POV SAM
Aku masih ingat benar, setahun setelah Ibuku meninggal, Papa menikah lagi dengan seorang janda muda beranak dua. Jadi keadaannya seimbang, karena saat itu Papa pun punya anak dua, aku dan adiku, Fardan. Gilanya lagi, Papa membawa dua anak cowok, sementara Ibu tiriku membawa dua anak cewek.
Waktu Papa menikah itu, usianya baru 43 tahun. Sementara ibu tiriku berusia 32 tahun. Tapi anehnya, saudara-saudara tiriku itu usianya lebih tua dariku. Pada saat Papa menikah lagi, usiaku baru 10 tahun, sedangkan Fardan baru berusia 9 tahun.
Tapi saudara-saudara tiriku lebih tua, dua dan tiga tahun dariku. Mbak Ayu berusia 12 tahun dan Mbak Ita berusia 11 tahun. Karena itu aku dan Fardan memanggil mereka Mbak.
Belakangan aku tahu bahwa Papa menikah dengan almarhumah ibuku waktu usianya sudah 32 tahun. Kemudian aku lahir pada saat usia Papa sudah 33 tahun. Setahun kemudian Fardan pun lahir.
Sedangkan ibu tiriku yang biasa kusebut Mama itu menikah waktu usianya baru 19 tahun. Lalu waktu Mama berusia 20 tahun lahirlah Mbak Ayu. Setahun kemudian lahir pula Mbak Ita.
Suasana di rumah kami jadi hangat setelah aku punya ibu tiri yang ternyata sangat baik. Beliau memperlakukan aku dan Fardan seperti anak kandungnya sendiri. Begitu pun Papa, memperlakukan Mbak Ayu dan Mbak Ita seperti anak kandungnya sendiri.
Sehingga orang yang belum tahu seluk beluk keluarga kami, pastilah menganggap aku dan Fardan itu anak kandung Mama. Mereka juga pasti mengira Mbak Ayu dan Mbak Ita itu anak kandung Papa.
Mungkin di antara Papa dengan Mama dahulu sudah sepakat, bahwa mereka akan saling menitipkan anak-anak yang akan diperlakukan secara adil dan penuh kasih sayang.
Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun berganti tahun berjalan terus dengan cepatnya. Kami semua hidup dalam suasana damai. Tak pernah ada keributan yang berarti, karena aku, Fardan dan kedua kakak tiri ku suka saling mengalah.
Tanpa terasa waktu berlalu, kami berempat sudah jadi mahasiswa-mahasiswi. Mbak Ayu sudah semester akhir, tinggal menunggu skripsi. Mbak Ita sudah semester lima, Fardan baru semester pertama, sementara aku sudah semester tiga.
Rumah kami pun sudah diperbesar. Kamarnya jadi ada 4. Anak-anak Papa dan Mama mendapat kamar masing-masing.
Sementara itu, Papa membangun pavilyun yang terpisah dari rumah utama. Di pavilyun itulah tempat Papa dan Mama.
Mungkin Papa dan Mama sengaja ingin menempati pavilyun itu agar tidak terasa berisik oleh suara kami berempat, yang terkadang memang mengeluarkan suara keras. Selain daripada itu, mungkin juga Papa ingin melatih kemandirian kami berempat dengan memberikan kebebasan menempati rumah utama.
Di rumah utama, kamar paling depan dipakai oleh Fardan, agar rumah kami ada perisai di setiap bagian krusial. Jadi Fardan ditempatkan di kamar paling depan, hitung-hitung ada penjaga keamanan di rumah kami. Di samping kamar Fardan adalah kamar Mbak Ita.
Aku dan Mbak Ayu ditempatkan di lantai dua. Kamarku yang paling depan, sementara kamar Mbak Ayu di bagian dalam, terhalang oleh ruang belajar. Di ruang belajar itu aku dan Mbak Ayu sering belajar bareng. Tapi tentu saja kami menekuni jenis ilmu yang berbeda, karena kami berlainan fakultas.
Yang menyenangkan belajar dengan Mbak Ayu itu, adalah seringnya dia membuatkan minuman dan makanan ringan untukku. Minumannya terkadang teh manis atau kopi susu, terkadang black coffee saja. Makanan ringannya, terkadang bawan, pisang goreng atau french fries.
Setelah selesai belajar, kami suka ngobrol ke barat ke timur. Bahkan sering juga Mbak Ayu nonton bokep koleksiku yang selalu tersimpan di flashdisk, lalu diputar di laptopnya. Namun aku hanya berani menyimpan 1-2 film bokep di flasdisk itu, lalu didelete kalau sudah bosan menontonnya.
Tapi yang satu itu tentunya secara rahasia. Bahkan sering Mbak Ayu meminjam flashdisk berisi bokep itu, untuk ditonton di dalam kamarnya. Dengan suara yang didengarnya lewat earphone.
Bukan cuma menontonnya, Mbak Ayu juga sering mengajak aku berdiskusi tentang segala yang pernah ditontonnya itu.
Bahkan pada suatu malam, setelah menonton bokep di ruang belajar, Mbak Ayu berkata,
“Kata teman yang udah pengalaman sih dioral sama cowok itu nikmat sekali.“
Aku tersenyum dan menyahut,”Iya Mbak. Terutama kalau yang oralnya fokus ke cltoris. Kan cltoris itu paling peka di tubuh cewek.“
“Wow… kamu udah banyak tahu ya. Emangnya udah punya pengalaman sama cewek?” tanya Mbak Ayu sambil menepuk bahu ku.
“Pengalaman sih belum ada Mbak. Cuma sering dengar ceritanya saja dari teman yang udah punya pengalaman. Juga sering baca buku pengetahuannya. Mbak sendiri udah punya pengalaman?”
“Hiiiih Pengalaman dari mana? Pacaran aja baru satu kali waktu masih di SMA dahulu. Sampai sekqarang belum pacaran lagi.”
“Terus… sama pacarnya diapain aja?”
“Ciuman bibir aja belum pernah. Paling cuma cipika-cipiki.”
Aku mengangguk-angguk dan percaya pada pengakuan kakak tiri ku itu.
Tapi Mbak Ayu seperti sedang berpikir. Entah apa yang dipikirkannya.
Sesaat kemudian dia malah bangkit dari sofa ruang belajar.
”Mau tidur duluan ah… udah malam sekali tuh,” katanya sambil menunjuk ke jam dinding digital yang sudah menunjukkan pukul 23.05 WIB.
“Iya Mbak. Sleep tight and have a nice dream,” sahut ku sambil berdiri juga.
“You too… “ sahut Mbak Ayu sambil melangkah keluar ruang belajar dan masuk ke dalam kamarnya.
Aku pun melangkah ke arah kamar ku. Dan melupakan percakapan dengan Mbak Ayu tadi.
Keesokan malamnya Mbak Ayu tidak muncul di ruang belajar. Sejak jam 7 malam dia sudah masuk ke dalam kamarnya. Lalu tidak keluar lagi.
Begitu pula pada malam-malam berikutnya. Mbak Ayu tidak muncul lagi di ruang belajar. Sementara aku tetap menyibukkan diri untuk menghafal di ruang belajar. Karena fakultas ku adalah fakultas yang banyak hafalannya.
Sebenarnya di lantai bawah pun ada ruang belajar yang biasa dipakai oleh Fardan dan Mbak Ita. Tapi aku tak pernah nyelonong ke ruang belajar mereka. Begitu juga Fardan dan Mbak Ita, tak pernah nyelonong ke ruang belajar di lantai dua.
Beberapa malam kemudian, Mbak Ayu muncul lagi di ruang belajar. Aku yang sedang duduk di belakang meja tulis ku menyambutnya dengan sikap ceria.
”Mbak lama juga gak muncul di ruang belajar kita ini.”
“Biasa… ada langganan datang,” sahutnya sambil tersenyum.
“Langganan? Langganan apa?”
“Langganan perempuan. Datang bulan.”
“Owh… kirain apa. Suka berapa hari datang bulannya Mbak?”
“Sepuluh harian. Aku kalau datang bulan suka sakit kepala. Makanya gak mau mikir yang berat-berat.”
“Tapi sekarang sudah bersih?”
“Sejak dua hari yang lalu juga sudah bersih. Sekarang sih mau begadang sampai pagi juga gak apa-apa.”
“Owh, iya… sekarang kan malam Minggu, ya.”
“Iya. Malam Minggu yang sepi… karena Papa, Mama, Ita dan Fardan pada ke Semarang.“
“Iya… kita berdua kebagian jaga rumah sampai Senin pagi, ya Mbak.”
Memang Papa, Mama, Mbak Ita dan Fardan pada ke Semarang. Mau menghadiri pernikahan keponakan Papa alias saudara sepupu ku. Dan rumah tidak boleh ditinggalkan tanpa ada yang menunggunya. Karena itu aku dan Mbak Ayu tidak diajak ke Semarang, agar rumah tetap aman. Maklum belakangan ini sering terjadi pencurian di daerah kami.
Mbak Ayu menghampiri kursi yang sedang aku duduki. Dan memegang kedua bahu ku dari belakang,”Justru sekarang kita punya kesempatan baik, Sam.”
“Emangnya mau ngapain Mbak? Mau nonton bokep semalam suntuk?” tanya ku tanpa menoleh ke belakang.
Lalu terdengar suara Mbak Ayu di belakang kursi ku.
”Sam… aku ingin tahu kayak apa sih rasanya kalau punya ku dijilatin seperti dalam bokep-bokep itu… kamu mau kan melakukannya?”
Aku tersentak kaget. Permintaan kakak tiri ku itu benar-benar di luar dugaan. Tak pernah terpikirkan sedikit pun kalau Mbak Ayu mau meminta sesuatu yang belum pernah ku lakukan itu.
^^^
Aku pun bangkit dari kursi ku. Menatap wajah kakak tiri ku yang sebenarnya cantik itu. Dan baru sekarang aku memperhatikan kecantikannya.
”Mbak serius?” tanya ku.
Mbak Ayu memegang pergelangan tanganku. Lalu mengajak duduk di sofa ruang belajar itu.
“Serius Sam… aku penasaran… karena teman-teman ku sudah pada sering merasakannya. Cuma aku sendiri yang belum pernah. Sam mau kan menghilangkan rasa penasaran ku?” Mbak Ayu memegang tanganku erat-erat.
“Mau sih mau Mbak. Tapi takut… “
“Takut apa?”
“Takut ketahuan sama Papa dan Mama… pasti mereka marah sekali nanti… “
“Ya jangan sampai mereka tahu dong. Jadikan rahasia kita berdua aja.”
Saat itu Mbak Ayu mengenakan daster katun berwarna abu-abu polos. Dan tiba-tiba saja daster itu disingkapkan sampai perutnya. Membuat ku tersentak lagi. Karena kakak tiri ku itu tidak mengenakan celana dalam. Sehingga aku bisa langsung melihat kemaluannya yang… aaaah… jantung ku berdebar-debar dibuatnya… !
“Mbak….” hanya itu yang terlontar dari mulut ku. Dengan perasaan gugup tak menentu.
“Ayo jilatin, Sam. Please….” pinta Mbak Ayu dengan nada memohon.
“Tapi Mbak… menurut buku yang pernah kupelajari, tidak boleh langsung menyentuh kemaluan. Harus ciuman dulu… harus mainkan buah dada dulu dan sebagainya.”
“Ya udah… ikuti aja petunjuk yang pernah kamu pelajari itu.”
“Di sini?”
“Menurutmu harus di mana? Di sini atau di kamar ku atau di kamarmu?”
“Biar akunya pede, di kamar ku aja Mbak.”
“Ayo,” Mbak Ayu bangkit dari sofa, lalu melangkah duluan ke dalam kamar ku.
Setelah berada di dalam kamar, kututup dan kukuncikan pintu kamar ku, lalu menghampiri kakak tiri ku yang sudah duluan duduk di pinggiran tempat tidur ku.
“Mau sambil nonton bokep sebagai penuntun kita?” tanya ku sambil membuka lipatan laptop ku dan meletakkannya di atas tempat tidur ku, menyandar ke dinding.
“Iya… itu penting Sam. Biar jangan ngawur,” sahutnya.
Aku tercenung sejenak. Mengingat-ingat video yang berisi oral sex sebagai foreplay. Lalu kuambil flashdisk silver dan kupasangkan di laptop yang sudah kuaktifkan. Sesaat kemudian layar laptop ku mulai menayangkan adegan sepasang orang bule yang bersetubuh. Keduanya sudah telanjang bulat di kebun apel. Di atas hamparan kasur tipis.
“Wah… langsung pada telanjang gitu ya. Berarti kita juga harus telanjang seperti mereka?” tanya Mbak Ayu sambil menelungkup dengan wajah menghadap ke arah layar laptop ku.
“Mungkin memang harus begitu Mbak,” sahut ku.
“Kamu juga harus telanjang dong,” ucap Mbak Ayu sambil menepuk punggung ku.
“Aku sih gak usah telanjang. Kan Mbak cuma ingin dioral. Bukan mau bersetubuh. Jadi aku hanya akan menggunakan tangan dan mulut… jadi gak usah telanjang kan? “
“Nggak fair dong ah. Seperti di film itu kan sama-sama telanjang.”
“Mereka nantinya bersetubuh Mbak. Wajar aja kalau sama-sama telanjang.”
“Pokoknya kamu harus telanjang juga ah. Biar aku gak risih telanjang sendirian,” ucap Mbak Ayu sambil menurunkan celana trainingku sampai terlepas dari kaki ku. Baju kausku pun ditanggalkannya, sehingga aku tinggal mengenakan celana dalam saja. Pada saat itulah Mbak Ayu melepaskan dasternya, sehingga langsung jadi telanjang bulat. Ternyata ia bukan hanya tidak bercelana dalam. Sepasang buah dada montoknya pun tidak berbeha.
Aku tertegun. Memperhatikan sekujur tubuh kakak tiri ku dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya. Tubuh yang tinggi montok, dengan sepasang buah dada yang gede dan bokong yang semok pula. Sementara kulitnya yang putih bersih, begitu mulusnya, tak terlihat noda setitik pun.
Memang sangat berbeda kalau kubandingkan dengan Mbak Ita. Kalau Mbak Ayu berperawakan tinggi montok, Mbak Ita tergolong tinggi semampai.
“Aku sudah boleh menyentuh bagian-bagian penting di tubuh Mbak?” tanya ku ragu.
“Iya… anggap aja aku ini cewek di dalam film itu. Dan kamu cowoknya. Jangan canggung-canggung,” sahut Mbak Ayu sambil merebahkan diri kembali di atas tempat tidur ku.
“Padahal kita ini saudara, ya Mbak.”
“Saudara lain ayah beda ibu. Hihihiiii… kita kan sebenarnya cuma terbawa oleh papamu dan mama ku. Kamu ini jadi adikku. Padahal kita tidak ada hubungan darah. Ayolah… jangan buang-buang waktu Sam.”
Aku melirik ke layar laptop ku. Si cowok tampak sedang mengemut pentil buah dada ceweknya, sementara tangan si cowok sedang menggerayangi kemaluan si cewek.
Dengan jantung berdebar-debar aku pun bermaksud untuk mengikuti adegan di layar laptop ku. Merayap ke atas tubuh telanjang kakak tiri ku, Dan langsung memagut pentil buah dada Mbak Ayu, sementara tanganku mulai mengusap-usap kemaluannya yang bersih dari rambut.
Tapi sebelum kumulai mengemut pentil buah dadanya, Mbak Ayu berkata setengah berbisik.
”Cium bibir ku dulu Sam… “
Aku iktui keinginannya. Kupagut bibir Mbak Ayu, yang disambut dengan juluran lidahnya. Kusedot-sedot lidah kakak tiri ku itu. Lalu kami saling lumat dengan gairah yang makin lama makin menghangat.
Tadinya aku ingin melakukan seperti yang ditayangkan di layar laptop ku, menggerayangi kemaluan Mbak Ayu sambil mengemut pentil buah dadanya. Tapi adegan di layar laptop ku sudah bergerak lebih jauh. Wajah si cowok sudah berada di depan kemaluan ceweknya. Lalu mulai mengoral cewek itu.
Menyaksikan adegan itu aku pun berubah pikiran.
Wajah ku melorot turun ke perut Mbak Ayu. Menjilati pusar perutnya sesaat. Lalu turun lagi, sehingga wajah ku langsung berhadapan dengan kemaluan kakak tiri ku.
Aku terlongong sesaat di depan kemaluan yang sangat bersih dari rambut itu. Bentuknya tembem pula. Jujur… kalau memperturutkan nafsu, ingin saja kujebloskan batang kemaluan ku ke dalam celah yang sedang kungangakan ini. Namun aku mati-matian mengontrol diri ku sendiri, agar jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Mbak Ayu sendiri tampak ingin mengikuti adegan di layar laptop ku. Kedua tangannya menarik sepasang pahanya ke atas dan dikangkangkan selebar mungkin. Sementara ujung lidah ku sudah mendarat di permukaan kemaluannya yang sedang aku kangkangkan dengan kedua tanganku ini.
Lidah ku pun mulai beraksi. Menjilati bagian yang berwarna pink dan mengkilap basah itu. Mbak Ayu pun mulai menahan-nahan napasnya. Entah apa yang sedang dirasakannya. Sementara rintihan-rintihan nya mulai terdengar, meski cuma perlahan sekali.
”Iya Saaam… iyaaa… ooooh…. ini enak sekali Saaam… ooooooh….. ooooh…..”
Namun aku pun sebenarnya sudah mulai sulit mengatur napas ku sendiri. Karena semua yang aku hadapi ini benar-benar membangkitkan gejolak nafsu birahi ku.
Meski begitu, aku masih tetap berusaha mengontrol diri ku sendiri. Menjaga agar jangan sampai terjadi sesuatu yang melampaui batas. Meski membuat ku tersiksa.
Dan aku semakin giat menjilati kemaluan Mbak Ayu. Bahkan setelah kutemukan cltorisnya, aku pun memusatkan jilatan ku ke arah daging kecil itu. Sementara kedua tanganku terjulur ke arah dada kakak tiri ku. Dan mulai meremas sepasang buah dadanya dengan lembut.
Terasa paha Mbak Ayu mulai mengejang-ngejang. Sementara rintihan-rintihannya mulai terdengar meski seperti ditahan, mungkin agar jangan terlalu keras.
”Saaaam… ooooh… ini lebih enak lagi Saaam…. iyaaaa. jilatin terus daging kecilnya Saaam… dudududuuuuh… enak sekali Saaam….”
Mbak Ayu merintih terus sambil berkelojotan. Kedua tangannya terkadang meremas-remas kain seprai, terkadang mencengkram sepasang bahu ku dan terkadang juga meremas-remas rambut ku sampai kusut masai.
Makin lama, raungan histeris Mbak Ayu makin tidak terkendalikan lagi. Seandainya Papa, Mama dan saudara-saudara ku sedang berada di rumah, pastilah akan heboh mendengar suara rintihan Mbak Ayu yang makin lama makin keras ini.
“Iyaaaa Saaaam…. ini enak sekali Saaam…. jilatin terus daging kecilnya Saaaam… iyaaaaaa…. iyaaaa…. ooooooh Saaaam… ini luar biasa enaknya Saaam….”
Mbak Ayu semakin histeris, sementara aku pun semakin sulit mengendalikan diri. Karena membayangkan betapa nikmatnya kalau rudal ku dimasukkan ke dalam kemaluan kakak tiri ku yang sudah basah sekali ini.
Namun aku tetap mati-matian mempertahankan nafsuku sendiri. Jangan sampai melakukan sesuatu yang kusesali di kemudian hari.
Setelah belasan menit aku menjilati kemaluan kakak tiri ku, akhirnya dia berkelojotan dengan napas tak beraturan. Lalu ia mengejang sambil menahan napasnya… perutnya pun terangkat dan terdengar rintihannya.
”Oooooh… Saaam… ini… ini seperti ada yang mau keluar…. ooooh…. Saaaaaaam….”
Aku pun merasakan sesuatu yang lain. Kemaluan Mbak Ayu terasa berkedut-kedut. Mungkin ia sedang menikmati orgasmenya.
Dugaanku tidak meleset. Sesaat kemudian Mbak Ayu mendorong kepala ku sambil berkata.
”Jauhkan dulu mulutmu dari vaginaku Sam… ooooh….”
Aku iktui permintaannya itu. Kujauhkan mulut ku dari kemaluan kakak tiri ku. Lalu duduk bersila di samping tubuh telanjang yang sangat menggiurkan itu.
Mbak Ayu yang masih terlentang itu menatap ku dengan senyumnya yang tampak begitu manis di mata ku.
“Mbak sudah orgasme ya?” ucap ku sambil mengelus-elus perut Mbak Ayu yang terasa lembab oleh keringat.
Mbak Ayu bangkit, duduk di samping ku sambil menyahut.
”Kayaknya sih iya… barusan terasa seperti melayang-layang… lalu ada sesuatu yang mengalir di dalam kemaluan ku. Nikmat sekali…. terima kasih Sam… “
Ucapan Mbak Ayu itu dilanjutkan dengan kecupan hangatnya di bibir ku. Dalam suasana batin yang sudah berubah.
Ya, dalam keadaan seperti ini aku memandang Mbak Ayu tak sekadar kakak tiri yang harus aku anggap seperti kakak kandung ku belaka. Aku pun memandang Mbak Ayu sebagai cewek yang menggiurkan, karena tubuh tinggi montoknya begitu mulus dan hangat. Wajahnya pun cantik, sehingga bodohlah aku ini kalau melepaskan kesempatan ini begitu saja.
Karena itu, ketika Mbak Ayu mengecup bibir ku, langsung kusambut dengan lumatan hangat, sambil mendekap pinggangnya yang masih telanjang bulat. Dan Mbak Ayu pun terasa menyambut lumatan ku. Lengannya melingkar di leher ku, lalu balas melumat bibir ku, tak ubahnya membalas lumatan kekasih tercintanya.
Setelah ciuman kami terlepas, Mbak Ayu menatap ku sambil menyelinapkan tangannya ke balik celana dalam ku.”Sam… kamu sudah memuasi diri ku… tapi Sam sendiri belum mendapatkan apa-apa ya?”
“Nggak apa-apa Mbak. Yang penting Mbak sudah puas. Kalau aku sih gampang… dikocok juga nanti ngecrot,” sahut ku.
“Kuemut aja ya. Mau?”
“Kalau Mbaknya mau sih silakan aja.”
“Mau,” Mbak Ayu mengangguk sambil tersenyum,”hitung-hitung belajar aja. Tapi putar dulu bokep yang ada adegan ngemut batang rudal.”
Dengan mudah kuputar bokep yang sesuai dengan permintaan Mbak Ayu. Bokep yang menonjolkan felatio ngemut batang rudal. Kebetulan ada bokep yang dimintanya itu.
Adegan di bokep itu awalnya gantian saling oral, kemudian berlanjut ke adegan posisi 69.
“Nah itu adegan enam sembilan Mbak,” kataku setelah layar laptop ku menayangkan adegan 69. ceweknya di atas cowoknya di bawah dalam posisi sungsang.
“Heee… boleh juga tuh… kita ikutin posisi itu ya,” ajak kakak tiri ku sambil mengguncang pergelangan tanganku.
Aku pun menyetujui ajakan Mbak Ayu. Lalu melepaskan celana dalam ku sambil menelentang di dekat laptop ku. Sengaja kuambil posisi sedemikian rupa, agar Mbak Ayu tetap bisa memandang ke arah layar laptop ku pada waktunya nanti.
Setelah aku menelentang dengan batang rudal yang sudah sangat tegang ini, Mbak Ayu menelungkup di atasku dalam posisi terbalik. Wajahnya berada di atas rudal ku, sementara kemaluannya berada di atas wajah ku.
Lagi-lagi aku menyaksikan suatu pemandangan yang sangat indah dan menggiurkan. Menyaksikan sebentuk kemaluan yang tembem dan agak menganga, karena sudah mencapai orgasmenya tadi. Dan kini aku akan menjilatinya kembali, sementara Mbak Ayu akan mengoral rudal ku.
Ya… ia mulai menjilati leher dan puncak rudal ku, seperti yang sedang ditayangkan di layar laptop ku. Lalu ia mengulum rudal ku yang sedang dipegangnya, lalu air liurnya terasa mengalir ke badan rudal ku.
Aku tidak memberi pengarahan tentang bagaimana cara mengoral batang rudal yang baik. Biarlah dia mengerti sendiri dengan mengikuti adegan-adegan di layar laptop ku. Lagian aku sendiri mulai sibuk menjilati kemaluannya yang sudah bertempelan dengan mulut ku.
Jujur, aku sendiri baru pertama ini merasakan dioral oleh perempuan. Karena itu ketika Mbak Ayu makin agresif menyelomoti dan mengurut-urut rudal ku, melayang-layang juga batin ku dibuatnya. Dalam nikmat yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Ketika aku sedang asyik menjilati kemaluan Mbak Ayu, terkadang aku sendiri mengejang-ngejang karena permainan oral kakak tiri ku itu menyentuh bagian sensitif di rudal ku, yang membuat ku harus menahan napas saking enaknya.
Mbak Ayu juga sama. Ketika sedang asyik menyelomoti dan mengurut-urut rudal ku, terkadang ia pun mengejang-ngejang, terutama pada waktu aku menjilati daging kecilnya.
Begitulah yang terjadi. Kami saling mengoral, tapi terkadang diam dan mengejang, karena merasakan nikmatnya dioral.
Lebih dari setengah jam kami melakukannya, sampai akhirnya rudal ku berejakulasi, sementara Mbak Ayu sudah duluan mencapai orgasme lagi untuk yang kedua kalinya.
“Aduuuuh…. luar biasaaa… “ ucap Mbak Ayu sambil menelentang di samping ku.
“Apanya yang luar biasa Mbak?”
“Luar biasa enaknya… “ sahut Mbak Ayu sambil memiringkan tubuhnya ke arah ku. Dan mengelus dada ku yang masih keringatan,”Kalau batang rudalmu dimasukkan ke dalam vaginaku, mungkin lebih enak lagi, ya Sam.”
“Jangan mikir ke sana Mbak. Kita cari yang aman-aman aja. Kalau benar-benar bersetubuh kan ada resikonya. Pertama, virginitas Mbak hilang. Kedua, Mbak bisa hamil.”
“Aku rela kalau kamu yang ambil perawanku,” kata Mbak Ayu sambil memegangi rudal ku yang sudah lemas.
”Soal hamil kan bisa dicegah. Besok aku beli pil kontrasepsi ya.”
“Besok kan Minggu Mbak. Apotek tutup semua.”
“Oh iya ya. Senin aja beli pil kontrasepsinya.”
“Senin pagi Papa, Mama, Fardan dan Mbak Nita udah pada pulang.”
“Iya ya… “ Mbak Ayu tampak seperti sedang berpikir.
“Santai aja Mbak… jangan terburu nafsu. Apa pun yang Mbak inginkan, akan ku lakukan. Tapi jangan terburu-buru gitu. Kita cari dulu waktunya yang ngepas.”
“Janji ya… kamu bakal mau menyetubuhiku nanti… “
“Iya, iya… asalkan Mbak bisa merahasiakannya dan jangan menyesal di kemudian hari.”
Mbak Ayu tersenyum manis. Mengecup pipi ku, lalu berbisik, ”Aku akan merahasiakannya. Dan tak akan menyesal di kemudian hari.”
Dan malam semakin larut
Senin pagi Mama, Mbak Ita dan Fardan pada pulang dari Semarang. Tapi Papa tak pulang bersama mereka. Kata Mama, Papa masih akan berada di Semarang, karena ada urusan keluarga besar yang harus diurusnya.
Sorenya, baru saja aku pulang kuliah, Mama minta diantarkan ke mall. Banyak yang mau dibeli, katanya.
Memang Mama sering mengandalkanku nyetirin mobilnya, meski dia bisa nyetir sendiri. Bahkan Papa juga terkadang suka minta disetirin oleh ku.
“Kalau gitu aku mau mandi dulu, ya Mam,” kataku minta izin kepada ibu tiri ku.
“Iya mandi dulu deh. Makan malam sih nanti aja di mall, sambil temenin mama makan.”
“Siap Mam,” sahut ku, lalu bergegas masuk ke dalam kamar ku. Dan masuk ke dalam kamar mandi pribadiku.
Setelah mandi, kukenakan celana jeans dan baju kaus berwarna biru tua. Lalu mengambil kunci mobil Mama yang tergantung di atas lemari kecil ruang keluarga.
Mesin mobil Mama kupanaskan beberapa menit, kemudian kukeluarkan dari garasi. Mama pun muncul di teras depan dan melangkah ke pintu mobil sebelah kiri depan.
Sesaat kemudian aku sudah meluncurkan mobil Mama di jalan aspal.
Lalu terdengar suara Mama di samping kiri ku.
”Sam… di mall itu kan ada hotel. Pintu liftnya juga ada di dekat tempat parkir kan?”
“Iya. Emangnya kenapa Mam?” aku balik bertanya.
“Nanti pada waktu mama belanja, kamu cek in aja di hotel itu. Ada suatu hal penting yang ingin mama sampaikan. Tapi mama ingin menyampaikannya dalam keadaan tenang, jangan sampai ada orang ikut dengar.”
Meski heran kuiyakan saja perintah ibu tiri ku itu. Lalu Mama memberikan sejumlah uang untuk membooking kamar hotel itu.
Setibanya di parkiran mall langganan Mama itu, kami berpisah. Mama masuk ke mall, sementara aku melangkah ke pintu lift yang menuju hotel itu. Untuk melaksanakan tugas dari Mama.
Setelah mendapatkan kamar yang diinginkan, aku pun menghubungi Mama lewat hape ku. Untuk melaporkan nomor kamar yang sudah dibooking atas nama ku.
“Iya. Dalam seperempat jam juga mama udah selesai belanjanya dan langsung ke situ,” sahut Mama di speaker hape ku.
Aku pun rebahan di bed, sambil menunggu Mama datang. Sementara pintu kamar hotelnya sengaja tidak dikunci, supaya Mama bisa langsung masuk nanti.
Sebenarnya aku penasaran juga. Masalah apa sebenarnya yang ingin Mama sampaikan nanti? Sedemikian penting dan rahasiakah sehingga harus menyewa kamar hotel segala?
Ah… mudah-mudahan saja Mama bukan mau menanyakan masalah Mbak Ayu. Kalau hal itu yang ditanyakannya, pasti aku akan sulit menjawabnya.
^^^