan ke club kalau nggak mau terlambat. Sebentar lagi kan udah pergantian shift." Sergahan Mayang hanya mendapat kedikan bahu dari Nella. Rekan yang lainnya hanya melirik acuh. Sepertinya mereka sudah terbiasa melihat keributan kecil seperti ini. Sepuluh menit kemudian ruang tamu telah sepi. Ke lima rekan-rekan kerja Mayang telah pergi.
"Baiklah, Uni. Sekarang saatnya Mbak akan menjelaskan tentang pekerjaan Mbak yang sesungguhnya." Mayang menyerongkan tubuhnya. Duduk menghadap sedekat mungkin dengan Seruni.
"Uni, seperti yang dikatakan Nella tadi, Mbak ini bekerja sebagai seorang waitress club malam. Selain itu Mbak juga seorang call girls alias wanita panggilan,"
Hening. Seruni kehilangan kata-kata. Ia terlalu terkejut untuk sekedar bertanya mengapa.
"Mbak dan teman-teman Mbak tadi bisa dipakai oleh para pengunjung club atau siapa pun juga, asal harganya cocok."
"Uni malah sulit percaya, Mbak. Karena penampilan Mbak tidak sedikit pun menunjukkan kalau Mbak adalah seorang maaf, pramuria." Seruni akhirnya bisa bersuara juga. Mayang tersenyum miris. Seruni ini masih polos dalam arti yang sebenarnya. Ia belum tau tentang kenyataan kerasnya hidup di luar sana.
"Inilah mengapa tadi Mbak sempat ragu membawa kamu ke sini. Kamu itu terlalu naif, Uni. Ketahuilah, tidak ada standard baku dalam mendefinisikan pakaian seorang pramuria. Pramuria itu berpakaian dalam rangka menarik pembeli. Jadi pakaiannya ya ditentukan oleh selera pembeli. Jangankan pakaian, cara kami bersikap pun sebenarnya ditentukan oleh pelanggan kami. Kami ini penjual jasa. Jasa kami adalah memuaskan pelanggan. Jadi, pakaian kami juga disesuaikan dengan selera pelanggan." Keterangan Mayang membuat Seruni termangu. Begitu banyak hal yang tidak ia tau.
"Besok malam Mbak akan dibooking oleh seorang pengusaha papan atas negeri ini. Nanti kamu lihat sendiri kalau Mbak akan menjelma menjadi seorang executive muda yang canggih. Dan besoknya lagi Mbak juga sudah dibooking untuk mengentertaint tamu-tamu club dari luar negeri. Jadi lusa kamu jangan kaget ya kalau Mbak akan berdandan menor dan hanya memakai pakaian dalam saja?" lanjut Mayang lagi. Seruni memandang Mayang dengan tatapan nanar. Kalau tidak mendengar dari mulut Mayang sendiri, ia pasti tidak akan percaya kalau kehidupan Mayang ternyata sebobrok ini.
"Mengapa Mbak tidak mau mencari pekerjaan yang halal? Mbak 'kan tau kalau menjual diri itu dosa besar?" Mayang tertawa tanpa merasa lucu.
"Uni... Uni... Di kota besar ini mencari pekerjaan haram saja susah, apalagi pekerjaan halal. Mbak pernah kok jadi kasir supermaket, pramuniaga di mall sampai jadi babu cuci gosok. Pokoknya uangnya halallah. Tapi uang segitu nggak cukup buat Mbak makan apalagi untuk dikirim ke kampung. Makanya Mbak memilih jalan pintas ini."
"Tapi kan--"
"Sudah Uni, Mbak capek. Kamu juga capek 'kan? Sebaiknya kita membersihkan diri dan beristirahat yang cukup malam ini. Karena besok pagi kamu sudah akan bekerja di restaurant Mexico kepunyaan pelanggan, Mbak. Jangan khawatir, kamu akan menjadi waitress sungguhan di sana. Mbak tidak mungkin menyeret kamu ke kehidupan Mbak yang penuh dosa. Kamu akan bekerja yang halal sesuai keinginmu. Ayo sekarang kita masuk ke kamar dulu. Mandi dan kemudian beristirahat." Dalam diam Seruni mengekori langkah Mayang menuju ke lantai dua. Ia tidak tau keputusannya mengikuti Mayang sampai ke ibukota ini salah atau benar. Yang ia tau hanyalah, ia harus bekerja keras agar bisa bertahan hidup di kota besar ini. Tapi dengan cara yang halal pastinya. Insya Allah.
***
Sudah tiga hari Seruni bekerja sebagai waitress di Basque Bar The Tapa*. Sebuah restaurant Spanyol milik pelanggan Mbak Mayang. Dan selama tiga hari ini juga ia bekerja keras. Menghapal menu-menu seraya melemaskan lidah agar bisa menyebutkan nama-nama menu dengan benar. Lidahnya nyaris terpelintir-pelintir saat harus menyebutkan kata pulpo basque style, spiced steak with cherry tomato salsa,
black rice paella hingga spanish tortilla dan lain-lain.
"Meja 14, chicken quesadilla,
Squid ink risotto dan caramel tea, done!" Suara deringan bell dan teriakan chef membuat Seruni menggegaskan langkah. Tamu-tamu di sore ini memang membeludak. Maklum saja, hari sabtu memang waktunya hang out dengan pasangan atau hanya sekedar makan-makan dengan teman-teman.
Demi menghemat waktu, Seruni mengangkat dua menu makanan dan satu minuman sekaligus dalam satu baki. Saat ia hampir sampai ke meja 14, seseorang menyenggol bakinya. Benturan pun tidak dapat dihindari. Seruni terjatuh bersama dengan baki yang diusungnya. Nyaringnya suara pinggan-pinggan yang pecah membuat kepala tamu-tamu menoleh kearahnya.
"Mata kamu ke mana, hah? Lain kali kalau jalan, mata kamu itu di pakai. Bukan cuma dijadikan hiasan. Mengerti?!" Seruni kaget saat menyadari kalau orang yang menabraknya ketumpahan makanan. Jas abu-abu mahal sang penabrak telah belepotan dengan bumbu chicken quesadilla dan
Squid ink risotto. Seruni pada dasarnya bukanlah orang yang suka ribut-ribut. Hanya saja si penabrak ini keterlaluan. Sudah ia yang menabrak, alih-alih meminta maaf, ini malah memaki-makinya.
"Setahu saya, kalau berjalan itu menggunakan kaki. Bukan mata. Mata itu gunanya untuk melihat. Dan saya sudah memaksimalkan mata saya yang sempurna ini untuk melihat, walaupun kaki saya tidak," sahut Seruni sambil menahan sakit. Posisi jatuhnya bersimpuh dengan kaki kanan tertekuk. Syaraf kaki kanannya yang pendek sebelah, seperti tertarik hingga ke pinggul. Nyerinya luar biasa. Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan.
Jadi yang harusnya memasang mata dengan benar itu, Anda!
Tapi mana mungkin ia berani menyuarakan isi batinnya. Setiap briefing pagi, managernya selalu menekankan kata tamu adalah raja. Titik. Seruni mengusap air mata dengan cepat. Sesegera itu pula ia mengumpulkan pinggan-pinggan yang pecah ke dalam baki. Saat hendak berdiri, kaki kanannya menolak bekerjasama. Seruni tidak bisa meluruskan kakinya.
Jangan memperlihatkan kelemahanmu, Uni. Ingat, jangan menjadikan ketidaksempurnaanmu sebagai sumber belas kasihan. Di mana harga dirimu, Uni?
Dengan sisa-sisa kekuatan terakhir, Seruni menyeret kaki kanannya. Berusaha berdiri sendiri tanpa meminta pertolongan. Hanya saja berdirinya tidak sempurna. Selain timpang, tubuhnya juga sedikit bergoyang-goyang karena tidak seimbang. Pandangan si penabrak semakin meremehkan saat melihat keadaannya yang sesungguhnya.
"Kamu masih saja mengelak setelah mengotori pakaian saya. Orang cacat seperti kamu ini sebaiknya di rumah saja. Bekerja hanya akan membuat orang lain celaka!" bentak si penabrak lagi.
"Kaki saya mungkin tidak sesempurna, Tuan. Tapi insya Allah masih bisa saya gunakan untuk mencari nafkah yang halal. Kalau hanya di rumah, bagaimana saya bi--bisa makan, Tuan?" tukas Seruni tergagap. Mata beningnya mulai berkaca-kaca saat sang penabrak menyinggung kecacatannya. Ia memang sensitif saat ketidaksempurnaannya dijadikan bahan ejekan.
Antonio Brata Kesuma, pewaris tunggal Brata Kesuma Group, seperti tersihir saat butiran bening mengalir di pipi pucat sang waitress cacat. Entah mengapa ada rasa tidak nyaman kala ia melihat sang waitress cacat namun sombong ini sampai menangis. Sebenarnya ia tidak berniat menghina waitrees cacat ini. Hanya saja kesombongannya membuatnya naik darah. Apa salahnya si waitrees cacat ini mengucap maaf bukan? Ini boro-boro mengucap maaf, ia malah dengan berani membalikkan semua kalimatnya. Pakai acara menyindir lagi. Bagaimana ia tidak naik darah bukan? Selama ini tidak pernah ada orang kebanyakan yang berani membantah kata-katanya. Ini si waitrees sombong bahkan berani menyerangnya di muka umum. Makanya ia sengaja mengeluarkan kalimat tidak manusiawi untuk membalas kekurangajarannya.
"Ada apa ini?" Antonio melihat Pak Sofyan, manager restaurant menghampiri. Ia mengenal Pak Sofyan dan hampir sebagian besar pegawai di resraurant ini. Miguel Santos, pemilik resraurant ini adalah teman baiknya.
"Seruni, kamu masih dalam masa trainning dan baru tiga hari bekerja. Tapi kamu sudah membuat kekacauan di sini. Kamu tau siapa Pak Antonio ini? Beliau adalah teman baik Senor Miguel." Pak Sofyan menggelengkan kepala setelah Seruni menceritakan kejadian yang sesungguhnya.
"Apa boleh buat, karena kamu telah membuat Pak Antonio kecewa, sebaiknya kamu segera angkat kaki dari sini. Kamu saya pecat!" Seruni terpaku. Ia membutuhkan pekerjaan ini. Ia tidak bisa menumpang terlalu lama di mess Mayang. Ia takut kalau boss Mayang tahu bahwa ada orang luar yang menumpang tinggal di mess staffnya. Makanya ia harus bekerja keras agar bisa mencari tempat kost. Kalau ia dipecat, bagaimana semua rencananya akan terwujud bukan? Seruni kebingungan. Satu-satunya cara adalah ia harus meminta maaf pada orang yang dipanggil Antonio ini.
"Tuan, jikalau menurut Tuan saya salah, maafkan saya. Saya bersedia untuk mencuci sampai bersih pakaian Tuan, karena kalau menggantinya dengan yang baru, saya tidak mampu. Tolong maafkan saya, Tuan," pinta Seruni dengan air mata yang menitik perlahan. Tangis tanpa suara Seruni membuat Antonio membuka jas dan melemparkannya tepat pada wajah Seruni.
"Ini. Cuci sebersih sedia kala dengan kedua tanganmu sendiri. Ingat kalau sampai rusak, kamu harus menggantinya dengan mungkin lima tahun gajimu!" Seruni buru-buru memindahkan jas Antonio yang menutupi wajahnya ke bahu. Ia takut kalau jas Antonio terkena noda lagi karena ia sedang memegang baki.
"Baik, Tuan," sahut Seruni dengan suara tertahan. Harga dirinya sudah berada di ujung tanduk sekarang. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia harus memohon-mohon pada seseorang. Dadanya sesak oleh kesedihan yang tak terlampiaskan.
"Oh ya, di mana saya bisa mengambil kembali jas saya setelah kamu cuci nanti? Berikan saya alamat rumahmu. Takutnya nanti jas saya malah kamu jual lagi."
"Saya tinggal di mess Astronomix Girls di jalan--"
"Apa? Jadi kamu ayam jadi-jadiannya Astronomix?"
"Hah ayam jadi-jadian? Maksud Bapak apa?" Seruni bingung. Masa ia disamakan dengan ayam? Apa maksud ucapan dari tuan kaya raya ini?