Bab 1

Perkenalkan namaku Gerald Ramadhan, mahasiswa semester empat fakultas ekonomi salah satu unversitas ternama di Indonesia. Saat pertama menuliskan kisah ini umurku belum genap 21 tahun, tetapi sudah bisa hidup mandiri, berjuang memenuhi segala kebutuhan hidup termasuk biaya kuliahku. Bahkan aku telah menjadi tulang punggung keluarga sejak masih duduk si bangku SMA.

Aku anak tunggal akibat kandungan ibuku bermasalah, tidak boleh hamil lagi setelah melahirkan aku. Kehidupan keluarga kami serba kekurangan, bapak dan ibuku hanya petani miskin yang pada akhirnya menuntutku untuk berjuang keras jika ingin melanjutkan sekolah. Orang tuaku hanya mampu menyekolahkan anak semata wayangnya ini hanya sampai lulus SMP.

Berkat keteguhan serta kerja keras tak kenal lelah, aku sudah termasuk dalam jajaran remaja kampung yang meraih sukses pada usia belia. Jajaran yang sangat langka karena uang yang kuberikan pada kedua orang tuaku tiap bulannya jauh lebih besar dari yang mereka dapat dari bertani. Ketika masuk kelas tiga SMA, aku sudah berhasil merenovasi rumah orang tuaku. Dan saat ini kedua orang tuaku telah menjadi warga kampung yang paling tajir sebagai juragan empang.

Aku terlahir dengan dikarunia otak yang sangat encer. Dari kelas satu SD selalu meraih nilai terbaik. Bahkan beberapa kali menjadi unggulan tingkat kabupaten dalam beberapa macam lomba akademis, hingga sampai SMA. Ketika lulus SMA, aku merantau ke kota kabupaten untuk melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri bergengsi di kotaku. Sebetulnya aku ingin kuliah di Bandung atau Jakarta, tapi sebagain besar bisnisku dikelola di Kota Hujan ini.

Aku kuliah mengambil jurusan ekonomi karena merasa perlu memperdalam ilmu marketing yang selama ini telah kupraktekkan secara off line maupun on line. Siapa tahu aku juga bisa mengalahkan kehebatan Joe Girard yang mampu menjual enam unit mobil baru harga milyaran dalam sehari. Atau mungkit bisa membuka market palce sekelas Tokopedia dan sejenisnya. Abaikan dulu bagaimana perjuanganku menuju sukses di masa belia, sekarang kita lanjut cerita aneh di kampus tercintaku.

Teman kuliahku yang paling akrab bernama Farid Qurtubi. Orangnya sombong, sok suci merasa paling mengerti ilmu agama dan merasa paling jago beribadah. Sejak SD hingga lulus SMA dia memang mondok di pesantren ternama di Tasikmalaya, kota kelahirannya. Farid yang kurasa gantengnya biasa-biasa saja itu bahkan merasa paling ganteng, oaling cool dan paling jadi rebutan banyak cewek. Dia bahkan tak segan mengaku sebagai pewaris tunggal Sultan Tasikmalaya, entahlah.

Farid termasuk mahasiswa yang tidak terlalu disukai di kampus. Pergaulan dia lebih banyak dengan kaum-kaum religius yang berasal dari kampus kami juga beberapa kampus swasta lain yang ada di sekitar Bogor. Sudah menjadi hukum alam, semakin tinggi omongan seseorang, semakin banyak yang menjauhinya. Namun anehnya, aku justru sangat enjoy berteman dengan Farid. Sejauh ini aku menganggap semua ocehan yang keluar dari mulut Farid hanya hiburan semata. Yang pasti dia memang sangat royal, tidak pernah ngomongin kejelakn orang lain. Itu yang aku suka. Prinsipku lebih baik gaul dengan orang sombong daripada dengan ahli ghibah.

Sejak berteman, Farid nyaris tak pernah menyerah mengajakku bergabung dalam kelompok pengajiannya. Sementara aku tidak tertarik dengan hal-hal yang berbau agama atau fanatisme terhadap suatu ajaran. Aku bukan berasal dari keluarga religius. lahir dan dibesarkan dalam lingkungan islam KTP yang tidak terlalu taat.

“Pokoknya di kelompok pengajian gua itu, banyak akhwat cantiknya, Bro!” rayu Farid.

“Emang di kampus kita kurang apa? Lu mau cari cewek cantik berapa kompi di kampus kita? Kurang apa?” Sengaja aku jawab demikian untuk melawan semua rayuan gombalnya.

“Bener sih. Tapi kalau akhwat di tempat pengajian gua, bukan hanya cantik, tapi dijamin solehah dan mudah dipacari sekaligus ditiduri!” balas Farid tanpa mikir.

“Heh Kodok Tasik! Sejak kapan akhwat solihah bisa diajak pacaran apalagi ditiduri? Sembarangan aja lu kalau ngomong!” sergahku dengan nada keras karena terperanjat.

Ucapan Farid benar-benar tak masuk akal. Kalau terdengar sama Mas Ganjar Pranowo, pasti disebut sangat anomali. ‘Kamu percaya gak Farid bilang begitu?’ Mungkin itu pertanyaan yang akan terlontar dari mulutnya.

“Otak lu udah konslet ya, Bro!” tambahku masih dalam nada kesal.

“Hmmm, makanya dengerin dulu penjelasannya, Bro. Gua tahu lu gak bisa baca huruf arab dan jarang banget ibadah, gak masalah. Lu gak bakal dites baca Qur’an atau praktek sholat buat masuk dalam kelompok pengajian gua. Yang penting ikut aja dulu, buktiin sendiri semua omongan gua tadi. Kalau gak cocok lu boleh cabut lagi. Gimana?” Farid makin bersemangat dan benar-benar tak kenal kata menyerah.

“Oke, kapan-kapan gua ikut ke sana sama lu, tapi jangan didaftarin sebagai anggota dulu ya. Gua mau lihat dulu, beneran gak ada akhwat yang bisa ditidurin sembarangan gitu, hahaha.” Tantangku.

“Nah, ini baru namanya mahasiswa gaul, hahahahaha!” Wajah Farid tampak semringah, mungkin merasa usahanya merekrutku telah berhasil

Pada suatu hari aku ikut dalam pengajian itu. Sejujurnya aku kagum dengan tempatnya yang tertata rapi. Asri, aman, nyamn dan tenang karena berada di tengah hutan pinus. Menurut Farid, kelompok pengajian ini dibiayai oleh beberapa pengusaha besar dan anggota legislatif dari partai politik besar. Pantas saja semua anggotanya tidak dipungut biaya.

Aku juga tercengang dengan peserta pengajian yang ternyata sangat berjibun. Menurut Farid dalam setiap minggunya tidak kurang 500 sampai 700 orang yang datang. Semuanya mendapat kajian juga sajian konsumsi secara gratis. Namun sayangnya, semua peserta akhwatnya memakai burka atau cadar yang terlihat hanya matanya saja.

‘Ah, Farid terlalu berlebihan. Katanya akhwatnya cakep-cakep. Bagaimana bisa tahu wajahnya cakep, yang keliatan cuma matanya doang. Pake baju dan jilbab lebar bergelembung gitu, kagak ada seksi-seksinya!’ umpatku dalam hati.

Walau dongkol namun aku rasa sudah terlanjur datang. Sebisa mungkin aku menyesuaikan diri dengan keadaan. Aku tidak tahu pengajian ini aliran apa, tetapi ceramah ustadnya tidak ekstrim malah cenderung menentramkan. Sempat curiga jika mereka kelompok fundamental garis keras yang sering berbuat onar. Namun ternyata ceramah ustadnya sangat intelek dan kekinian.

Semua pesertanya pun sangat ramah satu sama lain saling menghormati walau tidak bisa bergaul dengan kelompok akhwat karena ada hijab pembatas. Dan sepertinya lingkungan ini sangat baik dan sehat buatku. Ada baiknya aku bergabung dalam pengajian ini agar bisa belajar ilmu agama, hitung-hitung penebus dosa atau saran pertobatan atas segala perbuatan yang tercela pada masa lalu yang super kelam di kampungku.

“Gua jamin lu bakal laris manis di sini, Bro!” bisik Farid pada suatu waktu ketika aku sudah beberapa kali mengikuti pengajian.

“Hahaha, dagangan kali laris manis!” segahku bercanda.

“Percaya atau tidak, nama lu mulai jadi perbincangan para akhwat. Lu kan emang ganteng dan body juga gagah altltis gitu, Bro. Gua aja yang lebih jelek dari lu, laris manis, hehehe.” Farid mulai sadar diri jika wajah dan penampilannya memang kalah jauh denganku, apalagi ketika sedang terbalut pakaian muslim saat sedang ikut kajian seperti saat ini.

“Bisa aja lu, Kodok Tasik!” timpalku bercnada dan santai.

“Serius, Oncom Bogor! Para akhwat banyak yang suka sama lu. Katanya sih, keliatan masih ganteng, kalem dan polos. Rata-rata mereka menyukai cowok bertampang ndeso kaya elu gitu, hehehehe,” timpalnya sambil cengengesan. Sebenarnya antara memuji dan menghina susah dibedakan. Untungnya aku sudah kebal dengan keangkuhan seorang Farid.

Waktu terus berlalu, tak terasa sudah tiga bulan aku rutin menghadiri pengajian itu dan sama sekali belum ada progres yang berarti buatku, selain tambah rajin onani di kostan. Bagaimana tidak, setiap waktu membayangkan bersetubuh dengan para akhwat. Oh iya semenjak ikut pengajian itu, aku malah jadi terobsesi pada wanita berjilbab lebar. Bahkan punya banyak film dan cerita dewasa yang bertemakan akhwat alias jilboob. Farid juga sering cerita nikmatnya bersetubuh dengan akhwat yang binal. Gila!

“Bro, mana katanya banyak akhwat yang naksir gua dan bisa dipacarin sekaligus diajak tidur?” Akhirnya aku memberanikan diri menagih janji Farid saat mengajakku masuk group pengajiannya.

“Hahaha, udah lama gua tunggu-tanggu tagihan dari lu ini, Bro!” balas Farid sambil menarik tanganku menjauh dari kerumunan orang-orang yang hendak mengaji.

“Sebenarnya mereka itu gak mau dipacari, tetapi kalau diajak kawin banyak yang mau, terutama yang masih berstatus mahasiswi,” ucap Farid dengan nada setengah berbisik.

“Kawin?” tanyaku sambil ternganga.

Masih tak percata mendengar perkataan sahabat yang kurasa super edan ini. Aku memang nakal, beberapa teman SMA bahkan menjuluki aku PK alias ‘Penjahat Kelamin,’ tetapi tidak pernah terbersit sedikitpun untuk kawin muda. Bukan takut menafkahi lahir batin, namun kurasa masa mudaku terlalu indah untuk disia-siakan begitu saja.

“Yes, married, kawin alias nikah!” jelas Farid sambil nyengir kuda untuk bisa lebih meyakinkan diriku.

“Maksudnya gimana, Bro? Kalau urusan merit gua rasa keluarga gua gak bakal setuju!” sangkalku sangat keras.

“Hahaha, santai dulu Kang Mas! Kawin yang ini hanya sementara.”

“What?”

“Ya sejenis kawin kontrak atau kawin siri. Dilakukan untuk jangka waktu tertentu, misalnya sebulan, dua bulan atau bahakn tahunan, tergantung kesepakatan kedua belah pihak.” Farid yang mengaku sejak SMP sudah banyak mantannya itu menjelaskan panjang lebar tentang nikah siri dan segala aturannya yang kurasa terlalu mudah. Mungkin karena aku tidak pernah belajar serius tentang hal-hal demikian.

“Sebenarnya gua udah lama ngedenger adanya kawin kontrak atau nikah siri. Tapi gua pikir yang ngelakuinnya bukan anak muda atau mahasiswa kaya kita-kita ini, Bro!” sangkalku masih belum yakin jika katanya banyak mahasiswa bahkan anak SMA yang melakukannya.

“Hehehe, asal lu tahu aja, kalau kita melakukan nikah siri, maka kita terhindar dari dosa berzinah!” kata Farid dengan mimik wajah yang makin serius.

“Ta…tapi gua kan masih polos, Bro!” kataku berpura-pura, sekedar menyelami sejauh mnana pengetahuan Farid tentang masa lalu diriku.

“Hahaha, makanya itu, elu kan bisa belajar atau praktek langsung sama akhwat yang udah pengalaman. Maksudnya gua, lu bisa nikah siri sama akwat yang udah beberapa kali jadi istri siri,” jawab Farid yang ternyata masih menganggap aku polos dan cupu. Syukurlah.

“Emang ada cewek yang mau diajak kawin siri kayak gitu?” tanyaku masih ragu namun benar-benar sangat penasaran.

“Bukan hanya ada, tapi banyak banget, Bro!” katanya secepat kilat.

“Kok bisa sih? Kenapa mereka mau dinikahi kaya gitu? Emang gak merasa rugi jadi istri sebentar lalu jadi janda?” tanyaku masih dalam nada terheran-heran.

*Bersambung Suami Siri, 2

Bab 2

Sejurunya aku menduga tidak mungkin cewek-cewek kota apalagi dengan status sosial dan pendidikan tinggi, mau melakukan pernikahan demikian. Kalau di kampungku cewek usia 14-17 tahun jadi janda beberapa kali, bukan hal yang tabu atau aneh. Maklum saja pendidikan mereka pun rata-rata hanya lulusan SD atau paling tinggi SMP, bahkan tak sedikit yang sama sekali tidak punya ijazah sekolah formal.

“Cewek juga kan manusia yang punya nafsu birahi, Besti. Mereka juga punya keinginan dientot kali. Bukan cuma kontol yang perlu diasah, tapi memek juga memang perlu dibasahi, hehehehe.”

“Eh busyet! Omongan lu udah kaya comberan aja, Bro!” seruku dengan sedikit terhenyak. Sebelumnya Farid tak pernah bicara begitu.

“Nah, melalui ikatan kawin siri inilah mereka merasa lebih aman dan terhindar dari jeratan dosa berzinah.” Farid yang kudengar baru kali ini bicara vulgar itu menjelaskan lebih rinci lagi dan aku mulai sedikit memhami.

“Tapi emang iya juga sih?” Aku pun mulai melunak.

Menurut Farid sebenarnya di kampus kami banyak mahasiswa yang melakukan perkawinan seperti itu. Dia berjanji akan memperkenalkan aku dengan mereka yang sudah menjalani kawin siri sambil tetap kuliah. Dan beberapa hari kemudian janjinya pun dia penuhi.

Farid memperkenalkan seorang mahasiswa yang sebetulnya sudah lama aku kenal karena satu angkatan dan satu fakultas. Heldy asli anak Bogor, tanpa malu-malu mengakui jika dia sudah lama menjalani perkawinan sementara dengan Hanna, mahasiswa yang sudah lama aku kenal juga karena kecantikan dan kealimannya. Aku bahkan tak punya keberanian untuk menggoda Hanna sebelumnya.

‘Gila!’ Ternyata aku banyak ketinggalan info tentang banyak hal yang tgerjadi di sekitaran teman-temanku.

Sudah hampir dua tahun aku berteman dengan Farid dan Heldy, namun baru tahu kalau mereka ternyata sudah beberapa kali kawin cerai secara siri. Mereka juga menyebutkan beberapa senior kami yang sudah lama menjalani ikatan kawin siri, atau kawin kontrak seperti ini. Dan masih dalam keterkesimaan saat menyimak kisah seru mereka, penisku pun ikut-ikutan ngaceng berat. Terbayang nikmatnya meniduri para akhwat secantik Hanna atau yang lainnya.

“Daripada cuma coli doang, Bro!” bisik Heldy saat dia dan istri sirinya berpamitan.

Sampai beberapa hari, aku masih belum bisa mengambil keputusan, sementara di tempat pengajian Farid pun makin menggila. Ketika selesai pengajian dia memperkenalkan aku kepapa beberapa akhwat. Meskipun tidak bersalaman dengan bersentuhan tangan, tapi aku mulai merasakan sensasi dan getaran yang sangat aneh dalam jiwa. Obsesiku untuk bersetubuh dengan kaum akhwat kian meronta-ronta, namun batinku masih menolak nikah kontrak atau nikah siri.

“Bisa gak sih ngentotin mereka tanpa harus nikah siri juga?” bisikku pada Farid.

“Hahahah dosa besar, anjing!” bentak Farid sambil ngakak.

“Gitu ya, hehehe.”

“Lu minat gak kawin siri sama mereka? Lu tinggal pilih, mereka pasti tidak akan menolak. Jujur aja mereka emang sangat suka sama cowok yang masih polos, anak kampung yang cupu kaya lu itu, Gar!” kata Farid terus menyemangatiku.

Aku tertawa geli dalam hati sekaligus puyeng. “Emang bayarnya berapa kalau kita kawin siri kaya gitu, Bro?” Akhirnya aku mulai sedikit menyerah.

“Bayar? Ya sesuai dengan kemampuan lu aja, mau bayar seratus rebu atau sejuta juga boleh. Itu buat sebulan, tiga bulan atau bahkan setahun, yang penting sama-sama setuju. Itu namanya mahar,” kata Farid yang kembali membuat kepalaku pening, membayangkan bayar sejuta bisa nidurin akhwat setiap malam selama menjadi suami sirinya.

“Udah deh, lu mendingan kawin aja kayak gua. Banyak loh akhwat yang nungguin perjaka lu, heheheh,” katanya setengah berbisik.

Aku tidak menduga jika Farid sudah beberapa kali gonta ganti istri, hanya bermodalkan uang mahar seratus ribu. Dan yang membuatku masih salut, Farid tetap menganggapku sebagai remaja kampung yang cupu, polos bahkan perjaka ting-ting. Ternayata aktingku sebagai orang polos sudah berhasil. Aku sudah berubah sesuai keinginanku sendiri jadi ‘Anak Kampus Yang Soleh.’

“Bro, gua tahu kontol lu gede and panjang banget. Sayang aja kalau gak dimanfaatin dengan baik. Buat apa cuma dipake kencing doang. Jujur aja, kontol gua yang ukuran standar aja, banyak yang ketagihan, apalagi punya elu?” Farid kembali bicara dengan mimik yang sangat serius.

“Hahaha, Kodok Tasik! Emang lu tahu kontol gua kaya gimana?” bentakku sambil ngakak.

“Kan dari dulu kita sering renang bareng, keliatan kali, Oncom Bogor! hahahaha.”

“Dasar homo lu!” sergahku sambil terus ngakak.

“Kan gak sengaja keliatannya, Bangsat! Tapi sejujurnya gua emang salut sama kontol lu yang kaya punya orang Arab gitu!” Pujian Farid mulai terdengar tulus dan suci.

“Gitu ya, terus gua nanti tinggal dimana kalau udah punya istri siri?” tanyaku bingung. Setahuku semua tempat kost wajib menunjukan surat nikah yang resmi jika akan tinggal bersama atau setidaknya mengaku sebagai pasangan suami istri.

“Hahaha, gampang, serahkan sama ahlinya. Ayo ikut gua!” sergah Farid penuh percaya diri.

Farid mengajakku ke satu wilayah yang tidak jauh dari pusat kota, ternyata itu tempat kostnya yang kedua. Di tempat ini menerima penghuni suami istri yang sudah menikah, walau pun hanya nikah siri. Pemiliknya ternyata salah satu anggota legislatif yang jadi pendonor dana kelompok pengajian itu. Dia juga sering gonta-ganti istri siri. Biaya sewa kostan ini sangat murah jika dibandingkan tempat kost dekat kampusku. Farid juga mengajak aku bertemu dengan Aida, istri sirinya yang sudah lama menjadi penghuni di kostan itu.

Aida baru dua minggu dinikahi Farid. Dia mahasiswi kampus lain, berasal dari Karawang. Aida anggota pengajian dan usinya dua tahun lebih tua dari Farid. Saat di kamarnya Aida tidak memakai cadar, sehingga aku bisa melihat kecantikannya. Namun yang jadi perhatianku justru lirikan matanya yang genit dan jalang saat menatap selangkanganku yang menyembul besar. Entahlah mengapa penisku mendadak ngaceng saat bertemu Aida.

Kami ngobrol sambil duduk lesehan beralaskan karpet. Farid mengaku jika Aida wanita kedelapan yang dinikahi siri dalam setahun terkahir ini. Sedangkan Aida tanpa malu-malu mengaku sudah sebelas kali menikah siri sebelum kenal dengan Farid. Aida bahkan tak malu-malu bercerita jika dirinya sangat nakal dan binal di atas ranjang semenjak bersuamikan Farid yang katanya ‘hypersex.’

Aku benar-benar terperangah, tak menduga Aida ternyata sudah merasakan selusin penis. Dan entah mengapa libidoku kian melonjak mendengar ceritanya yang seakan sengaja untuk merangsangku, padahal ada Farid di dekatnya. Fantasiku melambung tinggi, membayangkan bagaimana binal dan nakalnya akhwat ini jika kugenjot dengan penisku yang super jumbo, beda jauh dengan milik Farid, suami sirinya.

“Ger, cewek kan punya kebutuhan batin juga, untuk menghindarkan dosa zinah, lebih baik kawin siri, kan sesuai dengan ajaran agama kita,” lanjut Aida kalem namun matanya kian liar menatap selangkanganku yang makin menyembul besar keras hingga agak sakit karena posisinya yang gak pas.

Sungguh aku tak paham. Kok bisa nikah cerai dalam waktu singkat seperti itu. Apakah dalam ajaran mereka tidak ada yang disebut iddah? Setahuku dalam ajaran agama islam ada yang namanya iddah. Seorang wanita yang menjanda atau bercerai dari suaminya tidak bisa serta merta mudah menikah lagi dengan lelaki lain tanpa melewati masa iddah yang kalau gak salah masa itu lamanya sekitar seratus hari atau tiga bulan.

Setelah panjang lebar ngobrol aku mempertanyakan soal bagaimana kalau orang tua mereka datang menjenguk, dan melihat anak-anaknya yang belum menikah tapi sudah hidup sekamar.

“Ah itu kan gampang Ger, kita hanya bilang bahwa tempat kost kita sangat ketat, tidak boleh membawa sembarang orang ke kamar, bertemu cukup sampai kamar tamu saja, kita selalu berpakaian tertutup dan berhijab begini, pasti bisa meyakinkan para orang tua lah!” katanya lagi, dan aku rasa memang alasan itu cukup logis dan mudah diterima akal sehat.

Kamar yang ditempati Aida cukup luas dan sangat nyaman untuk ditinggali dua orang dengan kamar mandi di dalam. Di belakang ada balkon kecil yang bisa ditempatkan kompor untuk sekedar memasak air atau mi instan dalam keadaan kepepet karena untuk makan dan lain-lain di lantai bawah ada kantin yang cukup lengkap.

Satu lagi pertanyaan yang menggelitikku ialah soal anak yang diperoleh dari hubungan nikah siri.

“Soal hamil, itu urusan cewek, Ger. Mau hamil atau tidak sepenuhnya berada di tangan cewek. Sekarang sudah maju, kontrasepsi banyak macamnya dan banyak yang gratis atau katakanlah murah dan terjangkau kantong mahasiswa, kenapa harus bingung dan pusing?” jawab Aida dengan santai, seperti sudah dipersiapkannya.

Aku kembali kalah bicara. Setelah jawaban itu baru kusadari bahwa aku memang bodoh. Cocoknya pertanyaan seperti itu aku lontarkan pada masa sebelum zaman kemerdekaan.

“Ger, dengan kawin begini, kita jadi irit terutama untuk kost dan makan. Kalau dulu kan semua harus ditanggung sendiri. Udah deh buruan aja cari istri, apa perlu aku kenalin sama temen-temenku yang lagi jomblo. Dari pada tiap hari kontolmu hanya dikocok sendiri, kan lebih bagus diadu sama yang seharusnya,” kata Aida nyablak yang sontak membuatku kian terangsang, namun sayang ada Farid di antara kami.

Dan anehnya Farid juga sepertinya tak terganggu dengan ucapan istri sirinya yang kurasa cenderung menjurus pada upaya menggodaku. Jangan-jangan Farid dan Aida, sudah terbiasa thresome, tukar pasangan atau sejenisnya. Lantas buat apa mereka harus repot-repot nikah siri kalau akhirnya melakukan free sex dengan pasangan lain. Dan Farid juga menyarankan aku pindah kost supaya mudah koordinasi.

Koordinasi bua apa? Buat tukar pasangan? Masa sih?

“Ger, ini ada foto temen-temenku, aku kirim ke nomormu ya,” kata Aida, dan tak lama kemudian aku menerima belasan foto akhwat berhijab dan kelihatan cantik-cantik karena tanpa cadar.

“Mereka semua mahasiswa loh, bukan pecun. Gerald sebutin aja seleranya yang mana. Apa yang montok, yang tinggi atau yang pengalaman? Pokoknya tinggal sebut aja, entar kalau pengajian lagi, aku kenalin sama mereka, kalau mau langsung kawin siri juga bisa.” Aida makin semangat berpromosi.

Lagi-lagi aku melihat kerlingan mata istri siri Farid seperti memberi kode, bahkan dengan cueknya menatap selangkanganku, sinar matanya seolah berkata ‘Lihat tuh, kontolmu ngaceng terus dari tadi, Ger. Mending cepetan nikah, nanti kita bisa tuker pasangan loh.’

Aku belum bisa mengambil keputusan karena rasanya sangat aneh, seolah penuh rekayasa. Banyak kejanggalan yang susah kudefinisikana. Aku meminta waktu seminggu untuk berpikir lebih jauh. Sejujurnya aku merasa apa yang ditawarkan Farid dan Aida, tak ada bedanya dengan perzinahan biasa, hanya lebih terhormat karena dibalut dalil-dalil nikah siri. Memakai pendekatan agama yang entah benar atau salah dalil yang mereka gunakan.

Dan aku sangat terkejut saat akan keluar dari kamar mereka, tiba-tiba Aida seperti tak sengaja menyentuh dan meremas penisku dari balik celanaku. Gila, Farid yang melihatnya hanya tersenyum simpul, sementara aku terperanjat kaget.

“Yang penting nikah aja dulu, nanti kalau bosan kan bisa saling tukar pasangan, Bro!” bisik Farid seolah membenarkan semua praduga jelekku tadi.

‘Jadi ini yang kalian sebut sebagai tindakan halal dan terhindar dari dosa zinah? Edan!’ makiku dalam hati sambil melangkah pergi.

‘Kalau gabung dengan kalian, terus kapan gua jadi Anak Soleh-nya?

*Bersambung Suami Siri, 3

Bab 3

Karena tidak membawa motor, terpaksa aku harus mencegat angkot buat pulang. Farid menawari motonya untuk kupakai, namun kutolak. Sepertinya aku tidak usah bertemu mereka dulu untuk satu atau dua minggu, supaya otakku bisa lebih jernih. Aku makin curiga jika mereka sebenarnya kaum free sex bermoduskan agama untuk pembenarannya.

Saat sedang menunggu angkot di pinggir jalan, tiba-tiba aku melihat seseorang yang sudah lama tidak bernumpa. Dia adalah teman kecilku di kampung. Bahkan sekolah kami bareng satu kelas walau usia dia dua tahun lebih tua dariku. Sudah hampir tujuh tahun kami tidak bertemu, dan penampilan dia pun tampkanya sudah banyak berubah, namun aku masih sangat mengenalinya.

Aku pun bergegas mendatanginya dan langsung bertanya, “Maaf, ini Ilham Komarudin ya?” tanyaku to the point.

Orang yang aku yakini Ilham itu pun terlihat kaget. Dia mengernyit dahinya, menatapku intens penuh curiga.

“I… ya sa… saya Ilham. Ka… mu… siapa ya?” tanyanya agak sedikit gelagapan.

Hampir saja aku tertawa terbahak-bahak, masa iya Ilham sudah lupa denganku, sementara aku masih sangat ingat dengannya.

‘Astaga!’ Aku langsung tersadar. Ilham tidak salah, wajar jika dia tidak mengenaliku lagi saat ini. Keadaanku sangat jauh berbeda dengan keadaan tujuh tahun yang lalu saat kami masih sama-sama tinggal di kampung. Jangankan Ilham yang sudah lama tidak bertemu, teman-teman SMA-pun banyak yang hampir tidak mengenaliku saat ini. Sekarang aku sudah seperti selebriti papan atas, canda mereka.

“Babang Ilham masih inget gak dengan Leuwi Ciparay?” Aku sengaja menyebut nama itu, karena yakin Ilham tidak akan melupakan tempat yang sangat bersejarah itu.

“Hah, kamu Gerald Ramadhan bukan?” tanyanya setengah berseru sambil menerima jabatan tanganku, namun mimik wajahnya masih tetap menggambarkan ketidak percayaannya jika aku adalah Gerald, sahabt masa kecilnya.

“Yes, gua Gerlad dan sudah gua duga, lu kagak bisa lupa sama tempat itu, hahahaha!” balasku sambil menarik tubuh Ilham masuk dalam dekapan dan memeluknya erat.

“Aduh Ger!” Ilham berusaha melepaskan dirinya dari pelukanku, dia mengatakan malu karena tubuhnya kotor dan bau. Aku tidak peduli. Ilham memang terlihat sangat kumal, bajunya pun sangat lusuh, keringatnya juga bau menyengat.

“Gua sangat kangen sama elu dan Melly, Ham!” bisikku di telinganya sambil tetap tidak melepaskann pelukan.

Aku lupa, bicara dengan aksen anak gaul masa kini, padahal dari dulu Ilham tidak suka jika ada temannya yang bicara pake ‘lu-gua,’ menurutnya itu sangat kasar dan tidak sopan. Ilham memang terkenal paling alim, santun dan religius untuk ukuran bocah di kampung kami saat itu. Rata-rata warga kampung kami sangat amburadul pemahaman agamanya.

“Kamu mau kemana, Ham?” tanyaku kalem setelah puas memeluk dan melepas rinduku.

“Saya mau pulang, Ger,” jawabnya agak singkat dan masih terasa canggung, bahkan dia seperti masih sangat malu, tak mau mengangkat wajah menatapku.

“Hmmm, sebelum pulang, gimana kalau kita ngerokok sambil ngobrol sebentar, mau kan?” tawarku. Aku tahu sekarang dia merokok karena di kantong kemeja lusuhnya terlihat ada sebungkus rokok kretek merek murahan yang gak jelas cukainya.

“Ta…tapi sebentar aja ya, Ger, saya kan harus pulang, udah mau sore ini!” Ilham berusaha menolak namun aku terus memaksanya dengan halus.

Ilham aku ajak mampir ke salah satu café terdekat, lalu aku memesan kopi, makanan ringan dan rokok kretek termahal yang ada di sana. Kami ngobrol agak lama yang akhirnya kuputuskan untuk ikut main ke rumahnya. Ilham menolak karena malu rumah kontrakannya dalam gang sempit yang sangat kumuh. Bahkan tak layak disebut rumah. Aku tetap memaksanya.

Aku memang sangat penasaran. Selama diajak ngobrol, Ilham selalu menghindar setiap kutanya keadaan dirinya saat ini. Dia tidak mau terbuka tentang kegiatan atau pekerjaannya. Dia juga tidak mau menceritakan kondisi keluarganya, padahal sempat keceplosan mengaku jika dia sekarang sudah menikah dan sudah punya anak satu. Aku yakin Ilham sangat membutuhkan pertolonganku, makanya aku perlu tahu kondisi dia dan keluarganya.

Walau dengan muka cemberut karena berat hati, akhirnya Ilham mengajak aku naik angkot menuju kawasan kumuh tempat tinggalnya. Agar Ilham tidak terlalu minder, aku pun mengaku sedang menganggur dan hendak mencari kerja di kota ini.

“Saya heran. Kok kamu hebat, Ger. Katanya masih pengangguran, tapi bisa nraktir saya, malah beli rokoknya juga yang paling mahal!” ucap Ilham yang sudah mulai bisa bicara santai saat kami berada dalam angkot yang sepi penumpang.

“Hahaha, itu namanya rizki anak soleh, Ham!” balasku sambil nyengir kuda.

“Anak Soleh, Ndasmu!” sergahnya sambil nyengir kesal

“Hahahahaha!” Kami pun kompak tertawa ngakak. Sama-sama teringat kelakuan gila masa kecil di kampung yang sangat tidak layak disebut ‘Anak Soleh.

Tak sampai setengah jam, Ilham mengajakku turun dari angkot dan berjalan menuju sebuah gang sempit. Saat melewati minimarket, aku meminta Ilham belanja dulu untuk oleh-oleh anak dan istrinya di rumah. Ilham langsung menolaknya, dia bilang masih cukup persediaan di rumahnya. Namun aku tidak percaya. Lalu aku mengambil uang cah sejuta dari dompet dan menyodorkan padanya.

“Hah, ini kamu serius, Ger?” tanya Ilham masih tak percaya, dan masih tidak mau menerima uang yang kusodorkan.

“Serius. Masih kurang? Oke gua tambah lagi dua juta, mau?” tantangku lagi agak kesal karena dia terlalu banyak menolak tawarnaku walau akhirnya menerimanya.

“Aduuuuh Geraaaaald!” Tiba-tiba Ilham berteriak dan merangkul tubuhku dengan sangat erat. Dia menangis tersedu-sedu sambil memelukku persis anak kecil hingga menarik perhatian banyak orang.

Aku yang kebingungan langsung mengajak dia pergi untuk menghindar tatapan orang yang curiga. Takut dikira aku debt collector yang sedang menagih hutang dengan cara kekerasa atau memaksa hingga nasabah yang sudah tidak berdaya itu ketakutan dan menangis meraung-raung.

Setelah tenang, Ilham bercerita jika istrinya sedang sangat membutuhkan uang. Dia memintaku agar langsung memberikan uang itu pada istrinya. Aku setuju dan kami pun segera masuk gang sempit menuju kontrakan Ilham, tanpa belanja dulu.

Kami sampai di sebuah rumah yang susah aku ceritakn sebagai hunian yang layak. Ada ruang tamu ukurannya 2 x 3 m, lalu ada ruangan di belakangnya yang kukira kamar tidur. Aku sangat terenyuh dan nyaris meneteskan air mata saat melihat keadaan rumah Ilham yang sebenarnya. Bahkan untuk saat ini, di kampungku tidak ada warga yang tinggal di gubug yang sangat kumuh seperti ini. Ternyata sahabat kecilku benar-benar hidup di bawah garis kemiskinan.

“Mana istri dan anakmu, Ham?” tanyaku pelan setelah Ilham menyuguhkan segelas air putih padaku.

“Masih kuli nyetrika, nanti satu jam lagi balik,” jawab Ilham sambil menatap sebuah foto berukuran sedang yang ditempel pada dinding bambu rumahnya.

“HEY!” seruku setengah berteriak sambil bangkit dari duduk, lalu berdiri memandang foto tersebut yang jelas-jelas memperlihatkan Ilham dan Melly yang sedang menggendong seorang bayi mungil. Aku kira bayi itu usianya setahun dan berjenis kelamin laki-laki.

“I..ini Melly kan?” tanya pada Ilham.

“Kamu kaget ya, Ger? Iya dia Melly. Saya udah nikah dengan Melly, itu anak kami,” ucap Ilham lirih sambil berdiri di sampingku yang masih melongo memandangi foto keluarga kecil itu.

“Ja… ja … jadi kamu beneran nikah sama Melly?” tanyaku lagi dengan suara yang masih agak sedikit tercekat dan bergetar. Kaget, masih tidak percaya jika mereka benar-benar menjadi pasangan suami istri.

“Iya…” jawab Ilham pelan, setelah menatap mataku dia pun langsung menunduk kembali tanpa kata-kata.

“Kalian beneran nikah? Emang boleh nikah sama saudara?” tanyaku masih bingung.

“Panjang banget ceritanya, Ger. Kami terpaksa nikah siri, demi masa depan Gerlad, anak kami.”

“Hah, anak kalian namanya Gerald?” tanyaku makin terperanjat.

“Iya, Gerald Ramadhan, sama seperti nama kamu. Itu permintaan Melly, karena dia masih selalu ingat sama kamu. Maafin kebodohan Melly yang sudah nyuri nama kamu.” Ilham kembali bicara sambil menunduk seperti orang yang ketakutan atau malu tertangkap mencuri.

“No! Gak ada masalah. Itu nama yang umum, siapa aja berhak memakai nama itu. Tapi, beneran kalian udah nikah secara siri dan gimana kabar ibu dan bapak kalian?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Panjang banget ceritanya, Ger. Mungkin biar Melly aja yang nyeritainnya.”

“Oh my God, kenapa hari ini gua banyak banget dapat kejutan, Ham?” gumamku.

“Tapi yang pasti, sudah sejak lama aku, Melly dan Gerlad, terusir dari rumah orang tua kami. Aku kerja serabuatn kadang ngamen, atau apa saja pernah juga ngemis. Melly, kuli nyuci, nyetrika atau apa aja dari tetangga yang butuh tenaganya.” Ilham bercerita keadaannya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Oh my God! Sudah berapa lama kalian tinggal di sini?” Aku kembali tak sadar menarik tubuh Ilham dan memeluknya dengan sangar erat. Ilham pun meneteskan air mata kesedihannya.

“Baru setahun lebih. Ini juga rumah udah dua bulan gak kebayar sewanya. Makanya saya pikir kalau kamu punya uang, lebih baik kasihkan sama Melly, biar dimanfaatin buat bayar kontrakan ini, kalau ada sisanya bisa buat yang lain-lain,” ucap Ilham dengan suara yang sangat lirih hingga membuat hatiku serasa disayat sejuta sembilu.

“Hentikan ngamen dan ngemisnya, Ham. Mulai hari ini, kalian ikut aja sama gua. Di sana ada rumah yang bisa kalian tempati sesuka kalian tanpa harus bayar. Di sana jauh lebih baik dan kalian juga bisa buka usaha baru.”

“Me … me … memangnya ka …mu su… dah ja… di… pengusaha ya, Ger?” tanya Ilham terbata-bata.

“Gua bukan pengusaha. Masih mahasiswa tapi nanti lu akan tahu sendiri apa usaha gua sekarang, oke?”

“Iya, Ger. Terima kasih sebelumnya kamu mau bantu kami.”

“Gua ini sahabat juga saudara kalian, wajiblah bantu kalian.”

“Apakah Melly perlu saya jemput biar pulang lebih awal?” usul Ilham.

“Gak usah. Biar pulang kalau tugasnya udah beres, kaya biasanya.”

“Wah, berarti Melly bisa jadi milik kita berdua lagi ya, Ger,” bisik Ilham.

“Hahahaha, kagak gitu juga konsepnya, Bangsat! Sekarang dia udah jadi istri lu, gua gak bakal ganggu, titik!”

“Gak apa apa, saya rela kok, kalau kalian masih sama-sama mau, hehehehe.”

“Hahaha, tetep gak boleh. Kita bukan yang dulu lagi, Ilham! Mendingan sekarang tinggalin gua sendirian, mau mengenang masa kecil kita yang super edan itu. Nih bawa duit, ajak Melly sama anak lu belanja sepuas kalian, hahahaha.”

Kenangan indah masa kecilku bersama Ilham dan Melly, rasanya tak akan tergantikan oleh cerita apapun. Bahkan mungkin sampai kiamat nanti. Terlalu indah dan gila di masanya…

*Bersambung Suami Siri, 4

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED