"Leooooo ... k-kamu!”
Viola membelalakkan matanya tidak percaya akan apa yang sedang dilihatnya saat ini. Kekasih yang ia cintai setahun belakangan sedang bercinta dengan wanita lain.
Leo terkejut bukan main melihat Viola memergoki dirinya sedang bercinta dengan Selly. Ia tidak menduga Vio akan ke apartemennya.
"V-viola, i-ini ...” Leo tergagap. Belum sempat berkata apa-apa, tiba-tiba sebuah
tamparan telah melayang di pipinya.
"Apa-apaan ini, Leo? Kenapa kau menghianatiku?” jerit Vio sambil memukul-mukul dada Leo.
Sementara Selly buru-buru memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai.
"Viola, dengarkan dulu penjelasanku!" jawab
Leo disela-sela pukulan yang dilayangkan Viola di dadanya.
Viola yang sedang emosi, tidak mau mendengarkan penjelasan Leo. Ia terus saja melampiaskan kekesalannya pada kekasihnya itu.
Selly yang telah berhasil memakai pakaiannya kembali, dengan santainya berjalan mendekati
Leo yang sibuk menenangkan Vio.
"Apa-apaan ini, Honey? Siapa dia sebenarnya?” tanya Selly sambil menunjuk Vio yang masih
mengamuk.
Belum sempat Leo menjawab pertanyaan selingkuhannya itu, Viola langsung menarik rambut wanita itu dan menjambaknya dengan keras. Dirinya benar-benar emosi melihat
wanita tidak tahu diri itu.
"Aku kekasih Leo, kalau kamu mau tau? Dasar jalang sialan!”
Vio terus menjambak rambut Selly untuk melampiaskan amarahnya. Sebenarnya ia ingin
menangis, tapi harga dirinya terlalu tinggi, hingga ia melakukan hal impulsif, yaitu memukul jalang tersebut untuk melampiaskan emosinya.
"Lepaskan aku, wanita sialan! Lepaskan rambutku! Honey, tolong aku!" Selly berteriak
histeris karena kesakitan.
Sementara Vio yang sangat marah dan sakit hati, tak menghiraukan teriakan wanita itu lagi. Gadis itu terus saja menarik rambut dan memukul wanita pelakor perebut kekasihnya
itu.
"Lepaskan dia, Vio! Kamu ini apa-apaan, sih? Barbar sekali kamu!"
Leo yang sudah berhasil memakai boxer-nya kembali, berusaha melerai Vio dan teman
kencannya tersebut.
"Apa? Barbar katamu?”
Tangan Vio pun akhirnya kembali mendarat di pipi Leo. Sungguh dirinya tidak percaya, Leo malah membela wanita itu daripada dirinya. Dia bahkan tega menyebut dirinya bar-bar.
Wanita mana yang tidak akan marah jika berada di posisinya sekarang?
"Kamu bilang aku barbar. Lalu ini apa, hah? Kamu tega menghianatiku, Leo. Kamu
sungguh jahat, teganya kamu melakukan ini padaku," mata Vio pun memerah,
sekuat tenaga ia menahan tangisnya agar tidak pecah di hadapan lelaki berengsek
itu.
Sungguh ia tidak menyangka, orang yang ia kasihi dan selalu perhatian serta menyayanginya setahun belakangan, tega-teganya tidur dengan wanita lain. Yang membuatnya tambah emosi adalah melihat raut wajah kekasihnya yang tampaknya sama sekali
tidak merasa bersalah terhadapnya.
Leo yang tersulut emosi karena ditampar Vio, akhirnya menjawab dengan lantangnya. “Tega
katamu? Ya, aku tega, Vio. Apa yang kudapatkan darimu selama setahun ini selain
ciuman dan pelukan, hah? Aku ini lelaki normal, Vio. Kebutuhanku juga harus disalurkan. Kamu tidak pernah mau kuajak tidur selama ini, kan? Jangan salahkan aku mencari pelampiasan!" jawab Leo tak mau kalah.
Vio sungguh panas hati mendengar ucapan Leo. Jadi selama ini, hanya tubuhnya yang diinginkan Leo, bukan cinta suci seperti yang ia rasakan pada Leo selama ini.
