"Kamu Wanita cacat! Kamu pikir aku dan keluargaku gila mau menjadikanmu istriku, hmm?"
Bagaimana bisa pria seperti Reiko Byakta Adiwijaya yang begitu terpelajar, terlihat bijaksana dan dewasa menyentaknya dan bicara seperti itu?
"Jadi semua sandiwara? Pernikahan ini karena kalian menuruti kakek Adiwijaya saja?"
"Hmm. Jadi jangan berpikir aku menyukaimu! Maaf ya, aku pria normal. Wanita tanpa dua yang menonjol, sangat menjijikkan! itu kayak aku tidur sama laki-laki."
Perih tak berdarah di hati Aida ketika mendengar desis Reiko. Pria yang tampak sangat penyayang dengan senyum selalu merekah, bahkan datang ke keluarganya bersama kakeknya Adiwijaya dan orang tuanya ke rumah Aida baik-baik untuk mempersuntingnya begitu lembut tutur katanya. Aida juga jelas sekali mendengar dia tak sama sekali keberatan dengan kondisi fisik Aida.
Tapi lihat sekarang. Baru beberapa jam rasanya ijab qabul berlalu dan Aida diboyong ke Jakarta oleh keluarga Adiwijaya, semua berubah. Di rumah orang tua Reiko, dia sudah disentak saat memasuki ruang tamu. Kedua orang tua Reiko langsung meminta putranya menjelaskan status Aida di balik pengetahuan Adiwijaya.
Bagaimana Aida tak murka dirinya hanya diperalat?
"Kalau begitu aku tidak mau terikat permainanmu dan keluargamu. Ceraikan aku!" sengit Aida menantang tak mau kalah.
"Hmm. Menceraikanmu, artinya kamu tidak akan mendapatkan biaya sekolah untuk adikmu Lingga, Arum dan Lestari."
Nah, ancaman ini membuat Aida bagai tersambar petir. Adiwijaya, kakek Reiko berjanji, selama Aida mau menikah dengan cucunya, maka biaya ibu dan adik-adiknya termasuk sekolah mereka akan ditanggung. Kalau Aida batal menikah, apa yang akan terjadi dengan pendidikan adiknya?
'Kenapa juga kakek Adiwijaya harus begitu baik pada kami dan begitu yakin aku paling cocok buat cucunya padahal banyak kekuranganku dan cucunya juga ga mau sama aku?'
Aida tak tahu apa alasan pria paruh baya itu selalu menyokong anggota keluarganya selepas ayahnya jatuh sakit hingga pria itu meninggal. Bahkan setelah semua harta mereka habis, untuk berobat dan operasi Aida yang terkena penyakit seperti ayahnya, hanya bedanya ayahnya kanker hati dan Aida di payudara bisa sembuh karena semua disokong Adiwijaya.
"Lagi mikir, hmm?"
Aida tersentak lagi dengan Reiko yang menyindirnya.
"Pernikahan bisa batal. Tapi bagaimana ibumu yang sudah menikahkanmu dengan saksi pak RT, wakil RT juga keluargamu itu? Apa mereka tidak akan malu di kampung?"
Nah iya, Aida memang tak bisa egois. Saat tadi malam Aida ingin membatalkan pernikahan karena insecure fisiknnya, asma ibunya kambuh. Ratna sesak napas, pucat dan hampir pingsan. Ibunya sudah berpikir kalau Reiko adalah pria sempurna. Keluarga mereka juga banyak berhutang budi pada keluarga Adiwijaya.
"Harusnya kamu menolak kalau memang tak mau menikah denganku!"
"Kakekku hampir mati karena kena serangan jantung karena aku menolak. Sampai akhirnya papa aku membuat skenario ini." Reiko kembali menegaskan sambil menatap Aida yang duduk di seberangnya.
"Keluarga intiku tahu aku sudah punya kekasih. Mereka juga sudah menerima kekasihku. Tapi karena kakek bersikeras dengan ribuan alasannya, jadi kami sengaja mengikuti keinginan kakek tapi aku akan membuat perjanjian denganmu."
"Bilang aja, kamu takut ga dibagi warisan, kan? klise gitu alasannya sih?" sindir Aida yang membuat wajah Reiko memerah padam
"Jangan banyak bicara!" sentaknya sedetik kemudian.
Reiko mengambil map di meja yang membuat sofa yang diduduki Aida bersebrangan dengan Reiko.
"Ini surat perjanjiannya.Tandatangani dan kamu aku tetap dapat benefit dari pernikahan kita sesuai janji kakekku, Adiwijaya!"
Sebetulnya saat mendengar kalimat pertama, Aida Tazkia, ingin bersikeras meminta suaminya menceraikannya saja demi harga dirinya.
Tapi mendengar kata benefit, gadis itu terngiang sindiran Reiko. Uang biaya pendidikan Lingga yang sudah diterima di Aero Flyer Institute, biaya masuk SMA dan SMP untuk Arum dan Lestari itu seakan terpampang nyata seperti serial horor dalam benak Aida.
"Apa yang kamu tunggu? Cepat tandatangani!"
Aida kembali disadarkan dengan suara bariton tegas yang membuatnya fokus pada surat perjanjian itu.
"Boleh aku membacanya dulu?" Aida menurunkan intonasi suaranya, mulai melunak.
Tapi justru membuat Reiko memberikan senyum menyindir dan membuat Aida kembali dihinakan.
'Benar-benar manner-nya buruk banget! Apa susahnya memberikan kertasnya tanpa di lempar, sih? Dia ingin aku memungut lembaran itu seperti pengemis?'
Aida mengomel dalam hatinya saat dia memunguti satu persatu lembar kertas yang dilemparkan Reiko. Pria itu tersenyum menghina. Aida sungguh tak habis pikir.
Masih berbekas dalam benaknya apa yang terjadi saat ijab qabul. Reiko yang begitu romantis. Kecupan di dahi itu, cara pria itu merangkul dan menggenggam tangannya tiba-tiba membuat Aida yang bergidik ngeri.
'Untuk mengambilkan lembaran di dekat sepatunya saja dia tak mau membantu.'
Semua berlawanan. Tak ada lagi kelembutan Reiko. Aida harus berusaha sendiri memungut lembaran itu bahkan ada kertas yang berjarak kurang dari setengah meter dari tempat Reiko duduk. Padahal agak sulit Aida bergerak dengan kebaya yang masih melekat di tubuhnya.
Aida belum mengganti pakaian pengantin karena memang saat sampai di rumah keluarga Reiko, Endra Adiwijaya menunjukkan penolakannya pada Aida. Istrinya dan adik-adik Reiko juga tampak mencemoohnya sebelum Endra meminta Reiko menjelaskan kontrak perjanjian. Di kamar itulah Reiko membuat Aida mengerti tentang statusnya berdasarkan poin perjanjian yang membuat kepala gadis itu berdenyut.
"Tandatangani cepat! Sudah setengah jam kamu baca itu. Penanya ada di meja!"
'Tapi ini semua demi impian dan pendidikan adik-adikku.' Aida mengingatkan dalam benaknya sebelum pena di tangannya bergerak menggoreskan tinta di kertas perjanjian.
"Ini sudah, mas Re--"
"Panggil aku pak! Kecuali di depan umum dan di depan kakekku, kamu boleh memanggilku begitu untuk menutupi rahasia yang hanya diketahui keluarga intiku."
Lihatlah, betapa Reiko memang sudah tak lagi menganggap Aida sebagai istrinya. Hubungan mereka hanya sebatas rekan bisnis sesuai dengan surat kontrak yang sudah dikembalikan oleh Aida.
"Baik Pak. Tapi apa boleh saya bertanya beberapa hal tentang poin di kontrak itu?"
"Yang mana?"
Reiko baru mau menyerahkan surat-surat yang digenggamnya supaya wanita itu membacanya
Tapi
"Pasal ke empat poin ketiga, tentang pihak kedua akan tinggal bersama pihak pertama di tempat tinggal yang sudah ditentukan pihak pertama dan tidak diizinkan menolak. Poin ke empat, Pihak kedua wajib berperilaku baik selama tinggal bersama, menuruti semua perintah pihak pertama selaku seorang istri dan tidak boleh membantah pihak pertama dalam permasalahan apapun. Lalu poin kelima, Pihak kedua akan bersama pihak pertama selama maksimal lima tahun tanpa boleh mencampuri urusan pihak pertama baik dengan urusan pribadinya ataupun pekerjaannya dan tidak boleh mengganggu pihak pertama, membuat malu, menjatuhkan harga diri pihak pertama, dilarang memicu keributan yang mengganggu ketenangan pihak pertama serta harus tetap menjaga rahasia perihal perjanjian yang sudah disepakati kedua belah pihak serta poin keenam, pihak kedua tidak boleh berhubungan dengan pria manapun selama kontrak berlangsung."
'Bagimana dia bisa hapal, bahkan tak ada kalimat yang ditambahkan dan disortir?'
Tanpa membaca isi dari surat perjanjian, Aida baru saja menanyakan sesuatu yang membuat Reiko diam-diam tak percaya kalau tidak mendengarnya sendiri.
Wanita di hadapannya hanya membaca surat perjanjian dan setelah tanda tangan, Aida tak diizinkan untuk memegang salinannya.
Tapi Aida mengingat penuh pasal dan butir-butirnya.
"Apa pelayan di rumah Anda tidak akan curiga atau mereka sudah tahu rahasia ini, pak Reiko?"
Tapi karena Aida sudah bertanya, Reiko berusaha kembali fokus menjawab.
"Tidak ada pelayan di apartemenku. Harusnya ada, house keeping datang setiap pagi. Tapi karena kamu akan tinggal di sana, aku tidak bisa membiarkan pihak luar tahu rahasia hubungan kita. Jadi kebersihan dan semua yang harusnya tanggung jawab mereka, harus kamu yang menggantikannya. Aku suka kebersihan dan tidak mentolerir sedikitpun berkurang di apartemenku meski cuma satu persen."
Kalau tidak ingat biaya sekolah adiknya dan kondisi ibunya yang bisa drop dan shock karena sudah sangat bahagia dengan pernikahan Aida, ingin rasanya gadis itu membuka selopnya dan melemparkan ke kepala suami rasa iblis di hadapannya detik itu juga.
"Ah, dinikahi untuk jadi pembantu?"
"Gitu kira-kira. Tapi bayarannya setimpal kan? Mana ada pembantu di bayar miliyaran buat penuhin biaya sekolah adiknya?" Reiko tak kalah sinis menanggapi Aida yang baru menyindirnya.
"Ingat, kalian bukan orang kaya lagi! Duit kalian sudah habis untuk berobat kan?"
"Benar sekali. Terima kasih untuk bayarannya dan semoga kerjasama kita tidak ada yang mencederainya."
"Aku orang yang memegang janjiku."
"Hahaha!" Aida jutru menyindir Reiko dengan tawa terbahak-bahak yang membuat wajah Reiko memerah marah.
"Apa yang lucu? Kamu tidak mempercayaiku, hmmm?"
"Janji ijab kabul di depan Tuhan saja Anda cederai, pak Reiko Byakta Adiwijaya. Bagaimana saya bisa menaruh kepercayaan seratus persen pada Anda?"
"Ah, kamu sudah terlanjur jatuh cinta ya denganku?"
'Ini orang ga tau malu, ya? Di sindir malahan bukannya intropeksi malah nuduh? Gila sih kalau aku sampe jatuh cinta setelah tau busuknya!'
Di saat Aida masih bermonolog sambil berpikir untuk menanggapi Reiko, pria itu secepat kilat menyambar, menjawab nyinyirannya:
"Aku penasaran, coba katakan apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?"
"Kagum tepatnya. Tapi ternyata intuisiku benar. Anda itu Iblis berwujud malaikat."
"Hahaha. Boleh juga pemilihan kata dan imajinasimu, cocok kamu ikutan menulis karya sastra, buat novel judulnya Pembantu Berstatus Istri," cibir Reiko dengan wajahnya masih menahan tawa di saat Aida terlihat jengkel.
"Tapi terima kasih atas pujiannya," lanjut Reiko lagi yang kini bicaranya lebih stabil.
