Bab 1

"Tuan ini foto wanita yang kamu inginkan, namanya Camilla Rania Romanov," Marcel menyerahkan selembar foto itu kepada Farel."

"Tuan Romanov mempunyai dua Putri."

"Namun Putri keduanya adalah anak dari istri kedua, tidak ada yang tahu apakah putri keduanya itu anak tiri atau bukan. Tapi beredar rumor bahwa gadis itu adalah anak haramnya."

"Namanya Annabelle Felisha Romanov," lapor Marcel kepada pria yang duduk santai sambil menatap selembar foto di atas meja.

"Heum."

Terdengar suara pria itu singkat.

Pria itu segera mengambil dan melihat wanita yang ada di dalam foto itu dengan seksama.

Tersungging senyuman mengejek di sudut bibir Pria itu.

Farel mengangkat wajahnya melihat kearah Marcel.

"Marcel, lamar dia untukku," terdengar perintah yang keluar dari mulut Farel untuk melamar wanita yang ada di dalam foto itu.

Marcel menyitkan keningnya tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran tuannya.

Kenapa tiba-tiba Pria yang di duduk di di kursi kebesarannya itu meminta dirinya untuk melamar wanita yang ada di dalam foto.

"Tuan muda kenapa anda ingin melamar dan memilihnya menjadi istri?" tanya Marcel penasaran

Farel terdiam untuk sesaat, farel bangkit dari duduknya, dia melangkah ke arah jendela tatapannya lurus ke depan menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi.

"Kenapa, ada yang salah dengan diriku?" tanya Farel dengan suara dingin.

"Oh tentu saja tidak tuan muda?" jawab Marcell dengan cepat dan memaksakan senyumannya.

Marcel tidak bertanya lagi apa alasan, Pria yang berdiri membelakanginya,melakukan itu. Namun hatinya selalu bertanya-tanya? Kenapa tiba-tiba Farel memintanya untuk melamar seorang wanita yang sama sekali belum pernah ketemu.

"Baik tuan muda saya akan secepatnya mengurus pertunangan tuan muda dengan gadis itu."

"Lakukanlah sekarang dan secepat mungkin," perintah Farel dengan suara dingin.

Marcel segera berlalu dari ruangan Tuan mudanya, Farel tersenyum penuh arti.

"Tuan Romanov, sebentar lagi aku akan menjadi bagian dari keluargamu, tunggu saja kedatangan ku," gumamnya dalam hati.

Farel Charly Van Houten adalah seorang pemilik perusahaan ternama di kota xanthones, dia dikenal dengan pria yang dingin dan arogan.

Semua tidak berani melawannya dengan kata lain dia seperti mafia yang kebal dengan hukum.

Bukan tidak mungkin bagi Farel Charly Van Houten ini untuk membuat orang-orang yang berani melawannya mendekam di dalam jeruji besi.

Waktu bergulir begitu cepat di keluarga Romanov pria paruh baya itu sedang duduk di ruangan meja makan, mereka menikmati makan malam dengan nikmatnya.

Romanov membuka suaranya.

"Rania, seorang pengusaha besar Farel Charly Van Houten akan datang untuk melamar kamu, apa kamu bersedia menikah dengannya?" tanya Romanov meminta persetujuan Putrinya.

Rania begitu kaget dia menghentikan aktivitasnya untuk menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.

"Apa Ayah?"

"Ayah akan menikahkan pria itu dengan gue?"

"Tidak ayah."

"Rania tidak mau menikah dengan orang yang tidak Rania cintai."

"Ayah sudah gila," ucap Rania, ia segera bangkit dan berdiri meninggalkan meja makan.

Romanov hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya yang begitu berani melawannya.

Romanov segera bangkit dan meninggalkan ruang makan menuju kamar Rania.

Tangan Romanov bergerak meraih handle pintu untuk mendorongnya ke dalam.

Terlihat Rania mendudukkan tubuhnya di kasur.

Gadis itu memalingkan wajahnya melihat kearah ayahnya yang mendudukkan kan badannya di sampingnya, Rania masih ketawa dengan ucapan Ayahnya tadi di meja makan.

"Ayah jangan paksa gue untuk menikah dengannya."

Romanov terlihat kesal dia mengerutkan keningnya dan melihat ke arah Putrinya itu.

"Ayah tidak punya pilihan, kamu harus mau menikah dengannya," tekan romanov kali ini pada Putrinya.

"Kenapa tidak Annabelle aja yang menikah, Yah,"

Hening sesaat, Romanov mencerna perkataan Rania untuk beberapa saat.

"Benar juga ucapanmu, kenapa tidak Annabelle saja yang menikah dengannya? jawab Romanov yang menaruh tangannya di dagu.

Senyuman evil tersungging di bibirnya.

"Ya."

Romanov berniat memaksakan Annabelle untuk menikah dengan Farel apapun caranya, karena dia pun tidak suka dengan gadis itu berada terlalu lama di rumahnya. Meskipun dia adalah Anaknya, namun Romanov tidak pernah memperlakukan Annabelle sebagai seorang Ayah dan Anak.

Dalam pikiran Romanov dia akan memaksa Annabelle.

Annabelle mau tidak mau dia harus menikah dengan Farel yang ditujuk Ayahnya sebagai imam untuknya.

Meskipun Annabelle tidak tahu, semua itu sudah direncanakan oleh Romanov dan Rania.

Hari pernikahannya sudah tiba, dua orang gadis sedang duduk di cermin.

Annabelle melihat wajahnya di cermin yang sedang di dandanin oleh para penghias pengantin. Annabelle akan menjadi seorang pendamping pengantin wanita.

Sekilas tidak ada yang aneh, semua berjalan baik-baik saja, para tamu undangan sudah hadir memadati rumah Romanov yang besar.

Semua orang berteriak kagum dan bahagia, kedua gadis itu turun dari lantai dua menuju tempat dimana seorang dari mereka akan mengikat sebuah janji suci pernikahan.

Farel berjalan ke arah Rania, Farel mengambil kotak cincin berlian yang dibawa oleh seorang pelayan ke arahnya, dia segera membuka kotak cincin dan hendak melingkarkan di jari manis Rania. Namun gadis itu segera menepis tangan Farel dan berjalan meninggalkannya.

Farel begitu kaget ketika Rania menolaknya, dia menggenggam kotak cincin ditangannya dengan kuat.

Penolakan Rania membuat penghinaan kepadanya begitu besar.

Farel menahan amarah, dia segera melangkah dan menarik tangan Romanov dengan kasar.

"Tuan Romanov apa yang kau lakukan padaku, apa kau sengaja membuat aku terhina di depan umum, hah?" tanya Farel dengan menggenggam tangan Romanov kuat.

"Kau sengaja membuatku malu?"

Farel melotot ke arah Romanov memberi tatapan sinis dan dendam kepadanya, nafasnya yang memburu menahan amarahnya membuat wajahnya yang putih bersih kini memerah seperti bunglon.

Romanov yang merasa ketakutan segera meletakkan kedua tangannya memohon pengampunan pria itu.

"Tuan, saya tidak tahu akan begini jadinya, semua rencana saya berjalan dengan baik, tapi saya tidak tahu pada akhirnya dia menolak Tuan."

"Ini benar-benar di luar dugaan saya."

"Maafkan saya Tuan," ucap Romanov sambil bersujud dan memohon kepada Farel agar pria itu mengampuninya.

Farel yang merasa sangat kesal dan marah masih berdiri dengan mengepalkan tangannya dangan rahangnya yang mengeras.

Ingin rasanya dia menghajar wajah Romanov sampai tidak berbentuk.

Kebenciannya kepada pria itu semakin bertambah, Farel menarik nafasnya panjang dan membuangnya dengan kasar.

"Aku tidak mau tahu pernikahan ini harus dilanjutkan, kau pikirkan bagaimana caranya!"

Farel berjongkok dan menarik kerah baju Romanov dengan kuat.

Farel melotot ke arah Romanov dengan memberi ancaman yang begitu membuat bulu kuduk Romanov merinding.

"Kalau kamu tidak menemukan solusi, lihat saja apa yang aku lakukan padamu malam ini, kau akan keluar dan akan menjadi gembel di jalanan malam ini juga, Tuan Romanov," Farel berbicara dengan lembut namun kalimatnya menekan dan mengancam.

Bab 2

Romanov begitu menggigil mendengar ancaman dari Farel dia tidak menyangka bahwa pria itu mampu melakukannya, selama ini Romanov tidak pernah tahu sepak terjang Farel seperti apa?

Dia hanya tahu pria itu seorang pengusaha kaya, namun Romanov tidak pernah tahu, bagaimana kekuatan sebuah kalimat yang keluar dari mulut pria itu.

"Ampun Tuan."

"Maafkan saya."

Terdengar suara Romanov sambil menyatukan kedua telapak tangannya dan sujud dan memohon di kaki Farel.

"Saya akan memaksa Putri saya untuk menikah denganmu, mau tidak mau malam ini dia harus bisa menikah denganmu Tuan Farel.

"Tidak perlu!"

"Aku tidak berselera lagi dengan putrimu, kalaupun dia menikah denganku paling jadi pembantu di rumahku," jawab Farel dengan suara yang mengertakkan giginya.

"Jangan bicara begitu Tuan, tolong beri kami kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki kesalahan saya, Anda boleh memilih satu diantara keduanya," jawab Romanov penuh ketakutan, karena dia cemas ancaman Farel akan berlaku kepadanya.

"Hohoho."

"Penawaran yang bagus," jawab Farel dengan senyuman evil.

"Apakah kau sedang melakukan sebuah penawaran denganku?"

Senyuman evil tersungging di sudut bibir pria itu.

"Saya tidak mengatakan kalau saya memberikan penawaran kepada tuan Farel, Namun semua tergantung kelembutan hati Tuan Farel untuk menerima penawaran saya."

"Kiranya sudi, Tuan Farel mengambil salah satu dari putri saya," jawab Romanov dengan wajah pucat.

Dia melihat beberapa pengawal Farel sedang berdiri di hadapannya dengan memberi tatapan intimidasi dan dingin.

Romanov tidak menyangka bahwa rencananya membuat pernikahan gagal ternyata berakhir dengan kemarahan dari Farel.

"Aku tidak akan membuat kamu terdepak dari rumah ini, mari kita lanjutkan permainan ini Tuan Romanov."

"Kau sudah membuat permainan dan kamu juga harus mengakhirinya, sekarang silakan salah satu putrimu akan menjadi korban untuk game yang kau mainkan sekarang, Tuan Romanov," ujar Farel sambil berjongkok melihat ke arah Romanov yang masih bersujud di hadapannya.

Romanov semakin bergetar mendengar ucapan dari pria yang berdiri di hadapannya.

Farel segera melangkah keluar menemui tamu undangan.

Pria itu tersenyum ke arah para tamu undangan sambil mempersalahkan mereka menyantap hidangan yang di sediakan oleh para pelayan rumah tuan Romanov.

Romanov yang masih duduk di ruangan tengah menarik nafasnya berat.

Marcell berjalan kearah Romanov dan berjongkok di hadapan pria paruh baya itu. Dengan memberikan tatapan tajam kepadanya.

"Kau sudah mempermalukan Tuan kami."

"Oleh karena itu kau harus menerima apa yang sudah kamu perbuat sekarang, Tuan kami tidak akan membiarkan kamu melenggang begitu mudah dan hidup dengan tenang dan bahagia."

Marcel memberikan intimidasi yang cukup membuat nyali Romanov menciut.

Marcel segera menarik ponselnya.

Pria itu meletakkan benda pipih itu di telinganya.

"Halo, sita semua rumah dan aset kekayaan Tuan Rumanov malam ini juga, dia harus membayar semua utangnya kepada perusahaan Asia Company," terdengar perintah Marcel di telinga Tuan Romanov.

Pria itu begitu kaget mendengar rumahnya disita dan aset kekayaannya disita.

Dia baru menyadari kalau dirinya berutang kepada orang-orang yang berada di dalam rumahnya.

Romanov sangat menyesalkan kenapa dia tidak menyelidiki dulu siapa Farel sebenarnya.

"Tu....tuan, tidak boleh melakukan ini pada kami!"

"Tolong berikan kesempatan untuk kami sekali lagi Tuan."

Anda boleh membawa dua-duanya Putri saya, Tapi tolong jangan sita semua aset yang saya miliki," jawab Romanov dengan suara yang bergetar.

Marcel berdiri dengan tegak dan tatapan dingin yang menusuk ke arah Tuan Romanov.

"Tapi kamu dengar sendiri kan? Tuan kami tidak berselera lagi dengan Putri mu itu?"

"Aku tidak bisa menolongmu."

Rumanov masih bersimpuh dengan tubuh yang bergetar, dia tidak pernah menyangka bahwa nasibnya akan sisial ini.

Suasana di luar sangat meriah, sebentar lagi akan digelar pertukaran cincin, dan juga mengikat janji suci pernikahan, Farel berdiri di lantai dua melihat ke arah para tamu undangan.

Seseorang menghampiri Farel .

Pemuda itu segera berpaling dan melihat ke arah ajudannya.

"Tuan muda."

"Bagaimana selanjutnya?" tanya ajudannya yang membungkuk hormat.

"Katakan padanya untuk melanjutkan pernikahan ini, aku ingin Putri keduanya," jawab Farel dengan tersenyum jahat.

Seringai iblis terpancar dari wajahnya saat melihat Rania berdiri dengan seorang Pria.

Farel merasa terhina, keluarga Rumanov harus membayar penghinaan ini, alih-alih membalas dendam justru Farel masuk dalam permainan Rumanov.

Diruangan sebelah seorang Pria menggunakan baju hitam mendekati dan berbisik di telinganya.

Setelah menerima perintah, Marcel berjalan ke arah Rumanov yang masih duduk bersimpuh di hadapannya.

"Pergi dan cari Putri keduamu itu sekarang juga! Tuan kami menginginkannya," perintah Marcel dengan suara tinggi.

Rumanov yang begitu ketakutan dan juga senang segera bersujud beberapa kali di hadapan Marcel.

"Terima kasih Tuan."

"Saya akan segera mencarinya," jawab Rumanov dengan suara datar.

Marcel melihat gelagat Rumanov yang mencurigakan, membuat keningnya berkerut.

Ada apa dengan Tuan Rumanov, kenapa dia terlihat begitu senang saat Putri keduanya di pinang oleh Tuan mudanya?

Rumanov segera mencari Anabelle, gadis itu begitu terkejut saat tangannya ditarik paksa oleh Ayahnya.

"Sakit Ayah.... Ayah sakit."

"Lepaskan tangan Annabelle Ayah," ucap Anabelle dengan suara lembut, gadis itu meringis kesakitan karena tangannya dipegang kuat dan di tarik paksa oleh ayahnya.

"Ikut."

"Ikut kemana Ayah?"

Tuan Romanov menghempaskan tubuh Annabelle kedinding.

Gadis itu meringis kesakitan.

"Ayah tidak mau tahu sekarang, kau harus menikah dengan Tuan Farel menggantikan kakakmu Rania, apakah kau mengerti!" bentak Tuan Romanov ditelinga Annabelle.

Annabelle begitu kaget matanya membulat penuh, lidahnya keluh, tenggorokannya tercekat.

Terdiam tidak ada suara, rasanya bagaikan tertimpa gunung di kepalanya, kenapa dia harus menikah dengan calon suami kakaknya pada malam hari pernikahan.

Kenapa harus menjadi pengganti pengantin kakaknya?

Annabelle menggelengkan kepalanya.

Tuan Romanov menatap Putrinya penuh dengan kebencian, giginya menggertak.

Pria itu dengan spontan menggenggam kuat rahang Annabelle.

"Kau harus melakukan itu untuk Ayahmu, apakah kau ingin Ayahmu miskin dalam satu malam dan terusir dari rumah ini, mau tinggal dimana kita, hah?"

"Saatnya kamu harus membalaskan budi Ayahmu yang sudah membesarkanmu sampai sekarang," ucap Rumanov dengan suara yang menekan giginya.

Rumanov menatap ke arah Annabelle dengan tajam.

Annabelle menundukkan wajahnya ke bawah menatap lantai rumahnya, air matanya begitu jatuh begitu saja tak diundang, hatinya begitu sakit dan sedih, Kenapa ini harus terjadi kenapa dia harus mengantikan kakaknya, dan harus menjadi korban?

Semua pertanyaan kenapa dan kenapa terus saja bergulir di benaknya.

Annabelle tidak menjawab mengiakan atau tidak.

Dengan diamnya dia sudah cukup memberikan sebuah jawaban bahwa ia menyetujuinya.

"Sekarang hapus air mata palsumu itu, saya tidak ingin melihat kau menangis, dan tamu undangan melihat air matamu!" ucap Tuan Romanov yang memberikan penekanan kepada Annabelle.

Annabelle terdiam, dia mengusap air matanya dengan telapak tangannya, perlahan dengan langkah lemah, dia berjalan mengikuti Ayahnya.

Bab 3

Annabelle berjalan ke arah Farel, gadis itu tidak berani mengangkat wajahnya melihat ke arah Farel.

Terdengar suara moderator memberi arahan kepada Farel untuk memasangkan cincin di tangan Annabelle.

Dengan hati yang kecut dan takut Annabelle segera mengangkat tangannya ke arah Farel.

Pria itu menatap Annabelle dengan tatapan dingin, Farel segera mengambil cincin dan memasangnya di jari manis Annabelle.

Mereka segera mengikat janji suci pernikahan, setelah pesta pernikahan berakhir, Annabelle segera dibawa oleh Farel ke rumahnya.

Sepanjang perjalanan, Annabelle memilih diam tanpa bicara hatinya, begitu kecut dan menciut dia tidak punya nyali untuk bertanya atau mengajak Farel mengobrol.

Annabelle mengalihkan pandangannya menatap gedung-gedung yang berjajar rapi di sepanjang jalan.

Hatinya diliputi rasa cemas, siapakah orang ini dan kemana orang ini akan membawanya?" begitulah yang ada dipikiran Annabelle.

Satu jam perjalanan mereka sudah sampai di rumah besar Farel.

Dengan perlahan Annabelle menurunkan kakinya dan pijat di lantai.

Sejenak Annabelle menarik nafasnya berat ada rasa sesak mendarat di hatinya.

Tidak tahu apakah suaminya akan memperlakukannya dengan baik atau sama saja dia seperti berada di rumahnya yang tidak pernah diperlakukan layaknya keluarga.

Sekilas terpikir sama saja dia di rumah suaminya, dengan berada di rumah orang Tuanya tetap akan menjadi pelayan, namun hal itu sudah sering dijalaninya sehingga dia tidak pernah merasa canggung kalau berada di rumah orang asing seperti saat sekarang ini.

Annabelle menelan silvanya.

"Glek."

Farel masuk ke dalam tanpa berucap sepatah katapun kepada Annabelle.

Gadis itu masih mematung di tempatnya.

Marcel yang melihat segera menghampiri.

"Mari Nona Ana masuk ke dalam," ajak Marcell dengan suara datar.

Annabelle melihat kearah suara, dia memaksakan senyumannya kepada Pria yang berdiri di hadapannya.

Sedikit kagum.

Ya.

Itu yang ada dipikiran Annabelle.

Wajah Marcel yang tampan dan terlihat tidak seram, namun sayang sikapnya seakan tidak bersahabat, wajahnya datar-datar saja dan tidak ramah.

Namun itu cukup menggambarkan bawah nyali Annabelle menciut.

Annabelle melangkah masuk ke dalam rumah yang begitu besar seperti istana, membuatnya sedikit bingung bagaimana kalau dirinya tersesat dan tidak tahu jalan keluar?

Dia terus saja mengikuti langkah Marcel yang lebar, Annabelle berjalan lebih cepat agar dia tidak ketinggalan sebab Marcel lebih tinggi tentu saja langkahnya lebih lebar.

Annabelle yang kecil dan imut tentu saja langkahnya lebih kecil dan sulit mengimbangi langkah Marcel yang bertubuh tinggi dan tegap dengan langkah yang lebar layaknya seorang tentara.

Annabelle berhenti saat Marcel menghentikan langkahnya dan berpaling melihat kearah Annabelle.

"Nona tunggu di sini dulu sebentar, saya akan kembali," ucapnya dengan suara datar dan dingin.

Annabelle mengangguk mengiyakan.

Marcel melangkah ke ruang kerja Farel, dia berdiri dan membungkuk di hadapan Pria yang duduk santai di sofa.

"Tuan Muda."

"Apakah Annabelle akan tidur di kamarmu?" tanya Marcel memastikan.

Farel mengangkat wajahnya melihat ke arah Marcel.

"Berikan kamar yang kecil untuknya, dia akan menjadi pembantu di rumah ini," jawab Farel dengan suara dingin.

"Tuan Rumanov sudah berani mempermalukan aku di pesta pernikahan ini dan aku tidak akan membiarkan dia tertawa begitu saja, dia dan Putrinya harus menderita," jawab Farel dengan wajah yang dingin dan sinar mata yang penuh dendam.

Marcel terdiam di tempatnya dia tidak berani membantah ucapan tuannya.

Farel melihat Marcel yang masih berdiri di hadapannya. Biasanya Pria itu akan pergi ketika telah berbicara satu kalimat dengannya.

Farel kembali melihat ke arah Marcel.

"Ada apa Marcel, apa ada yang mengganggu pikiranmu?"

"Tuan muda, sepertinya mereka kurang senang dengan Nona Annabelle," jawab Marcel singkat.

Farel mengeryitkan keningnya, mendengar ucapan dari Marcel.

"Kalau begitu kalian cari tahu alasan apa dia tidak suka dengan Annabelle, sebenarnya Annabelle itu Putri siapa?" perintah Farel dengan suara rendah.

Marcel segera membungkuk dan mengundurkan diri dari hadapan Farel.

Dia kembali berjalan dan memerintahkan kepala pelayan untuk menemui Annabelle yang masih berdiri mematung di depannya, Pria itu mengangkat wajahnya melihat kearah Annabelle ada rasa kasihan menyeruak di dalam hatinya, wajah Annabelle yang begitu polos dan cantik alami, Marcel merasa beriba, dan hatinya bertanya kalau gadis itu adalah korban dari keserakahan Rumanov.

Kepala pelayan itu berjalan ke arah Annabelle gadis itu mengangkat wajahnya melihat seorang Pria paruh baya berjalan ke arahnya dengan memasang wajah dingin.

"Mari Nona."

Annabelle kembali mengikuti pelayan yang berjalan didepannya.

Dia berhenti di ujung lorong dan tepatnya di sebuah kamar yang berukuran kecil, Annabelle sudah menduga bahwa itu adalah kamarnya, namun dia tidak terkejut karena baik di sini maupun di rumahnya juga memiliki kamar yang kecil untuk dia tempati layaknya seorang pelayan.

"Ini kamar untukmu."

"Maaf, saya hanya menjalankan perintah," ucap kepala pelayan dengan datar.

Annabelle membungkuk dan tersenyum.

"Tidak apa Paman, aku mengerti kok."

Kepala pelayan itu segera menyerahkan kunci kamar kepada Annabelle.

Gadis itu segera mengambil dan kembali tersenyum sambil berucap sebuah kalimat.

"Terima kasih Paman."

Annabelle segera membuka pintu kamar itu dan tangannya bergerak meraih handle pintu dan mendorongnya ke dalam.

Annabelle melihat sekeliling ruangan yang tidak begitu luas namun di dalamnya ada kamar mandi dan sebuah kipas angin terdapat di sana.

Annabelle tersenyum.

Dia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan kasur yang tidak begitu empuk, Anabelle menarik nafasnya pelan.

Annabelle menatap langit-langit kamarnya pikirannya kembali saat di mana Ayahnya, memaksanya menikah dengan orang yang yang tidak dia kenal, bahkan dia sendiri tidak pernah melihat seperti apa wajah suaminya, sebab Annabelle tidak berani menatap wajahnya.

Annabelle hanyut dalam lamunan terdengar suara ketukan pintu begitu keras dari luar.

Tuk-tuk-tuk.

Annabelle segera bangkit dan berjalan ke arah pintu kamar, tangannya bergerak meraih handle pintu dan mendorongnya ke dalam, gadis itu tercengang ketika melihat sesosok Pria yang berdiri di hadapannya, dan menatapnya dengan tatapan yang begitu dingin dan menusuk.

Annabelle segera menundukkan wajahnya kebawah, dia tidak berani melihat ke arah mata dingin itu.

"Tu...an, siapa?" tanya Annabelle dengan suara yang terbata-bata.

Pria dingin itu menyeruak dengan kasar masuk ke dalam dengan menabrak bahu gadis itu.

Senyum jahat terpancar dari sudut bibir Pria itu, dia adalah Farel yaitu suaminya sendiri.

"Ana."

"Apa aku harus memanggil dirimu gadis cupu?" terdengar suara Farel yang memecah keheningan di kamar itu.

Annabelle terdiam tidak menjawab. Wajahnya menunduk ke bawah.

"Aku rasa tempat ini layak untukmu, aku menikahi mu hanya untuk menjadi pelayan ku, oleh karena itu kau harus menurut apa yang aku perintahkan, apa kau mengerti gadis cupu?" terdengar suara bariton Farel di telinga Annabelle.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED