Klek.
Pintu ruang kepala sekolah terbuka. Gadis mungil dengan seragam sekolah rapi keluar dari sana. Menutup pintu dan berjalan dengan gontai sambil menunduk. Rambut cokelat sebahunya dibiarkan tergerai. Mata hazelnya terus memerhatikan lantai. Di telinganya terus terngiang ucapan kepala sekolah tentang beasiswanya dan juga beasiswa kakaknya di salah satu SMU swasta Jakarta.
Cantika Aprillya Renata, orang-orang mengenalnya dengan nama Cantika. Gadis keturunan Indonesia-Belanda itu tampak murung setelah tiga tahun lalu ayahnya bangkrut dan meninggal. Kini ia dan kakaknya, Kevin Nicholas bersekolah dengan beasiswa di sekolah itu. Cantika begitu rajinnya bertekat untuk mengubah nasib keluarganya. Ibunya kini hanyalah seorang penjual bakso keliling sedangkan adiknya Jasmine Tania Renata masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.
Kevin benar-benar memiliki reputasi buruk di sekolah hingga pihak sekolah mengancam untuk mencabut beasiswa Cantika dan Kevin. Dengan bersusah payah, Cantika akhirnya berhasil bernegosiasi dengan kepala sekolah. Cantika dan Kevin bisa tetap bersekolah di sana asalkan Cantika bisa mengubah watak dari seorang pemalas di sekolah. Dia, Fattan Aliditia Assegaf yang sama sekali tak Cantika tahu rupanya seperti apa.
Bugh.
"Awsh, sorry, sorry gue nggak sengaja." Cantika meminta maaf saat tanpa sengaja menabrak seseorang hingga mereka terjatuh.
Cantika mendongak saat orang yang ia tabrak mengulurkan tangan ke arahnya. Cantika menyambut uluran tangan itu dan berdiri tegak di depan seorang cowok dengan penampilan acak-acakan. Baju sebelah kanan masuk ke dalam celana, sebelah kiri dibiarkan terjuntai. Tas selempang yang ia sandang sembarang. Rambut agak gondrong acak-acakan. Sepatu dengan tali yang tidak sinkron. Aih, bahkan Cantika yang seorang kidal pun bisa menalikan sepatu dengan baik, tapi cowok di depannya? Jauh dari kata baik.
"Lain kali hati-hati, manis." Cowok itu mengedipkan sebelah matanya ke arah Cantika sebelum ia pergi dan membuat Cantika bergidik dengan tingkah cowok itu.
"Kenapa lo Ka, bergidik gitu?" tanya Nadine, sahabat Cantika.
"Eh nggak, gue nggak pa-pa Nad. Eh iya Nad, lo liat abang gue nggak?"
"Nggak Ka, seharian ini gue belum lihat abang lo. Lo lihat James?"
"Aih Nad, James kutu kupret biasanya jalan sama abang gue udah kaya koyo mereka nempel mulu."
"Hush, kalau James koyo, ya nempelnya ke gue bukan ke abang lo."
"Whatever, gue mau cari abang gue dulu bye Nad!"
"Gue juga mau cari pacar gue dulu. Kalau lo nemu kabarin gue Ka." Nadine beeteriak pada Cantika yang sudah menjauh dan dijawab dengan acungan jempol oleh Cantika sebagai jawaban; ya.
***
Suasana sekolah saat ini bisa dibilang sepi. Seorang cowok dengan gaya yang berantakan dari ujung kaki sampai ujung kepala berjalan dengan santainya menyusuri lorong sekolah. Ia bahkan tak perduli jika harus berurusan dengan guru BK.
"Woi Fattan! Lo ngapain ke sini?" tanya salah seorang dari gerombolan empat orang cowok.
"Gue? Ya mau sekolah lah masa mau nyangkul!" sewot cowok yang dipanggil Fattan itu.
"Mendingan lo ke toilet cuci muka dan liat pake bibir lo sekarang jam berapa?" timpal yang lain.
"Sekarang jam dua belas siang hehe." Fattan menjawab cengengesan diiringi gelengan teman-temannya.
"Fattan dari mana kamu?" tanya sebuah suara bariton yang terkesan mengintimidasi dari balik tubuhnya. Siapa lagi kalau bukan Pak Edwin, guru BK yang sangat ganas di sekolah. Fattan menoleh dan menatap Pak Edwin dengan jenaka, tanpa rasa bersalah.
"Saya dari belakang, Pak," jawab Fattan membuat yang lain terbahak.
"Diam!" sentak Pak Edwin membuat mereka semua bungkam. "Kamu tahu peraturan di sekolah ini?"
"Tahu, Pak."
"Kenapa kamu melanggar peraturan? Sudah yang ke berapa kali ini kamu melanggar aturan? Fattan Aliditia Assegaf!" Pak Edwin mulai gemas dengan murid nakal yang satu itu.
"Nah karena itu, Pak. Sekolah ini punya aturan dan menurut saya peraturan itu ada untuk dilanggar bukan ditaati, karena kalau peraturan itu ada untuk ditaati untuk apa ada hukuman? Nggak guna dong Pak? Kalau saya nggak buat masalah guru BK kaya bapak nggak ada kerjaan dong? Makan gaji buta dong? Saya kan sekolah di sini bayar Pak, jadi ya suka-suka saya orang saya nggak minta makan sama bapak ini. Permisi, Pak!" ujar Fattan panjang lebar yang cukup membuat Pak Edwin melongo tidak percaya dengan pernyataan si pemalas Fattan.
Fattan dan ke-empat temannya kini berjalan menuju gedung belakang sekolah yang lama tak terpakai. Mereka berlima bukan siswa sembarangan. Yups, mereka adalah The Alfa, sebuah geng yang terbiasa menangani permasalahan luar sekolah jika ada sekolah lain yang ingin menyerang, mengingat pada masa sekarang sedang marak-maraknya tawuran antar pelajar. The Alfa; lima cowok tampan yang membuat setiap cewek bertekuk lutut.
Kevin Nicholas, lebih dikenal dengan nama Kevin. Dia paling tinggi di antara semuanya. Wajah tampan dengan hidung runcung setara trisula dewa Zeus dengan mata teduhnya, menggoda siapa pun yang melihatnya. Aldric Mahendra, biasa dipanggil Al. Berbadan kokoh dan bertubuh tinggi walau tak setinggi Kevin. Wajah rupawan dengan mata hazel yang menatap dengan teduh membuatnya begitu digilai banyak perempuan.
James Alfredo, biasa dipanggil James. Dia adalah pacar Nadine yang baru saja pindah sekolah. Di sekolah James yang dulu akan sangat dibenci jika menjalin cinta dengan anak murid sekolah lain, karena James begitu mencintai Nadine akhirnya ia memutuskan pindah sekolah dan bertemu dengan The Alfa. James adalah seorang keturunan Filipina-Australia dengan pancaran mata yang indah.
Marthin Farez, biasa dipanggil Marthin. Keturunan Indonesia-Arab dan sekarang hidup sebatang kara. Hanya The Alfa yang Marthin punya setelah kedua orang tua dan kakaknya meninggal dalam kecelakaan pesawat beberapa tahun silam. Terakhir si pemalas, Fattan Aliditia Assegaf. Keturunan Indonesia-Arab yang selalu datang ke sekolah jam dua belas siang. Benci diatur dan segala macam tentang aturan. Bosan pelajaran sekolah. Hanya tertarik pada blogging, programming, dan hal-hal tentang IT.
"James gimana lo sama Nadine?" tanya Kevin.
"Gue sama Nadine? Baik kok."
"Oke kalau gitu mendingan sekarang lo ngomong deh sama Nadine soalnya nanti sore itu pertaruhan hidup dan mati kita, demi pacar lo itu James."
"Oke Thin, ntar gue ngomong ke Nadine."
"Kalian ke mana ntar? Masa gue nggak ikut?" Fattan berucap sebal.
"Hei jagoan, lo itu sengaja nggak kita ikutin setiap kita tempur. Identitas lo kita bikin undercover, musuh-musuh kita nggak tahu kalau ada lo. Mereka taunya cuma kita berempat aja. Ada masanya lo akan keluar sebagai iblis paling berbahaya buat mereka semua, tapi nggak sekarang."
"Ah oke I know, Al. Yang penting sekarang gue mau ke kantin, laper." Fattan segera berjalan menuju kantin diikuti oleh yang lain.
"Bang Kevin."
Mereka berlima berhenti dan menoleh saat mendengar suara cempreng itu. Dari kejauhan Cantika berlari ke arah Kevin dan memeluknya erat seakan sedang ketakutan. Kevin yang mengerti maksud Cantika langsung memberi kode pada yang lain agar menjauh. Anggota The Alfa yang lain pun menjauh, dalam The Alfa tidak ada kata ketua geng atau apapun yang mereka tahu, mereka itu sahabat.
"Ada apa, Dek?"
"Kita terancam nggak nerima beasiswa lagi Bang dan bisa berhenti sekolah di sini." Cantika berujar dengan raut sedih yang sangat kentara. Keinginan almarhum ayahnya selalu terngiang-ngiang untuk ia dan kedua saudaranya melanjutkan pendidikan. Ia tidak ingin mengecewakan keinginan terakhir mendiang ayahnya, karena itu apa pun yang terjadi ia akan berjuang keras untuk mempertahankan beasiswanya dan juga kakaknya.
"Ya udah nggak pa-pa, biar abang cari uang buat kamu sama Tania sekolah."
"Nggak Bang, nggak, nggak boleh gitu. Abang nggak inget pesen almarhum ayah yang mengharuskan kita sekolah paling nggak sampai lulus SMA?"
"Ah ya udah abang pinjem uang sama temen abang aja ya."
"Nggak Bang, jangan! Maksudku, Bang Kevin bantuin aku aja."
"Bantu apa, Dek?"
"Jadi, kepala sekolah bakalan ngasih beasiswa buat kita lagi kalau aku bisa minimal bikin seseorang yang sering bolos jadi masuk seminggu berturut-turut."
"Siapa?"
"Fattan Aliditia Assegaf. Abang mau bantu aku nyari cowok itu kan?" tanya Cantika dengan polos yang disambut tawa cekikikan Kevin. "Bang Kevin kenapa ketawa? Ih nyebelin!" Cantika memukul lengan kiri Kevin karena sebal.
"Ya, habis kamu lucu. Masa nggak kenal sama Fattan? Dia kan sekelas sama kamu."
"Hah? Sekelas ... sama aku? Yang mana?"
"Ayo ikut abang, biar abang kenalin sama dia."
Kevin mengajak Cantika menuju kantin sekolah di mana The Alfa sudah pergi duluan ke sana. Sebagai satu-satunya laki-laki dalam keluarga kecil mereka sekarang, Kevin merasa bertanggung jawab besar pada ibu dan kedua adiknya. Ia paham betul, reputasinya yang buruk di sekolah membuat dampak buruk bagi beasiswanya dan Cantika, tapi mau bagaimana lagi? Serangan sekolah lain menuju ke sekolah mereka jika tidak dihalau bisa membahayakan Cantika juga nantinya. Ia tidak ingin adik-adik dan ibunya terluka oleh hal apa pun itu selama ia masih bisa melindungi mereka.
"Fattan sini bentar dah!" Kevin melambai ke arah The Alfa, lebih tepatnya ke arah Fattan yang tentu membuat anggota yang lain ikut menoleh. Fattan pun meninggalkan The Alfa dan berjalan ke tempat Kevin dan Cantika yang berada di pojokan kantin, sementara anggota The Alfa yang lain hanya angkat bahu acuh tak acuh pada urusan yang mungkin melibatkan Fattan, Kevin, dan adiknya.
"Ada apaan Vin? Eh, hai manis!" Fattan mengedipkan sebelah matanya ke arah Cantika.
"Nah ini Fattan, orang yang kamu cari Dek." Kevin menjelaskan pada Cantika, mengabaikan sikap genit Fattan yang sering berlaku genit pada gadis-gadis lugu di sekolah.
"Hah gue dicari? Berasa teroris aja dicari-cari." Fattan membuka bungkus permen karet yang ia ambil dari saku celananya.
Cantika masih diam dengan mata membulat sempurna. Jadi cowok yang bertabrakan dengannya itu yang bernama Fattan Aliditia Assegaf? Wajah Indo-Arabnya begitu kental dengan postur tak terlalu tinggi untuk ukuran cowok. Mata hitamnya indah dilingkupi bulu mata super lentik dan alis yang rapih tampak seperti ulat bulu. Yang membuat semua cewek salah fokus pasti bibirnya yang semerah ceri. Oh, ayolah Cantika! Ini bukan waktunya untuk terpana, ada masalah yang lebih genting daripada sekedar mendamba pada sosok tampan di hadapannya.
"Dek kamu ngelamun? Aduh Tan, pesona lo bisa bikin banyak orang overdosis kayanya, bahkan adek gue aja bisa sampe cengo gitu."
"Ah, Bang Kevin apaan sih. Orang nggak ada apa-apaan juga." Cantika memukul lengan Kevin lagi sedangkan Fattan hanya melirik kakak-beradik itu sambil mengunyah permen karet.
"Ya udah, kenalin Dek ini Fattan temennya abang dan ini Cantika, adek gue Tan."
"Fattan."
"Cantika."
Mereka berjabat tangan sembari Fattan mengedipkan sebelah matanya membuat Cantika kembali bergidik, tapi tak bohong jika ia terpesona pada sosok di hadapannya. Fattan dengan segala pesonanya dan Cantika dengan keluguan dan tekad kuatnya untuk mempertahankan beasiswa.
***
"Lo tinggal di rumah sebesar ini sendirian?" tanya Cantika setelah tadi ia menjelaskan misinya kepada Fattan dan Fattan langsung membawanya ke rumah besar yang membuat Cantika begitu takjub akan hal itu.
"Kaya yang lo lihat. Gue di rumah ini sendirian. Ada sih beberapa mbak di belakang, tapi kalau lo mau, lo bisa tinggal di sini sebagai nyonya Fattan Aliditia Assegaf." Fattan kembali menggoda Cantika yang tanpa sadar membuat pipinya bersemu merah muda.
"Hish apaan deh." Cantika memukul lengan Fattan. Sepertinya itu sudah menjadi kebiasaan Cantika saat sedang kesal dia akan memukul lengan orang yang membuatnya kesal.
"Tapi gue serius." Fattam berjalan memutari Cantika dan mengunci tubuhnya di tembok. Sejak awal pertemuan mereka yang tidak disengaja, Fattan sudah tertarik pada gadis mungil di hadapannya ini. Bagaimana cara mendeskripsikannya ya? Di mata Fattan, Cantika terlihat cantik, tapi juga manis sekaligus. Mata hazelnya begitu bercahaya, sarat akan ketekunan dan mimpi besar yang bahkan Fattan sendiri tidak mempunyai hal itu.
"Apaan sih!" Cantika berusaha mendorong tubuh Fattan, tapi tenaganya kalah besar dari cowok itu
"I want you." Fattan mengedipkan sebelah matanya. God, manis sekali adik sahabatnya ini.
Cantika menelan ludahnya susah payah. Darahnya berdesir, jantungnya berdetak liar apalagi melihat wajah tampan Fattan dengan begitu dekatnya. Alisnya, matanya, hidungnya, bibirnya, dagunya, ah pantas saja sepanjang jalan menuju parkiran mobil Fattan tadi dipenuhi para fans Fattan yang membludak. Jarak wajah mereka semakin dekat bahkan hembusan nafas Fattan terasa hangat menyapu pipi Cantika. Tanpa disadari, Cantika telah memejamkan kedua matanya.
"Ya, sebaiknya lo tunggu di sini." Fattan menyentil dahi Cantika dan meninggalkannya begitu saja dalam kegemingan.
Sepeninggal Fattan, Cantika masih diam seperti patung. Jantungnya menggedor rongga dadanya dengan kuat. Ada apa? Belum ada dua puluh empat jam dia mengenal seorang Fattan Aliditia Assegaf dan dia mendadak terkena serangan jantung? Yang benar saja! Oke, ini gawat! Dia harus jaga jarak dari Fattan. Harus! Sepertinya, memang tidak akan mudah mengajari anak yang satu itu.
"Ngapain masih di situ?" Fattan bertanya seraya duduk di sofa ruang tamu setelah berganti pakaian dengan celana jeans pendek dan kaos oblong berwarna hitam.
"Enggak."
Buru-buru Cantika berjalan menuju sofa dan duduk di sebelah Fattan. Menurut Cantika rumah semewah itu dengan berbagai fasilitasnya tampak begitu menyamankan, tapi diakui atau tidak rumah yang begitu lengang menimbulkan kesan dingin yang tidak mengenakkan.
"Kita akan belajar apa hari ini?" Kembali Fattan bertanya saat seorang art datang membawakan minuman dan camilan ringan.
Dengan segala optimisme dan ambisi untuk tidak kehilangan beasiswa, Cantika mulai membuka-buka buku catatannya dan menjelaskan ini dan itu pada Fattan setelah sang art kembali ke belakang. Tanpa Cantika tahu, yang masuk ke dalam kepala Fattan bukan penjelasan-penjelasam tentang pelajaran yang ia paparkan, tapi bagaimana gerak-gerik Cantika terlihat begitu memukau layaknya seorang mayoret yang sedang memimpin drum band.
"Bang kayanya ide Bang Kevin nitipin aku di rumah Fattan tuh bukan ide bagus," ucap Cantika ketika ia bertemu Kevin ke-esokan harinya di sekolah. Sumpah demi apapun, ia hanya ingin mengajari bocah berandalan pemalas itu, tapi kenapa Kevin justru menitipkan dirinya di sana?
"Dek, ini demi kebaikan kamu juga. Rentenir itu pasti datang ke rumah buat nagih utang, abang nggak mau kamu kenapa-kenapa."
"Tapi, Bang ...."
"Udah, kamu aman di tangan Fattan."
"Tapi gimana sama ibu? Tania? Apa Abang juga bisa jamin keselamatan mereka?"
"Ibu sama Tania juga bakalan aman, kamu tenang aja Dek. Lagian kalau kamu mau ngubah Fattan, tapi nggak tinggal di rumahnya, dia nggak akan berubah sama sekali."
"Are you serious Bang?"
"Yeh ini anak nggak percaya. Udah, abang keluar aja ya dari sekolah biar abang cari uang buat kamu sama Tania sama Ibu."
"Nggak Bang! Please kali ini aja izinin aku bantu beban Bang Kevin ya? Bodo amat mau kaya apa itu si Fattan Fattan itu, yang penting Abang jangan putus sekolah."
"Yakin mau ngadepin Fattan?"
"Ya yakinlah, Abang aja yakin ngejamin keselamatan aku dari rentenir yang mau nagih utang ayah, gimana aku nggak yakin ngadepin Fattan. Rentenir lebih serem dari Fattan, Bang."
"Iya rentenir lebih serem dari Fattan sebelum kamu tau Fattan yang sebenernya. Ya udah abang ke yang lain dulu ya."
"Ya udah Bang, hati-hati jangan berantem mulu!" teriak Cantika memperingati Kevin yang sudah berlari menjauh.
Sepeninggal Kevin, Cantika pun bergegas menuju kelasnya, namun belum sampai satu langkah ia terjerembab jatuh membuat semua yang ada disana tertawa melihat Cantuka. Tidak terlalu sakit, tapi malunya itu. Ia mencoba berdiri lagi dan rupanya tali sepatunya terikat menjadi satu pantas saja ia sampai terjatuh, ini semua pasti ulah si tengil Fattan.
Dengan mata merah marah, Cantika bergegas menuju kelas dan di sana Fattan sedang duduk santai di kursi paling pojok belakang. Rambutnya yang agak gondrong dibiarkan berantakan, dasinya miring kemana-mana, almamater entah kemana perginnya, kakinya ia naikkan ke atas meja dengan sepatu yang bertali berantakan. Fattan asyik bersiul-siul tanpa terganggu oleh Cantika yang kini ada di depannya.
"Heh lo, lo ...," ucap Cantika dengan emosi memuncak dan Fattan hanya menoleh cuek lalu kembali bersiul-siul seenaknya.
"Ada Bu Wita, ada Bu Wita!" celoteh anak-anak membuat Cantika urung memarahi Fattan dan kembali ke bangkunya yang ada di depan.
Sementara itu Fattan meraih alamamater dan memakainya asal. Setelah itu dia pindah duduk di meja tengah bersama Agus. Agus hanya menurut saat Fattan duduk di sampingnya, pasti ada apa-apa. Bu Wita, guru bahasa Arab yang bisa dibilang cukup killer.
Bu Wita duduk dengan angkuh di kursi pengajar. Kacamata yang agak turun, entah karena hidungnya terlalu sombong untuk keluar atau memang tidak datang waktu pembagian hidung. Bibir merah seperti baru saja memakan ayam mentah. Mengerikan.
"Buka Al-qur'an kalian!" Begitu perintahnya dan semua murid di sana langsung menaati itu kecuali Fattan yang dengan santainya bermain smartphone.
Bu Wita mengedarkan pandangannya dan menangkap Fattan sebagai mangsa empuk kali ini. Masalahnya adalah Fattan baru pertama kali mengikuti pelajaran bahasa Arab selama ini. Anak ajaib yang super pemalas ini sungguh kelewat dari kata nakal.
"Fattan berhubung kamu baru sekali mengikuti pelajaran Ibu, sekarang baca surat Yasin ayat satu sampai lima belas," titahnya yang disambut Fattan sengan memutar bola matanya malas.
Fattan kemudian menyikut perut Agus yang ada di sebelahnya sembari memelototkan matanya. Agus yang paham dengan maksud Fattan segera membaca surat Yasin sementara Fattan hanya mangap-mangap seperti ikan cupang kekurangan air. Sambil menyelam minum air, sambil berpura-pura mengaji Fattan mengkhayal sedang lipsing di sebuah mega konser. Ajaibnya tidak ada yang tahu kalau Fattan hanya lipsing mengaji, yang tau hanya Fattan, Agus, dan Allah.
***
"Belajar yang bener!" seru Cantika sembari memukul kepala Fattan dengan buku yang sudah ia gulung menyerupai tabung.
"Hadoh Ka, bisa santai nggak sih?"
"Nggak!"
"Buset ini pacar gue galak amat berasa Bu Wita."
"Fattan!" Cantika gemas meladeni celotehan anak ajaib yang super malas macam Fattan.
"Iya."
"Kerjain soalnya." Cantika kembali memukul kepala Fattan dengan bukunya.
"Iya bawel."
"Sepuluh menit gue balik harus udah selesai."
"Buset sepuluh menit gue baru selesai napas."
"Nggak pake protes."
"Awsh." Fattan merintih sembari mengusap-usap kepalanya yang terasa gatal, karena dipukuli Cantika semenjak tadi.
Mau tak mau akhirnya Fattan mengerjakan soal matematika yang menurutnya lebih sulit daripada memahami cewek PMS. Barisan angka itu begitu rumit. Andai matematika seperti biner yang hanya memiliki 2 angka, 0 dan 1, tapi sayang matematika bukan biner. Harus dikalilah, dibagilah, ditambahlah, dikuranglah, diakar kuadratlah, rasanya kepala Fattan seperti sedang dicuci dengan mesin cuci; berputar-putar membuatnya pusing.
"Mana jawabannya?" tagih Cantika sembari memukul kepala Fattan dengan buku.
"Hadoh ini namanya kekerasan dalam rumah tangga!"
"Jawabannya mana nggak usah ngeles kaya tukang bajaj."
"Nih," ujar Fattan sembari memberikan bukunya pada Cantika.
Dengan seksama Cantika mengoreksi jawaban Fattan dan ajaibnya Fattan berhasil menjawab semua soal yang diberikan Cantika dengan benar.
"Sorry kalau gue bener." Fattan berujar pongah dengan tampang tanpa dosanya memainkan dasi.
"Tsk, pasti Lo nyontek di google kan? Ngaku Lo!" Cantika menatap curiga pada Fattan yang balik menatapnya dengan jenaka.
Kali ini bel tanda pelajaran berganti menyelamatkan Fattan dari kecurigaan Cantika yang sudah memuncak. Fattan kembali ke singgasananya di bangku paling pojok belakang, dan pelajaran matematika kali ini yang Fattan lakukan adalah tidur nyenyak seperti bayi yang sedang ditimang-timang ibunya.
"Cantika keluar!" seru suara bariton Pak Fandi; guru matematika.
"Tap ... tapi, Pak ...."
"Saya bilang keluar ya keluar!" sentak Pak Fandi yang membuat Cantika hampir menangis dibuatnya.
Cantika adalah manusia paling rajin di sekolah, bahkan sebelum ayam jago berkokok kalau perlu dia bisa saja sudah sampai di sekolah. Dan hari ini dia harus keluar dari kelas hanya karena Fattan yang tidur. Beasiswa dan jaminan pendidikan Cantika ada di tangan si pemalas Fattan yang sekarang tengah kelap tertidur.
"Ada apaan sih berisik banget gannggu orang tidur aja," gumam Fattan sembari mengucek matanya.
Bocah ajaib itu menguap dan mengulet persis seperti bayi tanpa peduli suasana sedang menegangkan seperti ada seorang ISIS yang tertangkap densus 88. Ia mengerjapkan matanya tanpa dosa seperti kucing yang baru mengumpulkan lima dari sembilan nyawanya.
"Kenapa?" tanya Fattan membuat semua mata mengarahkan pandangan kepadanya kecuali Cantika yang menunduk di depan pintu kelas. "Ka, lo mau ke mana?" tanya Fattan kali ini sukses membuat Cantika menangis, malu bercampur sedih dan juga kesal.
"Cantika saya suruh keluar, karena dia tidak becus mengajari kamu yang malah enak-enakan tidur."
"Loh bapak nggak bisa gitu dong, perjanjiannya kan beasiawa Cantika tetep ada kalau saya nggak bolos selama seminggu dan hari ini saya nggak bolos, cuman tidur di kelas doang, berarti dia nggak gagal ngajarin saya Pak!" bantah Fattan dengan lantang.
"Anak nakal," gumam Pak Fandi. "Cantika duduk."
Cantika menoleh pada Fattan dan Fattan mengedipkan sebelah matanya. Jantung Cantika berdegup liar, tapi ia tau ia harus kontrol degupnya. Cantika akhirnya kembali duduk dengan tenang. Fattan adalah biang masalah sekaligus solusinya, dasar ajaib.