"Aku memang tampan, jadi aku pasti memilih wanita yang cantik tanpa cacat untuk mengisi hatiku. Jadi jangan banyak bermimpi aku menyukaimu," seru Reiko yang terlihat sangat PD dan tak terpengaruh dengan insinuasi sedikit sarkas dari Aida barusan. Dia bicara sambil berdiri dengan surat perjanjian di tanganya.
"Kalau sudah clear, tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, ayo ikut aku ke apartemen."
Aida tadinya ingin membalas lagi desisan Reiko, tapi Aida sadar itu percuma. Lagipula Reiko sepertinya tak membutuhkan jawabannya. Reiko sudah membalikkan badan berjalan ke arah pintu kamar hendak keluar setelah misinya berhasil.
Tanda tangan dan persetujuan Aida ada dalam genggamannya.
Menyisakan ketidakpuasan satu pihak saat Aida mengumpat di hati menyesali semua bayangannya tentang Reiko sambil mengekor dalam diam. Gadis berkebaya putih itu menjaga jarak langkah dengan pria yang perbedaan tinggi tiga puluh sentimeter lebih darinya.
Aida hanya 155 cm. Sedangkan Reiko tinggi menjulang, hampir 190 cm. Dengan tubuh tegap dan bahu lebar, dari belakang, punggungnya seakan mampu menunjukkan kekuatan otot tubuh Reiko yang padat. Memang bisa dipastikan dia adalah pria dengan kualitas fisik di atas rata-rata. Apalagi aroma musk yang bercampur citrus dari parfume-nya sangat menyegarkan, memberikan kenyamanan bagi yang menghirupnya. Dan itu juga bisa terhirup oleh Aida.
Tak bisa dipungkiri sangat menggoda. Mampu meringsek kesadaran otaknya hingga berfantasi menghadirkan pahatan paras wajah Reiko dalam benak Aida. Istri Reiko itu ingin sekali mengumpat dan demo pada Tuhan yang seakan lupa memberikan sedikit kekurangan di paras ciptaannya. Sungguh definisi lelaki sempurna hampir tak ada yang terlewatkan dari diri Reiko.
'Sempurna kecongakan dan kekejamannya seperti iblis yang menolak sujud pada Adam. Kau tidak mau hidup dengan Iblis kan, Aida?'
Cukup pandai untuk tak terbuai, Aida menghempaskan semua kekagumannya dengan memperingatkan dalam relung batinnya.
"Reiko, apa kamu akan pulang sekarang, Nak?"
Dan kini, Aida terpaksa menahan langkah kakinya, ketika Rika, ibu Reiko mendekat saat mereka menuruni tangga.
"Iya, Mah. Aku mau langsung ke apartemen karena ada beberapa kerjaan kantor yang belum aku selesaikan dan kaji ulang. Besok aku harus ketemu client."
"Apa gak sebaiknya wanita di belakangmu itu ganti baju dulu, Nak? Dengan pakaiannya itu, dia bisa disangka istrimu sama staff dan penghuni di apartemen yang melihat kalian."
Sinis ekor mata Rika yang sudah mengganti baju kebayanya melirik Aida saat bicara. Sungguh berlawanan dengan tatapan manis, keibuan dengan suaranya yang boleh dibilang merdu saat bicara dengan Reiko.
Aida tak habis pikir bagaimana Rika bisa berakting sebagai wanita penuh belas kasih, cocok sebagai mertua impian setiap wanita di acara akad nikahnya tadi.
"Kasihan dong Brigita kalau dateng terus digosipin staff apartemen yang udah mengenalmu dan di sangka mau merebut suami orang."
'Iblis wanita ternyata!'
Ini juga yang membuat Aida menghempaskan napas pelan dengan rasa jijik dalam hatinya saat Reiko mengarahkan pandangannya padanya.
"Mamamu benar, Reiko. Suruh dia ganti pakaian. Kamu juga mesti jaga jarak dengannya saat masuk apartemen. Ini kondisinya berbeda dengan saat kita turun dari jet pribadi langsung ke mobil."
"Iya benar Reiko. Percuma dong papamu sudah meyakinkan kakekmu kalau pernikahannya di buat tertutup dulu kalau sampai di Jakarta, kamu bawa dia dengan pakaian begitu dan orang-orang bisa berspekulasi dia istrimu."
Benar juga. Reiko pun mulai kepikiran bagaimana papanya Endra, sudah berusaha meyakinkan kakeknya untuk membuat pernikahan itu tertutup. Reiko tak tahu apa alasan Endra pada Adiwijaya hingga pria yang kaku dan saklek itu mau mengikuti saran putranya.
"Tapi Pah, gimana dengan foto? Adiknya mengambil foto kami saat pernikahan. Mungkin merekam video juga." Reiko bicara sambil melangkah dan menyerahkan surat perjanjian ke tangan Endra. Dia tak berniat menyimpannya sendiri dan tentu saja ini dilihat oleh Aida yang hanya bisa menghempaskan napas pelan.
"Tenang saja, Reiko, papamu ini juga sudah menyuruh Ratna untuk meminta pada pak RT tidak menceritakan ke tetangga dan siapapun. Saksi dan penghulu sudah papa urus di belakang kakekmu termasuk pak RT-nya yang sudah terikat perjanjian."
"Terus adiknya?"
"Papa juga mengingatkan Ratna untuk bicara dan tak membiarkan anaknya yang lain mengekspose foto pernikahan itu ke media sosial dengan alasan keinginan kakek mengumumkan di saat yang tepat, yaitu di resespsi pernikahan beberapa bulan lagi setelah event besar perusahaan. Papa bilang supaya tidak menganggu fokusmu ke pekerjaan dulu. Lagian, masa pengusaha besar seperti kakek cucu pertamanya nikah di rumah dusun dan acaranya seperti itu saja?"
Bangga Endra dengan semua yang sudah dilakukannya tapi ini justru membuat Aida tak berhenti mengumpat.
'Pandai mereka membuat skenario membodohi keluargaku,' bisik hati Aida ngedumel. Dia memang hanya diam saat mereka semua membahas masalah yang membuatnya serasa menjadi korban sekaligus merasa bersalah karena menjadi pelaku pendukung kejahatan.
'Aku juga memanfaatkan ini untuk kepentinganku mendapatkan uang. Apa aku salah tak memberitahukan ini ke kakek Adiwijaya? Tapi bagaimana kalau pas aku kasih tau dia beneran sakit jantung dan meninggal? Bisa-bisa aku masuk penjara dan mereka sebagai pewaris kerajaan bisnis Adiwijaya gak akan mau membiayai adik-adikku, kan?'
Bagaimana, jika, bila, andai dan berbagai kemungkinan juga bersliweran di benak Aida yang membuatnya berpikir panjang untuk menciderai perjanjian yang sudah ditandatanganinya itu.
Dan kini Aida hanya bisa mangkel sekaligus pasrah saat mendengar lanjutan pembicaraan Reiko dengan orang tuanya.
"Tapi Papa gak akan membiarkan ada resepsi kan?" wajah Reiko sudah cemas sekali dan ini membuat Endra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Senyum yang bisa dilihat oleh Aida dan membuatnya sudah menerka-nerka yang akan diucapkan pria berkacamata yang secara agama adalah mertuanya.
"Jelas dong, Reiko. Papa kan gak akan menghancurkan hidup anak terbaik dan penerus keluarga kita," balas Endra.
"Papa akan mengulur dengan alasan yang masuk akal untuk kakekmu."
"Papa sudah mama kasih tahu, Reiko," cicit Rika yang terlihat antusias ingin ikut bicara.
"Resepsi tidak akan berlangsung sampai dia mengandung anakmu dengan alasan keberlangsungan keturunan karena penyakit yang pernah diidapnya. Kakekmu pasti tidak mau kan kalau kamu ga akan punya keturunan?"
'Kejam sekali mereka ingin memfitnahku begitu?' Aida bergidik ngeri sekaligus takut dengan kenyataan bagaimana liciknya mereka bisa berpikir sampai sejauh itu.
"Tapi kakek apa gak akan kena serangan jantung lagi Pah kalau mendengar itu?"
"Papa dan mamamu gak bodoh, Reiko. Kami orang yang penuh perhitungan," membanggakan diri, Endra bicara.
"Kakekmu akan berpikir kami buat-buat alasan kalau diberitahu sekarang. Kita tunggu tiga bulan sampai enam bulanlah. Dia pasti akan mulai ragu."
'Bagus aku hanya akan bertahan di keluarga ini sementara. Gimana ceritanya kalau punya mertua berotak kriminal gitu? Wah, kau mesti banyak sujud syukur Aida,' pekik di hati Aida makin panas melihat keluarga penuh intrik ini. Tak berhenti dia mengucapkan syukur dalam hatinya.
"Tapi seratus persen aku pastikan itu tidak akan terjadi, Papa. Tidak akan ada keturunanku lahir kecuali dari Brigita."
'Dih, aku juga ga niat disentuh olehnya lah. Apalagi ngelahirin anak iblis.'
Reiko yang sudah berubah posisi setelah memberikan surat perjanjian ke Endra, sedetik di lirik Aida saat wanita itu mati-matian berusaha tak ikut campur dalam pembicaraan keluarga itu. Apalagi, dua adik Reiko baru saja menatapnya merendahkan saat turun dari tangga membuat posisi Aida juga ikut bergeser.
'Anggap aja ini keberuntunganmu, Aida. Kau masih suci saat cerai nanti. Maksimal lima tahun bertahan dan bersabarlah atau kalau kakeknya meninggal lebih cepat dari tenggat waktu, si iblis itu akan menceraikanmu, gitu kan isi di perjanjian tadi? Eh, janganlah. Mudah-mudahan kakek Adiwijaya diperpanjang umurnya, duh dia orang baik, jangan karena nila setitik kau mendoakan buruk padanya, Aida. Dosa.'
Meski kesal, Aida memang menjaga pikirannya juga meski kadang sulit. Siapa sih wanita yang mau diperlakukan seperti ini setelah menikah? Dianggap hina oleh keluarga besar suami dan bahkan suaminya sendiri?
TIDAK ADA.
Termasuk Aida juga maunya bukan pernikahan macam ini dan Aida juga yakin, ibunya juga tidak akan membiarkannya diperlakukan serendah ini meski bayarannya memang setimpal untuk pendidikan adiknya.
Tapi apa Aida mau mengadu dan membiarkan impian ibu dan adik-adiknya musnah?
"Nah, kalau begitu, ikuti saran Mama, Reiko."
"Iya Mah." Reiko pun melirik sinis pada Aida. Pandangannya berubah dingin. Padahal saat bicara dengan keluarganya dia terlihat sangat hangat, meski ada tegang dan cemas juga.
"Hilangkan semua make up dan pakai baju biasa saja sekarang juga."
Aida mencoba bersabar ketika mendengar perintah Reiko yang sudah diduganya. Sambil mengangguk, Aida menjawab:
"Baik mas Re--"
"Kakekku tidak ada di rumah papaku. Jadi panggil aku pak dan panggil papa dan mamaku bapak Endra dan ibu Rika, seperti para pelayan di rumah ini."
"Wah, kalau begitu dia harus memanggilku dan Rukma dengan sebutan nona juga dong, mas Reiko? Hehehe."
Itu adalah suara Retisalya Adiwijaya, adik Reiko. Reti adalah kakak Rukmasara Adiwijaya. Usia Reti sama seperti Aida. Sedangkan Rukma, setingkat di atas Arum, adik Aida.
Sebelum tiba di rumah Endra, kedua putrinya ini memang terlihat pendiam sama seperti Reiko. Paras mereka yang ayu lebih mirip dengan Rika, serta kulit mereka yang kuning langsat membuat keduanya terlihat anggun, sangat Indonesia dan terkesan ramah. Suara mereka tak kalah lembut dan merdu, seperti Rita saat bicara. Sungguh melenakan Aida saat bertemu dan bicara dengan mereka sebelum pernikahan.
'Tapi itu semua sama saja, hanya kedok. Iblis semua isinya di rumah ini!'
Aida sudah tak terkejut juga medengar cemoohan dari keduanya. Justru dia menunggu apalagi bully-an yang akan diperolehnya.
"Ini bukan waktunya bercanda Reti. Mas sedang buru-buru. Dan kamu Aida, cepat lakukan apa yang aku perintahkan."
Tapi justru Reiko yang menghentikan aksi mereka sambil menatap ke jam tangannya. Dia tak berniat membela Aida. Memang terlihat tak ingin buang waktu saja.
"Baik. Tapi saya harus ngambil koper dulu di mobil."
Barang-barang Aida memang masih ada di dalam bagasi mobil pengantin. Tapi kalau membongkar itu semua, Reiko harus merelakan waktunya terbuang beberapa menit. Dia mengetuk-ngetuk kaca jam tangannya dengan tatapan tak setuju pada Aida
Sehingga
"Mbak Parmi, kamu kan pakai jilbab dan ukuran tubuhmu juga hampir mirip dengannya. Pinjamkan bajumu padanya."
"Eh, jadi pelayan di sini tau?" celetuk Aida refleks yang tak menyangka kalau perjanjian itu juga diketahui pekerja di rumah itu.
"Ya iyalah. Kalau ga tahu, ga mungkin papa ngomong di ruang tengah gini."
"Maklum aja, dia pasti nyangka di rumah ini bakalan dianggap nyonya Reiko Adiwijaya, mbak Reti," tambah Rukma ikut nyeletuk "Makanya dipertegas harusnya kalo pelayan semua pada tau dan ga akan ada yang berani ngadu sama kakek kita. Lagian, rumah ini punya aturan sendiri, beda sama rumah kakek di Kudus."
Ini baru hari pertama Aida masuk ke dalam keluarga Reiko, tapi entah sudah berapa kali dia mendapatkan penghinaan. Sekarang salah satunya. Alih-alih meminta kedua adiknya untuk meminjamkan baju, Reiko lebih memilih untuk meminta pada pembantunya dan tak ada pertolongan dari siapapun ketika Rukma yang usianya masih enam belas tahunan menyindirnya begitu.
"Hahaha."
Bahkan tak ada yang peduli mengingatkan soal manner saat dua gadis muda itu tertawa lepas. Rika justru senyum-senyum puas di saat kedua anak gadisnya memerah wajahnya dengan suara gelegar yang membuat telinga Aida terasa sangat terganggu.
"Mbak Parmi, jangan diem aja dong! Aku diburu waktu nih!"
"Ba-baik den Reiko."
Mbak Parmi sendiri juga kebingungan sebetulnya. Dia sungguh tak menyangka dengan permintaan Reiko yang menurutnya tak pantas. Tapi Parmi tidak mau mendapatkan masalah.
"Ayo Non." Dia pun mengajak Aida menuju ke kamarnya
"Mbak, panggil aja Aida, dia juga diwajibin manggil aku non Rukma kok! Dia se-level ama kamu. Eh di bawah levelmu kayaknya, soalnya pelayan baru!"
"Hahaha!"
Ada tawa tersisa yang masih di dengar Aida ketika dia sudah mengangguk dan memilih mengikuti Parmi.
Baru hari pertama aja begini, huh! Sabar Aida, masih ada lima tahun lagi!
Lagi-lagi ujian kesabaran untuknya. Aida tahu ini tak mudah. Tapi tetap, dia punya impian, tujuan, sebuah hasrat terbesar dalam hidupnya untuk diwujudkan.
"Maaf Non, kamarnya saya kecil."
Makanya Aida tak berbalik arah untuk meremas mulut Rukma. Dia tetap mengikuti Parmi sampai ke pintu kamar ART itu dan tersenyum ramah menanggapi pernyataan Parmi.
"Mbak Parmi, panggil aku Aida aja, aku bukan non Aida dan aku cuma gadis desa dari Kendal yang melihat kamar mbak Parmi ini ndak jauh beda dari kamar di rumahku, bahkan lebih bagus karena kamarnya ada kamar mandinya sendiri. hehehe," justru Aida mengkoreksi Parmi seperti ini.
Aida menanggapi santai. Dia tak meninggi dan memang seorang yang santun. Membuat Parmi jadi makin tak enak.
"Tetep aja, Non. Saya gak bisa panggil begitu. Silakan cuci muka di kamar mandinya Non. Ini pembersih wajah dan sebentar saya siapkan bajunya, supaya den Reiko gak marah kalo kelamaan."
Parmi sebetulnya berempati dengan Aida. Dia dan seluruh karyawan di rumah itu sudah di briefing Endra sesaat setelah Aida dan Reiko masuk ke kamar tadi menyelesaikan perjanjian.
Tapi tetap, Parmi hanya ART dan dia bekerja untuk keluarga Endra. Makanya tak mau membuat juragannya marah. Dia cepat-cepat menyelesaikan desk job-nya mencari baju untuk Aida setelah wanita itu masuk ke kamar mandi.
"Ini baju yang saya punya dan yang terbaik Non."
"Aduh mbak, ndak usah baju yang terbaik. Baju yang biasa aja yang penting pakai kerudung. Yang sama kayak mbak Parmi pakai aja, baju sehari-hari."
"Tapi Non?"
"Udah, ndak apa-apa! Kalau aku pakai baju terbaik mbak Parmi, yakin aku mbak Parmi bisa diceramahi dan dipotong gaji!"
Candaan Aida ini membuat wajah Parmi meringis. Dia jelas tahu semua itu bisa jadi nyata melihat tak ada satupun juragannya yang menyukai Aida di rumah itu. Tapi karena tak enak, meski ngeri Parmi tetap menawarkan bajunya yang terbaik itu.
"Waduh, mbak Parmi, aku ndak bisa pakai yang ini," tapi tetap tak mudah membujuk Aida.
"Gimana kalau mbak Parmi izinin aku sendiri yang pilih bajunya?"
"Hmmm.. silakan Non."
Setelah berpikir sepersekian detik, mbak Parmi akhirnya setuju dengan saran dari Aida.
"Maaf ya mbak, aku ndak sopan ni pilih-pilih di lemari mbak Parmi."
"Saya yang minta maaf Non, baju saya jelek-jelek semua, baju orang kampung."
"Sama, mbak, aku juga dari kampung, makanya nyaman pake baju yang seadanya, lebih adem."
Ada saja jawaban Aida yang tak menyindir dan memang membuat Parmi jadi makin menyukai sikap merendahnnya. Aida memang tak sombong. Dia juga tak mengacak-ngacak lemari itu. Pilihannya cukup cepat juga, tak sampai semenit.
"Aku pilih yang ini aja deh."
Aida menghentikan pencariannya dengan pilihan kaos biru dongker lengan panjang polos dan celana panjang bahan berwarna senada dengan kerudungnya, TAN. Coklat gelap, yang sering dianggap seperti warna beige, padahal sebetulnya berbeda. Warna ini di alam bisa ditemukan di pasir, tanah atau batang pohon.
"Non, tapi baju itu jelek Non. Gak pantes buat Non."
"Ndak pa-apa mbak Parmi, makasih ya udah mau pinjemin aku baju sama kasih aku pakai sabun mukanya," itu ucapnya sebelum kembali ke kamar mandi untuk salin.
Beruntung Aida menggunakan kerudung. Jadi rambutnya tidak disasak sedemikian rupa pakai konde dan membuat dirinya bisa lebih cepat mengganti pakaian. Hanya membuka semua baju pengantinnya dan yang paling lama adalah menghapus make up tadi di wajahnya sampai dia harus berkali-kali mencuci wajah.
Aida sudah merasa sangat cepat.
Tapi ...
'Kesalahan apalagi yang iblis jantan itu menatap seperti ingin menerkamku?' bisik Aida curiga melihat Reiko yang berdiri sendiri dengan tangan bersedakep sedangkan semua anggota keluarganya duduk di sofa ruang tengah terlihat santai bercengkrama satu dengan yang lainnya. Hanya senyum Rukma dan Reti yang mengganggu Aida.
"Seperempat jam kamu menghabiskan waktuku menunggu. Ganti baju apa spa dulu, hmm?"
"Spa memang ada yang cuma seperempat jam, Pak?"