"Dasar berengsek!” Viola menampar Leo sekali lagi dengan keras. "Aku
bukannya tidak mau tidur denganmu. Aku hanya ingin mempersembahkan kehormatanku untuk suamiku kelak. Kalau kau menginginkanku, kau bisa menikahiku, bukan tidur
dengan jalang ini,” jawab Vio menahan tangisnya.
"Cih,
mimpi kamu! Aku masih ingin bebas, Vio. Kamu terlalu tinggi menilai dirimu,” ejek Leo sinis sambil berjalan mendekati selingkuhannya, kemudian memeluknya mesra di depan mata Vio.
"Mending
kamu pulang saja sana! Gangguin orang aja,” cibir Selly sinis mengejek Viola sambil bergelayut mesra di pelukan Leo.
Dengan geram Viola berlari mendekati Leo, menendang pangkal pahanya lalu mendorong wanita itu. Sungguh hatinya begitu panas mendengar ucapan Leo dan jalangnya itu.
"Berengsek kamu!” jerit Leo kesakitan sambil memegangi pangkal pahanya.
"Kalian yang berengsek? Mulai sekarang kita putus ....”
Vio bergegas meninggalkan tempat laknat itu. Ia terus berlari meninggalkan apartemen mantan kekasihnya dengan air mata yang sudah tidak dapat dibendung lagi. Ia masuk ke
dalam mobilnya lalu menangis sekencang-kencangnya di sana. Sungguh hari ini terasa bagai mimpi buruk baginya.
Niatnya untuk merayakan anniversary satu tahun hubungannya bersama Leo, kini kandas
tak berbekas. Betapa teganya Leo mengkhianatinya. Apa salahnya selama ini? Ia
sudah berusaha menjadi kekasih yang baik untuk Leo.
“Leo sialan! Leo berengsek!” umpatnya disela-sela isak tangisnya.
"Bahkan
dia tidak mengejarku. Dia lebih memilih jalang itu. Dasar kurang ajar!” tangis
Vio pun semakin deras.
Butuh keberanian besar bagi seorang wanita ketika mendapati kekasihnya selingkuh
untuk terlihat tetap tegar seperti Vio. Setidaknya di depan dua manusia jahat itu, Vio berusaha terlihat tegar, walaupun sebenarnya ia sedih dan sakit hati.
Ia hanya tidak mau terlihat lemah di mata orang lain. Ia akan selalu
menampakkan sisi garangnya untuk melindungi dirinya dan hatinya dari kejamnya manusia di sekelilingnya. Setelah puas meluapkan kesedihannya. Ia pun melajukan kendaraannya menuju kafe Romero milik temannya yang bernama Tommy untuk
melupakan kesedihannya.
"Minta minuman yang dingin dan segar, Tom!" Vio menyeka air matanya sambil memesan minuman pada sahabat karibnya.
"Kenapa lo nangis, Vio? Lo ada masalah?" tanya Tommy mendekati Vio, lalu menepuk-nepuk punggungnya pelan, menenangkan sahabatnya.
Nora yang juga merupakan sahabat Vio, datang membawa minuman dingin menghampiri meja Vio.
"Nih, diminum dulu! Ada apa? Kok nangis, sih? Pagi tadi ceria banget mau ngerayain anniversary sampai gak pamit lagi,” tanya Nora penasaran. Nora heran melihat Vio yang
selalu ceria, tiba-tiba menangis seperti ini. Ada apa gerangan?
"Leo menghianatiku. Dia tidur dengan wanita lain di apartemennya,” ucap Vio sembari
menyeka air matanya. Air mata yang hanya bisa dilihat Tommy dan Nora sahabat
karibnya.
"Berengsek si Leo!” Tommy mengepalkan tangannya geram mendengar curahan hati sahabatnya.
"Jahat banget, sih. Gue nggak nyangka kalo Leo bisa menghianati lo, Vio. Perhatiannya
selama ini begitu besar sama lo. Malah kita aja sebagai sahabat lo, nggak kebagian waktu karena direbut sama pacar lo itu. Dasar buaya kurang ajar!” geram Nora ikutan kesal.
"Iya, gue aja nggak nyangka jadi begini. Tadinya gue pengen ngasih kejutan buat dia, karena
hari ini first anniversary kami. Gue diam-diam ke apartemennya. Namun, akhirnya bukan dia yg terkejut, tapi gue sendiri yang terkejut jadinya,
Ra," lanjut Vio masih menyeka air matanya yang masih terus mengalir.
