Zahra berusia 22 tahun dia baru lulus kuliah dia bekerja di perusahaan Haidar bekarja untuk membantu Ekonomi keluarganya yah dia tau Ayahnya juga kaya tapi dia gak mau membebani orang tuanya.
Dengan pakaian syar'i nya dia begitu cantik dipandang akhlaknya pun baik dan ramah dia tidak pernah memakai make up karena dia juga dia tidak tau apa itu make up dia hanya memakai bedak bayi sedikit dengan lip blam dibibirnya itu yang berwarna pink tanpa lipstik.
Alvino Daffa Haidar yang mempunyai perusahaan terkaya di Indonesia nomer 1 papahnya juga bekerja sama dengan ayahnya Zahra dia bersikap dingin jika dengan wanita lain.
Papahnya sudah menjodohkan vino dengan anak sahabatnya itu, Hayo siapa Anak Sahabatnya itu kira-kira?
Zahra memasuki kantor perusahaan yang bernama Haidar dia pun menemui Resepsionis untuk menanyai apakah ada lowongan kerja atau kah tidak!
"Maaf saya mau tanya apakah disini masih ada lowongan kerja" tanya Zahar dengan baik dengan menggenggam surat lamarannya.
"Ada" jawab resepsionis itu dengan singkat dai pun melihat pakaian Zahra dari bawah sampa atas.
"Alhamdulilah Hmm... Saya mau lamar kerja disini" kata Zahra resepsionisnya masih melihat pakaian yang dipakai Zahra.
"Apa kamu yakin bekerja disini karena disini tidak boleh pakai jilbab" ucap resepsionis itu.
"Saya hanya mencoba melamarnya saja siapa tau diterima gitu"
"Ok sebentar saya telpon pak vino dulu" ujar resepsionis itu
"Halo selamat pagi pak" sementara resepsionis menelpon bosnya yaitu pak Vino yah dia anak yang mempunyai perusahaan ini Vino menggantikan ayahnya bekerja dikantornya
"Ya ada apa" dingin vino
"Ada seorang perempuan yang ingin melamar pekerjaan disini pak"
"Langsung keruangan saya saja" datar vino kemudian mematikan telponnya dari Resepsionis nya
"Ada apa Vin" tanya Raka
"Resepsionis telpon katanya ada yang melamar..." jawab vino
"Hah lu dilamar Vin akhirnya sahabat gw gak jomblo lagi" ejek Raka
"Apa sih gak jelas banget jangan potong omongan gw dulu deh"
"Iya iya maaf"
"Tadi resepsionis telpon katanya ada yang melamar pekerjaan di sini bukan melamar gw masa iya perempuan ngelamar gw aneh-aneh aja lu" jelas Vino yang sembari melanjutkan pekerjaannya yang belum beres
"Assalamu'alaikum" ucap salam Zahra yang memasuki ruangan Vino diantarkan oleh resepsionis dan kembali melanjutkan pekerjaannya lagi
"Wa'alaikumussalam Masya Allah sungguh indah ciptaanmu" puji Raka dengan terbengong dia seperti mimpi melihat bidadari disini
"Masya Allah cantik eh apaan sih lu kenapa jadi mikirin perempuan ingat perempuan itu hanya memanfaatkan kekayaan lu aja" gumam Vino
"Jaga mata lu" vino melemparkan berkasnya mengenai wajah Raka dia pun tersadar dan memarahinya
"Apa sih lu ganggu aja" marah Raka dengan menaruh berkasnya di meja vino
"Maaf pak saya ke sini mau melamar pekerjaan" Zahra memberi Berkas lamarannya dan Vino pun menerimanya
"Hai Cantik" sapa Raka dengan sedikit menggodanya
"Ya" jawab singkat Zahra
"Sampai lupa hehe silahkan duduk cantik" Raka beranjak dari tempat duduknya dan mempersilahkan Zahra untuk duduk didepan Vino sementara Raka berdiri di sampingnya sedangkan Vino sedang mengecek berkas lamaran Zahra dengan teliti
Dia cantik tapi menurutku semua perempuan itu sama hanya menginginkan hartanya, jadi untuk apa serius dalam hubungannya itu
-Alvino
"Makasih" ucap terima kasih Zahra sambil duduk yang dipersilahkan oleh Raka dia pun tersenyum
