"Makasih banyak, Tante. Tapi aku mau mencoba melamar di kantoran," tolak Ashalina ramah. Nyatanya, dia tak menginginkan ada hubungan dengan Aldo, apalagi kalau sampai bekerja dengan orang tua si pria yang tidak disukainya sama sekali.
"Oke, tapi kalau nggak ada yang mau terima, kamu datang aja ke tante, ya." Mami Aldo melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. "Oh iya, tante mau pulang dulu, sudah sore soalnya."
"Baik, Tan. Kita barengan keluar, ya." Ashalina meraih tas dari atas nakas, buru-buru mendekati wanita paruh baya itu.
"Jangan, kamu temani Aldo dulu, ya," tolak mami Aldo, menaruh harapan. Dia paham betul dengan keinginan anaknya, yang begitu menginginkan sang gadis. Walau sebenarnya keluarga Aldo sangat mementingkan bibit dan bobot, tetapi melihat rasa suka anaknya yang begitu besar, dia terpaksa memenuhi keinginan Aldo.
Wajah Ashalina berubah masam, ingin cepat-cepat pergi dari ruangan itu, malah ditahan juga sama maminya Aldo. Berkali-kali dia menghempas napas kasar, ketika melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Do, aku pulang, ya." Ashalina mencoba membujuk si anak mami.
"Nanti dulu. Kamu kan, telat datang ke sini," sergah Aldo.
"Kamu kapan sembuhnya, sih? Aku bosan tauk! Mau mempersiapkan kelulusan itu banyak yang bakalan dilakuin, kamu malah cari gara-gara!" Ashalina kesal sekali, matanya memerah. Satu pukulan diayunkan ke tembok.
"Asha!" teriak Aldo dengan wajah cemas. Dia berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Ashalina. Lalu, meraih tangan gadis itu yang tampak merah lebam.
"Lepas!" bentak Ashalina. "Tolong, ya, Al. Jangan mempersulit hidupku. Aku ini cuma orang biasa, aku ingin lulus kuliah dengan nilai bagus dan bisa mendapat pekerjaan yang baik," sambungnya sembari melempar pandangan ke jendela kamar rumah sakit.
"Kamu jangan cemas. Menikahlah denganku setelah lulus kuliah, maka kamu tak perlu bekerja lagi," tawar Aldo sungguh-sungguh.
"Jangan kebanyakan mengkhayal, aku tak akan pernah mau menikah denganmu!" tegas Ashalina.
"Aku kurang apa, sih?" tanya Aldo. Matanya memerah, rahangnya terlihat mengeras.
"Aku nggak mau aja. Apakah itu belum cukup untuk alasan?" Mereka saling melempar pertanyaan.
"Nanti kamu menyesal, Asha. Pergi kamu dari ruangan ini, aku mau istirahat!" Gantian sekarang Aldo yang membentak Ashalina. Akan tetapi, Ashalina justru senang karena dia bisa pulang akhirnya.
Senyum merekah menghiasi bibir tipis, Ashalina berjalan sesekali berjingkrak-jingkrak. Para perawat dan dokter yang berpapasan dengannya, mereka juga tersenyum melihat tingkah gadis cantik itu.
***
Dulu, keluarga Ashalina hidup dalam kemewahan. Ayahnya punya pabrik, walau tidak begitu besar, tetapi cukup untuk menampung dua ratusan karyawan. Namun, setelah Kato—ayah Ashalina ditipu oleh temannya sendiri, akhirnya perusahaan yang dia bangun sejak sebelum kenal dengan Saira—istrinya, jadi bangkrut seketika. Uang pajak, gaji karyawan, dan aset penting dibawa kabur oleh temannya.
Semenjak kejadian itu, Kato bekerja hanya sebagai pegawai kecil di pabrik sabun. Selain itu, tiap hari Minggu dia mencoba melatih beberapa orang yang ingin belajar ilmu bela diri, termasuk mengajari Ashalina Lamida sejak umur delapan tahun. Sementara Saira istrinya hanya sebagai ibu rumah tangga yang tak punya penghasilan. Maka dari itu, Kato ingin sekali melihat Ashalina menjadi orang sukses. Ingin mengubah kehidupan mereka. Dengan kepintaran Ashalina, universitas memberi beasiswa untuknya. Jadi, walaupun Ashalina menimba ilmu di kampus ternama dengan biaya bulanan selangit, dengan beasiswa tersebut dia dan kedua orang tuanya tak perlu lagi kesusahan memikirkan itu semua.
***
Di perjalanan pulang Ashalina melihat sebuah pengumuman yang ditempel dekat tiang listrik. Penasaran karena kertas itu sedikit lagi akan terlepas, Ashalina mendekat lalu menempelkan kembali. Matanya berhenti tepat di tulisan yang isinya mengatakan hadiah sebesar lima juta rupiah untuk juara satu yang berhasil menumbangkan lawan.
"Capoeira? Hem, aku bisa," gumam Ashalina. Lalu dia mencatat nomor WA yang tertera di kertas itu, untuk melakukan pendaftaran.
Membayangkan uang lima juta, matanya berbinar serta senyum semringah menghiasi bibir seksinya. Dia melangkah pergi, menunggu angkot yang sebentar lagi akan tiba. Tak lama angkot pun datang, di saat melangkahkan kaki menaiki angkot, sebuah mobil sedan berwarna hitam lewat dan menginjak genangan air.
“Sial! Woy! Kalau bawa mobil yang bener,” teriak Ashalina kesal.
Namun, pria yang berada dalam mobil sedan itu tidak mendengar karena dia sedang asyik berbicara dengan klien melalui earphonnya. Ashalina menggerutu, sampai ditegur sopir angkot.
“Jadi naik nggak, Nona?”
“Iya, Bang,” sahut Ashalina dengan mimik wajah kesalnya. “Awas, ya, pelat nomor mobil kamu udah aku hafal.”
“Udah, Nona. Percuma saja kamu menggerutu, toh, orangnya nggak denger. Lagian, jangan sekali-kali membuat masalah dengan orang kaya,” ujar sopir angkot menasihati.
***
Mentari sudah beranjak dari peraduannya, kini malam telah tiba. Langit yang menghitam dihiasi taburan bintang yang sedang mengelilingi sang bulan. Ashalina duduk di depan laptop usang milik ayahnya, setelah mengirim pendaftaran pada juri kapoeira , dia membuka google untuk mencari gerakan-gerakan yang mungkin terlupakan. Maklum, sudah lumayan lama Ashalina tidak berlatih gerakan cara merobohkan lawan seperti menari ala-ala Negara Afrika itu. Tekatnya sudah bulat, berharap bisa menang di pertandingan itu, agar bisa membelikan ayah dan ibunya sepatu baru. Karena terakhir Ashalina melihat sol sepatu sang ayah sudah mengelupas.
Setelah selesai berlatih, Ashalina mengelap keringatnya yang membanjiri wajah serta tubuh langsingnya. Kemudian dia tidur, agar saat pertandingan esok hari bisa berjalan dengan lancar.
“Aku tak perlu ke rumah sakit besok. Eh, apakah aku harus mengabari cowok tengil itu?” tanya Ashalina pada dirinya sendiri. “Hmmm ... kabari ajalah, tapi alasannya apa, ya?”
Tik! Tik!
Suara detik jam menemani tidur si gadis cantik, tak lama kemudian dia bermimpi. Kejadian cipratan air saat naik angkot berlanjut. Ada seorang pria tampan menggunakan jas hitam, celana hitam, dan memakai dasi berwarna biru laut, menghampiri Ashalina. Pria yang tak dikenali itu mengusap wajah Ashalina dengan lembut, kemudian mengeluarkan sebuah sapu tangan. Pria itu hanya diam, tak berbicara satu patah kata pun, tetapi tangannya terus mengelap pipi mulus sang gadis yang terkena genangan air. Lalu, pria itu mendekat. Hanya jarak beberapa senti meter saja dengan pandangan saling beradu. Semakin dekat ... semakin dekat, Ashalina memejamkan matanya, bibirnya dimajukan sedikit. Dan ...
“Asha, bangun! Nanti kamu telat ke kampus!” teriak Saira sembari menggedor-gedor pintu kamar anaknya.
Sontak Ashalina langsung menghambur dari tempat tidur, diliriknya jam di dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi.
“Mati aku,” keluh Ashalina buru-buru melangkah ke kamar mandi.
“Makanya, kalau malam itu, ya, tidur. Malah joget-joget seperti biduan,” ejek Saira, ternyata dia mengintip anaknya tadi malam.
Keesokan harinya, seperti biasa Ashalina Lameda berangkat ke kampus setelah menghabiskan dua lapis roti bakar berselai cokelat. Tak lupa dia bersalaman serta cipika-cipiki dengan kedua orang tuanya. Hal yang rutin dilakukan setiap pagi.
Tas ransel yang biasa dipakai Ashalina tak biasanya sebesar itu. Ternyata dia sudah mempersiapkan baju ganti untuk mengikuti pertandingan nanti sore.
Bel berbunyi tiga kali, pertanda wawancara di ruang kelas utama bersama dosen-dosen, selesai. Gegas Ashalina Lamida berlari menuju gerbang kampus. Agar tidak telat berada di tempat tujuan.
"Asha! Tunggu!" seru seseorang.
Ashalina memutar badan menghadap ke arah suara itu. Ternyata Aldo sudah mulai kuliah lagi. Walau cara berjalan Aldo masih tampak pincang, tetapi dia begitu semangat menghampiri Ashalina Lameda, gadis pujaan hatinya.
"Ya, ada apa?" tanya Ashalina dingin.
"Kamu ada acara apa sore ini?" jawab Aldo balik bertanya.
"Aku ada janjian sama temen," ucap Ashalina datar.
"Temen cewek apa cowok?" Aldo bertanya lagi.
"Duh, Aldo. Kamu ini wartawan apa gimana, sih? Udah, ah, aku lagi buru-buru. Awas kalau ngomong lagi!" ancam Ashalina sambil menunjuk wajah Aldo.
Namun, Aldo terus saja membuntuti Ashalina. Hingga gadis cantik bermata cokelat itu geram. Nyaris saja dia melayangkan pukulan ke wajah Aldo.
"Aku antar," tawar Aldo sembari menaikan satu alisnya sebelah kanan.
"Nggak usah! Aku udah telat, bye." Ashalina menyetop taksi. Kali ini dia tidak naik angkot seperti biasanya karena takut telat datang ke arena pertandingan.
Sepuluh menit kemudian, taksi yang ditumpangi Ashalina berhenti di halaman gedung yang lumayan besar. Tempat itu memang biasa digunakan untuk pertandingan-pertandingan khusus, seperti adu ilmu bela diri contohnya.
Ashalina Lameda melangkah dengan mantap, berjalan menyusuri koridor. Sesekali terdengar helaan napas berat dari gadis cantik itu. Tak lama, dia mendengar suara gemuruh para penonton bersorak sorai.
"Semoga menang," ucapnya pelan.
Ashalina membuka pintu yang terbuat dari lapisan stenlis. Benar-benar tempat yang terjaga keamanannya, tetapi sedikit kumuh karena sampah plastik dan kaleng minuman berserakan. Di dinding setelah pintu, ada coretan berbentuk manusia yang sedang mesum.
"Ah, dasar penonton nggak jelas, bisa-bisanya buat beginian," celetuk Ashalina.
Kemudian, Ashalina masuk kebarisan para peserta lain. Satu per satu sudah tampil dan berguguran karena tak sesuai tema dan ada juga yang memang kalah telak. Tinggal dua peserta lagi, dia dan satu lagi pria besar tinggi dan berotot.
"Sekarang giliran Jasco melawan Ashalina Lameda! Mari kita saksikan beramai-ramai!" teriak si pembawa acara.
Sontak para penonton terdiam sejenak. Karena yang berada di arena pertandingan saat ini adalah seorang gadis bertubuh langsing. Gadis yang memakai stelan baju serba hitam dan mengenakan masker hitam penutup wajah.
"Huuu ....!"
"Awas, nanti patah!"
"Kok, bisa cewek ikut pertandingan ini?"
"Turun, woi!"
Begitulah reaksi para penonton saat Ashalina hanya diam mematung menunggu lonceng berbunyi, tanda pertandingan dimulai. Sementara, Jasco sudah mulai jingkrak-jingrak. Tatapannya dan suara tawanya seperti mengejek Ashalina.
Teng! Teng! Teng!
Lonceng di sudut arena pun dipukul oleh petugas lapangan. Jasco mulai menyerang membabi buta, dengan sigap Ashalina menghindar, berkelit, lalu melompat. Jasco mulai emosi, dia menunjuk wajah sang gadis, lalu mengacungkan jempol dan memutar ke arah bawah. Ashalina tetap tenang, dia malah menyuguhkan senyuman manis di balik masker yang dia kenakan.
"Niat tanding nggak!?" bentak Jasco, lalu dia kembali menyerang Ashalina.
Ashalina melakukan gerakan seperti orang sedang menari, kemudian menghantam lutut Jasco. Tangannya dengan cepat beralih ke perut, lalu terakhir Ashalina memutar tubuhnya dan melompat.
"Ciaaat!" Suaranya melengking saat satu tendangan berhasil melumpuhkan lawan.
Akhirnya, babak pertama pun usai. Semua peserta dikumpulkan di ruangan khusus untuk menyisihkan para pemenang yang akan diadu untuk final seminggu yang akan datang. Setelah meeting antara ketua dalam pertandingan itu dengan para kandidat terpilih selesai, Ashalina bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
"Kamu hebat," tegur seseorang dari belakang.
Ashalina memutar badan, mencari sumber suara tersebut. Pria tampan berlesung pipi tersenyum ke arahnya.
"Kenalkan, namaku Radhika," ucapnya sembari mengulurkan tangan ke Ashalina.
"Salam kenal juga, aku ...."
"Ashalina Lameda," sela Radhika sembari menunjuk papan skor yang ada di arena pertandingan. "Kenapa wajahnya di tutup? Apa aku boleh mengenalinya?"
"Cukup tahu namaku saja. Oke, aku balik dulu. Sudah sore soalnya," jawab Ashalina, menolak secara halus.
"Mau aku antar pulang?" tawar Radhika.
"Terima kasih." Ashalina berlalu tanpa memedulikan lagi si pria yang masih menantapnya takjup.
***
Dreet! Dreeet!
Benda pipih berbentuk kotak memanjang bergetar beberapa kali. Ashalina dengan malas membuka mata, lalu meraba benda itu.
"Siapa, sih, nelepon pagi-pagi. Ganggu orang tidur aja," celetuk Ashalina.
"Halo, Bebz! Bangun, udah pagi, nih!" terdengar suara seorang gadis dari seberang sana.
"Nisaka? Ya, ampun. Apa kabar?" Ashalina langsung membuka matanya lebar-lebar. Dia begitu bersemangat karena sahabat yang telah lama tidak berkabar, tiba-tiba menghubungi sepagi ini.
"Baik, Bebz. Besok aku pulang ke Indonesia," ucap Nisaka. "Oke, aku mau berkemas dulu, ya," sambungnya.
"Asyiap, aku tunggu. Kangen ... hihihi." Ashalina cekikikan sembari salto di tempat tidur, setelah Nisaka memutus sambungan telepon.
Tok! Tok! Tok!
"Asha, kamu nggak ngampus hari ini!?" seru Saira di depan pintu kamar anaknya.
"Sebentar! Mau mandi dolooo!" sahut Ashalina.
Ashalina bergegas masuk ke kamar mandi. Sambil mengoles kulit mulusnya dengan sabun cair beraroma lavender, dia bersenandung riang.
Setelah selesai mandi dan berpakaian ala kadar. Memakai kaos oblong, celana jeans hitam, dan sepatu warna putih andalannya. Tidak lupa mengoles parfum di pelipis, kemudian Ashalina beranjak ke meja makan sambil menenteng tas ransel.
"Bu, besok si Nasaka balik ke Indo," ucap Ashalina dengan mulut terisi roti.
"Habisin makanan di mulut, tuh. Ngomong nggak jelas amat." Saira gemes melihat kelakuan anak gadisnya yang seperti laki-laki.
"Berangkat dulu, Bu, Yah." Ashalina berlari menuju pagar rumahnya, karena sopir angkot langganan sudah heboh membunyikan klaksonnya.
"Neng, masuk koran, nih," ucap sopir angkot seraya mengulurkan selembar koran.
"Wah, gawat. Kalau Ayah sampai baca berita pagi ini, bisa-bisa aku dikurung." Ashalina bermonolog sembari menepuk jidatnya.
"Ngomong apaan, Neng?" tanya sopir angkot.
"Fokus nyetir, Bang. Entar nabrak lagi." Gadis cantik itu mendelik, hingga sopir angkot dibuat tertawa cengengesan.
Suasa pagi masih terasa sejuk, di pinggir jalan orang-orang sudah mulai membentangkan jualannnya, sedangkan jalan raya sudah mulai dipadati oleh kendaraan berlalu lalang. Ashalina tersenyum, tatapan matanya tertuju pada seorang gadis kecil yang dengan telaten membantu sang ibu yang nampak kepayahan membawa bakul yang ada di tangan dan di atas kepala sang ibu.