Contoh Sinopsis Novel Negeri 5 Menara
Novel Negeri 5 Menara menceritakan seorang pria bernama Alif yang lahir di pinggir Danau Maninjau. Namun, semasa hidupnya ia tak pernah sekalipun menginjakkan kakinya keluar dari Minangkabau.
Hingga suatu saat Alif haru pergi dengan naik bus selama tiga hari tiga malam melintasi Sumatra dan Jawa menuju sebuah desa. Hal itu ia tempuh untuk mewujudkan keinginan ibunya untuk menjadi Buya Hamka, meskipun Alif sendiri ingin menjadi Habibie.
Menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie.
Melalui berbagai proses yang tak mudah, nyatanya membuat Alif mendapatkan kawan dari berbagai ujun dunia. Mulai dari Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk.
Contoh Sinopsis Novel To Kill a Mockingbird
Jean Louise "Scout" Finch adalah seorang anak kecil yang hidup di Alabama selama era kejahatan dan diskriminasi rasial.
Ayahnya, Atticus Finch, adalah seorang pengacara yang berjuang untuk keadilan dan melindungi seorang pria kulit hitam yang dituduh melakukan pemerkosaan. Cerita ini mengajarkan tentang kebaikan, keadilan, dan toleransi.
Contoh Sinopsis Novel Ayat-ayat Cinta
Ayat-ayat Cinta menceritakan tentang Fahri, seorang mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Al Azhar Cairo, Mesir. Dia menyewa kos di rumah susun, sedangkan kamar sebelah milik penganut Kristen Koptik taat bernama Tuan Brotus, Madam Naheed, dan Maria.
Fahri merupakan sosok mengagumkan sehingga membuat Maria diam-diam jatuh cinta padanya. Sementara itu, Fahri menerima tawaran untuk melakukan ta'aruf dengan Aisha, seorang gadis bercadar keturunan Jerman-Turki.
Setelah menikah dengan Aisha, Fahri tiba-tiba ditangkap karena tuduhan merenggut kegadisan Noura, wanita yang sebelumnya pernah dia tolong. Hanya Maria saksi kunci bahwa Fahri tidak bersalah atas Naora.
Maria ternyata menyembunyikan penyakit yang sudah diderita bertahun-tahun. Maria sangat mencintai Fahri sehingga terus menyebut namanya dalam koma.
Akhirnya Aisha merelakan Fahri menikahi Maria agar dapat bertahan hidup. Sebelum akad, Maria masuk Islam dengan bimbingan Fahri. Dia ingin diajarkan salat berjamaah oleh Fahri dan Aisha. Fahri akhirnya menikahi Maria ketika sedang sekarat, setelah akad Maria meninggal dunia.
Baca artikel detiksulsel, "10 Contoh Sinopsis Novel yang Singkat dan Bikin Penasaran" selengkapnya https://www.detik.com/sulsel/berita/d-6989060/10-contoh-sinopsis-novel-yang-singkat-dan-bikin-penasaran.
Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
“Silahkan duduk,” ujar pria itu, dinilai Dita cukup ramah.
“Terima kasih pak.” Dita berjalan menuju tempat duduk yang sudah disediakan.
“Cariin gue asisten yang kompeten, awas lu salah rekrut!”
Seorang pria baru saja keluar dari sebuah ruangan dengan kepala menunduk. Matanya memicing menatap punggung wanita di depannya yang tampak tidak asing.
“Gila, suara itu.” Mata Dita melotot.
Perlahan dia memejamkan matanya kuat-kuat. Dita jelas-jelas mengenali suara itu. Bernapas saja rasanya dia tidak berani.
Pria bertangan kekar itu perlahan berjalan ke samping karyawannya sembari merapikan lengan kemejanya. Dia penasaran dengan sosok bertubuh mungil yang sejak tadi bergeming tidak bergerak sedikit pun.
“Biar gue, minggir sana!” usir pria bertubuh jangkung itu sambil menendang pelan kursi milik karyawannya.
“Mau ngapain lu?” tanya karyawan kurang ajar yang sialnya adalah adik kandungnya sendiri.
“Biar gue.” Kesal menunggu lama, dia menarik kerah baju adiknya lalu menggantikannya.
Dia terdiam, tidak mengatakan apa pun tapi matanya terus menghunus tajam menatap wanita yang kini menunduk.
“Elah, biarin gue ngejalanin tugas. Lagi pula lu tau apa masalah ginian.” Dimas menggeram ikutan kesal. Kakaknya ini memang rada-rada suka seenaknya.
Tidak ada tanggapan apa pun dari yang bersangkutan. Dia masih sibuk menelisik wajah wanita di depannya.
“Kamu yang di toilet tadi?” todong Raga sambil menyandarkan punggungnya sambil bersedekap.
Dita menelan ludahnya susah payah. Dia bisa saja mengangkat dagunya dan berteriak bahwa apa yang dia lakukan memang reaksi wajar wanita yang melihat pria berada di toilet wanita. Hanya saja, jika dia melakukannya berarti dia harus bersiap-siap untuk kehilangan kesempatan bekerja di sini.
“Sialan, gue harus menyamar jadi penjilat.” Dita membatin namun tanpa dia sadari jika wajahnya menggambarkan ekspresi malas.
“Lihatlah wanita kecil ini, berani-beraninya dia menampilkan ekspresi seperti ini.” Raga berdecak malas.
“Tidak pak, mana berani saya berlaku tidak sopan di depan orang terhormat seperti anda.” Wanita itu cengengesan. Sudah diputuskan, dia akan berlaku menjijikkan. Mana tahu berhasil jika lewat jalur seperti ini.
“Dan kamu, berani-beraninya berteriak banci pada orang terhormat ini?” tantang Raga dengan angkuh.
Kini bukan hanya Dita saja yang memutar bola matanya dengan malas, Dimas yang sejak tadi berdiri di dekat meja juga ikut memutar bola matanya malas sambil mendengus kesal.
“Udah deh bang, ini tuh cuma tahap pengumpulan berkas. Kalau mau ngobrol-ngobrol nanti aja, pas tahap interview.” Dimas mulai malas dengan tingkah Raga.
Raga mendongak dan berbalik menatap tajam pada Dimas. Berani-beraninya dia mengganggu kegiatannya.
“Biar gue yang tanganin.” Raga kembali menatap wanita di depannya.
“Lu mana tahu bang urusan yang kayak gini, udah jadi bos aja sana. Gak usah merangkap jadi HRD segala.” Jika saja tidak mengingat kakaknya adalah manusia paling tempramental yang pernah dia kenal maka sudah dipastikan Dimas akan menghajarnya.
Merasa diremehkan, darah Raga mulai mendidih.
“Kamu tidak saya terima bekerja di sini! Jadi pulanglah!” sentak Raga membuat Dita meringis.
Wanita itu perlahan berdiri dari tempat duduknya. Berjalan menjauh dari sana sebelum melemparkan senyum manis ke arah Dimas sebagai ucapan terima kasih.
“Oh iya, sebelumnya. Gue mau bilang, kalau gak peduli anda bos atau rakyat jelata, orang kaya atau gembel. Gak ngubah fakta kalau masuk di toilet wanita itu salah. Dasar penguntit mesum!” tohok Dita membuat mata Raga membeliak.
Dita tersenyum puas sambil melambaikan tangannya. Dia tidak butuh, perusahaan ini yah dan mungkin perusahaan ini juga tidak membutuhkannya tapi membayangkan punya atasan seperti pria setengah gila di depannya saja sudah membuat dirinya stress.
Dimas membekap mulutnya menahan tawa yang sebentar lagi akan meledak. Baru kali ini ada wanita yang berani memperlakukan pria arogan di depannya ini dengan tidak baik.
“Wow, gue suka gaya lu mbak!” heboh Dimas.
Baru kali ini dia melihat seorang Raga bungkam seperti ini. Dia harus merekrut wanita itu, jika tidak bisa lolos menjadi asisten maka dia akan mengangkat wanita itu menjadi anggota timnya dalam menistakan Raga.
“Menarik,” gumam Raga dengan senyum liciknya. “Rekrut dia.”
“Elah, kita gak mungkin asal rekrut kali bang. Udah deh bang, orang kayak lu mana ngerti masalah gini. Udah serahin ke gue, yang ahli psikologi.”
Raga mendengus malas mendengar omong kosong Dimas. Dia beranjak dari kursi saat melihat peserta yang lain kembali masuk ke dalam ruangan.
“Anak magang doang tapi songong banget. Kelarin kuliah lu baru boleh ngomong gitu.” Raga berjalan keluar dari ruangan usai melontarkan kata-kata tajam untuk Dimas.
“Songong benar jadi abang,” gumam Dimas sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Di sebuah warung kaki lima ada seorang wanita yang duduk dengan wajah kusutnya. Dia mengusap berkali-kali wajahnya sembari menghela napas berat.
“Sendiri aja neng,” goda abang-abang yang tidak dipedulikan sama sekali. “Sombong amat neng.” Lanjutnya.
Dita menghela napas berat. Pikirannya sedang kusut, dan ada-ada saja manusia yang menambah buruk harinya.
“Belum juga mulai udah diusir aja,” gumamnya.
Sekali lagi dia menghela napas berat sebelum kembali menyesap es jeruk nya. Lumayan menyegarkan ketimbang melihat wajah abang-abang sok kecakepan di sampingnya.
“Oi Dit!” teriak Diana.
“Heran deh sama nih orang, hobinya teriak-teriak mulu,” gumam Dita sambil memandang Diana yang berjalan menghampirinya.
“Gimana?” tanya wanita yang baru saja mendudukkan bokongnya di kursi.
Bukannya menjawab, Dita justru mendengus malas. Moodnya hari ini benar-benar hancur berantakan.
“Eh temannya si Neng datang.” Pria yang sejak tadi nimbrung itu kembali sok akrab.
“Apa sih pak!” semprot Diana.
Jika Dita lebih memilih untuk mengabaikannya maka Diana tidak tunggu lama untuk bereaksi bagai singa betina.
“Orang lagi sumpek malah digangguin.” Lanjut Diana.
Beberapa saat kemudian suasana hening mengambil alih, tidak ada lagi cuitan dari meja seberang.
“Gue diusir,” ucap Dita memecah keheningan.
“Udah gue duga,” balas Diana dengan senyum kecut. “Tuh manusia modelan setan, mana mungkin dia biarin lu lolos gitu aja.” Lanjut Diana.
Dita hanya mengedikkan bahunya saja. “Yah udah sih, baru juga kumpul berkas. Masih banyak perusahaan yang lain.”
Mendengar itu, Diana menganggukkan kepalanya setuju.
“Iya, lagipula lu baru beberapa hari nyebar lamaran. Sebar aja sebanyak-banyaknya.” Saran yang sangat berguna untuk Dita yang langsung mendengus malas.
Hilang sudah harapan keduanya untuk bekerja di gedung yang sama. Semua karena tingkah random pimpinan perusahaan tempat Diana bekerja.
“Gue balik dulu kalau gitu, lu masih harus balik kerja kan?” tanya Dita sambil perlahan bangkit dari kursi setelah berhasil menandaskan es jeruknya.
“Iya.”
“Gue titip salam sama bos lu.”
Diana mendongak, “Apaan?”
“Pak yu!” ucap Dita membuat Diana sukses tersedak ludahnya sendiri.
“Gila lu yah!” teriak Diana mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya.
Dita sedang asik rebahan di atas kasur yang tidak seberapa luas itu, dia merasakan tubuhnya pegal-pegal belakangan ini meski sebenarnya dia tidak melakukan apa-apa.
Terhitung sudah beberapa hari sejak kejadian di perusahaan tempat Diana bekerja. Usai perkara itu, dia jadi sedikit kehilangan minatnya untuk mencari kerja.
“Elah siapa lagi sih?” gumamnya saat mendengar suara dering ponsel miliknya.
Melihat nama sahabatnya terpampang di sana, dia memilih untuk mengabaikannya. Sepertinya dia sedang memasuki fase malas diganggu.
Ponselnya kembali berdering keras, mau tidak mau dia bangkit dari posisi rebahannya lalu meraih benda yang sejak tadi menimbulkan suara itu.
Kali ini bukan nama Diana yang terpampang di sana. Alisnya sontak mengernyit bingung, ini siapa begitu pikirnya.
“Halo,” sapa Dita dengan suara sopan.
“Dengan Mba Pramidita Candramaya?”
Alis Dita semakin berkerut mendengar suara pria yang menghubunginya. Terlalu formal, tidak biasanya ada manusia yang berbicara seformal ini dengannya.
“Iya dengan saya sendiri, maaf ini siapa yah?” tanya balik Dita cukup penasaran.
“Saya Dimas mbak, HRD dari perusahaan Budiman Corp ingin menginformasikan bahwa Mbak Pramidita Candramaya lolos ke tahap berikutnya. Dimohon kesediaannya untuk mengikuti interview besok. Nanti akan saya kirimkan jadwal dan persyaratan lengkapnya.” Pria di seberang sana menjelaskan dengan begitu hati-hati.
Bukannya segera merespon, Dita justru terbengong. Merasa bingung dan linglung dengan apa yang baru saja di dengarnya.
“Perusahaan Budiman, Budiman, emang gue pernah daftar di perusahaan itu yah? Perusahaan Budiman yang mana sih, gue lupa astaga.” Dita terus membatin. Saking banyaknya perusahaan tempatnya melamar, dia sampai lupa.
“Mbak?” panggil Dimas membuat Dita langsung tersadar.
“Eh iya pak, terima kasih atas informasinya. Saya senang sekali mendengar kabar baik dari anda.”
Setelah itu, panggilan berakhir, menyisakan Dita yang masih dirundung kebingungan. Untuk masalah kecerdasan, Dita memiliki kemampuan di atas rata-rata, namun untuk masalah ingat mengingat dia sangat payah.
“Perusahaan Budiman, Budiman.” Dia kembali mengingat-ingat.
Matanya langsung membola sesaat setelah sekelabat ingatan muncul di kepalanya.
“Gila sih, masa. Yang benar. Perusahaan itu kan yah.”
Tangannya kembali memencet layar ponsel, mencari nama Diana dan segera menghubunginya.
“Halo! Dari mana aja lu! Gue telponin dari tadi malah gak dijawab-jawab. Udah ngerasa sepenting presiden lu?” Angkat Diana di dering pertama. Sepertinya sudah menunggu sejak tadi kabar dari sahabatnya.
Dita memutar bola matanya dengan malas. “Gak usah ngomel dulu, gue mau nanya nih.”
Terdengar helaan napas dari seberang sana, sepertinya Diana sedang berusaha mengendalikan emosi menghadapi sahabatnya yang super santai ini.
“Mau nanya apa? Gak usah nanyain yang susah-susah, gue malas mikir.”
“Perusahaan Budiman Corp itu, perusahaan tempat lu kerja kan?” tanya Dita yakin.
“Ngapain lu nanyain itu?” terbesit nada curiga dari cara Diana bertanya.
Kali ini giliran Dita menghela napas. Apa tidak bisa dipermudah saja, kenapa harus berbelit-belit seperti ini.
“Yah jawab aja sih,” kesal Dita.
Terdengar suara kekehan dari Diana. “Iya, perusahaan tempat gue bekerja itu Budiman Corp.”
“Oh My ....” Dita memekik kaget.
Meski sebelumnya dia juga sudah menebak, tapi tetap saja dia merasa kaget. Tidak menyangka. Sungguh, ini kejutan paling luar biasa tahun ini.
“Kenapa sih?”
“Gue tadi dihubungin sama HRD lu, katanya lolos ke tahap berikutnya. Besok di suruh interview.” Dita tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya.
“Demi apa lu!” Diana ikut memekik tidak percaya.
Padahal baru tahap interview tapi mereka berdua sudah segirang ini, maklum saja sih perusahaan itu merupakan salah satu perusahaan incaran banyak orang karena gajinya yang menggiurkan.
“Iya gue seriusan.”
“Bukannya kemarin lu cerita kalau diusir pak Raga?” bingung Diana.
“Lah emang diusir. Gak tau juga sih gue, intinya besok gue mau interview. Doain gue biar lancar. Capek banget loh cari-cari kerja.” Dita menggantungkan banyak harapan saat ini.
Mereka mengakhiri percakapan lewat telpon, Dita bergerak bangkit dari kasur. Kali ini dia sudah cukup semangat untuk kembali menjalani kehidupannya.
***
Dita berdiri dengan gugup. Beberapa hari lalu dia juga berdiri di depan ruangan ini tapi dengan perasaan yang tidak segugup ini.
“Selanjutnya,” ujar wanita yang baru saja keluar dengan wajah lesunya.
Melihat ekspresi wanita itu membuat Dita menelan ludahnya dengan susah payah. Kini gilirannya yang masuk ke dalam ruangan di depannya.
“Bismillah lulus,” bisiknya pada diri sendiri.
Yang pertama dilihat oleh Dita saat membuka pintu adalah dua sosok pria yang duduk saling bersisian. Sekali lagi dia berusaha meredakan rasa gugupnya dengan menelan air ludahnya.
“Gila sih, mukanya kenapa pada cakep-cakep semua sih,” gumamnya melamun.
“Mau sampai kapan kamu melamun seperti orang bodoh di situ!” sentak suara yang membuat Dita terkaget.
Wajah yang tadi tampak melongo berganti pucat, dia berjalan masuk sambil menatap bergantian kedua wajah pria di depannya. Mencoba untuk mencari tahu yang manakah pemilik suara yang hampir membuat jantungnya copot.
“Pasti si bos banci ini,” batinnya sambil mendengus malas melihat wajah songong dan angkuh pria di depannya.
“Ada apa dengan ekspresi itu?” tanya Raga lagi.
Dimas yang duduk di samping Raga lagi-lagi hanya berusaha membekap mulutnya menahan tawa. Dia sudah sangat cocok dengan kandidat di depannya, hanya saja dia perlu melihat bagaimana kemampuan Dita.
Dita hanya cengengesan, maunya sih ikut menyentak tapi apa mau di kata, dia butuh pekerjaan dan sialnya pria arogan di depannya adalah sang penguasa di sini.
“Silahkan duduk!” pinta Dimas dengan senyum manis.
“Ya Tuhan manis banget,” batin Dita terpukau melihat senyum manis Dimas. “Kalau yang satu juga ganteng pol sih tapi yah mines akhlak aja.” Lanjutnya tentu saja masih membatin sembari melirik sekilas pada wajah Raga.
“Ada apa di wajah saya?” tanya Raga sensi. “Sudah sana keluar, lagi pula kenapa bisa kamu sampai ikut interview begini?” sinisnya menatap Dita lalu beralih menatap Dimas yang hanya cengengesan sambil mengacungkan jempolnya.
Sebenarnya Dimas tertarik setelah membaca CV milik Dita, jadi bukan semata-mata karena dia menginginkan Dita menjadi partnernya menyiksa Raga.
Dita yang mendengar itu hanya mampu meringis tidak enak. Mungkin memang dia yang terlalu tidak sopan.
“Maaf pak,” cicit Dita menimbulkan senyum puas di bibir Raga yang merasa berhasil menundukkan wanita menyebalkan di depannya.
“Menarik,” ujar Raga dengan senyum miring andalannya.
“Hah?” bingung Dimas yang samar-samar mendengar Raga mengatakan sesuatu. “Lu ngomong apa bang?”
Raga hanya diam, tidak menggubris sama sekali ucapan Dimas. Mata tajamnya fokus menatap wanita yang juga tampak berani membalas tatapannya. Baru kali ini dia bertemu wanita yang berani terang-terangan memutar bola mata malas di depannya.
“Menarik,” ujarnya lagi masih dengan senyum liciknya.