Bab 1

Di tengah padatnya pusat kota Moscow, di atas hamparan tanah rata dan di bawah langit ke-7. Pria entah-berantah, tak tau kapan dan darimana ia muncul, tiba-tiba menodongkan benda hitam berisi timah panas, atau sebut saja pistol.

Dorrr.

Suara tembakan terdengar nyaring, memporak-porandakan semua umat. Mereka yang tampak seperti tentara semut dari ketinggian 3000 kaki, berhamburan kesana-kemari.

Aaa … tolong … tolong …

Ibu …

Ayah …

Hanya sekali tembakan ke atas sana, para manusia tersebut sudah tak kalap. Tiada seorangpun yang tidak melarikan diri, terkecuali seseorang di balik kamar telepon umum.

Di luarnya orang-orang sibuk menyelamatkan jiwa dan raga, tapi ia malah bercanda-tawa bersama suara di seberang sana.

"Iya … iya, di depan mataku sedang ada peperangan, Bu," katanya, sambil menghitung setiap detik yang ia habiskan.

"Tentu saja ramai, Bu. Suaramu sampai terdengar tidak jelas."

57 … 58 … 59.

"Sudah yah, Bu. Koinku hanya cukup untuk satu menit saja. Telepon akan segera berakhir, dahhh."

Sang pria menghela lega, seakan beban terberat yang ia panggil telah hilang.

Ia berdiri lama, memperhatikan setiap orang yang melalui pintu kamar telepon umum di depannya. 

Kemudian, seorang pria seumuran berhenti tepat di depan pintu. Pria itu berjaket tebal serta terdapat kamera yang ia kalungi. Ia memberi kode supaya pintu kamar telepon umum dibuka.

Dan kini di dalam kamar tersebut terisi dua manusia saling memfokuskan diri pada kekacauan kota.

"Hei!" Sapa pembawa kamera. 

"Aku Jhon Christy, seorang penulis terbaik di Negeri rempah-rempah," ucap pria bernama Jhon, memperkenalkan diri.

"Kau tau aku akan menanyai namamu?"

"Aku akui semua orang ingin bertanya, tapi kau termasuk paling beruntung."

"Aku?" Tunjuknya pada dada sendiri.

"Iya, karena aku sendiri yang memperkenalkan bukan teman atau teman dari temanku."

Si pembawa kamera meringis kecil, antara mentertawakan atau menyambut kelucuan Jhon Christy.

"Baiklah, selamat tinggal."

Tanpa ada perbincangan lain, Jhon Christy mendorong gagang pintu. Suasana kacau yang belum mereda ia lalui amat santai. Saking santainya, ia mampu mengambil sebatang rokok yang tersimpan rapi dalam saku kemejanya. Kemudian kepulan tipis membumbung tinggi secara perlahan.

"Pria yang aneh," lontar si pembawa kamera. 

Kekacauan belum usai, dari kejauhan mulai terdengar sirene mobil Polisi. Tak terhitung jumlah mereka, semuanya datang dari segala arah hingga mengepung jalanan kota.

Si pembawa kamera menyempatkan diri mengambil beberapa jepretan sebelum akhirnya ia diminta keluar untuk mengungsi oleh Polisi.

Teknologi terbilang canggih. Seluruh dunia pun mendengar kabar teror di tengah kota melalui pemberitaan layar TV masing-masing.

Begitup Jhon Christy, ia tahu menaung ketika kejadian berlangsung. Namun, seperti yang lain, ia juga menonton pemberitaan tersebut hanya untuk mencari sosok dirinya yang tertangkap kamera.

"Hem, mengapa tidak terlihat?" Pikirnya terdengar menyayangkan.

Tok … tok …

"Tuan Jho!"

Mendengar ketukan pintu sekaligus nama legendnya disebut, Jhon bergegas bangkit dan membuka pintu selebar ukuran kepalanya.

"Nyonya Maria …" sapa Jhon.

Wanita berparas ayu, tubuh berisi, kulit kemerahan serta rambut pirang tergerai. Mengangkat baki berisi semangkuk mie panas. "Pesananmu," ucapnya.

"Oh wah, terimakasih, Nyonya Maria," balas Jhon, mengambil alih semangkuk mie panas dari baki Nyonya Maria, "katakan kalimat ajaibnya!"

"Pria gagah pemegang kendali …" suara Nyonya Maria menggoda.