"Sudah, lupain aja cowok itu, Vio! Sayang banget air mata lo dibuang-buang buat cowok
berengsek macem dia. Lo yang tegar, ya, Vio!" Kedua sahabat Vio berusaha menenangkan.
"Makasih, ya. Kalian selalu ada buat gue saat senang atau pun susah. Jujur, gue benar-benar kecewa. Gue ga nyangka dia bisa tega sama gue. Selama setahun bersamanya, dia selalu memberikan kasih sayang dan perhatiannya hingga gue benar-benar merasa dicintai. Gue malah anggap dia cowok paling sempurna. Ternyata, gue salah. Cinta yang tulus bagi pria itu tidak ada, yang ada cuman nafsu.”
"Suatu saat, lo pasti nemuin cowok lain yang tulus, Vio,” hibur Tommy tulus.
“Nggak, Tom. Gue nggak bakal percaya lagi sama cowok. Cowok semuanya berengsek,” ucap Vio penuh dendam.
Ia bertekad dalam hatinya, tak akan mempercayai laki-laki lagi. Ia tak ingin dikhianati
lagi. Sakit, perihnya ketika kekasih hati bercinta dengan wanita lain akan ia bawa sampai mati. Laki-laki semuanya bajingan.
Tommy dan Nora saling berpandangan dalam diam. Tak ada gunanya menasehati Vio sekarang. Wanita itu sedang terluka. Hanya waktu yang bisa menyembuhkan lukanya.
“Ya, udah, jangan galau-galau lagi! Mendingan kita hang-out aja. Gimana?” ajak Nora
berusaha menghibur Vio.
Sementara di ujung meja sana, seorang lelaki mengamati interaksi Vio dan Tommy sambil
bergumam sendiri.
"Cantik, tapi bodoh. Menangis karena pria, dasar bodoh!" gumamnya dingin.
"Siapa yang bodoh, Bos?” tanya asisten Tio sambil celingak-celinguk melihat sekitar.
Namun Richard hanya berlalu tanpa menjawab apa-apa.
"Tinggal jawab doang apa susahnya, sih, Bos!” gumam Tio merasa kesal tidak ditanggapi bosnya. Tio pun menyusul Richard meninggalkan kafe Romero menuju kantornya.
Bersambung....
"Tio, bagaimana hasil meeting hari ini?” Richard mengetuk-ngetuk mejanya sambil menatap tajam asistennya.
Tio sama sekali tidak takut dengan mata tajam Richard. Ia sudah begitu memahami karakter bosnya sendiri. CEO Richard tidak pernah tersenyum bahkan di perusahaannya sendiri. Ia ingin menjaga wibawanya sebagai seorang CEO di perusahaannya. Wataknya yang keras dan pemarah, membuat tak satu karyawan pun, berani menatap wajahnya lama-lama.
Mereka masih sayang dengan pekerjaannya. Bukan tanpa alasan mereka begitu takut akan kemarahan Richard, karena apa pun bisa jadi masalah bila Richard mempermasalahkannya. Mereka lebih memilih menghindari bos moody dan pemarah macam Richard.
“Tadi sempat ada masalah dengan sekretaris Anna yang salah membawa dokumen saat meeting dengan rekan bisnis kita. Namun sudah saya selesaikan semuanya, Bos. Hasilnya cukup baik. Mereka akan mempertimbangkan kerja sama dengan perusahaan kita,” jawab Tio lugas dan tegas.
“Segera urus pemecatan sekretaris Anna dan buka lowongan sekretaris baru! Cari yg benar-benar pintar dan tidak ceroboh, Tio! Aku tidak suka sekretaris yang hanya modal cantik, tapi sangat bodoh dan ceroboh. Mengerti!" tegas Richard garang.
Tio membelalak tak percaya atasannya berkata demikian. ‘Pecat lagi, pecat lagi. Memang mudah apa merekrut karyawan?’ omel Tio dalam hati.
Tentu saja dalam hati. Mana berani Tio menyuarakan isi hatinya. Bisa ditendang dia dari perusahaan itu. Selama bekerja dengan Richard, Tio tahu betul sifat bosnya. Pria itu tidak mau dibantah. A tetap A, B tidak mungkin jadi C. Bila tidak suka dengan stafnya, maka dengan mudah dia memecatnya. Semua kekacauan di kantor itu, dirinyalah yang harus menyelesaikannya. Tio menggaruk-garuk kepalanya, pusing akan sifat bosnya.
"Kenapa? Tak suka? Atau kamu juga mau ikutan dipecat,” Richard sudah menaikkan nada suaranya sambil melotot ke arah asistennya.
Tio buru-buru menjawab. “Jangan, Bos! Saya akan laksanakan perintah, Bos,” jawab Tio ketakutan. “Permisi, Bos! Saya segera urus ke bagian HRD sekarang.”
Tio pun buru-buru keluar dari ruangan presdir sebelum bosnya marah-marah lagi. Mana tugas sekretaris, ia yang akan mengurusnya beberapa hari ke depan sampai dapat sekretaris baru.
Tio mendengus lelah. "Lembur lagi malam ini ngerjain tugas sekretaris,” gerutu Tio sambil melangkahkan kakinya ke ruang HRD.
"Sarah, segera buka lowongan sekretaris sekarang! Secepatnya cari pengganti sekretaris Anna!" titah Tio singkat.
"Baik, Pak,” jawab Sarah, staf bagian HRD. ‘Rekrut lagi aja terus sampai mampus. Tidak ada yang bakalan betah kalau modelan bos kayak gini. Sudah minta perfect, orangnya pemarah, moody dan kejam lagi. Bulan ini aja sudah empat sekretaris yang dia pecat. Gila! Semoga aku tabah hatiku menghadapi bos gila ini,' batin Sarah dalam hati.
***
Beberapa hari kemudian perekrutan sekretaris baru pun dibuka. Dalam dua hari sudah banyak yang melamar. Siapa yang tidak mau bekerja di W&R group. Gaji besar, perusahaan cabang dimana-mana, semua fasilitas disediakan dan dapat diakses dengan mudah. Kuncinya hanya smart dan patuh. Selagi dua hal itu terpenuhi dijamin kehidupan karyawan bakal sejahtera hingga pensiun.
Yang belum tahu isi perusahaan, tentu saja berlomba-lomba ingin bekerja di perusahaan itu, tapi bagi yang sudah masuk akan mulai merasakan neraka. Kenapa? karena sang atasan memiliki sikap moody, kasar dan kejam. Salah sekali saja, tidak akan ada peringatan, tapi akan langsung dipecat olehnya. CEO tampan itu jarang bicara, tapi ketika ia tidak menyukai sesuatu, ia akan langsung marah dan tak segan memecat bawahannya.
Vio sudah berada di W&R group sekarang. Ia memutuskan resign dari Hadinata group dan mulai melamar pekerjaan barunya di sini.
"Mudah-mudahan aku diterima di sini.” Vio berdoa dalam hati.
Semalam, Vio mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi penerimaan sekretaris baru di W&R group. Setelah putus dari Leo, Vio memutuskan untuk resign setelah bekerja dua tahun di perusahaan milik mantannya tersebut. Gadis itu tidak sanggup bertemu Leo lagi.
Vio sekarang berada di antara puluhan pelamar lainnya, bersiap untuk sesi interview langsung dengan CEO perusahaan.
"Viola Rosalia."
Nama Vio telah dipanggil. Vio pun beranjak masuk ke dalam ruangan CEO Richard.
"Dia...!" Richard terkejut namun tidak menampakkan raut wajah kagetnya. Poker face-nya selalu datar sehingga orang susah menebak apa mood bos besar itu.
"Dia gadis cengeng dan bodoh yang kulihat di kafe waktu itu, kan? Ngapain dia melamar ke sini, sih?" Richard bertanya dalam hati.
"Perkenalkan dirimu!" Richard memerintah Vio dengan sorot mata yang tegas dan tajam. Siapa pun akan terintimidasi oleh tatapan tajam sang CEO. Tak salah kalau pelamar yang keluar dari ruangan itu, mukanya akan berubah menjadi pucat pasi, saking takutnya.
"Selamat siang, nama saya Viola Rosa..."
Belum sempat melanjutkan perkenalannya, Richard sudah memerintah hal lain pada Viola.
"In English!" perintah Richard garang.
Vio membatin dalam hati. “Sabar-sabar.” Sambil tersenyum Viola mulai memperkenalkan dirinya dalam bahasa Inggris dengan lancar dan fasih.
"Thank you for inviting me to have interview today. My name is Viola Rosalia. I am 24 years old. I've been working as secretary for about two years at Hadinata group ....”
Sesaat, Richard terkesima melihat pembawaan Vio dalam sesi wawancara itu. Namun, ia kembali fokus untuk mencecar Vio dengan pertanyaan sulit lainnya.
Bahkan pertanyaan tak masuk akal seperti apakah wanita itu bisa masak, hobi berdandan, hobi berpakaian seksi, tipe penggoda dan pertanyaan absurd lainnya yang mungkin hanya di perusahaan ini ditanyakan langsung oleh CEO pada pelamarnya.
"Baiklah, kamu lolos, Nona. Namun, jangan bersenang hati dulu! Aku akan mengujimu selama seminggu. Jika dalam seminggu kamu bisa menjalaninya dengan baik, baru aku akan menerimamu menjadi sekretarisku. Mengerti!" tegas CEO Richard.
"Mengerti, Pak," jawab Viola sopan. Dalam hati Vio bersorak riang karena diberi kesempatan bekerja di perusahaan besar walaupun Vio sempat merasa heran dengan pertanyaan aneh dari CEO Richard. Untungnya Vio bisa menjawab semua pertanyaan dengan tenang. Vio berjanji dalam hati akan profesional menjalani tugasnya.
"Besok, mulailah bekerja! Tugas untuk besok, tanyakan saja ke asisten Tio!" titah Richard tegas sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan interview.
"Fuihhh, lega rasanya! Jantung ini mau copot rasanya melihat CEO Richard. Ganteng sih, tapi ampun! Mulutnya tajam dan galak sekali. Mudah-mudahan aku betah kerja sama dia," gumam Vio meninggalkan ruangan lalu mengikuti Richard ke ruangan Tio untuk mempersiapkan tugasnya besok.
"Tio, berikan desk job pada Viola beserta tata tertib yang harus dia penuhi ketika bekerja bersamaku!" ucap Richard sesampainya ia dan Vio di ruangan Tio.
"Baik, Bos,” jawab Tio menunduk hormat pada Richard lalu menatap gadis cantik yang sedang menatapnya, terlihat sedang menunggu job desk darinya. "Mudah-mudahan nona Viola betah kerja sama bos. Capek merekrut sekretaris mulu,” sambungnya dalam hati.
Sebenarnya Richard sedikit kagum akan jawaban-jawaban Viola dalam sesi interview tadi. Selama ini ketika wawancara, para pelamar biasanya akan sangat mudah terintimidasi dengan pertanyaan yang diajukan olehnya. Tak heran para peserta interview ada yang pucat, ada yang gagap dalam menjawab pertanyaan darinya.
Ada juga yang terang-terangan berusaha menggodanya selama wawancara berlangsung, yaitu dengan berpakaian ketat, mengedipkan mata, menjilat atau menggigit bibirnya berulang-ulang agar dirinya tergoda. Richard sangat benci tipe pelamar seperti itu. Tanpa banyak kata Richard akan mengusir keluar peserta genit itu dari ruangannya.
Namun, Viola berbeda. Aura kecantikan dan kepercayaan dirinya memancar ke mana-mana. Vio tidak tampak terintimidasi dan gugup selama sesi interview tadi. Viola begitu luwes menjelaskan dan menjawab pertanyaan darinya. Tidak ada sorot mata ketakutan dan menggoda di matanya. Sesaat Richard terkesima melihatnya.
‘Semoga dia tidak ceroboh dan melakukan hal bodoh perusahaanku.”
Sepeninggal Richard, Tio menyerahkan sebuah map dan meminta Vio untuk mempelajarinya di rumah dan bisa mulai bekerja keesokan harinya. Namun, betapa terkejutnya Vio saat membaca tata tertib perusahaan saat ia sedang melangkah keluar perusahaan.
Spontan, gadis cantik itu mengumpat geram sambil menatap gedung H&R group dengan tatapan kesal.
"Apa-apaan ini? Memang aku wanita penggoda apa? Bisa-bisanya dia membuat peraturan gila. Masa aku tak boleh menatap dan tersenyum padanya? Dasar bos sinting!"
Tak ada yang tidak mengetahui betapa tampan dan kayanya seorang Richard Lewis. Banyak wanita bermimpi ingin menjadi pendampingnya karena ketampanan dan kekayaannya. Namun, ia tidak memedulikan wanita mana pun yang mendekatinya. Semenjak ia ditinggal pergi oleh Luna, sahabatnya sejak masa kuliah, dirinya mendadak menjadi anti wanita.
Baginya wanita itu merepotkan. Bahkan, sempat beredar kabar kalau Richard adalah seorang Gay karena selalu berinteraksi dengan William dan Tio sepanjang waktu. Namun Richard tak memedulikan semua itu. Baginya, pekerjaan nomor satu. Dia tidak butuh wanita dalam hidupnya.
"Selamat pagi, Pak Richard," sapa Vio ramah sambil tersenyum. Hari ini Vio tampak begitu cantik dan elegan dalam balutan blazer coklat mudanya.
"Simpan senyumanmu itu! Kamu mau menggodaku, ya?" bentak Richard garang. "Bacakan jadwalku dari hari ini hingga seminggu ke depan?" lanjutnya ketus.
Sebenarnya waktu masuk tadi Richard sempat terpana melihat senyuman indah Vio. Namun, segera ditepisnya perasaan aneh itu. Ia mengalihkan keterpanaannya dengan ucapan ketusnya barusan.
“Dasar bos edan! Siapa juga yang mau menggoda kulkas macam dia. Sabar, Vio! Ingat gaji, Vio!” batin Vio menyabarkan hatinya.
"Maaf, Pak. Jadwal Anda hari ini ... jam 10.00 rapat dengan pemegang saham, jam 1.00 siang ada jadwal makan siang dengan klien dari Inggris, jadwal besok jam 9 meeting dengan klien dari Jepang..."
Vio terus membacakan jadwal Richard yang sudah dia hafalkan di luar kepala.
"Baik, segera bersiap, Sekretaris Viola!”
Richard memerintah Vio dengan tegas dan lugas tanpa senyum sedikit pun. Padahal dalam hatinya, Richard kagum akan kecerdasan Vio yang bisa mengingat jadwalnya seminggu ke depan.
’Boleh juga ingatannya,' puji Richard dalam hati.
Meeting pun berlangsung dengan baik dan lancar hingga akhirnya waktu makan siang pun tiba. Vio sengaja berkeliling kantor sekalian berkenalan dengan staf kantor lainnya. Tidak butuh waktu lama Vio langsung bisa berbaur dengan staf di sana. Mulutnya yang ceplas-ceplos, tapi suka bercanda, membuatnya cepat beradaptasi dengan yang lainnya. Terutama karyawan laki-laki yang begitu terpesona dengan kecantikan Vio.
"Perkenalkan, aku Ricky, manajer bagian keuangan. Salam kenal. Semoga betah ya kerja sama bos kita.”
Ricky terpesona akan kecantikan dan keluwesan Viola hingga tak sadar masih memegang tangan Viola ketika bersalaman tadi.
"Pak Ricky, tangan tolong dikondisikan, dong! Gantian, kita juga mau kenalan, nih” omel Dimas.
Dimas menepis tangan Ricky dari Viola lalu tersenyum manis pada gadis itu. "Aku Dimas, staf bagian administrasi. Selamat bergabung di perusahaan, Viola.”
Vio menyunggingkan senyuman indahnya. "Halo, salam kenal semua. Senang bisa kenalan sama kalian. Mohon bimbingannya, ya! Aku juga masih training di sini. Semoga aku bisa diterima kerja di sini.”
"Semoga diterima ya, Vio," kata Renny, staf bagian keuangan.
"Yang penting tahan banting aja sama kelakuan bos kita. Nurut aja! Dijamin aman, Vio," lanjut Sarah, staf HRD.
"Memangnya bos kita tegas banget, ya?" tanya Vio penasaran.
Ricky tersenyum sambil menatap lekat wajah Viola. "Ya, bos orangnya tegas, dingin, cenderung kejam, Vio. Namun, tak usah khawatir! Kalau ada kesulitan, tanya aja sama aku, aku siap bantu kapan pun kamu butuh," lanjut Ricky menggoda.
"Modus, ih, bapak!" kata Renny, Sarah dan Dimas kompak sambil tertawa lepas.
"Yang penting cekatan dan nurut aja, Vio. Dijamin aman, kok," lanjut mereka lagi.
Vio merasa senang, di hari pertama bekerja, ia sudah diterima dengan baik oleh rekan kerjanya. Makan siang di kantin pun berlanjut diiringi canda tawa mereka berempat.
"Viola, dipanggil Bos ke ruangannya, sekarang!” panggil Tio, memutus tawa riang gadis itu yang tengah asyik bercanda ria di kantin perusahaan.
"Baik, Pak,” jawab Viola sopan.
"Aku ke ruangan bos dulu, ya. Sampai nanti,” lambai Viola pada rekan-rekannya. Viola pun buru-buru menuju ruangan CEO Richard.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak," tanya Vio ramah dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya.
"Jangan tersenyum!" cecar Richard garang, tak mau melihat senyum menawan Vio.
‘Ampun! Senyum aja ga boleh?' jerit Vio dalam hati. "Baik, Pak.” Vio memilih menunduk saja, tak mau dibentak lagi.
"Segera reservasi restoran termahal untuk pertemuan dengan klien malam ini! Kamu juga ikut. Klien kita hari ini dari Amerika. Pastikan dia mau bekerja sama dengan kita! Ini kartu perusahaan, beli baju bagus yang pantas untuk dipakai malam ini. Pergilah sekarang!" perintah Richard lantang.
"Tapi, Pak. Jadwal malam ini, bukan dengan klien Amerika, tapi—"
"Tidak usah membantah!” sentak Richard lagi. Lama-lama pria itu kesal selalu dibantah calon sekretarisnya itu. “Meeting ini dadakan. Cancel saja pertemuan sebelumnya!" tegasnya dengan wajah datar dan tatapan tajamnya.
"Baik, Pak. Permisi!" jawab Viola ketakutan.
Lama-lama Vio bisa jantungan dibentak terus-terusan. Gadis itu heran, kenapa bosnya selalu saja marah-marah. Apa ada yang salah pada dirinya? Vio segera meninggalkan ruangan bosnya menuju butik dengan tanda tanya di hatinya.
"Ini kunci mobilnya, Viola. Pakai saja untuk pergi ke butik. Kamu bisa menyetir, kan?" tanya asisten Tio.
"Bisa, Pak. Kalau begitu saya permisi!" jawab Vio mengambil kunci dari Tio lalu bergegas menuju butik.
Sementara di ruangan CEO, William, sahabat Richard yang baru saja sampai, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya. "Marah-marah terus, cepat tua nanti," ledeknya.
"Kalo nggak ada urusan penting mendingan keluar deh?" usir Richard ketus.
"Santai, dong! Gue cuma mau lihat sekretaris baru lo. Cantik, ga? tanya William genit.
"Ga usah ganggu calon sekretaris gue! Urus saja pacar-pacar dan teman tidur lo itu!” ancam Richard kesal.
"Posesif nih ceritanya," William terkekeh. "Kalau cantik mau kudeketinlah. Jangan larang gue, dong! Dia bebas, bukan milik lo," goda William lagi. Pria itu menahan tawa. Karena ia tahu sebentar lagi pasti sahabatnya akan mengamuk.
"Jangan macam-macam, ya! Gue pecat, mau lo?" ancam Richard kasar lalu tanpa memedulikan sahabatnya, Richard berjalan meninggalkan William begitu saja.
Wiliam keki karena diabaikan. Pria tampan itu akhirnya mengekori Ricard sambil berseru. "Eh, mau ke mana? Maen tinggal aja. Richard, tunggu dong!”
***
"Ini kayaknya cantik, deh,” gumam Viola sambil memadankan gaun ke tubuhnya. “Presdir marah, nggak, ya? Kalo aku beli yang ini? Cantik gaunnya, tapi tipis. Nanti dikiranya aku mau goda klien lagi." Vio bermonolog sendiri.
Setelah puas memilih akhirnya pilihan jatuh pada gaun hitam panjang tak berlengan dengan hiasan silver yang terlihat anggun, lengkap dengan outer yang menambah keeleganan gaun tersebut. Vio segera membayar pakaian dan kembali ke kantor untuk mempersiapkan dokumen meeting malam nanti.
"Semoga malam ini aku berhasil membantu presdir menghadapi klien Amerika itu, sekalian pembuktian kalau aku layak bekerja di perusahaan ini.”