"Ok kamu terima kerja di sini" dingin Vino sembari menutup berkas lamaran Zahra
"Maaf pak apa boleh saya bekerja disini dengan menggunakan pakaian gamis dan jilbab" tanya Zahra yang sudah berada di depan Vino
"Disini tidak boleh pakai jilbab dan hanya menggunakan Rok span pendek" jawab Vino dengan datar
"Hmm... saya lebih baik kehilangan pekerjaan dari pada melanggar perintah Allah dan Maaf saya tidak jadi bekerja disini permisi" pamit Zahra
"Vin lu kok gitu sih kenapa lu nyia-nyiain cewe cakep itu sih" omel Raka
"Gw gak tertarik" dingin vino
"Gw gak mau tau lu harus terima dia bekerja disini"
"Kenapa gitu gw tanya siapa yang jadi bosnya disini" sindir Vino dengan tatapan tajamnya itu
"Yah gw tau lu yang bosnya, emangnya lu gak mikir nasib perempuan yang mencari pekerjaan demi membantu orang tuanya Vin apa lu gak ngerasain perasaan nya hah" Raka memarahi Vino karena kalo cewe tadi gak kerja disini dia pasti kehilangan cewe tadi padahal dia ingin mendekatinya siapa tau berjodoh gitu
"Kenapa lu nyuruh gw buat Nerima dia kerja disini gw tau pasti ada alasannya" Vino menatap Raka dengan tatapan curiga gak biasanya dia begini
"Karena gw pengen deketin cewe tadi Please lah Vin bantu gw buat deketin dia" mohon Raka dengan memegang lengannya
"Ok demi lu" datar Vino dia juga tertarik dengan Zahra dengan akhlaknya baru kali ini dia melihat perempuan dengan pakaian syar'i
"Yaudah gw kejar dulu" Raka langsung berlari keluar ruangan dan mengejar perempuan tadi yang sudah menunggu lift menuju ke bawah
"Hey cantik" panggil Raka perempuan tadi pun menengok ke arah belakang dan lelaki itu pun mendekatinya
"Ya ada apa pak" tanya Zahra yang heran dipanggil oleh Raka
"Kamu diterima bekerja disini dan boleh pakai pakaian syar'i kok" jawab Raka dengan menatap gadis itu yang sedang menundukkan kepalanya yah karena dia tidak mau melihat lelaki yang bukan mahramnya dihadapan gadis itu
"Yang benar pak" Zahra tidak percaya jika dia diterima bekerja disini
"Alhamdulilah" ucap syukur Zahra dengan menutup mulutnya yang tidak percaya atas kehendak Tuhannya
"Ayo kita keruangan tadi" ajak Raka gadis itu pun mengikuti lelaki itu dibelakangnya sampai didalam ruangan Raka berbicara dengan Sahabatnya yaitu Vino
"Jadi gimana dia boleh kerja disini kapan" tanya Raka kepada Vino yang bersender di kursi besarnya itu
"Besok dia sudah boleh kerja disini" jawab Vino dengan dingin dan fokus kembali dengan kerjanya itu
"Coba lu jangan bersikap dingin gitu sama perempuan lagi Vin gak semuanya wanita itu cuma manfaatin harta lu sampai kapan lu jadi jomblo terus apa sampai mati iya" ledek Raka
"Lu nyumpahin gw mati" vino tersinggung dengan omongan Raka yang tadi apa mungkin dia harus membukakan hatinya untuk perempuan lain
"Bercanda bro, bukannya mati itu gak ada yang tau kan siapa tau besok mati ya kan cantik" Raka menanyai soal kematian kepada gadis itu lalu dia pun mengangguk dan tersenyum tipis
"Oh iya ngomong-ngomong kita belum kenalan loh kenalin aku Raka Mahendra" Raka memperkenalkan namanya dia ingin bersalaman dengan gadis itu tapi gadis itu malah menangkupkan tangannya didada ya
"Zahra Aiza Naadhira" menangkupkan tangannya didadanya dengan tersenyum Vano pun hanya tertawa dengan kelakuan sahabatnya itu
"Diam lu" marah Raka yang sudah dibuat malu oleh gadis ituEsok harinya...
Hari ini Zahra sudah bekerja di perusahaan Haidar di bekerja sebagai sekretarisnya tempat mejanya ada di depan pintu ruangan vino bosnya pun datang ke kantornya lalu dia menyapanya tapi
"Selamat pagi pak" sambut Zahra dengan tersenyum vino tidak menanggapinya dia hanya bersikap datar, cuek dan dingin Kemudian langsung masuk ke ruangannya
"Dasar es batu, Astagfirullah kenapa jadi ngatain dia sih" gumam Zahra lalu melanjutkan aktivitasnya lagi
"Hey cantik" sapa Raka dengan tersenyum yang baru datang dan berbicara dengan Zahra yang tiba-tiba dihadapannya itu
"Astagfirullah pak ngagetin aja" Zahra hanya beristigfar dia kaget yang melihat Raka dihadapannya
"Maaf hehe nanti malem sibuk gak" tanya Raka dengan menangkupkan tangannya dimeja sekretaris
"Gak kenapa pak" jawab Zahra
"Kita jalan yuk" ajak Raka dengan tersenyum menderetkan gigi putihnya itu
"Maaf gak bisa pak" Zahra menolaknya karena tidak baik berdua-duaan apa lagi di malam hari takutnya timbul fitnah
"Kenapa" Raka heran dengan gadis ini biasanya perempuan itu gak nolak dengan ajakannya tapi kenapa gadis ini menolaknya seharusnya kan menerimanya dan yang membayarnya pun Raka bukan gadis itu
"Bukan mahram pak gak baik berdua-duaan di malam hari takut timbul fitnah nantinya"
"Baru kali ini aku ditolak perempuan kalo gak ajak sahabat ku juga gimana tenang saja kok dia bawa anak kecil juga" saran Raka
"Anak kecil bukannya dia belum menikah yah apa dia sudah cerai dengan istrinya" batin Zahra
"Gimana Ra kenapa jadi ngelamun si mikirin siapa hayo pasti mikirin aku yah" tebak Raka
"Eh enggak kok pak Ok seterah bapak saja"
"Aku masuk ke dalam dulu ya mau nemui sahabat ku" izin Raka lalu Zahra pun mengangguk dengan tersenyum kemudian Raka pun masuk ke dalam ruangan Vino sahabatnya itu
"Coba biasakan Rak kalo masuk ketik pintu dulu" nasihat Vino yang sedang mengutik laptopnya
"Rak rak emang gw Rak buku apa" Raka mengalihkan pembicaraannya
"Kebiasaan lu ngalihin pembicaraan orang lain" omel Vino
"Ada apa lu ke sini tumben ke sini mulu biasanya gak" sindir Vino
"Suudzon mulu lu mah gw ke sini mau ketemu ayang beb gw tadi"
"Siapa perasaan lu gak punya cewe deh yang deketin lu aja gak mau" ledek vino
"Lu mah gitu sama sahabat sendiri deh"
"Yaudah siapa ayang beb lu"
"Itu sekretaris lu" Vino pun bengong gak percaya masa iya dia kekasih Raka kenapa hatinya tiba-tiba cemburu yah apa mungkin punya perasaan dengan gadis kecil itu
"Kenapa gw tiba-tiba cemburu yah udah lah Vin perempuan itu sama aja cuma manfaatin lu doang" gumam vino
"Hey lu kok malah bengong sih jangan-jangan lu suka yah sama dia" ejek Raka dengan melambaikan tangannya di wajah VinoTidak semua perempuan hanya memanfaatkan kekayaannya tergantung dengan orang tua masing-masing bagaimana ia cara mendidik anaknya itu
-Zahra
"ya gak lah aneh aja lu masa iya suka sama gadis pakaian kaya gitu" ejek vino yang tersadar dengan lamunannya
"Benar nih lu gak suka"
"Hmm"
"Syukur deh awas aja lu ngerebut dia dari gw"
"Gw gak suka ngambil milik sahabat gw sendiri" datar Vino
"Yaudah sih gak usah jeles gitu kalo gak suka bilang aja" vino tidak menanggapi ucapan Raka karena itu tidak penting bagi dia
"Oh iya Vin gw mau ngajak jalan-jalan nanti malam" ajak Raka dengan menangkupkan tangannya di meja kantor vino
"Tumben ngajak main" sindir Vino
"Sekali-kali senangin sahabat gw ini nanti ajak anak lu ye" kata Raka
"Ya nanti gw ajak kalo dia mau ya" ucap Vino
"Dia pasti mau lah sama gw"
Jam istirahat vino keluar dari ruangannya melewati meja Zahra dengan tatapan datar seolah dia tidak perduli kemudian Zahra pun memanggilnya
"Pak Vino tunggu" Vino pun menoleh ke belakang dan mendekati Zahra
"Ada apa" Datar Vino
"Hmm... Ini pak ada berkas yang perlu bapak tangani" Zahra memberi Berkas itu kepada Vino dia pun mengambilnya dari tangan mungil gadis itu kemudian menandatangani berkas itu dan memberi Zahra kembali berkas itu
"Terima kasih pak" sahut Zahra dengan tersenyum Vino hanya bersikap datar
"Mau makan bareng saya tidak sekalian saya mau ke kantin" ajak Vino dengan wajah yang masih datar membuat Zahra takut dengan sikapnya itu
"Emangnya boleh pak" tanya Zahra dengan gugup lalu vino pun mengangguk kemudian kami pun pergi ke kantin untuk makan bersama
"Mau pesan apa mbak pak" tanya pelayan itu yang menghampiri kami berdua
"nasi goreng sama teh manis" jawab bersamaan antara Vino dengan Zahra kami pun saling tatap Zahra langsung menundukkan kepalanya
"Kalian memang pasangan serasi jadi Nasi goreng 2 dan teh manis 2" goda pelayan itu lalu Mereka pun mengangguk sambil menunggu pesanan tadi kamu mengobrol berdua
"Saya boleh tanya gak" kata Zahra yang sedikit takut berbicara dengannya
"Boleh" jawab singkat Vino dengan dingin
"Kenapa bapak berbicara datar sih sa saya memangnya Salah saya apa pak" Zahra berbicara seperti ini agar dia tau kenapa bosnya ini bersikap datar kepadanya
"Karena semua perempuan itu sama hanya mau harta saya doang" lirih Vino
"Gak semua wanita seperti itu pak tergantung bagaimana orang tuanya mendidik dia" jelas Zahra
"Sudah banyak perempuan yang hanya manfaatkan say jadi untuk apa saya serius dengan wanita" datar Vino
"Bapak gak boleh dong mempermainkan hati wanita seandianya bapak punya anak perempuan memangnya bapak mau jika anak bapak dimainkan oleh cowo lain" nasihat Zahra
"Ya gak mau lah saya bakal ajar tuh cowok yang berani permainkan hati anak saya"
"Nah bapak aja marah kan apa lagi orang tua mereka jika tahu anaknya dipermainkan oleh bapak sendiri mereka pasti marah" Vino menatap Zahra dengan kagum ternyata dia berbeda dengan perempuan di luar sana yang hanya memanfaatkan kekayaannya saja
"terima kasih nasihatnya" baru kali ini Zahra melihat bosnya tersenyum
"Senyum terus ya pak bapak tampan kalo senyum seperti ini" Zahra keceplosan menyebut Vino tampan emang iya sih dia tampan tapi Datar
"Saya emang ganteng dari dulu kok" dengan bangganya Vino mengucapkan begitu dengan Zahra tiba-tiba Raka datang dia ditinggal oleh Vino diruangannya
"Gw nungguin lu lama di ruangan lu eh malah berdua-duaan disini sama kekasih gw" pura-pura marah Raka yang baru saja datang dan duduk di samping Vino sementara Zahra duduk di depan mereka berdua
"Maaf gw lupa, lu mau pesan apa sana gih pesan" perintah vino
"Lu yang bayar ye"
"Ya sana pesan aja" kemudian Raka pun memesan makanannya lalu kami makan bersama-sama
"Eh kok lu samaan sih sama kekasih gw makanannya" Raka cemburu melihat makanan mereka berdua sama
"Kenapa? Lu cemburu" dingin vino sambil makan nasi gorengnya itu
"Iyalah gw cemburu masa makanan lu sama dengan kekasih gw" Raka gak terima jika kekasihnya sama dengan sahabatnya
"Kekasih kapan lu pacarannya coba" vino pun tidak mau kalah dengan sahabatnya itu
"Lagi otw kenapa emangnyau cemburu ya" mengalihkan pembicaraan vino itu
"Ya gak lah karena dia sekretaris gw jadi gw harus tau ada apa hubungannya dengan sahabat gw sendiri" lawan vino yang tidak mau kalah dengan Raka
"Awas ye kalo lu rebut dia dari gw" Zahra hanya tertawa melihat mereka meributkan dirinya itu
"Gak bakal gw gak demen teman makan teman"
"Gw pegang janji lu ya gak beb" Raka berbicara dengan Zahra yang sedang makan
"Lebay lu" sahut Vino
"Sirik aja tetangga" balas Raka
"Gak baik makan sambil berbicara lanjutin dulu makanan kalian berdua" nasihat Zahra
"Tuh dengerin apa kata calon istri gw" ujar Raka dengan tersenyum miris vino pun tidak menanggapinya dia hanya datar kenapa tiba-tiba dia cemburu dengan Zahra padahal dia bukan siapa-siapa Vino apa mungkin jika dia menyukainya masa iya menyukai kekasih sahabat sendiri yang ada mereka ribut lagi
"Lu gak boleh cemburu ingat jangan lukai hati sahabat lu itu" gumam vino yang sedang makan dia melihat Zahra dengan Raka yang begitu akrab sekali sedangkan Vino dia hanya diam tidak mengobrol dengan mereka lagi
Sore hari jam 04.00 Zahra sudah mau pulang kerja sekarang dia sedang membereskan semua pekerjaannya dulu sedangkan Vino yang baru keluar dari ruangannya segera ingin pulang karena malam ini dia ada janji sama sahabatnya itu Zahra pun sama ada janji dengan Raka bosnya pun tidak tau jika Zahra akan datang juga
"Kamu mau pulang Ra" tanya Vino yang baru saja keluar dari ruangannya
"Iya ini saya lagi beres-beres dulu" jawab Zahra yang sedang sibuk merapikan Berkas-berkasnya
"Saya bantu yah biar cepat selesai" kemudian membantu menumpukan berkas-berkasnya yah dia sedang sibuk hari ini
"Kamu pulang sama siapa Ra" vino yang sudah selesai membantu Zahra
"Sendiri pak mungkin naik angkot pak" Zahra pun sudah selesai merapikan Berkas-berkasnya
"Bareng saya saja saya juga mau pulang" dengan tersenyum manis yang memperlihatkan kedua pipi lesungnya
"Apa gak ngerepotin pak" tanya Zahra
"Gak kok ayo" ajak Vino kemudian Zahra pun mengikuti dibelakangnya berjalan menuju mobilnya saat zahra ingin masuk pintu mobil belakang vino berbicara
"Duduk depan Ra saya bukan supir kamu" mau tidak mau Zahra menurutinya Karena tidak ingin berbuat masalah lagi
"Rumah kamu dimana" suasana hening tidak pembicaraan diantara mereka tapi vino mencoba berbicara agar tidak hening lagi suasananya
"Di jalan suka jaya nanti ada pagar warna hitam disitu rumah saya" sampai digerbang Zahra pun pamit untuk turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumahnya
"Makasih pak hati-hati dijalan assalamu'alaikum" ucap salam Zahra
"Wa'alaikumussalam" jawab salam vino dan Zahra pun memasuki rumahnya didalam sudah ada keluarganya yang sedang berkumpul di ruang keluarga
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam" Zahra menghampiri keluarganya dan bersalaman
"Kamu udah pulang cepat sekali biasanya kerja kantor itu pulang malam sayang" bundanya yang sedang menonton TV bersama keluarganya
"Hehe iya Bun tadi sudah selesai pekerjaannya jadi dibolehin pulang deh oh iya nanti malam aku diajak temanku jalan-jalan katanya"
"Perempuan atau laki-laki" tanya ayahnya yang sedang minum kopi sambil menonton TV nya
"Laki-laki yah" Zahra menundukkan kepalanya dia takut gak dibolehin oleh ayahnya padahal dia sudah ada janji dengan Raka
"Ayah gak izinin kamu pergi bersama lelaki" ayahnya tidak mengijinkan jika anaknya bersama lelaki lain yang bukan mahramnya
"Tapi yah aku sudah ada janji bos aku juga bawa anaknya kok" bujuk Zahra
"Anaknya? Bunda gak mau yah kalo kamu dekat dengan bos kamu apa lagi dia sudah punya anak pasti dia sudah punya istri jangan jadi perusak rumah tangga orang Ra bunda gak pernah ngajarin kamu seperti itu" nasihat bundanya kepada anaknya
"Gak kok aku sama sahabat bos aku juga kok" rayu Zahra agar diizinkan oleh kedua orang tuanya
"Ok ayah izinin tapi dia harus jemput kamu disini Kalo gak yaudah gak usah pergi sama dia" jawab ayah pasrah menuruti keinginan anaknya
"Makasih ayah" Zahra pun memeluk ayahnya dan pergi ke kamarnya untuk siap-siap nanti malam tiba-tiba saja hp nya berbunyi ada sebuah pesan dari orang yang tidak ia kenal
Aku tidak ingin memilih diantara mereka berdua karena kalo aku memilih salah satu pasti diantara mereka bakal ada yang sakit hati dan persahabatan mereka juga akan hancur aku gak mau semua itu terjadi
-Zahra
0831xxxxxxxx
Assalamu'alaikum cantik
Zahra
Wa'alaikumussalam
Siapa yah?
0831xxxxxxxx
Ini aku Raka yang paling ganteng sedunia
Zahra
Oh ya ada apa pak
0831xxxxxxxx
Rumah kamu dimana biar aku jemput nanti malam hehe😁🤩
Zahra
Rumahku di Jl Suka Jaya nanti ada pagar warna hitam nah itu rumah saya
0831xxxxxxxx
Oh yang itu yaudah makasih cantik sampai ketemu nanti malam dandan yang cantik yah oh iya jangan lupa save nomer ku juga😁
Zahra pun tidak membalasnya lagi baru saja ia ingin ke kamar mandi tapi ada sebuah pesan lagi kemudian ia membukanya
0857xxxxxxxx
Assalamu'alaikum
Zahra
Wa'alaikumussalam siapa yah?
0857xxxxxxxx
Ini saya Vino bos kamu
Save nomer saya yah?
Zahra
Iya
Es batu
Ok
"Kenapa sih dia berdua minta save nomer teleponnya aku gak boleh menyukai salah satu diantara mereka nanti yang ada persahabatan mereka hancur cuma karena cinta" Zahra berbicara sendirian langsung saja menatuh handphonenya di atas meja kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya
Malam ini Raka menjemput Zahra dirumahnya sampai didepan ruamhnya dia deg-degan karena menurut dia itu harus ketemu camernya (calon mertuanya) kemudian mengetuk pintu rumah Zahra dengan pelan-pelan dia grogi banget kayanya mah
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam" keluarlah seorang perempuan agak muda dengan pakaian gamis dan jilbabnya yang panjang itu yang ada dihadapan Raka
"Pantesan Mamahnya aja cantik apa lagi anaknya lebih cantik" gumam Raka
"Hey nak mau cari siapa" bundanya Zahra melambaikan tangannya di hadapan Raka
"Hmm... Saya mau cari Zahra Tante pasti Tante mamahnya Zahra yah" tanya Raka dengan mencium tangan bundanya Zahra tapi bundanya malah menangkupkan tangannya didadanya
"Iya saya bundanya ada apa yah" tanya bundanya Zahra
"Saya mau jemput Zahra Tante sebenarnya kita udah janjian tadi di kantor kok" jawab Raka dengan tersenyum
"Iya saya sudah tau katanya dia sama bosnya juga dan anaknya terus mana bosnya dan anaknya itu" kata bundanya yang celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri
"Kalo udah tau kenapa nanya coba" gumam Raka
"nanti bosnya langsung ke sana Tante nunggunya sama anaknya juga" Raka pun melihat Zahra yang menggunakan gamis dan jilbab nya
"Masya Allah Cantik" Raka kagum dengan pesona Zahra
"Anak bunda emang cantik dari dulu siapa dulu bundanya dong" dengan bangganya bundanya itu
"Ayo katanya mau berangkat" ajak Zahra
"Tante aku izin bawa anak Tante dulu yah nanti dikembalikan kok tenang saja saya kembalikannya dengan aman kok gak sampai lecet" kami pun tertawa bersama
"Aku pamit Bun tadi aku udah salim sama ayah didalam" Zahra mencium tangan bundanya dan masuk ke dalam mobil Raka sampai di cafe kita menunggu Vino dulu disini kemudian vino pun datang dia kaget jika rak juga bersama Zahra dan Zahra pun kaget kedatangan vino dia tidak tau jika bosnya juga ikut bersama kita
"Bunda" panggil anak kecil itu yang dibawa oleh vino langsung memeluk Zahra dia kaget anak kecil itu langsung memeluknya
"Bunda" Zahra kaget mendengar anak kecil itu memanggilnya bunda
"Vani dia itu bukan bunda kamu" kata vino yang mendekati anaknya itu yang sedang memeluk Zahra dan mencoba melepaskannya tapi Vani memberontaknya
"Vani" bentak vino kemudian Vani pun terdiam dan mengeratkan pelukannya itu
"Udah gapapa pak kasihan dia mungkin dia kangen bundanya" lirih Zahra dengan mengusap kepala anak kecil itu
"Bunda kemana aja aku kangen sama bunda" ujar anak kecil itu dengan tangisannya
"Gak kok bunda gak kemana-mana bunda ada disamping kamu kok" Zahra menenangkan anak kecil itu
"Bunda ayo kita pulang kita main bareng-bareng lagi sama ayah" bujuk Vani dengan memegang tangan Zahra
"Rak lu bawa Vani dulu gw mau bicara sama Zahra penting menyangkut masalah Vani gw gak akan mengambil Zahra tenang aja" bisik vino dengan Raka kemudian Vani pun diajak main sama Raka tadinya dia menolak
"Vani sama om dulu yuk bunda sama ayah mau bicara dulu" bujuk Raka lalu Vani pun menggeleng terpaksa jika Zahra harus membujuknya lagi
"Sayang kamu sama om Raka dulu yah bunda mau bicara sama ayah dulu" rayu Zahra dengan mencium anak kecil itu
"Tapi bunda gak akan ninggalin vani lagi kan" tanya Vani dengan mengalirkan air matanya itu
"Gak kok jangan nangis yah bunda sedih liat kamu nangis" Zahra menghapuskan air mata Vani dengan kedua tangannya lalu Vani pun mengangguk dan pergi main bersama Raka
Dan disini kami tinggal berdua yaitu Vino dan Zahra yang masih suasan hening
"Maaf yah tadi Vani sebut kamu bunda" maaf vino
"Ya gapapa kalo boleh tau kenapa Vani sebut saya bunda pak" tanya Zahra
"Karena kamu mirip dengan bundanya Vani" jawab vino
"Memangnya bundanya Vani Kemana" kata Zahra
"Bundanya Vani sudah meninggal bersama Ayahnya"
"Ayahnya? bukannya bapak ayahnya Vani yah"
"Bukanlah saya masih jomblo saya belum pernah menikah sama sekali" vino hanya tertawa mendengar ucapan Zahra
"Maaf pak saya tidak tau" lirih Zahra dengan menundukkan kepalanya
"Gapapa ok saya lanjutkan orang tuanya Vani meninggal karena kecelakaan pesawat bundanya Vani itu Tante saya jadi Vani adalah keponakan saya" jelas vino
"Terus kenapa Vani memanggil bapak ayah" tanya Zahra
"Karena saya sudah menganggap dia anak saya walaupun bukan darah daging saya sendiri tapi saya sayang sama dia waktu itu kekasih saya tidak suka dengan Vani karena menurut dia Vani itu menyusahkan saja dan akhirnya saya putuskan kekasih saya karena dia hanya memanfaatkan harta saya saja tapi ketika Vani bertemu kamu dia senang melihat kamu dan kamu pun baik penyayang anak kecil menurut saya" jawab vino yang sedang menceritakan masa lalunya