Lantas Jhon merogoh saku celana, mengeluarkan selembar uang kertas berangka 100 Rubel Rusia. "Ambil ini."

Nyonya Maria menerima penuh suka-cita, ia membungkuk setengah badan lalu berbalik pergi.

Jhon menutup pintu, kembali duduk bersila di depan TV, sembari menyeruput makanan panjang dan berkuah tersebut.

"Hem, sang pembawa kamera?"

Jhon tak menduga jika si pembawa kamera yang saat kejadian sempat bertanya dengannya, ternyata bisa selamat dari serangan teroris.

"Menarik," celetuknya begitu saja.

**

Kekacauan telah berakhir, menyisakan kerusakan tanpa ada korban. Jhon menapaki jalan yang sama seperti kemarin atau lebih tepatnya jalan pasti untuk ia lalui menuju tempatnya bekerja dan lokasi hunian. 

"Selamat pagi, saya Jhon Christy. Lulusan Universitas Indonesia tahun 2015, sudah bekerja di kantor perhubungan antar negara sampai terakhir satu bulan lalu sebelum saya memutuskan pindah ke sini."

"Jhon Christy …" ulang pria berdasi hitam, berwajah hitam legam dan berambut hitam memanjang. "Refrensi pengalamanmu sangat baik dan luamyan, kau bisa memilih bidang lain yang lebih nyaman. Misal saja kau hanya perlu duduk dan memerintah, tapi kenapa kau ingin bekerja sebagai bodyguard?"

"Karena aku merasa kasihan jika keberanian dan keahlian bela diriku tidak terpakai."

Sontak jawaban Jhon Christy membuat pria legam di depannya tertawa terbahak-bahak. Baginya, jawaban Jhon Christy sebuah lelucon, padahal Jhon menjawab jujur apa adanya.

"Sepakat!!" Selesai tertawa, pria legam pemilik ID card bertuliskan Romis, mengulurkan tangan kanannya pada Jhon. Dan mereka saling berjabat tangan.

"Terimakasih, Pak Romis."

**

Hari ini juga Jhon mulai menjalankan profesinya. Sebagai karyawan baru, Jhon memasuki tahap pemula dalam menjadi bodyguard. Yakni menjaga orang-orang kelas bawah/menangani kasus paling ringan.

Contohnya seperti yang saat ini Jhon lakukan. Ditemani sekaligus dibantu Pak Romis, Jhon mengawal rombongan pekerja legal untuk transit pesawat tanpa halangan.

Kenapa mereka dikawal?

Alasannya, terlalu sering kasus penembakan liar pada pekerja legal tersebut. Jadi pemerintah Negara meminta para bodyguard mengawal mereka sampai ke dalam pesawat yang mereka tumpangi.

Wush …

Pesawat membumbung tinggi, meninggalkan gulungan angin dari baling-baling yang membuat rambut panjang Pak Romis berterbangan.

"Pakai ini!" Sebuah ikat rambut merah muda Jhon ulurkan.

Pak Romis sempat terdiam, terpaksa Jhon sendiri yang mengikatkan ikat rambut darinya.

"Jangan biarkan kutu di rambut anda menemukan sarang baru," ucap Jhon datar.

Pak Romis tertawa renyah, ia menepuk-nepuk pundak Jhon. "Aku lupa, putri kecilku telah merampas ikat rambutnya."

Kini mereka berdua berjalan keluar bandara. Mereka tampak gagah berani, kacamata hitam memukau serta setelan jas menjadikan semua mata terkagum-kagum.

Brammm.

Derung mesin mobil kedengarannya tak nyaman di telinga, Jhon tidak menduga jika fasilitas kendaraan untuk bekerjanya sangat jauh dari ekspetasi. Mungkin karena Jhon masih memasuki tahap pemula. 

Berbeda fasilitas untuk bodyguard kelas utama. Kendaraan mereka bukan main-main. Yakni sebuah Lamborghini hitam mengkilap dengan kaca dan ban anti peluru.

"Bagaimana hari pertamamu?" Tanya Pak Romis, mengepulkan asap rokok.

"Terasa datar dan tak menantang." 

"Maka kau butuh sesuatu agar kau merasa tertantang."

"Iya," jawab Jhon menambah kecepatan mobil.

"Belokan mobilnya ke sisi kanan … lurus terus … kiri … kurus … kiri, berhenti!!"

