Bab 2

Sejurunya aku menduga tidak mungkin cewek-cewek kota apalagi dengan status sosial dan pendidikan tinggi, mau melakukan pernikahan demikian. Kalau di kampungku cewek usia 14-17 tahun jadi janda beberapa kali, bukan hal yang tabu atau aneh. Maklum saja pendidikan mereka pun rata-rata hanya lulusan SD atau paling tinggi SMP, bahkan tak sedikit yang sama sekali tidak punya ijazah sekolah formal.

“Cewek juga kan manusia yang punya nafsu birahi, Besti. Mereka juga punya keinginan dientot kali. Bukan cuma kontol yang perlu diasah, tapi memek juga memang perlu dibasahi, hehehehe.”

“Eh busyet! Omongan lu udah kaya comberan aja, Bro!” seruku dengan sedikit terhenyak. Sebelumnya Farid tak pernah bicara begitu.

“Nah, melalui ikatan kawin siri inilah mereka merasa lebih aman dan terhindar dari jeratan dosa berzinah.” Farid yang kudengar baru kali ini bicara vulgar itu menjelaskan lebih rinci lagi dan aku mulai sedikit memhami.

“Tapi emang iya juga sih?” Aku pun mulai melunak.

Menurut Farid sebenarnya di kampus kami banyak mahasiswa yang melakukan perkawinan seperti itu. Dia berjanji akan memperkenalkan aku dengan mereka yang sudah menjalani kawin siri sambil tetap kuliah. Dan beberapa hari kemudian janjinya pun dia penuhi.

Farid memperkenalkan seorang mahasiswa yang sebetulnya sudah lama aku kenal karena satu angkatan dan satu fakultas. Heldy asli anak Bogor, tanpa malu-malu mengakui jika dia sudah lama menjalani perkawinan sementara dengan Hanna, mahasiswa yang sudah lama aku kenal juga karena kecantikan dan kealimannya. Aku bahkan tak punya keberanian untuk menggoda Hanna sebelumnya.

‘Gila!’ Ternyata aku banyak ketinggalan info tentang banyak hal yang tgerjadi di sekitaran teman-temanku.

Sudah hampir dua tahun aku berteman dengan Farid dan Heldy, namun baru tahu kalau mereka ternyata sudah beberapa kali kawin cerai secara siri. Mereka juga menyebutkan beberapa senior kami yang sudah lama menjalani ikatan kawin siri, atau kawin kontrak seperti ini. Dan masih dalam keterkesimaan saat menyimak kisah seru mereka, penisku pun ikut-ikutan ngaceng berat. Terbayang nikmatnya meniduri para akhwat secantik Hanna atau yang lainnya.

“Daripada cuma coli doang, Bro!” bisik Heldy saat dia dan istri sirinya berpamitan.

Sampai beberapa hari, aku masih belum bisa mengambil keputusan, sementara di tempat pengajian Farid pun makin menggila. Ketika selesai pengajian dia memperkenalkan aku kepapa beberapa akhwat. Meskipun tidak bersalaman dengan bersentuhan tangan, tapi aku mulai merasakan sensasi dan getaran yang sangat aneh dalam jiwa. Obsesiku untuk bersetubuh dengan kaum akhwat kian meronta-ronta, namun batinku masih menolak nikah kontrak atau nikah siri.

“Bisa gak sih ngentotin mereka tanpa harus nikah siri juga?” bisikku pada Farid.

“Hahahah dosa besar, anjing!” bentak Farid sambil ngakak.

“Gitu ya, hehehe.”

“Lu minat gak kawin siri sama mereka? Lu tinggal pilih, mereka pasti tidak akan menolak. Jujur aja mereka emang sangat suka sama cowok yang masih polos, anak kampung yang cupu kaya lu itu, Gar!” kata Farid terus menyemangatiku.

Aku tertawa geli dalam hati sekaligus puyeng. “Emang bayarnya berapa kalau kita kawin siri kaya gitu, Bro?” Akhirnya aku mulai sedikit menyerah.

“Bayar? Ya sesuai dengan kemampuan lu aja, mau bayar seratus rebu atau sejuta juga boleh. Itu buat sebulan, tiga bulan atau bahkan setahun, yang penting sama-sama setuju. Itu namanya mahar,” kata Farid yang kembali membuat kepalaku pening, membayangkan bayar sejuta bisa nidurin akhwat setiap malam selama menjadi suami sirinya.

“Udah deh, lu mendingan kawin aja kayak gua. Banyak loh akhwat yang nungguin perjaka lu, heheheh,” katanya setengah berbisik.

Aku tidak menduga jika Farid sudah beberapa kali gonta ganti istri, hanya bermodalkan uang mahar seratus ribu. Dan yang membuatku masih salut, Farid tetap menganggapku sebagai remaja kampung yang cupu, polos bahkan perjaka ting-ting. Ternayata aktingku sebagai orang polos sudah berhasil. Aku sudah berubah sesuai keinginanku sendiri jadi ‘Anak Kampus Yang Soleh.’

“Bro, gua tahu kontol lu gede and panjang banget. Sayang aja kalau gak dimanfaatin dengan baik. Buat apa cuma dipake kencing doang. Jujur aja, kontol gua yang ukuran standar aja, banyak yang ketagihan, apalagi punya elu?” Farid kembali bicara dengan mimik yang sangat serius.

“Hahaha, Kodok Tasik! Emang lu tahu kontol gua kaya gimana?” bentakku sambil ngakak.

“Kan dari dulu kita sering renang bareng, keliatan kali, Oncom Bogor! hahahaha.”

“Dasar homo lu!” sergahku sambil terus ngakak.

“Kan gak sengaja keliatannya, Bangsat! Tapi sejujurnya gua emang salut sama kontol lu yang kaya punya orang Arab gitu!” Pujian Farid mulai terdengar tulus dan suci.

“Gitu ya, terus gua nanti tinggal dimana kalau udah punya istri siri?” tanyaku bingung. Setahuku semua tempat kost wajib menunjukan surat nikah yang resmi jika akan tinggal bersama atau setidaknya mengaku sebagai pasangan suami istri.

“Hahaha, gampang, serahkan sama ahlinya. Ayo ikut gua!” sergah Farid penuh percaya diri.

Farid mengajakku ke satu wilayah yang tidak jauh dari pusat kota, ternyata itu tempat kostnya yang kedua. Di tempat ini menerima penghuni suami istri yang sudah menikah, walau pun hanya nikah siri. Pemiliknya ternyata salah satu anggota legislatif yang jadi pendonor dana kelompok pengajian itu. Dia juga sering gonta-ganti istri siri. Biaya sewa kostan ini sangat murah jika dibandingkan tempat kost dekat kampusku. Farid juga mengajak aku bertemu dengan Aida, istri sirinya yang sudah lama menjadi penghuni di kostan itu.

Aida baru dua minggu dinikahi Farid. Dia mahasiswi kampus lain, berasal dari Karawang. Aida anggota pengajian dan usinya dua tahun lebih tua dari Farid. Saat di kamarnya Aida tidak memakai cadar, sehingga aku bisa melihat kecantikannya. Namun yang jadi perhatianku justru lirikan matanya yang genit dan jalang saat menatap selangkanganku yang menyembul besar. Entahlah mengapa penisku mendadak ngaceng saat bertemu Aida.

Kami ngobrol sambil duduk lesehan beralaskan karpet. Farid mengaku jika Aida wanita kedelapan yang dinikahi siri dalam setahun terkahir ini. Sedangkan Aida tanpa malu-malu mengaku sudah sebelas kali menikah siri sebelum kenal dengan Farid. Aida bahkan tak malu-malu bercerita jika dirinya sangat nakal dan binal di atas ranjang semenjak bersuamikan Farid yang katanya ‘hypersex.’

Aku benar-benar terperangah, tak menduga Aida ternyata sudah merasakan selusin penis. Dan entah mengapa libidoku kian melonjak mendengar ceritanya yang seakan sengaja untuk merangsangku, padahal ada Farid di dekatnya. Fantasiku melambung tinggi, membayangkan bagaimana binal dan nakalnya akhwat ini jika kugenjot dengan penisku yang super jumbo, beda jauh dengan milik Farid, suami sirinya.

“Ger, cewek kan punya kebutuhan batin juga, untuk menghindarkan dosa zinah, lebih baik kawin siri, kan sesuai dengan ajaran agama kita,” lanjut Aida kalem namun matanya kian liar menatap selangkanganku yang makin menyembul besar keras hingga agak sakit karena posisinya yang gak pas.

Sungguh aku tak paham. Kok bisa nikah cerai dalam waktu singkat seperti itu. Apakah dalam ajaran mereka tidak ada yang disebut iddah? Setahuku dalam ajaran agama islam ada yang namanya iddah. Seorang wanita yang menjanda atau bercerai dari suaminya tidak bisa serta merta mudah menikah lagi dengan lelaki lain tanpa melewati masa iddah yang kalau gak salah masa itu lamanya sekitar seratus hari atau tiga bulan.

Setelah panjang lebar ngobrol aku mempertanyakan soal bagaimana kalau orang tua mereka datang menjenguk, dan melihat anak-anaknya yang belum menikah tapi sudah hidup sekamar.

“Ah itu kan gampang Ger, kita hanya bilang bahwa tempat kost kita sangat ketat, tidak boleh membawa sembarang orang ke kamar, bertemu cukup sampai kamar tamu saja, kita selalu berpakaian tertutup dan berhijab begini, pasti bisa meyakinkan para orang tua lah!” katanya lagi, dan aku rasa memang alasan itu cukup logis dan mudah diterima akal sehat.

Kamar yang ditempati Aida cukup luas dan sangat nyaman untuk ditinggali dua orang dengan kamar mandi di dalam. Di belakang ada balkon kecil yang bisa ditempatkan kompor untuk sekedar memasak air atau mi instan dalam keadaan kepepet karena untuk makan dan lain-lain di lantai bawah ada kantin yang cukup lengkap.

Satu lagi pertanyaan yang menggelitikku ialah soal anak yang diperoleh dari hubungan nikah siri.

“Soal hamil, itu urusan cewek, Ger. Mau hamil atau tidak sepenuhnya berada di tangan cewek. Sekarang sudah maju, kontrasepsi banyak macamnya dan banyak yang gratis atau katakanlah murah dan terjangkau kantong mahasiswa, kenapa harus bingung dan pusing?” jawab Aida dengan santai, seperti sudah dipersiapkannya.

Aku kembali kalah bicara. Setelah jawaban itu baru kusadari bahwa aku memang bodoh. Cocoknya pertanyaan seperti itu aku lontarkan pada masa sebelum zaman kemerdekaan.

“Ger, dengan kawin begini, kita jadi irit terutama untuk kost dan makan. Kalau dulu kan semua harus ditanggung sendiri. Udah deh buruan aja cari istri, apa perlu aku kenalin sama temen-temenku yang lagi jomblo. Dari pada tiap hari kontolmu hanya dikocok sendiri, kan lebih bagus diadu sama yang seharusnya,” kata Aida nyablak yang sontak membuatku kian terangsang, namun sayang ada Farid di antara kami.

Dan anehnya Farid juga sepertinya tak terganggu dengan ucapan istri sirinya yang kurasa cenderung menjurus pada upaya menggodaku. Jangan-jangan Farid dan Aida, sudah terbiasa thresome, tukar pasangan atau sejenisnya. Lantas buat apa mereka harus repot-repot nikah siri kalau akhirnya melakukan free sex dengan pasangan lain. Dan Farid juga menyarankan aku pindah kost supaya mudah koordinasi.

Koordinasi bua apa? Buat tukar pasangan? Masa sih?

“Ger, ini ada foto temen-temenku, aku kirim ke nomormu ya,” kata Aida, dan tak lama kemudian aku menerima belasan foto akhwat berhijab dan kelihatan cantik-cantik karena tanpa cadar.

“Mereka semua mahasiswa loh, bukan pecun. Gerald sebutin aja seleranya yang mana. Apa yang montok, yang tinggi atau yang pengalaman? Pokoknya tinggal sebut aja, entar kalau pengajian lagi, aku kenalin sama mereka, kalau mau langsung kawin siri juga bisa.” Aida makin semangat berpromosi.

Lagi-lagi aku melihat kerlingan mata istri siri Farid seperti memberi kode, bahkan dengan cueknya menatap selangkanganku, sinar matanya seolah berkata ‘Lihat tuh, kontolmu ngaceng terus dari tadi, Ger. Mending cepetan nikah, nanti kita bisa tuker pasangan loh.’

Aku belum bisa mengambil keputusan karena rasanya sangat aneh, seolah penuh rekayasa. Banyak kejanggalan yang susah kudefinisikana. Aku meminta waktu seminggu untuk berpikir lebih jauh. Sejujurnya aku merasa apa yang ditawarkan Farid dan Aida, tak ada bedanya dengan perzinahan biasa, hanya lebih terhormat karena dibalut dalil-dalil nikah siri. Memakai pendekatan agama yang entah benar atau salah dalil yang mereka gunakan.

Dan aku sangat terkejut saat akan keluar dari kamar mereka, tiba-tiba Aida seperti tak sengaja menyentuh dan meremas penisku dari balik celanaku. Gila, Farid yang melihatnya hanya tersenyum simpul, sementara aku terperanjat kaget.

“Yang penting nikah aja dulu, nanti kalau bosan kan bisa saling tukar pasangan, Bro!” bisik Farid seolah membenarkan semua praduga jelekku tadi.

‘Jadi ini yang kalian sebut sebagai tindakan halal dan terhindar dari dosa zinah? Edan!’ makiku dalam hati sambil melangkah pergi.

‘Kalau gabung dengan kalian, terus kapan gua jadi Anak Soleh-nya?

*Bersambung Suami Siri, 3

Bab 3

Karena tidak membawa motor, terpaksa aku harus mencegat angkot buat pulang. Farid menawari motonya untuk kupakai, namun kutolak. Sepertinya aku tidak usah bertemu mereka dulu untuk satu atau dua minggu, supaya otakku bisa lebih jernih. Aku makin curiga jika mereka sebenarnya kaum free sex bermoduskan agama untuk pembenarannya.

Saat sedang menunggu angkot di pinggir jalan, tiba-tiba aku melihat seseorang yang sudah lama tidak bernumpa. Dia adalah teman kecilku di kampung. Bahkan sekolah kami bareng satu kelas walau usia dia dua tahun lebih tua dariku. Sudah hampir tujuh tahun kami tidak bertemu, dan penampilan dia pun tampkanya sudah banyak berubah, namun aku masih sangat mengenalinya.

Aku pun bergegas mendatanginya dan langsung bertanya, “Maaf, ini Ilham Komarudin ya?” tanyaku to the point.

Orang yang aku yakini Ilham itu pun terlihat kaget. Dia mengernyit dahinya, menatapku intens penuh curiga.

“I… ya sa… saya Ilham. Ka… mu… siapa ya?” tanyanya agak sedikit gelagapan.

Hampir saja aku tertawa terbahak-bahak, masa iya Ilham sudah lupa denganku, sementara aku masih sangat ingat dengannya.

‘Astaga!’ Aku langsung tersadar. Ilham tidak salah, wajar jika dia tidak mengenaliku lagi saat ini. Keadaanku sangat jauh berbeda dengan keadaan tujuh tahun yang lalu saat kami masih sama-sama tinggal di kampung. Jangankan Ilham yang sudah lama tidak bertemu, teman-teman SMA-pun banyak yang hampir tidak mengenaliku saat ini. Sekarang aku sudah seperti selebriti papan atas, canda mereka.

“Babang Ilham masih inget gak dengan Leuwi Ciparay?” Aku sengaja menyebut nama itu, karena yakin Ilham tidak akan melupakan tempat yang sangat bersejarah itu.

“Hah, kamu Gerald Ramadhan bukan?” tanyanya setengah berseru sambil menerima jabatan tanganku, namun mimik wajahnya masih tetap menggambarkan ketidak percayaannya jika aku adalah Gerald, sahabt masa kecilnya.

“Yes, gua Gerlad dan sudah gua duga, lu kagak bisa lupa sama tempat itu, hahahaha!” balasku sambil menarik tubuh Ilham masuk dalam dekapan dan memeluknya erat.

“Aduh Ger!” Ilham berusaha melepaskan dirinya dari pelukanku, dia mengatakan malu karena tubuhnya kotor dan bau. Aku tidak peduli. Ilham memang terlihat sangat kumal, bajunya pun sangat lusuh, keringatnya juga bau menyengat.

“Gua sangat kangen sama elu dan Melly, Ham!” bisikku di telinganya sambil tetap tidak melepaskann pelukan.

Aku lupa, bicara dengan aksen anak gaul masa kini, padahal dari dulu Ilham tidak suka jika ada temannya yang bicara pake ‘lu-gua,’ menurutnya itu sangat kasar dan tidak sopan. Ilham memang terkenal paling alim, santun dan religius untuk ukuran bocah di kampung kami saat itu. Rata-rata warga kampung kami sangat amburadul pemahaman agamanya.

“Kamu mau kemana, Ham?” tanyaku kalem setelah puas memeluk dan melepas rinduku.

“Saya mau pulang, Ger,” jawabnya agak singkat dan masih terasa canggung, bahkan dia seperti masih sangat malu, tak mau mengangkat wajah menatapku.

“Hmmm, sebelum pulang, gimana kalau kita ngerokok sambil ngobrol sebentar, mau kan?” tawarku. Aku tahu sekarang dia merokok karena di kantong kemeja lusuhnya terlihat ada sebungkus rokok kretek merek murahan yang gak jelas cukainya.

“Ta…tapi sebentar aja ya, Ger, saya kan harus pulang, udah mau sore ini!” Ilham berusaha menolak namun aku terus memaksanya dengan halus.

Ilham aku ajak mampir ke salah satu café terdekat, lalu aku memesan kopi, makanan ringan dan rokok kretek termahal yang ada di sana. Kami ngobrol agak lama yang akhirnya kuputuskan untuk ikut main ke rumahnya. Ilham menolak karena malu rumah kontrakannya dalam gang sempit yang sangat kumuh. Bahkan tak layak disebut rumah. Aku tetap memaksanya.

Aku memang sangat penasaran. Selama diajak ngobrol, Ilham selalu menghindar setiap kutanya keadaan dirinya saat ini. Dia tidak mau terbuka tentang kegiatan atau pekerjaannya. Dia juga tidak mau menceritakan kondisi keluarganya, padahal sempat keceplosan mengaku jika dia sekarang sudah menikah dan sudah punya anak satu. Aku yakin Ilham sangat membutuhkan pertolonganku, makanya aku perlu tahu kondisi dia dan keluarganya.

Walau dengan muka cemberut karena berat hati, akhirnya Ilham mengajak aku naik angkot menuju kawasan kumuh tempat tinggalnya. Agar Ilham tidak terlalu minder, aku pun mengaku sedang menganggur dan hendak mencari kerja di kota ini.

“Saya heran. Kok kamu hebat, Ger. Katanya masih pengangguran, tapi bisa nraktir saya, malah beli rokoknya juga yang paling mahal!” ucap Ilham yang sudah mulai bisa bicara santai saat kami berada dalam angkot yang sepi penumpang.

“Hahaha, itu namanya rizki anak soleh, Ham!” balasku sambil nyengir kuda.

“Anak Soleh, Ndasmu!” sergahnya sambil nyengir kesal

“Hahahahaha!” Kami pun kompak tertawa ngakak. Sama-sama teringat kelakuan gila masa kecil di kampung yang sangat tidak layak disebut ‘Anak Soleh.

Tak sampai setengah jam, Ilham mengajakku turun dari angkot dan berjalan menuju sebuah gang sempit. Saat melewati minimarket, aku meminta Ilham belanja dulu untuk oleh-oleh anak dan istrinya di rumah. Ilham langsung menolaknya, dia bilang masih cukup persediaan di rumahnya. Namun aku tidak percaya. Lalu aku mengambil uang cah sejuta dari dompet dan menyodorkan padanya.

“Hah, ini kamu serius, Ger?” tanya Ilham masih tak percaya, dan masih tidak mau menerima uang yang kusodorkan.

“Serius. Masih kurang? Oke gua tambah lagi dua juta, mau?” tantangku lagi agak kesal karena dia terlalu banyak menolak tawarnaku walau akhirnya menerimanya.

“Aduuuuh Geraaaaald!” Tiba-tiba Ilham berteriak dan merangkul tubuhku dengan sangat erat. Dia menangis tersedu-sedu sambil memelukku persis anak kecil hingga menarik perhatian banyak orang.

Aku yang kebingungan langsung mengajak dia pergi untuk menghindar tatapan orang yang curiga. Takut dikira aku debt collector yang sedang menagih hutang dengan cara kekerasa atau memaksa hingga nasabah yang sudah tidak berdaya itu ketakutan dan menangis meraung-raung.

Setelah tenang, Ilham bercerita jika istrinya sedang sangat membutuhkan uang. Dia memintaku agar langsung memberikan uang itu pada istrinya. Aku setuju dan kami pun segera masuk gang sempit menuju kontrakan Ilham, tanpa belanja dulu.

Kami sampai di sebuah rumah yang susah aku ceritakn sebagai hunian yang layak. Ada ruang tamu ukurannya 2 x 3 m, lalu ada ruangan di belakangnya yang kukira kamar tidur. Aku sangat terenyuh dan nyaris meneteskan air mata saat melihat keadaan rumah Ilham yang sebenarnya. Bahkan untuk saat ini, di kampungku tidak ada warga yang tinggal di gubug yang sangat kumuh seperti ini. Ternyata sahabat kecilku benar-benar hidup di bawah garis kemiskinan.

“Mana istri dan anakmu, Ham?” tanyaku pelan setelah Ilham menyuguhkan segelas air putih padaku.

“Masih kuli nyetrika, nanti satu jam lagi balik,” jawab Ilham sambil menatap sebuah foto berukuran sedang yang ditempel pada dinding bambu rumahnya.

“HEY!” seruku setengah berteriak sambil bangkit dari duduk, lalu berdiri memandang foto tersebut yang jelas-jelas memperlihatkan Ilham dan Melly yang sedang menggendong seorang bayi mungil. Aku kira bayi itu usianya setahun dan berjenis kelamin laki-laki.

“I..ini Melly kan?” tanya pada Ilham.

“Kamu kaget ya, Ger? Iya dia Melly. Saya udah nikah dengan Melly, itu anak kami,” ucap Ilham lirih sambil berdiri di sampingku yang masih melongo memandangi foto keluarga kecil itu.

“Ja… ja … jadi kamu beneran nikah sama Melly?” tanyaku lagi dengan suara yang masih agak sedikit tercekat dan bergetar. Kaget, masih tidak percaya jika mereka benar-benar menjadi pasangan suami istri.

“Iya…” jawab Ilham pelan, setelah menatap mataku dia pun langsung menunduk kembali tanpa kata-kata.

“Kalian beneran nikah? Emang boleh nikah sama saudara?” tanyaku masih bingung.

“Panjang banget ceritanya, Ger. Kami terpaksa nikah siri, demi masa depan Gerlad, anak kami.”

“Hah, anak kalian namanya Gerald?” tanyaku makin terperanjat.

“Iya, Gerald Ramadhan, sama seperti nama kamu. Itu permintaan Melly, karena dia masih selalu ingat sama kamu. Maafin kebodohan Melly yang sudah nyuri nama kamu.” Ilham kembali bicara sambil menunduk seperti orang yang ketakutan atau malu tertangkap mencuri.

“No! Gak ada masalah. Itu nama yang umum, siapa aja berhak memakai nama itu. Tapi, beneran kalian udah nikah secara siri dan gimana kabar ibu dan bapak kalian?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Panjang banget ceritanya, Ger. Mungkin biar Melly aja yang nyeritainnya.”

“Oh my God, kenapa hari ini gua banyak banget dapat kejutan, Ham?” gumamku.

“Tapi yang pasti, sudah sejak lama aku, Melly dan Gerlad, terusir dari rumah orang tua kami. Aku kerja serabuatn kadang ngamen, atau apa saja pernah juga ngemis. Melly, kuli nyuci, nyetrika atau apa aja dari tetangga yang butuh tenaganya.” Ilham bercerita keadaannya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Oh my God! Sudah berapa lama kalian tinggal di sini?” Aku kembali tak sadar menarik tubuh Ilham dan memeluknya dengan sangar erat. Ilham pun meneteskan air mata kesedihannya.

“Baru setahun lebih. Ini juga rumah udah dua bulan gak kebayar sewanya. Makanya saya pikir kalau kamu punya uang, lebih baik kasihkan sama Melly, biar dimanfaatin buat bayar kontrakan ini, kalau ada sisanya bisa buat yang lain-lain,” ucap Ilham dengan suara yang sangat lirih hingga membuat hatiku serasa disayat sejuta sembilu.

“Hentikan ngamen dan ngemisnya, Ham. Mulai hari ini, kalian ikut aja sama gua. Di sana ada rumah yang bisa kalian tempati sesuka kalian tanpa harus bayar. Di sana jauh lebih baik dan kalian juga bisa buka usaha baru.”

“Me … me … memangnya ka …mu su… dah ja… di… pengusaha ya, Ger?” tanya Ilham terbata-bata.

“Gua bukan pengusaha. Masih mahasiswa tapi nanti lu akan tahu sendiri apa usaha gua sekarang, oke?”

“Iya, Ger. Terima kasih sebelumnya kamu mau bantu kami.”

“Gua ini sahabat juga saudara kalian, wajiblah bantu kalian.”

“Apakah Melly perlu saya jemput biar pulang lebih awal?” usul Ilham.

“Gak usah. Biar pulang kalau tugasnya udah beres, kaya biasanya.”

“Wah, berarti Melly bisa jadi milik kita berdua lagi ya, Ger,” bisik Ilham.

“Hahahaha, kagak gitu juga konsepnya, Bangsat! Sekarang dia udah jadi istri lu, gua gak bakal ganggu, titik!”

“Gak apa apa, saya rela kok, kalau kalian masih sama-sama mau, hehehehe.”

“Hahaha, tetep gak boleh. Kita bukan yang dulu lagi, Ilham! Mendingan sekarang tinggalin gua sendirian, mau mengenang masa kecil kita yang super edan itu. Nih bawa duit, ajak Melly sama anak lu belanja sepuas kalian, hahahaha.”

Kenangan indah masa kecilku bersama Ilham dan Melly, rasanya tak akan tergantikan oleh cerita apapun. Bahkan mungkin sampai kiamat nanti. Terlalu indah dan gila di masanya…

*Bersambung Suami Siri, 4

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED