Widya Ayu Ningrum (24 Tahun)
Mulustrasi yang ada hanya sebagai bentuk pemggambran imajinasi seperti apa wajah dan bentuk tubuh dari sang pemain saja.
Widya Ayu Ningrum atau biasa disapa Widya. Widya ini seorang ibu rumah tangga dengan usia kini 24 tahun sedangkan suaminya Harjo berusia 27 tahun. Namun Harjo telah pergi meninggalkan Widy sejak 3 tahun silam akibat kecelakaan saat hendak pulang dari merantau dan karna hal itu Widya telah menyandang status sebagai Janda di usianya yang masih dibilang muda itu. Widya dan Harjo dikaruniai 1 orang anak bernama Evan Dwi Harjono yang sekarang baru menginjak bangku Sekolah menengah pertama. Namun Evan sendiri semenjak masuk SMP, Evan tinggal dirumah orang tuanya yang memang dimana jarak antara rumah orang tua Widya dengan sekolah Evan belajar lumayan dekat dibanding rumah yang Widya tempati. Evan kadang mengunjungi ibunya tiap malam minggu dan selalu menginap. Evan akan kembali pulang ke rumah nenek atau ibu Widya pada Senin pagi. Sebenarnya Widya merasa sangat kesepian setelah ditinggal sang suami, kini anak semata wayangnya terpaksa harus ia titipkan di rumah ibunya semata-mata hanya untuk mengirit pengeluaran yang mulai memburuk sejak ditinggal meninggal oleh Harjo.
Widya sebenarnya bisa memperbaiki masalah yang dihadapinya demgan cara menikah kembali. Widya cantik, mulus dan untuk badannya sendiri sangatlah terawat dan kalaupun Widya ada niatan untuk mencari pria pengganti Harjo pasti dengan cepat bisa Widya dapatkan. Sayangnya Widya belum memikirkan hal itu sampai 3 tahun ini. Ia hanya fokus pada anak serta kehidupannya.
Widya belum memikirkan akan sosok pengganti ayah bagi Evan, tapi sejauh ini sudah banyak lelaki yang mendekati Widya untuk mempersuntingnya dengan menerima statusnya sebagai janda anak satu, bahkan ibunya sendiri menyarankan Widya untuk menikah kembali karna umur Widya yang masih muda tersebut, tapi lagi-lagi Widya tolak dengan halus.
Dari segi bisnis. Widya mempunyai bisnis sampingan berupa jasa Katering yang selama ini ia kerjakan, tapi sekarang sudah mulai tak pasti ada pesanan yang masuk. Karna hal itu Widya benar-benar memutar otak supaya semaksimal mungkin ia bisa membiayai terus sekolah anaknya dan juga membiayai kehidupan dirinya sendiri pula.
Bukan ibu Widya maupun saudaranya tak mau membantu, mereka sudah sangatlah sering menawarkan bantuan tetapi dari pihak Widya nya sendiri menolak halus dan lebih berusaha sendiri sebisa mungkin karna ini memang tanggung jawabnya sebagai orang tua bagi anaknya.
Seperti saat ini, Evan datang mengunjungi Widya dengan kabar yang membuat Widya buntu. Dimana Evan memberitahukan ibunya bahwa uang SPP yang sudah 4 bulan belum dibayar sudah kembali di tanyakan oleh pihak sekolah. Sebenarnya kalau Widya meminta bantuan ibunya pasti semua masalah akan selesai tapi kembali lagi ke ego Widya dengan alasan Tanggung Jawab.
“Nanti mama cari uangnya, kamu bilang aja dulu sama kepala sekolah buat kasih mama waktu lagi”, ucap Widya masih mencoba untuk tersenyum.
“Tapi kata kepala sekolah mama hanya dikasih waktu sampai bulan depan, kalau bulan depan mama ga bisa bayar katanya untuk sementara Evan dilarang untuk masuk sekolah sampai mama bisa bayar semuanya”, tutur Evan pada Widya.
“Iya, mama bakal usaha secepatnya. Kamu ga usah pikirkan hal ini, kamu yang penting belajar aja yang tajin biar jadi orang pintar terus jadi orang yang sukses”, ucap Widya pada anaknya. Evan mengangguk.
“Yaudah makan dulu gih”, suruh Widya.
“Mama tau aja kalo Evan belum makan. Hihihihi…”
“Yakan emang udah kebiasaan kamu kalo hari Sabtu langsung ke rumah tanpa balik ke rumah nenek dulu”. Evan hanya tersenyum lebar sambil berlari pelan ke arah kamarnya untuk berganti pakaian.
“mah, Evan menginap disini ya selama libur satu minggu ini”
Sesaat setelah anaknya masuk ke dalam kamar, ponsel Widya mendapat pesan masuk dari ibunya yang bertanya tentang apa cucunya sudah ke rumah Widya atau belum. Seperti itulah ibu Widya terhadap anaknya. Evan oleh neneknya sangatlah dimanja, tapi walau dapat perlakuan seperti itu dari neneknya, Evan tak menjadi seorang anak yang manja pula. Karna rasa sayang neneknya terhadap Evan, jika Evan pergi entah kemana pasti selalu ia khawatirkan.
Sore harinya ketika Widya berada di depan rumah sedang mengisi waktu luangnya merawat tanaman, tetangga rumahnya menyapa Widya dengan sapaan ala ibu-ibu rumah tangga.
“rajin banget bu Widya ini”
“Eh, iya bu buat isi waktu luang aja ini”
“tanaman tiap sore disiram, tapi yang siram kangen disiram juga ga nih? Hehehe”, canda tetangganya itu yang bernama bu Nonik.
“ibu bisa aja. Ibu juga rajin tiap sore pasti olahraga gitu. Biar singset ya bu”, balas canda Widya.
Bu Nonik yang awalnya sedang lari kecil sore menghentikan kegiatannya dan mengobrol bersama Widya di depan rumah.
“kelihatannya lagi bingung banget ibu Widya ini. Kelihatan jelas loh dari mukanya”
Widya tersenyum, “iya ini bu. Saya lagi bingung soalnya uang SPP Evan sudah 4 bulan belum dibayar. Sedangkan Katering saya juga udah merosot, hutang bank juga lagi dikejar-kejar”, ujar Widya.
Bu Nonik terdiam setelah mendengar masalah yang Widya alami. Bu Nonik terlihat berpikir untuk membantu bagaimana caranya masalah tetangganya itu bisa diselesaikan.
“Bu Widya mau dengerin saran saya ga?”, Tanya bu Nonik.
“Saran apa, bu? Kalo emang bisa membantu mungkin saya bisa terima saran bu Nonik”
“Giman ya bilangnya. Hmmm… Sebenernya saya sih belum pernah, tapi teman saya sudah coba cara ini dan cerita ini juga teman saya yang ceritain”
“semacam…. semacam pasang pelaris gitu, Cuma bukan pelaris jualan, tapi pelaris rezeki katanya. Teman saya udah coba hal itu dan memang benar hanya beberapa minggu setelahnya teman saya itu kaya ketiban durian runtuh. Yang awalnya banyak hutang malah sekarang bisa beli mobil bagus”, ujar bu Nonik.
“ah ga, bu. Itu sama saja dosa. Ga mau saya, bu kalo kaya gitu”, tolak Widya.
“saya kan Cuma kasih saran aja, bu. Kalo ibu pikir-pikir lagi juga dari mana ibu bisa dapetin uang buat bayar SPP Evan? Iya buat SPP emang ga terlalu besar, tapi coba ibu bayangin gimana bayar hutang bank yang jumlahnya bukan satu dua juta aja. Kalo ga salah hutang peninggalan pak Harjo kan diatas 200 Jt. Memang dicicil, tapi hutang segitu bisa berapa tahun baru lunas, bu?”, ucap bu Nonik.
“Ya saya sih ga paksa, Cuma coba ibu pikirin lagi deh. Kapan lagi bisa dapat duit dalam waktu ga terlalu lama dan dalam jumlah besar”
Widya mencoba mencerna ucapan bu Nonik. “kalau semisal. Semisal ini ya, kalo emang bayar buat pasang kaya gitu berapa, bu?”
“kalo buat bayar sih kata teman saya gratis, cuman…cuman kata teman saya proses pemasangan pelaris itu berat, bu. Ga tau berat dalam segi apa, soalnya teman saya ga kasih tau kaya apa prosesnya”
“pernah bilang juga sih kalo proses pemasangannya itu enak dan setelah proses pemasangan pun juga harus tetap melakukan ritual rutin katanya buat jaga kualitas pelaris yang dipakai”, ujar bu Nonik.
“Enak? Bersetubuh kah?”, kaget Widya.
“kalo untuk itu saya ga tau, bu. Tapi ada kemungkinan juga prosesnya seperti itu karna memang teman saya pas jelasin ada kata-kata kalo semakin sering disiram akan semakin bagus. Nah mungkin yang dimaksud disiram itu ya hal yang berhubungan dengan Bersetubuh”
“Tapi tadi katanya setelah proses pemasangan, harus tetap melakukan ritual buat jaga kualitas pelaris yang dipakai. Berarti dengan kata lain harus bersetubuh secara rutin dengan orang yang memasangkan itu?”, ucap Widya dan tanpa bu Nonik sadari entah kenapa karna pembicaraan tersebut, kedua puting Widya terasa semakin mengeras.
“ya mungkin, saya kan belum pernah coba, bu. Tapi kalo emang kaya gitu kan berarti enak juga toh, bu. Dapat uang banyak iya, dapat yang enak-enak juga iya”, balas bu Nonik dengan tersenyum meledek.
“kaya wanita murahan dong, bu. Tiap dipakai terus dapat uang”
“Ya beda lah, bu. Disini memang kalo bersetubuh dapat uang kasaranya, tapi kalo ga bersetubuh juga masih bisa dapat uang, tapi ga sebanyak kalo bersetubuh. Cuma kalo seterusnya ga bersetubuh ya lama-lama ga dapet uang sama sekali. Intinya pelaris ya ditanam di tubuh orang itu supaya menghasilkan uang harus dikasih makan dan makanan dia itu ya sperma lelaki, mungkin? Ya saya juga ga bisa simpulin kalo proses ada bersetubuh apa ga, tapi buat kemungkinannya kaya gitu”, sanggah bu Nonik.
“Kalau bu Widya berubah pikiran dan mau coba bisa bilang sama saya, nanti saya hubungin teman saya itu buat minta alamat orang yang bisa bantu memasangkan ke bu Widya ini”, lanjut bu Nonik.
“Saya pikir-pikir dulu deh, bu buat hal ini”, ucap Widya.
“Iya, bu orang saya juga ga paksa. Yaudah kalo gitu saya pulang dulu deh, udah mau Maghrib soalnya”, ujar bu Nonik pamit.
“SPP Evan bakal ga ada masalah dan semua hutang pun bakal lunas. Coba dulu apa ga ya?”, pikir Widya.
Makan malam telah selesai disantap. Widya terlihat bersandar di tempat tidur sambil memikirkan saran yang dikasih oleh bu Nonik sore tadi. Widya bingung apakah ia akan mengambil jalan pintas tersebut atau harus bersusah payah dengan usahanya sendiri. Kalo untuk meminta bantuan ibunya itu tak terpikirkan oleh Widya karna memang kembali tak mau terlihat sangat menyusahkan di depan orang tuanya.
Sedari tadi Widya melamunkan saran yang ia dapat, hingga ia terpikirkan obrolan di bagian proses pemasangan. Tanpa sadar tangan kananya merambat masuk ke dalam celana tidurnya dan sedikit demi sedikit mulai memasukkan jarinya ke dalam lubang memeknya. Entah kenapa ia merasa sangat terangsang ketika teringat obrolan sore tadi dan ia terangsang jika membayangkan dirinya melakukan proses pemasangan tersebut dan harus bersetubuh dengan pria lain yang sama sekali tak ia kenal itu.
“Sshhhhh……”
Tanpa Widya sadari kembali, mulutnya mengeluarkan desahan kecil sambil memikirkan dirinya sedang disetubuhi oleh entah siapa pria itu. Membayangkan bagaimana dirinya disetubuhi dan seperti apa rasanya bersetubuh dengan pria lain selain oleh suami sah nya. Bahkan laju keluar masuk jarinya semakin cepat ingin mengejar kenikmatan.
“Ssshhh….enakkk….aku kangen…kamu…mas…sshhhh…”
“mass…Harjo…oowwhhhsss…”
Widya makin terbawa oleh suasana. Dari sebuah obrolan menjadikannya sebuah fantasi yang sama sekali belum pernah ia pikirkan selama ini. Sebuah fantasi dengan membayangkan dirinya tengah di sebadani oleh lelaki yang bukan suami sahnya dan lelaki tersebut lelaki yang tak ia kenal dan baru pertama kaki ia temui. Nafasnya tersengal, badannya panas dingin dan perasaannya merasakan hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Mungkin karna sudah 3 tahun ini Widya sama sekali tak melakukan hubungan badan ataupun masturbasi, dirinya dengan cepat bisa meraih orgasme yang pernah ia rasakan dulu, walau rasa yang didapat tak sebanding dengan benda yang semestinya memasuki lubangnya itu.
CLOK!!! CLOK!!! CLOK!!!
“Aakkkhhhh….oowwsshhhh…..”
Orgasme pertama dalam kurun waktu 3 tahun akhirnya bisa Widya keluarkan. Terlihat jelas seprei sangat basah akibat orgasme pertamanya itu yang selama ini tak ia keluarkan.
HOSH!!! HOSH!!! HOSH!!!
Widya mencoba mengatur kembali nafasnya sehabis gelombang orgasme telah ia alami. Pada memeknya ia merasakan panas karna gesekan dan kocokkan jarinya sendiri pada memeknya.
“Aku tau ini dosa, tapi aku sudah tak tau harus seperti apa lagi. Akan aku ambil saran bu Nonik itu. Ya, aku harus ambil”, ucap Widya setelah gelombang orgasme mereda.
Keesokannya, hari minggu sehabis belanja sayuran pagi. Widya berjalan beriringan bersama bu Nonik dengan sebuah kantung plastik berisi bahan-bahan makanan di tangannya. Widya mulai mengutarakan tentang niatnya untuk mengambil saran yang diberikan oleh bu Nonik kemarin sore di depan teras rumahnya.
Awalnya bu Nonik kaget karna Widya mau mengambil cara tersebut, tapi di lain hal bu Nonik merasa senang akan keputusan yang Widya ambil tersebut. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh bu Nonik akan Widya.
“bu Widya beneran?”, tanya bu Nonik.
Widya mengangguk, “saya sudah bingung harus seperti apa lagi, bu. Saya bakal coba cara yang bu Nonik sarankan, walau saya sendiri juga sadar betul bahwa apa yang akan saya lakukan ini dosa yang penting anak saya bisa hidup dan bisa bersekolah tanpa ada masalah lagi, tanpa ada rasa malu atau minder karna orang tuanya tak bisa bayar uang SPP yang jumlahnya sebenarnya tak seberapa. Saya ga mau anak saya susah dan merasa malu, bu”, ujar Widya.
“Kalau keputusan bu Widya memang seperti itu, saya nanti bakal coba tanya detailnya lagi sama teman saya itu. Bu Widya tunggu aja kabar dari saya, kalo sudah nanti saya bakal ke rumah ibu buat kasih tau”. Widya mengangguk.
Sebelum bu Nonik masuk ke area pekarangan rumahnya, bu Nonik berbicara, “tapi ibu juga harus siap dengan prosesnya”. Widya menoleh, “iya, bu. Saya siap”. Jawab Widya.
Sore harinya Widya beserta anaknya, Evan berada di rumah ibunya Widya setelah siang tadi bu Nonik datang ke rumah untuk memberi tahu semua informasi yang ia dapatkan dari temannya. Tujuan Widya datang ke rumah ibunya semata-mata hanya ingin berpamitan untuk pergi sementara waktu ke suatu tempat dengan alasan mengajak Evan berlibur sebentar disaat sekolah libur.
Ibu Widya ingin ikut bersama anak beserta cucunya itu, namun Widya beralasan kalau liburan kali ini ia lakukan khusus untuk liburan keluarga antara anak dan ibunya. Tentunya Widya bilang dengan halus dan sopan pada ibunya, hingga sang ibu mengerti dan memperbolehkan mereka untuk pergi. Seperti seorang nenek yang sayang pada cucunya, ibu Widya memberi uang jajan untuk Evan karna ibu Widya tau pasti kalo Widya pasti tak akan mau menerima uang darinya, maka dati itu sang ibu hanya memberi pada Evan, cucu tersayangnya itu.
“Widya juga mau izin menginap di sini dulu, bu. Besok pagi kita berangkat soalnya”, ujar Widya.
“Rumah ibu, rumah kamu juga ngapain harus minta izin. Kamu menginap disini ataupun tinggal disini sekalipun juga ibu malah senang, Wid”
Widya menaruh beberapa barang bawaannya ke dalam kamar dan tak lama kembali menemui ibunya untuk melanjutkan mengobrol hal ringan sambil melepas kangen karna Widy jarang bertemu dengan ibunya, walau sebenarnya rumahnya dengan rumah ibu tam terlalu jauh, hanya memerlukan waktu setengah jam perjalanan.
“Kamu masih belum ada niatan buat cari pengganti Harjo, Wid? Maaf ibu tanya kaya gini lagi, ibu Cuma mau kalau kamu bisa hidup lebih baik lagi kalau ada sosok pria disampingmu”
“Maaf, bu. Buat sekarang Widya masih belum memikirkan hal itu, karang Widya memang merasa terlalu berat untuk Widya jalani sendiri, tapi hal itu masih belum terlalu mengganggu Widya”
“Banyak pria yang udah datang ke depan ibu buat deketin kamu, bahkan tak sedikit juga pria yang langsung ingin melamar kamu, Wid”
“aku tau akan hal itu, bu. Widya masih memikirkan, Widya bakal cari pengganti, tapi belum untuk sekarang”
Ibu Widya mengusap lembut tangan mulus Widya, “yaudah gapapa, semua kan kamu yang jalani. Kalo kamu merasa belum waktunya ya ga papa. Toh ibu juga selalu dukung apa yang kamu lakukan. Ibu hanya sayang sama kamu, sama cucu ibu juga”. Widya memeluk tubuh ibunya dari samping sambil menempatkan kepalanya diantara leher dan dada ibunya. “Makasih, bu”. Dan dibalas usapan lembut oleh ibunya di kepala Widya.
—
Pagi dimana keberangkatan Widya ditemani oleh anaknya, Evan telah tiba. Widya beserta anaknya berpamitan kepada kedua orang tuanya an pergi menggunakan angkutan umum menuju ke terminal bus karna tempat yang akan dituju memang memerlukan jasa angkutan bus karna lumayan jauh.
Sekitar setengah jam perjalanan menggunakan angkutan umum akhirnya ibu beserta anak tersebut telah sampai di dalam terminal bus. Dimana selama perjalanan tadi Widya kurang merasa nyaman karna tepat didepanya duduk seorang pria sambil memegang ponselnya dengan gelagat seperti sedang merekam dirinya, karna i bisa melihat betul arah dari kamera yang ditunjukkan padanya, tapi itu hanya perasaannya saja jadi ia tak berani untuk menugur pria tersebut.
Widya mencari bus yang bisa mengantarkan dirinya ke tempat yang akan ia tuju. Ternyata tempat tersebut sangatlah jarang dilewati oleh rute bus yang ada, dengan susah payah Widya bertanya kesana kemari untuk hal tersebut. Hingga akhirnya ia mendapatkan bus yang ia harapkan, namun dengan bayaran yang lumayan mahal.
“Maaf aja, bu. Rute yang akan ibu lewati memang jauh dan lumayan pelosok, jadi yang harus ibu bayar ya segitu dan lagian bus yang melayani rute tersebut memang sangatlah jarang, kalau ibu merasa keberatan ibu bisa cari bus lain dan itupun kalau dapat”, jelas calo bus.
Widya terlihat berpikir dengan apa yang dijelaskan oleh bapak tersebut. Ada benarnya juga si bapak karna sedari tadi ia sangatlah sulit mencari bus yang bisa mengantarkan dirinya dan sekalinya dapat dengan harga mahal.
“Yaudah, pak saya mau”, putus Widya.
Si calo terlihat tersenyum senang karna penumpang yang ia dapat bertambah. “Bus sebentar lagi bakal berangkat, bu. Untuk busnya yang warna putih, nomor 23DF”, ucap si calo sambil menunjuk le arah bus yang dimaksud.
Dengan sigap si calo membantu membawakan barang bawaan milik Widya dan memasukkannya ke bagasi samping bus. Sementara Widya dan Evan masuk untuk duduk di tempatnya. Baru saja duduk, terlihat seorang pria bertubuh besar dengan kulit lumayan hitam mendekati Widya untuk meminta tiket bus dan tak lama setelahnya bus pun langsung berangkat seperti yang si calo katakan tadi.
Widya duduk di bangku bagian tengah dan ia melihat sekeliling ternyata hanya ada beberapa penumpang yang ada di dalam bus. Mungkin karna rute yang ia tuju lumayan pelosok dan sekarang hari biasa jadi penumpang yang ada bisa dihitung dengan jari, malah bisa dibilang sepi.
Di bagian depan terdapat ada 2 bangku diisi pasangan, dibangku sebelahnya 1 laki-laki, dibelakangnya terisi 2 pasangan lainnya dan 2 laki-laki. Sementara dibangku panjang paling belakang terdapat 3 laki-laki. Di dalam bus berarti terdapat 16 penumpang termasuk dirinya. Laki-laki ada 11 termasuk anaknya dan ditambah lagi kernet beserta sopir bus berarti ada 13 laki-laki. Sementara perempuan yang ada hanya 5 orang.
Bus mulai melaju mengarah ke tempat tujuan. Evan yang memang sangat gampang mabuk kendaraan tak bisa menahan rasa mualnya. Evan sedikit demi sedikit mengeluarkan makanan yang ia makan sebelum berangkat tadi. Dengan telaten Widya mengurut tengkuk Evan.
HOEK!!! HOEK!!!
“ini dihirup kayu putihnya biar sedikit mendingan”, ucap Widya sambil mengarahkan botol kayu putih ke hidung Evan.
“Apa tempatnya masih jauh, mah?”, tanya Evan disela menghirup aroma kayu putih.
“besok pagi baru sampai, nak. Sabar ya”
“jadi Evan bakal seharian di dalam bus, mah? Evan ga tahan”, keluh Evan atas rasa mabuknya.
“Maaf ya nak, tempatnya jauh soalnya. Mama lupa kalo kamu gampang mabuk kendaraan. Kalo mama ingat pasti mama bakal ajak orang lain buat temani mama”, ucap Widya merasa bersalah.
“yaudah, kamu tidur aja biar mabuknya ga terlalu berasa”, lanjut Widya.
Evan mencoba menuruti perkataan mamanya dan mencoba untuk tidur. Tak lama Evan berhasil memejamkan matanya dengan lelap disamping Widya. Perjalanan masih jauh dan bus yang ia tumpangi baru keluar dari kotanya sendiri. Widya yang teringat perjalanan memakan banyak waktu lalu memutuskan untuk ikut memejamkan mata.
Widya tertidur selama perjalanan lumayan lama, saat ia bangun ternyata Evan sudah terlebih dahulu bangun dan juga bus akan segera berhenti untuk beristirahat sejenak.
Saat bus benar-benar berhenti, Evan melihat jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 19.19. Widya menawarkan Evan untuk ikut turun dari bus, namun Evan menolak karna ia merasa mengantuk. Akhirnya Widya hanya bertanya apakah ada yang mau dibelikan dan Evan hanya meminta beberapa makanan. Widya turun dari Bus beserta dengan para penumpang lainnya.
HOAM!!!
Karna merasa mengantuk kembali akhirnya Evan memutuskan untuk tidur sampai mamanya kembali.
Evan kembali terbangun dari tidurnya karna ia dikagetkan oleh suara klakson bus yang keras. Saat ia lihat sekeliling ternyata hanya ada beberapa orang yang sudah masuk dan duduk kembali di dalam bus sambil makan ada juga yang tidur. Evan melihat ke luar jendela bus dan sesekali melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 20.16, dengan kata lain bus yang ia tumpangi telah berhenti hampir 1 jam dan begitu juga mamanya yang belum kembali ke sampingnya.
“memangnya kalo berhenti selama ini ya?”, bingung Evan yang dimana baru pertama kali ini naik bus.
Disaat dirinya dalam bingung, Evan merasakan bahwa ia ingin buang air kecil. Dengan segera Evan turun dari bus dan menuju toilet. Saat dirinya sedang buang air kecil terdengar dari luar ada dua orang pria sedang berbicara.
“seriusan lu?!”
“seriuslah, gila memeknya enak banget. Kapan lagi bisa rasain memek bini orang. Udah kaya gitu gratisan lagi. Bodinya mantap banget, mulus, toketnya bikin gemas. Nama sama badanya pas”
“sial, jadi pengen gue. Namanya siapa emang?”
“namanya Widya, lebih baik lu ke belakang, di tempat sopir bus biasa pada istirahat. Lu liat sendiri Sono. Kalo pengen cobain aja mumpung gratisan. Dibelakang juga kayaknya itu perempuan masih pada dipake”
“Tapi kalo lu mau ikut sodok itu memek pasti lu kebagian pas memeknya udah penuh sama peju. Orang tadi pada buang di dalam semua, termasuk gue. Gue juga tadi buang ini peju di dalem memeknya itu”, sambungnya.
“bodo amat lah yang penting gue bisa ikut buang peju ke memek gratisan. Siapa tau juga nanti gue bisa bikin hamil bini orang”
Setelahnya tak ada suara lagi dari mereka dan Evan yang sudah selesai buang air kecil pun bergegas ke tempat yang dimaksud entah siapa pria tersebut. Evan merasa terganggu karna nama yang pria tersebut sama dengan nama mamanya.
Memang benar di halaman belakang rest area terdapat satu bangunan petak yang berjarak dari area Rest area. Tapi dari yang Evan lihat rumah tersebut terlihat tak ada orang, hanya lampu rumah tersebut terlihat menyala.
Dengan langkah penasarannya Evan mendekat ke arah bangunan tersebut. Dari kejauhan terlihat sunyi, tapi pas dirinya sudah dekat dengan bangunan tersebut mulai terdengar suara seperti rintihan dan desahan. Bukan hanya itu, terdengar juga beberapa suara pria berbicara dan juga tertawa. Suara yang di dengar menggambarkan bahwa orang yang berada di dalam bangunan petak tersebut lebih dari 4 orang.
Evan mencari cara untuk bisa melihat ke dalam lewat ventilasi udara samping. Saat dirinya melihat ke arah dalam, jantungnya langsung berdetak kencang dimana ia melihat mamanya dengan hanya memakai baju tetapi bagian kedua payudaranya keluar dengan bebasnya dan celananya telah dilepas dalam posisi menungging diatas kasur lantai yang lusuh. Dibelakang terdapat pria telanjang yang ia ketahui sopir bus yang mengantarkannya tengah memaju mundurkan pantatnya menubruk pantat mamanya dengan telanjang bulat sambil sesekali tangannya menampar pantat Widya. Sedangkan di arah depan si kernet tengah memaksa keluar masuk kontolnya dengan kasar sambil menjambak rambut Widya.
PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!
“Aakkkhhhh…Aakkkhhhh…enak banget ini memek…sshhhh… Bu Widya janda kan? Tenang aja bu…ssshhh…malam ini rasa haus ibu bakal kita hilangkan dengan kontol besar kita…sshhhh….”
GLOK!!! GLOK!!! GLOK!!! Suara mulut Widya tengah mengoral kontol si kernet bus.
“ini kontol saya bu Widya. Makan yang banyak. Malam ini dan di perjalanan ini bu Widya bakal kita kasih makan kontol sampe kenyang. Sshhhh….Aakkkhhhh…”
Kedua pria tersebut tengah memasukkan kedua kontolnya di kedua lubang Widya dan sementara itu di sisi kanan maju seorang pria yang baru dayang dan kemungkinan pria itu yang Evan dengar tadi di toilet, ia maju sambil mengocok pelan kontolnya yang mulai tegang kembali. Ia kocok kontolnya diatas punggung Widya sambil sesekali mengoleskannya di kulit punggung Widya. Di pojok ruangan terdapat satu pria yang sepertinya sudah kebagian terlebih dahulu menikmati tubuh Widya dan mulai berpakaian kembali.
“Kontol suami ibu kecil ya? Ssshh…makanya ibu cari kontol yang bisa puasin…anjing…sssshhhhh….”
“Ga, pak….sshhhh….ga”
“kalo…kontol suami ibu ga kecil…berarti ibu memang seorang yang binal…”
“saya….Aakkkhhhh….saya janda, pak….Aakkkhhhh… Suami saya sudah meninggallhhhhh…”
Si sopir tersenyum, “kalo gitu ibu jadi istri saya sajaahhh…nanti bakal saya kasih kontol tiap hari…ssshhhhh”
“ga mau paakkgghhh….sshhhhh…”
“ibu kaya pelacur kalo begini… Apa ibu mau jadi pelacur? Sshhhhh….kalo ibu mau jadi pelacur saya bisa bantu jualin…disini pasti memek ibu bakal laku keras…Aakkkhhhh…”, ucap si sopir melecehkan, “disini banyak sopir truk sama sopir bus, pasti mereka…bakal senang ada memek yang bisa puasin mereka….ibu juga bakal puas karna bakal banyak kontol yang sodok memek ibu ini…anjing ini memek enak banget.. sshhhh….”, Lanjutnya.
Widya yang mendapatkan pelecehan seperti itu merasa bahwa cairan kewanitaannya makin membanjir. Entah kenapa ia merasa bernafsu ketika ada yang menyamakan dirinya seperti pelacur. Mereka dibayar tapi dengan Widya tanpa dipungut biaya, alias gratisan. Bahkan hal itu lebih rendah dari seorang pelacur sekalipun. Widya benar-benar sedang dikuasai oleh nafsunya. Ia tak dapat berpikir jernih karna hal yang sudah 3 tahun tak ia dapatkan. Sekali ia dapatkan malah rasanya berlipat ganda dari yang pernah ia rasakan selama hidupnya ini.
PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!
Gerakan si sopir mulai dipercepat karna ia merasa sedikit lagi akan ejakulasi akibat remasan dinding memek Widya. Si kernet yang tau hal tersebut langsung melepaskan kontolnya dari dalam mulut Widya sehingga Widya kini bisa mengeluarkan suaranya dengan jelas.
“Aakkkhhhh….teruss pakk….terusss…ssshhh….oowwhhhh… Ya teruss…”, racau Widya yang ternyata menikmati perlakuan atas dirinya.
“Saya…saya mau keluar, buugghh…terima peju saya. Aakkkhhhh…terima benih saya…Aakkkhhhh!!!!”
“saya jugaaahh…keluar pakkgghh….”
“AAKKKHHHH!!! LONTE!!! PELACUR!!!”
CROT!!! CROT!!! CROT!!!
Baik Widya maupun sang sopir, mereka orgasme dengan bersamaan sambil sang sopir terus membenamkan lebih dalam kontolnya ke dalam memek Widya sehingga peju yang dikeluarkan. Bisa masuk ke dalam rahim Widya dengan Banyaknya.
Beberapa saat si Sopir mendiamkan kontolnya dan saat sudah dirasa cukup ia cabut dengan perlahan hingga terlihat sedikit peju yang meleleh keluar dari lubang memek Widya jatuh ke atas kasur lantai yang tipis.
“Aakkkhhhh….”, lirih Widya saat kontol si sopir keluar dari memeknya dan juga akibat tamparan kecil pada pantatnya yang dilakukan si sopir bus tersebut.
Dalam keadaan lemas akibat orgasme yang ia alami barusan, tubuh Widya dibalik oleh si kernet dan tanpa aba-aba langsung di buka lebar kedua kaki Widya. Dengan mudah sebuah kontol lain mengisi kembali memek Widya yang sudah di isi oleh peju beberapa orang terminal. Dengan bernafsu si kernet menggenjot memek Widya dengan celat sambil meremas kedua buah payudara Widya yang menantang tersebut. Putingnya ia pelintir bergantian sambil sesekali dibarengi oleh gerakan menarik narik puting tersebut sehingga Widya bertambah menggelinjang seperti cacing kepanasan akibat sensasi yang ia dapatkan itu.
“ternyata memang sedap ini lubang…sshhhh… Nanti di dalam bus…kalo saya nafsu lagi ibu layani saya lagi ya…sshhhh….”, ucap si Kernet sambil terus menggenjot memek Widya tanpa mengurangi temponya.
“Iyaa… Iya pak…Aakkkhhhh….”
“Bagus… Dapat juga bini orang binal kaya gini…Aakkkhhhh…”
“Ibu puasin kontol kita, nanti kita kembalikan uang tiket bus ibu…sshhhh…kita juga bakal kasih lebih…oowwhhhh…”
Perkataan si kernet tersebut mengungkapkan bahwa Widya seperti seorang pelacur saja di depannya dengan membayar jika ia bisa memuaskan nafsu si lelaki. Umunya seorang perempuan akan sangat marah bila dilecehkan seperti itu, namun berbeda bagi Widya karna dirinya memang di keadaan sudah ikut masuk ke dalam gelombang kenikmatan yang sudah 3 tahun lamanya tak mendapatkan nafkah berupa kepuasan intim.
Saat si kernet sedang fokus menggenjot memek Widya, ternyata pria yang baru datang tersebut sudah tak tahan oleh kocokkannya sendiri. Karna dirinya sudah tak bisa menahan dan dirasa peju nya akan segera keluar dengan cepat ia kangkangi wajah Widya dan ia masukan kontolnya ke dalam mulut Widya. Dengan gerakan cepat yang singkat, si pria menyemprotkan peju nya ke dalam tenggorokan Widya dengan sangat banyak. Widya yang sedang digempur dari bawah hanya bisa menelan semua peju yang ia terima.
“aakkhh….iya telan semua bu…telan!! Sshhhh…”, ucapnya sambil membenamkan sedalam mungkin ke dalam tenggorokan Widya.
Pria tersebut melepas keluar kontolnya dan terdengar Widya terbatuk-batuk, bahkan terlihat dari lubang hidungnya keluar sedikit peju akibat tersedak. Pria tersebut mengoleskan kontolnya ke seluruh wajah Widya sebelum dirinya beranjak dan memakai kembali celananya.
PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!!
“sedikit lagi, bu! Sedikit lagi!! Aakkkhhhh….”, erang si kernet dan CROT!!! CROT!!! Ia keluarkan semua isi buah zakatnya mengisi memek Widya.
Sama seperti si sopir, si kernet juga mendiamkan beberapa saat kontolnya dan baru mencabut keluar. Ia mendekati tubuh Widya yang tergolek lemas diatas kasur lantai tipis dengan memek yang mengalir oleh peju. Si kernet mengusapkan kontolnya yang basah oleh lendir kewanitaan Widya yang bercampur dengan peju para lelaki yang telah menikmatinya ke kedua kulit mulus nan halus payudara Widya.
“Bu Widya hebat banget bisa puasin kita. Beruntung banget bisa ketemu sama bu Widya ini”, ucap si kernet bus.
Sementara Widya hanya diam sambil mencoba mengatur nafasnya yang berantakan akibat gempuran bertubi-tubi yang ia terima dari persetubuhannya yang dialami itu. Dadanya naik turun, tubuhnya berkeringat bahkan baju yang masih ia gunakan sedikit basah oleh keringat miliknya sendiri maupun tetesan keringat dari para lelaki yang sudah menikmati tubuhnya.
Sementara itu Evan yang sedang mengintip dari balik ventilasi udara hanya bisa melihat tanpa ada reaksi apa-apa, karna dirinya sendiri tak terlalu begitu tahu akan apa itu seks. Ia tahu hanya sebatas tahu tanpa bisa menyikapi seperti apa. Ia hanya melihat dan berpikir bahwa ibunya sedang berhubungan seks bersama para pria yang bukan ayahnya. Hanya itu.
Si kernet mengambil celana dalam Widya dan menggunakannya untuk mengelas peju yang tercecer dan yang mengalir dari lubang memek Widya.
“celana dalam saya, pak” ,ucap Widya lirih.
“Udah gapapa, bu Widya ga usah pake celana dalam biar nanti kita bisa puasin ibu lagi di dalam bus. Hehehe… Ibu masih mau kan dipuasin?”, tanya si kernet.
“Iya, ibu kan janda jadi ga ada yang bisa puasin ibu. Mumpung disini ada yang siap buat puasin ibu loh”, sahut si Sopir.
Dengan masih lemas Widya bangun dan memakai kembali celananya, tapi dibantu oleh para pria sambil sesekali meremas payudara Widya saat merapikan kembali posisi payudaranya untuk dimasukkan ke dalam Bra hitamnya.
“bapak, ih….”, seru Widya saat kedua payudaranya diremas dari balik bajunya yang sudah rapi saat akan keluar.
“habisnya saya gemas sama toket bu Widya ini”
Evan yang mengetahui bahwa mama serta para pria akan kembali ke dalam bus langsung bergegas menuju bus terlebih dahulu. Saat sudah di dalam bus, Evan melihat dari balik jendela mamanya berjalan beriringan bersama Sopir dan kernet bus. Saat mamanya kembali duduk di sampingnya, Evan bisa mencium bau peju dari badan dan mamanya. Tapi Evan yang memang belum terlalu tahu akan seks tak terlalu memikirkan hal tersebut. Saat ia lihat jam tangannya ternyata sudah menunjukkan pukul 21.10 dan mamanya baru saja kembali. Berarti hampir dua jam mamanya bersama para pria di dalam bangunan belakang Rest area ini dan entah berapa pria yang sudah menikmati tubuh mamanya itu, yang ia tahu hanya 4 orang termasuk pria yang memberitahu pria lainnya di dalam toilet tadi.
Karna tak tau harus menyikapi seperti apa, akhirnya Evan kembali tidur setelah memakan makanan yang mamanya belikan sebelum masuk ke dalam bus tadi.
—
JEDUG!!!
Suara bus menginjak lubang jalan yang rusak membangunkan Evan kembali dari tidurnya. Ia melihat ke arah mamanya ternyata beliau tak ada disampingnya dan lampu dalam bis juga dalam keadaan mati sehingga ia tak bisa melihat dimana mamanya berada. Saat ia mencoba menengok ke belakang ternyata mamanya ada di kursi panjang bagian belakang dengan kegiatan sama seperti yang ia lihat di dalam bangunan belakang Rest area.
Dimana mamanya sedang disetubuhi oleh entah siapa pria itu dan terdapat juga beberapa pria lain termasuk si kernet.
Widya tidur terlentang di kursi panjang dengan keadaan kini telanjang bulat sambil seseorang tengah memompa dengan nafsu kontolnya di memek Widya. Tak lama Evan memperhatikan ternyata si pria terlihat mengejang menyemprotkan peju nya ke dalam memek Widya. Setelah si pria tersebut selesai langsung digantikan oleh pria lainnya yang ternyata pria tersebut pria yang duduk disamping tempat duduknya tadi.
Terlihat sekelebat dari bayangan lampu jalan bahwa kontol pria tersebut berukuran besar dan sedikit menghadap ke atas. Ia arahkan kontol besarnya itu menyentuh memek Widya. Dengan perlahan ia mulai memasukkan senti demi senti kontol besarnya menembus sempitnya memek Widya.
“Aakkkhhhh!!!”, terdengar suara erangan dari mulut Widya karna ukuran kontol pria tersebut yang besar dan mencoba memasuki dengan paksa. Mulut Widya langsung dibungkam oleh si kernet karna takut diketahui penumpang lainnya. Terlihat si kernet mengucapkan sesuatu pada Widya, namun tak terdengar oleh Evan.
Dengan sedikit usaha akhirnya kontol besar pria tersebut berhasil bersarang di dalam memek Widya sepenuhnya. Dengan gerakan lembut ia mulai menikmati dinding memek Widya yang sangat nikmat itu. Pria tersebut sampai merem melek dibuatnya. Karna desakan dari si kernet untuk cepat di selesaikan, akhirnya si pria meningkatkan genjotannya pada memek Widya dengan cepat. Widya tak dapat mengontrol rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya hang berpusat di memeknya.
Widya menggelinjang dengan hebat saat kontol tersebut keluar masuk di memeknya dengan cepat dan bertenaga. Kedua payudaranya ikut bergerak kesana kemari saat tubuhnya terdorong oleh sentakan selangkangan si pria yang tengah menumbuk selangkangan Widya.
“ssshhh…..nikmatnya bu Widya ini…akkkhhhh….”
“akan saya puaskan, ibu ini….Aakkkhhhh….”
“iya pak,, terus…sshhhh…jangan berhenti…”
“enak? Sshhhh….”, tanyanya sambil meremas sebelah payudara Widya dengan kencang.
“Enak pakk… Enak…”, jawabnya sambil meringis menahan nikmat serta sedikit rasa sakit di payudaranya akibat remasan yang ia dapat.
“bu Widya suka kita entotin begini? Ibu suka? Aakkkhhhh…sshhhh…”
“iya ini enak…saya suka…saya suka dientot bapak…terusss…Aakkkhhhh….”
Pria tersebut merubah gaya dengan memosisikan tubuh Widya untuk menyamping menghadap ke arah Evan duduk memperhatikan. Dalam posisi tersebut kontol pria tersebut lebih dalam mengacak-acak memek Widya. Karna hal itu Widya seperti kesetanan akan nikmat yang ia dapat. Widya mengerang lebih keras dan hal tersebut membuat si kernet gemas dan langsung menyumpal mulut Widya dengan kontolnya dalam posisi menyamping. Si kernet mengocok kontolnya di dalam mulut Widya seakan-akan sedang keluar masuk di dalam memeknya. Widya dibuat gelagapan oleh kedua serangan kasar tersebut. Sampai akhirnya Widya mendapatkan orgasme yang panjang, badanya bergetar dengan hebat dalam posisi disetubuhi pada memek dan mulutnya.
“Aaaakkkkhhh….ke…keluuaarr…..aakkhh…..”, jerit nikmat Widya disela mulutnya yang tersumpal kontol.
“Hahaha… Ibu muncrat lagi kan karna kontol kita. Udah berapa kali ibu muncrat? Tadi sama sopir bus aja keluar dua kali. Hahaha”, ucap si kernet. Widya masih dalam keadaan orgasme panjangnya. Ternyata juga sebelumnya si sopir bus telah menikmati kembali memek Widya untuk kedua kalinya.
PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!!
“Saya juga mau keluar Widya sayang”
“keluarkan…keluarkan sayang….keluarkan semua…akkkhhhh…”, sahut Widya membantu.
“hajar terus, mas. Lagian bu Widya ini janda. Kita hamilin aja siapa tau bisa hamil beneran terus minta tanggung jawab. Kalo bu Widya minta tanggung jawab kita semua jadi suaminya aja biar bisa kita entotin bareng-bareng lagi. Hahaha”, ucap si kernet melecehkan Widya dengan sesukanya.
Si pria yang tengah menikmati memek Widya mempercepat sodokannya dan CROT!!! CROT!!! CROT!!!
“Terima peju ku, bu…..Aakkkhhhh… bisa buntingin bini orang juga…ssshhh”
Sekitar 7 semburan peju masuk ke dalam memek Widya tanpa halangan. Pria tersebut langsung mencabut kontolnya yang besar. Hal tersebut tak disia-siakan oleh si kernet bus, ia langsung mengangkat tubuh Widya untuk memosisikan menungging dan langsung memeknya diisi penuh oleh kontol kembali.
BLES!!!
“Sekarang tinggal kontol saya yang bakal puasin bu Widya ini”, ucap si Kernet bus.
“Aakkkhhhh…pak….puaskan saya…puaskan”, racau Widya saat dirinya kembali disetubuhi dalam posisi menungging.
Si kernet bus tersebut tak langsung menggerakkan kontolnya di memek Widya. Dia berencana ingin memancing lebih nafsu yang Widya alami. Ia ingin mengeluarkan sisi binal yang ada pada diri Widya tersebut, sisi binal dari penumpang bus yang ia angkut hari itu. Sisi binal dari istri orang yang sama sekali ia tak kenal dan baru ia temui hari itu juga.
“ibu mau apa?”, tanya si kernet.
“saya….mau kontol buat puasin memek saya ,pak….aakkhh…”
“Ibu mau saya bikin hamil?”
“Mau pakkgghh….saya mau…aakkhh…yang penting saya bisa dipuasin sama kontol besar…Aakkkhhhh…”
“Bagus, lonteku…bagus…sshhhh… Saya bakal entotin ibu sampe puas hari ini…sshhhh….”
“Iya pak… Saya lonte di dalam bus ini….Aakkkhhhh… Saya lagi nge’lonte di bus…akkkhhhh….”
Si kernet tersenyum puas mendengar ucapan yang Widya lontarkan tersebut. Sebuah ucapan yang keluar langsung dari seorang ibu muda dengan anak satu yang memacu nafsunya bertambah untuk lebih bersemangat menyetubuhinya.
PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!!
“Aakkkhhhh!!! Tampar pantat saya pak….sshhhhh..”
PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!!
Berulang kali si kernet bus menampar pantat sekal Widya, yang awalnya berwarna putih mulus kini karna tamparan yang diberikan berulang kali oleh si kernet bus warnanya berubah merah, walau tak terlalu terlihat tapi sudah dipastikan bahwa pantatnya memerah.
Si kernet terus bombardir memek Widya dengan cepat dan bernafsu. Ia terus menikmati setiap jengkal tubuh Widya dengan berbagai gaya di kursi panjang belakang bus itu. Bahkan si kernet menyuruh ibu untuk terlentang di lantai bus dan kembali menyetubuhinya di posisi itu dengan bernafsu.
“Ibu ingat…sshhhh…ada anak ibu di depan sana…ibu malah dibelakang telanjang lagi ngentot…Aakkkhhhh….anjing enak banget ini memek….sshhhh….”
“Aakkkhhhh…pak….akkkkhhhh…”
“bagaimana anaknya tau kalo ibunya ternyata wanita binal begini…sshhhhh….”
“Aakkkhhhh….Aakkkhhhh….tolong jangan bawa-bawa…anak saya, pak…bapak cukup entotin saya saja…aakkhh….”
“Bu Widya binal!!! Aakkkhhhh….rasakan perkasanya kontolku ini bu….sshhhh….rasakan!!!”
PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!
Menit demi menit tubuh serta memek Widya terus dinikmati oleh si kernet bus, hingga si kernet bus menyerah dan ingin segera menyemprotkan peju nya ke dalam memek Widya sambil menindih tubuhnya di lantai bus.
“Saya keluar bu….keluar!!!”, ucapnya sambil memeluk erat tubuh Widya dilantai bus.
“bareng pak…bareenngg….Aakkkhhhh….”
Dalam keadaan saling berpelukan di lantai bus keduanya mencapai orgasme secara bersamaan. Jari kuku Widya sampai mencakar punggung si kernet karna rasa nikmat yang ia alami jauh lebih nikmat dari yang pernah ia alami selama ini. Baru pertama kalinya Widya merasakan nikmat yang teramat sangat saat bersetubuh, apalagi kenikmatan yang ia dapat tersebut berasal dari kernet bus yang baru ia kenal dengan tampang jelek dan bau keringat.
Setelah gelombang orgasme keduanya selesai mereka saling melumat satu sama lain layaknya seperti pasangan suami istri sah sedang malam pertama. Sebuah ciuman yang hanya menggambarkan sebuah nafsu belaka dari masing-masing.
SLURP!!! SLURP!!!
Si kernet melumat bibir Widya tanpa henti dengan sisa nafsunya sebelum mencabut kontolnya yang mulai mengecil di bawah sana. Ternyata hal itu belum berakhir, dua pria lain dengan bergiliran kembali menikmati tubuh Widya dengan bernafsu. Kembali Widya harus melayani nafsu para lelaki lainnya dengan gaya dan rasa bervariasi kembali.
“beruntung banget gue naik ini bus…akkkhhhh…bisa dapat memek gratisan dari bini orang yang binal model kaya gini…sshhhh…”
“iya, bang…terus entot sepuasnya….teruuss….sshhhh…”
Si kernet sekarang sudah berganti posisi dengan si sopir dengan dirinya kini mendekati Widya yang tengah dalam kenikmatan kontol pria lainnya. Si sopir mendekati Widya.
“Bu Widya…”, sambil mengelus rambut Widya, “bu Widya jangan jadi lonte di bus saya ini”
Widya tak menghiraukan ucapan si sopir yang tengah melecehkannya itu. Widya terlalu fokus akan kenikmatan yang ia dapat secara bertubi-tubi sedari tadi dari para lelakinya yang dengan kuat terus membuatnya melayang.
Karna tak mendapat respon dari Widya, si sopir langsung mengeluarkan kontol besar hitamnya yang dalam keadaan setengah tegang, lalu dijambaknya rambut Widya. Ia disuruh untuk mengoral kontol tersebut menggunakan mulutnya sampai mengeras kembali.
“ayo lonte…ssshhhhh…bikin keras kontolku ini”, ucapnya sambil memukul pukulkan kontol besar hitamnya ke wajah dan bibir Widya dengan gemas.
Disaat si sopir sedang asyik menikmati lembut dan hangatnya mulut Widya tiba-tiba pria yang sedang menyetubuhi Widya berseru untuk si sopir berhenti sebentar karna dirinya akan segera menyelesaikan kegiatannya.
“abang berhenti dulu. Saya bentar lagi mau keluar. Sshhhh….saya udah ga sabar pengen pejuhin memeknya ini, bang. Akkkhhhh…Aakkkhhhh…”
Si sopir berhenti dari kegiatannya pada mulut Widya dan hanya diam memperhatikan si pria tengah mengejar kenikmatan pada tubuh penumpangnya itu dengan cepat dan sangat bernafsu. Diremasnya kedua payudara Widya. Posisi kakinya ditekuk hingga kedua lututnya menempel di payudaranya dan tempo genjotan si pria sama sekali tak berkurang. Terus, terus dan terus mereka berdua mengeluarkan desahan dan racauan erotis.
Peluh dikeduanya terlihat jelas membanjiri tubuh masing-masing. Dahi Widya berkeringat menempel beberapa helai rambut dan hal itu membuat hawa nafsu lawannya kian membara karna pemandangan yang erotis baginya.
“keluar….Aaaakkkkhhh….terima peju ku, bu…terima ini!! Aakkkhhhh!!!
CROT!!! CROT!!! CROT!!!
“Bangsat!! Enak banget ini lonte!!”, racaunya saat orgasme mengeluarkan peju nya di dalam rahim Widya sambil dirinya sedikit mencekik leher Widya karna suasana nikmat yang menerpanya.
Setelah semuanya selesai mendapat bagian, ternyata si pria yang duduk di sebelah bangku Evan kembali meminta kenikmatan dari tubuh Widya, begitu juga dengan si kernet dan bertukar posisi kembali dengan si sopir untuk ikut kembali menikmati sempitnya memek Widya.
Malam itu di perjalanan bus Widya benar-benar dibuat kelojotan oleh para pria yang asyik mengeluar masukan kontolnya menyetubuhi dan tak ada bosannya menyemprotkan peju nya ke dalam memek Widya hingga meluap mengalir keluar. Widya kelelahan dan merasa lemas karna di Setubuhi secara bergilir dan rata-rata dari mereka meminta bagian untuk menikmati sempitnya memek Widya 3 kali. Karna terlalu lama hal tersebut berlangsung, Evan kembali tertidur dibangkunya.
Pukul 04.21 Evan dibangunkan oleh Mamanya karna bus yang mereka tumpangi sudah sampai di tempat yang dituju. Dengan sedikit mengantuk Evan bangkit dari duduknya dan berjalan pelan di belakang mamanya, karna masih mengantuk Evan sedikit ada jarak dengan mamanya. Terlihat saat mamanya akan keluar lewat pintu depan ternyata si Sopir meremas dan menampar pantat mamanya, sedangkan si kernet meremas gemas sedikit keras sebelah payudaranya. Tapi terlihat mamanya hanya tersenyum akan perbuatan kedua orang tersebut atas tubuhnya yang sedang dilecehkan.
Terdengar juga si sopir mengucapkan sesuatu pada Widya yang hendak turun, “nanti kalau pulang bareng sama kita lagi ya, bu. Nanti bakal kita puasin lagi pake kontol kita sampe bu Widya ini ketagihan. Hehehe”. Ucapnya sambil memegang kontolnya dari balik celana dan si kernet mengarahkan tangan Widya pada kontol si kernet yang sudah tegang kembali di balik celana longgarnya.
“Isshhh si bapak, banyak orang tuh. Dibelakang juga ada anak saya”, ucap Widya dan si sopir melihat ke arah Evan.
“Gapapa, bu, lagian anak ibu jauh ga bakal dengar”
Setelah hal itu, Widya memanggil Evan untuk bergegas dan turun dari bus. Karna rasa kantuk yang masih terasa, Evan memeluk ibunya dari samping dan terciumlah aroma peju yang lebih menyengat dari sebelumnya.
Ternyata pas berjalan ke arah ruang tunggu ada beberapa orang yang melihat sinis ke arah Widya. Orang-orang yang satu bus bersama Widya dan diam-diam mereka tau apa yang terjadi selama di dalam bus tadi. Mereka bisa melihatnya dengan jelas saat Widya digilir oleh sopir bus, kernetnya dan juga oleh beberapa penumpang lainnya secara bergantian. Terdengar juga oleh Widya beberapa cemooh yang ditunjukkan kepadanya, tapi Widya memilih untuk diam.
“Dasar lonte, ada anaknya digilir malah kesenangan. Dibayar berapa? Apa Cuma dibayar pake kontol sama peju doang?”
“dasar murahan!!!”
Walau lirih tapi Widya bisa mendengar ucapan mereka. Widya terus berjalan demgan Evan memeluknya dari samping karna masih mengantuk. Widya berhasil masuk ke dalam ruang tunggu tanpa menanggapi cemooh yang ia dapatkan dari beberapa orang karna ia juga sadar bahwa itu memang salahnya sendiri, makanya ia lebih memilih untuk diam. Beda dengan saat bersetubuh. Sekarang ia merasa sakit saat ada orang melecehkan dirinya, tapi mau bagai mana lagi, semua sudah terjadi dan dirinya juga sempat menikmatinya. Merasa marah atau merasa menyesal pun tak ada gunanya.
“kamu tunggu sini dulu ya, ibu mau ganti pakaian”, pamit Widya pada Evan untuk berganti pakaian karna Widya sadar betul bahwa tubuhnya bau peju.
Tak lama Widya kembali menghampiri Evan dengan pakaian yang sudah berganti dan bau peju lelaki tergantikan oleh wangi parfum. Widya mengajak anaknya itu untuk makan terlebih dahulu kemudian baru akan kembali melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan utama.
Kini Widya berganti pakaian dengan tanktop putih dengan hanya dibalut oleh jaket tipis berwarna hitam miliknya. Sedangkan celananya ia ganti menggunakan celana Jeans ketat dan sudah memakai celana dalam kembali. Sementara baju, Bra dan celana yang ia pakai tadi ia bungkus dalam kantung Kresek dan telah ia buang karna bau sperma yang melekat terlalu kuat.
Memang benar tadi Widya telanjang tapi setelah mereka selesai menggilir Widya, mereka menggunakan semua pakaian Widya untuk mengelap ceceran peju serta mengelap memek Widya yang berlepotan oleh cairan putih lelaki. Bukan hanya itu mereka juga menggunakannya untuk mengelap kontol mereka masing-masing sehingga semua pakaiannya berbau peju yang menyengat, bahkan di bajunya ada beberapa corak basah dari peju. Celana pun juga tak luput basah karna Widya turun dari bus tak memakai celana dalam sehingga peju yang tertampung di memeknya merembes keluar secara langsung ke celananya hingga sangat basah di bagian selangkangannya.
“Kita makan dulu ya, nanti baru lanjut perjalanan. Udah dekat kok”, ucap Widya sambil menjawab raut wajah yang Evan tunjukkan.
*Bersambung…
Sambil melihat Evan makan dengan lahapnya setelah lesu akibat mabuk perjalanan membuat Widya tersenyum. Tapi disisi lain dirinya merasa bersalah pada anaknya itu saat teringat kejadian selama perjalanan di bus tadi. Ia merasa sangat bersalah pada anaknya, bukan hanya anaknya, ia juga merasa telah menghianati pernikahannya dengan Harjo, walau Harjo sendiri sudah tiada 3 tahun silam, tapi sampai sekarang dirinya masih berstatus istri dari almarhum Harjo suaminya.
“Maaf…”, hanya kata itu yang terlintas di benak Widya saat mengingat kejadian hari ini.
—
WIDYA
Setelah Evan tertidur Widya tak lama ikut memejamkan matanya di kursi bus yang sedikit terasa empuk. Widya tak tau entah sudah tertidur berapa lama di posisinya saat dirinya mulia merasakan di dalam tidurnya gelisah seperti ada yang sedang memperhatikan dirinya diluar kesadarannya. Ia merasa seperti tengah mengalami mimpi dimana dirinya dalam keadaan tertidur dan tubuhnya tengah diperhatikan oleh seseorang tepat di hadapannya. Di dalam tidurnya juga Widya mendengar dengan samar ada suara seorang pria seperti berbisik pelan.
Entah karna rasa gelisah tersebut mungkin Widya terbangun dari tidurnya. Pandangannya masih lumayan kabur saat samar-samar terlihat didepanya seperti ada sosok bayangan yang tengah berdiri menatapnya.
“Ada apa, pak? Tiketnya kan tadi udah”, ucap Widya setelah berhasil menguasai situasi setelah terbangun dan sosok yang memperhatikan dirinya ternyata kernet bus.
“Ga ada apa-apa kok, bu. Hehehe”, balasnya dan ia duduk di bangku sebelah bersama seorang penumpang pria yang berisi 3 kursi.
“Tadi saya sempat lihat kalo anak ibu muntah-muntah ya, bu? Eh, tapi benar kan itu anak ibu?”, ucap si kernet mencoba mengobrol.
“Iya, pak ini anak saya. Anak saya ini memang tadi sempat muntah-muntah, makanya saya suruh tidur aja biar ga terlalu dirasa pusingnya. Soalnya ini juga buat pertama kalinya anak saya naik bus jadi mungkin mabuk”, jelas Widya sambil mengelus pelan kepala Evan.
“Ibu sayang banget ya sama anaknya, pasti suami ibu merasa beruntung banget bisa punya istri kaya ibu ini. Selain sayang anak, ibu juga cantik dan terlebih lagi punya badan yang bagus”. Widya hanya tersenyum membalas pujian dari sang kernet bus.
Beberapa saat tak ada suara yang keluar dari mulut si kernet tersebut, namun tiba-tiba kernet bus mendekati Widya dengan sedikit membukukan badanya dan membisikan sesuatu ke telinga Widya. Widya yang kaget sedikit menjauhkan kepalanya.
“Bisa bantu saya sebentar ga, bu?”, bisik si kernet dan terlihat juga pria yang duduk bersamanya tadi berdiri dan ikut menghampiri bangkunya lalu pria tersebut melakukan gerakan tangannya mengarah ke Evan yang tengah tertidur. Widya yang kaget dan khawatir mencoba menghentikan apa yang akan pria tersebut lakukan.
“Bapak mau ap…”, gerakan Widya ditahan oleh si kernet bus.
“Kalo ibu memang ga mau terjadi apa-apa sama anaknya lebih baik ibu bantu kita. Kalo ibu mau teriak-teriak saja, yang jelas ibu teriak bakal terjadi sesuatu sama anak ibu”, ancamnya.
“Ibu lebih pilih menurut apa menolak?”, tanya si kernet bus. Karna dirinya merasa diancam dengan anaknya sendiri sebagai korbannya, mau tak mau Widya lebih memilih untuk menurut.
Melihat penumpang perempuannya itu mengangguk memilih untuk menurut padanya, si kernet bus tersebut terlihat tersenyum lebar dengan jawaban yang ia dapatkan. Dengan tak sabarannya ia mengajak Widya untuk duduk di kursi sebelahnya yang berisi 3 kursi itu dengan posisi Widya di tengah diapit oleh dua pria.
“Sekarang saya mau ibu bikin kita keluar pake mulut atau tangan ibu. Sekarang ibu buka celana saya dan keluarkan benda di dalamnya”, Widya diam dan terlihat mulai mengeluarkan air matanya.
“Tapi, pak… Tolong jangan, pak. Ada anak saya dan juga ada penumpang lainnya. Tolong jangan suruh saya buat lakuin hal itu”, tolak Widya.
“Saya Cuma suruh pake mulut atau tangan, bukan pake memek jadi harusnya ini ga terlalu berat buat ibu. Cepat lakukan, saya sudah nafsu sedari terminal tadi pas lihat toket ibu ini”, ucapnya sambil meremas payudara Widya. Widya yang mendapatkan perlakuan mendadak serta melecehkan itu terlonjak kaget sambil menyilangkan tangannya di kedua payudaranya.
Si kernet terus membisikan ucapan ancaman yang ditunjukkan pada dirinya beserta anaknya. Karna hal tersebut Widya mulai menurunkan kepalanya, dengan sedikit gemetar tangan lentiknya mulai membuka resleting celana komprang hitam milik si kernet. Tangannya juga masuk untuk menurunkan celana dalam yang dipake si kernet hingga sebuah benda panjang nan besar tersembul keluar menampar pipi serta bibir Widya. Lagi-lagi, Widya yang kaget hanya bis memundurkan kepalanya, tapi si kernet tau akan hal tersebut lantas menahan kepala Widya.
“jilatin duku, bu. Kalo sudah basah baru masukin ke mulut dan awas jangan terkena gigi”
Dengan terpaksa Widya mulai menjulurkan lidahnya dan menjilati setiap jengkal kontol kernet bus. Widya melakukan hal tersebut sambil menahan sesak di dada akibat rasa sakit dilecehkan di tempat umum serta di dekat anaknya sendiri. Ia gerakan lidahnya menari di batang kontol besar si kernet dengan mata terpejam.
Sementara Widya sedang menjilati tiap jengkal batang kontol si kernet, hingga di suruh ke buah zakarnya juga. Tepat dibelakang dimana penumpang pria itu tengah meremas pantat Widya yang berisi. Pria tersebut juga telah mengeluarkan kontolnya dan tengah mengocok pelan. Tangan pria tersebut satunya berpindah ke payudara Widya dan meremasnya dengan kasar. Widya dibuat sedikit melonjak tubuhnya akibat remasan kasar yang ia terima pada payudaranya. Terlihat si kernet hanya diam mendongak ke atas menikmati jilatan lidah Widy pada kontolnya.
“Sudah, bu. Sekarang buka mulutnya terus masukin ke dalam. Saya sudah ga sabar pengen rasain mulut ibu”
“Aakkkhhhh…..”, lenguh si kernet saat batang kontolnya masuk ke dalam mulut Widya dan saat itu juga ia bisa merasakan kontolnya diselimuti rasa hangat nan lembut di dalam mulut seorang perempuan beranak satu yang montok itu.
GLOK!!! GLOK!!! GLOK!!!
“ya terus…. Terus, bu…ssshhhhh….enaknya ini mulut…sshhhh…”, racaunya sambil memejamkan mata demgan kedua tangannya ia letakan diatas kepala Widya.
Widya hanya bisa diam dan pasrah ketika kedua payudaranya dikeluarkan dari dalam Bra dan bajunya oleh penumpang pria dibelakangnya. Sekarang kedua payudara Widya tergantung dengan bebas dan sesekali menempel di paha di kernet karna gerakan naik turun kepalanya di selangkangan kernet bus tersebut.
Si kernet yang makin bernafsu karna payudara Widya bergesekkan dengan pahanya lalu ia gunakan tangan kananya untuk meremas kasar payudara Widya dan memainkan putingnya.
Widya yang ingin semua yang terjadi padanya saat itu cepat selesai lantas Widya mempercepat gerakan kepalanya untuk naik turun dengan dibarengi dengan sedotan yang ia berikan pada kontol kernet tersebut. Ternyata hal tersebut berhasil, si kernet mulai mengerang menahan laju peju nya yang akan keluar. Si kernet kembali memegang kepala Widya dan membantu untuk lebih celat dan lebih dalam lagi menelan kontolnya. Saat itu Widya benar-benar gelagapan dibuatnya. Ia susah untuk bernafas dan kepalanya terus dipaksa untuk menelan habis kontol besar itu hingga menyentuh tenggorokannya.
“Aaaakkkkhhh…Aakkkhhhh…bangsat! Enak banget ini mulut….Aakkkhhhh….kkeluaarrrr….sshhhhh…Aakkkhhhh..”.
CROT!!!! CROT!!! CROT!!!
Si kernet menekan dalam kepala Widya hingga mentok ke selangkangannya sampai-sampai hidung Widya berada di rambut kemaluan si kernet yang lebat dan bau menyengat. Widya tak bisa melawan karna kuatnya tekanan si kernet pada kepalanya. Air matanya mulai mengalir keluar, beberapa kali ia pejamkan matanya dengan kuat menahan rasa sesak.
“Telan peju ku, bu….sshhhhh…telan semuanya sampai habis….Aakkkhhhh….”
Dalam sesaknya Widya disuruh untuk menelan semburan peju yang menyeruak masuk ke dalam tenggorokannya. Karna terlalu banyak dan kuatnya semburan peju tersebut membuat Widya tersedak hingga ada yang masuk ke lubang hidungnya dan mengalir keluar seperti ingus.
HAH!!! HAH!!! HAH!!!
Widya kehabisan nafas dan berusaha mencari udara untuk masuk ke paru-parunya saat kontol besar tersebut di keluarkan dari mulutnya oleh sang pemiliknya. Dadanya naik turun dan dahinya berkeringat. Sementara rambutnya sedikit berantakan. Si kernet belum selesai, peju yang keluar di lubang hidung Widya diseka olehnya, lalu Widya disuruh untuk menjilat jari si kernet yang terdapat sisa peju untuk ditelan olehnya. Terakhir si kernet mengusapkan sisa peju nya yang masih melekat di ujung kontolnya pada rambut Widya untuk membersihkannya.
“saya mohon sudah, pak. Hiks..hiks..”, tangis lirih Widya mulai pecah karna mendapat pelecehan yang sedang terjadi terhadap dirinya.
“si bapak ini belum ibu puaskan. Kasihan, bu. Ibu bantu keluarin peju nya, gih”, ucap si kernet. “silahkan, pak sekarang giliran bapak buat nikmatin mulutnya”, lanjutnya.
Widya disuruh untuk merubah posisi duduknya menghadap selangkangan pria tersebut dan kembali mulut Widya dipaksa untuk memuaskan kontol pria yang tak ia kenal sama sekali. Kepalanya dipaksa naik turun melahap batang tersebut dengan air mata yang mengalir di pipinya.
“Gila. Ssshhh…enak banget sepongan nya. Bini gue aja kalah jauh sama mulut ibu ini. Sshhhhh….ya terusshhhh…Aakkkhhhh…”, racaunya sambil meremas keras kedua payudara Widya dan bergantian memainkan putingnya.
Ternyata si kernet melakukan hal iseng dimana ia mengelus dan menekan pelan memek Widya yang masih terbungkus celana hitamnya. Sesekali tangan si kernet menekan selangkangan Widya dan sedikit menabok pelan area bagian bawah perutnya. Saat si kernet melihat Widya kembali, ternyata Widya tengah dipaksa menaik turunkan kepalanya di selangkangan penumpang prianya itu. Widya di deepthroat dalam kondisi itu, sampai terlihat si pria mengejang sambil menahan kepala Widya masuk ke dalam selangkangannya. Lagi-lagi Widya dipaksa untuk menelan peju pria yang tak ia kenal.
“Telan vitamin saya, bu. Akkkhhhh….telan semua, biar ibu tambah binal….sshhhhh….nikmatnya…”
Setelah memuaskan kedua pria tersebut, Widya memasukkan sendiri kedua payudaranya yang terbuka bebas ke dalam cup Bra nya dan merapikan kembali bajunya. Widya diam di tengah kedua pria tersebut. Widya terlihat masih menangis sambil menundukkan kepalanya.
“yaudah, ibu balik lagi duduk di tempatnya”, suruh si kernet dan hal itu langsung Widya lakukan. Ia berdiri mencoba melewati si kernet uang masih duduk tanpa mengubah posisinya dan Widya harus melangkah diatas paha si kernet. Saat Widya melangkah, kernet bus tersebut menahan Widya dan membisikan sesuatu padanya.
“Nanti pas di Rest area ikut saya ke belakang. Saya mau cobain memek ini ibu ini dan ibu jangan coba-coba melawan karna ibu sendiri juga pasti sudah tau akibatnya. Mengerti?!”, ucap si kernet sambil menekan memek Widya lumayan keras. Widya hanya diam dalam sedih dan marahnya lalu kembali melangkah untuk duduk di samping Evan kembali. Saat duduk kepala Widya menghadap ke anaknya dan memejamkan mata karna ia merasa jijik dengan pria di seberang tempat duduknya.
“maafkan mama, nak. Mama terpaksa. Mama ga mau kamu kenapa napa”, batin Widya sambil memegang pelan tangan Evan.
Setelah ucapan bersalahnya pada anaknya, Widya terlelap tidur karna dirinya merasa lemas sehabis dipaksa untuk memuaskan dua orang pria yang menjijikkan. Ia tertidur dengan mimpi dimana dirinya tengah tertawa bersama almarhum suaminya dan ada Evan juga disana yang sedang bermain di ruang tamu. Tanpa Widya sadari di tidurnya, ujung mata Widya mengeluarkan setetes air mata.
“maafkan istrimu ini, suamiku”, batin Widya dalam mimpinya saat melihat suaminya yang tengah tertawa bersamanya.
Pukul 19.05 Widya terbangun dari tidurnya karna tubuhnya di goyangkan oleh si kernet bus yang sebelumnya tadi telah melecehkan dirinya. Ia berbicara pada Widya bahwa sebentar lagi bus yang ia tumpangi akan segera sampai di Rest area dan si kernet juga mengingatkan Widya untuk bersiap-siap sambil memasang senyum menjijikkan.
Empat belas menit kemudian, tepatnya pukul 19.19 bus yang ia tumpangi berhenti di Rest area. Widya membangunkan Evan untuk menanyakan apakah ikut turun atau tidak, tapi dari Evan sendiri menolak karna dirinya masih merasa sangat mengantuk dan lebih memilih untuk tetap berada di dalam bus. Evan hanya menitipkan beberapa pesanan pada Widya untuk dimakannya nanti. Mendapat jawaban tersebut dari anaknya, Widya akhirnya turun sendiri. Saat dirinya di pintu bus untuk turun ternyata sudah ada si kernet yang menghadang dan juga ada beberapa pria lain bersamanya, termasuk si sopir bus. Saat itu perasaan Widya benar-benar menjadi tak enak dengan apa yang akan terjadi pada dirinya di Rest area itu.
“ini perempuan yang yang tadi saya bilang, bang”, ucap si kernet pada si sopir sambil mengarahkan pandangannya pada Widya.
Si sopir mengajak Widya untuk berjabat tangan dengan sopan sambil mengajak kenalan. Widya yang tak tau harus berbuat apa dan perasaannya sungguh tak enak menerima jabatan tangan sopir bus tersebut.
“Saya Sobri partner Mamat ini”, ucap si sopir dan disitu Widya baru tau ternyata kernet yang melecehkannya tadi itu bernama Mamat.
“Saya…saya Widya, pak”, balas Widya dengan rasa takut.
“Sudah bu Widya ga usah takut gitu orang kita Cuma mau kasih ibu kenikmatan masa takut, harusnya senang loh. Hahaha”, ledek Sobri yang membuat telinga Widya memanas.
“tenang aja, bu dijamin ibu bakal kita bikin puas sama jagoan saya ini”, ucap si Sobri sambil menunjuk selangkangannya yang ternyata di balik celananya ada benda yang menonjol dengan besar. “yaudah sekarang aja, bu. Saya juga sudah ga sabar pengen di puasin sama bu Widya yang cantik ini. Maaf loh bu”, Sobri sok berlagak sopan di depan Widya padahal sudah jelas omongan serta niatnya tak mencerminkan kesopanan sama sekali.
Widya yang kembali diingatkan akan ancaman pada anaknya, Evan hanya bisa menurut walau dirinya sendiri sangat marah dan sangat tak terima akan perlakuan yang sedang maupun yang akan ia terima, tapi semua itu semata hanya ingin supaya tak terjadi apa-apa pada anaknya itu. Widya selain dibawa oleh Sobri dan Mamat, terdapat juga pria lain yang tak lain penumpang yang satu his juga dengannya. Ada 2 pria dan salah satunya yang ikut melecehkannya tadi bersama si Sobri yang bernama Jali sedangkan pria satunya diketahui bernama Rojak.
Widya dibawa oleh mereka berempat ke halaman belakang Rest area dimana di halaman belakang itu terdapat bangunan petak yang biasa digunakan untuk istirahat para sopir. Widya berjalan diapit oleh 4 pria sekaligus menuju bangunan yang akan menjadi tempat dimana dirinya dipaksa untuk melayani nafsu mereka.
Di depan bangunan petak yang dituju ternyata terdapat seorang perempuan tua sedang duduk sambil merokok. Entah siapa itu Widya sama sekali tak tau. Sementara si sopir mendekati perempuan tersebut diikuti dengan Widya dan pria lainnya.
“Selamat malam calon penghuni tanah kuburan!”, sapa Sobri pada perempuan tua tersebut.
“Kurang ajar, ini anak datang-datang itu mulut bocor kaya biasanya”, kesal si perempuan tua. “Mau ngapain lu?!”, sambungnya bertanya pada Sobri.
Sobri menunjuk ke arah Widya, “biasa mau ngentot”
“Bawa Lonte dari mana lagi, lu?! Hidup lu isinya memek doang”, cerocosnya.
“ini bukan Lonte. Dia penumpang gue yang kebetulan mohon ke kita buat di puasin sama kontol. Dia paksa yaudah gue turutin dari pada nanti ibu Widya ini cari kontol di pinggir jalan”, leceh Sobri pada Widya dengan terlalunya yang menggambarkan bahwa Widya sosok perempuan binal yang doyan dengan kontol lelaki. Dia bilang Widya yang minta? Padahal disini Widya lah yang sedang dipaksa sambil diancam.
Perempuan tua tersebut melihat ke arah Widya, “oke juga penumpang lu ini. Lu kasih ke gue, nanti pasti bakal laku keras ini perempuan”, ucapnya yang seakan-akan menganggap Widya barang yang akan di perjual belikan. Di dalam lubuk hatinya Widya sangat merasa sakit oleh omongan mereka yang menilai bahwa dirinya wanita murahan yang bisa dinikmati tubuhnya terus kehormatannya bisa dibayar hanya dengan beberapa lembar kertas.
“Enak aja lu nenek tua. Ini barang langka dan asal tau aja, bu Widya ini udah punya suami dan baru punya satu anak. Anaknya sendiri sekarang lagi tidur di dalam bus gue. Bayangin aja anaknya lagi tidur, ibunya malah ngentot sama 4 kontol. Hahaha”, rasanya Widya ingin membunuh pemilik suara tersebut. “udah lu pergi sana, kita mau puasin kontol sama memek bu Widya ini. Hushhh!!! Hushhh!!!”, sambung Sobri mengusir perempuan tersebut.
Perempuan tersebut pergi dengan ngedumel dan Sobri menyuruh ketiga pria di dekat Widya untuk membawa Widya masuk ke dalam. Widya mulai merasakan keringat dingin pada tubuhnya. Berulang kali ia menelan ludahnya saat membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya di dalam sana bersama keempat pria bejat itu. Sobri membuka pintu dan masuklah mereka semua ke dalam ruangan tersebut yang hanya diisi oleh kasur lantai tipis tanpa peralatan apapun. Terdengar pintu di tutup dan dikunci dari dalam oleh Mamat.
Setelahnya mereka semua mengelilingi tubuh Widya yang mulai gemetar. Dengan serempak mereka semua mulai mengeluarkan kontolnya yang sudah mulai tegak sempurna. Jantung Widya berdetak demgan kencang dan matanya ia pejamkan. Tubuhnya yang masih terbalut pakaian lengkap mulai diraba-raba oleh mereka berempat. Mulai dari payudara yang diremas entah oleh siapa. Tengkuk hingga leher diciumi, pantat yang diremas dan ditampar pelan dan juga selangkangannya yang diraba dan dielus.
“mmpfff….”, Widya menahan nafasnya saat dirasa pakaiannya mulai dilucuti satu persatu. Sempat ia tahan, tapi dengan kuat tangganya disingkirkan oleh salah satu pria yang entah siapa itu. Saat itu rasanya Widya ingin berteriak dan menangis sejadinya karna dilecehkan sedemikian rupa oleh empat pria sekaligus.
Widya dipaksa untuk mengoral secara bergantian keempat kontol tersebut hingga tegak sempurna dan setelahnya satu pria, Sobri maju memegang pinggul Widya yang menungging dan dengan perlahan ujung kepala kontol Sobri mulai masuk menembus lubang peranakan Widya. Perlahan dan perlahan sampai semua batang Sobri memenuhi lubang Widya yang menghasilkan suara lenguhan dari mulut Widya karna masuknya benda besar tersebut.
“Aaaakkkkhhh….”
Disini bukannya Widya tak melawan atau hanya bisa pasrah sepenuhnya, sebelumnya Widya mencoba untuk melawan dengan kekuatannya, tapi apa daya kekuatan mereka berbeda dan jumlah mereka juga tak seimbang sehingga perlawanan yang Widya berikan tak ada artinya sama sekali di hadapan keempat pria tersebut.
Dengan gerakan perlahan Sobri mulai menggerakkan keluar masuk kontolnya di lubang memek Widya. Widya sendiri memejamkan mata dalam posisi setengah menungging dengan di arah kanan dan kirinya berdiri Mamat dan Rojak yang memegangi tangan Widya supaya tetap pada posisinya.
Widya hanya mampu mengeluarkan desahan dan rintihan saat dengan bebasnya Sobri bisa menikmati setiap inci lubang memek Widya saat meremas batang kontolnya di dalam sana. Dibawah sana selangkangannya tengah bertemu dengan selangkangan Sobri sedangkan bagian atas payudaranya tengah diremas oleh kedua pria. Untungnya mulut Widya masih dengan bebas mengeluarkan suara karna Jali hanya diam melihat sambil duduk.
“Aaakkkk…sshhhh…pak….sudah pak…tolong….”, iba Widya, tapi tak di gubris oleh keempatnya dan Sobri sendiri tetap menyodokkan kontolnya dengan nikmatnya.
Hampir lima belas menit Widya di pompa oleh kontol Sobri dan dirinya merasa akan ada sesuatu yang keluar dari dalam dirinya, sebuah gelombang orgasme. Widya memang melawan tapi entah kenapa dirinya akan meraih puncak saat dirinya diperkosa seperti saat itu.
“Ssshhh….Aakkkhhhh…”, Widya masih menahan dengan keras suaranya supaya tak keluar dari mulutnya, namun Mamat yang berada di sampingnya bisa mendengar dan dia juga bisa mengetahui bahwa Widya akan mencapai puncak kenikmatan sehingga ia memberi sebuah kode pada Sobri.
Saat Widya akan mencapai orgasme pertamanya, Sobri langsung menarik keluar kontolnya dengan cepat dan hal itu membuat Widya kaget karna saat dirinya akan mencapai puncak kenikmatan menjadi surut kembali. Widya masih bisa menahan hal tersebut tanpa menunjukkan ekspresi apapun walau para pria tau bahwa Widya merasa kentang dengan hal tersebut.
Saat dirinya gelombang Widya telah surut, Sobri kembali memasukkan kontolnya dan kembali memompa memek Widya dengan tempo seperti sebelumnya.
“Mmpfff….mmpppffff…” , suara lirih Widya.
“Ssshhh….Aakkkhhhh…nikmatnya”, racau Sobri dengan kepala mendongak ke atas menikmati rasa nikmat yang ia dapatkan.
Pompaan akan memek Widya mulai di tambah oleh Sobri sehingga Widya terlihat meronta seperti menahan sesuatu. Kepalanya menggeleng dan sesekali mendongak ke atas. Payudaranya bergerak ke depan dan belakang mengikuti irama sodokan kontol Sobri pada memeknya. Gerakan Sobri membuat Widya makin kalang kabut akan rasa nikmat yang ia terima dan juga rangsangan yang ia terima dari Mamat dan Rojak yang sedang meremas keras serta melintir puting Widya secara bergantian.
PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!
“SSHHHH….PAKK!! PAK!! AAKKKHHH….PAK!!!! STOOPP!!…AAKKKHHH…”, erang Widya, Sobri terus saja bertahan dengan gerakkannya.
PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!
“TOLONG PAK…TOLOONNGGG….AAKKHHH…OOOWWSSHHH….SAYA MAU KELUAR…AKKKHHH …”,
PLOP!!!
Sobri mencabut kontolnya kembali mencoba untuk mempermainkan nafsu Widya yang sedikit lagi akan mencapai orgasme kembali langsung dibatalkan oleh Sobri. Disini Widya mulai merasa uring-uringan dengan perlakuan Sobri yang sedang mempermainkan nafsunya, tapi Widya masih bisa menahan dan mengendalikan dirinya.
Widya diam dalam posisi menunggingnya, terlihat dengan jelas dari belakang sana bahwa memek Widya telah sangat basah. Dengan sengaja Sobri memasukkan beberapa jarinya ke dalam lubang Memek Widya dan mengocoknya dengan cepat hingga terdengar bunyi kecipak air yang keras.
HAH!!! HAH!!! HAH!!!
Nafas Widya ngos-ngosan saat kocokkan cepat jari Sobri berhenti dan Widya bisa bernafas dengan normal kembali, tapi hal tersebut hanya berlangsung beberapa detik dimana saat jari Sobri dicabut, Sobri langsung memasukkan kembali kontolnya mengisi kubang memek Widya dan langsung menggenjotnya dengan cepat. Widya kembali seperti cacing kepanasan akibat genjotan yang Sobri lakukan.
PLAK!!!
“AAAKKKHHH!!! SSSHHH…..”
Sobri menampar pantat Widya dengan keras sehingga Widya menjerit. Sobri menampar kembali pantat berisi milik Widya. PLAK!!! Terdengar suara erangan keras kembali saat pantatnya kembali mendapat tamparan keras hingga rasanya pantat Widya menjadi panas.
Tamparan keras pada pantatnya tak terjadi satu atau dua kali sehingga Widya mulai mengerang seperti kesetanan. Hal yang menyakitkan, namun hal tersebut dengan perlahan mulai berubah menjadi sebuah kenikmatan yang Widya rasakan dibarengi dengan tusukan keras oleh batang kontol yang memenuhi lubang memeknya. Widya mulai mendesah dan mendesah tiap kali ujung kontol Sobri masuk dalam di dalam memeknya.
“Aakkkhhhh….Aakkkhhhh…Aakkkhhhh….”
“Ayo mendesah lebih keras lagi, bu…Aakkkhhhh…desahan ibu seperti obat semangat untuk saya ngentotin memek bu Widya. Aakkkhhhh….”, racau Sobri yang kini mengambil alih penuh atas tubuh Widya sambil tangannya meremas kedua payudara Widya.
Sambil pantatnya terus bergerak maju mundur, Sobri mencium tengkuk leher Widya dan menjalar pada daun telinga, kemudian ia mengarahkan wajah Widya untuk menghadap samping. Saat itu di lumatlah bibir seksi Widya dengan nafsunya yang membara sambil terus menyetubuhi Widya dari belakang. Bunyi kulit pantat dan selangkangan menggema di ruangan tersebut bercampur dengan suara lumatan bibir keduanya.
PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!!
SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!
Sobri mengangkat sebelah kaki Widya sehingga kini harus merangkul leher Sobri dengan satu tangannya sementara dirinya tengah disetebuhi dalam posisi berdiri menyamping dan hanya menggunakan satu kakinya untuk tumpuannya. Widya mulai kalut dimakan oleh hawa nafsu yang diberikan oleh batang kontol besar yang tengah keluar masuk di dalam memeknya tersebut. Dirinya sedang lupa bahwa sedang diperkosa oleh seorang sopir bus dan sedang di tonton oleh tiga pria lainnya yang sedang menunggu giliran untuk menyetubuhinya juga. Widya kalut, Widya mulai menikmatinya.
“ssshhhhh….nikmati, bu….nikmati perzinaan ini. Nikmatilah….sshhhh…”, ucap Sobri seakan-akan sedang mencoba menghipnotis Widya untuk lebih jauh lagi terperangkap dalam nafsunya.
“Paakkk….oowwsshhhh….pak!! Pellannnn….”, desah Widya mulai berkomentar.
Posisi Widya diubah oleh Sobri dengan kini Widya di telentangkan di atas kasur lantai yang tipis dengan kedua kakinya dibukan dengan lebar yang memperlihatkan kondisi memek Widya yang sudah sangat basah akibat perbuatan Sobri. Sobri julurkan lidahnya untuk menjilat bibir memek Widya sejenak lalu dimasukkan kembali kontol besarnya menyumpal lubang memek Widya yang sudah sangat basah tersebut. Sobri genjot lubang tersebut dengan nafsu yang membara sambil memegangi kedua kaki Widya untuk tetap terbuka.
“Aakkkhhhh….Aakkkhhhh….”, Sobri benar-benar menikmati saat kontolnya keluar masuk di dalam memek Widya yang sempit itu. Walau sudah sangat basah, Sobri tetap merasakan bahwa kontolnya diremas dan dijepit dengan sangat kuat. Bahkan sedari tadi Sobri merasakan kalau kontolnya seperti disedot di dalam sana.
“Paakkk…saya ..saya mau kellluaarrggghhhh….sshhhh…aakkhh…”, racau Widya yang akan segera mencapai orgasmenya.
Sobri yang tengah dikuasai oleh nafsu tetap menggerakkan naik turun pantatnya tanpa menghiraukan racauan Widya. Iya terus memompanya dengan cepat sambil meremas keras kedua payudara Widya sambil sesekali membetot dan mencubit gemas puting Widya.
“AAKKKHHH!!! PAK!!! STOOPP!!! AAKKKHHHH….STOOOPP!!!!”
SYUUURRRR!!!
Widya mengalami orgasme dengan masih terus digenjot oleh kontol besar Sobri tanpa henti. Widya merasakan antara nikmat dan nyeri saat kontol tersebut masih tetap bergerak keluar masuk di lubangnya. Namun hal tersebut membuat orgasme yang Widya alami menjadi panjang hingga Widya hanya mampu mengerang nikmat sambil meremas keras kasur lantai yang menjadi alas persetubuhannya itu.
“AAKKKKHHHHHHH!!!!!”, lolong panjang Widya sambil tubuhnya terangkat sampai membusungkan dadanya. Matanya hanya terlihat warna putih dengan mulut yang terbuka lebar.
Momen dimana Widya mengalami orgasme panjang sambil membuka mulutnya dengan lebar dimanfaatkan oleh Mamat untuk memasukkan kontolnya ke dalam mulut Widya dan langsung menggerakkannya keluar masuk. Buah zakarnya memukul-mukul hidung Widya. Mamat yang sudah tak tahan melihat tubuh Widya yang sedang disetubuhi oleh Sobri menjadi sangat bernafsu.
“Aakkkhhhh….gantian, pak. Saya juga udah ga tahan pengen rasain memeknya. Sshhhh….Aakkkhhhh…”, ucap Mamat pada Sobri sambil menggenjot mulut Widya. Sementara Widya yang tengah dalam kondisi orgasme panjang dan langsung disumpal mulutnya oleh kontol milik Mamat hanya gelagapan mencoba mencari udara sambil dirinya terus merasakan gelombang orgasme yang ia dapatkan. Widya merasa tersiksa, namun Widya juga merasakan nikmat yang tiada tara.
Sobri yang merasa akan segera mencapai orgasmenya lantas sedikit lebih cepat lagi menggerakkan laju keluar masuk kontolnya di dalam memek Widya. Ia gempur dengan bertenaga lubang Widya yang sempit itu sampai dirinya mencapai batas dimana peju nya keluar menyembur deras mengisi rahim Widya dengan banyaknya.
CROT!!! CROT!!! CROT!!!
Sekitar 7-8 semburan kontol Sobri luncurkan ke dalam rahim Widya sambil menekan keras ke dalam selangkangan Widya. Widya yang baru beberapa menit mengalami orgasme panjang dibuat mengalami orgasme kembali saat peju Sobri menyemprot dengan kuat di dalam memeknya. Widya kembali mengejang dengan hebat di depan Sobri dan di bawah Mamat. Mamat melepaskan kontolnya dari mulut Widya.
HHHAAHHH!!! HHHAAHHHH!!! HHHAAHHHH!!!!
Widya benar-benar kehilangan banyak nafas setelah mengalami dua kali orgasme dan diperlakukan sedemikian rupa oleh dua pria tersebut. Widya terlihat mangap-mangap, dadanya naik turun dengan cepat memompa udara untuk masuk ke dalam rongga parunya. Sobri mencabut batang kontolnya dan terlihatnya lelehan peju yang mengalir dari bibir memek Widya.
“AAAKKKHHH!!!”, erang Widya saat kontol besar itu terlepas dari lubangnya dan merasakan nyeri serta tubuhnya sedikit bergetar.
Dengan cepat Mamat menggantikan posisi Sobri untuk mengisi kembali lubang memek Widya yang telah kosong. Sama dengan Sobri, Mamat langsung menggenjot memek Widya dengan cepat karna nafsu yang ia tahan sudah berada di ubun-ubunnya. Ia genjot Widya dengan cepat dan bertenaga yang mengakibatkan tubuh Widya ikut terdorong-dorong oleh sentakan pompaan Mamat.
“Akhirnya bisa juga rasain memek bu Widya ini. Ssshhhhh….sshhhh….bagaimana kontolku, bu? Enak bukan? Besar mana sama kontol suamimu? Sshhhh…jawab Lonte!!! Ssshhhhh….”, tanya Mamat dengan menggerakkan lebih cepat pompaan kontolnya.
“IYA ENAKKK….LEBIH BESARRRGGHHH….KONTOL BAPAKKK….AAKKKHHHH….ENAKKK…AAKKKKHHHH….”, Widya sudah dikuasai oleh nafsu yang sedari tadi ia tahan dengan keras supaya tak terbawa suasana dan akhirnya pertahanannya jebol.
“Sebelum bu Widya pergi dari bus saya. Saya bakal buat memek ibu penuh dengan peju. Ssshhhhh…AAKKKHHH!!! ANJING ENK BANGET INI MEMEK!!”, erang Mamat.
PLAK!!!
Mamat menampar sebelah payudara Widya tak terlalu kencang dan langsung melumat puting payudaranya. Ia sedot puting tersebut dengan kuat membuat Widya bertambah kesetanan dibuatnya. Widya meremas rambut Mamat dengan kuat mencoba meredam rasa nikmat yang menyerangnya.
SLURP!!! SLURP!!!
“Iyaaahhh…sedot terus susu saya…sedot…”, racau Widya.
“Tapi susu ibu belum keluar. Ssshhh…ibu mau saya buat susunya keluar?”, tanya Mamat sambil terus menggenjot memek Widya.
Widya mengangguk, “iya sayahhh maauuhhhh…..”.
“Berarti bu Widya harus saya bikin bunting supaya susunya keluar. Bu Widya mau saya buntingin pake peju saya ini? Aakkkhhhh…enaknya….sshhhh….”. kembali Widya mengangguk.
“Baiklah kalo bu Widya mau saya buntingin. Sshhhh….”
PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!
Mamat langsung mempercepat kembali genjotan kontolnya pada memek Widya hingga Widya kembali merasakan nikmat. Widya remas kedua payudaranya sendiri dan mengerang serta mendesah tanpa memedulikan orang-orang diluar sama akan dengar suaranya atau tidak. Widya saat itu hanya berpikir bagaimana caranya mengekspresikan rasa nikmatnya lewat suara.
“AAKKKHHHH….TERIMA PEJUKU, BU….AAKKKHHHH!!! WIDYA SAYA BUNTINGIN KAMU!!!! AAAKKKKHHH!!!!
CROT!!! CROT!!! CROT!!!
Mamat mengeluarkan peju nya sangat banyak di dalam memek Widya. Saat itu juga Widya mengalami orgasme bersama kembali dan kali itu bersama Mamat. Tubuh Widya sudah basah oleh keringat. Dadanya naik turun dengan beberapa cupangan di kulit mulus payudaranya serta warna merah di sebelah kanan payudaranya akibat tamparan yang Mamat daratkan.
Setelah Mamat selesai menyemprotkan isi buah zakarnya di dalam rahim Widya. Tinggal giliran Jali dan Rojak yang secara bergantian meminta jatah atas memek Widya untuk memuaskan mereka serta menyemprotkan peju nya di rahim Widya. Tapi untuk Rojak lebih memilih untuk membuang peju nya di mulut Widya dan memintanya untuk menelan habis semua peju tersebut tanpa terbuang sedikit pun.
Ronde pertama berakhir lumayan cepat dan masih menyisihkan waktu, karna itu mereka berempat kembali menuntaskan nafsunya pada tubuh dan memek Widya kembali. Tanpa di duga-duga juga mereka kedatangan satu orang kembali yang dimana Rojaklah yang menceritakan kepada orang tersebut. Karna untuk tutup mulut akhirnya pria tersebut diizinkan untuk turut menikmati Widya. Walau hanya satu kali karna setelah selesainya ronde kedua itu, mereka bergegas untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Disaat dalam perjalanan juga mereka kembali menyetubuhi Widya dengan seenaknya dan saat itu Widya berhasil terpancing kembali oleh nafsu yang mereka sajikan kepada Widya. Widya menikmati setiap persetubuhan dan setiap perlakuan yang lelakinya lakukan terhadapnya di dalam bus dan di dekat anaknya yang tengah tertidur tak jauh dari tempatnya di Setubuhi secara bergilir oleh para pria tersebut.
Mereka baru berhenti menikmati tubuh Widya saat bus yang ditumpangi sudah mulai dekat dengan pemberhentian terakhir. Baru saat itulah Widya disuruh untuk kembali mengenakan pakaiannya yang telah digunakan untuk mengelap peju yang tercecer di lantai bus serta peju yang mengalir di memeknya.
Widya memang terbawa nafsu dan menikmatinya, tapi itu tak sepenuhnya. Saat dilecehkan seperti itu Widya juga merasakan sakit yang amat, tapi rasa sakit itu kalah oleh rasa nikmat yang ia rasakan sehingga ia bisa ikut menikmati batang-batang tersebut mengaduk memeknya.
Seperti pas dirinya diberhentikan Mamat dan Sobri saat akan turun dari bus. Widya membalas ucapan mereka dengan candaan dan senyuman yang sebenarnya itu hanyalah gimik, Widya berpura-pura menikmatinya walau sudah berakhir. Ia melakukan hal tersebut bulan tanpa alasan. Widya melakukan supaya dirinya bisa pergi dari mereka dan mereka akan mengira jika Widya sudah ketagihan dengan kenikmatan yang mereka berikan sehingga mereka bisa memanggil atau memakai Widya sesukanya. Jika tidak? Widya pasti akan kesusahan untuk keluar dari terminal tersebut. Bahkan kemungkinan buruknya, Widya bisa disuruh menginap beberapa hari bersama mereka dan mereka akan terus menyetubuhinya hingga Widya benar-benar takluk oleh mereka
*bersambung…
BACK TO…
Saat Widya sedang mengingat masalah yang baru saja terjadi, Evan memanggil Widya dengan suara sedikit manja seperti biasa.
“Bu…bu. minum”, Widya memesan minuman yang tadi ia lupa.
Widya kembali dengan segelas teh hangat manis di tangannya lalu diberikan pada Evan. Ia duduk disebelah anaknya lalu mengusap kepalanya pelan sambil berbicara seperti sosok ibu pada umumnya. Widya mencoba untuk menyuapi Evan, namun oleh Evan ditolak dengan alasan kalo Evan bukan anak kecil lagi karna dirinya sudah kelas 1 SMP. Sementara Widya hanya tertawa kecil melihat reaksi anak semata wayangnya itu.
Menurut info yang dikatakan oleh bu Nonik bahwa rumah mbah Mitro, orang yang akan membantu Widya tak begitu jauh dari terminal bus, Cuma letaknya saja yang berada di dekat bukit yang lumayan pelosok. Dirinya hanya perlu satu kali naik angkot dan naik ojek untuk ke rumah mbah Mitro karna akses jalan yang akan dilalui tak bisa dilewati oleng angkot. Akses jalan menuju rumah mbah Mitro merupakan jalan terjal berupa jalan tanah yang mengarah ke hutan.
Setelah naik angkutan umum, Widya akan menggunakan jasa ojek. Saat tiba di pangkalan ojek ternyata hanya terdapat satu orang karna yang lain tengah mengantarkan penumpang. Dengan kebiasaan ibu-ibu Widya menawar harga untuk pergi ke tempat mbah Mitro.
“Mahal banget, bang”, ucap Widya.
“Ya bu. Namanya juga naik ke bukit, lagian ibu juga sama anaknya. Harga segitu juga sudah saya kurangin”
“Yaudah, 50 ribu berdua ya”
Sekilas tukang ojek tersebut memperhatikan tubuh Widya dengan saksama dari atas hingga bawah. Lumayan juga pikir tukang ojek tersebut. Karna hal tersebut akhirnya ia menyetujui tawaran yang Widya berikan padanya dengan membayar 50 ribu sampai ke tempat mbah Mitro.
Dengan Evan duduk di depan dan Widya paling belakang motor tersebut mulai berjalan masuk ke jalan tanah. Jalan tanah yang di sekelilingnya hanya terdapat rumput ilalang yang lebat dan memasuki area pepohonan lebat. Di area itu jalan mulai susah disertai dengan medan yang mulai naik.
Baru setengah perjalanan Widya menyuruh Kanto, Si tukang ojek untuk berhenti sejenak karna perut Evan merasa mulas. Untung tak jauh dari jalan yang dilewati terdapat sungai kecil yang mengalir. Kanto memberhentikan sepeda motornya dan menunggu Widya beserta anaknya untuk pergi ke sungai tersebut. Kanto yang sedari tadi membayangkan tubuh Widya mulai mempunyai hal kotor yang terlintas dikepalanya. Dimana dia membuka tas yang Widya bawa dan ternyata tas tersebut berisi beberapa pakaian. Di dalam sana terlihat juga celana dalam serta Bra milik Widya, tanpa berpikir Kanto mengambil celana dalam putih serta Bra warna putih juga milik Widya. Ia turun dari motornya dan membawa kedua pakaian dalam tersebut untuk digunakannya sebagai sarana masturbasi.
Kanto punya ide lain, ia mengintip Widya yang tengah berdiri menunggu Evan buang air besar. Dengan tak sabarnya Kanto mengeluarkan kontol besarnya yang sudah tegak sedari pertama berangkat tadi. Ia gunakan celana dalam Widya untuk mengocok kontol besarnya sedangkan Bra milik Widya ia gunakan untuk mengusap-usap ujung kontolnya dan akan digunakan untuk menampung peju nya saat keluar nanti.
Dari balik semak yang lebat, Kanto mengocok kontolnya yang besar sambil menatap tiap jengkal tubuh Widya, terutama bagian payudaranya yang kelihatan sangat menggoda itu.
“Ssshhh…..ssshhhhh….mantap banget ibu toket. Pengen banget gue entotin memeknya. Sshhhh….”
Saat Kanto tengah mengocok kontolnya, Widya membenarkan posisi kedua payudaranya dengan tangannya yang masuk ke dalam baju. Sehingga payudara Widya bisa terlihat lebih jelas dan lebih membuat bernafsu. Hal tersebut membuat Kanto tak tahan. Hanya beberapa kocokkan cepat akhirnya Kanto mengeluarkan peju nya di cup Bra milik Widya. Ia gunakan juga celana dalam Widya untuk mengelap sisa peju yang menetes di ujung kontolnya.
“Hehehe…Bra sama celana dalam ibu sudah saya baluri dengan peju saya. Silahkan dipake , bu. Semoga karna ibu pake celana dalam sama Bra yang sudah saya baluri peju saya, semoga saya bisa ngerasain nikmatnya memek ibu itu”, ucap Kanto sambil memasukkan kembali kontolnya le dalam celana. Ia kembali ke motornya dan memasukkan celana dalam serta Bra Widya kembali k dalam tasnya.
Tak lama Widya dan Evan kembali dari sungai. Kanto memasang sikap biasa saja di depan ibu dan anak itu dan kembali melanjutkan perjalanan.
—
Saat tiba di depan rumah mbah Mitro, Kanto mengetuk pintu rumah bambu tersebut.
“mbah…mbah Mitro”
Tak lama terdengar jawaban dari dalam rumah dan keluarlah sosok pria tua sekitar umur 60 tahun dengan tubuh masih kelihatan sehat. Pria tua yang dipanggil mbah Mitro berdiri diambang pintu memperhatikan siapa yang datang pagi itu ke rumahnya.
“Ini ada yang mau ketemu sama mbah katanya”, ucap Kanto.
Mbah Mitro menyuruh Widya untuk mendekat, “ada perlu apa kesini, bu?”
“saya Widya, mbah dan ini anak saya, Evan namanya. Tujuan saya datang kesini…”, ucap Widya terhenti sambil melihat ke arah Kanto. Mbah Mitra yang tau kecanggungan Widya menyuruh Kanto untuk segera pergi setelah Widya membayarnya.
“Masuk aja, nduk. Cerita di dalam aja biar enak”
Di dalam rumah hanya terdapat beberapa meja dan kursi sedangkan lantainya masih berupa lantai tanah. Walau begitu tempat tersebut terlihat sangat terawat dan terlihat bersih tanpa ada kesan jijik.
Widya dan anaknya disuruh untuk duduk di kursi, sedangkan mbah Mitro ke belakang untuk membuatkan minuman hangat untuk tamunya itu. Tak lama mbah Mitro datang sambil membawa dua buah gelas berisi teh hangat tawar dan disajikan ke depan ibu dan anak itu. Belum memulai pembicaraan, mbah Mitra membuat menyalakan rokok lintingnya.
“ada perlu apa datang kesini, bu? Apa ini anakmu?”, tanya mbah Mitro.
Widya mengangguk, “saya dengar dari teman saya kalo mbah bisa membantu masalah yang saya alami dan tujuan saya kesini…anu…saya mau pasang pelaris”. Terlihat mbah Mitro tersenyum sambil menghembuskan asap rokoknya.
“Apa ibu tau apa itu pelaris dan seperti apa prosesnya?”, tanya mbah Mitro dan Widya diam.
“Saya jujur saja. Pelaris yang dimaksud disini itu semacam memasukkan pusaka ke dalam tubuh bu Widya dan untuk prosesnya sendiri dengan bersetubuh karna pusaka yang bu Widya perlukan itu berada di dalam kontol saya”, jelas mbah Mitro vulgar tanpa memedulikan bahwa ada anak kecil di depannya. Widya yang tak berani melarang mbah Mitro mengucapkan hal kotor seperti itu hanya diam.
“prosesnya mbah harus bersetubuh dengan ibu selama sampai dirasa pusaka tersebut benar-benar masuk ke dalam tubuh ibu. Setelah proses pemasangan selesai bukan berarti semuanya juga telah usai. Pusaka yang berada di dalam tubuh ibu harus terus dikasih makan supaya ibu bisa mendapatkan uang dengan lancar. Sementara pusaka tersebut makannya peju dari orang yang memasangnya, dengan kata lain ibu harus bersetubuh atau ngentot dengan mbah setiap mau kasih makan”
Widya terlihat terdiam dengan penjelasan mbah Mitra yang vulgar tersebut di depan anaknya. Sementara Evan hanya diam mendengarkan apa yang dibicarakan antara mbah Mitro dengan mamanya.
“kalo ibu setuju dengan semua hal itu, malam ini saya bisa memulai ritualnya untuk menarik pusaka tersebut dengan cara bersemadi di air terjun di dalam hutan. Semua tergantung sama bu Widya sendiri. Kalo bu Widya merasa ini terlalu berat, bu Widya bisa membatalkannya juga saya tak masalah dan konsekuensi yang harus diterima juga berat”, tutur mbah Mitro.
“kalo…kalo buat kasih makan ada waktu pastinya ga, mbah?”
“untuk masalah itu setiap satu bulan sekali harus dikasih makan, kalo tidak lama kelamaan akan berdampak juga bagi pelaris yang ibu pakai”
“Sebelumnya saya mau tanya satu hal lagi, mbah. Sebenarnya pelaris itu jelasnya seperti apa ya? Saya masih kurang terlalu mengerti dari penjelasan pertama mbah tadi”
Mbah Mitro memperbaiki posisi duduknya sedikit menghadap ke arah Widya dan dimatikan rokok linting nya.
“Pelaris ini secara gampangnya seperti namanya, hal yang bisa membuat sesuatu menjadi laku keras. Pelaris disini sebenarnya ada dua manfaat. Manfaat pertama dan utamanya untuk mendapatkan uang dengan cepat syarat yang penting harus rutin dikasih makan. Sedangkan manfaat kedua atau manfaat sampingnya….”
Mbah Mitro berdeham, “manfaat kedua ini juga berdampak pada pemakainya sendiri dimana si pemakai atau ibu sendiri akan ikutan laris”
“Maksudnya mbah?”
“maksudnya akan ada lebih banyak pria yang tertarik dengan tubuh ibu. Setiap pria yang melihat tubuh ibu pasti memiliki sebuah hasrat atau nafsu untuk mencicipi nikmatnya tubuh bu Widya. Seperti yang mbah bilang tadi kalo syarat dan konsekuensi memang berat”, ucap mbah Mitro.
Widya bagai disambar petir saat mendengar penjelasan mbah Mitro dimana konsekuensi saat dirinya memakai pelaris tersebut setiap lelaki yang melihatnya akan bernafsu. Terasa sangat berat dan sangat tak masuk diakal menurut Widya, tapi jika dipikir-pikir lagi untuk sekarang hanya ini jalan yang bisa ia ambil untuk masalahnya. Pikirannya sudah kalut sehingga menyingkirkan akal sehat yang pernah ia junjung tinggi selama ini.
Jika dirinya menerima semua hal tersebut berarti Widya harus siap setiap satu bulan sekali harus menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati oleh mbah Mitro, sedangkan hal lainnya dirinya harus siap mendapat tatapan tatapan nafsu oleh para lelaki yang berjumpa dengan dirinya. Widya berpikir keras untuk keputusan yang akan diambilnya hari ini sambil melihat anak semata wayangnya itu. Evan hanya melihat Widya dengan tatapan biasa seperti obrolan yang ia dengar tak terlalu serius.
“Pertanyaan terakhir yang akan saya ajukan, mbah”, ucap Widya dan mendapat anggukan kepala oleh mbah Mitro.
“Kalau saya merasa semua sudah cukup dan saya ingin mengakhiri semuanya apa itu bisa dan konsekuensi apa yang bakal saya terima?”
“kalo bu Widya mau mengakhiri semuanya bisa dan kalo bu Widya ingin semuanya selesai caranya gampang. Bu Widya cukup tak memberi makan pelaris yang ada di dalam tubuh ibu, secara perlahan pelaris tersebut akan menghilang kekuatannya dan akan pergi dari tubuh ibu dengan sendirinya, tapi selama proses tersebut mungkin bu Widya hanya akan mengalami sakit selama beberapa minggu”
“Setelah bu Widya sembuh ada ritual terakhir yang haris dijalani untuk meyakinkan bahwa bu Widya sudah benar-benar terlepas dari pusaka Pelaris. Ibu Widya harus datang menemui saya dan kita harus bersetubuh kembali. Hal ini dimaksudkan untuk mengantar kembali apa yang telah bu Widya pinjam, jika tidak hal tersebut bisa mengganggu bu Widya. Hanya itu saja”. Jelas mbah Mitro yang ternyata tak sebesar saat awal pemasangan.
Setelah mendengar penjelasan yang mbah Mitro berikan, Widya dengan sangat yakin dan mantap menyatakan keputusannya. Ia bersedia dan mau melakukan pemasangan pusaka pelaris tersebut.
“Baik, mbah saya mau dan saya siap untuk proses pemasangan pelaris itu”, ucap Widya.
“Hahahaha…bagus. kalo begitu nanti malam saya akan pergi untuk bersemadi di dalam hutan dan akan kembali besok siangnya. Untuk sementara silahkan ibu tunggu saya hingga selesai di rumah saya ini”
“baik, mbah”, ucap Widya patuh.
—
Saat sore menjelang. Widya menemui mbah Mitro untuk menanyakan dimana tempat untuk mandi karna di dalam rumah mbah Mitro sama sekali tak terlihat adanya kamar mandi maupun sumur untuk ia gunakan airnya. Dengan santai mbah Mitro menjawab sambil menunjukkan tempat yang dicari oleh Widya. Sebuah sungai kecil dekat rumah mbah Mitro.
Dengan dalih untuk awal proses pemasangan, mbah Mitro ikut serta mandi ke sungai bersama Widya, sementara Evan, anaknya Widya di suruh untuk tetap menunggu di dalam rumah bambu tersebut.
Seorang wanita muda dengan anak satu berjalan beriringan bersama pria tua berusia 60 tahun menuju sungai dan mereka berdua berniat untuk mandi bersama. Jika saja tempat mbah Mitro bukan di hutan, mungkin akan ada orang yang bisa melihat mereka, tapi untungnya tempat tersebut jarang sekali dijamah oleh warga sekitar karna memang hanya mbah Mitro yang tinggal di daerah tersebut dan mbah Mitro pun juga termasuk orang yang dihormati dan sesepuh di daerah tersebut.
“gapapa, bu. Buka aja semuanya, toh besok juga mbah bakal liat semuanya, bukan hanya lihat malah mbah bakal rasain juga tubuhmu”, ucap mbah Mitro dengan entengnya mengucapkan hal yang tabo pada Widya.
Dengan perlahan Widya mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu di hadapan mbah Mitro yang sudah terlebih dahulu berendam di air sungai dalam kondisi telanjang bulat.
“Bagus banget tubuh ini perempuan”, pikir mbah Mitro saat melihat ketelanjangan Widya.
Widya yang kini ikutan telanjang bulat hanya menggunakan kedua tangannya untuk menutupi kedua payudara beserta selangkangannya dari hadapan mbah Mitro. Namun, disaat Widya masih malu aku ketelanjangannya, mbah Mitro malah berdiri dari posisinya berendam dan hal tersebut membuat kontol besarnya terlihat jelas dihadapkan Widya. Kontol besar dengan sedikit urat dalam keadaan setengah tegang. Dalam kondisi seperti itu saja sudah terlihat besar, apalagi saat sudah tegang maksimal.
“KYYAAA!!!! MBAH, ITU BURUNGNYA!”, jerit Widya saat kaget melihat kelamin mbah Mitro yang terpampang di hadapannya.
“burung? Ini kontol, bu. Kontol bukan burung”, ucap mbah Mitro dengan sekarang malah memegang kontolnya sambil mengocok pelan kontol besarnya itu.
Sementara itu Widya masih dalam kondisi tetap sambil memejamkan matanya, walau sesekali ia buka sedikit matanya untuk melihat le arah selangkangan mbah Mitro.
“sudah lah, bu. Bu Widya ga usah malu kaya gitu, buka matanya terus kemari”, perintah mbah Mitro. Widya dengan memberanikan diri membuka matanya dan dengan perlahan mendekati mbah Mitro yang tengah mengocok pelan kontol besarnya.
Widya telah berdiri tepat di hadapan mbah Mitro yang kini masih dalam keadaan mengocok pelan kontol besarnya. Mbah Mitro memerintahkan Widya untuk berjongkok di hadapannya dan seperti kerbau yang dicucup hidungnya, Widya menurut seperti terhipnotis oleh kontol besar yang dimiliki oleh mbah Mitro. Sekarang posisi kepala Widya telah sejajar dengan selangkangan mbah Mitro.
“Coba bu Widya masukin ke dalam mulut ibu. Jangan salah, bu ini salah satu proses awal yang biasa dilewati sebelum mbah bersemadi untuk mengambil pusaka tersebut”, ucap mbah Mitro.
“sekarang masukan dan buat kontol mbah keras pake mulutmu”, sambungnya.
Widya memegang kontol mbah Mitro dan ternyata ukurannya memang besar serta terasa panas di tangannya. Perlahan Widya mulai memajukan wajahnya, ia julurkan lidahnya untuk memulainya dengan cara menjilat seluruh permukaan kontol tersebut sampai semuanya terbasahi oleh air liurnya. Saat dirasa sudah cukup, Widya mulai memasukkan kepala kontol mbah Mitro ke dalam mulutnya. Awalnya semua batang kontol mbah Mitro bisa masuk sepenuhnya di dalam mulut Widya, namun disaat kontol tersebut telah menegang maksimal hanya kepalanya saja yang bisa Widya kulum.
Mbah Mitro merasa gemas oleh nafsunya sehingga ia taruh kedua tangannya di kepala Widya dan sedetik kemudian ia dorong kepala Widya untuk lebih masuk ke dalam selangkangannya. Mbah Mitro memaksa mulut Widya untuk melahap semua batang kontolnya yang besar itu. Widya gelagapan, tubuhnya bergerak meronta tapi tak dihiraukan oleh mbah Mitro, hingga hanya berhasil memaksa masuk sampe setengahnya. Sehabis hal itu mbah Mitro mulai memompa mulut Widya dengan kontol besarnya. Widya kembali mengerang tertahan saat mulutnya penuh tersumpal oleh benda yang memenuhi mulutnya dan tengah keluar masuk.
“Ssshhh….Aakkkhhhh….Aakkkhhhh….”, suara desahan mbah Mitro meresapi kenikmatan pada mulut Widya sambil memejamkan matanya.
GLOK!!! GLOK!!! GLOK!!!
Kini satu tangan mbah Mitro terlepas dari kepala Widya dan diarahkan lada payudara ranum milik Widya yang tergantung bebas dibawah sana. Ia remas payudara tersebut dengan gemasnya dan sesekali memainkan putingnya yang berwarna cokelat. Widya yang menerima rangsangan di payudaranya mulai menggelinjang kegelian.
“mulutmu enak banget, bu Widya. Sshhhh…..”
“Aakkkhhhh…Mulut aja sudah seenak ini apalagi memeknya”, lanjut mbah Mitro.
Mbah Mitro masih melakukan kegiatannya pada mulut Widya dengan tempo sedikit cepat dari sebelumnya. Mbah Mitro merasakan kehangatan dan rasa lembut yang menyelimuti kontol besarnya di dalam mulut perempuan muda beranak satu tersebut.
Mbah Mitro menyuruh Widya untuk mengarah ke batu sungai di dekatnya tanpa melepaskan kontolnya di dalam mulut Widya. Widya disuruh untuk bersandar dan kepalanya di tempelkan ke batu dan dalam posisi tersebut mbah Mitro mengangkat sebelah kakinya untuk mengangkang supaya ia bisa dengan leluasa menikmati mulut Widya dengan bebas. Widya benar-benar di deepthroat oleh kontol besar milik mbah Mitro.
Di dalam air posisi Widya duduk mengangkang dan hal tersebut digunakan oleh mbah Mitro untuk memainkan memek Widya menggunakan jempol kakinya. Sementara tangan satunya masih bermain di payudara putih Widya yang sangat membuat lelaki bernafsu itu.
PUAH!!!
UHUK!!! UHUK!!!
Widya terbatuk sambil mengatur nafasnya saat kontol mbah Mitro terlepas dari mulutnya. Tubuh Widya di bopong oleh mbah Martin untuk duduk diatas batu sambil membuka kedua kakinya. Kemudian ia julurkan lidahnya dan memainkan klitoris Widya sampai Widya mengeluarkan desahan.
“Ssshhh….mbah….”
SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!
Widya menjambak kecil rambut mbah Mitro yang sedang memainkan memeknya menggunakan lidah di bawah sana. Kembali Widya mulai berhasil dikuasai oleh hawa nafsu yang menyerangnya. Ia mulai menikmati kembali perbuatan pria lain selain yang bukan suaminya terhadap tubuhnya. Bahkan Widya mulai ikut menggoyangkan pinggulnya mengikuti jilatan lidah mbah Mitro pada memeknya.
“Aakkkhhhh…mbah…saya mau keluar mbah…sshhhh…”, desah Widya yang akan kalah oleh permainan lidah mbah Mitro.
“AAKKKHHHHH!!!!!”, erang Widya menikmati orgasme pertamanya di alam terbuka bersama pria tua.
Bersambung...