Cittt …

Gedung para petarung, ucap Jhon dalam hati ketika kepalanya menjulur keluar jendela mobil.

"Kau lolos tahap awal, selanjutnya tubuhmu akan dilatih di sana sebelum tahap ketigamu."

"Bagus, aku suka ini."

"Tunggu apa lagi …" kode Pak Romis, menyuruh Jhon masuk ke gedung tersebut.

Tanpa ada rasa keraguan, Jhon mendorong pintu mobil. Ia melangkah pasti menuju pintu pembatas dirinya dari sekelompok orang yang akan membuat ia mandi keringat. 

"Selamat datang, Jhon Christy."

Jhon tertegun, tatapannya tertuju pada semua orang. Ia tak menduga jika para pelatih di sini bertubuh tiga kali lipat lebih besar darinya.

"Pakai ini!" 

Ia dilempari setelan baju dan celana pendek, tak lupa sepasang sarung tangan petinju.

Di hadapan semua orang, Jhon Christy melepas satu-persatu pakaian yang melekat ditubuhnya, terkecuali celana dalam.

"Oh, wah!" Degup kagum peserta bodyguard wanita, melihat roti sobek Jhon Christy mengkilap terkena lampu penerangan. 

Semua ini ku lakukan untukmu, Aleta. Hati Jhon berucap.

Bab 2

Dum … tak … Dum … tak

Suara musik klasik khas, mengantarkan para pasangan berdansa di atas marmer putih berpadu coklat muda mengkilap. Gerakan mereka apik dan beraturan; seirama dengan dentuman musik.

"Aleta … lihat ke sini!" seru wanita muda bergaun silver tanpa lengan. Dalam genggaman tangannya ada sebuah kamera kecil yang ia gunakan untuk memotret setiap gerakan cantik Aleta.

"Ya Tuhan, tersenyum sedikit …!" teriaknya bernada memerintah.

Sembari menggerakkan kakinya ke kanan dan kiri, Aleta menarik sudut-sudut bibirnya hingga wajah gadis itu memamerkan senyum badut.

"Apa kau tidak bahagia, Aleta?" Giliran pria pasangan dansanya angkat bicara.

"Bahagia, sangat!" jawab Aleta tak melepas senyuman.

"Ya Tuhan, Aleta! Senyumanmu sangat mengerikan." Teman pembawa kameranya berseru lagi.

Aleta tak bisa menahan, pun mendorong tubuh pasangan dansanya, menarik jarum suntik yang ia selipkan di antara belahan dada lalu mengarahkan nya pada pria tersebut.

"Menyerah atau ku bunuh!" Ancam Aleta dengan mata bengis.

Melihat netra kehijauan milik Aleta melotot tajam seakan ingin keluar dari bingkainya, pria yang ke 101 dijodohkan dengan Aleta pun beringsut ketakutan.

Pria berambut pirang itu berjalan mundur diikuti langkah Aleta senada dengannya. Sekejap ia memutar badan dan lari terbirit-birit.

Aleta melengking tawa. Sampai detik ini ia belum gagal mengusir para penjilat cinta seperti mereka. 

Semua ini berkat kepiawaian Aleta dalam berwujud wanita cantik, tapi penuh kekejaman.

Gadis berumur 19 tahun, putri kedua dari pimpinan Mafia terbesar di Rusia tak segan-segan melukai orang disekitarnya tanpa memandang siapapun, terkecuali Ayah sendiri, Louison.

"Aleta!"

Buru-buru Aleta menyelipkan kembali jarum suntik di antara gundukan dada. Kemudian berbalik memasang senyuman simpul. 

"Daady …" suara Aleta dibuat manja-manja menyebalkan.

"Kau berulah lagi?" Tatap Louison penuh kecurigaan.

"Oh, no Daddy," bantah Aleta seraya dadah-dadah, "ngomong-ngomong acara dansa ku sudah selesai, bolehkan aku duduk menyilangkan kaki di sudut sana, Daddy?"

Tempat yang dimaksud Aleta adalah bar mini. Segala botol minuman bisa didapatkan dengan mudah pada bar tersebut. Pantas saja sepasang kekasih yang Aleta lihat dari beberapa jam lalu betah bertahan. 

"Hanya tiga kali tegukan! Setelah itu---"

Tanpa menunggu penjelasan Ayahnya selesai, Aleta sudah melebarkan langkah menghampiri tujuannya.

Gadis itu menduduki kursi bartender. Ia menunjuk salah-satu botol minuman beralkohol kemudian menuangkan isinya ke dalam gelas kaca berbentuk bulat, juga memiliki kaki.

Aleta melihat ke arah Louison, ia mengangkat satu jari pertanda baru satu kali tegukan.

"Uncle, kau mau selfie?" Tawar teman Aleta teramat polos.

"No! Thanks." Tolak Louison tak mengalihkan perhatian dari putrinya.

"Oh, oke …"

Wanita bergaun silver itu malah bersandar pada bahu Louison. Lantas, memotret dirinya sendiri.

"One … two … three …"

Cekrek … cekrek …

"Pose sempurna." 

Aleta mengangkat dua jari, diikuti mengeluarkan sebatang rokok. Sayang, ia tak membawa korek.

"Hello, Boy," sapa Aleta pada pasangan kekasih pria di sampingnya. 

Mereka berdua serempak melihat ke arah Aleta. Mereka memperhatikan penampilan wanita itu dari rambut hitam, pakaian, riasan sampai cara Aleta mengedipkan mata.

"Kau punya korek?"

"Ada."

"Bantu aku!" Pintanya sambil mencondongkan dagu, yang terselip rokok di celah bibir ranumnya.

Seorang kekasih pria di depannya mengeluarkan rokok, menyalakan lalu menyulat ujung rokok milik Aleta.

Fyuh …

Kepulan asap tipis dari mulut dan hidung Aleta sengaja ia hembuskan mengenai wajah mereka.

Sontak kekasih wanitanya merasa tak terima. Ia mendorong kasar pundak Aleta sambil berucap, "You are the bitch!"

Plakkk …

Aleta menampar pipi kanan wanita itu hingga membuat wanitanya meringis kesakitan. 

Tak mau kalah, si wanita pun membalas tamparan Aleta lebih keras dari yang ia dapat.

Plakkk …

Mendadak ketenangan di wajah Aleta berubah cepat, pipinya memanas mengikuti kobaran api yang telah membakar hatinya. 

Tarrr …

Aleta memecahkan botol minuman, secepat angin mendaratkan pecahan botol tersebut pada tangan wanita di depannya.

"Aaa … bitch!" pekik wanita itu.

"Bebi, oh my God. Tangan kamu berdarah," tambah kekasihnya kepanikan.

Dari lantai Louison berdiri, hanya memutar bola mata disertai helaan berat.

Tak tunggu lama sirine mobil Polisi menyeruak dalam gendang telinga. Menjadikan semua orang kalang-kabut. Mereka kira, jika para Polisi akan menyergap.

Setidaknya ada Empat Polisi sekaligus yang datang. Kemudian disusul Polisi-polisi lain.

"Aku sampai bosan menangkapmu berulang kali." Lontar seorang Polisi tengah memborgol kedua pergelangan tangan Aleta.

Louison sama sekali tak bertindak menyaksikan putrinya dibawa pergi para Polisi. Bahkan saat mereka melewati dirinya, ia acuh tak acuh seakan-akan tak saling kenal.

"Uncle, apakah Aleta hanya akan mampu menghitung sampai 20 untuk menunggumu atau …?"

"Kali ini dia akan menginap di Hotel Torpedo, biarkan ia merasakan bagaimana nikmatnya tidur semalaman di Neraka."

"Oh, ini mengejutkan!"

Satu-persatu mobil Polisi meninggalkan gedung megah berlantai tiga, tempat barusan mereka berhenti.

Diapit dua polisi berbadan dan berotot besar, Aleta tak merasakan takut. Ia sangat menikmati perjalanan ini, tak henti-hentinya ia berdecak kagum melihat cinderamata di luar kaca.

"Hei, Nona Aleta!" Panggil Polisi yang memborgol Aleta.

"Ada apa, Kakak?"

Saking seringnya mereka dipertemukan, Aleta sampai tak sungkan memberi sebutan 'kakak' untuk Polisi tersebut.

"Bisakah satu bulan saja kau tidak mengunjungi kantor kami bertugas?"

"Aku pun ingin, tapi kalian hobi sekali mengajakku ke sana."

Sang Polisi berdecak kesal, ia tak menggubris jawaban konyol Aleta. Dari cermin pengemudi, ia mengintip bayangan Aleta. Tanpa sadar ia tersenyum kala Aleta tersenyum, karena senang melihat gedung pencakar langit.

***

Cittt …

Mobil berhenti, begitu pula suara sirine-nya. Aleta dikawal masuk. Sebelum ia dibiarkan menunggu jemputan sang ayah, polisi lain lebih dulu mengintrogasi Aleta. 

"Hish, kau lagi," gerutu Polisi yang bertugas mengintrogasi, "langsung saja jelaskan tanpa basa-basi!"

Aleta memasang raut melas tapi mulutnya mendesis lirih. "Dengarkan baik-baik! Ayah meminta ku meneguk tiga kali saja, jadi saat sudah melalui tegukan kedua aku menyelingi diri untuk merokok. Aku lupa tidak membawa korek. Kau tau itu berbahaya, 'kan?"

"Iya iya, lanjutkan dongengmu!"

"Seorang pria berambut pirang, kuminta bantuannya agar menyalakan rokokku. Pria itu mengikuti. Lalu, tak sengaja Aku mengepulkan asap rokokku kepada mereka. Dan kau tau?"

"Tidak! Selesaikan saja ceritamu."

"Pacar pria itu marah, ia mengataiku pelacur, hiks. Aku mana pernah open order. Kemarahan ku ini langsung membuncah, jadi kutampar dia, eh, dia balik menamparku. Ya, akhirnya ku lukai saja tangannya."

Polisi bagian menginterogasi membuang kasar nafasnya. "Wanita ini sudah gila! Kenapa Ayahmu tidak--!"

"Pak …" Polisi lain menggelengkan kepala, pertanda larangan.

"Sudah sana, bawa wanita ini ke kamar favoritnya!"

Aleta digiring menuju ruangan terpisah, yang letaknya sudah ia hafal di luar kepala. Oleh karenanya, ia begitu santai jalan lebih depan. 

"Kutebak dalam hitungan menit Ayahnya akan datang

Bab 3

Pukul 03:00 dini hari.

Ruangan dingin serta dipenuhi keluarga nyamuk telah menjadi tempat persinggahan Aleta. Gadis itu meringkukan tubuh di pojokan dengan tatapan lekat ke besi-besi pembatas dirinya.

Satu jam sudah berlalu semenjak ia memasuki neraka dunia, ia pun telah menghitung lebih dari 20 angka. Namun, sosok berkumis tebal yang ia tunggu tak kunjung tiba.

"Cih, di mana Daady?" Gerutunya, "tidak mungkin Daady membiarkan para Polisi itu memiliki kesempatan curi-curi pandang padaku 'kan?"

Setiap kali Aleta berada di sini, beberapa Polisi memang menjadikan ia cindera malam. Kecantikan dan bentuk tubuh laksana biola Spanyol, memungkinkan semua mata terhipnotis.

Sayang sekali jika nantinya mereka tau kenyataan mengerikan dibalik wanita itu.

Jauh dari Neraka Dunia

Louison duduk menyilangkan kaki pada sofa berkulit ular, Kedua tangan melipat di atas dada serta mata terpejam, tapi telinga cukup awas.

Aaa …

Aaa …

Ampun …

Rintihan demi rintihan bergema mengisi kegelapan sebuah ruang pengap dan hanya diisi satu lampu remang-remang.

Bagi Luoison suara pria di bawah kakinya terdengar merdu, sehingga ia sangat menikmati.

"Tuanku, Ia sudah mati," bisik salah seorang pria tanpa sehelai baju, hanya celana hitam panjang yang membalut setengah tubuhnya

"Ambil organnya dan kuburkan ia secara layak."

"Siap, Tuanku."

Louison terkenal bengis, kejam, sadis dan julukan iblis lainnya. 

Ayah dari dua anak itu tak tanggung-tanggung jika berurusan dengan penyiksaan. Apalagi jika sebabnya menyangkut Aleta, Puteri kesayangannya.

"Pria itu memiliki kekasih, Bagaimana kita menangani kekasihnya, Tuanku?"

"Cuci otaknya, jangan biarkan ia mengingat sedikitpun tentang Aleta."

"Baik, Tuanku."

Satu-persatu Anak buah Luoison meninggalkan ruangan. Tubuh pria yang baru usai ia siksa juga diseret keluar.

Kini hanya ada ia seorang pria kejam. Pun mengerjapkan mata, melihat lampu berkedip-kedip akan mati.

Setelah berdiam cukup lama, ia memutuskan keluar, sembari melepaskan setelan jas yang sudah bau asap rokok.

Secara asal ia melempar setelan jasnya dan ditangkap seorang pelayan. 

"Ayah … Bagaimana dengan Aleta?" Tanya Pria berambut putih menyusul Louison masuk ke kamar.

"Atasi besok," jawab Louison tegas.

"Tapi--"

"Sky … kali ini biarkan ia merasakan kecerobohannya."

Jadi pria berambut putih itu bernama Sky, ia salah satu anak buah Louison yang sudah dianggap anak. 

**

Malam panjang telah usai, samar-samar cahaya rembulan memudar diiringi datangnya kehangatan mentari.

Hoam …

Aleta menguap setelah mengerjapkan mata dari tidur singkat. Tatapan gadis itu langsung tertuju pada jeruji besi. 

Batang hidung sang Ayah tak tampak, Aleta memicingkan mata seraya menghantam dinding ruangan.

Bukkk …

"Hei!" Pekik tahanan wanita bersamaan dengan keterkejutan Aleta. "Berani sekali kau menggangu tidurku!" Lanjut tahanan wanita itu mulai berdiri.

Aleta bertanya, "Siapa?"

"Kau!" Balasnya menekan Suara.

"Yang tanya," imbuh Aleta mencebikkan bibir.

"Pelac**, berani kau padaku!"

Aleta tak bergeming, sepagi ini ia belum minat berperang. Baginya akan lebih baik mengunci mulut ketimbang meladeni kemarahan wanita itu.

"Sudah sana tidur lagi! Berisik!" Suruh Aleta memandang sebelah mata.

Pada akhirnya, tahanan wanita tersebut melanjutkan mimpi, meringkukan tubuh di atas tikar Serta menyelimuti diri dengan kain tipis.

Aleta menghela kesal, seseorang yang ia tunggu masih belum datang, membuat ketenangan jiwanya sedikit terusik.

Tanpa Aleta tau, bersama Sky dan supir pribadi. Louison mendaratkan pijakan pada pelataran parkir kantor Polisi. Kacamata hitam yang masih menggantung ia lepas, lalu diselipkan diantara kancing kemejanya. 

Ia menghela berat, pasalnya ia seakan rutin mendatangi kantor ini. Sampai-sampai ia faham betul siapa saja para Polisi yang bertugas. Mulai dari yang muda, tua, junior sampai senior. Semuanya ia kenal, begitupun sebaliknya.

"Sky?"

"Iya, Ayah."

"Jemput Aleta, Aku akan menyelesaikan kasusnya."

"Baik, Ayah."

Lantas keduanya melangkah saling membelakangi. Louison ke arah timur sedang Sky ke arah barat.

"Halo … Selamat datang kembali, Mr Louison."

Sambutan hangat, tapi terdengar penuh ejekan memenuhi gendang telinga Louison. Sesaat Louison mengepalkan tangan. Jika ia tidak berpikir puluhan kali seperti Puterinya, pasti ia sudah mencabik habis Polisi tersebut.

Sang Polisi mempersilahkan Louison duduk. "Silakan duduk, Mr."

Mereka saling berhadapan, hanya ada meja kecil beserta tumpukan dokumen sebagai sekat Pemisah.

"Walaupun Aku sudah faham apa yang akan kau katakan, tetapi Aku tetap ingin mendengarnya. Silahkan …" Cara bicaranya benar-benar menyudutkan Louison.

Louison tak mau ambil pusing. Sebatang rokok ia nyalakan, kepulan demi kepulan menyeruak perlahan dari lobang hidung dan sela bibirnya.

"Aku tidak ingin berbicara panjang lebar, sebutkan saja Nominal kebebasan Puteriku," kata Louison terdengar santai, akan tetapi matanya menatap tajam. Se-tajam pedang samurai.

Polisi tersebut menyeringai kecil, ia menyodorkan beberapa lembar dokumen yang tanpa Louison baca pun sudah ketebak isinya. Namun, Louison cukup tertegun kala melihat angka nominal kebebasan Puterinya naik 2x lipat.

Padahal terakhir kali ia datang belum sampai 2 bulan. Ternyata, para Polisi di sini juga suka bermain taktik.

Terpaut beberapa meter dari tempat Louison duduk, Kemarahan Aleta sudah tak terbendung. Sekali lagi ia menghantam dinding ruangan hingga wanita yang sedang terlelap kembali terperanjat bangun.

"Hei!!!" Kali ini bentakannya lebih seru. "Kau cari mati!"

Melihat signal Kemarahan tahanan wanita tersebut, kemarahan Aleta bertambah 100%. Kobaran api dalam hatinya kian membesar, siap membakar orang disekitarnya.

"Brengs**! Dari tadi kau meneriakiku! Kau pikir kau siapa, jal*Ng!"

Serangan tangan Aleta mulai meluncur, ia mencekik tahanan itu. 

"K--k--kau!" Suaranya terbata-bata seraya melepaskan cengkraman Aleta. 

Aleta semakin tak kalap. Kekuatannya berhasil mendorong tubuh si tahanan wanita sampai tersungkur. Walau begitu Aleta enggan menarik, justru ia semakin bengis dengan menduduki perut si tahanan.

"Kau ingin membunuhku! Maka sebelum Aku terbunuh, kau harus ku bunuh!"

Itulah prinsip Aleta, membunuh sebelum dibunuh.

"Le--le--lepas--kan! Ja-aa--jal**!"

Rasa kesakitan serta wajah memerah si tahanan wanita menjadikan bibir ranum Aleta melengkung indah. Pemandangan seperti ini sangat ia sukai.

"Gila! Wa---wanita gi--la. To--long!!!"

"Aleta!!"

Sigap Aleta menoleh ke sumber suara. "Sky …" ia pun menjauhkan cengkraman tangan dari leher si tahanan. 

Ukhuk … ukhuk …

"Tolong … wanita ini gila! Dia mau membunuhku." Lapor si tahanan, sembari mengusap kasar bekas cekikan Aleta.

"Sky … bebaskan Aku dari sini!" Pinta Aleta setengah memohon.

Tak tunggu lama, sang Polisi datang membukakan gembok Jeruji. Dari dalam Aleta menerobos keluar, menghambur pada tubuh Sky.

"Tadinya ku kira kalian tidak akan datang," ujar Aleta.

Sky yang selalu mendapat perlakuan demikian, sejujurnya merasa senang. Sky mengusap pundak Aleta. "Jangan khawatir, selama kami masih hidup kami akan selalu menyelamatkanmu."

"Oh … Sky, kau pantas disebut Kakak." Pelukan Aleta semakin kuat, darah Sky dibuat bersesir olehnya.

1 jam Kemudian.

Aleta duduk menunduk, tak sekalipun ia memberanikan diri menatap langsung wajah Louison walau sekedar melirik.

Meong … meong …

Bahkan ketika Katy, kucing kesayangan Aleta mengeong pertanda panggilan untuk Tuannya. Gadis itu tak menggubris.

"Kau sudah menyadari kesalahanmu?"

Aleta menggeleng lemah dan berkata jujur, "Tidak, Daady."

Brukk …

Dalam sekali gebrak, Louison mematahkan meja kayu se-tegal 7 inci di hadapan Aleta. Gadis itu sempat tersentak kaget. 

"Sky …"

"Iya, Ayah."

"Hukuman apa yang cocok untuk dia?"

Sebagai pengawal sekaligus anak angkat, Sky harus ikut serta memberi hukuman pada Aleta. Namun, sebagai seorang kakak yang menyimpan sejumput cinta untuk Aleta, ia tak sanggup.

Sky melirik ke arah Aleta. Kepala gadis itu menunduk, tapi ia masih merasakan tatapan Sky, Aleta pun menggeleng pelan.

"Sky!" Suara Louison memekik.

"Tidak, Ayah. Jangan hukum Aleta, tetapi …"

Kalimat Sky sengaja menggantung. "Tetapi … Aleta harus dijaga, seseorang harus selalu di sisinya agar ia tidak bisa berbuat macam-macam."

Terlihat Louison berpikir lama mengenai saran Sky. Seketika ia teringat sesuatu. 

"Bodyguard!" Ucapnya, "ya, Aleta butuh pengawal khusus."

Sky menghela lega, setidaknya Aleta lolos dari hukuman, tapi sekarang giliran dirinya yang tak lolos dari kilatan tajam netra biru Aleta.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED