"Iris, kamu sudah dewasa sekarang .…"
Kata-kata itu terdengar seperti bisikan lembut di telinga Iris Curtis, sarat dengan kerinduan. Tubuhnya terasa hangat, getaran lembut menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dari rumah duka, suara tangisan para pelayat terdengar samar.
Tersudut di pagar kayu gazebo di belakang rumah duka, Iris mengerang pelan, suaranya bergetar, "Seseorang bisa melihat kita ...."
Ujung gaun hitam ketatnya tersingkap, kaki jenjangnya bersentuhan dengan kain tajam dari celana jas rancangan Vincent Stewart.
.... ....
"Apa kamu sudah dengar? Di pemakaman Caden Lambert kemarin, sepasang kekasih yang tidak tahu malu bermesraan di gazebo di belakang rumah duka."
Di ruang pribadi lantai dua Kafe Mellow, Gretchen Higgins, seorang sosialita kaya, menutup mulutnya dengan sapu tangan sutra sambil menatap Bryanna Stewart dengan ekspresi jijik.
"Seorang playboy pasti bercinta dengan seorang pelacur di sana. Sungguh tidak tahu malu, mereka bahkan tidak bisa mengendalikan diri di rumah duka," cibir Bryanna, sorot matanya dipenuhi rasa jijik.
Tidak ada yang lebih membuatnya jijik daripada orang-orang yang menjalani kehidupannya dengan kacau dan bejat.
"Keluarga Lambert sedang meninjau rekaman kamera pengawas. Sebentar lagi kita akan tahu siapa orang tidak tahu malu itu," tambah Gretchen.
Larut dalam lamunan, Iris tersentak kaget saat kopi tumpah ke atas meja.
Mata Bryanna mendelik ke atas. "Iris, stabilkan tanganmu saat menuangkan kopi."
Gretchen mendongak, matanya tertuju pada Iris dengan penuh perhatian. "Bryanna, kamu telah membesarkannya dengan baik—dia sopan, dan tenang. Dan yang terpenting, dia tidak pernah melanggar batasan."
Bryanna menyeruput kopinya perlahan, merasa sangat puas. "Kesucian seorang wanita adalah harta yang paling berharga. Bagi mereka yang berasal dari keluarga terhormat, hal ini bahkan lebih penting lagi."
Tak lama kemudian, pintu kamar berderit saat berayun terbuka. "Pak Stewart telah tiba," ucap salah seorang pramusaji.
Iris menunduk, dia melihat sepatu kulit yang bersinar sempurna, serta potongan celana yang rapi dan mahal—semuanya mencerminkan kemewahan.
Vincent menyapa Gretchen dan Bryanna, suaranya terdengar halus dan tenang.
Bryanna, yang merupakan saudara iparnya, menyambutnya dengan senyum hangat. "Kamu baru pulang kemarin dan langsung pergi ke pemakaman Caden. "Iris, apa kamu melihatnya di sana?"
Mendengar itu, wajah Iris memanas saat mengingat kejadian memalukan semalam. Dia masih tidak habis pikir kenapa Vincent tiba-tiba bisa kehilangan kendali.
Teko kopi di tangannya terasa menyengat, tetapi Iris hampir tiba merasakannya.
"Tidak, kami tidak bertemu," ucap Vincent.
Vincent mengambil teko dari tangan Iris dan menuangkan kopi ke cangkirnya sendiri dengan tenang.
Telapak tangan Iris memerah, panas seperti terbakar.
Seorang pria yang berwibawa dan penuh kendali—dia bisa menyangkal hubungan mereka, dan melanjutkan hidup seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Bryanna tertawa ringan. "Iris selalu bersikap waspada pada Vincent sejak dia masih kecil. Dan karena Vincent berada di luar negeri selama tujuh tahun terakhir, jarak di antara mereka semakin besar."
Gretchen tertawa ringan. "Itu sudah jelas. Dia terlihat seperti seekor tikus yang terpojok oleh kucing—benar-benar ketakutan."
Bryanna menggoda, "Iris, kamu tidak perlu takut padanya. Mungkin sudah saatnya aku mencarikannya seorang istri. Seseorang yang bisa membuatnya menghilangkan sifat dinginnya dan mengeluarkan senyumannya."
Gretchen meletakkan cangkirnya. "Kudengar Dolores Dawson ada di Kafe Mellow hari ini."
Bryanna menoleh ke arah Vincent. "Nyonya Gretchen sedang memikirkan untuk menjalin hubungan melalui pernikahan dengan keluarga kita. Bagaimana menurutmu?"
Vincent menyesap kopinya, jari-jarinya bersandar pada cangkir porselen yang halus. "Aku akan membiarkan Kakak ipar mengurusnya."
Iris menunduk lebih dalam lagi, kukunya menancap di telapak tangannya.
Mendengar itu, wajah Bryanna berseri-seri karena setuju. "Aku akan memberi tahu Nyonya Dawson kalau kamu tertarik."
"Kalau begitu, ucapan selamat patut diberikan," ucap Gretchen, sambil tersenyum lebar. "Vincent, sepertinya tidak lama lagi kita akan bersulang di pesta pernikahanmu."
Setelah kopi mereka habis, Bryanna dan Gretchen berlama-lama di dekat pintu masuk, sambil mengobrol santai.
Iris berjalan mendekati Vincent, dan berbisik, "Ada kamera pengawas di rumah duka. Keluarga Lambert sedang memeriksa rekaman itu."
Vincent mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, memutarnya di antara jari-jarinya sebelum meletakkannya di antara bibirnya. Nada suaranya terdengar acuh tak acuh. "Dan?"
Napas Iris tercekat. "Mereka bisa tahu kalau itu kita!"
Gazebo seperti tempat perlindungan tersembunyi, diselimuti permadani yang rimbun dengan tanaman merambat yang saling bertautan dan dedaunan hijau yang indah. Di dalam, ruangnya terasa privat, hampir seperti tempat terpencil; siapa pun yang berada di luar hanya akan melihat sekilas siluet mereka, yang dikelilingi oleh pemandangan alam yang memesona.
Namun, rekaman kamera pengawas mungkin mengungkap wajah dan apa yang mereka lakukan dengan jelas.
"Memangnya kenapa kalau mereka tahu?" Vincent menggigit rokoknya, nadanya terdengar geli, seolah-olah Iris baru saja mengatakan sesuatu yang konyol.
Sejak kematian kakak laki-laki Vincent, Vincent mengambil alih kendali Grup Stewart.
Dengan perusahaan yang mendominasi lebih dari separuh industri di kota ini, dia berada di puncak kekuasaan—tak tersentuh.
Bagi Vincent, hubungan mereka tidak lebih dari sekadar kesenangan sesaat.
Sementara bagi Iris, itu adalah sebuah malapetaka.
Sebuah Porsche berwarna kuning berhenti di tepi jalan, dengan jendela diturunkan untuk memperlihatkan beberapa pria muda berkacamata hitam. "Stewart, ayo kita pergi ke klub."
Vincent meremas rokok di tangannya, sambil mengamati sekelilingnya. Karena tidak ada tempat sampah yang terlihat, dia melemparkannya ke arah Iris.
Kemudian, tanpa menoleh ke belakang, Vincent melangkah ke mobil dan masuk ke dalam.
Mobil Porsche itu melaju kencang, meninggalkan jejak debu di belakangnya.
Iris menatap puntung rokok di telapak tangannya, rasa hampa menyelimuti dirinya.
Iris merasa dirinya hanyalah mainan—yang digunakan, dibuang, dan ditinggalkan.
.... ....
Vincent tidak menginjakkan kaki di rumah keluarganya selama berhari-hari.
Bryanna lalu meneleponnya. "Aku sudah mengatur pertemuan dengan Elianna Dawson. Apa kamu ingin menemuinya?"
Malam itu juga, Vincent kembali.
Saat mereka duduk di ruang tamu, Bryanna menatap Iris dengan tatapan penuh arti. "Kamu lihat? Vincent mungkin sering bersenang-senang sesuka hatinya, tapi jika menyangkut hal-hal penting, dia tidak akan membuang-buang waktu. Saat mendengar nama Elianna, dia langsung pulang."
Vincent duduk bersandar di sofa, tatapannya tertuju pada Iris. "Apa tanganmu baik-baik saja?"
Bryanna mengerutkan alisnya bingung. "Tanganmu? Iris, apa yang terjadi?"
Iris mengepalkan tangannya. "Tidak apa-apa, hanya luka bakar ringan."
Seorang pelayan di di sampingnya tersenyum tipis. "Pak Stewart adalah seorang pria sejati. Beliau pasti akan menjadi suami yang setia suatu hari nanti."
Bryanna mengambil sebuah foto dan mengulurkannya ke hadapan Vincent. "Ini foto Elianna. Coba lihatlah. Apa kamu menyukainya?"
Vincent mengangkat sebelah alisnya, lalu mengalihkan perhatiannya ke Iris. "Bagaimana menurutmu?"
Sambil menyeringai, Bryanna menggeser foto itu lebih dekat ke Iris. "Ayo, lihatlah calon tantemu."
Dalam foto tersebut, seorang wanita muda mendekap buket bunga lili, wajahnya yang halus memancarkan kepolosan dan lekuk tubuh yang memukau.
Iris mengangguk pelan, nyaris tak kentara.
Vincent mengamati foto tersebut selama satu menit sebelum meletakkannya. "Tidak buruk. Iris, seleramu cukup bagus."
Bryanna mengerutkan alisnya. Itu jelas pilihannya. Jadi kenapa mengatakan bahwa Iris punya selera yang bagus?
Namun, Bryanna mengetahui satu hal. Vincent lebih menyukai wanita dengan lekuk tubuh yang memikat.
Bryanna bertepuk tangan. "Pasangan yang sempurna! Vincent, Dolores bilang Elianna sudah menyukaimu sejak lama. Sepertinya ini takdir—kamu akan menantang takdir jika menolaknya."
Sesaat kemudian, Iris naik ke lantai atas. Dia belum sampai di kamarnya ketika sosok tinggi menghalangi jalannya, menekannya ke sudut tangga.
"Minggir," gumam Vincent, napas hangatnya membelai lembut telinganya.
Iris meronta, tetapi Vincent memeluknya erat, menahannya agar tetap menempel pada tubuhnya yang ramping.
"Aku akan membelikanmu sebuah apartemen," bisiknya, bibirnya menyentuh kulitnya.
Air mata membasahi mata Iris.
Besok, Vincent akan bertemu dengan Elianna. Pasangan yang sempurna antara dua keluarga berkuasa—mereka berdua akan segera menikah.
Dan siapa Iris baginya?
"Apa kamu tidak takut Nona Dawson mengetahuinya?" ucap Iris sambil menangis.
Vincent mengecup lembut tenggorokannya, suaranya pelan dan penuh hasrat. "Dia tidak akan tahu."
Iris memejamkan mata saat air mata hangat mengalir di pipinya.
Baginya, dia adalah kekasih rahasia, mainan yang terkurung.
Bagi publik, dia adalah putri angkat Bryanna—anggota Keluarga Stewart.
Tetapi faktanya Iris adalah seorang wanita yatim piatu.
Dia sangat beruntung karena dapat tumbuh seperti anak perempuan lainnya, diberi kesempatan untuk belajar. Tetapi itu semua bergantung pada kemurahan hati Bryanna.
Tidak ada seorang pun yang bisa diandalkan, kecuali dirinya sendiri.
Setidaknya, dia mengenyam pendidikan. Terdaftar di kampus terbaik di kota ini, dia hanya tinggal menunggu satu tahun lagi untuk lulus.
Suatu hari nanti, dia berharap bisa mandiri, menabung untuk membeli apartemen sendiri, hidup seperti wanita normal lainnya, jatuh cinta, menikah, dan memiliki anak.
Dia tidak pernah membayangkan menjadi kekasih rahasia seseorang.
"Om Vin ...."
"Panggil saja aku Vincent," potong Vincent, cengkeramannya mengangkat dagu wanita itu.
Iris tersenyum tegang.
"Aku bisa bersikap seolah-olah hal itu tidak pernah terjadi pada malam itu."
Dalam cahaya yang remang, sesuatu yang tak terbaca terlintas di mata Vincent.
Di lantai bawah, suara Bryanna terdengar tajam dan jelas saat dia berbicara di telepon. "Aku punya rekaman kamera pengawas. Ayo kita cari tahu siapa wanita jalang yang berani merayu seorang pria di pemakaman."
"Jika mereka tahu, aku akan mati. Kamu punya kemampuan untuk menghapus rekaman kamera pengawas. Tolong, aku mohon padamu .…"
Iris bergetar tak terkendali, jari-jarinya mencengkeram lengan baju Vincent saat suaranya lirih karena putus asa.
Tanpa ragu-ragu, Vincent melepaskan jari-jari tangannya, wajahnya dingin, dan datar tanpa emosi apa pun. "Aku ada kencan besok. Aku tidak punya waktu untuk hal seperti ini," ucapnya.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Vincent berbalik dan melangkah pergi. Membantunya tidak akan merugikan pria itu, Tetapi, dia memilih untuk menolaknya.
Iris berdiri tak bergerak, seluruh tubuhnya menjadi dingin.
Jika kebenaran terungkap—jika ada orang yang mengetahui bahwa dia dan Vincent adalah pasangan yang tertangkap basah melakukan tindakan memalukan di pemakaman Caden—hidupnya akan hancur.
Bryanna akan mengusirnya. Kampusnya juga pasti akan mengeluarkannya. Tanpa gelar, mendapatkan pekerjaan yang layak akan menjadi sesuatu yang mustahil. Kerja kerasnya selama bertahun-tahun akan berakhir sia-sia.
Bermesraan dengan Vincent di pemakaman Caden—tidak ada hukuman yang bisa membersihkannya dari aib itu. Reputasinya akan hancur.
Kalau begitu, apa yang harus dia lakukan?
Iris tersungkur ke lantai, menutup mulutnya untuk meredam isak tangisnya.
Keesokan harinya, Iris sengaja tidak pergi ke kampus, dia terlalu takut untuk pergi keluar. Yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu—sambil membayangkan saat dunia di sekelilingnya hancur total.
Menjelang sore, Vincent kembali ke rumah.
"Bagaimana kencanmu dengan Elianna?" tanya Bryanna dengan penuh penasaran.
Vincent mengangkat sebelah alisnya, merasa sedikit geli. "Kami bergaul cukup baik."
Bryanna menghela napas lega. "Itu bagus! Aku akan segera menelepon Dolores."
Saat Vincent melepas mantelnya, dia melirik ke arah pintu masuk, di mana sepasang sepatu yang tertata rapi menarik perhatiannya. "Apa Iris ada di rumah?"
Bryanna, yang sedang menelepon Dolores, menjawab tanpa pikir panjang, "Iris bilang dia sedang tidak enak badan, jadi dia hanya beristirahat di rumah."
Vincent menyingkirkan mantelnya. "Aku akan memeriksanya."
Bryanna terdiam sejenak sebelum kembali berbicara. "Iris sudah dewasa sekarang. Kalian berdua harus menjaga jarak."
Berdiri di dasar tangga, Vincent terkekeh pelan. "Aku melihatnya tumbuh dewasa."
Bryanna mengangguk setuju, senyum puas terbentuk di wajahnya. "Iris selalu bersikap baik—dia tidak akan pernah melakukan sesuatu yang tidak pantas. Lupakan. Naik saja."
Di lantai atas, di kamar tidur.
"Apa kamu kram karena menstruasi?" tanya Vincent pelan, saat dia mengamati sosok kecil yang meringkuk di bawah selimut berwarna merah muda. Memasukkan tangannya ke balik selimut, jari-jarinya menelusuri lekuk tubuh wanita itu dengan lembut.
"Kumohon hentikan!" Iris tersentak, napasnya tercekat saat dia berusaha menahan tangan Vincent yang terus bergerak ke bawah.
Vincent dengan lembut menyibak helaian rambut yang tergerai di keningnya. "Kamu terlihat sakit."
Iris memalingkan wajahnya, sengaja menghindari sentuhannya.
Vincent menarik Iris ke pangkuannya, tangannya menekan perutnya dengan gerakan yang lambat dan disengaja. "Orang bilang, berhubungan seks lebih sering bisa membantu mengurangi rasa sakit."
Mendengar itu, Iris sedikit gemetar.
Saat itu juga, segalanya menjadi lebih jelas. Vincent tidak berniat melepaskannya begitu saja.
Vincent tidak mengabaikan kamera pengawas—dia sengaja menyuruh seseorang memeriksa rekaman. Begitu Bryanna mengusirnya dan kampus mengeluarkannya, Iris tidak akan punya apa-apa lagi. Tidak punya tempat untuk tinggal. Tidak ada masa depan. Dan ketika itu terjadi, dia tidak akan pernah bisa melarikan diri dari pengawasannya.
Air mata mengalir di pipi Iris saat dia berusaha keras untuk berbicara melalui isak tangisnya. "Tolong, aku mohon padamu … biarkan aku menyelesaikan studiku."
Vincent menyelinap di balik selimut di sampingnya, napasnya panas dan berat karena nafsu yang menguasainya. Dia sama sekali tidak mendengarkan perkataan Iris.
Jari-jari Vincent tiba-tiba berhenti, dan kerutan tipis terbentuk di keningnya. "Kamu tidak sedang menstruasi."
Iris membeku, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Vincent menghela napas pelan, nada senang terdengar dari suaranya saat tangannya terus turun dengan sengaja dan menggoda. "Dasar pembohong kecil."
Pikiran Iris menjadi kacau balau. Dia tidak berani melawan. Dia bahkan tidak berani bergerak.
Vincent sangat ahli membuka pakaiannya. Satu per satu, lapisan kain yang tipis itu terlepas.
Di bawah selimut, tangannya bergerak dengan bebas. Napasnya bertambah berat, udara di antara mereka terasa panas.
Iris meringkuk ke dalam, wajahnya memanas saat dia tenggelam dalam aroma memabukkan pria itu.
Setiap tempat yang disentuh jari-jarinya terasa seperti api, tubuhnya mengkhianati tekadnya.
Di bawah godaannya yang tiada henti, keringat membasahi kulitnya.
Ketegangan menyelimuti mereka, api hasrat semakin menggebu-gebu.
Suara ketukan di pintu menghancurkan momen itu.
"Vincent, kenapa pintunya terkunci? Aku perlu berbicara denganmu." Suara Bryanna terdengar dari luar.
Iris melompat karena terkejut, dan buru-buru mengambil pakaiannya. Tetapi Vincent menangkap pergelangan tangannya, menariknya kembali ke tempat tidur, dan membungkusnya dengan selimut.
Kemudian, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, dia berdiri dan berjalan menuju pintu.
Saat pintu terbuka, ekspresi Vincent sudah kembali tenang seperti biasanya. Dia menoleh pada Bryanna sambil tersenyum lembut. "Apa ada yang salah?"
Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun—tidak ada jejak nafsu yang tak terkendali beberapa saat yang lalu.
Bryanna tidak membuang waktu dan langsung berbicara ke intinya. "Keluarga Lambert mengaku bahwa mereka telah mendapatkan rekaman pengawasan, tapi jaraknya yang jauh membuat rekaman itu hampir tidak berguna. Gambarnya terlalu buram untuk melihat wajah pasangan yang tidak tahu malu itu. Kamu memiliki tim yang hebat—apa kamu bisa membantu meningkatkan resolusinya?"
Vincent dengan santai merapikan kancing mansetnya. "Tidak masalah."
Dada Iris terasa sesak. Kenapa dia tidak menolak?
Bryanna menghela napas lega, lalu menoleh ke arah Iris. "Iris, hari itu aku melihatmu masuk melalui pintu belakang. Apa kamu kebetulan melihat seseorang di gazebo di belakang rumah duka?"
Hari itu, semuanya terjadi begitu cepat.
Di dalam gazebo, tubuh bagian atas mereka masih berpakaian lengkap, tetapi bagian bawah mereka saling bertautan dengan erat. Dari kejauhan, mereka terlihat seperti dua orang yang duduk sangat dekat. Pada kenyataannya, mereka hanyut dalam puncak kenikmatan.
Dari kejauhan, seseorang berdiri di pintu belakang rumah duka, melambaikan tangan ke arah mereka.
Saat mereka mencapai puncak kenikmatan, keduanya tak kuasa menahan diri.
Dan kemudian—Maggie Warren tiba-tiba datang untuk menyapa Vincent.
Iris buru-buru menurunkan roknya, pipinya masih bersemu merah, napasnya belum stabil.
Dia tersadar, kembali ke dunia nyata, lalu menatap Vincent—yang ternyata sudah mengalihkan perhatiannya. Pria itu berdiri tenang di ambang pintu, sambil memasukkan tangannya ke dalam saku. Pakaian sempurna, tanpa sedikit pun kerutan.
Tidak terlihat sedikit pun jejak pria yang tadi mencumbu habis dirinya. Seolah-olah hanya dirinya yang kehilangan kendali.
Sambil menenangkan pikirannya, tatapan Iris tertuju pada Bryanna, dan rasa panik mulai menyelimuti dirinya. Dia cepat-cepat menggelengkan kepalanya, suaranya bergetar. "T-tidak ... aku tidak melihat siapa pun."
Bryanna mengangguk puas. "Bagus. Sebagai seorang wanita dari keluarga terhormat, kamu tidak boleh melihat— apalagi menyaksikan—hal yang memalukan seperti itu."
Iris menundukkan wajahnya, rasa bersalah membebani wajahnya.
Bryanna mengalihkan fokusnya ke Vincent. "Bisakah kita mendapatkan hasilnya dalam waktu seminggu?"
Vincent menjawab dengan santai. "Paling lambat lima hari."
Mendengar itu, Iris mendongak kaget. Apa maksud pria itu sebenarnya? Apa dia berniat mengungkapkan apa yang terjadi sebenarnya?
Tetapi itu masuk akal. Begitu skandal itu terungkap, semua orang akan mengira dialah yang sudah merayunya. Lagi pula, kenapa Vincent Stewart—seorang pria kaya, berkuasa, dan terhormat—bisa kekurangan perhatian wanita?
Air mata di matanya hampir saja tumpah.
"Lebih cepat lebih baik," ucap Bryanna, suaranya terdengar tidak sabar. "Aku harus tahu wanita tak tahu malu mana yang berani melakukan hal seperti itu."
Wanita yang menggunakan kecantikannya untuk memanipulasi pria membuatnya jijik.
Bryanna lalu mengalihkan perhatiannya pada Iris, alisnya bertaut tidak setuju. "Iris, Vincent berdiri di sini. Kenapa kamu masih bersembunyi di balik selimut? Bangun."
Iris tetap membeku di tempatnya. Dia tidak bisa bergerak—tidak saat dia tidak mengenakan apa pun di balik selimut.
"Ada apa? Apa kamu tidak enak badan?" Bryanna melangkah maju, lalu menempelkan tangannya ke kening Iris. "Tubuhmu hangat. Kamu juga berkeringat dingin."
Detak jantung Iris berdegup kencang hingga terdengar di telinganya.
Ini bukan karena demam. Ini adalah perbuatan Vincent.
Vincent berdiri tenang, tubuhnya tegak, tangan dimasukkan ke saku dengan rapi. "Dia sedang menstruasi. Minta pelayan membawakan bantal pemanas dan minuman hangat untuknya."
Bryanna menghela napas frustrasi. "Kamu seharusnya memberitahuku, bukan Om-mu. Pria tidak seharusnya peduli dengan hal-hal seperti itu."
Bibir Vincent melengkung membentuk seringai. "Tidak apa-apa. Lagi pula, kita adalah keluarga."
Iris merasa ketenangannya menurun. Vincent jelas menikmati permainan ini.
Bryanna menarik tangannya, lalu tertawa ringan. "Senang melihat kalian berdua akur. Saat Elianna bergabung dengan keluarga kita, kuharap kamu memperlakukannya dengan baik."
Vincent mengangkat sebelah alisnya tetapi tidak mengatakan apa-apa. Sikap diamnya berbicara banyak hal.
Di bawah selimut, Iris mencengkeram seprai begitu erat hingga buku-buku jarinya memucat.
Saat Bryanna berjalan pergi bersama Vincent, dia menambahkan, "Ayo, kita pilih beberapa hadiah untuk Elianna. Dia harus mendapatkan sesuatu yang indah saat kamu menemuinya lagi."
Untuk sementara waktu, Iris berhasil menghindar. Karena hasil rekaman akan keluar dalam seminggu, dia tidak punya pilihan selain kembali ke kampus.
Hari itu, Bryanna meneleponnya. "Iris, pulanglah. Sekarang."
Rasa takut yang mendalam menyergap dada Iris. Walau dia berharap segalanya akan berbeda, akhirnya saat yang paling dia takuti datang juga.
"Iris, kemarilah, kenalkan ini Elianna."
Begitu Iris masuk ke rumah, Bryanna sudah ada di sana untuk menyambutnya dengan senyuman hangat.
Elianna perlahan mendongak, matanya yang polos dan lebar dipenuhi air mata yang tak tertahankan.
Bryanna menghela napas pelan, dan menggenggam tangan Elianna. "Pria kaya mana yang tidak tertarik dengan kehidupan malam? Terutama seseorang pria seperti Vincent."
Elianna terisak, suaranya bergetar. "Kakakku bilang Vincent menghabiskan waktunya di klub malam. Tapi aku tidak memercayainya, jadi aku pergi sendiri ke sana untuk memeriksanya. Dan benar saja, aku melihatnya di kelilingi banyak wanita.
Bryanna menggenggam tangannya dengan lembut. "Kamu pacarnya sekarang. Kamu harus terus mengawasinya."
Elianna membenamkan wajahnya di kedua tangannya sambil menangis tersedu-sedu. "Aku memohon padanya untuk ikut denganku, tapi dia tidak mau mendengarkan."
Mendengar itu, Bryanna mengerutkan alisnya. "Kalau begitu biarkan Clint membawanya kembali."
Elianna menggelengkan kepalanya. "Clint sudah mencoba. Tapi Vincent tetap tidak mau pergi."
Bryanna berpikir sejenak. Lalu dia menoleh ke arah Iris. "Iris, Vincent mungkin tidak mendengarkan kami, tapi dia tidak akan tega mengabaikan gadis muda sepertimu. Pergilah, suruh Om-mu pulang."
Iris mengangguk dan mulai berjalan keluar.
"Ajak Clint bersamamu," ucap Bryanna memanggilnya.
Jika Bryanna punya pilihan lain, dia tidak akan pernah menyuruh Iris pergi ke klub malam.
Tetapi Clint Tucker, sopir kepercayaan keluarga, adalah pria yang dapat diandalkan. Dengan kehadirannya, Iris bisa merasa lebih tenang.
Klub itu penuh dengan lampu yang berkelap-kelip, musik yang kencang, dan kesenangan yang liar. Orang-orang saling berpelukan, larut dalam pesta.
Saat Iris menyusuri keramaian, orang-orang berusaha menyentuh dirinya, seolah-olah dia adalah hadiah yang bisa diambil.
Saat membuka pintu ruang VIP, dia terhenyak melihat pemandangan di depannya.
Vincent bersantai di sofa kulit, sebatang rokok menggantung di jari-jarinya, sementara lengannya yang lain direntangkan di belakang sofa.
Seorang wanita seksi duduk di pangkuannya, menyuapinya anggur, asap rokok mengepul di sekelilingnya.
Iris tampak berbeda—tenang dan bermartabat—di tengah kekacauan liar itu.
Tiba-tiba, musik berhenti. Semua mata tertuju pada Iris.
Dia melangkah maju dan berkata lembut, "Om Vincent, Nona Dawson sedang menunggumu di rumah."
"Om?" Suara tawa yang tajam dan menghina, terdengar. "Bukankah ini anak yatim piatu yang diadopsi Keluarga Stewart? Dia tumbuh menjadi sangat dewasa, kan?"
Iris menatap pria itu dan langsung mengenalinya—Connor Russell, putra dari Adrian Russell, seorang pejabat berkuasa.
Dengan memanfaatkan kekuasaan ayahnya, Connor menjadi pria yang manja dan angkuh.
Pantas saja Elianna tampak sangat geram. Tidak ada gunanya Vincent terlibat dengan seseorang seperti Connor.
"Sungguh cantik," ucap Connor sambil menyeringai, sorot matanya dipenuhi nafsu. Dia mengangkat gelasnya dan berjalan mendekati Iris.
Dengan gerakan cepat, Connor meraih sehelai rambutnya, mendekatkannya ke hidungnya dan menarik napas dalam-dalam. "Hmm ... sangat harum."
"Enyahlah!" ancam Vincent, sambil menatap Iris tajam.
Iris merasakan bulu kuduknya merinding.
Connor menyeringai pada Vincent, lalu mendekat, menempelkan gelas anggur ke bibir Iris. "Karena kamu sudah di sini, kenapa tidak minum denganku?"
Suara tawa terdengar di seluruh ruangan.
Kemudian suara pecahan botol anggur yang keras terdengar, cairan merah tumpah ke lantai, dan membuat rekan-rekan Vincent berteriak kaget.
Connor berbalik, wajahnya membeku tak percaya, darah menetes dari keningnya.
Vincent membuang pecahan botol tersebut, sambil menyeka jari-jarinya dengan santai. "Aku hanya memberi satu peringatan."
Baru pada saat itulah yang lain menyadari bahwa perintah—"enyahlah" itu ditujukan pada Connor.
Vincent menarik Iris ke dalam pelukannya, suaranya dingin saat dia berbicara pada semua orang di ruangan itu. "Anggap semua kesepakatan tadi dibatalkan. Grup Stewart tidak akan lagi berbisnis dengan kalian."
Mendengar itu, semua orang langsung tercengang.
Mereka menghabiskan sepanjang malam untuk meyakinkan Vincent untuk berinvestasi.
Dalam sekejap mata, semuanya lenyap begitu saja.
Vincent melingkarkan lengannya di pundak Iris, terhuyung saat menuntunnya berjalan keluar.
Clint membuka pintu mobil. Vincent lalu mendorong Iris ke kursi belakang mobil.
"Ke Vila Skycrest," gumam Vincent dengan suara serak, tubuhnya menempel tubuh Iris.
Vila Skycrest merupakan kawasan paling mewah di kota tersebut.
Saat pertama kali dipasarkan untuk umum dua tahun lalu, bahkan Bryanna tidak bisa membeli satu unit pun, meskipun dia memiliki banyak koneksi. Namun Vincent berhasil membeli satu dengan mudah.
Tangan Vincent bergerak ke atas paha Iris, menyusup melewati belahan gaunnya. "Aku tidak suka kamu mengenakan pakaian ketat seperti ini."
Suaranya terdengar tidak senang.
Iris memalingkan wajahnya, sengaja mengabaikan aroma alkohol yang tercium dari napasnya. Dia dengan tenang berkata, "Nona Dawson dan Bryanna sedang menunggumu di rumah keluargamu."
"Kamu sepertinya sangat menyukai tempat itu," gumam Vincent, sambil menggigit daun telinganya, napas hangatnya membuat tubuh Iris gemetar.
Erangan pelan keluar dari mulutnya sebelum dia sempat menghentikannya. Karena panik, dia buru-buru menutup mulutnya dengan tangannya.
Meskipun Clint adalah salah satu orang kepercayaan Bryanna, Vincent tetap melakukan apa saja sesuka hatinya.
Dering telepon yang tiba-tiba memecah kesunyian. Vincent menagan tangan Iris. "Jangan angkat."
Tetapi Iris tetap mengangkat telepon tersebut.
Suara Bryanna terdengar serak dari ujung telepon. "Apa kamu sudah menemukan Vincent?"
Di luar, malam begitu pekat dengan kegelapan, mengaburkan batas antara malam dan bayangan.
Di dalam mobil, Vincent menjadi lebih berani.
Suara sobekan kain bergema di sepanjang panggilan.
Udara dingin menusuk paha Iris.
Vincent telah merobek gaunnya, tangannya bergerak ke tempat yang tidak seharusnya.
Iris berusaha sebaik mungkin untuk menenangkan suaranya. "Belum ...."
Vincent menyeringai, puas dengan jawabannya. Sentuhannya yang kasar beberapa saat yang lalu, tiba-tiba berubah menjadi lembut.
Dari telepon, terdengar suara isak tangis Elianna yang teredam.
Bryanna lalu berkata dengan tajam, "Katakan ini pada Vincent—Elianna masih menunggunya. Elianna tidak akan pergi sampai dia kembali."
Tanpa ragu, Vincent mengambil ponsel dari tangan Iris dan mengakhiri panggilan. Mencengkeram dagunya, dia menempelkan bibirnya ke bibir wanita itu.
Aroma alkohol yang bercampur dengan aroma parfum yang dikenalnya membanjiri indra penciumannya.
Tubuhnya goyah, mengkhianati dirinya. Badai bergejolak di dalam dirinya.
Sejak kecil, Iris tidak pernah berbohong pada Bryanna.
Tetapi sejak Vincent kembali, dia dipaksa berbohong lagi dan lagi.
Mobil itu memasuki Vila Skycrest.
Clint melirik ke kaca spion dan berbicara pada Iris yang tersipu malu. "Pak Vincent sedang mabuk. Bisakah kamu membantunya masuk?"
Vincent bersandar pada tubuhnya, terlihat seperti tidak sadarkan diri.
Karena tidak punya pilihan lain, Iris membantunya masuk ke dalam rumah.
Begitu mereka melangkah masuk, semuanya berputar—bahkan sebelum Iris sempat bereaksi, dia mendapati dirinya dipeluk dalam pelukan yang kuat dan hangat.
Vincent berhenti sejenak, lalu berbicara pada Clint. "Aku akan memberimu cuti sebulan. Pergilah mengunjungi keluargamu."
Clint langsung mengerti, mengangguk, dan pergi tanpa bertanya.
Pada saat Iris menyadari bahwa dia telah masuk ke dalam perangkap, semuanya sudah terlambat.
Vincent mendorongnya ke tempat tidur, menindih tubuhnya.
Mereka melakukannya pertama kali di gazebo.
Rasa gugup, sakit, dan tidak terbiasa, semuanya bercampur dengan rasa takut akan ketahuan.
Kali ini, napas Vincent sama menderu-derunya, tetapi gerakannya lebih lambat, dan terarah.
Iris segera memahami bahwa hubungan intim bukan hanya tentang rasa sakit; di balik itu, ada kenikmatan yang luar biasa.
Ketika pagi tiba, Vincent sedang bersandar di kepala tempat tidur, jari-jarinya yang panjang dengan malas memainkan sebuah kartu. Senyum mengejek tersungging di bibirnya. "'Dalam senyummu, aku menemukan cahayaku, bersamamu, setiap hari terasa indah.' Sungguh norak."
Iris hendak merebut kartu itu, tetapi Vincent sudah melemparkannya ke lantai.
"Jayden Warren, ya? Seorang ketua BEM? Atau dia hanya seorang anak penerima beasiswa dari keluarga yang kurang mampu?"
Suaranya penuh dengan sindiran.
Iris hanya terdiam, diam-diam mengenakan pakaian dalamnya.
Jayden adalah ketua BEM—salah satu mahasiswa terpandai di kampus mereka
Jayden tidak sepertinya, dia berasal dari keluarga kaya. Bisa dikatakan dia adalah seorang ahli waris.
Iris tidak pernah menyangka Jayden akan mengungkapkan perasaannya padanya. Dan lebih buruknya lagi—Vincent telah mengetahuinya sekarang.
Iris menunduk, mengambil kartu itu, dan menyelipkannya ke dalam tas tangannya.
Tanpa melirik Iris, Vincent melemparkan kartu hitam ke arahnya. "Tidak ada batas. Kamu bisa belanja sesuka hatimu."
Apa ini kompensasi untuk satu malam bersamanya? Iris menyingkirkan kartu kredit itu. "Tidak perlu. Aku tidak butuh uang."