Bab 1

Rasanya tidak pernah ada kesedihan yang mampu membuat seorang Elice Danurdara menumpahkan air matanya sedemikian rupa seperti saat ini. Di mana bukan hanya tangisannya yang tampak memilukan, tapi isakan yang berulang kali mengguncang pundaknya juga turut membuktikan bahwa ia begitu terluka. Layaknya dunianya sudah hancur lebur tanpa ada sisa.

“Aku benar-benar mencintaimu, Elice. Sungguh. Aku benar-benar mencintaimu.”

Elice ingin mengenyahkan suara itu dari benaknya. Tapi, semakin banyak minuman yang ia teguk, maka semakin kuat pula suara itu menggema. Tidak mampu ia singkirkan. Betapa pun ia menginginkannya.

“Dasar kau bajingan, Ariel!”

Elice meremas gelas di tangannya dengan kuat. Benda bening yang terbuat kaca itu seolah menjelma menjadi sosok sumber rasa sakit hatinya. Ia butuh pelampiasan. Dan mungkin dalam waktu dekat, pelampiasan itu akan berubah bentuk menjadi kepingan pecahan beling.

“Ssst.”

Ternyata gelas kosong itu masih bernasib mujur. Ada satu tangan yang mendadak saja melepaskan benda itu dari genggaman tangan Elice. Layaknya seorang pahlawan yang sedang menyelamatkan korban tak berdosa dari pembantaian membabi buta.

Elice menoleh. Mengerjapkan mata dan menghentakkan kepalanya sekali. Berusaha untuk menerangkan sedikit penglihatannya yang sedikit kabur. Dampak dari minuman yang ia teguk dan berkat lampu berkelap-kelip yang menerangi tempat tersebut.

Ada seorang pria. Berpakaian rapi perpaduan antara jas hitam dan kemeja tanpa dasi. Dua kancing teratas di sana tampak terbuka. Sedikit menampilkan kulit bewarna perunggu yang terlihat berkilat lantaran setipis keringat yang membasahinya.

“Aku Garett. Dan kau?”

Tangan itu menyisihkan gelas Elice ke jarak yang aman dari jangkauannya. Lalu ia menawarkan jabat tangan. Tanda perkenalan yang justru disambut oleh dengkusan oleh Elice. Tangannya naik dan mengibas.

“Pergi dan tinggalkan aku sendiri. Aku tidak ada urusan denganmu.”

Pria yang mengaku bernama Garett itu tersenyum miring. Tampak tidak canggung sama sekali ketika jabat tangannya diabaikan. Bukannya diterima, yang ada justru sebaliknya. Ditolak. Dan itu terang-terangan terjadi di hadapan seorang bartender yang sedang meramu minumannya. Ia mendengkus geli. Memberikan isyarat pada Garett dan pria itu hanya mengangkat bahunya sekilas.

“Sepertinya kau sedang memiliki masalah yang cukup besar.”

Ekspresi geli di wajah sang bartender semakin menjadi-jadi. Ia menggeleng berulang kali dan memutuskan untuk angkat kaki dari sana. Tidak ingin melihat pertunjukan yang mungkin akan dimulai sebentar lagi.

“Masalah yang seharusnya tidak pernah datang untuk membuat seorang wanita secantikmu menangis seorang diri seperti ini.”

Elice memejamkan matanya. Sekarang sepertinya ia berhasil mengusir suara Ariel yang sejak tadi seolah terus menggema di benaknya. Tapi, nahas. Hilangnya suara Ariel justru digantikan oleh suara lainnya yang sok peduli dengan keadaannya sekarang.

“Kau tidak bisa pergi dari sini?” tanya Elice dengan nada sengit. “Apa kau tidak tau pintu keluar?”

Garett tertawa. Tidak merasa tersinggung sama sekali. Alih-alih ia justru melakukan sesuatu yang membuat Elice membelalakkan mata.

Garett menarik satu kursi bundar di sana. Duduk. Tepat di sebelah Elice. Dan melihat itu, Elice menggeram.

Elice tidak ingin menambah daftar kekacauannya hari itu. Cukup kejadian dengan Ariel yang membuat ia berantakan. Ia tidak ingin berurusan dengan orang asing yang gila malam itu.

Kursi yang Elice duduki berputar. Cukup memberikan sinyal bahwa dirinya akan segera pergi dari sana. Tapi, Garett tidak membiarkan Elice untuk meninggalkan dirinya.

Elice mendapati kursi yang ia duduki kembali berputar ke posisi semula. Ia melihatnya. Ada tangan Garett yang melakukan hal tersebut.

“Kau.”

Mata Elice sekarang bukan lagi membesar. Alih-alih justru melotot. Dan seharusnya itu sudah lebih dari cukup untuk memberikan isyarat bahwa ia tidak suka dengan apa yang telah Garett lakukan.

Garett menyeringai. Ia menunjukkan jam di tangannya. “Masih jam sebelas, Nona. Masih terlalu pagi untuk pulang sekarang.”

“Apa pedulimu? Bahkan kalaupun aku memutuskan untuk pulang jam tiga pagi, kau tidak ada hak untuk melarangku.”

Seringai di wajah Garett semakin menjadi-jadi. Matanya fokus pada berkas merona bewarna kemerahan yang timbul di pipi Elice. Entah itu karena pengaruh minuman atau mungkin karena pengaruh marah padanya. Tapi, Garett tidak peduli apa penyebabnya. Yang ia pedulikan hanya satu. Warna yang terkesan alamiah itu membuat ia betah memandang wajah Elice berlama-lama. Tampak menarik.

“Aku memang tidak ada hak untuk melarangmu, Nona,” ujar Garett seraya memajukan sedikit tubuhnya. Mengikis jarak di antara mereka berdua dan ia memanfaatkan fakta itu untuk menatap lekat pada kedua bola mata Elice. “Tapi, sejujurnya saja. Aku tidak tega melihat wanita sepertimu harus menangis seorang diri di tempat seperti ini.”

Lagi-lagi, Elice mendengkus.

“Bahkan lebih dari itu. Tidak seharusnya seorang wanita sepertimu menangis.”

Mendengar hal itu, mata Elice spontan berkedip sekali. Lalu satu senyum muncul di bibirnya. Membentuk ekspresi yang membuat Garett mengerutkan dahi. Lantaran senyum itu tampak aneh di matanya.

“Kalau kau ingin merayu wanita,” ujar Elice kemudian. “Carilah wanita lain, Tuan. Aku sudah muak mendengar kata-kata manis dari kaum pejantan seperti kalian.”

Garett tak mampu menahan kesiap takjubnya. Ia terbahak dan tampak tidak tersinggung sama sekali.

“Hahahahaha.”

Tawa yang menyebalkan bagi Elice. Dan ia tidak berencana untuk mendengarkan tawa itu di sepanjang malamnya. Ia akan pergi dari sana. Sebelum emosi di dalam dadanya beranakpinak dan tak mampu ia kendalikan lagi. Siapa yang akan menjamin kalau Elice tidak tersulut untuk memecahkan gelas kosong miliknya tadi di kepala pria itu?

Hanya saja, untuk kedua kalinya, keinginan Elice untuk pergi dari sana harus gagal. Kali ini bukan karena Garett memutar kembali kursi yang ia duduki. Alih-alih lebih dari itu. Sekarang dengan terang-terangan Garett menahan satu tangan Elice.

Elice melotot. Melihat bagaimana dengan beraninya Garett memegang pergelangan tangannya. Ia berusaha menarik lepas tangannya, tapi Garett justru membawanya untuk semakin mendekat padanya.

Garett menarik tangan Elice. Dan memanfaatkan roda-roda di kaki kursi, Elice meluncur tak berdaya. Ke arah Garett yang sudah menunggunya.

Elice memejamkan matanya spontan. Saat mendapati bagaimana posisi mereka yang kala itu amat dekat membuat belaian hangat napas Garett menyentuh kulit wajahnya. Dan ketika ia membuka mata, Garett tersenyum padanya.

“Aku bukannya ingin merayu dirimu, Nona. Tapi ....”

Garett tampak menarik napas dalam-dalam, matanya bergerak. Mengamati keadaan Elice yang terkesan berantakan. Walau ia terlihat cantik dalam balutan gaun selutut bewarna hitam, nyatanya ada kejanggalan yang membuat mata Garett seolah gatal setiap melihat.

“Aku hanya ingin tau. Mengapa seorang wanita sepertimu bisa menangis seperti ini seorang diri? Ehm ... kau seharusnya menikmati hidup. Bukan malah menangisinya.”

Untuk terakhir kalinya, Elice mencoba untuk menarik lepas tangannya dari genggaman tangan Garett. Tapi, hasilnya nihil. Tetap sama saja. Garett benar-benar memastikan bahwa Elice tidak akan pergi dari sana. Setidaknya sampai ia menjawab pertanyaan pria itu.

“Kau ingin tau alasan mengapa aku menangis seperti ini?” tanya Elice mengulang pertanyaan yang ia dapatkan. “Kau ingin tau kenapa aku tampak menyedihkan seperti ini?”

Samar, Garett mengangguk.

“Jawabannya sudah aku katakan.”

Garett sedikit mengerutkan dahinya. Mungkin berusaha mengingat. Tapi, ia tak yakin.

“Jawabannya adalah ...” Elice menatap Garett lekat. “... kaum pejantan seperti kalian.”

“Ingin menceritakannya?”

“Dengan orang asing yang gila sepertimu?”

Pertanyaan Elice membuat Garett terkekeh.

“Terima kasih. Tapi, tidak,” geleng Elice. “Aku masih punya banyak hal lainnya yang lebih waras untuk dilakukan ketimbang membicarakan urusan pribadiku pada orang asing sepertimu.”

“Orang asing ini tidak akan membuatmu rugi apa pun.”

Elice tertegun mendengar perkataan Garett. Terutama ketika dilihatnya ekspresi wajah itu. Yang tampak santai dan tanpa beban sama sekali. Dan ia tersenyum. Membuat kesan menarik seketika timbul di wajahnya.

“Kau sedih. Kau butuh pelampiasan. Dan kebetulan ... aku sedang kosong,” kata Garett ringan. “Aku punya beberapa jam ke depan untuk mendengarkan semua kegundahanmu. Tawaran yang menarik bukan?”

Dramatis, Elice menarik napas dalam-dalam. Dengan matanya yang kemudian menatap pada kelap-kelip lampu yang menerangi tempat itu. Ia sepertinya butuh oksigen murni untuk bisa bernapas dengan lancar. Agar pikirannya bisa tetap jernih.

“Dan dibandingkan dengan orang yang kau kenal, ehm ... terutama dengan orang yang dekat denganmu, berbicara dengan orang asing justru memberikanmu keleluasan. Tak ada penghakiman, tak ada pemvonisan. Yang ada hanya satu. Mutlak mendengarkan.”

Elice mengerutkan dahinya. Sekarang ia bertanya-tanya. Apa ia sudah terlalu banyak minum malam itu? Sehingga entah mengapa perkataan orang asing di depannya itu terkesan masuk akal?

Sementara Garett, ketika ia mendapati Elice yang terdiam, ia tau. Bahwa perkataannya sedikit banyak sudah mempengaruhi Elice. Sesuatu yang membuat ia semakin percaya diri. Dan kembali melanjutkan perkataannya.

“Dan aku bisa pastikan bahwa aku adalah pendengar yang baik.”

Diam sejenak, tidak langsung menerima tawaran yang datang padanya, Elice justru memanfaatkan beberapa detik waktunya untuk mengamati Garett. Pria itu memberikan kesan bahwa ia adalah sosok yang santai. Dan karena itulah mengapa Elice yakin akan sesuatu. Bahwa Garett adalah pria yang termasuk ke dalam golongan buaya darat. Karena sepertinya itu adalah ketetapan alam. Pria buaya darat memiliki bakat bersosialiasasi yang bagus. Termasuk di dalamnya bila itu menyangkut keahlian menyapa orang asing tanpa ada rasa canggung sedikit pun.

“Katakan padaku, Tuan,” kata Elice pada akhirnya. “Apa ini cara yang biasa kau lakukan untuk menggoda wanita di klub secara acak?”

“Hahahahaha.”

Garett tertawa. Terbahak-bahak hingga pundaknya benar-benar berguncang karenanya. Bahkan lebih dari itu, matanya yang gelap lantas tampak basah.

“Aku tidak pernah menggoda wanita di klub secara acak, Nona,” geleng Garett. “Kau bisa bertanya pada semua orang di sini. Aku selalu menghabiskan waktunya di sini dan aku yakin tidak ada seorang pun yang tidak mengenalku. Dan aku yakin, tidak ada satu pun dari mereka yang pernah melihatku menggoda wanita seperti aku yang saat ini sedang berbicara denganmu.” Ia tersenyum. “Itu pun kalau kau menganggap perkataanku sebagai bentuk godaan.”

Wajah Elice terasa panas. Ia jelas bisa menangkap kesan sindiran yang samar dilayangkan oleh Garett. Sesuatu yang mau tak mau membuat Elice merasa malu juga.

Oh, Tuhan! Ini bukan berarti Elice yang merasa terlalu percaya diri sehingga menganggap Garett sedang menggodanya. Tapi, apa ada hal lain yang bisa dipikirkan seorang wanita seperti Elice ketika mendapati pria asing mendatanginya dan lantas mengajaknya berbincang-bincang? Tentu saja tidak ada.

“Kalau ini bukan bentuk godaan ...” Elice menatap Garett. “... lantas mengapa?”

Tatapan Elice dibalas sepenuhnya oleh Garett. Hingga untuk beberapa detik, hanya ada kebisuan di antara mereka. Seolah suara musik yang melantun di sana tidak berhasil menjamah indra pendengaran keduanya.

Kala itu, sebenarnya bukan hanya Elice yang mempertanyakan hal tersebut. Alih-alih, Garett pun demikian. Mengapa? Mengapa ia harus meninggalkan tempatnya dan lantas menghampiri seorang wanita asing yang tengah menangis? Apa ia sedang kurang kerjaan? Atau ... apa?

Dan sekarang, saat Garett menatap sisa air mata di pipi Elice, ia pun menyadari satu hal. Alasan mengapa pada akhirnya ia masih memegang pergelangan tangan Elice ketika wanita itu tidak lagi menunjukkan tanda-tanda akan pergi dari sana. Itu karena ....

“Aku penasaran. Sehebat apa pria yang bisa membuat seorang wanita menangis seperti dirimu saat ini.”

*

bersambung ....

Bab 2

Ketika Elice mendengarkan perkataan Garett, ia sontak tertegun. Matanya membesar dengan sorot yang meredup. Dan mulutnya sedikit membuka seolah ingin bicara padahal tak ada sepatah kata pun yang ia ucap.

“Aku penasaran. Sehebat apa pria yang bisa membuat seorang wanita menangis seperti dirimu saat ini.”

Garett menunggu Elice akan merespon perkataannya. Tapi, pada akhirnya wanita itu hanya memberikan satu embusan napas panjangnya. Matanya berkedip sekali. Lalu membawa posisi tubuhnya untuk lurus menghadap ke depan. Melihat bartender yang sedari tadi sibuk bekerja dengan sepasang tangannya yang lincah itu.

“Tidak ingin menjawab?”

Garett sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mundur dari rasa ingin tau yang sudah bersarang di benaknya. Ia penasaran. Hingga tanpa merasa segan sedikit pun, pria itu membawa satu sikunya untuk mendarat di atas meja bar. Dalam posisi itu, ia bisa mengamati garis mancung hidung Elice dari samping. Tampak begitu sempurna. Tidak terlalu berlebihan dan memberikan kesan yang membuat mata tak puas untuk memandangnya hanya dalam satu kedipan saja.

Kala itu Elice menarik napas dalam-dalam. Sempat terbersit di benaknya untuk kembali mengangkat tangan. Memesan minuman selanjutnya. Tapi, entah mengapa tidak ia lakukan. Seperti dirinya sudah merasa jenuh. Dan itu membuat ia sempat bertanya pada dirinya sendiri. Mungkin yang ia butuhkan bukan minuman. Alih-alih sepasang telinga yang bisa mendengarkan semua luapan di dalam dadanya.

“Dia bukan pria yang hebat.”

Pada akhirnya satu kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Elice. Yang mendapat respon berupa satu kerjapan mata Garett. Pria itu diam. Menunggu kelanjutan perkataan yang akan ia dengarkan selanjutnya.

“Sama sekali bukan pria setipe pangeran di cerita dongeng anak-anak,” lanjut Elice seraya menggeleng sekali. “Sama sekali bukan.”

Mendengar hal itu, Garett mengangguk sekali. Tapi, tetap saja ia tidak mengomentarinya. Layaknya ia yang benar-benar ingin membuktikan pada Elice bahwa perkataannya tadi adalah satu kebenaran. Yaitu, ia adalah pendengar yang baik.

“Dia cuma pria yang kebetulan lahir dari keluarga terpandang, kaya raya, dan katanya menjunjung nilai-nilai norma. Tapi, yang ternyata adalah justru dia sendiri yang tidak mengenal apa itu norma.”

Mata Garett berkilat ketika mendengar perkataan Elice kali ini. Jelas, ia bisa merasakan ada emosi yang menyertai kata-kata yang diucapkan wanita itu. Sesuatu yang membuat ia terpaksa menarik napas dan menahan sekumpulan udara itu di dadanya. Alih-alih menuruti kehendaknya untuk langsung mencerna lawan bicaranya itu dengan pertanyaan: mengapa bisa?

“Dia ....”

Elice memejamkan matanya. Ketika ia nyaris bicara lebih lanjut, sekelumit akal sehatnya mencegah. Hingga membuat ia tanpa sadar mengepalkan tangannya dengan kuat. Membuat buku-bukunya memucat. Layaknya tak ada lagi darah yang mengalir di sana.

Hal tersebut tidak luput dari sepasang mata Garett. Ia langsung meraih tangan Elice. Mengurai kepalan itu satu persatu. Dengan tindakan yang lembut, tapi nyatanya ampuh untuk mengalahkan kuatnya jari-jari Elice.

“Ingat bukan?” tanya Garett kemudian. “Aku hanya pria asing. Pria asing yang bahkan tidak tau siapa namamu. Jadi ... apa yang membuatmu ragu?”

Benar. Yang dikatakan oleh Garett memang benar. Garett tidak mengenal Elice. Bahkan nama Elice pun ia tidak tau.

“Dia benar-benar menghancurkan hidupku hingga berkeping-keping. Tidak tersisa. Tidak ada lagi yang tersisa.”

Tidak melepaskan tangan Elice, ternyata Garett justru menggenggam jemari lentik itu. Merasakan kehalusan di sana. Dan kemudian barulah ia melepaskannya. Memberikan kesempatan bagi Elice untuk bisa mengusap wajahnya dengan asal.

“Katakan padaku,” kata Elice seraya berpaling pada Garett. “Apa kaum kalian selalu terlahir tanpa hati? Terlahir tanpa otak yang bisa mengingat semua janji? Yang bahkan semua kata-kata manis itu kalian ucapkan dengan penuh kesadaran diri.”

Garett tersenyum seraya membuang napasnya. Memilih untuk tidak mengumbar gelaknya di saat yang tidak tepat, pria itu hanya menggeleng sekali. Lalu mengusap ujung dagunya yang sedikit terasa kasar. Ia lupa bercukur hari itu.

“Sejujurnya ... kaum kami terlahir dengan hati. Kami pun memiliki otak untuk mengingat. Tapi, masalahnya ... terkadang kami membuang nurani kami.”

Elice menatap Garett. Mungkin tidak percaya bahwa akan ada seorang pria yang mengatakan hal segamblang itu pada dirinya. Bukankah itu sedikit menyenggol ego kaum Adam?

Senyum Garett menyungging. “Tidak perlu menatapku kagum seperti itu. Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Bahwa kami, kaum pejantan ini, memiliki kecenderungan ego yang tinggi. Yang terkadang justru merasa superior dengan membuat makhluk lainnya menderita. Seolah itu adalah validasi untuk membuktikan bahwa kami adalah makhluk yang berkuasa.”

“Tidak bisa dipercaya.”

Garett terkekeh samar. Dengan ujung jari telunjuknya, ia menggaruk pelipisnya. Ada sedikit rasa gatal yang timbul saat ia melihat ekspresi tak percaya Elice.

“Aku juga terkadang tidak percaya hal itu. Tapi, memang itulah yang terjadi. Ada beberapa orang pria yang memiliki kesenangan tersendiri ketika ia berhasil menyakiti seorang wanita. Ehm ... dan sepertinya jenis pria inilah yang kau temui.”

“Kau mengatakannya seolah di sini adalah kesialanku saja. Seperti kalau saja aku bertemu dengan pria lain, aku tidak akan seperti ini.”

Garett tampak menimbang perkataan Elice. Dan lalu ia mengangguk tanpa ada keraguan sama sekali.

“Benar. Mungkin memang seperti itu adanya.”

“Aku jadi ingin menyalahkan Tuhan ketimbang menyalahkan Ariel saat ini.”

Ada satu informasi yang membuat Garett mengerutkan dahinya. “Nama pria itu Ariel?”

Tak menampik, Elice mengangguk. Lagipula tak ada gunanya juga bagi Elice untuk menyembunyikan fakta yang satu itu.

“Namanya Ariel Sakya Hartigan. Ehm ... kau pasti tidak mengenalnya. Tapi, dia adalah seorang pria yang terlahir dari keluarga kaya yang seharusnya aku hindari dari dulu.”

Garett mengerutkan dahinya. Tampak tidak yakin sepenuhnya dengan perkataan Elice. Tapi, ia diam saja. Tidak menginterupsi perkataan Elice ketika wanita itu lanjut bicara.

“Aku mengenalnya saat penerimaan mahasiswa baru. Ehm ... seharusnya aku mendengarkan kata-kata Mama ketika menyuruhku untuk memilih manajemen bisnis ketimbang hukum. Kalau aku menuruti perkataannya, aku tidak akan sampai di hari ini.”

Kerutan di dahi Garett hilang seketika. Tergantikan oleh senyum geli yang tidak mampu ia tahan.

“Perkataanmu mengingatkanku dengan nasihat ibuku,” timpal Garett. “Dia mengatakan bahwa omongan orang tua itu adalah doa.”

Elice melihat Garett tak percaya. “Benar-benar tidak masuk akal bukan?” tanyanya seraya menggeleng sekali. “Karena aku yakin. Bila aku menuruti perkataan Mama delapan tahun yang lalu, aku tidak akan hancur seperti ini.”

“Tapi, tak ada gunanya menyesali itu. Bagaimanapun juga aku yakin selama delapan tahun ini tidak hanya keburukan yang terjadi di hidupmu.”

“Mungkin ya. Mungkin juga tidak.”

Garett memutuskan untuk tidak mendebat hal itu. Tidak ingin membeberkan fakta-fakta yang bisa saja menjadi indikasi bahwa perkataannya benar. Bahwa selama delapan tahun bukan hanya keburukan yang terjadi pada wanita itu. Ia yakin. Walau ia tidak tau, tapi ia yakin.

“Tapi, kalaupun memang selama delapan tahun ini tidak hanya keburukan yang aku dapatkanya, sepertinya itu tidak akan sebanding dengan apa yang akhirnya aku alami. Semua kebahagiaan yang pernah aku rasakan, sudah hilang. Lenyap tanpa ada sisa.”

“Seburuk itu?”

Elice membuang napas panjang. Lalu berpaling. Melihat pada Garett dengan sorot hampa. Ia tampak tersenyum. Tapi, senyum itu tanpa ada rasa.

Sekali, Elice mengangguk. Dengan satu anggapan di benaknya. Bahwa yang ada di hadapannya tak lebih dari seorang pria asing. Pria asing yang tidak akan pernah ia temui lagi. Dan pada satu titik, Elice menyadarinya. Bahwa di saat ini yang ia butuhkan hanya satu. Tempat yang bisa menjadi pelampiasan akan luapan rasa sakit, marah, dan kecewa yang nyaris membuat ia gila.

“Seburuk itu,” jawab Elice getir. “Hingga terkadang membuat aku ingin mengakhiri nyawaku saja.”

Wajah Garett sontak berubah. Tak ada lagi raut geli di sana. Langsung menghilang ketika ia mendengar kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir berlipstik merah itu. Amat lancar. Seperti tidak ada beban atau pertimbangan sama sekali dari si empunya.

“Kau?”

Elice menggigit bibir bawahnya. Wajahnya sontak menunduk dan melihat jari-jari tangannya. Hanya pengalihan. Berusaha menyembunyikan matanya yang sontak memanas lagi.

“Aku benar-benar sudah tidak ada harganya lagi. Aku sudah menjadi wanita yang tidak berharga sama sekali.”

Walau tidak yakin, tapi sepertinya Garett bisa menerka apa sumber masalah Elice. Tidak akan ada wanita yang seputus asa ini bila itu tidak berkaitan dengan pria dan ... kehormatannya.

“Dia mengatakan padaku kalau dia mencintaiku. Aku percaya itu. Dan entah mengapa, setelah bertahun-tahun lamanya, aku masih benar-benar merasakan itu.”

Elice memejamkan mata. Berusaha untuk mengenyahkan ingatan yang lantas langsung membayang di benaknya. Awal mula ia bertemu dengan Ariel. Hingga mereka jatuh cinta dan menjalin hubungan yang nyaris membuat semua wanita iri padanya.

Hingga kemudian hubungan asmara itu makin lama makin dalam. Dan bukan hal yang aneh bila pada akhirnya Elice benar-benar menyerahkan hidupnya pada Ariel. Bukan hanya hati dan cinta, alih-alih juga seluruh dirinya.

“Aku hamil.”

Garett menahan napas. Tebakannya tidak melesat. Tepat sasaran malah.

“Lantas? Dia tidak ingin bertanggungjawab?”

“Hahahahaha.”

Tawa samar meluncur dari tenggorokan Elice. Wajahnya terangkat. Lalu melihat pada Garett dengan mata yang berkaca-kaca. Senyum di sana tampak menyedihkan.

“Lebih parah dari itu,” jawab Elice seraya menarik napas dalam-dalam. “Dia memaksaku untuk menggugurkan bayi kami. Padahal seminggu sebelumnya ia berjanji akan menikahiku.”

Garett tidak akan terkejut kalau saat ini Elice berencana untuk mengakhiri hidupnya. Sungguh. Ia tidak menduga bahwa hal itu yang menjadi penyebab mengapa seorang wanita secantik Elice menangis seorang diri di klub dengan ditemani oleh minuman beralkohol.

Mata Garett seketika membesar. “Kau minum.”

Elice mendengkus geli. Ia melihat pada Garett dengan tangan yang kemudian mendarat di atas perutnya. Lantas, gurat pedih itu menampakkan diri. Sesuatu yang tak pernah Garett lihat sebelumnya.

Elice menggeleng sekali. “Dia sudah tidak ada,” lirihnya pelan. “Dia sudah pergi. Aku tidak bisa mempertahankannya.”

Ada cekungan nyata di leher Elice ketika wanita itu berusaha untuk menahan isakannya. Wajah cantik itu tampak mengeras dalam desakan membendung tangisnya.

“Aku pikir aku bisa kuat. Aku bisa mempertahankannya. Tapi, semua kenyataan yang ada membuat aku terlalu stres dan pada akhirnya ....”

Garett meraih tangan Elice. Menggenggam jemarinya. Lalu membiarkan Elice untuk mengambil alih hal tersebut. Dengan senang hati menyilakan wanita itu untuk meremasnya dengan kuat.

“Tapi, kau tau apa yang paling membuat aku terpuruk?”

“Katakan padaku.”

Elice butuh waktu sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam. Berusaha untuk menguatkan diri. Karena ketika ia memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu, jujur mengenai apa yang terjadi, itu artinya ia membuka luka lama.

“Dia bersyukur. Mengucapkan terima kasih padaku. Dan dia bahkan tertawa dengan begitu senang di hadapanku.”

Elice tidak akan pernah melupakan hal itu. Tidak. Bayangan di mana Ariel yang begitu bersuka cita ketika ia justru terpuruk di atas ranjang perawatan, melintas di benaknya. Sesuatu yang membuat ia seketika merasa mual.

Garett mengangkat tangannya. Memberikan isyarat pada sang bartender untuk segelas air putih. Menyerahkan minuman sejuk itu pada Elice.

Tentunya dibutuhkan lebih dari sekedar segelas air putih untuk meredakan sesak yang bercokol di dada Elice. Tapi, setidaknya ia bisa menghirup udara dengan sedikit lebih lega saat ini.

“Tapi, kalau kau berpikir semuanya selesai sampai di sana, jelas kau salah.”

Elice melihat gelas di tangannya yang telah kosong. Menyadari bahwa saat ini hidupnya tak ada ubahnya dengan gelas itu. Tak ada lagi isi di dalamnya. Ia persis seperti manusia yang tak memiliki apa-apa lagi sekarang.

“Beberapa hari setelahnya, keluarga Ariel datang ke rumahku.”

Garett mendapati bagaimana jari-jari tangan Elice kembali menguat di gelas itu. Tubuhnya menegang. Dan ia yakin bahwa ini adalah titik di mana Elice benar-benar terhempas. Yang mana ... itu benar.

“Mereka mengatakan banyak hal yang membuat aku tidak bisa melihat wajah Mamaku lagi. Me-mereka ....”

Mata Elice sontak memejam. Ingatan itu begitu nyata di benak Elice. Bagaimana orang tua Ariel datang. Menyerahkan sejumlah uang. Sebagai bayaran untuk berhenti menggoda putra mereka.

Hingga mereka pun mengatakan hal-hal lainnya yang tidak pernah Elice bayangkan sebelumnya. Keraguan akan dirinya, yang bisa saja sudah berpetualang di beberapa pelukan pria sebelum akhirnya melabuh pada Ariel. Putra sematawayang mereka yang selalu dipuja banyak orang.

Elice benar-benar hancur. Ia mungkin bisa bertahan. Kehilangan anak dan harga diri. Dicampakkan pria yang ia cintai. Tapi, ketika wajah paruh baya itu menangis, ia tau. Ia telah salah mencintai seorang pria.

*

bersambung ....

Bab 3

Sekarang tidak ada yang bisa Garett lakukan selain diam. Memberikan waktu bagi lawan bicaranya itu untuk mengambil jeda selama yang ia butuhkan. Garett tau, itu adalah keadaan yang benar-benar berantakan.

Muram, Garett menarik napas dalam-dalam. Menyadari dengan jelas bahwa masih hidup hingga saat ini adalah pertanda valid. Elice bukanlah wanita yang lemah. Alih-alih justru sebaliknya. Elice adalah wanita yang kuat.

Bagi Elice sendiri, ia sudah beberapa kali menemukan dirinya yang tidak berdaya. Sudah tak terhitung lagi pikiran bunuh diri melintas di benaknya. Tapi, kala ia melihat wajah ibunya, sekelumit akal sehat itu muncul lagi.

'Aku sudah membuat Mama menderita. Apa aku harus menambah tangis Mama? Dengan pergi dalam keadaan yang mengenaskan?'

Maka ketika pikiran untuk bunuh diri datang, Elice akan segera bersiap. Berdandan. Memutuskan untuk pergi ke klub. Karena ia pikir hanya itu satu-satunya cara untuk membuat dirinya bisa mengenyahkan pikiran buruk tersebut. Dalam keramaian. Di mana tidak akan ada orang-orang sok suci yang akan menghujat air matanya.

Hingga tak pernah Elice duga sebelumnya. Jangankan mendapat cibiran yang menudingnya, sekarang ia justru mendapat sepasang telinga yang setia mendengarkan ceritanya. Yang bahkan tidak memberikan komentar berarti untuk semua yang sudah ia katakan.

“Setidaknya sekarang kau sudah terbebas dari pria itu.”

Pada akhirnya, hanya itu satu-satunya kalimat yang berhasil Garett katakan pada Elice. Ia tidak bisa menghibur. Seperti yang ia katakan, ia hanyalah seorang pendengar yang baik. Yang tidak menemukan hal lain untuk diucapkan selain fakta yang satu itu.

“Entahlah,” lirih Elice getir. “Entah aku yang sudah terbebas darinya atau sebaliknya. Aku yang telah dicampakkan olehnya ketika aku tak lagi berharga.”

Garett mengerutkan dahi. Tampak tak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Elice.

“Lepas dari pria seperti itu bukan menunjukkan kau tidak berharga. Malah sebaliknya. Itu artinya ia yang tidak pantas untukmu.”

“Kau tidak mungkin lupa karena aku baru mengatakannya beberapa saat yang lalu.”

Elice menatap Garett. Dengan mata yang tampak masih tersisa linangan air matanya dan sorot itu tampak benar-benar terluka. Seperti meyakini bahwa masa depannya sekarang tak ubahnya dengan jalan setapak di tengah hutan. Tanpa ada matahari atau pun seberkas cahaya yang menyinarinya.

“Aku sudah tidak berharga lagi sebagai seorang wanita. Aku sudah pernah hamil. Aku sudah pernah keguguran. Dan ....”

Elice tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Alih-alih ia hanya menarik napas sedalam mungkin. Ia pasrah. Mungkin esok hari ia akan tetap hidup hanya demi ibunya. Kehidupannya yang sesungguhnya sudah mati.

“Dan hal itu tidak mampu menepis kenyataan bahwa di sini banyak mata yang masih melihatmu dengan tatapan kagum.”

Elice tertegun. Ia mengangkat wajah. Melihat pada Garett yang memberikan isyarat melalui matanya.

Melihat ke sekeliling, Elice mendapat ada satu titik yang menjadi fokus sekilas mata Garett tadi. Beberapa orang wanita yang tampak kaget ketika melihat dirinya beralih pada mereka. Ciri khas kaum Hawa bila tertangkap basah tengah membicarakan sesama kaumnya.

“Aku sudah memerhatikanmu dari tadi. Banyak yang diam-diam melihatmu. Ehm ... mungkin karena mereka pikir betapa kau memiliki penampilan yang menarik.”

Elice kembali pada Garett. Pria itu tampak melihat ke titik-titik lainnya.

“Bukan hanya wanita. Aku pun sudah melihat beberapa orang dari kaumku yang sudah mengintaimu dari tadi,” lanjut Garett. Ia melirik pada Elice. “Tak perlu berterima kasih kalau kau pikir keberadaanku di sini menyelamatkanmu dari tangkapan buaya darat lainnya.”

Elice bisa mengira maksud perkataan Garett. Tapi, itu sama sekali tidak berhasil padanya.

“Mereka hanya tau penampilanku saja. Mereka tidak tau bagaimana dengan masa laluku.”

“Dan bukankah itu intinya?”

Tanpa tedeng aling-aling, Garett memojokkan Elice dengan satu pertanyaan fatal. Nyaris membuat Elice terhenyak saking ia yang tidak mengira. Yang dikatakan Garett terdengar amat masuk akal.

“Itu hanya masa lalu. Dan yang orang-orang perhatikan dari kita memang ... hanyalah penampilan.”

Untuk hal yang satu itu, pastinya Elice tidak bisa membantah. Bukankah memang? Yang orang-orang lihat dari diri orang lain adalah penampilan?

“A-aku ....”

“Kau bersedih, itu pasti. Dan bahkan aku tak yakin bisa menjalani hidup bila dalam posisi yang kau alami saat ini.”

Itu bukan kalimat basa-basi belaka. Itu memang adalah hal yang disadari pasti oleh Garett. Semula ketika ia melihat ada seorang wanita menangis seorang diri, ia hanya menganggap wanita itu sedang mengalami putus cinta. Tapi, nyatanya? Bukan hanya putus cinta yang Elice alami. Alih-alih juga putus asa.

“Tapi, aku yakin. Masih banyak mata yang memandang dirimu berharga. Bukan hanya aku, para wanita itu, atau sekumpulan pria itu. Di luar sana, aku yakin. Terlepas dari masa lalumu, kau tetap berharga.”

Ketika akal waras Elice timbul, perkataan itu terdengar amat logis. Tapi, percayalah. Elice sudah mengalami fase ini berulang kali. Saat ini ia mungkin merasa naik kembali hingga kemudian tidak butuh waktu lama untuk ia mendapati dirinya terjatuh lagi.

“Entahlah, aku tidak yakin.”

Garett mengerti. “Jangan dipaksakan. Kau butuh waktu. Tapi, aku tau. Setidaknya kau menyadari bahwa tetap bertahan hingga hari ini cukup membuktikan bahwa kau tetap memandang hidupmu berharga.”

Di matanya sendiri, Elice mendapati dirinya benar-benar tidak ada harganya sama sekali. Ia merasa sudah menjadi wanita paling rendah di dunia. Dicampakkan dan dipandang sebelah mata.

“Lagipula ...”

Suara Garett yang kembali terdengar membuat pikiran Elice teralihkan. Ia melihat pada pria itu. Yang pundaknya tampak naik sekilas saat si empunya menarik udara dalam-dalam.

Garett mengerjap sekali. Acuh tak acuh ketika melirik pada Elice.

“... mengapa wanita harus menyerahkan standar dirinya pada pria?”

Itu pertanyaan yang terdengar biasa-biasa saja, tapi ....

“Bukankah itu semua mutlak ada di tanganmu?” tanya Garett dengan wajah serius. Melalui tatapannya, ia mengunci Elice. “Aku hanya tidak habis pikir mengapa kau membiarkan Ariel untuk mendikte berharga atau tidaknya dirimu. Ehm ... karena kau pernah hamil? Kau pernah keguguran? Dan itu membuat kau masuk ke dalam golongan wanita yang rendah?”

Garett mendengkus tak percaya ketika mendengar pertanyaannya sendiri. Ia geleng-geleng kepala. Seperti tengah melihat pertunjukan sirkus paling konyol di dunia.

“Kau tidak berada di dalam posisi wanita. Bagaimanapun kasusnya, kami akan selalu menjadi pihak yang dipojokkan.”

“Maka dari itu ... mulai dari sekarang jangan biarkan dirimu berdekatan dengan pria yang seperti itu.”

“Aku bahkan bisa yakin. Tidak akan ada pria mana pun yang ingin mendekatiku setelah tau bagaimana masa laluku.”

“Kau tidak melihatku saat ini?”

“Kau---”

Elice membuang napas. Tampak samar senyum mengambang di bibirnya. Ia menggeleng dengan ekspresi lemah.

“Mungkin kau satu-satunya pria yang tetap bertahan duduk di sini setelah tau mengenai masa laluku.”

“Mungkin juga bukan aku satu-satunya,” ujar Garett. “Bagaimanapun juga ... aku yakin kau tidak mengira bahwa akan ada pria yang akan duduk bersama denganmu. Mendengarkan ceritamu. Padahal pria itu adalah orang asing.”

Senyum samar Elice berubah menjadi seberkas senyum geli. Berikut dengan dengkusan sekilasnya. Yang dikatakan Garett benar. Ia memang tidak mengira bahwa akan ada pria asing yang akan menjadi teman bicaranya malam itu.

“Jadi ... apa menurutmu aku berharga?”

Yakin, tanpa ada keraguan sedikit pun, Garett mengangguk.

“Di mataku ... kau adalah wanita yang berharga. Dan mungkin itu satu-satunya alasan mengapa aku tak mampu menahan diri sedari tadi. Pada akhirnya aku benar-benar menuruti naluriku untuk menghampirimu.”

“Katakan padaku, apa yang membuat aku terlihat berharga di matamu?”

Tidak langsung menjawab pertanyaan itu, Garett memanfaatkan beberapa detik yang ia miliki. Untuk mengamati penampilan Elice dari atas hingga bawah. Dimulai dari rambut bewarna hitam yang bergelombang sensual, lalu pada wajah berbentuk oval yang cantik, dan melewati lekuk tubuh yang dibentuk gaun hitam menawan. Hingga berakhir pada sepasang sepatu setinggi sembilan sentimeter yang membuat betis jenjang itu tampak menggoda.

“Karena tidak banyak wanita cantik sepertimu datang ke klub seorang diri tanpa menunjukkan tanda-tanda ingin menggoda pria mana pun.”

Elice sontak terkekeh.

“Dan kau abai dengan keadaan sekitarmu. Tidak peduli beberapa orang yang sebenarnya berniat untuk mendekatimu, kau hanyut dalam duniamu sendiri. Di mataku ... itu adalah bentuk nyata bahwa wanita itu berharga.”

Puas tertawa hambar setelah mendengar perkataan Garett, Elice mengangkat wajahnya. Menghirup udara dalam-dalam. Lalu mengembuskannya perlahan.

“Kau memiliki penilaian yang berbeda untuk kategori wanita berharga,” komentar Elice. “Seharusnya kau menambahkan perawan, baik-baik, pintar, dan berasal dari keluarga terpandang.”

“Oh! Bukankah itu terlalu kejam? Wanita bukan makhluk sempurna. Mengapa harus memberikan banyak kriteria?”

Elice kembali tergelak. “Kriteria atau tidak, nyatanya itu yang mampu membangun rasa percaya diri kaum kami.”

“Gunakan cara lain untuk membangun rasa percaya diri.”

“Contohnya?”

“Dengan becermin dan melihat betapa banyaknya yang kau miliki.”

Tangan Garett naik satu. Menyingkirkan sedikit anak rambut yang nyaris menutupi pandangan mata Elice. Membawa helaian halus itu ke balik telinganya.

“Aku yakin itu bukan hal yang sulit bagimu,” ujar Garett seraya menarik kembali tangannya. “Karena aku yang baru berbicara denganmu tak lebih dari setengah jam saja bisa merasakannya.”

Udara seperti tertahan di pangkal tenggorokan Elice. Mendengar kata-kata Garett, melihat caranya bicara, dan mendapati senyum di wajah itu, membuat ia menjadi terdiam dalam seribu bahasa. Hanya untuk menyadari bahwa ia tersudut pada satu pertanyaan.

'Benarkah?'

“Kalau kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan, kau bisa melihat kebenarannya sebulan yang akan datang. Dan bila sebulan tidak cukup untuk kau membuktikannya, maka lihatlah setahun yang akan datang. Pada akhirnya kau akan menyadari bahwa aku benar.”

Layaknya Garett yang mampu menerka isi benak Elice, pria itu mengatakan sesuatu yang makin membuat udara terasa enggan menjamah paru-parunya. Pada akhirnya, Elice hanya bisa menanggapi hal itu dengan acuh tak acuh.

“Kita lihat saja nanti.”

“Kau butuh bukti?”

“Bukti apa maksudmu?”

“Bahwa setidaknya di sini ada seorang pria yang masih melihatmu berharga? Terlepas dari bagaimana masa lalumu.”

Elice masih mencoba meraba maksud perkataan Garett tatkala mendapati jari-jari yang sempat menyentuh anak rambutnya kembali bergerak. Kali ini dalam satu sapuan samar yang menyapa kulit pipinya. Membuat Elice sontak memejamkan matanya. Refleks alamiah.

Tubuh Elice menegang. Tidak sempat mengantisipasi hal itu dan mendapati tubuhnya kaku seketika. Lantaran terlalu tiba-tiba, ia bahkan tidak bisa untuk bergerak sedikit pun. Bahkan untuk sekadar tersentak, tidak bisa.

Garett bisa merasakan dengan jelas bagaimana tubuh Elice yang sontak membeku. Tepat ketika ujung jarinya menyentuh kehalusan pipi wanita itu, ia jelas merasakannya. Tapi, ketika ia mendapati Elice yang tidak menarik diri, Garett melanjutkan tindakannya.

Wajah Garett maju. Mengambil posisi tepat di depan wajah Elice. Menciptakan kenyataan di mana napas keduanya bisa saling membelai satu sama lain.

Garett menatap mata Elice. Hening dalam beberapa detik yang tidak berarti. Mengabaikan suara musik yang memerangkap mereka berdua. Dan tak peduli dengan keadaan di sekitar.

“Izinkan aku.”

Dua kata itu Garett ucapkan sebagai bentuk permisi. Satu ungkapan yang tak sempat dijawab oleh Elice. Lantaran jari-jari tangan Garett yang semula menyentuh pipinya telah berpindah tempat. Pada tekuk Elice.

Garett menarik Elice. Seiring dengan dirinya yang turut maju. Menyambut kehadiran bibir Elice yang kemudian mendarat di bibirnya.

Mata Elice sontak memejam. Kedua tangannya naik. Mendarat di dada Garett yang terasa keras. Ingin mendorongnya, tapi Garett melumat bibirnya. Dan itu membuat ia justru meremas kemeja Garett.

Ketika Garett merasakan tangan Elice di dadanya, pria itu sudah bersiap dengan beberapa kemungkinan yang bisa ia terima. Ditampar, tentunya adalah kemungkinan yang paling masuk akal untuk ia dapatkan. Tapi, nyatanya bukan itu yang terjadi. Alih-alih justru hal yang sebaliknya.

Dan hal itu membuat secuil akal sehat Garett berpikir. Lantaran remasan di dadanya membuat ia tau. Bahwa apa yang ia pikirkan tentang Elice adalah hal yang benar.

Elice adalah wanita yang berharga. Dan setidaknya itulah yang ingin Garett tampakkan padanya. Bahwa ketika seorang wanita berharga, seorang pria akan menciumnya dengan sepenuh jiwa.

*

bersambung ....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED